Chapter Text
Bora mengetukkan kuku-kuku panjangnya di meja kaca ruang tamu rumah Minhyuk. Ini sudah lima belas menit sejak ia menerima pesan singkat dari Minhyuk untuk menunggunya karena ia masih bersiap. Pemotretan Minhyuk akan dimulai dua jam lagi, sementara hingga saat ini sang model belum menampakkan batang hidungnya.
Lima menit kemudian dan Bora memutuskan untuk naik ke lantai dua dan mengetuk sendiri pintu kamar Minhyuk. Sebagai managernya, dia hapal dengan baik apartment mewah ini, toh Bora sendiri yang memilihkan apartment ini sebagai tempat tinggal Minhyuk satu tahun lalu. Maka di sini lah ia sekarang, di depan kamar Minhyuk, mengetuk pintu kayu itu dengan agak tergesa.
"Ya, Lee Minhyuk, sampai kapan kau mau berdandan? Kita sudah terlambat! Cepat keluar!" teriaknya dengan tidak sabar. Ia berniat untuk kembali mengetuk pintu itu ketika akhirnya pintu itu terayun terbuka dan Minhyuk menampakkan dirinya. Omelan sudah ada di ujung lidah Bora namun tertahan ketika ia melihat kondisi Minhyuk.
"Kau sakit?!" tanyanya setengah berteriak. Wajah Minhyuk yang biasanya merona merah, kini pias seperti layaknya orang sakit. Bibirnya tak lagi berwarna merah jambu seperti biasanya, tapi pucat dan terlihat kering. Area di bawah matanya terlihat menghitam seperti orang yang kurang tidur. Bora dengan segera meraba dahi Minhyuk--tidak panas--tapi kenapa Minhyuk terlihat seperti orang yang baru kembali dari neraka?
"Noona, tolong jangan berteriak, kepalaku sakit." Minhyuk, lelaki yang berusia empat tahun lebih muda darinya itu, mengeluh dan menyingkirkan tangan Bora yang masih menempel di keningnya.
"Ya, kamu sakit? Apa kita perlu menjadwal ulang pemotretannya?" Bora mengikuti Minhyuk yang berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ke lantai satu.
"Entahlah, tapi kurasa aku akan baik-baik saja." Minhyuk melangkahkan kakinya menuju ke dapur, ia membuka pintu kulkasnya, berniat untuk mengambil minuman ketika wajahnya semakin memucat. Ia menutup hidungnya dengan lengan tangannya yang berbalut sweater dan buru-buru menutup pintu kulkas. "Bau apa ini? Aish, pasti aku lupa membuang spageti kemarin malam."
Bora mendekat ke arah Minhyuk yang terlihat berusaha menahan rasa mual. "Apa kau masih muntah-muntah? Ya Lee Minhyuk, kau belum periksa ke dokter? Apa perlu aku menyeretmu ke rumah sakit?"
Minhyuk hanya mengedikkan bahunya. "Aku tidak apa-apa, hanya salah makan."
Bora menatapnya tak percaya. "Kau tidak mabuk-mabukan di belakangku, 'kan?"
"Noona!"
***
"Aigoo, kau tidak tidur berapa hari sih?" Soyou berkomentar ketika untuk kedua kalinya ia harus mengaplikasikan concealer di area bawah mata Minhyuk.
Minhyuk hanya meringis saja menanggapi ucapan Soyou. Soyou sudah bekerja di Space Ent., agensi tempat ia bernaung, sejak ia memulai karir modelling-nya secara profesional tiga tahun lalu. Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Minhyuk untuk menjalin hubungan pertemanan dengan Soyou maupun dengan staf yang lain, karena faktanya mereka yang bekerja di bawah agensi tersebut memang dekat satu sama lain. Hari ini, karena ini adalah pemotretan yang penting untuk salah satu brand kosmetik ternama dengan Minhyuk sebagai brand ambassador-nya, maka Soyou sebagai senior make-up artist sekaligus stylist coordinator, ditugaskan untuk membantu Minhyuk.
Biasanya Minhyuk akan senang ketika Soyou lah yang ditugaskan untuknya, namun kali ini, ketika perutnya masih mual dan kepalanya masih berdenyut sakit, rasa-rasanya ia ingin memilih orang lain yang tidak berisik untuk membantunya. Belum lagi ditambah Bora, belum apa-apa rasanya Minhyuk ingin pulang saja. Percayalah, Bora dan Soyou adalah kombinasi yang sangat tidak tepat ketika kau ingin ketenangan.
"Yah, kau betul akan baik-baik saja?" tanya Soyou kembali memastikan. Ada pancaran kekhawatiran di matanya, tangannya menggenggam tangan Minhyuk erat-erat. "Minhyuk-ah, kau benar-benar terlihat tidak sehat."
"Noona, aku baik-baik saja, hanya salah makan beberapa hari yang lalu. "
Minhyuk berbohong dengan mudahnya. Ia orang yang memperhatikan asupan makannya, ia sangat yakin ia tidak salah makan. Tapi ia tak ingin orang-orang di sekitarnya mengkhawatirkannya. Ia sendiri tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, beberapa hari ini setiap pagi ia akan terbangun karena rasa mual yang hebat, dan berakhir dengan muntah-muntah. Beberapa hari terakhir ini juga ia tak makan dengan benar karena bau makanan membuatnya mual, jadi ia hanya minum air putih dan jus buah. Belum lagi sakit kepala yang melandanya dengan tiba-tiba, yang terkadang hilang dengan cepat tapi lebih sering menderanya hingga berjam-jam.
Anehnya, gejala itu biasanya ia alami di pagi dan malam hari, sementara saat siang hari ia bisa beraktivitas dengan normal. Hanya saja, hari ini sepertinya ia sedang tak beruntung, sejak ia bangun tidur, rasa pening di kepalanya tak juga hilang.
"Aku akan menelepon Kihyun setelah ini, jangan khawatir," janji Minhyuk, yang membuat Soyou setidaknya mengangguk lega. Kihyun, saudara kembar Minhyuk itu, adalah seorang dokter residen di sebuah rumah sakit besar di kota ini. Setidaknya bila ia benar sedang sakit, Kihyun bisa merawatnya.
Tak lama setelah Soyou menyelesaikan make-up Minhyuk, pemotretan pun dimulai. Minhyuk, yang telah beberapa waktu menjalani perannya sebagai brand ambassador, melakukan dengan baik semua perintah fotografer. Minhyuk bersyukur setidaknya kali ini adalah pemotretan untuk produk skin care, jadi ia tinggal berpose mengikuti arahan fotografer tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, tidak seperti pemotretan untuk produk sepatu dua minggu lalu yang mengharuskannya untuk berlari beberapa kali demi mendapatkan gambar yang memuaskan. Meskipun begitu, entah mengapa pemotretan kali ini benar-benar menguras energinya. Ia tahu ia tak sarapan pagi tadi, menolak sarapan yang ditawarkan Bora lebih tepatnya karena mencium bau sandwich tuna sudah membuat perutnya berontak, jadi ia tak terlalu kaget ketika setelah dua jam sesi pemotretan berlalu, kepalanya mulai berkunang-kunang.
Minhyuk yang sedang berpose memegang botol skin care sambil duduk di atas kursi, berusaha untuk terus tersenyum meskipun hal yang paling ia inginkan saat ini adalah berbaring dan menyesali berbagai keputusan dalam hidupnya. Jaebum, sang fotografer, mengarahkannya untuk berpose untuk terakhir kali sebelum akhirnya mengakhiri sesi pemotretan itu.
"Minhyuk-ah, good job, kau mau melihat hasil foto-fotomu dulu?" tawar Jaebum yang sedang melihat hasil jepretannya di laptopnya.
Minhyuk mengangguk sambil berusaha tersenyum. Rasa pening di kepalanya semakin menjadi, tapi ia meyakinkan dirinya bahwa setelah ini ia bisa pulang dan beristirahat. Ia turun dari kursi kayu yang didudukinya dan berjalan menuju Jaebum dan beberapa asistennya, ketika tiba-tiba pandangannya menggelap dan hal terakhir yang ia dengar adalah teriakan beberapa orang memanggil namanya.
***
Kihyun menghela nafas panjang sambil mengganti baju operasinya. Menjadi dokter residen adalah hal paling melelahkan dalam hidupnya. Ia harus mengerjakan tesisnya sambil bertugas sebagai dokter jaga dan sesekali menjadi asisten saat operasi dadakan, seperti hari ini. Belum apa-apa, sehari ini ia harus masuk ruang operasi dua kali untuk membantu operasi darurat--satu pasien datang karena usus buntu yang pecah, dan satu pasien korban kecelakaan. Kihyun, yang hari ini kebagian bertugas di ER (Emergency Room), harus siap sedia ketika diminta untuk membantu di ruang operasi.
Selesai mencuci tangan dan mengganti bajunya dengan jas dokternya, ia menghidupkan kembali ponselnya. Setelah membantu di ruang operasi, biasanya dia akan dapat waktu istirahat sekitar satu jam sebelum harus kembali ke posnya, jadi ia masih punya waktu untuk mengecek media sosial, siapa tahu ada berita menarik. Sayangnya, begitu ponselnya menyala, beberapa pesan suara dan pesan singkat memenuhi notifikasinya. Semuanya dari Bora, manager saudaranya. Jantung Kihyun berdegup kencang, dengan terburu-buru ia membuka salah satu pesan dari Bora yang ternyata dikirimkan sekitar satu jam yang lalu.
"Kihyun-ah, Minhyuk pingsan, ia dibawa ke rumah sakit S."
"Kihyun-ah, kau dimana? Dokter sedang memeriksa Minhyuk, ia belum sadar sampai sekarang. Dokter bilang ia kelelahan, tapi kami masih menunggu hasil tes darah."
Kihyun tak berpikir dua kali ketika memencet tombol panggilan di ponselnya dan menelepon Bora. Minhyuk, saudara kembarnya yang bodoh itu, bukan sekali dua kali ini dia pingsan karena kelelahan, tapi tetap saja, Kihyun akan selalu mengkhawatirkannya.
"Halo, Noona, kau dimana? Bagaimana keadaan Minhyuk?" tanya Kihyun tak sabar ketika panggilan itu akhirnya diangkat.
"Kihyun-ah," jawab Bora dari seberang, suaranya terdengar lelah dan khawatir sekaligus. "Aku masih di rumah sakit, Minhyuk dipindahkan ke kamar rawat di lantai 3, aku sedang menunggu hasil tes darahnya. Kau dimana?"
"Maafkan aku, Noona, tadi aku ada operasi darurat. Aku akan menyusul ke lantai 3 sekarang juga."
Kihyun menutup panggilan teleponnya setelah mendapat konfirmasi dari Bora mengenai ruang rawat Minhyuk. Beruntung Minhyuk dibawa ke rumah sakit ini, tempat Kihyun bekerja, sehingga ia dengan mudah bisa menemuinya. Ia berjalan cepat menuju elevator yang akan membawanya ke lantai 3.
Kihyun menggigit bibirnya, khawatir tentu saja, tapi lebih dari itu, ia benar-benar kesal dan marah. Minhyuk sering mengabaikan kesehatannya demi pekerjaannya, tak jarang ia akan ambruk ketika tubuhnya sudah tidak mampu lagi bertahan. Kihyun tak henti-hentinya menceramahinya mengenai pentingnya ia menjaga kesehatan, tapi sepertinya hal itu tak digubris oleh Minhyuk. Benar-benar si Bodoh itu, rutuk Kihyun dalam hati sambil berjalan cepat melalui koridor lantai 3, awas saja kalau ia benar kena sakit parah, maka Kihyun sendiri yang akan membunuhnya.
"Kihyun-ah!" panggilan seseorang membuyarkan lamunannya. Kihyun berbalik badan dan menemukan Woozi, salah satu rekannya yang hari ini mendapat giliran yang sama untuk bertugas di ER, menghampirinya. "Oh, kupikir kau masih menemani Dokter Lee untuk operasi darurat."
"Ah, Woozi," Kihyun menghentikan langkahnya. "Tadi aku memang membantu Dokter Lee, tapi operasinya sudah selesai. Aku baru saja dikabari bahwa Minhyuk pingsan dan dirawat di sini, jadi aku ingin menemuinya."
Woozi tak terlihat terkejut, ia memeriksa kertas yang sedari tadi berada di tangannya. Ia teman Kihyun sejak dari universitas dan mengenal saudara kembar Kihyun dengan baik. "Aku yang menerima Lee Minhyuk dan melakukan pemeriksaan? Aku baru saja akan mengantarkan hasil tes darahnya."
Kihyun mengangguk kecil, ini sebuah kebetulan yang tak terduga, ia sedikit bersyukur setidaknya Minhyuk ditangani oleh orang yang mengenalnya. "Hasil tesnya sudah keluar? Bagaimana hasilnya? Apakah ia baik-baik saja?" tanyanya tak sabar.
Woozi terlihat menelan ludah, sambil mengecek kembali hasil tes di tangannya. Keningnya berkerut sebentar, sebelum ia bertanya pada Kihyun. "Dia baik-baik saja, hanya kelelahan, tapi... Kihyun-ah, apakah Minhyuk adalah seorang carrier?"
Jantung Kihyun rasanya berdegub dua kali lebih cepat, ia mengangguk dengan segera.
"Apakah pasangan saudaramu ada di sini? Aku harus menyampaikan kabar penting ini..."
Kihyun tak mengerti, Minhyuk tak punya pacar, pacarnya adalah pekerjaannya, dan apa pula hubungannya antara ia pingsan karena kelelahan dengan statusnya sebagai seorang carrier?
"Woozi-ya, aku tak mengerti..."
Kihyun melihat Woozi menghela nafas dan menjawab dengan suara datarnya. "Saudaramu positif hamil!"
"Apa?!"
***
