Actions

Work Header

Stuck With Me

Summary:

Berada di satu sekolah mulai dari dirinya di tingkat kanak-kanak sampai ke perkuliahan membuat Taeyong tanpa sadar jadi sedikit terlalu bergantung pada Jaehyun. Taeyong tak butuh banyak teman, karena ia tau ia punya Jaehyun yang akan selalu menjadi temannya. Taeyong tak takut ditinggal sendiri di rumah jika kedua orang tuanya harus pergi ke luar kota untuk bekerja, karena ia tau Jaehyun akan selalu siap menemaninya. Saat berada di tingkat SMA pun, dimana anak lain seumuran dirinya sedang gencar-gencarnya dengan hal yang berhubungan dengan asmara, Taeyong merasa sebaliknya, ia tak butuh sosok pacar, karena ia tau ia memiliki Jaehyun yang akan selalu memberikannya kasih sayang sebesar yang selalu orangtuanya beri padanya.

Setidaknya, Taeyong sempat berpikir Jaehyun pun memiliki pemikiran juga perasaan yang sama dengannya, sampai beberapa hari lalu, Jaehyun mengenalkan Taeyong kepada pacar pertamanya, Jungwoo.

Notes:

Hallo i'm July! Semoga suka sama cerita pertamaku di sini ya!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Taeyong sudah berteman dengan Jaehyun-nya sejak ia masih di taman kanak-kanak. Jaehyun si manusia mochi-nya, Taeyong selalu memanggilnya begitu.

“Aku Jaehyun!” tangan gembul itu terpampang menggantung di depannya. 

Taeyong memang tak terbiasa berinteraksi dengan orang di luar keluarganya, membuat Ibunya mengelus pelan puncak kepala Taeyong sembari tersenyum tak enak kepada satu keluarga yang kini masih berada di depan pintu rumahnya dengan membawa dua bingkisan makanan itu.

“Taeyong ayo, jabat tangan calon teman barumu itu. Maaf ya, Taeyong ini sedikit pemalu anaknya, soalnya emang jarang juga aku dan suamiku bawa keluar ketemu banyak orang.” Ibu Taeyong yang menjawab, membuat Taeyong mengerucutkan bibir mungilnya.

“Ayo sayang, kenalan dulu dengan Jaehyun.” kini Suho yang berbicara, papahnya Taeyong. 

Taeyong akhirnya maju selangkah dari pintu, mendekat ke arah Jaehyun juga kedua orangtuanya.

“Mochi. Pipi kamu kaya Mochi, boleh aku pegang ga?” respon Taeyong sepertinya sangat di luar dugaan Irene juga Suho, sepasang suami istri itu langsung merasa tidak enak dengan keluarga tetangga barunya karena kelakuan anak semata wayangnya.

“Haduh Taeyong sayang, bukan begitu cara yang baik untuk berkenal…”

“Boleh! Nih!!” ucapan Irene terpotong dengan Jaehyun yang kini sudah semakin melebarkan senyumnya dengan pipi mochinya yang dicondongkan pada Taeyong. Jaehyun justru terlihat senang dengan respon yang diberikan Taeyong.

Taeyong menipiskan bibirnya. Teman barunyan ini, lucu sekali ternyata!

“Tapi kita kenalan dulu ya? Baru aku kamu izinin mainin pipi aku!!” sahut Jaehyun lagi dengan mata yang sudah semakin menyipit karena tersenyum kian lebar, kembali mengulurkan tangan gembulnya yang langsung disambut oleh taeyong.

“Taeyong, aku Taeyong.”

Taeyong tertawa sendiri mengingat pertemuan pertamanya dengan Jaehyun. Berada di satu sekolah mulai dari dirinya di tingkat kanak-kanak sampai ke perkuliahan membuat Taeyong tanpa sadar jadi sedikit terlalu bergantung pada Jaehyun. Taeyong tak butuh banyak teman, karena ia tau ia punya Jaehyun yang akan selalu menjadi temannya. Taeyong tak takut ditinggal sendiri di rumah jika kedua orang tuanya harus pergi ke luar kota untuk bekerja, karena ia tau Jaehyun akan selalu siap menemaninya. Saat berada di tingkat SMA pun, dimana anak lain seumuran dirinya sedang gencar-gencarnya dengan hal yang berhubungan dengan asmara, Taeyong merasa sebaliknya, ia tak butuh sosok pacar, karena ia tau ia memiliki Jaehyun yang akan selalu memberikannya kasih sayang sebesar yang selalu orangtuanya beri padanya.

Setidaknya, Taeyong sempat berpikir Jaehyun pun memiliki pemikiran juga perasaan yang sama dengannya, sampai beberapa hari lalu, Jaehyun mengenalkan Taeyong kepada pacar pertamanya, Jungwoo.

Masih teringat jelas bagaimana senyum bahagia Jaehyun saat membawa Jungwoo kepadanya. “Taeyongie, kenalin, ini Jungwoo pacar aku” ucap Jaehyun dengan senyum bodohnya. Taeyong mengangguk singkat, membalas uluran tangan Jungwoo dengan senyum seadanya.

Taeyong, selalu bahagia jika melihat Jaehyun-nya bahagia. Senyum di pipi mochi itu adalah senyum kesukaan Taeyong, ngomong-ngomong. Dan mata yang menyipit setiap kali sedang memamerkan senyum bahagianya itu juga adalah mata kesukaan Taeyong. Taeyong ingin sekali ikut merasakan bahagia untuk Jaehyun, tapi rasa sesak di dadanya membuat Taeyong ingin sekali pulang ke rumah orangtuanya sekarang juga dan mengadu pada sang Ibu tentang perasaan sakit yang entah datang dari mana ini. 

Tapi itu jelas tidak mungkin. Pasti kedua orangtuanya akan langsung menanyakan pada Jaehyun apa yang terjadi pada Taeyong. Karena Taeyong maupun Jaehyun memang jarang pulang ke rumah masing-masing sejak mereka pindah ke apartemen Jaehyun yang kini memang diisinya berdua dengan Taeyong dari awal masuk perkuliahan. Dan ohh ngomong-ngomong, rumah kedua orangtua Jaehyun kini sudah pindah, menjadi agak lebih jauh, itulah mengapa mereka memberikan Jaehyun satu unit apartemen untuk ditinggalinya, bersama Taeyong.

Taeyong menghembuskan napasnya panjang, menyimpan buku yang sudah ia baca lebih dari satu minggu lalu pada meja di hadapannya. Sejak pertemuannya dengan Jungwoo, Taeyong sama sekali tak bisa fokus pada hal apapun yang ia kerjakan. Taeyong yang biasanya bisa menghabiskan satu buku hanya dalam satu minggu, kini membutuhkan hampir dua minggu untuk menyelesaikannya. Jaehyun. Jungwoo. Jaehyun, dan Jungwoo. Jaehyun dan Jungwoo? Taeyong benar-benar tak bisa menghilangkan mereka dari kepalanya.

Hari ini Sabtu malam, Malam minggu, lebih tepatnya. Taeyong biasanya akan menghabiskan malam Minggunya dengan Jaehyun. Menonton film kegemaran mereka dengan ditemani banyak sekali snack serta makanan manis kesukaan Taeyong. Sesekali, Jaehyun akan menggoda Taeyong dengan mengambil secara tiba-tiba snack yang sedang Taeyong makan, atau dengan tiba-tiba mematikan tv yang sedang memutar film, sampai menyolek wajah Taeyong menggunakan jari yang sama yang laki-laki mochi itu gunakan untuk makan snack. Taeyong benci kotor, dan Jaehyun jelas paham betul tentang itu. Dan mereka akan berakhiran dengan saling menggelitik atau melempar bantal dengan wajah Taeyong yang penuh merenggut sebal menatap Jaehyun yang dipenuhi dengan tawanya.

“Taeyooongggg aku pulang!” 

Ohh, itu suara Jaehyun. Bukannya, Jaehyun seharusnya menghabiskan malam minggu dengan Jungwoo, pacarnya? Kenapa ia malah ada di sini?

Taeyong mengerutkan dahinya, tapi tetap menghampiri Jaehyun seperti kebiasaan mereka selama ini. Mengambil tas olahraga Jaehyun yang berisi perlengkapan basketnya, menyimpan sepatu basket Jaehyun di rak sepatu lalu menuju keranjang baju kotor untuk menyimpan semua baju kotor Jaehyun sehabis basketan di sana.

Taeyong kembali ke ruang tengah dengan tangan yang terlipat di depan dada. Ia tau Jaehyun pasti ada di sana, sedang mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum pergi ke dapur untuk mengisi perut.

“Kenapa lagsung pulang? Ga pergi sama Jungwoo?” Taeyong duduk di sebelah Jaehyun, di ujung lain sofa di ruangan tersebut. Matanya mencoba fokus pada film yang kini sedang ada di depannya.

Taeyong bisa menangkap pergerakan Jaehyun yang kini menghadapkan tubuh kearahnya dari ujung matanya. 

“Terus ninggalin kamu sendiri? Mana bisa aku Yonggg.” Jaehyun merebahkan kepalanya di paha Taeyong. Taeyong tak berniat untuk bergerak atau berpindah tempat, hanya melirik singkat wajah Jaehyun yang kini sedang berada di bawahnya sebentar sebelum kembali mengarahkannya pada tv. Mata laki-laki berpipi mochi terpejam, tapi Taeyong tau jika Jaehyun tidak tidur.

“Jungwoo ga marah? Kamu malam libur gini ga pergi sama dia?” tanya Taeyong mencoba biasa saja. Jarinya terus mengganti cepat channel tv, sama sekali tidak ada film seru yang menarik perhatiannya saat ini. Jujur saja, Taeyong sangat menunggu jawaban apa yang akan Jaehyun berikan. Tapi dengan tidak adanya balasan apapun, Taeyong pun mencoba melirik kembali Jaehyun, yang ternyata, juga sedang menatap ke arahnya. 

Jaehyun bergerak bangkit dari posisinya lalu duduk di sebelah Taeyong. Ia ambil remot tv dari tangan Taeyong, membuat yang lebih kecil mengernyit tak suka menatapnya, “aku ga tau kamu lagi kenapa, tapi udahan ya keselnya? Kasian ini remotnya nanti rusak kalau kamu pencetnya sekuat tenaga gitu.” ucap Jaehyun pelan, sebelah tangannya bahkan sudah berada di puncak kepala Taeyong. Mengusapnya dengan sangat lembut di sana.

Taeyong mendecak kecil, tangannya bergerak sedikit kasar melepaskan tangan Jaehyun dari kepalanya. 

“Aku ga lagi kenapa-napa, jangan sok tau.” lalu Taeyong merebut paksa remot tv dari tangan Jaehyun. Mendapat tawa renyah dari si laki-laki berlesung pipit. 

Taeyong masih bersikap biasa saja ketika Jaehyun mendekat lalu mengusap pelan dahinya. Dengan jarak Jaehyun yang sedekat ini, jika Taeyong nekat melirik ke arah Jaehyun sedikit saja, ia yakin ia dapat dengan jelas melihat setiap detail yang ada di wajah lelaki itu. Tapi Taeyong memilih untuk tetap mengarahkan matanya ke arah tv di depan sana, ia sedang tak ingin membiarkan jantungnya berdegup dua kali lipat.

Taeyong sebenarnya memang sudah seringkali menatap Jaehyun dari jarak sedekat mungkin. Ia juga sudah dari lama menyadari bahwa ada yang berbeda dari reaksi tubuhnya jika sedang berdekatan dengan Jaehyun. Dan biasanya, Taeyong membiarkannya, menikmati setiap perasaan aneh yang ia rasakan karena teman dari kecilnya itu dan memakai dalih “sudah seperti saudara” kepada teman-teman mereka yang seringkali menggoda kedekatan antara keduanya. Tapi posisinya, kali ini berbeda. Jaehyun sudah memiliki Jungwoo. Dan mereka tak harusnya masih berinteraksi sedekat ini. Pikirnya. 

“Terus kalau ga kenapa-napa, alisnya kenapa dikerutin gini?” kedua mata Jaehyun masih fokus menatap Taeyong ketika Taeyong akhirnya menolehkan wajahnya, balik menatap Jaehyun. 

Taeyong mengatur napasnya perlahan. Ia tau ia akan sangat menyesali ini, tapi rasanya Taeyong benar-benar sudah tak tahan, lebih baik mengakhiri apapun yang ia rasakan ini dari awal daripada bertambah semakin besar nantinya.

“Je, let’s stop this . Kamu udah punya Jungwoo, kita ga seharusnya masih kaya gini dengan keadaan kamu yang udah punya pacar.”

Jaehyun menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Taeyong dalam diam. Matanya berkedip beberapa kali. Jaehyun- nya, sedang terkejut. Mungkin tak menyangka Taeyong akan mengatakan hal seperti ini.

“Aku ga tau kamu nyadar atau engga, but friends don’t do the thing like this Je. Kita harus agak jaga jarak mulai dari sekarang. Kamu udah punya Jungwoo, dia pacar kamu, hargain dia ya?” Aku juga ga mau aku makin suka ke kamu, Je.

Bahkan sebelum Jaehyun memberi respon, Taeyong kembali melanjutkan, sambil menarik kedua matanya kembali menatap tv.

“Aku mau pulang dulu ke rumah. Dosen aku yang hari Senin juga katanya ga masuk, jadi aku bakal di sana dua hari, sampai Senin malam.” ucap Taeyong dengan tak berani melirik Jaehyun. Ekspresi Jaehyun terakhir kali sebelum Taeyong memalingkan wajahnya tadi benar-benar di luar dugaannya. Jaehyun- nya , terlihat sendu. Matanya tak sebersinar seperti biasanya.

Jaehyun sama sekali tak merespon apapun, hanya berjalan pergi memasuki kamar meninggalkan Taeyong dalam bisunya. Taeyong kira Jaehyun marah. Satu butir air mata pun lolos dari matanya yang langsung ia usap dengan punggung tangan. 

Taeyong baru akan mengambil kunci mobilnya yang ia simpan di dalam kamar ketika mendapati Jaehyun yang sudah kembali berjalan ke arahnya dengan jaket coklat kesayang Taeyong dan totebag yang entah berisi apa di tangannya. Taeyong benar-benar tak berani mengatakan apapun saat Jaehyun memakaikannya jaket perlahan, ia takut tangisnya malah keluar dengan tiba-tiba seperti tadi.

“Aku anter ya, tapi kamu pakai dulu jaketnya, kamu naik mobil juga masih suka kedinginan. Nanti kita mampir dulu ke supermarket yang masih buka buat beli cemilan kamu selama di rumah. iPad kamu sama chargerannya udah aku masukin di totebag, kamu masih ada series yang belum kamu selesaiin kan.” ucap Jaehyun yang kini sudah berdiri berhadapan depan Taeyong. Kedua tangannya yang berada di bahu Taeyong mengusapnya begitu pelan di sana.

Tak mendapati jawaban atau sekedar anggukan dari Taeyong, Jaehyun menggerakan tangannya pada wajah yang lebih kecil yang kini masih menatap ke bawah, ibu jarinya mengusap lembut di tempat air mata Taeyong sempat turun dengan sendirinya tadi.

“Jangan dikeluarin lagi air matanya ya. Kasian mata cantiknya nanti jadi merah.” 

Taeyong akhirnya berani menatap Jaehyun. Sejujurnya, ia tak tau apa yang sedang laki-laki di hadapannya ini rasakan. Tapi yang Taeyong tangkap, Jaehyun sedang menatapnya dengan begitu dalam.

“Je kita gaseharusnya kaya gi...”

“Aku ga bisa. Aku ga bisa jaga jarak dari kamu. Tolong, tolong banget jangan suruh aku buat ngejauh dari kamu ya?”

Taeyong tak tau harus memberikan respon seperti apa. Ia mengambil totebag yang Jaehyun bawa dari kamar tadi lalu jalan begitu saja ke pintu depan yang langsung diikuti Jaehyun setelahnya. Ia tak mau berhadapan dengan Jaehyun lebih lama di situasi semacam ini. Bukannya Taeyong berniat mengacuhkan Jaehyun, bukan, ia hanya takut tambah tak bisa mengendalikan perasaan sukanya.

Perjalan hanya memakan lima belas menit sampai mereka tiba di depan gerbang rumah Taeyong. Taeyong tadi sampai menolak ajakan Jaehyun untuk mampir membeli camilan untuknya di rumah dengan alasan sudah mengantuk. Selama perjalanan pun hanya ada suara musik yang mengalun di udara, tak ada percakapan kecuali satu permintaan Taeyong yang lelaki berpipi mochi itu langsung tolak begitu saja.

“Di sini aja Je, biar kamunya ga kemaleman pulangnya, akunya juga mau langsung tidur.” yang padahal, ia sedang tak ingin melihat orangtuanya menanyakan ini itu pada Jaehyun. 

Jaehyun mengangguk sekali sebelum menyadari sesuatu, “Buku kamu ketinggalan ya? Aku tadi kalau ga salah liat ada di meja ruang tv, mau aku ambilin dulu sekarang? Biar kamu bisa lanjutin bacaan kamu.”

Jaehyun, selalu hapal kebiasaan Taeyong yang akan membaca buku di atas kasur di setiap malam liburnya sampai jatuh terlelap. Jaehyun-nya ini, memang selalu manis pada dirinya. Membuat Taeyong lagi-lagi merasa sedikit sesak. Jaehyun sudah punya pacar, Tae. Dan memberi jarak antara dirinya dengan Jaehyun mungkin adalah pilihan yang sangat tepat untuk saat ini. Setidaknya, sampai perasaan yang ia rasakan untuk Jaehyun sedikit memudar.

“Ga usah Je, makasih ya, aku turun dulu.” 

Gerakan Taeyong terhenti ketika Jaehyun menahan tangannya, “kamu ga ada yang mau ditanyain atau diomongin dulu ke aku?”

Taeyong menatap Jaehyun bingung, “tanya apa? Aku lagi ga ada yang mau ditanyain ke kamu Je.” 

Jaehyun menatapnya, menggeleng dengan terlihat muram meski dengan senyuman kecil di sana. Keadaan terasa begitu asing. Mereka terlihat begitu kaku. Taeyong tau, ini semua salahnya yang tidak bisa mengendalikan perasaannya. 

Taeyong pun keluar dari mobil, meninggalkan Jaehyun lalu masuk ke dalam rumah.

 

***

 

“Buku kamu ketinggalan ya? Aku tadi kalau ga salah liat ada di meja ruang tv, mau aku ambilin dulu sekarang? Biar kamu bisa lanjutin bacaan kamu.”

Mereka kini berada di depan gerbang rumah Taeyong. Taeyong sendiri yang meminta untuk tak usah diantar sampai ke dalam. 

Taeyong menggeleng sekali, “Ga usah Je, makasih ya, aku turun dulu.”

Dengan segera, Jaehyun menahan sebelah tangan Taeyong, membuat si mungil kembali duduk di tempatnya awal. 

Jaehyun tak tau akan sebosan apa apartemen jika tidak ada Taeyong-nya di sana. Biasanya, mereka akan mencari sarapan bersama di Minggu pagi, lalu melanjutkan dengan bersih-bersih apartemen sampai makan siang menjelang sore. Taeyong alergi debu, dan Jaehyun akan selalu mengingatkannya untuk memakai masker setiap kali akan melakukan bersih-bersih. Dan malamnya, mereka akan memesan delivery, dengan menu apapun yang sedang Taeyong inginkan. 

Taeyong-nya, memang suka sekali dengan makanan, terutama makanan manis. Pipinya yang menggelembung lucu karena terlalu penuh dengan makanan itu selalu membuat Jaehyun merasa gemas sendiri. Dan sebisa mungkin, Jaehyun tak akan melewatkan kesempatan melihat Taeyong- nya dengan makanan. Mulai dari sarapan, sampai makan siang di kampus pun, Jaehyun sebisa mungkin akan selalu mengajak Taeyong makan bersama. Jaehyun, selalu mendapat kesenangan tersendiri ketika melihat wajah Taeyong setiap kali disuguhkan makanan. Mata cantiknya yang membulat lucu dan bibir mungilnya yang tidak bisa untuk berhenti tersenyum, Jaehyun sangat menyukai itu.

Sebelum mereka tiba di depan gerbang rumah Taeyong ini, Taeyong sempat meminta untuk mereka mengganti panggilan terhadap satu sama lain. 

“Aku-kamu kedengeran terlalu berlebihan Je, aku ga enak kalau Jungwoo dengar.”

Yang tentu saja langsung ditolak dengan Jaehyun. Taeyong akan meninggalkannya selama dua hari dan sekarang Taeyong juga meminta untuk mengganti panggilan yang telah mereka gunakan selama ini? 

“Kamu ga ada yang mau ditanyain atau diomongin dulu ke aku?” itu suara Jaehyun. Sudah tiga hari sejak ia mengenalkan Jungwoo sebagai kekasihnya pada Taeyong, dan Taeyong benar-benar tak menampilkan respon seperti apa yang Jaehyun harapkan. 

Bukan Jaehyun memanfaatkan Jungwoo, sama sekali bukan. Saat Jungwoo menyatakan perasaannya pada Jaehyun, detik itu pula Jaehyun memberikan alasan kenapa ia tidak bisa menerima perasaan tersebut. 

“Gue suka Taeyong, sorry.”

Jaehyun kira Jungwoo akan marah, atau menangis karena sudah tertolak. Tapi lelaki jangkung itu justru malah tersenyum lebar sambil menepuk bahu Jaehyun, “woah?! Jadi kalian emang beneran sama-sama suka?”

Jaehyun sama sekali tak mengerti arti dari sama-sama suka yang dikatakan Jungwoo. Dan saat Jungwoo menawari ide konyolnya, berpura-pura menjadi pacar Jaehyun di depan Taeyong, Jaehyun menyetujuinya meski dengan ragu.

Jungwoo bilang, perhatikan setiap respon Taeyong. 

Dan apa? Yang Jaehyun dapat hanyalah kalimat seperti Ga enak kalau Jungwoo dengar. Hargain Jungwoo. Dia pacar kamu. Ck, Taeyong malah terdengar lebih memikirkan perasaan Jungwoo. Membuat Jaehyun sedikit jengkel sendiri.

Kejadian di apartemen tadi pun tidak membuat Jaehyun merasa lebih baik. Ia sangat terkejut mendengar permintaan Taeyong agar mereka menjaga jarak, dan alasannya adalah untuk menghargai perasaan Jungwoo sebagai kekasih (bohongan) Jaehyun.

Jaehyun ingin memiliki Taeyong seutuhnya. Meresmikan kedekatan lebih dari sekedar sahabat. Tapi Taeyong selalu memberikan mixed signal padanya. Setiap Jaehyun tanya kapan Taeyong akan memulai pacaran, lelaki mungil itu selalu menjawab belum terpikirkan. Setiap kali teman-teman mereka menggoda kedekatan antara Taeyong dengan dirinya, Taeyong selalu akan menjawab dengan “Jaehyun udah kaya saudara gue.”

“Tanya apa? Aku lagi ga ada yang mau ditanyain ke kamu Je.” Taeyong pun membalasnya dengan sedikit keheranan, terlihat jelas dari tatapan si lelaki cantik itu pada Jaehyun.

Jaehyun menatap Taeyong dalam diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum menampilkan kedua lesungnya sambil menggeleng.

Ia tak ingin memaksa yang memang tidak Taeyong rasakan.  

 

***

 

Rencana awalnya, Taeyong baru akan pulang Senin malam nanti. Tapi ia sudah tak tahan ingin melihat Jaehyun-nya. 

Taeyong tak bercerita apapun pada Ibu atau papahnya. Tapi ia jelas terkejut saat Ibu serta Papahnya bilang bahwa Jaehyun menghubungi mereka tadi pagi-pagi sekali.

“Dia bilang apa mah?” tanya Taeyong penasaran, tentu saja.

Irene mengangkat singkat kedua bahunya dengan tangan yang sibuk menyiapkan sarapan, seperti tak berniat memberi tau anaknya itu.

“Mamah cuma minta kamu buat selalu jujur tentang apapun itu ke Jaehyun ya sayang. Apapun yang Taeyong rasain, bilang ke dia. Apa ga sayang, kalau Taeyong kehilangan orang yang sayang banget ke Taeyong kedua setelah mamah dan papah?”

“Tapi Jaehyun ga sesayang itu ke Taeyong, mah. Dia udah punya pacar.” suara Taeyong yang memelan di akhir tertangkap oleh Suho. Lelaki paruh baya yang dari tadi sedang membaca koran sambil menunggu Irene menyiapkan sarapan itu sebenarnya ikut mendengarkan percakapan anak dan istrinya dari tadi.

“Kalau kamunya sendiri, ke Jaehyunnya bagaimana nak?” akhirnya Suho melipat korannya, memberikan atensi penuhnya pada sang anak. Taeyong menunduk. Tak berani menjawab.

Usapan lembut di bahunya Taeyong rasakan, membuat Taeyong akhirnya kembali mengangkat kepala menatap Irene yang kini sudah duduk di sebrangnya dan Suho yang tadi mengusap bahunya di kursi utama meja makan. 

“Jaehyun tau, kamu suka sama dia?” Suho bertanya lagi. Taeyong menggeleng.

“Biar papah tebak, pasti kamu juga belum berani bilang ke dia?” kali ini akhirnya Taeyong mengangguk, mengundang senyum prihatin dari Irene sang Ibu.

“Bilang ya sayang? Seengganya biar Taeyongnya bisa lega, biar Jaehyunnya juga mengerti kenapa Taeyong bersikap menjaga jarak seperti ini. Jangan tanya gimana papah bisa tau, Jaehyun sendiri yang tadi pagi juga menghubungi papah. Dia bilang untuk mengecek keadaan kamu karena katanya kamu tidak terlihat baik-baik saja tadi malam. Jaehyun juga meminta maaf ke papah karena dia sudah membuat anak papah menangis dan terlihat sedih,” Suho berucap lembut, kembali mengusap sayang bahu Taeyong sebelum melanjutkan.

“Itu Jaehyun, lagi sama-sama bingung dan ragu seperti kamu, sayang. Jaehyun sayang ke kamu nak, tapi dia juga bilang dia ragu untuk mengungkapkan langsung ke kamu karena dia sendiri tidak tau perasaan yang kamu punya untuk dia itu seperti apa. Jaehyun bilang dia tidak mau memberi resiko di persahabatn kalian jika ia salah menerka perasaan yang kamu punya untuknya.”

Taeyong sudah tak bisa menahan tangisnya. Ia pun menumpahkan semuanya di depan kedua orangtuanya. Membuat Irene langsung bergegas menghampiri dan memberikan pelukan menenangkan.

“Dan tadi juga Jaehyun meminta maaf karena telah berbohong ke kamu. Jungwoo itu, bukan pacarnya Jaehyun nak. Jaehyun sengaja berpura-pura depan kamu seperti itu karena ia ingin melihat reaksi kamu.” sambung suho lagi sedikit bergeleng melihat kisah anaknya dengan Jaehyun itu.

“Taeyong? Lo kenapa deh senyum senyum sendiri gitu? Serem banget gue liatnya.”

Taeyong langsung mengerjapkan cepat kedua matanya, terkekeh kecil sebentar menatap Johnny yang sedang menyetir, “hm? Engga Jo, gue kayanya agak kurang enak badan deh, kalau kita kerja kelompoknya jadi besok aja gimana? Besok kelas kita juga kosong kan ga masuk dosennya.”

Taeyong dapat menangkap Johnny yang sempat melirik ke arahnya beberapa kali sebelum terdengar helaan napas berat dari pria berdarah campuran Amerika itu. Taeyong tadi malam memang mengiyakan ajakan Johnny untuk kerja kelompok di kafe dekat kampus, dan hari ini Johnny menjemputnya jam 10, tepat setelah Taeyong sarapan serta sesi menangisnya di depan orangtuanya tadi.

“Taeyong, lo tau kan ajakan gue hari ini bukan cuma sekedar buat ngeberesin tugas kelompok kita? Lo tau kan gue udah dari lama suka sama lo?”

Taeyong mengangguk. Taeyong tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa Johnny memiliki perasaan lebih terhadapnya. Johnny bukan orang yang pintar menutupi, bahkan, hanya dari tatapannya pada Taeyong saja semua orang mungkin sudah dapat melihat bagaimana kagumnya lelaki darah campuran itu pada Taeyong. Belum lagi berada di jurusan juga kelas yang sama dengan Johnny membuat hal tersebut tambah jelas, bagaimana Johnny selalu berinisiatif berada di satu kelompok dengan Taeyong dan selalu mengajaknya makan bersama setelah jam kuliah selesai, yang tentunya, selalu Taeyong tolak karena ia akan selalu makan bersama Jaehyun-nya. 

“Maaf ya Jo, gue ga bisa bales perasaan lo.”

Mereka kini sedang berada di lampu merah. Johnny menghadapkan utuh tubuhnya pada Taeyong. Matanya yang terlihat begitu terluka itu membalas tatapan Taeyong.

“Jaehyun ya? Jaehyun ya, orang yang beruntung itu?”

Taeyong mengagguk walau masih dengan perasaan tak enaknya pada Johnny. Johnny adalah sosok teman yang baik bagi Taeyong. Johnny selalu penuh dengan senyum dan canda, selalu membuat siapa saja di sekitarnya tertawa tanpa henti. 

Dan melihat bagaimana keadaan Johnny saat ini, Taeyong benar-benar merasa bersalah. Sebisa mungkin, ia tak ingin putus berteman dengan Johnny setelah hal ini.

“Tapi kita masih bisa main bareng ko Jo, nanti kita juga bisa makan siang bareng…” Taeyong menggaruk tengkuknya, “sama Jaehyun juga tapi, gapapa kan? Ada Jaehyun?” sambungnya dengan suara pelan. Oh Taeyong hampir lupa bagaimana Jaehyun yang tak akan membiarkan Taeyong melewatkan barang satu kali pun jam makan tanpanya.

Johnny tersenyum, mengangguk kecil sambil mengusap beberapa kali kepala Taeyong sebelum kembali fokus mengemudi.

“Maaf ya Jo.” ucap Taeyong lagi, dengan tanpa sadar sudah menundukan kepalanya dengan kedua tangan yang saling tertaut di pangkuannya sendiri.

“Iya taeyong. Asal lo nya janji bakal selalu bahagia sama Jaehyun, gue fine ko. Ga usah ngerasa ga enak ya, gue beneran baik-baik aja. Gue juga ga akan ngejauh atau berhenti jadi temen lo, jangan khawatir ya.” Johnny melepas tautan tangan Taeyong yang saling meremas itu dengan sebelah tangannya yang bebas dari kemudi, lalu mengangkat dagu Taeyong mengarahkan pandangannya ke depan.

“Jangan ditundukin gitu dong mukanya, mending ini sekarang kasih tau gue lo mau dianter pulang ke rumah atau ke apart? Jaehyun ada di apart kan pasti?”

Taeyong mengangguk saja. Terlalu malu untuk mengeluarkan suara dan menjawab pertanyaan yang membawa-bawa nama Jaehyun itu.

“Oke gue anter ke apart aja ya.”



***

 

“Pacarnya kemana dek? Biasanya berdua terus sama si cantik”

Jaehyun meringis kecil mendengarnya. Biasanya, setiap Minggu pagi, ia memang selalu sarapan di sini bersama Taeyong-nya, tak heran mengapa sampai penjual buburnya pun sudah hapal dengan mereka berdua.

“Lagi pulang ke rumahnya dia.” jawab Jaehyun saja seadanya setelah mencoba terkekeh pelan. Pacarnya, katanya? Lucu sekali ya, kalau dipikir-pikir, bagaimana orang diluar sana selalu mengira ia dan Taeyong-nya adalah sepasang kekasih, di saat Jaehyun sendiri tidak yakin kalau Taeyong memiliki perasaan yang sama dengannya. 

“Walah walah, semoga lagi ga ribut-ribut ya dek. Bapak senang ngeliat kalian berdua, cocok sekali. Kalau sudah ke jenjang yang lebih serius nanti, jangan lupa mampir sarapan ke sini ya, nanti bapak kasih gratis di satu hari kalian setelah menikah.”

Menikah, ya? Dengan Taeyong-nya? Jaehyun mengulum senyumnya.

“Doain aja ya pak, yang terbaik buat saya dan dia.”

Bapak penjual bubur tersebut mengangguk mantap, mengundang tawa kecil dari Jaehyun. 

Jaehyun memang tak pernah membantah atau mengelak jika ada yang mengiranya berpacaran dengan Taeyong. Toh, Jaehyun memang menginginkan itu agar menjadi nyata.

Setelah menghabiskan buburnya, Jaehyun sempat mampir ke supermarket sebelum pulang ke apartemen. Dan oh, betapa terkejutnya ia melihat Taeyong-nya, sedang dipeluk laki-lain, tepat di depan unit apartemen mereka.

“Taeyong?”

 

***

 

“Taeyong?” 

Taeyong langsung melepaskan pelukannya dari Johnny. Johnny tadi memang memaksa untuk mengantar Taeyong sampai ke depan unitnya, dan Taeyong mengalah saja membiarkan Johnny mengikutinya.

“Gue, boleh peluk lo ga? Buat tanda perpisahan aja sih, tapi tenang gue ga akan ngejauh atau kemana-mana. Perpisahan maksudnya gue mau coba move on aja gitu dar..” 

Taeyong langsung membawa Johnny masuk ke dalan dekapannya, sambil tak lupa berucap maaf dan terimakasih beberapa kali.

“Je? Kamu dari mana?” Taeyong bertanya dengan masih keterkejutan di wajahnya.

“Sarapan, bubur yang biasa sama kamu. Terus aku inget snack kamu and stok susu strawberry di kulkas udah hampir abis, jadi aku mampir ke supermarket dulu buat beli.” Jaehyun mengangkat dua kantung penuh makanan di kedua tangannya, “aku masuk duluan ya, kayanya juga kamu lagi sibuk.”

“Engga ko, ga sibuk dia, gue juga ini udah mau pulang. Gue Johnny, by the way ,” Johnny mengulurkan tangannya, yang sayangnya tak bisa Jaehyun sambut, “ sorry , tangan gue lagi bawa ini. Gue Jaehyun, Jung Jaehyun.”

Taeyong jelas dapat merasakan ada yang tak beres dengan atmosfer di sekitar mereka detik ini. Ia dengan cepat mengklik password untuk membantu Jaehyun masuk ke dalam unit lalu meski dengan tak enak memberikan kode pada Johnny melalui matanya untuk segera pergi dari sini.

“Gue balik dulu ya. Jaehyun, salam kenal,” pamit Johnny, yang Jaehyun hanya balas dengan anggukan sopan.

And Taeyong, jangan lupa janji makan siang barengnya!”

Ohh Johnny. Taeyong jadi berkeringat dingin sendiri sambil melirik pada Jaehyun.

 

***

 

“Sebegitu senengnya ya kamu abis pelukan sama Johnny Johnny itu?” Jaehyun bertanya tanpa menoleh sedikit pun pada Taeyong, masih sibuk menyimpan belanjaan yang ia beli tadi pada masing-masing tempatnya.

“Kamu ganteng kalau lagi cemburu gini.” jawaban Taeyong membuat Jaehyun menaikan satu alisnya. Lelaki berdimple itu lalu meninggalkan yang sedang ia kerjakan tadi, mendekat ke arah Taeyong yang sedang terduduk di kursi meja makan sambil memperhatikannya.

“Coba ulang.”

“Kamu tambah ganteng kalau lagi cemburu.” Taeyong tersenyum lebar. Tak peduli jika sikapnya terlihat bodoh atau menggelikan, yang terpenting, ia tau bahwa Jaehun-nya juga ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya selama ini. 

Jaehyun sudah berdiri di hadapannya masih dengan sebelah alis yang terangkat. Jaehyun menatap heran ke arahnya.

“Aku suka kamu. Kamu juga suka aku kan Je? Kita pacaran aja gimana?” tanya Taeyong masih dengan senyum lebar bodohnya.

“Papah sama Mamah kamu udah bilang ya ke kamu?”

Taeyong mengangguk-ngangguk lucu. Tentu saja masih dengan senyuman di wajah cantiknya.

“Papah juga bilang kamu katanya bohongin aku! Jahat banget kamu! Gatau aja aku sampai kepikiran banget setelah kamu ngenalin pacar bohongan kamu ke aku itu. Aku kaya mau nangis terus bawaannya tapi ga berani bilang ke siapa-siapa. Aku juga sempet mau coba lupain perasaan aku ke kamu tapi kamunya masih terus sebaik itu ke aku Je gimana akunya ga kesiksa,” Taeyong sekarang memberengut lucu, “aku tuh, udah suka ke kamu dari lamaaaaaa, tapi ga berani bilang soalnya aku takut kamu jauhin aku kalau tau aku suka ke kamu. Terus ditambah kamu yang ngenalin Jungwoo, aku pikir aku emang harus lupain kamu and pilihan aku buat jaga jarak ke kamu itu udah paling tepat.”

“Tapi aku ga bisa buat ga sedih, terus akhirnya aku nangis sejadi-jadinya waktu papah sama mamah nasihatin aku buat jujur aja ke kamu. Kamu beneran ga pacaran sama Jungwoo kan?”

Jaehyun maju selangkah, membungkukan sedikit tubuhnya, mengukung Taeyong di antara masing-masing tangannya. Jaehyun menelusuri wajah Taeyong. Masih selalu terheran sendiri karena ada lelaki yang secantik Taeyong-nya ini. 

Ia kecup singkat ujung hidung Taeyong gemas, “Jungwoo emang sempet nyatain perasannya ke aku, tapi langsung aku tolak, aku bilang ke dia kalau aku sukanya cuma ke kamu. Terus dia nawarin diri untuk bantu aku, nawarin jadi pacar pura-pura aku, katanya aku tinggal liat reaksi kamu, kamu cemburu atau engga. Kamu boleh tanya Jungwoonya langsung ko sayang, dia juga sekarang udah suka lagi ke orang lain, temen sekelasnya katanya.”

Taeyong tiba-tiba memelototkan matanya. Wajah Taeyong yang entah mengapa jadi memerah pun membuat Jaehyun terkejut sendiri sampai harus kembali menegankan tubuhnya sedikit menjauh dari Taeyong.

“Kamu panggil aku apa tadi?” tanya Taeyong. Kedua tangannya kini berada membungkus masing-masing pipi cantiknya itu.

Oh , Taeyong-nya sedang blushing . Lucu sekali. Jaehyun tersenyum gemas sendiri melihatnya.

“Kenapa? Kita udah jadi sepasang kekasih kan? Jadi wajar dong aku manggil kamu sayang?” Jaehyun sengaja menggodanya. Setelah kembali mendekatkan tubuhnya pada Taeyong, Jaehyun kembali tatap wajah cantik itu dalam diam.

Dengan pipi yang memerah, mata yang terus berkedip gugup, bibir mungilnya yang sedikit menge- pout , Taeyong-nya ini, cantik sekali.

Ia lalu benarkan poni Taeyong yang mungkin jika sedikit memanjang lagi akan mengenai mata lelaki cantik itu, ia gerakan terus jarinya menyentuh semua yang ada pada wajah Taeyong.

“Kamu bilang kamu suka aku. Kamu juga udah ngajak aku pacaran. Jadi artinya, kamu ga bisa kemana-mana lagi. Ga boleh kemana-mana. You’re stuck with me, Taeyong, for a very long time.” 

Jaehyun kecup bibir lelaki kesayangannya itu, “Sama aku terus. Harus sama aku terus ya.”

Jaehyun membawanya dalam dekapan hangat, sambil terus mengusap penuh sayang rambut Taeyong. Taeyong pun membalas dekapan Jaehyun dengan senyum bahagianya.

 

End. 

 

Notes:

You can also find me on twt with the same username! @/wrxiting