Work Text:
In the ocean, full of blue ... I see him
Taehyung, seorang duyung pria berusia dua puluh enam tahun, terkenal akan kecantikan wajah dan keelokan tubuhnya di antara duyung pria lain. Tak hanya menarik bagi wanita, sering kali pria-pria di lautan menaksirnya.
Ekornya dipuji karena kelihaiannya, keindahan siripnya yang selaiknya sutra, pinggang rampingnya, serta pinggulnya yang berbentuk sempurna. Makhluk lainnya iri, pun memuja.
Ia sering mengarungi lautan bersama kedua temannya; Jimin dan Seokjin, kemudian iseng-iseng memandangi setiap kapal manusia yang melaju di permukaan air.
Bukan hal baru bagi Taehyung bertemu manusia, melihat mereka yang menaiki kapal nelayan, sampan kecil, atau bahkan kapal besar.
Bagi Taehyung, manusia adalah makhluk yang lemah ㅡ bukan secara fisik ㅡ dan mudah diperdaya.
Taehyung sering temui manusia yang memburu para duyung seperti dirinya, adapun sebagian dari mereka tak percaya mitos bahwa makhluk seperti ia ada. Mereka akan melempar jala ikan berukuran besar di kala mereka lihat para duyung muncul di permukaan.
Taehyung tahu jika tak semua manusia akan melakukan hal serupa, namun ia tetap harus waspada terhadap mereka.
Siang ini, Taehyung kembali muncul di permukaan saat sayup-sayup ia mendengar gelak tawa dan percakapan beberapa pria di atas air sana. Saat Taehyung memerhatikan, ada sebuah boat melaju pelan ditumpangi 3 orang pria, yang 2 di antaranya tengah merekam video, dan satu lainnya menyetir sambil sesekali menimpali.
Taehyung mengikuti mereka dengan mengibas ekornya pelan-pelan di dalam air, tak ingin nampak jelas. Beruntung ketiga pria tersebut tak sama sekali menyadari keberadaannya.
Yang paling tinggi berkacamata hitam di antara mereka, merangkul lelaki yang tengah menyetir dan menyuruhnya berdiri untuk mengucap sepatah dua patah kata sebelum vlog ㅡatau live video, Taehyung tak yakinㅡ berakhir.
Kemudian Taehyung rasakan ada yang menghentak dadanya dengan perasaan menyenangkan, ia rasa wajahnya memerah seperti kepiting, puluhan permata di dadanya seakan bisa meluruh kapan saja, saat si pengendali boat membalikkan tubuhnya dan sepenuhnya bisa terlihat oleh Taehyung.
Dia ... sangat tampan.
Tiba-tiba saja Taehyung ingin melihatnya lebih dekat, bertanya-tanya apakah suara lelaki itu juga seindah wajahnya ...
Sewaktu dirinya berenang untuk memandangi lebih jelas, terdengar suara nyanyian nan merdu memasuki rungunya, yang buat ia serta merta mengumpat, those bitches again!
Para siren. Makhluk laut yang gemar menjahili manusia dengan mengeluarkan suaranya saat mereka berlayar. Taehyung segera turun kembali ke bawah untuk memanggil dua temannya, ia tahu jelas apa yang akan terjadi di atas sana.
Nyanyian para siren tak pernah buatnya tenang. Taehyung muak pada sifat jahil mereka mengerjai manusia dengan cara yang jahat, mereka dibuat terpikat oleh nyanyian siren, kemudian akan tertawa-tawa ketika kapal-kapal itu hancur diterjang badai.
Saat kembali ke permukaan, Taehyung memanggil-manggil para pria di atas perahu itu agar mereka tersadar, tapi satu orang paling tinggi di antara mereka mengambil kemudi dan melajukan boat tersebut mengikuti sumber suara. Sialan.
Ia dan kedua temannya berenang lebih cepat untuk mencapai anak-anak lelaki itu. Selagi mendengar suara indah menjijikkan dari para siren, Taehyung menyumpah; kenapa Dewa tidak memusnahkan mereka?
Atau setidak-tidaknya, berikanlah hukuman atau karma atas kelakuan nakal mereka terhadap manusia.
Angin mengencang, langit menghitam. Suara gemuruh terdengar menakutkan ditambah ombak laut yang kian tak tenang. Taehyung tak hentinya berharap agar mereka semua selamat. Namun suara alunan nan merdu dari sirens masih memperdaya logika mereka; yang masih saja melajukan perahu dengan kencang.
Lalu seketika laut membalikkan perahu para lelaki itu, membuat mereka terlempar dari atasnya. Taehyung dan kedua temannya serta merta melaju lebih kencang ke dalam laut di mana mereka terlempar; satu duyung pada satu manusia, dan Taehyung dengan pasti melaju pada lelaki itu.
Taehyung muncul di permukaan bersamaan dengan lelaki tampan di pelukannya. Taehyung tak bisa untuk tak berdebar, namun yang terpenting sekarang ialah membawa lelaki ini ke daratan. Ia dan teman-temannya terpisah, tapi bisa dipastikan jika yang lainnya telah diselamatkan.
Ia telah sampai di pantai di balik tebing yang jaraknya cukup membuat Taehyung kelelahan. Lelaki di pelukannya nampak masih belum sadarkan diri, tidak apa, itu bagus. Setidaknya Taehyung masih bisa menyeret tubuhnya sendiri ke daratan.
Memang sedikit menyusahkan. Tak seperti di dongeng-dongeng di mana ekor para duyung akan berubah menjadi kaki manusia saat mereka ke daratan. Nyatanya tak bisa demikian, tidak ada jimat atau permata apa pun yang dapat mengubahnya.
Taehyung pernah melakukan ini sebelumnya. Bersama ayahnya ia selamatkan dua orang nelayan yang tengah mencari ikan dan mengalami hal yang serupa; diganggu para siren. Kemudian ia dan sang ayah membawa manusia-manusia itu ke daratan. Saat mereka terlihat akan sadar, sang ayah telah peringatkan ia untuk kembali ke laut sebelum manusia itu melihat ekor mereka. Namun sebelum ekornya menyentuh air, para pria itu telah bangun dan meneriaki Taehyung juga ayahnya.
Beruntung sekali, pada saat itu kaki manusia yang mereka selamatkan sedang terluka, jadi mereka tak bisa mengejarnya. Dasar manusia tidak tahu diri, andaikan mereka tahu kejadiannya, begitulah protes sang ayah kala itu.
Taehyung pernah bermimpi menjadi manusia seutuhnya. Ia membayangkan bisa mengenakan pakaian cantik, perhiasan buatan manusia, dan makan makanan manusia.
Dan saat melihat lelaki ini, Taehyung berharap lagi agar ia bisa menjadi manusia dan menjalin hubungan normal dengannya. Bagaimana cara manusia menjalin cinta? Apakah tak jauh berbeda seperti para duyung yang akan berkeliling samudera berdua? Atau saling membuat perhiasan dari mutiara untuk pasangannya? Apakah mereka juga senang berburu makanan bersama?
His eyes are closed
Mestinya Taehyung segera bergegas pergi sebelum lelaki itu sadar. Ia telah pastikan di sini merupakan pantai di mana para lelaki tadi berasal, hanya terhalang tebing tinggi yang membuat Taehyung merasa aman dari penglihatan manusia lain.
Ia memandangi wajah tampan itu sekali lagi sebelum ㅡberniatㅡ pergi, nampak tenang walau sedikit pucat. Meski begitu, napasnya terdengar normal. Dada bidangnya ㅡyang terbungkus kaos putih basah, mencetak jelas bentuk tubuhnyaㅡ naik turun seiring helaan napasnya yang teratur, selaiknya seseorang yang tertidur dengan damai.
I can't leave him ...
But I'm afraid he'll wake up
Berulang kali ucapan ayahnya perkara sifat manusia yang tak semuanya baik terus terulang dalam benaknya. Entah apa yang akan lelaki itu katakan jika melihat ekor besarnya saat sadar nanti, apakah Taehyung akan disandera atau lelaki tersebut akan terpesona?
Taehyung memandangi wajah tampan yang tertidur di pangkuannya ㅡuntuk kesekian kali, tangannya terangkat perlahan, kemudian kembali diturunkannya ke atas pasir.
That sharp jaw, wanna touch it
Tidak. Tidak boleh memegang orang sembarangan, apalagi mengambil kesempatan pada orang yang sedang tak sadarkan diri. Taehyung tidak akan melewati batasnya.
And those lips, wanna kiss it ...
Taehyung dekatkan wajahnya hanya untuk melihat lebih jelas dari sebelumnya. Lalu ia kembali memuji betapa sempurna para manusia satu ini. Rahang tegas, alis hitam dan tajam, hidung mancung yang sedikit lucu, ada satu titik kecil di bagian yang serupa seperti miliknya, kemudian bibir tipisnya yang sedikit terbuka; menunjukkan gigi kelinci lelaki itu yang ㅡbisa Taehyung pastikanㅡ imut, dilengkapi setitik hitam pemanis di bawah bibirnya.
Taehyung ingin mengecupnya.
Ingin rasakan benda merah muda itu bersentuhan dengan miliknya. Ia ingin menghilangkan batas-batas norma yang menahan nafsu, namun kemudian ia tersadar bahwa tak seharusnya ia berpikiran demikian. Bagaimana pun lelaki itu merupakan korban musibah ini.
Lelaki itu masih belum terbangun, kepala di atas pangkuan si ekor biru. Panas matahari buat baju pantai tipis lelaki itu cepat kering, setidaknya ㅡ fokus Taehyung tak akan teralih ke sana lagi. Dan selama beberapa saat yang cukup lama, belakangan Taehyung mengangkat tangannya untuk menghalau mata si manusia tampan itu dari sinar matahari.
Kemudian tanpa suara pria di pangkuannya membuka mata, mengerjap beberapa kali, dan Taehyung tak sempat berpikir untuk menghindar saat tahu bahwa lelaki itu telah sadar.
"Huh? Apa aku telah mati?"
Lelaki tersebut bicara tak jelas. Taehyung bahkan tak tahu jawaban apa yang harus ia beri, terlalu khawatir jika lelaki itu menyadari bentuk tubuh setengah duyungnya.
"Apa ini surga?"
Lagi, Taehyung tak bisa menjawabnya. Hanya bisa mengangkat sedikit alisnya kebingungan. Ia lihat lelaki tampan tersebut melihat sekelilingnya, belum menyadari jika yang ia duduki merupakan ekor biru milik seorang duyung.
Dengan kakunya Taehyung malah balik bertanya, "Kenapa?"
And he looks at me, right into my eyes
"Karena aku lihat malaikat sekarang ini ..."
Taehyung merona. Entah karena tatapan mata hangat itu, atau karena kalimat yang diucap lelaki itu padanya, atau karena keduanya. Ia pikir, mungkin lelaki itu hanya mengigau. Taehyung harusnya segera pergi dari sana sebelum si tampan ini benar-benar menyadari rupa tubuhnya.
"Tadi aku dengar nyanyian ... indah, tapi menyeramkan." kata lelaki itu tiba-tiba, suaranya memelan; sedikit gemetar. "Lalu kami ikuti suara itu dan kami ... kami ... Ke mana teman-teman saya?"
Seketika lelaki itu bangkit duduk, melihat sekelilingnya untuk mencari kawan-kawannya namun mereka tak ada dalam jangkau pandangnya, lalu segera berbalik kembali menatap Taehyung dengan raut cemas.
"Apa ㅡ m-mereka tenggelam?"
Taehyung tak bisa pastikan jika teman-teman lelaki ini selamat, namun ia yakin teman-teman duyungnya tak akan membiarkan manusia mati tenggelam. Jadi Taehyung beri senyum tipis hangat.
"Teman-temanku menyelamatkan mereka, mungkin ada di sisi lain pantai ini."
Ia mengembuskan napas; tenang, kemudian diam-diam menelisik tubuh Taehyung yang tak tertutupi sehelai kain pun, hanya dada yang ditutupi sisik biru berkilauan dihiasi permata cantik, juga ekor biru yang tak terlihat palsu sedikit pun.
"Kamu ..."
Jantungnya berdebar kencang, perasaan takut menyelimuti. Wajahnya tampakkan cemas namun ia bergeming di tempatnya, sama sekali tak menggeser tubuhnya menjauh dari manusia di depannya.
Taehyung takut akan reaksi lelaki itu; takut jika ia akan ditinggalkan dengan ekspresi jijik atau bahkan dimanfaatkan, karena, siapa tahu ㅡ manusia selalu haus kekayaan, bukan?
Namun dari mata hitam indah lelaki itu, Taehyung sama sekali tak mendapati rasa jijik maupun aneh terhadap tubuhnya. Kemudian -
He caresses my cheeks gently
Hati Taehyung menghangat. Seketika rasa cemas dan kalut sirna, digantikan oleh perasaan senang dalam dadanya. Namun ia malah semakin berdebar, kala lelaki tampan itu melanjutkan,
"... Indah."
Mata itu, Taehyung menyukainya; warnanya, kilauannya, dan caranya dalam memandang Taehyung tepat di mata dan ㅡsekali lagiㅡ mengagumi rupa tubuhnya. Taehyung bersandar pada sentuhan itu. Lembut dan hangat.
He treats me as if I'm more beautiful than the jewels in me
"Apa ini gak buat kamu jijik?"
"Sama sekali," mata itu tak hentinya mengagumi, dan tanpa kata apa pun, Taehyung tahu, jika lelaki itu terus memuji. Kemudian salah satu tangan lelaki itu turun dari wajahnya, lewati bahu dan lengan, dan berhenti di atas punggung tangan Taehyung; mengusapnya dengan lembut. "Aku selalu bayangkan keindahan para duyung, tapi gak nyangka akan seindah ini."
"... Atau mungkin karena kamu yang melampaui imajinasiku."
Taehyung tersipu lagi. Rona merah itu begitu kontras dengan permata-permata biru di pipinya. Juga usapan lembut di punggung tangannya memaksa ia untuk membalas dan menggenggam tangan lelaki itu; buat senyuman tampan terbit di wajahnya, lengkap dengan bunny teeth imutnya.
Ratusan makhluk di lautan memuji keindahannya, namun hanya lelaki ini yang memberi debaran berbeda.
And when our faces getting closer
Taehyung pejamkan matanya, terasa embusan napas hangat seraya genggaman tangan mereka yang semakin erat, ia rasanya dadanya nyaris meledak.
I know what's to come
Dua pasang bibir bertemu ringan, lembut, sedikit asin ketika Taehyung membuka tipis belah ranumnya. Tangan lain miliknya mencapai apa saja di depannya, kemudian bertemu dengan dada bidang terlapis kain tipis yang kini sempurna kering.
Mereka sejenak melepas tautan bibir hanya untuk membuka mata, kemudian manik hitam bertemu biru; senyum hangat terbagi, mereka anggap consent untuk mencium lagi.
Bibir bertemu bibir, satu tangan saling bertaut, dan yang lainnya saling menyentuh; Taehyung pada dadanya, sementara lelaki itu mengusap sisik tipis di pinggangnya.
He touches me
Taehyung tak pernah merasakan sentuhan ini, begitu lembut namun panas, perlahan dan buatnya tak sabaran. Ketika ciuman lelaki itu turun pada rahang, leher, dan dadanya, Taehyung semakin merasa panas.
Kisses every inch of my body
Entah karena ekornya yang sudah cukup lama tak menyentuh air. Mungkin, karena lelaki yang tengah menyentuhnya kini pun menyadari kilau di sisik ekornya berkurang. Maka setelahnya Taehyung diangkat tanpa aba-aba dengan kedua lengan kekar si tampan, menuju pinggir pantai.
Taehyung tak pernah digendong dengan cara ini, dan itu membuatnya berdebar untuk kesekian kali.
Ia perhatikan rahang tegas pria itu saat mengangkat tubuhnya, ekornya bergerak antusias ketika ia akan diturunkan ke air, namun tubuhnya enggan turun dari lengan itu.
Pria yang ia selamatkan tersenyum, ekornya kembali bersinar indah di dalam air dangkal. Tubuh Taehyung terlepas dari pelukan lelaki itu, maka serta merta ia mengalungkan lengannya pada leher itu.
"Don't leave me ..." ucapnya dengan pelan.
Rasanya Taehyung ingin menangis karena kebahagiaan ini akan berlalu, tak akan ada wajah itu lagi dalam pandangannya, tak ada ciuman manis lagi untuknya, dan ㅡ lelaki itu beri senyum untuknya, kembali meletakkan tangan besar itu di pinggangnya, dan kembali menciumnya.
Semua pikiran buruk Taehyung lenyap saat ia membalas ciumannya. Lidah mereka bertemu malu-malu, sejenak ciuman mereka terhenti dan lelaki itu katakan tepat di depan bibirnya,
"I won't, pretty."
Karena itu, Taehyung tersenyum. Tubuhnya dibawa ke pangkuan ㅡpaha keras berototㅡ lelaki itu, membuatnya sedikit lebih tinggi dan menunduk untuk kembali mencapai bibir yang buatnya candu. Ekornya mengecipak-kecipakkan air karena perasaan bahagia, dan keduanya tertawa di sela ciuman mereka.
He makes love to me
Helai kain tercecer di atas pasir. Bibir pada bibir, jemari menyusuri tiap inci kulit, membelai siripnya yang tipis dan lembut di dalam air. Melupakan sejenak bahwa keduanya adalah orang asing, tanpa bertukar nama; hanya napas, saliva, dan debaran seirama.
Hanya dua orang yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
... until the sun sets beautifully
Tubuh bercucur peluh bercampur air asin dari laut. Tak satu pun dari mereka sadar berapa lama waktu berlalu. Taehyung tak pernah merasakan perasaan ini, dan ia tak ingin ini cepat berlalu. Taehyung ingin selalu berada di samping lelaki ini.
"Bawa aku ..."
Taehyung kembali menatap mata indah itu, yang memandang dirinya penuh damba, lalu ujung matanya mengerut lucu saat ia terkekeh serak, "Anything, sweetheart."
Taruhan, lelaki itu akan menyanggupi juga jika Taehyung menyuruhnya tinggal di laut ini.
