Actions

Work Header

Golden Hour

Summary:

Kesalahan terbesarmu adalah jatuh cinta kepada tuanmu, Zenin Naoya.

Awalnya, segalanya tampak indah, menyenangkan, dan menggelitik. Namun saat Naoya dijodohkan dengan gadis cantik lain dan ia memilihnya, segalanya berbalik untukmu. Berhubungan Naoya tidak indah, menyenangkan, dan menggelitik lagi bagimu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Chapter 1

Chapter Text

“Naoya-sama akan dijodohkan dengan seorang wanita dari klan lain.”

Iris cokelatnya berpadu dengan iris cokelatmu, senyumnya terukir setelahnya hingga kemudian ia kembali menggoda payudaramu, menjilat dan menggigit putingmu sementara di putingmu yang lain ia membiarkan jarinya memilinnya.

Atas godaannya, kamu mengerang, ... meskipun tampaknya perasaanmu tengah terputar, berlari tanpa arah, kacau, tak beraturan.

“Naoya-sama.”

Tubuhnya menegak bersamaan dengan senyumannya yang indah bersemi.

Naoya-mu terlihat sangat tampan.

“Kamu ....”

Wajahnya melaju mendekatimu, menyusuri setiap inci dari bagian tubuhmu, perutmu, payudaramu, leher, sampai pada akhirnya di lekukan lehermu, pergerakannya terhenti. Seperti biasanya, lalu hembusan nafas hangatnya menerpa bagian kulit lehermu.

Bagi Naoya, aromamu memabukkan. Tidak seperti sake yang biasa ia minum, ini lebih seperti bau manisnya madu, baunya yang manis, lembut, dan menurutnya sangat memabukkan.

Wajahnya melaju mendekatimu, menyusuri setiap inci dari bagian tubuhmu, perutmu, payudaramu, leher, sampai pada akhirnya di lekukan lehermu, pergerakannya terhenti. Seperti biasanya, lalu hembusan nafas hangatnya menerpa bagian kulit lehermu.

Bagi Naoya, aromamu memabukkan. Tidak seperti sake yang biasa ia minum, ini lebih seperti bau manisnya madu, baunya yang manis, lembut, dan menurutnya sangat memabukkan.

Ya, ya, Naoya sangat menyukainya.

“Sempurna. Kamu mengerti bagaimana seharusnya seorang wanita bersikap, wanita yang hanya melayani lelakinya, wanita yang patuh, wanita yang tidak banyak berbicara atau mengeluh, wanita yang hanya berbicara ketika diminta dan ketika bercinta.”

“Dan kamu lugu,” Naoya kembali melanjutkan, “satu hal yang membuatku sangat menyukaimu.”

Pujian pujiannya membuat sesuatu di dalam dirimu tumbuh, membuat jutaan kupu kupu berterbangan, yang memaksa untuk keluar.

Tubuhmu bergerak kecil.

Ini bukan pertama kalinya Naoya memujimu, beberapa kali ia pernah mengungkapkan pujian itu kepadamu ketika ia sedang baik baik saja. Ia memujamu, memujimu betapa patuhnya kamu dan betapa nikmatnya kamu baginya.

Naoya, tuanmu yang telah membuatmu jatuh hati kepadanya.

Tangan kanannya tergerak menggenggam tangan kirimu, dengan perlahan ia mengarahkan penisnya pada vaginamu. Sedikit godaan diberikan pada klitorismu, memberikan sensasi menggelitik yang membuatmu mengerang.

Seringaiannya terbit.

Perlahan lahan Naoya mendorong penisnya masuk ke dalam dirimu, meski ini sudah dilakukan berkali kali denganmu, tapi rasanya tetap penuh setiap kali penisnya mendorong, sesak.

Nafas berhembus pelan, lalu kamu mulai mengeratkan genggamanmu pada tangan Naoya, seolah kamu dapat membagi rasa yang kamu alami pada Naoya.

Naoya mendorong lebih keras, seperti kesabarannya yang mulai menipis, Naoya mulai memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginamu.

“Na-Naoya-sama.”

Kamu bernafas lega saat ia menarik pinggulnya, memberikan kekosongan mendadak sebelum akhirnya ia mendorong pinggulnya dengan keras.

Pekikan keras terdengar dari mulutmu.

“Naoya-sama, tolong, perlahan.”

Setelah penisnya memasukimu, apapun yang terjadi,

sepertinya telah dilupakan oleh Naoya. Seperti biasanya. Bagaimana perilakunya yang lembut saat fore play atau saat memujimu seperti tadi, semuanya akan berbanding terbalik saat seluruh penisnya masuk ke dalam dirimu.

Tarikan dan dorongan pada pinggulnya, mengirimkan sesuatu pada bagian bawahmu, membuatmu mengerang ketika penisnya mengenai beberapa titik yang membuatmu merasa lebih baik.

Tangan yang menggenggammu kini beralih untuk menggenggam kedua sisi pinggulmu, untuk bisa digunakannya semakin mendorong ke dalam dirimu.

Karena dorongan Naoya yang berlebihan, membuat kedua tanganmu tergerak untuk mencengkram seprai, agar tubuhmu tidak sampai bergerak ke belakang.

“Jalang.”

Lalu tamparan dikirimkannya pada klitorismu. Kamu memejamkan mata dan memekik atas tamparannya yang dikirim secara tiba tiba, rasa menggelitik menjalar ke seluruh tubuhmu, membuatmu sedikit gemetar setelahnya.

Seolah tidak cukup dengan gempuran yang dilakukannya pada bagian bawahmu, kini wajahnya kembali turun untuk melumat puncak payudaramu.

Terlalu berlebih.

Kamu mengerang atas hal hal yang dilakukan Naoya kepadamu.

Ya, ya, Naoya memilikimu. Miliknya didorong dan ditarik ke dalam dirimu berkali kali, membuat nafas pendekmu perlahan berpadu dengan suara desahan yang terdengar merdu di telinga Naoya. Naoya terus mengulum puncak payudaramu dikala kamu sedang mendesah, bersamaan dengan itu pun ia memejamkan mata, menikmati indahnya yang menyangkut segala hal tentang dirimu.

Desahanmu, aromamu, dan lekukan lekukan tubuhmu.

Apakah ada yang salah dari mencintai tuanmu sendiri?

Kamu bertanya tanya saat melihat pertemuan antara calon istri Naoya dengan Naoya di kediaman Zenin. Begitu menakjubkannya mereka, calon istri Naoya yang menurutmu sangat cantik, seperti seorang dewi yang menyamar menjadi seorang manusia, lalu Naoya yang begitu tampan. Begitu serasinya mereka, berjalan bersama di perkebunan Zenin dengan tatapan dan senyuman yang tak kunjung luput dari perhatian mereka. Begitu sempurnanya mereka untuk bersanding.

Tangan kananmu tergerak ke arah dadamu, kamu memalingkan muka lalu berlari kecil untuk pergi dari persembunyianmu. Kakimu membawamu melangkah kemana pun, kemana pun itu selama kamu tidak melihat Naoya bersama dengan calon istrinya.

Mengapa dadamu terasa sesak?

“Jalang kotor, lihat aku.” Tamparan mendarat pada kedua pantatmu, yang tak lama setelah itu juga tamparan datang pada klitorismu, membuatmu mengerang. “Apakah kamu sedang membayangkan lelaki lain selain diriku?”

Tamparan dilayangkannya lagi pada pantatmu.

“Naoya-sama, saya tidak—”

Kamu tidak sanggup melanjutkan jawabanmu karena dorongan yang terus diberikan Naoya, kamu hanya bisa mendesah, meracau, dan meminta Naoya untuk tidak menghentikan semua ini.

Kamu semakin dekat.

“Tidak apa?”

Lalu pinggulnya ia tarik, penisnya dibiarkan keluar dari vaginamu. Sensasi kosong menjalar pada dinding dinding vaginamu, kamu begitu dekat dengan pelepasanmu tapi Naoya menarik penisnya keluar darimu.

“Naoya-sama.”

Kamu berusaha menyatukan kembali dirimu dengannya, namun dengan cepat Naoya menghentikanmu, ia memegang kedua pinggulmu. Tatapan sinis dan seringaian yang mengejeknya kini menghiasi wajahnya.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

Matamu mulai berkaca kaca, “saya hanya memikirkanmu, Naoya-sama. Saya tidak memikirkan lelaki lain.”

Setelahnya, kamu mengira bahwa Naoya akan memasukkan penisnya kembali, namun beberapa detik kemudian ia tak kunjung melanjutkan kembali denganmu, ia hanya menyeringai sembari mengangkat sebelah alisnya.

Bahkan harga dirimu jatuh berkeping keping.

“Tolong ....”

Ia tertawa sedikit, “ya? Tolong kenapa, sayang?”

“Tolong bercinta dengan saya kembali, tolong Naoya-sama, saya hampir dekat.” Katamu dengan kepala sedikit tertunduk, malu untuk menatapnya sementara harga dirimu sudah jatuh.

“Oh, gadis yang baik.” Ia mengusap rambut dan wajahmu dengan lembut sembari mendorong dirinya kembali ke dalam dirimu. “Kamu mengerti bagaimana menyenangkanku.”

Dorongan dan tarikannya bertempo cepat, meski ia baru saja memasukkan kembali ke dalam dirimu.

Kamu mengerang dan bertindak selayaknya seorang jalang, mencoba memuaskan tuanmu, seperti yang biasa kamu lakukan. Getaran dan sensasi menggelitik datang tak lama setelahnya, Naoya mendorong sementara kamu terus mengerang karena kamu mencapai puncaknya.

Dan cairan putih pun mengalir setelah kamu mengerang.

Berhari hari dadamu terasa sesak, nafas yang kamu raup rasanya tak mampu mengirimkan cukup oksigen pada paru parumu. Ada kalanya ketika kamu meratap di malam hari, melihat ke arah bulan dan bintang yang bertebaran di langit, yang secara tanpa sadar telah membawamu pada suasana yang memekik dan menyakitkan. Memberikan perasaan yang hebat hingga akhirnya kamu menangis tanpa sadar.

Hari berganti menjadi minggu. Kamu secara teratur tetap memuaskan hasrat Naoya, menjadi penghangat ranjangnya meskipun jauh dari dalam lubuk hatimu kamu merasakan kepedihan. Semua pikiran burukmu kamu hindarkan jauh jauh dari pikiranmu, kamu berusaha melupakan apa yang terjadi di saat kamu melayani Naoya. Hingga yang bisa kamu pikirkan adalah bagaimana baiknya Naoya memperlakukanmu, bagaimana Naoya membawamu pada kenikmatan yang tidak pernah kamu raih.

Namun meskipun begitu, sebagian besar waktumu, kamu habiskan dengan bekerja

dan terkadang kamu habiskan dengan termenung.

“Aku akan menikah bulan depan dengan tunanganku.”

“Begitu?” Kamu menatap iris cokelatnya dengan lekat. “Saya senang mendengarnya, tuan.”

Meskipun itu hanyalah kebohongan yang kamu ucap.

Setelah kamu cumming dan dorongannya yang semakin keras bahkan berkali kali ujung penisnya mengenai serviksmu, akhirnya cairan hangat mulai memenuhi lubang di bawahmu, Naoya menyemburkan benihnya kepadamu.

Naoya menghembuskan nafas lalu ia menurunkan wajahnya untuk mencium matamu, pipimu, serta lekukan di lehermu.

Kamu seorang anak dari pelayan yang membantu ibumu bekerja di kediaman Zenin saat kamu mulai beranjak remaja. Kamu membantu banyak ibumu, kamu menjadi anak baik yang rajin dan cekatan hingga kamu disenangi oleh anak perempuan kembar Zenin, Maki dan Mai.

Tanpa ragu ragu mereka mengajakmu bermain, mengajakmu untuk belajar, mengajakmu untuk diam diam pergi pada festival musim panas dengan menggunakan yukata, banyak hal yang dihabiskan dan setidaknya semua itu tidak luput dari mata tajam sepupu lelaki Maki dan Mai, Naoya. Pertemanan yang terjadi di antaramu dengan Maki dan Mai telah mengundang perhatian dari Zenin Naoya.

Saat kamu menginjak usia 18 tahun, saat Maki dan Mai pergi menuju universitas sementara kamu masih berada dalam kediaman Zenin untuk mengerjakan pekerjaanmu, pada suatu hari, secara tiba tiba kepala rumah tangga Zenin, Naobito memanggilmu dan memintamu untuk menjadi pelayan pribadi dari Naoya.

Dan itu adalah awal bagaimana kamu akhirnya jatuh hati pada tuanmu.

Pelukan Naoya pada tubuh polosmu mengerat.

Seperti biasanya, setelah berhubungan Naoya akan memeluk tubuhmu. Membawamu dekat hingga tak ada jarak yang akan memisahkan tubuhmu dengan tubuhnya. Saat saat seperti ini, saat saat yang biasanya akan Naoya lakukan untuk menghirup aromamu, dari puncak kepalamu, rambutmu, lekukan lehermu, hingga bahumu, saat saat Naoya akan banyak memujimu dan berbicara denganmu.

“Naoya-sama.”

“Hm?” Hembusan hangat menerpa rambut panjangmu.

“Bo-bolehkah saya bertanya?”

Hening sejenak sebelum suara itu terdengar oleh telingamu, “ada apa?”

Pandanganmu turun untuk melihat tanganmu yang gemetar, berkali kali kamu meyakinkan diri, tapi pada saat waktunya, kamu tetap saja merasakan keraguan untuk mengatakannya.

“Kenapa, hm?” Tangan kanannya terangkat untuk merapikan helai helai rambutmu.

Terima, terima apapun jawaban yang akan dia ucapkan.

“Naoya-sama,”

Ini akan menyakitkan bagimu, tapi bagaimana rasa penasaran itu selalu menggerogoti dirimu memaksamu untuk menerima segala apapun jawaban yang nantinya akan dikatakan oleh Naoya.

“Anda menganggap saya sebagai apa?”

Keheningan menyeruak, menjadi suasana sunyi nan dingin. Detik, puluhan detik berlalu hingga tawa nyaring terdengar di telingamu.

“Tentu saja kamu pelayanku.”

Dan kamu mendapat jawaban atas pertanyaanmu.

“Terima—”

“Jangan pernah kamu berpikir bahwa kamu akan dianggap lebih dari sekedar pelayan.”

Sakit.

“Saya hanya takut Naoya-sama menganggapku sebagai seorang pelacur.”

Apapun yang dikatakan dan dilakukan Naoya setelahnya tidak mendapat perhatian darimu. Kamu telah berusaha menutup telingamu dan berusaha untuk tidak merasakan apapun.

Dengan perasaan yang terhanyut, kamu berusaha untuk memejamkan mata, berusaha untuk menghilangkan kesadaranmu, berusaha untuk melupakan apapun yang sekiranya bisa membuat pikiranmu terasa menyakitkan.

Dua lembar surat dalam genggamanmu, salah satunya diletakkan di atas meja di samping tempat tidur Naoya dan salah satunya kamu tetap genggam.

Dengan keadaan dirimu yang telah membersihkan diri dan mengenakan sebuah pakaian sederhana, kamu bersiap dengan membawa sebuah tas di atas punggungmu.

Kamu telah memutuskan.

Kamu akan pergi.

Sebelum kamu benar benar melangkah pergi, kamu mendudukkan dirimu di samping futon dimana Naoya tengah terlelap. Lenganmu terangkat untuk mengusap wajahnya yang tampan serta rambutnya yang terasa lembut di tanganmu.

Matamu melihat dengan pandangan yang memburam. Dan lagi, setitik air turun membelahi pipimu.

Wajahmu turun untuk kemudian bibirmu mengecup pelan dahi dari tuanmu, Naoya.

“Naoya-sama, aku mencintaimu.”

Bulir bulir keringat membanjiri tubuhnya, air mata yang kemudian terbentuk di ujung matanya yang menutup, lalu tubuhnya bergerak dengan tidak tenang. Naoya menghembuskan nafasnya dengan pelan lalu ia membalikkan tubuh.

Silaunya cahaya matahari di pagi hari dari gorden yang menembus ke dalam kedua kelopak matanya, telah membuatnya tidak merasa tenang. Ia membalikkan tubuhnya berkali kali, menutup wajahnya menggunakan selimut sampai akhirnya ia memaksakan diri untuk terbangun.

Wajah cantik yang tenang nan damai dengan tubuhnya yang hanya berbalut sehelai selimut, sekelebat bayangan itu hadir sebelum ia akhirnya membuka mata dan menyadari bahwa dirinya telah tertidur sendirian di atas futon. Tidak ada seorang wanita yang menemani di samping tubuhnya, hanya ada ruang kosong di sana.

Dia dimana?

“Pelayan!”

“Saya berada di luar, tuan.”

“Panggil Y/N, bawa dia ke dalam kamarku.”

Hembusan nafas terdengar setelahnya.

“Pang—”

“Maaf tuan, Y/N sudah mengundurkan diri sejak lima hari yang lalu.”

My Twitter

For request

My secreto