Work Text:
Babak 1
Bagi rata, kosong hati, biar insan mengikat tali.
Pertama kali mereka bertemu, Sekala tidak merasakan tarikan kuat atau bercak cahaya yang membutakan diri. Nyatanya, bagi Kala, itu hanya salah satu hari ketika Mama tidak sedang melempar caci maki dan bukti cinta tidak memenuhi tubuhnya.
Jarang mungkin, namun tidak se-istimewa itu. Kala sudah mendengar dari telefon yang diterima Mamanya kalau hari ini adalah Papa akan pulang. Papa itu sibuk, kalau tidak dinas berarti sedang rapat. Papa jauh. Mama dekat. Selalu begitu.
Tapi Kala ingat betul, betapa hangat tangan kasar Papa yang dulu menyentuh pucuk kepalanya. Berbeda dengan tangan Mama yang selalu lembut, selalu wangi, dan selalu dingin, menyisakan bubuhan warna pada tubuh Kala.
Kala ikut tersenyum ketika Mama membawanya ke salah satu pesta besar hari itu, ia dibiarkan menetap di pinggir taman bersama beberapa anak lain, setelah dipertontonkan bak hasil karya terbaik Mama diantara para Om dan Tante yang ia sendiri belum mengenal.
Lalu datanglah sang pemuja. Kecil dan rapuh menjadi kesan pertama yang Kala dapat dari Jere.
—
Jeremiah kecil terbiasa melihat benda-benda indah. Bunda senang menghias altar di rumah mereka dengan berbagai pernak-pernik yang bersinar ketika terkena cahaya, menimbulkan banyak padanan warna yang memanjakan mata.
Selain itu, di pekarangan belakang rumah mereka banyak sekali tumbuh bunga-bunga yang dirawat sedemikian rupa oleh pelayan Bunda. Bunga-bunga itu sangat berharga, sangat amat berharga.
Jere ingat pernah memetik setangkai untuk ia beri kepada Bunda. Hari itu, Ayah mengurung Jere di ruang pengakuan. Ternyata Kakak tidak suka ketika bunga-bunganya rusak. Jadi, Ayah dan Bunda memilih untuk merusak Jere, agar bunga Kakak tidak rusak.
Jere juga ingat jelas ketika Bunda bercerita tentang malaikat pelindung. Kata Bunda malaikat pelindung itu ada untuk setiap manusia yang hidup di bumi. Bunda juga bilang kalau Malaikat pelindung yang bersama Kakak selalu tertawa karena Kakak itu sempurna. Saking sempurnanya Kakak, malaikat yang harusnya melindungi Jere juga ikut pergi ke sisi Kakak.
Jere itu tidak punya malaikat pelindung. Seberapa keras pun Jere berdoa dan memohon pada Tuhan, semuanya sia-sia, karena Jere sudah rusak, bahkan Tuhan pun meninggalkan Jere kecil dibalik bayang-bayang Kakaknya.
Kalau memang benar begitu, kenapa sekarang Jere bertemu dengan malaikat di taman belakang rumahnya?
—
“Cantik.” Jere rentangkan tangan kecilnya, walau ia tak berani menyentuh sang malaikat.
Kala memiringkan kepalanya, “Hah?”
“Kamu malaikat ya?”
Kala terdiam sunyi, matanya membelalak sedikit, karena untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak dibandingkan dengan sosok Mama. Padahal orang-orang selalu bilang kalau Mama adalah sosok nyata ketika malaikat turun ke bumi.
“Bukannya cantikan mama ku?”
Jere menggelengkan kepalanya, “Kamu paling cantik dari semua yang pernah aku lihat!”
“… namamu siapa?”
“Jere, namaku Jere, kakak malaikat!”
------------------------------------
Babak 2
Terikat tali, risalah hati, cinta dari sang pemuja.
Jere melangkahkan kaki nya dengan pasti. Setiap langkahnya dipenuhi amarah dengan wajah kecut yang menutupi ketampanan pria itu. Tidak perlu waktu lama sebelum ia sampai di salah satu lahan kosong samping gudang lama sekolah, tempat ini memang lazim digunakan bagi para ‘orang-orang tersohor’ di SMA mereka untuk melakukan tindak kekerasan.
Sudah hampir satu setengah tahun Jere menjadi salah seorang langganan di tempat ini. Tahun lalu, Jeremiah dengan segala ketidak acuhannya datang tanpa diundang ke arena ini, melihat sekilas siapa saja yang ada di depannya, dan langsung menghajar habis lima belas orang petarung terbaik di sekolah mereka.
Darah dan luka memenuhi seluruh tubuhnya saat itu, tetapi ia tidak begitu ambil pusing, walaupun Jere cukup yakin beberapa tulang di tubuhnya harus segera diperiksa jika ia tidak mau terbaring di kasur rumah sakit untuk beberapa hari kedepan.
Tapi tentu saja Jere tidak langsung ke rumah sakit, hal pertama yang ia lakukan begitu berhasil mengumpulkan tenaga untuk berdiri adalah mengedarkan pandangannya ke sebuah jendela lantai dua. Pandangannya mulai mengabur tak karuan ketika ia gagal menemukan sosok yang dicari. Nafasnya semakin tidak teratur dan Jere memaksakan kakinya untuk berjalan terseok-seok menuju dimanapun sosok itu mungkin berada—-
“You did it, hahaha! You actually fucking did it.” Gelak tawa familiar memenuhi rungu Jere.
“Of course I did it, angel. Gak ada yang aku gak bakal lakuin kalau untuk kamu.”
Tanpa ia sadari, tubuhnya kembali terjatuh ke tanah. Jere melepas nafas lega sambil berusaha membuka mata untuk menatap Kala. Sementara yang dipuja turut merendahkan diri, membiarkan tangan kanannya menyentuh pipi lebam milik Jere.
“Jadi, kamu bakal ngelakuin apapun untuk aku kan Jere? Apapun?”
Jere memaksa tangan kanannya bangkit, menggenggam tangan Sekala yang bertengger hangat di pipinya.
“Anything for you, angel.”
“What if I asked you to betray your God then? What would you do, Jeremiah Imanuell Perkasa? Kamu yang tumbuh di rumah Tuhan, kamu yang hidup untuk memuja Tuhan, kamu sanggup melepaskan peranmu sebagai hamba-Nya kalau aku minta?”
Jere tidak tau ekspresi apa yang ia tunjukkan pada Kala, tetapi ia pastikan suaranya tenang dan pasti ketika menjawab sang malaikat.
“You’re the only one I need, angel. Kalau untuk kamu, not even God could stop me from loving you.”
—
Menjejakkan kaki ke arena, Jere hanya memfokuskan diri untuk memandang satu orang. Tanpa ragu ia biarkan kakinya melangkah, dan tanpa ragu juga—“Jeremiah? Lo ngapain?”—Jere layangkan tangannya untuk menghajar gadis itu.
“Jelek. Lo tuh jelek banget, gue gak ngerti apa yang bikin dia ngerasa lo cantik.” Jere mengeluarkan sebuah silet kecil dari kantong celananya.
“JERE! GUE ADA SALAH APA SIH SAMA LO! JAUH-JAUH TOLONG JAUH-JAUH!”
“Bahkan sebelum lo jatuh serendah ini aja lo udah jelek banget, Kana. Tapi … you reap what you sow, you know? Salah sendiri lo merasa pantas bersaing sama malaikat gue.”
“... tolong … jauh-jauh … jangan ke sini …”
Jere mengernyitkan dahinya tak suka, “Berisik. Asal gue sayat muka lo sedikit juga lo udah bebas lagi. Makanya, cepat kesini!” Mungkin Jere tidak sadar, tetapi wajahnya menyeringai puas ketika ia melaksanakan aksinya.
Dari salah satu jendela di lorong lantai dua, Sekala hanya tersenyum tipis sembari menonton pertunjukkan itu.
—
“Angel, I did well, kan?” Jere merebahkan diri di lantai konkret rooftop, pandangannya terkunci pada sosok yang sedari tadi berkutat dengan buku pelajaran di tangannya.
Sekala menutup buku di tangannya, ia gigit permen yang memenuhi mulutnya, “Of course you did well, thank you, Jeremiah.” Kala berikan senyum tipis ke arah Jere.
Sementara yang diberikan senyum secara tidak sadar memberi pandangan tidak setuju. “Kok Jeremiah? Aku salah kah? Kamu kurang puas? Angel, what did I do wrong?”
Sudut bibir Kala terangkat semakin tinggi, senyumnya menjadi sedikit lebih tulus sebelum ia memindahkan tubuhnya untuk meluruskan wajahnya dengan wajah tampan Jere. Mempertemukan bilah bibir mereka tanpa ragu, berbisik kecil, “You did well, my Judas.”
------------------------------------
Babak 3
Kusut tali, hancur diri, cinta dari si remuk redam.
Tidak ada yang tidak mengenal Sekala Felix Maheswara. Anak tunggal kaya raya dari keluarga papan atas dengan penampilan bak supermodel, selalu menempati peringkat satu paralel semenjak memasuki SMA, kegagalannya hanya pernah terjadi sekali, ketika ia dikalahkan oleh anak baru di kelas 11 tahun lalu.
Sekala masih berhasil menyabet peringkat dua tentu saja, selisih nilai mereka pun tidak terlalu jauh, tetapi orang-orang menyebut kejadian itu sebagai one time luck, karena setelahnya tidak pernah lagi Sekala mendapat nilai dibawah kesempurnaan.
Hari ini pun, Sekala tersenyum lagi untuk membalas sapaan demi sapaan yang ia dapat. Menggigit batang permen yang sedari tadi ia mainkan, Sekala edarkan pandangan untuk mencari sosok tampan yang biasa sibuk mencari perhatiannya.
“Kala!”
‘Bingo.’ Sekala berikan senyum pada dua pria yang menghampirinya. Satu tinggi, dengan perawakan yang lebih tenang dibanding sahabatnya, walaupun senyum jahil yang terpatri di wajahnya bisa disebut apapun selain tenang. Satunya lebih pendek sedikit, rambutnya di cat biru dengan kacamata bulat khas harry potter bertengger di hidungnya.
Keduanya adalah teman seangkatan Kala yang berasal dari keluarga setara, sudah dari kecil mereka dibiarkan bermain bersama, dan semua orang tau betapa Juna dan Adji mengejar-ngejar Sekala.
“Halo, Juna, Adji.”
Arjuna, yang lebih tinggi, dengan santainya merangkulkan tangannya pada pundak Sekala. Menuntunnya untuk berjalan sedikit lebih cepat guna meninggalkan Adji di belakang.
“Curang betul! Main rangkul-rangkul aja!” Protes Adji sebelum terburu-buru meraih tangan kiri Sekala untuk ia genggam.
Senyum di wajah Kala tidak berubah sama sekali, seakan terpahat permanen, Kala dengan santainya memimpin jalan untuk mencapai kelasnya.
Sebelum masuk ke kelas, cengkraman di pundak Sekala semakin kuat, “Kala, jangan lupa tawaran date aku ya. Kamu harus sadar Kala, yang deserve kamu itu cuman aku, dan yang deserves manusia sesempurna Arjuna ya cuman kamu. We’re going to be the perfect couple everyone will dream of.”
Sekala paksakan senyum sebelum melarikan diri ke bangku tempat duduknya. Terlalu mirip. Arjuna terlalu mirip dengan Mama.
—
“Angel, kamu diganggu sama duo sinting itu lagi?” Jere menghirup wangi Kala sembari mengubur kepalanya di perpotongan leher yang lebih tua.
Kala bubuhkan kecupan singkat di rambut Jere dan bisikkan janji manis pada sang empunya.
—
“Adji, maaf, kayaknya Kala nggak bisa pergi sama Adji …” Sekala tundukkan wajahnya muram, biarkan jemarinya mencengkram lengan sang lawan bicara lebih kuat. Tubuhnya jatuh terpuruk.
“Kala, kamu kenapa sayang? Hey, Sekala,” Adji tangkup pipi penuh taburan bintang pujaan hatinya, “Tell me?”
Sekala palingkan wajahnya, seakan enggan, “... Kala nggak mau ngerusak pertemanan Adji ..”
Sementara pria dengan surai biru tua dihadapannya menggelapkan pandangan, sudah jelas siapa yang membuat Sekala-nya seperti ini. Hanya ada satu orang yang ia anggap sebagai sahabatnya selama ini. Adji merasakan kekecewaan memenuhi relung hatinya.
“Sssh, tenang Kala … Kala jangan sedih gini, nanti Adji ikutan sedih. Biar Adji yang urus semuanya ya? Kala cukup nunggu kabar dari Adji aja ..”
Sekala lemparkan tubuhnya untuk memeluk pria di hadapannya. “Adji jangan berantem..”
“Iya, Kala sayang.”
—
Membaca ulang pesan yang ia karang beberapa menit yang lalu, Sekala mengangguk puas sebelum menyentuh logo pesawat di message-nya.
“Kamu habis ngapain, angel? Dari tadi aku dianggurin,” wajah masam Jere cukup untuk mengundang gelak tawa Kala ketika meliriknya.
“Nothing, cuman mastiin aku berhasil jatohin dua burung dalam sekali tembak. Sekarang Judas-nya Kala mau apa hmm?”
Jere tertawa kecil sambil memeluk tubuh pemuda di hadapannya, “Mau kamuuuu.”
“Aku suka deh,” Sekala bergumam sambil membalas pelukan Jere.
“Hmm?”
“Aku suka waktu kamu senyum.”
—
Keesokan harinya sekolah mereka digemparkan oleh berita dikeluarkannya Arjuna Harris Bagaskhara dan Taradji Putra Wangsa dari sekolah.
Semua orang tau betapa Juna dan Adji mengejar-ngejar Sekala, yang orang-orang suka lupakan adalah, Juna dan Adji merupakan musuh besar Jere perihal sengketa kekuasaan di sekolah.
------------------------------------
Babak 4
Serabut ribut, teriakan hati, tentang kelam.
Jere tersenyum simpul sambil menggenggam tangan Kala di sampingnya, hari ini, untuk pertama kalinya yang lebih tua setuju dengan ajakan jalan-jalannya. Selama ini mereka hanya berbagi kasih dibelakang layar, tidak berani serta merta keluar di bawah terik matahari atau menerima tatapan manusia-manusia lain.
Walaupun Jere tidak begitu peduli dengan penampilan atau bagaimana cara orang memandangnya, Sekala sangat amat peduli. Mungkin itu salah sebuah buah yang ia petik dari banyaknya petuah sang Mama, atau mungkin juga, itu keresahan hati Kala sendiri tanpa ada sangkut pautnya dengan orang luar.
Melirik ke tangan yang saling bertaut, Jere tak bisa elakkan senyum sumringah yang mewarnai wajah tampannya. Sekala menggenggam tangannya lebih kuat ketika menangkap senyuman Jere di sampingnya.
“Shall we get some food first, angel?” Sekala beri senyum dan anggukan, membiarkan Jere membubuhkan kecupan manis di tangannya. “Jangan tegang gitu dong, angel. Besok aku nggak bisa ganggu waktu kamu sama keluargamu kan? Anggap hari ini kamu ngerayain ulang tahunmu sama aku?”
Sekala perhatikan wajah sosok yang selalu memujanya, ia biarkan jemari nya menggerayangi wajah yang lebih muda.
“Oke,” dan untuk pertama kalinya, Sekala biarkan pertahanannya buyar. Tanpa tahu bahwa itu adalah keputusan yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Sekala biarkan Jere kecup lembut dahinya, Sekala biarkan tanpa tau bahwa orang yang paling dibenci Jere sedang mengamati mereka dengan tatapan dengki.
“Pendosa.”
—
Hari ini, untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir Sekala dapat melihat senyum indah terpatri di wajah Mama. Ulang tahunnya yang ke-17 mengundang Papa yang selama ini sibuk bekerja untuk kembali pijakan kaki ke rumah mereka.
Bahkan khusus untuk menyambut kedatangan Papa, Mama memutuskan untuk terjun sendiri ke dapur, membuatkan masakan demi masakan, yang disukai oleh Papa. Sekala tidak apa-apa ulang tahunnya dijadikan ajak pertemuan keluarga, Sekala juga tidak apa-apa ia tidak menjadi bintang di hari ulang tahunnya sendiri.
Sekala hanya senang, untuk pertama kali dalam hidup Kala, ia ucapkan terima kasih pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk merasakan, bagaimana rasanya berada di keluarga yang ia dambakan.
Sekala rasakan sedikit perih di matanya, sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan dari usapan tangan Papa di pucuk kepalanya.
Malam ini, Sekala terus hitung waktu dalam hatinya, berapa lama momen langka di keluarganya ini akan bertahan. Berapa lama sampai telefon Papa berbunyi, berapa lama sampai Mama menampar tangannya karena ia makan terlalu banyak, berapa lama sampai—salah seorang pelayan datang membisikkan sesuatu pada Papa.
“Pa? Ada apa?”
Papa Sekala itu tinggi, wajahnya keras dan rambutnya sudah memutih. Tetapi temperamen Papa tidak pernah semenakutkan mama bagi Kala. Sebelum saat ini.
“Sekala, ada yang nyari kamu di depan. Kamu pacaran di belakang papa sama mama?”
Nafas Kala tercekat. Kenapa? Bagaimana? Dimana? Kapan? Sekala tidak pernah biarkan satu jiwa pun tau tentang hubungannya dengan Jere. Sekala coba sebaik mungkin untuk jauhkan Jere dari genggaman Mama, Kala coba sebaik mungkin untuk menjadi apa yang Mama inginkan. Jadi, kenapa bisa begini.
“Salah paham kali pa? Mana mungkin, Sekala begitu?”
Suara mama mengembalikan kesadaran Kala seutuhnya. Apapun yang terjadi, apapun yang harus ia korbankan, ia tidak akan membiarkan apapun terjadi pada satu-satunya orang yang mau memberinya cinta di dunia.
Sekala harus berpikir, Sekala harus cepat, Sekala harus bergerak.
Walau tubuhnya kaku, walau matanya gemetar, walau hatinya mati rasa.
Belum sempat Sekala buka suara, teriakan familiar sudah memenuhi rungu pendengarannya. “BUNDA JANGAN BEGINI BUNDA!”
“KAMU DIAM JEREMIAH! KAMU KIRA TUHAN NGGAK TAU HAH?! BERANI-BERANINYA KAMU—BUNDA NGEBESARIN KAMU BUKAN UNTUK JADI PENDOSA! APALAGI SAMA COWOK MENJIJIKKAN KAYAK GINI.”
Sekala lihat sosok wanita paruh baya yang masuk sambil menunjuk-nunjuknya, matanya menatap Sekala seakan ia adalah sampah paling menjijikkan di dunia, Sekala bungkam seketika. Ia tak bisa hentikan bayang-bayang Mama yang memandangnya sebagaimana wanita di hadapannya memandangnya.
“Nggak …. nggak … nggak mungkin begini …ngga—” pandangan Sekala mengabur tanpa ia kehendaki.
Sekala dengar teriakan Mama yang tiba-tiba berlari ke arah wanita paruh baya di hadapannya, Sekala rasakan rengkuhan yang familiar menyelimutinya.
Lelaki yang sedari tadi berada di samping Bunda Jere lalu berteriak, “Jeremiah … masih kamu berani dekat-dekat PENGGODA ITU! BUTA KAH KAMU BAHWA DIA SENDIRI TITISAN SETAN UNTUK MENGGOYAHKAN IMANMU!”
Sekala lihat mata Mamanya yang membelalak dan raut kecewa yang menyelimuti wajah Papa. Sekala rasakan perih di pipinya, sebelum ia lihat Mama yang memandangnya dengan mata itu, ‘ah … mah, Kala gagal lagi ya? Maafin Kala ya ma…’
“Angel, please, breathe—”
------------------------------------
Babak 5
Putus tali, runyam malam, akhir nafas.
“—angel, hey, angel we’re safe now, angel? Sayang?”
Sekala paksakan diri untuk benarkan pandangannya, sekarang ia sedang duduk di kursi penumpang sebuah mobil. Kala coba gerakkan tangannya, kaku tubuhnya seakan melawan hukum alam. Apa Kala akan mati?
“Nggak angel, nggak, kamu baik-baik aja. Aku baik-baik aja, we’re gonna be fine yeah? We can run from all this mess, okay?”
Jere rasakan takut datang untuk kesekian kalinya, mencengkram seluruh tubuhnya. Mengecek kawasan mereka berada, Jere paksakan diri untuk terus menyetir ke kejauhan malam. Sesekali, ia akan usap tangan Sekala di sampingnya. Pandangan Jere selalu awas, memperhatikan spion sambil mempercepat laju kendaraan mereka.
Beberapa jam berlalu, sebelum akhirnya Sekala membuka suara. Tanpa pikir panjang Jere langsung menghentikan mobil mereka di tepian jalan.
“Kamu tau gak,” Sekala mencoba menarik nafasnya kembali. Aneh, Sekala tidak pernah seberantakan ini. Bahkan ketika rambutnya dijenggut Mama, bahkan ketika tubuhnya dibasahi air, Sekala tidak pernah merasa se-berantakan ini.
Jere putar arah duduknya, memastikan dia bisa mengamati wajah malaikatnya sambil menggenggam kedua tangan kecil itu. Sesuatu bergelayut dengan takut yang sedari tadi kuasai hatinya, ada sedikit panik, dan sakit.
Jere tidak tahu sakit yang ia rasakan datang darimana, mungkin dari tangan yang tadi ia gunakan untuk menghancurkan hidup Bunda untuk selamanya, mungkin dari bekas sayatan pisau yang tak sengaja menggores tangannya ketika ia berusaha menjatuhkan Kakaknya, mungkin juga dari wajahnya yang hancur babak belur karena dipukul oleh Papa Sekala, atau mungkin, sakit yang ia rasakan datang dari melihat betapa hancurnya sosok yang selama ini begitu ia jaga sepenuh hati.
“Angel—”
“Dengerin Kala. Kala mau cerita.”
Jere bungkam mulutnya saat itu juga, “Sekala itu bukan malaikat, Jeremiah.”
“Dari Kala lahir, Kala tau kalau kehadiran Kala ada hanya untuk memenuhi keinginan Mama. Kala nggak boleh nangis, karena kalau Kala nangis nanti mata Kala bengkak dan jelek. Kala nggak boleh minta apapun, karena Mama yang paling tau apa yang baik buat Kala. Kala harus senyum, tapi nggak boleh ketawa. Kala harus anggun, tapi tetap lucu di mata orang tua. Kala harus kurus, postur tubuh Kala harus sempurna. Kala harus terlihat indah di mata siapapun.”
“Kala harus bisa jadi apa yang Mama mau. Biar Papa makin sayang sama Kala dan Mama.”
“Sekala yang kamu lihat untuk pertama kali, itu adalah Sekala yang belum nyentuh makanan selama 2 hari dan hanya boleh minum air sampai Kala jejakkan kaki ke pesta keluargamu.”
“Tangan Sekala yang kamu ambil waktu itu adalah tangan anak kecil yang nggak bisa membedakan mana kasih sayang dan mana abusive treatment. Tubuh Sekala yang sangat aman kamu cintai adalah tubuh yang bahkan pemiliknya aja nggak mau bentuk tubuhnya begitu.”
“Sekala nggak punya apa-apa, tapi nyatanya waktu SMA, Kala sadar kalau Kala itu jauh lebih mirip sama Mama dari yang Kala duga. Sekala senang jadi pusat perhatian, karena kalau ada Mama, Sekala nggak pernah jadi pusat perhatian.”
“Kala pakai semua yang Kala benci, Kala pakai semua yang diatur sama Mama untuk Kala sebagai senjata Kala, haha. Hebatkan? Terus Kala akhirnya manfaatin satu-satunya orang yang janji gak akan ninggalin Kala.”
“Jeremiah, Sekala itu bukan malaikat, Sekala sengaja bikin kamu jatuh ke lubang paling dalam di dunia, Sekala sengaja bikin reputasimu hancur, Sekala sengaja atur segalanya biar kamu cuman bisa sama Sekala. Biar kamu cuman sayang sama Sekala.”
“Sekala itu rusak, Jeremiah. Sekala itu bukan malaikat. Sekala itu broken pieces of something that never even whole to begin with. Menurut kamu, apa Sekala yang seperti ini masih pantas untuk dicintai? Do broken pieces that can only pretend, pretend, pretend, and pretend—are actually worthy of love?”
Jere tarik Sekala dalam pelukannya, hancurnya Sekala bukan rahasia untuk Jere. Tetapi membiarkan Sekala mengungkapkan betapa rusak dirinya dari sudut pandangnya sendiri berhasil menghancurkan sesuatu dalam Jere.
“Aku sayang kamu, Sekala Felix Maheswara. Aku sayang kamu dengan segala ketidak sempurnaanmu, kalau kamu yang meminta, aku akan bertekuk lutut memohon ampun pada Tuhan yang telah aku tinggalkan buatmu. You said you’re not an angel, tapi Sekala akan selalu jadi malaikat untuk Jere.”
Tangisan yang pecah malam itu akan menjadi tangis terakhir bagi keduanya, Jere bersumpah atas apapun yang ada di dunia.
—
Setelah mengisi bensin dan kembali mempersiapkan diri menghadapi perjalanan. Akhirnya, Sekala menyalakan lampu dan mengambil selipan kaca yang selalu ia simpan di mobil Jere. “Mata aku bengkak abis, hahaha.”
Jere tarik tangan Sekala untuk memberikan kecupan kesekian mereka malam itu, “Tetap cantik. Sekala cantik.”
“Hahaha! Bisa banget sekarang ngomongnya.”
Jere menyalakan mesin mobil dan kembali bawa Sekala pergi entah kemana.
“Je,” panggil Sekala. Tatapannya mengarungi wajah tampan Jere tanpa tahu malu, senyum kecil mewarnai wajahnya.
“Hmm?” Jere lirik pemilik hatinya dari samping mata. “Kenapa, angel?”
Belum sempat Sekala buka suara, tiba-tiba tabrakan dari samping mobil menghantam mereka. Semuanya menghitam, pandangan Jere mengabur, nafasnya sesak dan seluruh tubuhnya sakit. Merah, merah, merah. Pandangannya mengedar mencari sosok malaikat yang begitu ia sayangi.
Ketika menangkap bentuk tubuh Sekala, Jeremiah berteriak panik dan linglung. Jere berlari ke arah Sekala, ia tidak ingat kakinya dapat menekuk seperti itu, ia juga tidak peduli. Sekarang yang penting hanya Sekala.
Jere bawa tubuh Sekala dalam rengkuhannya, “No, no, no, NO, angel you can't do this to me, Kala, Sekala, angel please I beg you—”
Sekala paksakan diri untuk buka matanya yang berat, “Je, you know what’s funny? I'm standing at the death door, and yet … I never felt so free before—“
“Angel, stop talking, please, I beg you, angel—“
"Jere … boleh tolong peluk Kala lebih erat? Hari ini dingin ya … harusnya tadi kamu sempetin ngambil jaket sebelum bawa aku kabur." Tawa Kala beradu dengan batuk yang terus mengeluarkan darah dalam tubuhnya.
“Kala … sayang—Tuhan, siapapun, aku mohon—“
“—Je … Jere …”
“Kala, aku mohon, Ka—“
“—I’m sorry, maafin aku ya ..? Aku sayaaaaaaang banget … sa .. ma …ka….”
“... Kala? Sekala? Angel? No, you can’t do this to me. Angel come one, hey? Sekala …?”
Jere pernah mendengar, kalau tubuh manusia yang kehilangan nyawa akan langsung terasa berbeda bila disentuh. Katanya, kehangatan yang dimiliki oleh manusia itu akan menghilang secara perlahan.
Nyatanya, malam itu Jere tidak bisa merasakan apapun walau ia memeluk tubuh Sekala sekuat mungkin. Nyatanya, malam itu Jere tak berhenti menangis walau nafasnya telah terhenti.
—
“Je, we will be together forever, yeah?”
“Yes, I will never leave your side, angel.”
“Even if death do us apart?”
“Then I will seek you in every world, every universe, every lifetime. I will never leave you alone.”
“Hahaha, lucu banget si kamu. What if there’s no next life?”
“Kalo gitu aku bakal berantem sama Tuhan, biar kita gak akan dipisahkan sampai kapanpun.”
“In another life?”
“In another life, Sekala, always.”
------------------------------------
Epilog
Tumpah ruah, resah gundah, biar kali ini mereka mencinta.
“Woi! Jeremiah! Katanya abang lo lanjut ke Harvard cuy? Sinting kah?! Pinter amat!”
Jere tertawa sambil membalas rangkulan setengah hati temannya, “Iyalah! Abang gue tuh njir, kemarin Bunda masak semua makanan kesukaan semua orang serumah! Beneran pesta.”
“Kok lo nggak ngajak si! Males banget punya temen pelit, ya gak Jun?!”
“Jere tolong dong ini temen lo mulutnya di lakban, berisik banget asli bercicit mulu.”
“Kurang ajar! Gue sebagai sohib lo berdua, gak terima ya dibully begini.”
Jere melanjutkan perjalanannya sampai ke sisi lapangan tempat penerimaan murid baru, “Adji, Juna, kalo masih bacot gue gak jadi traktir kalian mie ayam hari ini.”
“Buset Jeremiah anak Bunda, kok bisa ya cowok modelan lo gak laku…”
Jere menggelengkan kepalanya sambil mencubit legan Adji, “Gue tuh lagi nyari orang, bukannya gak laku.”
“Jere mah gak lakunya gara-gara personality burik kali!” Tambah Juna.
Jere baru bersiap untuk mencubit Juna, sebelum pandangannya menangkap sosok anak kelas 10 yang sedang dipeluk oleh Mamanya. Rambut hitam agak panjang dengan taburan bintang di wajahnya—”Je lo kenapa?!”
“Kok tiba-tiba nangis woy?!”
Jere memegang pipinya sendiri dengan sedikit linglung, “Loh? Kok … kok gue gak bisa berhenti senyum ya?”
“Tapi air mata lo ngalir terus Je!”
“Gue, seneng banget nggak tau kenapa.”
‘I found you, angel.’
