Actions

Work Header

Her Wish

Summary:

Hari ini hari ulang tahun Raib. Ketiga serangkai + Ily merayakannya di Klan Bulan. Ali bertanya pada Raib apa harapannya tahun ini dan mewujudkannya di saat itu juga.

Notes:

hai hai. ini eve, truffleve, yang nulis di wattpad dan suka bikin au bumser di tiktok. I finally decided to ngeluarin draft ini dari notes hapeku karna takut berdebu. enjoy the story!

Work Text:

Di Klan Bulan sedang malam hari. Bulan sabit tergantung di langit dengan indah. Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Raib yang ke 23. Kebetulan ABTT tengah libur semester, hal ini membuat Raib, Ali, dan Seli bisa keluar dari asrama. Muak juga setelah berbulan-bulan terkurung di Distrik Lembah Gajah. Ali bahkan bersumpah untuk menaiki gajah-gajah disana jika dia melihat mereka sekali lagi

Mereka sedang berkumpul di rumah yang trio itu sewa selama mereka bersekolah di ABTT. Ketiga serangkai itu tergeletak kelelahan setelah membongkar bawaan. Seli yang paling kelelahan, bagaimana tidak? Mereka hanya libur selama sebulan, tapi gadis itu pindah membawa koper. Ily datang, ia menatap miris ketiga sahabat yang duduk lemas di sofa. Lelaki yang paling tua itu membawa kantong belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Terdengar suara botol kaca menghantam satu sama lain dari kantong.

"Bawa apa, Kak?" tanya Seli, ia membuka matanya sedikit. Iris coklat keorenan gadis itu melihat Ily menaruh dua kantong tersebut di hadapan mereka.

"Minuman," jawab Ily sambil menghempaskan tubuhnya untuk duduk di samping Seli.

"Alkohol?" Raib menggeleng heran, tumben sekali Ily mau diajak minum-minum. Biasanya tidak pernah. Dia selalu menjadi orang yang bertanggung jawab.

"Hey, Ra. Kamu 'kan tahu, alkohol di klan Bulan itu paling banyak 10%. Tidak ada apa-apanya," ucap Ali senga. Semakin dewasa, bukannya semakin bijak, Ali malah terasa semakin slengean setiap harinya.

"Yeah, tunggu sampai kalian semua mabuk. Aku tidak akan mau mengurus kalian," kesal Raib. Gadis itu sudah lelah mengurusi Ali dan Seli yang mabuk. Mereka itu tidak tahu diri. Sudah tahu toleransi terhadap alkohol mereka biasa saja, tapi mereka tetap minum seperti tidak ada hari esok.

"Sekali-sekali tidak apa-apa Ra. Ini ulang tahunmu, lagipula kita di rumah."

Tapi kalau sudah begini, Raib hanya bisa mengangguk pasrah. Terserah mereka sajalah. Ia yakin tidak akan terjadi apa-apa juga.

Seli mengambil kue yang tersimpan di dalam lemari pendingin. Ali dan Seli sudah ke toko kue tadi siang saat Raib tengah tertidur kelelahan. Gadis berambut pendek itu menyalakan lilin di atasnya, kemudian menyodorkan kue tersebut ke arah Raib yang sedang tersenyum. Raib menyatukan kedua tangannya di depan dada, menyebutkan wishnya untuk tahun ini dengan sepenuh hati. Ali tersenyum simpul, menatap Raib dengan teduh.

Sisa asap yang tertinggal dari api lilin menjadi pengganti rona oranye yang ada di atas kue tersebut. Raib memotong-motong kue, membagikannya kepada sahabat-sahabatnya. Mereka memesan pizza—dari klan Bumi, jangan tanya bagaimana, tanya saja ke Ali. Si Genius itu selalu memliki caranya sendiri untuk memunculkan atau melakukan sesuatu. Ily membuka tutup botol kaca dengan cekatan. Cukup mengherankan, karena setahu mereka Ily bukan orang yang suka minum.

Seli menuangkan alkohol itu ke gelas kecil, ia mudah mabuk. Satu botol saja cukup untuk membuat dirinya hilang kesadaran. Maka dari itu Seli menuangkan alkohol itu ke gelas agar lebih terkontrol. Sedangkan Ali, Raib, dan Ily memilih langsung menenggak dari botolnya. Mereka bermain jenga sambil mengobrol. Kalian tahu jenga 'kan? Susunan balok yang berwarna-warni, mereka harus menarik balok tersebut satu persatu tanpa menjatuhkan susunan balok yang tertumpuk tinggi. Seli membawa permainan itu ke Klan Bulan, dia trauma terjebak berjam-jam di dalam ILY kebosanan.

"Aku tahu agar permainan ini semakin seru," ucap Ali sebelum gilirannya. Dia berlari menuju kamar, membawa ransel dari klan Bintang. Tangannya mengeluarkan satu botol kaca besar berwarna bening. Vodka. Alkohol klan Bumi yang memiliki kadar alkohol lumayan tinggi. Raib terbelalak. Bisa-bisanya si biang kerok ini membawa vodka ke klan Bulan?!

"Apa itu, Ali?" tanya Ily. Dia tidak pernah melihat minuman itu.

"Ini vodka. Alkohol dari klan Bumi. Kadar alkoholnya mencapai 40%," jelas Ali dengan seringaian menyebalkan. Wajah Seli berubah pias. Dia sudah setengah mabuk. Dengan adanya vodka dari Ali, kecil kemungkinan dia akan ingat apa yang terjadi besok pagi.

"Heh biang kerok! Bisa-bisanya kau membawa vodka kesini?!" Walau sudah menjadi sahabat Ali selama bertahun-tahun, jujur saja Raib tetap tidak percaya bahwa sahabatnya bisa segila ini.

Ali mengendikkan bahu, "kalau sedang suntuk, kadang-kadang aku minum alkohol, Ra."

Raib semakin melotot. "Tenanglah, aku hanya minum secukupnya, di kamar pula," jelas Ali.

Setelah menghela napas, Raib jelas tahu kalau Tuan Muda Ali adalah orang yang keras kepala. Tidak ada yang bisa merubah pendiriannya. Maka Raib hanya mangut-mangut saja. Mereka melanjutkan permainan. Seli yang pertama kali menjatuhkan tumpukan jenga. Matanya melirik sinis ke arah Ali yang sedang tertawa jahat sambil menuangkan vodka ke dalam gelas kecil Seli.

"Langsung diteguk saja, Sel. Tapi jangan telan dengan terburu-buru, nanti tenggorokanmu terbakar," bantu Raib.

Ily berseru, "minuman itu bisa membuat tenggorokan terbakar?"

Ali menyeringai, "mau coba, Ily?"

Ily menengok ke arah Seli yang seluruh mukanya sudah memerah. Kasihan juga Seli kalau dibiarkan minum sendirian. "Baiklah, aku akan minum bersama Seli."

Dengan gerakan yang bersamaan, Seli dan Ily menenggak cairan dari sloki kecil itu. Seli memperlihatkan raut mengernyit, masih menahan cairan pahit itu di dalam mulutnya sebelum ia menelan dengan perlahan. Sesuai dengan saran Raib. Berbanding terbalik dengan Ily. Dia langsung menelan cairan bening itu. Benar saja, rasa panas dan pahit langsung membakar tenggorokannya. Membuat Ily terbatuk beberapa kali.

Wajah Ily memerah, tangannya bergerak mengambil air putih. "Minumannya keras sekali," ucap Ily, masih terbatuk. Ali tertawa kecil. Apa dia bilang. Alkohol klan Bulan itu tidak ada apa-apanya.

Seli beranjak berdiri dengan limbung. "Aku harus ke kamar, atau aku akan menyesalinya besok," kata Seli dengan bergumam. Dia sudah 100% mabuk.

Ily membantu Seli, "aku akan mengantarkannya ke kamar. Aku juga sepertinya sampai disini saja, kepalaku mulai pusing."

Raib dan Ali mengangguk. Raib menatap Seli dan Ily yang menghilang di tangga. Ily memang sosok pemuda yang bertanggung jawab. The real gentleman. Raib masih melamunkan beberapa hal saat ia merasakan tatapan dari arah depan. Kemudian ia menengok ke arah Ali yang sedang menatapnya.

"Kenapa?"

Ali menunjuk jenga, "mau lanjut?"

"Tidak usah, tinggal kita berdua. Sudah tidak seru," Raib menggeleng. Menolak ajakan Ali.

"Baiklah." Ali pindah duduk di sebelah Raib. Tangannya bergerak membawa botol vodka itu ke arah mulutnya, menenggak dengan santai.

Ali menoleh ke arah Raib, "mau coba, Putri?"

"Boleh."

"Baiklah, Putri Bulan tidak boleh mabuk, jadi aku akan menuangkannya ke sloki," ucap Ali dengan nada mengejek. Ia berusaha mengambil sloki di seberang. Raib menggeleng, langsung mengambil botol vodka dari tangan Ali. Menenggaknya tanpa memutus kontak mata dengan Ali. Lelaki di depannya juga menatap tanpa berkedip. Ali menelan salivanya dengan kasar.

Damn she's so hot.

Ali seharusnya sudah tahu, Raib tidak bisa mabuk. Beberapa kali mereka minum bersama dengan kawan-kawannya di ABTT, hanya Raib yang masih bisa menjalani pelajaran dengan baik keesokan harinya. Saat Seli dan Ali mengumpati kepala mereka yang terasa dihantam palu godam, Raib akan mencatat di tabletnya dengan santai. Gadis itu tidak terpengaruh, sungguh bakat yang membuat Ali iri.

Ali menarik botol vodka itu dari tangan Raib, "cukup. Sudah, Ra."

Raib mengusap setitik vodka di ujung mulutnya. Tenggorokannya memang terasa seperti terbakar, tapi efek pusing, mual, dan segala macam gejala mabuk itu tidak juga muncul. Ia juga tidak tahu kenapa. Sejak pertama kali ia diajarkan meminum alkohol--dalam pengawasan orang tua, tentunya--segala macam minuman keras tidak memberikan efek apapun pada Raib.

"Kupikir kamu hanya kebal dengan alkohol klan Bulan, ternyata dari klan Bumi pun tidak mempan kepadamu," ucap Ali ternganga.

"Tentu saja, Putri Bulan ini," jawab Raib berlagak sombong. Mereka tertawa bersamaan.

Raib dan Ali berjalan kembali ke kamar saat jarum panjang hampir menyentuh angka 12, pergantian hari. Burung hantu sudah berkali-kali memutar lehernya, berusaha mencari mangsa untuk makan malam--atau makan siang? Dua muda-mudi itu mengobrol berjam-jam di ruang TV, membicarakan 1000 hal random yang lewat di pikiran mereka.

"Thank you for tonight," ucap Raib dengan mata berat. Ia perlahan mulai mengantuk. Raib juga tidak tahu kenapa ia mulai menggunakan bahasa inggris.

Ali mengangguk, "hey, before you sleep, can I ask what's your wishes?"

Raib menyandarkan badannya di dinding. Bersedekap sambil berpikir sejenak. "I wish that all things that come in this year is joy and happiness. For me, you, Seli, and everyone around me."

"There's no materialistic wish? You're lame," Ali menjawab dengan tatapan kasihan. Putri Bulan ini terlalu baik. Ali bahkan takut gadis ini akan ditipu oleh seseorang jika Ali luput mengawasinya.

"Hey!" Raib meninju pelan lengan lelaki di depannya. "I'm not interested."

"On a second thought, there's one," ucap Raib sambil melihat ke langit-langit.

"And what's that? Maybe I can fulfil it for you." Ali membungkuk sambil bercanda, memberi vow ke arah Raib.

"I wanna know what it's like to be kissed." Raib yang sudah mengantuk tidak bisa lagi berpikir, otaknya berhenti bekerja beberapa jam yang lalu. "Seli said her first kiss was the greatest."

Ali mengernyit, "you haven't gotten your first kiss?"

"Yeah. Call me L or whatever," Raib menjawab sambil memutar matanya. Badan gadis itu kembali bersandar ke dinding di sebelah pintu kamarnya. Dagu Raib terangkat, mata hijaunya yang terlihat mengantuk menatap lurus pada Ali.

"Neither have I, princess."

Raib membelalak, "you haven't? YOU? Mr. Casanova hasn't got his first kiss?"

Ali tertawa. "Yes, I'm saving it for the best." Percaya tidak percaya, itu benar. Ali merasa first kiss itu terlalu sakral untuk diberikan kepada seseorang yang 'tidak terlalu penting'.

"Aww, I thought there's no romantic side of you."

Ali mendekat ke arah Raib, menunduk menatap Sang Putri yang mendongak ke arahnya. "May I?" Pertanyaannya membuat Raib melongo. Apa yang sedang dilakukan oleh Si Biang Kerok ini?

".... what?"

Ali semakin mendekatkan wajahnya ke arah Raib. "You should know. Your wishes are my command, princess."

"So, may I kiss you? And then we both will have a great first kiss to tell the others," kata Ali sambil menatap Raib dalam. Di bibirnya tersungging senyum kecil.

Pergolakan besar terjadi di dalam batin Raib. SIaga satu, siaga satu. Jantungnya mulai mengirim sinyal yang tidak dapat diartikan oleh otaknya yang sudah terlanjur shut down. Entah apa yang terjadi di dalam kepalanya, tapi gadis itu mengangguk.

Ali melingkarkan tangannya ke pinggang Raib, mendekatkan tubuh mereka dengan perlahan. Tangan kanannya mengangkat dagu Raib untuk semakin mendongak.

"What should I do?" Raib bertanya gugup.

"Put your arms around my neck," bisik Ali, dahinya sudah bersentuhan dengan dahi Raib.

Raib mengikuti saran Ali. Ali terkekeh kecil. Napasnya terasa dekat sekali. "And now, close your eyes, enjoy it. Let your body take control."

Dan bibir mereka bertemu.

Hangat. Sisa rasa pahit dari vodka masih menempel, feromon mint milik Ali tersebar memasuki penciuman Raib. Ali menciumnya dengan perlahan, membiarkan Raib mengenali dengan jelas setiap gerakan yang ia lakukan. Ali mencium Raib dengan lembut, merasakan Sang Putri perlahan meleleh di pelukannya. Tidak terburu-buru, lelaki itu ingin Raib benar-benar memproses apa yang terngah terjadi.

Cengkraman Raib pada rambut belakang Ali terasa mengerat. Ali baru saja ingin menjauhkan diri saat Raib perlahan membalas, Ali menyelipkan satu senyuman singkat ditengah-tengah. Ia memindahkan arah kepalanya, "breath," bisiknya.

Menuruti saran Ali, Raib mengambil sebanyak mungkin udara yang bisa dihirup sebelum Ali mempertemukan bibir mereka lagi. Dinginnya malam tidak terasa sama sekali. Yang ada hanya kehangatan yang menyetrum tubuh mereka berdua. Raib mulai terengah, tangannya lagi-lagi mencengkram rambut bagian belakang Ali. Sang lelaki memberikan jarak, menyatukan kening miliknya dan Sang Putri. Ia mendengarkan suara napas terengah milik Raib sambil ia tersenyum kecil.

"You said you haven't gotten your first kiss yet. But why are you so good at it?" tanya Raib sambil berbisik, ia tidak berani menatap mata lelaki di depannya.

"Research. That's my job."

"So you think I will believe that after you kissed me like crazy?" Raib masih skeptis.

"I didn't and I would never lie to you," jawab Ali lagi.

Raib mengambil satu napas terakhir. "Okay then."

Ali menegakkan tubuhnya, menyelipkan rambut Raib ke balik telinga. "You should go to sleep."

"Okay. That was a great kiss. You're a good kisser, Tuan Muda Ali."

Ali mencuri satu kecupan lagi dari Raib. "Thank you, Princess. Goodnight, have a nice dreams."

Little did they know, keduanya tidak bisa tertidur malam itu. Ingatan mereka terus memutar kejadian di depan pintu kamar Raib seperti kaset rusak. Keduanya juga memiliki persamaan yang ketara, mereka sama sekali tidak menyesal telah memberikan first kissnya kepada orang yang tepat.

Bulan bersinar terang sekali malam itu, nyaris seperti tersenyum dengan bentuk sabitnya.

Series this work belongs to: