Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-03-22
Words:
886
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
7

Living

Summary:

Satu hari di pesisir pantai, rupanya bukanlah sekadar “hari” yang biasa. Momen kecil ini membuatku berpikir mengenai indahnya kehidupan yang terus berputar.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Langit menampilkan gradasinya antara warna biru dan oranye, diikuti sedikit goresan putih dari awan yang turut menghiasi lukisan alam ini dengan tipis-tipis. Burung-burung beterbangan, suara kicaunya pun terdengar dari kejauhan. Angin berembus perlahan namun sejuk, membawa aroma khas dari ombak lautan yang terus menari dengan indahnya.

Kap mobil berwarna merah dijadikan tempat peristirahatan tubuh ini. Kuayunkan kedua kakiku secara perlahan sembari sesekali melempar cuilan roti. Hidangan tersebut dilahap habis oleh kumpulan burung camar di depanku.

Aku menolehkan kepala, menangkap sebuah objek yang sedari tadi sudah mencuri perhatianku. Tak jauh dari tempat mobilku terparkir di atas tanah tinggi, terkumpul batu raksasa membentuk sebuah garis panjang dari lidah pantai hingga menuju gelombang lautan. Jalan setapak dibagun di tengahnya, bak dermaga kapal. Membuat para pengunjung bisa ‘berjalan di atas air.’ Seorang kakek tua nampak berada di sana. Tak luput pula pandanganku dari seekor anjing pudel yang turut menemani sang kakek.

Roti yang kubawa sudah habis. Para burung camar pun segera terbang dari tempatnya tadi. Sayap mereka mengepak dengan bebasnya, membantu diri mereka beraktifitas di udara. Sejak aku kecil, aku selalu ingin bisa terbang. Pasti rasanya bebas sekali, bukan?

Kubuka pintu mobil dan mengambil sebuah kamera yang terletak di kursi penumpang. Kamera ini adalah kamera polaroid lama, sehingga foto akan langsung tercetak begitu objek ditangkap. Sudah lama sekali aku ingin menggunakannya. Sekarang adalah saatnya, dan akan jadi bonus kecil untuk diriku yang sudah bekerja keras akhir-akhir ini.

Aku melangkah mendekati pasir keemasan. Serta merta mengambil foto pemandangan yang indah ini. Air laut terlihat jernih sekali, memantulkan kondisi langit yang menampilkan matahari terbenam.

Tak hanya sampai situ, aku turut memotret sang kakek yang masih bermain dengan anjingnya di atas bebatuan. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena siluet. Namun, gelak tawa lembutnya terdengar oleh telingaku secara samar-samar.

Seorang gadis kemudian melewatiku. Rambutnya dikucir satu, dan telinganya menggunakan earphone. Ia berlari kecil menyusuri pantai. Kuambil foto dirinya saat ada kesempatan. Ini mungkin bisa dibilang menyeramkan karena mengambil foto orang asing. Namun, sudahlah. Toh, aku tak akan menggunakan foto mereka untuk hal keji.

Kulihat hasil jepretan yang telah kuambil. Semuanya cukup memuaskan. Kegiatan kecil seperti ini membuatku merasa cukup senang. Jarang diketahui banyak orang memang, namun, hal-hal kecil dapat memberikan sebuah semangat untuk menjalani kehidupan lagi. Tak perlu pergi menuju tempat wisata yang memakan banyak biaya. Melakukan jogging kecil seperti wanita tadi pun cukup. Bermain dengan peliharaan seperti sang kakek pun cukup. Memancing, memasak, membaca cerita, dan masih banyak lagi.

Ya, masih banyak lagi.

Masih banyak hal yang belum kulakukan. Banyak petualangan kecil yang bisa kucoba. Hal ini memberiku semakin banyak semangat untuk menjalani hidup.

Meski itu hanyalah hal kecil.

Di dunia ini, kita hidup. Menjalani sehari-hari dengan cara yang berbeda-beda. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk menikmatinya. Seperti orang-orang yang kulihat tadi, mereka punya kegiatan, kebahagiaan, cita-cita, orang yang mereka cintai, dan orang yang mencintai mereka. Mereka semua adalah manusia yang sedang menjalani kehidupannya, sama seperti diriku.

Langit mulai berubah gelap. Matahari terbenam memanglah indah. Sayang sekali, manusia tidak bisa menontonnya dalam waktu yang lama. Matahari harus pergi untuk menyinari bagian lain dari bumi.

Makhluk hidup di planet ini ... banyak sekali!

Kira-kira, mereka sedang melakukan apa saja, ya?

Matahari itu nantinya akan mengundang pagi hari di sebuah negara. Warga-warganya akan bangun dan mulai beraktivitas. Sedangkan di sini, aku akan terlelap. Pemikiran seperti ini sangat menyadariku akan besarnya dunia ini.

Gonggongan anjing pudel milik sang kakek terdengar semakin dekat. Begitu pula dengan suara langkah kaki dari sepatu kakek tersebut. Aku menoleh, melihat sosok keduanya yang semakin dekat. Sadarlah aku bahwa mobil mereka berada tak jauh dari tempatku berdiri.

Si anjing pudel berlari mendekatiku, bahkan tak ragu untuk mengelilingi kaki panjangku. Ia menjulurkan lidahnya senang sembari sesekali mengadahkan kepalanya ke atas, menatapku.

“Ah, mohon maaf sekali! Lony, ayo sini, jangan ganggu orang lain!” titah sang kakek setelah menyadari perlakuan anjingnya. Aku tersenyum seraya menggelengkan kepala, tak keberatan dengan aksi lucu dari makhluk kecil tersebut.

“Apa dia anjing peliharaan Anda?” tanyaku seraya menyerahkan Lony—nama si anjing—pada Kakek tersebut.

Kakek menganggukkan kepalanya, “Lony sudah jadi temanku satu-satunya selama 6 tahun belakangan. Aku memungutnya saat ia berumur sekitar 3 tahun. Kami berdua sudah sama-sama tua. Mungkin karena itulah kami bisa berteman dekat.”

Lony kemudian mendekati mobil pickup mereka yang terparkir beberapa meter dari tempat kami berbincang dan melompat ke dalam. Sepertinya, ia sudah lelah dan ingin pulang. Aku yakin sang kakek juga merasa sama. Toh, hari memang sudah gelap.

“Anu, maaf, apa boleh aku mengambil foto kalian berdua?” Aku bertanya dengan ragu pada Kakek.

“Oh, tentu saja!” ujar sang Kakek.

Setelah berpose secara sederhana dengan Lony, kuambil foto mereka berdua yang duduk di dalam mobil “Terimakasih banyak,” ujarku pada mereka. Kakek hanya melemparkan senyum tipis.

“Apa Anda mau mengambil hasil jepretannya?” tanyaku kemudian.

Kakek berpikir sejenak, kemudian membalas, “Tidak usah, kau simpan saja. Terimakasih sudah memotret kami!”

Dengan begitu, sang Kakek melaju pergi dengan anjingnya. Aku tersenyum, menatap foto mereka di bawah cahaya bintang yang mulai bermunculan. Dalam hati, kudoakan umur yang panjang dan sehat serta kebahagiaan untuk Kakek dan Lony.

Saat-saat seperti ini ... rasanya damai sekali. Seandainya saja setiap hari seperti ini.

Namun, tidak mungkin, ‘kan? Jika ada masa senang, pasti ada sedih, marah, bingung, dan lainnya. Meski menjengkelkan, jujur saja aku menikmatinya. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Aku tersenyum dan bersyukur sekali untuk hari ini. Terima kasih.

Terkadang, hidup tidaklah buruk.

 

End.

Notes:

This is basically my thoughts on life in a short story form🧍