Work Text:
Jemari Aether menjelajahi mahkota bunga putih dalam rangkai yang menghias altar di hadapan. Bermula dari baris di sisi atas, perlahan bergerak menuju sisi yang lebih rendah. Sentuh permukaan itu merayap lembut di ujung epidermi, bahkan terasa hangat meski angin di pesisir pantai usai matahari terbenam tidak juga berhenti membuatnya ingin merapatkan setelan tuksedo yang tengah dikenakan.
Tatap sepasang netra keemasan itu lalu berhenti pada salah satu bunga Qingxin yang menarik atensi, kemudian mengambilnya dari rangkai bunga serupa.
Ibu jari dan telunjuk Aether bergerak untuk memutar batang Qingxin. Rotasi lambat dari dua putik memberi bisikan agar kesadarannya bersiap untuk melesat ke awang.
"Menurutmu bunganya bagus?"
Aether tidak terkejut oleh pertanyaan yang memecah suara tipis debur ombak. Ia tahu betul, cepat atau lambat, satu-satunya sosok yang hadir bersamanya akan membuka mulut. Liriknya bergulir pada sang penanya dan Aether tidak tahu jika raut letih pada paras Xiao adalah dampak dari usahanya untuk beradaptasi dengan ramainya tamu di pesta pernikahan Lumine hingga kerumunan itu kembali pulang karena Aether memaksanya untuk berdiri di antara banyak orang dan bersikap ramah pada mereka, atau terlalu sering—bahkan selalu—menghindari kemungkinan untuk diajak berbincang oleh orang asing dengan terus bersembunyi di balik tubuh Aether.
Senyum tipis terulas pada rupa Aether. "Bagus, kok," jawabnya seraya mengangguk. Tidak lama, perhatiannya kembali tertuju pada bunga Qingxin dalam genggam dan putarannya yang mengulang secara konstan.
"Kalau dekorasi yang lain, bagus juga?" Xiao kembali melayangkan pertanyaan.
"Iya."
"Bajunya?"
"Yup."
"Makanannya enak?"
"Pasti, dong."
"Kalau begitu, kamu mau pernikahan kita nanti seperti ini juga?"
Sontak, pandangan Aether beralih pada figur Xiao. Keduanya berikat tatap. Sorot lelah di mata itu berganti dengan dominasi keseriusan. Netra emasnya merefleksikan nyala binar, menyiratkan keberanian yang ia tumpahkan untuk mengutarakan kalimat tersebut.
Inilah pertanyaan yang benar-benar membuatnya terkejut sampai-sampai ruang di dalam dadanya berdentum hebat.
"Tentu saja, Xiao." Sebuah tawa lepas dari bibir Aether, memperdengarkan kegugupan yang bahkan ia sendiri sadari. "Pesta pernikahan Lumine hari ini berjalan lancar. Lagi pula, kamu juga dengar sendiri, bukan? Banyak tamu yang memuji desain dekorasinya yang elegan. Bahkan beberapa dari mereka bilang kalau aku pasti bangga karena pernikahan adikku bisa semegah ini—dan aku memang bangga karena hal itu."
Xiao termenung sesaat. Kepalanya menunduk, lalu meraih bunga Qingxin yang tengah diapit di antara ibu jari dan telunjuk Aether setelah mahkota-mahkota putih tersebut tertangkap oleh indra penglihat. Bunga itu didekatkan menuju hidung hingga aroma khas sang puspa menggelitik penciumannya, lalu disematkan di belakang telinga Aether dan dibiarkan bertengger indah bersama dengan helai-helai pirang yang tampak serasi sementara tangannya mulai turun mengusap pipi Aether. Ia tidak peduli jika Aether masih menatapnya dengan tanda tanya besar di dalam benak. "Aether?"
Aether nyaris tersedak oleh napasnya sendiri, tidak tahu bagaimana ia harus mengantisipasi kalimat yang mengikuti panggilan namanya.
"Kalau begitu, dengan bunga Qingxin ini sebagai saksi, aku berjanji akan membuat pesta pernikahan kita sama megahnya seperti ini—tidak, bahkan jauh lebih baik dari ini."
Akalnya tahu jika kalimat tersebut terasa menggelikan karena terdengar seperti kalimat klise yang biasa ada di dalam dialog drama televisi, akan tetapi Aether tidak dapat menahan alir suam yang menjalar menuju seluruh bagian pipi setelah hatinya berbisik tentang siapa pria di hadapannya; orang paling tidak ekspresif dan yang selalu paling kepayahan untuk menunjukkan persona romantis dibandingkan dengan semua orang yang Aether kenal, mencoba menghadirkan diri sebagai perayu handal.
Oh, Xiao.
Aether terkekeh seraya meraih tangan Xiao yang tengah membelai wajahnya. Jemari itu menggenggamnya hingga ujung tangan mereka saling bertaut. "Aku akan menunggu sampai hari itu datang." Sebuah kecupan singkat di pipi sang pemilik rambut gelap mengikuti tutur itu.
Napas Xiao tercekat. Segala macam respons yang kemungkinan besar akan Aether tunjukkan sudah ada di barisan prediksi dalam benak—tapi tidak dengan yang satu ini.
Xiao selalu berpikir, dua tahun tinggal bersama dengan Aether pasti sudah cukup untuk mengenalnya baik dari luar maupun dalam.
Akan tetapi, Xiao salah besar.
Aether membuatnya mengerti bahwa ada satu atau dua hal kecil yang dapat ia pelajari mengenai diri Aether bahkan diri Xiao sendiri di setiap kali membuka mata usai kesadarannya selesai berkelana dalam tidur; Aether berhasil membuatnya jatuh cinta, lagi dan lagi.
Debar menguasai diri, membuat Xiao merasakan pergerakan tak kasat mata menggelitik perutnya. Bibir tidak lagi mengatup, namun tidak ada kata-kata yang dapat diucapkan. Xiao hanya bisa mengacak rambut di puncak kepala Aether hingga sang pemilik mengaduh hingga tertunduk selagi ia membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang terlihat serupa—entahlah, Xiao pun tidak tahu bagaimana ia harus menjelaskannya. Yang pasti, ia tidak ingin Aether melihatnya seperti ini. Hatinya tidak siap untuk digoda lebih lanjut oleh sang kekasih. "Ayo kita pulang." Xiao sadar jika pelafalan ajakannya terdengar terbata-bata.
Pandangan Aether diluruskan, menyaksikan Xiao berbalik dan mulai berjalan pergi. Punggung itu tampak semakin jauh dan segera Aether susul dengan berlari kecil. Setiap pijaknya berbalut afeksi, membuatnya tampak melompat girang di setiap langkah yang ia ambil.
Aether menyelaraskan ritme langkah ketika akhirnya berdampingan dengan Xiao, kemudian mengapit salah satu lengan pria berambut gelap itu dengan rengkuh tangannya. Tidak lama, jemarinya meraih telapak Xiao, memainkan cincin yang terpasang di jarinya.
Cincin berbentuk serupa dengan cincin yang tengah dikenakan Aether.
Cincin pertunangan Xiao dan Aether.
Berjalan bersama Xiao di atas pasir dengan taburan kelopak bunga dari altar tempat mereka semula berdiam menuju sepasang pintu kayu besar di dekat deret paling belakang barisan kursi para tamu, entah bagaimana membuat Aether membayangkan seperti apa rasanya meniti karpet merah menuju tempat ia dan Xiao mengikat janji sehidup-semati suatu hari nanti.
Imajinya maya, namun euforia yang membuat kuncup-kuncup dalam jiwanya bermekaran nyata terasa.
Sebuah senyum lebar yang tidak Xiao sadari mengembang di wajah rupawan Aether. Ia tidak sabar menunggu hingga waktu yang dijanjikan tiba.
