Work Text:
Kau dan Aku
Aohitsugi Samatoki x Yamada Ichiro
(Inspired by You & Me – Lifehouse )
Untuk samatoki, dan semua yang terserak takdir,
Untuk mereka yang tidak pernah menyerah akan ikatan benang merah tipis, penghubung dua jiwa menjadi satu.
Dunia tidak pernah adil pada kaumnya.
Yamada Ichiro berusia empat belas tahun, saat pertama kali berurusan dengan Yakuza.Ia memukul salah satu anggota group bangsat-bangsat lorong gelap kotanya dengan pipa bekas hingga tangannya berlumur darah segar. Gadis yang ditunggangi binatang itu tewas dengan baju terobek-robek, dan telinga mengeluarkan darah. Hypnosis mic. Bedebah itu menyergap gadis tanpa cancler, dan melampiaskan nafsu binatangnya begitu saja, saat efek hypnosis mic yang digunakannya menghancurkan reflek sang gadis.
Ia memastikan yakuza itu mati dengan kembali memukul tempurung kepalanya, lelehan cairan otak keluar, ia memukulnya sangat keras hingga otak yang tidak pernah digunakan pria itu dengan mudah meluncur keluar dari sela luka menganga.
Suara sirine polisi, lampu merah biru berkedip-kedip, menyinari wajah dingin Ichiro yang dengan tenang menyerahkan diri untuk ditangkap.
Ia bercita-cita menjadi pahlawan keadilan, menolong mereka yang tertekan, menolong mereka yang tidak mampu berteriak melawan. Tetapi Ichiro tidak bisa melakukan itu seorang diri.
“Gadis itu salah satu kandidat akademi di Central Ward. Kau…Ichiro-kun, bukankah rute sekolahmu bersebrangan dengan lokasi kejadian. Apa kau mengambil rute lain…atau…”
“Aku bukan yakuza atau anak buah yakuza dalam masa pelatian, sudah berapa kali kubilang Ikebukuro adalah rumahku. Tentu saja tiap gangnya seperti halaman belakang, jika ada hama masuk halaman belakang rumah, sudah jadi tugas kita untuk memukulnya sampai mati kan.”
“Kau bisa saja datang lebih awal, Ichiro-kun…jika kau benar-benar ingin menolongnya tentu.Apa ada yang menghentikanmu?”
“Hypnosis mic!Benda sialan itu yang menghentikanku.”Mata Ichiro berkilat, tangannya menggebrak meja introgasi dengan luapan emosi. “Kenapa yakuza bisa memiliki benda itu, kukira pemerintah kita memiliki—“
“Oke-oke stop disana.” Polisi yang menginterogasinya membenarkan kacamata minus frameless yang dikenakannya, dan tersenyum tipis.Tangannya berhenti mencatat, dan dengan lihai mengetuk-ketuk ujung ballpointnya ke dagu Ichiro.“Itu tadi berbahaya sekali anak muda. Satu kata lagi, kau akan dibawa divisi lain, dan entah apa yang akan terjadi pada dua adikmu. Kau akan menginap di sel penjara untuk mendinginkan kepalamu. Seseorang telah menjamin kebebasanmu lho~ berterima kasihlah secara layak padanya besok pagi.”
Ichiro muda tumbuh dengan kebencian mengakar pada Hypnosis Mic.Benda terkutuk itu terus menerus menambah korban, di tiap sudut gelap Ikebukuro mayat korban rap battle illegal sudah seperti bangkai tikus.Tergeletak begitu saja, tidak ada yang bersimpatik atau sekedar memanggil polisi. Hanya ada ia, dan drones dinas kebersihan kota, mengangkut mereka dalam kategori sampah organik.
Jika cawan suci benar-benar ada di dunia nyata, seperti di novel kesayangannya, Ichiro hanya berharap cawan suci itu mau menghapus keberadaan Hypnosis mic dari dunia.Ia tidak rela Jiro yang sensitif, dan Saburo yang ceria terkena efek senjata laknat itu.
“Ah, sial.” Umpatnya kesal, kasur dingin sel penjara kota pun tidak membantunya tenang. Ia hanya ingin menghabisi tiap pengguna hypnosis mic. Andai saja cancler dijual bebas untuk kaum pria. Pasti, ia bisa lebih banyak menyelamatkan nyawa-nyawa tak berdosa korban hypnosis mic.
Ichiro keluar saat semburat fajar mewarnai langit biru pudar di ufuk timur. Di depan kantor polisi sebuah mobil sedan berwarna putih metalik dengan kaca hitam pekat menantinya. Di depan mobil itu seorang pria berdiri. Mengenakan jaket kulit hitam, ia dengan santai menyalakan rokok dan tersenyum padanya. “Kau yang membunuh salah satu adik groupku kan, bocah…berani juga.”
Yakuza lagi.Gumam Ichiro tidak jelas.Ia bersyukur tentunya, jika pria itu yang membebaskannya, Ichiro bisa melacak group mereka dengan mudah, dan menghancurkannya secepat mungkin.
Yah, andai saja semudah itu.Dia bukan pahlawan seperti Emiya atau One-Punch Man.
Pria itu bernama Samatoki. Aohitsugi Samatoki. Jabatannya masih cukup rendah di group yakuza-nya, tetapi ia dijuluki anjing liar untuk satu-dua hal.
“Lemah sekali bocah!Aku tidak memakai Hypnosis Mic-ku lho.Kau dari tadi berteriak dan berkata kalau kami hanya kuat karena hypnosis mic, jangan omong aja dong, haha… bahkan pukulanku sudah lebih dari cukup membuatmu babak belur.”
“Sial…” Ichiro meludah.Darah bercampur liurnya mengumpul di mulut saat bogem mentah kembali dipukulkan Samatoki ke ulu hatinya.“Balik ke rok ibumu sana bocah.”
“Beri..sik…” Ichiro limbung, tapi kakinya menolak jatuh seperti budak ke tanah.Ia tetap berdiri. Nafasnya pendek, tapi Ichiro masih sadar.“Hah…aku tidak dengar, kau ngomong apa bocah?”
“Berisik. BERISIK! DIAM MULUT BUSUKMU TIDAK PANTAS MENYEBUT NAMA IBUKU!”
Ichiro mengumpulkan sisa tenaganya dalam serangan terakhir. Entah karena teriakannya, atau keberuntungan belaka, pukulan Ichiro membuat Samatoki melayang ke udara, dan mengambil monentum itu, Ichiro segera mendorong Samatoki hingga ia jatuh berguling-guling menuruni lempeng sungai dan jatuh dengan badan penuh rerumputan liar di tepi sungai.
Ichiro tidak ingat apapun setelah itu.Ia bangun di tempat berbeda. Sebuah klinik asing. Pemandangannya sama seperti ruang kesehatan di sekolah, bedanya hanya saja tempat ini lebih nyaman, lebih bersih, dan kasur sterilnya jauh dari bau keringat bocah-bocah puber. Lantunan musik klasik mengalun pelan dari piringan hitam.Apa ia menjadi time traveler ke masa perang dunia kedua? Ah tidak-tidak. Pemilik klinik ini pasti masih berhubungan dengan yakuza yang dipukulnya.Ichi meraba perutnya dengan sedikit tergesa-gesa.Tidak ada bekas jahitan.
“Tentu saja tidak ada jahitan, bocah.Ginjal anak pemarah sepertimu tidak laku di pasar gelap.”
Suara Samatoki terdengar menahan tawa.Wajah Ichiro meremang merah.Ia membuka tirai gorden ranjangnya dengan kesal. “Kau menculikku?” “Hah? Setidaknya ucapkan kata terima kasih karena aku menjamin kebebasanmu, dan membawamu ke klinik gratis kek, bocah! Aku bukan penculik. Lagian mau nyulik kamu buat apa, kurus krempeng begini, walau kuakui sih, tadi cukup sakit juga saat bogem mentahmu mengenaiku. Kau punya potensi besar bocah.Mau gabung group ku?”“Aku tidak sudi bergabung dengan group hama-hama masyarakat.”
Tawa Samatoki semakin kencang, seolah Ichiro baru saja melemparnya lelucon terkocak abad ini.
“Oh..oke…maaf…maksudku group yang satunya. Pede amat kau bocah, aku bukan mengajakmu menjadi yakuza, potonganmu bukan potongan yakuza juga, walau didandani seram, yang ada mereka akan mengira kau pengantar paket, bukan preman. Hahahaha!”
Andai saja ia tidak berada di ranjang klinik dengan kaki terkilir, Ichiro dengan senang hati menonjok mulut Samatoki. Tawa itu sangat Menyebalkan.Lebih menyebalkan dari tawa raja Babilonia di light novel kesayangannya.
“Aku hendak merekrutmu menjadi anggota ke empat kami.Yang memintanya leader group kami sih, pemilik klinik ini. Bagaimana, kau kudengar sangat membenci Hypnosis mic kan, tapi tidak memiliki sesuatu untuk melawan mereka. Hypnosis mic hanya bisa dilawan dengan hypnosis mic.Jika kau mau, kami akan mengajarimu potensi dari senjata yang kau benci, bocah.”
…dan mungkin, kau bisa menjadi pahlawan keadilan yang kau cita-citakan sedari kecil, Yamada Ichiro.
Omnes enim, qui acceperint gladium, gladio peribunt.
(Mereka yang mengambil pedang, akan mati oleh pedang)
Ichiro tahu takdirnya tersegel saat menyambut tangan Samatoki.
Iahidup di jalan pedang sekarang.
Sebagai gladiator-gladio
Pedang-dan pemegangnya.
Jika ia mengambil pedang bernama hypnosis mic…
Akankah impiannya menciptakan dunia lebih baik untuk kedua adiknya bisa tercapai?
Dunia ini tidak pernah adil pada kaumnya. Tetapi Ichiro akan terus berharap, pelangi terlihat indah di akhir perjalanannya.
+++
Samatoki tidak pernah menyangka kehadiran Ichiro akan memutar balik dunianya.
Ia adalah pria yang hidup di jalan keadilannya sendiri. Ia adalah Tuhan atas tubuhnya, dan…
Dunia yang terpantul balik dari bola mata heterokrom milik Ichiro memberinya kesempatan sekali lagi mempercayai keajaiban memang ada. Bahwa ia, sama seperti orang lainnya berhak atas cinta dan dicintai.
Kepergian Ichiro adalah penghianatan kedua dunia padanya.Ia begitu merindu, begitu ingin merengkuh Ichiro dalam genggamannya. Samatoki tidak pernah bisa melupakan malam-malam yang dilaluinya berdua dengan Ichiro saat mereka masih bersama. Semakin lama ia mengingat tawa Ichiro, semakin lama ia mengingat namanya terucap di sela deru nafas pendek Ichiro saat keduanya bercumbu memadu kasih, semakin dalam kemarahan di hatinya.
“Kau berkhianat!”“Kita semua berkhianat Samatoki.”
Ichiro menyeka darah dari hidung dan sudut bibirnya, Hypnosis mic miliknya dan Samatoki seimbang kala ia memutuskan ikut melangkah pergi dari The Dirty Dawg.
“Jika kau beranjak…Ichiro!”
Jangan pergi.Kumohon.
“Jika kau melangkah, satu kali lagi!”
Berhentilah!
“Aku akan membunuhmu!”
Aku tidak bisa hidup tanpamu.
Ichiro…
Aku…
Masih menantimu kembali.
What are the things That I want to say
Just aren't coming out right
I'm tripping on words
You got my head spinning
I don't know where to go from here
Cause there's you and me
And of all other people with nothing to do
Nothing to prove
And there's you and me
And of all other people
And I don't know why
I can't keep my eyes off of you.
Samatoki melihat pecahan kaca di toko kelontong keluarga Yamada, cat toko itu mengelupas, penuh pilox makian setelah Buster Bros kalah dari Mad Trigger Crew, tim baru buatannya musim panas lalu. “Ini berlebihan.”Ia masuk kedalam, hanya untuk melihat isi toko telah dijarah habis-habisan. Hanya tersisa stok makanan yang berhamburan di lantai keramik kotor, minuman kaleng ringsek, dan sisanya, bahkan tidak berbentuk lagi. Anjing pun akan malas untuk sekedar mengendus.
“Distrik ini telah jadi milik Mad Trigger Crew dan yang kutemukan hanya sampah. Kita akan membangun ulang toko keluarga Yama-“
Sebuah lemparan batu nyaris mengenai Samatoki.Ia melihat ke arah pelempar. Hanya salah satu dari pendukung fanatik buster bros yang kecewa akan hasil akhir pertarungan. Lagi-lagi mereka datang bergerombol, melampiaskan amarah pada semua yang berhubungan dengan keluarga Yamada.
Kebetulan sekali.Sekali pukul, Samatoki bisa mendapat beberapa informasi sekaligus.
“Kalian beruntung moodku sedang sangat baik.”Samatoki melepas jas hitam panjang yang dikenakannya. “Aku tidak suka mengotori tanganku dengan darah tikus got, jadi berbahagialah, kalian adalah salah satu dari mereka yang mendapat penghargaan mati oleh Samatoki-sama, tanpa sarung tangan.”
+++
Darah.
Darah…
Entah warna merah siapa yang tertumpah…
Hari ini pun, Samatoki menumpahkan darah mereka, mewarnai bendera merah Buster Bros yang dibawa serampangan saat berusaha menghancurkan sisa-sisa keluarga Yamada.
Oh mereka salah besar jika mengira hal itu akan menyenangkan hatinya.
Samatoki membunuh satu persatu penyerang keluarga Yamada,
Dengan cara yang membuat pria dewasa berteriak ketakutan.
Tidak ada ampunan bagi siapapun yang mencoba merenggut Ichiro darinya.Bagi samatoki, hak mencabut dan menghancurkan Ichiro adalah mutlak miliknya seorang. Pria-pria itu salah besar saat menyeret tubuh Ichiro dan kedua adiknya sepanjang jalan, dan mengarak mereka dengan bendera Mad Trigger Crew, seolah Ichiro adalah pendosa yang harus dipermalukan depan publik.
IA MILIKKU! IA ADALAH ICHIROKU! BERANI-BERANINYA KALIAN!
ICHIRO ADALAH UNTUKKU!
Nyawa Ichiro dan kedua adiknya terselamatkan dari tangan maut hari itu, tetapi api dalam jiwa Ichiro masih pergi. Mereka bukan hanya menyakiti Ichiro secara fisik, tetapi memaksanya bertingkah layaknya pelacur, membiarkan satu persatu dari mereka menggagahinya. Tiap kali Ichiro kelelahan, sebuah suntikan berisi obat perangsang akan dimasukkan secara sembarangan di leher, betis, hingga penisnya. Obat itu membutakan nalar Ichiro, tetapi tidak hatinya. Ichiro, dalam masa tergelapnya terus memanggil nama Samatoki.
Kiriman video yang berisi Ichiro tengah ditunggangi lima orang itu menyulut api Samatoki. Ia mengerahkan kekuatan group yakuzanya, mencari satu persatu wajah dalam video yang tengah menodai Ichiro dengan tawa dan lenguhan nafsu menjijikkan.
Ichiro adalah miliknya. Sehancur apapun Ichiro sekarang, Ichiro akan tetap menjadi satu-satunya belahan jiwa Samatoki. Sekarang dan Selamanya.
+++
“Kenapa kau menyelamatkanku…” Akhirnya Ichiro membuka percakapan, setelah tiga bulan ia hanya diam menatap langit di jendela kamar mansion-nya. “Mereka bilang tidak akan menyakiti Saburo dan Jiro saat aku bersedia menjadi gundik, jika kau menyelamatkanku maka mereka akan…”
“Mereka sudah menjadi mayat, Ichiro.”Samatoki memeluk tubuh ringkih Ichiro. Mendekapnya erat, dan menyandarkan kepala sang sulung Yamada di dadanya. “Adik-adikmu masih hidup, mereka juga cemas akan keberadaanmu…tidakkah kau ingin menemui mereka?”Ichiro menggeleng cepat.“Tidak.”
“Aku sudah— kau tahu…Samatoki…mereka melakukan itu, dan memaksa dua adikku melihatnya, melihat kakak sulung mereka bertingkah layaknya pelacur jalang.Aku tidak pantas menjadi kakak Jiro dan Saburo.”
Tangis Ichiro pecah, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan Samatoki. Ini bukan Ichiro yang ia kenal. Ichironya hancur bersama kekalahan Buster Bros, dan yang tersisa adalah serpihan serpihan kecil berserakan, dalam fisik rapuh.Jakurai bilang, luka fisik Ichiro telah lama sembuh, tetapi luka mentalnya memerlukan pendampingan berlanjut.Harus ada seseorang mendampingi Ichiro ketika benteng kuatnya runtuh, dan kembali terpelatuk traumanya.
“Ichiro…Ichiroku…Ichiroku yang malang.”
Samatoki berbisik lirih.
“Kau tetaplah kakak mereka.Tidak ada seseorang yang berkorban begitu besar untuk kedua adiknya, sebesar pengorbananmu. Ichiro…”
“Aku bahkan tidak layak berada di dalam pelukanmu…” Isaknya.Menatap balik Samatoki dengan dua iris heterokrom berkabut.
“Ichiro!”Samatoki membungkam tangis Ichiro dengan ciuman.Bibirnya menyapu permukaan tipis milik Ichiro, mengecupnya berkali-kali, hingga Ichiro mau membuka mulutnya, dan membiarkan lidah Samatoki masuk ke dalam.
“Kau hanya perlu melihatku sekarang, Ichiro. Kau tetap seorang Yamada Ichiro, kau tetap yang pertama, tidak ada yang akan merubah fakta itu, walau mereka mungkin berusaha melakukannya. Kau…tetap…”
Samatoki kembali mencium Ichiro, kali ini ia menghisap leher jenjangnya, hingga warna merah merona bekas kecupannya terlihat jelas.
“Kau tetap Ichiro milikku seorang.”
Jakurai memintanya berhati-hati saat mendampingi Ichiro, tapi peduli setan.Ia bukan psikolog, dia bukan peramal atau pembuat keajaiban yang dengan mudah memberi mukjizat kesembuhan. Satu-satunya yang bisa Samatoki lakukan adalah membuat seluruh dunia tahu, kalau Ichiro miliknya.
….dan membuat Ichiro hanya mampu mengingat cumbuannya.
“Kau tidak akan mengingat mereka lagi Ichiro, hanya ada aku dalam benakmu, dan hanya ada aku, Samatoki-sama ini, yang diingat tiap jengkal tubuhmu. Hanya ada kau dan aku, yang saling memiliki… Ichiro…”
+++
Hari berganti minggu, dan bulan berganti bulan sejak Ichiro tinggal di apartemen Samatoki.Ichiro masih menolak untuk bertemu muka dengan adik-adiknya, sehingga yang bisa Samatoki lakukan saat ini adalah membawa Ichiro tinggal bersamanya, sementara Juuto dan Riou menjaga kedua Yamada yang lebih muda.
Pemulihan pasca trauma bukanlah hal yang mudah dan cepat terjadi.Jakurai bilang butuh banyak waktu dan kesabaran untuk mendampingi seseorang yang tertekan secara psikologis.Semua manusia bisa mendapat tekanan mental yang membuat mereka kehilangan dirinya sendiri, tak terkecuali manusia kuat seperti Yamada Ichiro.
Tidak ada yang pernah bilang bahwa Yamada Ichiro adalah orang yang lemah. Di usianya yang masih belia, ia sudah membesarkan adik-adiknya seorang diri sepeninggalan orang tuanya. Ia bertindak sebagai tulang punggung keluarga Yamada. Bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan adik-adiknya.Tak ada seorang pun di Ikebukuro yang tak pernah mendengar nama Yamada Ichiro sebelumnya. Pemuda belia itu sudah menjadi penguasa dan perwakilan distrik di usianya yang masih 19 tahun. Segala beban dan tanggung jawab dibebankan di punggungnya, termasuk tanggung jawab yang harus ia tanggung ketika tim besutannya―― Buster Bros kalah dalam division rap battle.
Bukan hanya kekalahan yang ia tanggung, namun kehilangan nama baik dan tentu saja penyiksaan secara fisik dan mental. Tak ayal pemuda itu sampai pada batasnya.
Di malam-malam tertentu, pemuda itu terlonjak dari tidurnya. Menjerit keras meneriakkan nama adik-adiknya, menggumam kata “maaf” bagai mantra. Air mata mengucur deras membasahi pipinya, punggungnya bergetar hebat seiring dengan jambakan berkali-kali pada rambut.Padangan matanya tak fokus, ia melihat bayangan masa lalu. Terjebak selamanya di waktu itu.
Disaat itu Samatoki yang turut tertidur di sebelah pemuda itu hanya bisa melihatnya dalam diam sambil menggigit bibirnya hingga berdarah. Pernah suatu waktu ia hendak memeluk dan menenangkan pemuda itu― hendak membagi sedikit hangat tubuhnya dan memberi perlindungan. Namun saat ujung jari sang yakuza hampir menyentuh tubuh ringkih itu, Ichiro terlonjak. Menarik tubuhnya menjauh dan memandangnya dengan penuh takut.
Yang terbias di bola kaca beda warna itu bukan dirinya― melainkan sosok manusia-manusia jahanam yang darahnya sudah ia tumpahkan sebagai pembalasan dendam.
Sosok-sosok jahanam itu memang sudah tidak ada lagi di dunia, namun selamanya hidup dan menghantui pemuda di depannya.Samatoki hanya bisa menunggu.Menunggu dalam diam hingga teriakan berganti menjadi isakan. Hingga malam berganti pagi dan tubuh itu akan terduduk lemah sembari menatap kosong hingga akhirnya kembali tertidur dengan wajah lemas.
Ia benci saat-saat ini.
Saat dimana ia hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Samatoki membiarkan jemarinya mengusap pelan helai-helai lembut sewarna arang.Membiarkan helai-helai lembut menggelitik setiap buku-buku jarinya.Ia mengusap perlahan ekor mata Ichiro, menghapus sisa air mata yang ada di sana.
Ia tidak pernah menyesali keputusannya bertarung dengan Ichiro di division rap battle. Tidak sama sekali. Begitu pula dengan Ichiro.Mereka berdua sama-sama punya mimpi.Punya dunia ideal yang ingin mereka wujudkan dan mimpi Samatoki adalah untuk menghancurkan dunia yang sekarang.Ia akan mendobrak tembok Chuo dan menggulingkan para babi-babi brengsek yang mempermainkan hidup mereka dan menjadikan nyawa mereka hiburan semata.
Hidup tak pernah adil.
Karena itu sedari awal Samatoki tidak pernah percaya Tuhan.Baginya “Tuhan” hanyalah sosok pelarian dari para makhluk lemah yang butuh sandaran. Hanya ia yang mampu mewujudkan keinginannnya sendiri. Kali ini juga ia pasti akan mewujudkan keinginannya dan ia tidak akan membiarkan seorang pun melukai apa yang paling ingin ia jaga.
+++
Konferensi pers, saat dimana para pemenang battle di babak pertama akan mengumumkan apa yang mereka inginkan sebagai hadiah atas kemenangan mereka. Disini para perwakilan masing-masing divisi pemenang hadir ―Matenrou dan Mad Trigger Crew.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Matenrou meminta hak kekuasaan atas Shibuya, wilayah yang dulu ada di dalam kuasa Fling Posse.Terdengar kekecewaan dan teriakan frustasi dari para penghuni Shibuya.
Kali ini giliran Mad Trigger Crew.Aohitsugi Samatoki maju sebagai perwakilan. Hening menyelimuti ketika sang anjing gila Yokohama naik ke podium. Rumor tak sedap tentang pembantaian yang dilakukannya sudah menyebar bagai virus. Tak ada satupun orang waras yang ingin memancing kemarahan sang yakuza saat ini.
“Aku meminta hak atas Ikebukuro―”
Semua yang ada di sana menghela nafas tertahan atas jawaban yang sudah pasti. Namun Samatoki tak berhenti.
“Karena itu siapapun yang mengusik wilayahku dan apa yang ada di dalamnya, akan kugigit sampai mati.”
Mata merah itu menatap nyalang.
Mereka semua paham apa maksudnya. Tak ada yang boleh mengusik Ikebukuro dan membuat kekacauan untuk semua yang ada di dalamnya― termasuk kepada keluarga Yamada.Sudah menjadi rahasia umum kalau orang-orang yang pernah mengganggu para Yamada telah menjadi mayat.Membusuk di selokan digerogoti tikus dan serangga.
Hari itu wilayah Ikebukuro resmi jatuh ke tangan Mad Trigger Crew.
+++
Seperti malam-malam sebelumnya, tubuh itu sekali lagi gemetar menahan isakan tangis.Samatoki hanya memandang Ichiro dalam diam. Namun bola mata merah itu membulat ketika kehangatan menyelimuti punggung tangannya.Ichiro menggenggam tangan Samatoki dengan gemetar.
Perlahan pria itu mendekatkan tubuhnya, menjaga jarak nyaman untuk sang pemuda. Entah berapa lama waktu yang ia butuhkan sebelum lengannya meraih pundak pemuda itu.Kali ini tidak ada penolakan dan punggung Ichiro bersandar perlahan di dada Samatoki.
“Kali ini aku pasti akan menang.Akan kubuat orang-orang yang pernah menertawakanmu merasakan sakit yang sama dan merasa menyesal mereka pernah lahir.”
Ichiro hanya diam dan menggenggam erat tangan Samatoki.
Ichiro akan selalu disini. Menunggunya untuk pulang entah bagaimana pun hasil akhir pertarungan nanti.Menjadi “rumah” bagi Samatoki.
+++
Ichiro perlahan tapi pasti menunjukkan bukti pemulihan yang berarti.Ia mulai sering keluar kamar untuk sekedar membersihkan apartemen maupun menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Hingga akhirnya secarik surat terulur kepada Samatoki.
“Tolong sampaikan pada mereka.”
Tak perlu kata lebih lanjut bagi Samatoki untuk mengerti.
Surat balasan datang tak sampai sehari berikutnya.Ia masih mengingat dengan jelas betapa jelek wajah si bungsu dan anak kedua keluarga Yamada ketika menerima surat dari kakak tertua mereka. Dengan tangan gemetar mereka menulis surat balasan, menumpahkan perasaan dan air mata ke dalam secarik kertas untuk kemudian disampaikan pada sang kakak.
Keberadaan surat kemudian berganti menjadi telpon beberapa minggu kemudian. Buku-buku jari Ichiro mengerat di ponsel pintarnya, nafasnya memburu ketika ia mendengar nada panggil berbunyi dan nyaris terputus ketika ia mendengar suara kedua adiknya memanggil namanya. Ponsel pintar menyentuh seprei lembut di bawahnya, diiringi tangis yang pecah dari Ichiro.
Samatoki mendekap tubuh Ichiro, usapan pelan di pucuk kepala menjadi ganti kata.Hingga akhirnya jemari itu mengambil kembali ponsel yang terjatuh, berbicara dengan terbata.
Tak pernah sekalipun Jiro dan Saburo merengek untuk bertemu Ichiro.Mereka tahu kakak mereka butuh waktu.Seperti saat ini, ketika Ichiro berbicara dengan terbata lewat telpon.Mendengar kakak mereka masih hidup sudah menjadi anugerah bagi kedua bersaudara itu.
Permintaan maaf kembali terucap berulang-ulang, terus bagai kaset rusak.
“Kak Ichi, jangan meminta maaf…”
Si bungsu yang selalu paling sensitif memulai saat mendengar kakaknya terus meminta maaf.
“Justru kami yang ingin menyampaikan terima kasih.Terima kasih telah melindungi kami.”
Hari itu Ichiro tidak bermimpi buruk.
+++
Bau garam menyertai angin sepoi-sepoi yang berhembus di teluk Yokohama.Mempermainkan helai-helai legam Ichiro.Perhatiannya teralih dari birunya air di teluk saat deru mobil mendekat.Bunyi pintu mobil yang terbuka dan tertutup keras diiringi langkah kaki cepat dan tubrukan di dadanya.Dua puncak kepala menyembul dalam pelukannya. Kedua adiknya terisak keras, membenamkan wajah mereka di dada sang putra sulung.
Ichiro menarik lengan pria serba putih yang sedari tadi hanya diam di sampingnya, mendekap pria itu bersama dengan kedua bocah yang masih menangis sambil memeluknya.Dunianya ada disini.
Semua yang berharga baginya ada di dekapnya. Lalu apa lagi yang perlu ia takutkan sekarang?
“Kali ini kami yang akan melindungi kakak. Lain kali kita pasti akan menang, aku pasti akan melindungi kakak. Aku… akan jadi lebih kuat!”
Sang anjing penjaga Ikebukuro berkata sambil menatap Ichiro.Iris emerald dan topaz menatapnya dengan penuh tekad.
“Lain kali”, benar juga. Masih ada lain kali. Langkah mereka tidak akan terhenti disini.
“Ya, berikutnya kita pasti akan menang.”
Senyum kecil terulas di wajah Ichiro.
