Work Text:
Kalau ditanya kapan waktu favoritnya, maka Mingyu akan menjawab ketika ia sampai di sekolah dan bertemu teman-teman.
Dibanding teman-teman seusianya, guru-gurunya selalu bilang kalau Mingyu adalah anak yang sangat bersemangat. Ketika ditanya di kelas, dia akan selalu jadi orang-orang pertama yang mengangkat tangan meskipun jawabannya tidak selalu benar. Dia juga menjadi orang yang tidak pernah takut untuk memanjat permainan apa pun yang ada di playground. Mingyu juga akan menjadi orang yang langsung berlari ketika temannya terjatuh dari monkey bars dan melaporkannya kepada guru.
Maka, bukan hal mengherankan kalau pulang ke rumah bukan menjadi hal favorit sebagaimana beberapa teman lainnya.
Mingyu bilang, rumahnya terlampau sepi. Mamanya baru pulang sekitar pukul enam atau tujuh, kadang-kadang lebih dari itu. Dan meskipun Kak Jeonghan selalu ada untuknya, Kak Jisoo yang selalu memasakkan makanan yang enak untuk dia, juga Kak Seungcheol yang siap mengantarkan dia ke manapun, rumah akan jauh lebih baik jika lebih ramai dengan mama.
Tetangga rumah mereka tidak punya anak seusia Mingyu, kebanyakan hanya kakak-kakak SMP dan SMA yang jarang keluar untuk bermain. Selain itu, hanya ada restoran dan kafe yang baru-baru ini dibangun di sekeliling rumah mereka. Meski jalanan rumahnya jadi agak ramai, tetapi bukan itu yang Mingyu inginkan.
“Kak, aku boleh enggak, ajak temen-temen ke rumah aku?” Tanya Mingyu suatu hari, membuat Jeonghan yang sedang menyusun puzzle langsung mendongak.
“Mingyu mau main sama temen-temen di rumah?”
Si kecil langsung mengangguk kencang. Tangannya dikepalkan bersamaan dengan wajahnya yang berubah menjadi lebih gemilang.
“Nanti aku tanyain ke mamanya Mingyu, ya.”
Waktu harapannya itu terjadi, Mingyu menjadi orang yang paling bahagia hatinya. Mengeluarkan semua mainan yang ia miliki, dia ajak teman-temannya itu untuk melakukan segalanya. Berlari-larian di halaman belakang, bermain PlayStation di ruang tamu, makan puding mangga dan coklat buatan Kak Jisoo yang paling enak sedunia.
Mingyu merasa bahwa hari akan selalu lebih menyenangkan jika dilalui bersama-sama, dengan teman-teman, dengan keluarga yang lengkap, dengan banyak orang yang melingkupinya. Jadi, ketika teman-temannya itu pamit satu per satu, dadanya semakin kosong melompong, serasa kehilangan potongan penting, tidak peduli selelah apa tubuhnya.
“Nanti mama ngomong sama mama-mamanya, biar next time bisa ngumpul-ngumpul lagi. Sekarang, Mingyu bobo dulu, ya?”
Lantas, dia bisa apa selain menurut?
Orang-orang yang lebih tua selalu bilang kepadanya, jika Mingyu tidur lebih cepat, maka hari esok akan datang lebih cepat pula kepadanya. Ia hanya perlu menutup matanya, dan setelah itu, pagi akan langsung datang dan Mingyu bisa memulai harinya dengan banyak orang lagi.
Tetapi ada kalanya, otak kecilnya itu enggan berhenti berpikir, tidak mengizinkan dia untuk mengakhiri hari dan sekadar beristirahat. Justru, pikirannya melanglang buana, berandai jika ia punya teman di rumah untuk diajak bermain sepuasnya. Ia tidak perlu merasa sedih lagi ketika mengucapkan selamat tinggal, karena Mingyu tau kalau teman andaiannya ini akan selalu ada di sisinya. Mungkin mereka bisa mengendap-endap ke dapur bersama, memakan puding sampai kenyang dan kembali ke kamar sambil tertawa kecil karena berhasil melakukan operasi rahasia.
“Mingyu bisa enggak, punya temen kayak gitu?”
“Bisa, kalau Mingyu punya adek. Tapi Mingyu harus nungguin adeknya besar dulu, baru bisa diajak makan puding.”
“Memangnya kenapa?”
“Soalnya kalau masih bayi, enggak bisa makan pudingnya Mingyu.”
“Memangnya enggak bisa langsung besar?”
Jeonghan menghela napas sedikit sebelum mengulum senyum, lalu mengelus rambut Mingyu perlahan.
“Kalau Mingyu maunya punya temen seumuran Mingyu, dia enggak bisa tinggal di sini sama kita. Nanti dicariin sama mama papanya.”
Laki-laki itu langsung mencebik, merasa kecewa dengan jawaban Jeonghan. Dia pikir, apa sulitnya mengajak seseorang untuk tinggal di rumah ini? Mereka punya kamar kosong yang biasa ditempati oma dan opa atau keluarga lainnya ketika berkunjung. Temannya itu bisa tidur di sana. Mingyu juga tidak masalah kalau harus berbagi kamar dengan temannya, mungkin itu akan lebih menyenangkan.
Namun, mamanya itu sama saja seperti Jeonghan. Mereka bilang, keinginan Mingyu sulit untuk diwujudkan. Mamanya terus meyakinkan dia kalau akan ada playtime lainnya dengan teman-teman sekelas Mingyu atau dengan anak teman-teman mamanya. Itu membuatnya cukup senang sih, namun tetap tidak bisa membuat Mingyu lupa kalau pada akhirnya, dia akan tetap mengucapkan selamat tinggal.
“Hari ini Mingyu mau ngapain? Mau lanjutin nonton Paw Patrol yang kemarin?”
“Mau!” Jawabnya bersemangat.
“Okay, nanti abis ganti baju dan makan, kita nonton ya. Mau ajak Kak Seungcheol juga, enggak?” Jeonghan mengarahkan pandangan ke Seungcheol yang sedang menyetir di depan sana. “Sama Kak Jisoo juga.”
“Mauu!”
“Oke, nanti aku bilangin ke Kak Jisoo juga.”
“Yay, rame!”
“Iya rame, kan mau nemenin Mingyu.”
Pipinya itu ditarik pelan, membuat si kecil langsung tertawa geli. Mungkin menonton bersama kakak-kakak tidak seburuk itu juga. Mereka selalu baik dengan Mingyu, jadi seharusnya, acara menonton mereka ini akan cukup menyenangkan.
Biasanya, ketika mobil sudah memasuki garasi, Mingyu akan langsung bersiap untuk turun dari mobil dengan semangatnya yang seperti biasa. Dia akan berlari menuju pintu dan menyapa Kak Jisoo yang biasanya sedang menyiapkan makan siang untuknya. Setelah itu, dia akan ke kamar untuk ganti baju dengan bantuan Kak Jeonghan.
Tetapi hari ini, suara ngeong kucing menarik perhatiannya, seperti membunyikan alarm dirinya.
“Ada suara kucing!”
Dibanding langsung berlari menuju rumah, Mingyu memilih untuk berjalan keluar dari garasi, mengikuti instingnya dalam mencari kucing yang ia dengar dengan jelas. Sesekali ikut mengeong dan berjongkok untuk memanggil wujudnya.
“Kucingg, kamu di mana….”
Mungkin sekitar lima menit, kalau Jeonghan yang terus mengekori Mingyu itu tidak salah hitung, sampai Mingyu menemukan kucing kecil itu dan mengangkat tubuhnya ke udara.
“KETEMU!” Seruannya itu penuh kebahagiaan, seakan berhasil memenangkan sebuah perlombaan. Jeonghan sendiri jadi tidak tega kalau harus menyuruh Mingyu untuk melepaskan kucing itu dan meninggalkannya.
Kucing di tangannya itu masih kecil sekali, mungkin baru beberapa minggu. Warnanya abu-abu gelap, cenderung ke hitam, meski ada beberapa bagian yang coklat-coklat karena tanah. Namun yang membuat Jeonghan mengernyit dan yang menjadi pertanyaan Mingyu pula adalah kacamata kecil yang bertengger di hidungnya itu.
“Kok kucingnya pakai kacamata? Memangnya kucing suka baca?”
“Mungkin dia kucingnya tetangga, terus dipakein kacamata sama yang punya.”
“Tapi kok dia di rumah kita?”
“Mungkin dia nyasar, Gyu.”
“Mingyu enggak mau balikin….”
Mingyu bukan anak yang sekeras kepala itu. Meski ambisinya kuat, dia akan menurut jika dilarang untuk melakukan sesuatu. Jeonghan bisa saja menyuruhnya untuk menurunkan kucing itu dan meninggalkannya, mengatakan kalau pemiliknya akan sedih jika tau kucingnya hilang dan justru diambil oleh Mingyu.
Tetapi ada bagian dari dirinya yang mengatakan bahwa mungkin, tidak ada salahnya untuk membiarkan Mingyu menjaga kucing kecil ini sebagai temannya. Orang tuanya tidak akan ada di rumah hingga tiga hari ke depan, waktu yang cukup untuk Mingyu menjaga kucingnya hingga ia bosan. Dan meski ini akan jadi tugasnya sendiri untuk memastikan kalau kucing kecil ini tidak buang air di sembarangan tempat, kalau itu bisa membuat Mingyu kecil senang, kenapa tidak?
“Kucingnya suka mandi!”
Memandikan kucing kecil ini bukan menjadi suatu perkara yang terlalu sulit, sebuah surprise kalau menurut Jisoo yang juga memelihara kucing di rumahnya. Tetapi mungkin karena kucing ini masih terlalu kecil dan sudah terbiasa dengan air, lagi pula dia baru mengadopsi kucingnya ketika sudah agak besar, jadi menurutnya, agak sulit untuk dibandingkan.
Hal kedua yang Mingyu sadari adalah bagaimana kucing kecil ini minum susu formula khusus bayi kucing yang tadi Jisoo beli dengan lahapnya. Mingyu rasa, dia sudah tersesat agak lama dan cukup kelaparan, agak membuat hatinya terenyuh dan kasihan dengan kucing malang ini. Kalau dikelilingi kakak-kakak saja masih dia rasa kurang, Mingyu tidak bisa membayangkan sedihnya kucing kecil ini yang tersesat sebatang kara. Kalau Mingyu menjadi dia, mungkin dia sudah menangis sekeras-kerasnya.
“Kucingnya tidur, ya?”
“Enggak deh, Gyu. Dia ikut nonton juga.” Jawab Jisoo, memajukan tubuhnya sedikit dan menyadari kalau kucing berkacamata ini benar-benar menatap lurus ke arah televisi di depan sana, seakan menonton Paw Patrol sebagaimana Mingyu dan yang lainnya.
Tangan Mingyu kemudian bergerak untuk mengelus kepala si kucing perlahan, mengelus telinganya dengan ujung jari telunjuk.
“Meng-Meng bobo aja….” Ujar dia lagi, kali ini mengelus kepala hingga ke tengkuk si kucing.
Lucu bagaimana kucing kecil ini benar-benar langsung menutup matanya, berbaring di atas bantal di pangkuan Mingyu dengan antengnya. Sedikit banyak membuat dada Mingyu terasa penuh, dibuat senang sekali karena punya kucing selucu ini. Untuk punya sesuatu yang bisa ia perhatikan, yang menarik perhatiannya, yang bisa ia jaga. Mungkin kucing ini memang dihadiahkan untuknya sebagai teman untuk menemani Mingyu, dan sebagai yang selalu menginginkan itu, Mingyu tidak bisa berharap lebih baik lagi.
“Aku bisa bobo sama Meng-Meng, enggak?”
“Meng-Meng harus ditaruh di dalam box dulu, Mingyu.”
“Kata Kak Jisoo gitu?”
“Iya, kata Kak Jisoo gitu.”
Melihat Mingyu cemberut bukan hal baru, tapi untuk melihat dia menggendong kucing yang ukuran kepalanya lebih kecil dari kepalan tangannya jelas membuat Jeonghan langsung tersenyum.
Dia bawa kucing itu ke dalam pelukannya, “aku mau tidur dulu ya, Meng-Meng. Have a sweet dream. Besok kita ketemu lagi.”
Sesemangat apa pun Mingyu pergi ke sekolah, dia tidak pernah langsung melompat turun dari kasur sesaat setelah membuka matanya. Berlari menuju ruang tamu, ia angkat kucing kecilnya dari box, meletakkannya di ceruk lehernya.
“Good morning, Meng-Meng!”
Dan setelah-setelahnya adalah salah satu Mingyu terbahagia yang pernah Jeonghan lihat sejak pertama kali menjaga Mingyu sepenuhnya di rumah ini.
Kalau dia sedang tidur siang, Jeonghan biarkan kucing itu untuk tidur di atas dada Mingyu dengan pengawasannya. Sesekali dia angkat agar pergerakan tubuh Mingyu tidak membuat kucing itu jatuh dan tertiban.
Mingyu sendiri juga merasa bahwa keberadaan kucing ini adalah apa yang dia butuhkan, satu-satunya teman yang bisa dibiarkan untuk tinggal di rumahnya. Tangan mungilnya itu mungkin tidak bisa dia ajak untuk bermain PlayStation, tidak bisa juga untuk diajak merakit lego, tetapi halaman belakang rumahnya sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk berlari-larian dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup.
“Semoga kita bisa sama-sama terus ya, Meng-Meng.”
Kucing kecil itu mengeong dan Mingyu pikir, itu adalah persetujuan.
Tetapi hidup sebagai anak kecil itu adalah yang paling banyak aturannya. Mereka yang punya kuasa untuk mengizinkan dan mengatakan tidak atas apa yang anak kecilnya pinta. Dan meski seharusnya selalu ada alasan yang bisa diterima, ada kalanya alasan itu tidak masuk akal dan hanya membuat kecewa saja.
“Tapi Mingyu mau sama Meng-Meng!”
“Mingyu, denger mama! Kamu enggak tau itu kucing siapa, dia sehat atau enggak. Mama bisa cariin kamu kucing yang lebih lucu dari itu.”
“Mingyu enggak mau sama kucing lain!”
“MINGYU!”
Detik itu, yang bisa Mingyu lakukan hanya memeluk kucingnya lebih kencang dan berlari ke kamarnya. Ia biarkan dirinya untuk menangis dan terisak, sebelah tangannya mengelus kucing itu yang main mengeong kecil di dalam pelukannya.
Mingyu sama sekali tidak mengerti kenapa mamanya harus melarang Mingyu menjaga Meng-Meng-nya ini. Selama tiga hari belakangan, mereka sudah merawatnya dengan baik. Kucing kecil ini juga tidak memecahkan vas apa pun seperti di Tom & Jerry. Lantas, kenapa mamanya justru mau memberikan kucing lain yang tidak Mingyu inginkan?
“I’m sorry, Meng-Meng…,” ujarnya, setengah terisak. “Maaf ya, mama aku jahat sama kamu.”
Untuk pertama kalinya, Mingyu enggan menutup matanya dan pergi tidur. Seratus persen yakin kalau mamanya akan mengambil si kucing di tengah tidurnya. Meski kucingnya sudan tertidur di dalam pelukannya, Mingyu enggan untuk melepasnya.
Ketika Mingyu bangun di pagi hari, ia sudah berada di balik selimutnya, bukan di lantai yang dingin lagi. Hal pertama yang terbesit di pikirannya adalah kucingnya yang turut hilang dari pelukannya. Langkahnya langsung membawa dia ke ruang tamu, mencari box kucingnya sudah menghilang.
“Meng-Meng mana?”
Tanpa perlu mendengar jawabannya, seharusnya Mingyu sudah tau kucing kecilnya itu dibawa ke mana. Terakhir kali ia merasa kecewa, mungkin ketika menyadari kalau papanya pergi dari rumah. Ketika hari-harinya hanya berisi tantrum dan mogok makan hingga membuat Jeonghan kewalahan.
Satu rumah ini juga masih ingat bagaimana Mingyu kebanyakan menangis di kamarnya, sedikit-sedikit menyerukan “mau ketemu papa” dengan isakan di setiap silabelnya.
Kalau saja Jeonghan punya kuasa lebih, mungkin ia berani untuk melarang Mama Mingyu untuk membuang si kucing dengan lebih keras, menjadi lebih keras kepala ketika menjelaskan kalau kucing itu bisa menjadi sumber kebahagiaan baru untuk Mingyu. Tetapi, memangnya dia siapa? Jawaban dingin yang Mama Mingyu berikan itu sudah cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia sedang tidak berada di kondisi yang paling baik untuk diajak bernegosiasi.
“Mingyu enggak mau sama kucing yang lain?”
Anak laki-laki itu langsung menggeleng keras-keras. “Enggak, Mingyu mau Meng-Meng.”
“Kalau Meng-Meng udah pulang ke rumahnya, gimana? Mungkin Meng-Meng juga punya mama yang nungguin di rumah. Sekarang, dia bisa ketemu lagi sama mamanya.”
Ia tampak berpikir sebentar, lalu mengernyit sebelum membenamkan wajahnya ke bahu Jeonghan. Kembali menangis sembari menerima elusan lembut yang pengasuhnya itu berikan pada punggungnya.
“Nanti Mingyu doain Meng-Meng ya, semoga Meng-Meng bisa seneng-seneng terus sampai gede.”
Spontan, Mingyu mengangguk. Menarik kepalanya dari bahu Jeonghan, ia mengangguk lebih kencang lagi.
“Iya…. Nanti, nanti Mingyu doain Meng-Meng.”
Orang-orang dewasa juga suka bilang kalau Mingyu menginginkan sesuatu, maka ia harus berdoa. Dua tahun lalu, Mingyu menjadi orang yang paling bahagia di dunia karena doanya dikabulkan. Dia benar-benar mendapatkan mobil-mobilan yang bisa ia naiki sebagai hadiah ulang tahunnya. Persis seperti yang dia sebut dalam doanya. Katanya, itu karena Mingyu sudah menjadi anak yang baik, jadi ia berhak untuk mendapatkan hadiah itu.
Namun, di bulan-bulan setelahnya, hingga satu tahun lebih berlalu, papanya tidak pernah kembali. Tidak peduli sebanyak apa pun Mingyu berdoa sebelum ia tidur atau sebelum ia makan hingga ketika gurunya di sekolah meminta para siswa untuk berdoa, Tuhan tidak pernah mengabulkan doanya.
“Mingyu anak nakal, ya?” Tanya dia kepada Jeonghan di suatu hari.
Laki-laki itu, sebagaimana biasanya, selalu menjadi orang yang paling lembut yang Mingyu kenal. Jeonghan elus pipinya. Di matanya itu, seakan memancarkan keyakinan yang membuat Mingyu harus percaya.
“Mingyu enggak nakal kok. Mungkin, doanya bukan enggak dikabulkan, tapi belum aja.”
“Tapi nanti dikabulin?”
“Belum pasti sih. Kalau memang itu baik untuk Mingyu, pasti bakal dikasih.”
“Memangnya papa enggak baik?”
Helaan napas langsung terdengar.
“Aku enggak tau, yang tau cuma Tuhan. Tapi Mingyu bisa berdoa terus, biar Tuhan mau ngasih tau jawabannya apa ke Mingyu.”
Tetapi hari itu dan hari-hari setelahnya, yang ada hanya doa yang berikan untuk Meng-Meng. Supaya kucingnya itu dilindungi dari orang jahat dan tidak kelaparan. Supaya Meng-Mengnya bisa bertemu dengan keluargnya yang sayang dengan dia.
Mingyu panjatkan doa itu sembari mendongak menatap langit, mendapati bintang yang bersinar dengan terangnya di atas sana. Berharap kalau di entah mana, sedang ada bintang jatuh yang bisa mengabulkan doanya.
Biasanya, Mingyu akan bersiap tidur sekitar pukul setengah sembilan malam. Kadang-kadang diantar mama, namun ada saatnya ketika Mingyu ingin mengobrol dengan Kak Jeonghan atau diceritakan soal macam-macam.
“Kak Jeonghan punya sesuatu yang kakak sayang banget, enggak?”
“Uhm… Mingyu. Aku sayang banget sama Mingyu.”
“Selain Mingyu, kalau gitu.”
“Apa ya?” Jeonghan berpikir sebentar, mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. “Keluarga aku, terutama adik aku. Dia umurnya lebih kecil dari Mingyu.”
“Adiknya Kak Jeonghan di mana?”
“Di rumah, lumayan jauh dari rumahnya Mingyu.”
“Adiknya Kak Jeonghan enggak sedih kalau Kak Jeonghan pergi?”
Ada senyuman yang mengembang sebelum tangannya mengelus kepala Mingyu pelan, “sedih, tapi aku selalu ingetin dia kalau aku pasti pulang sambil bawa makanan kesukaannya.”
“Mingyu mau ketemu adiknya Kak Jeonghan!”
Butuh lima menit lainnya hingga Jeonghan berhasil meyakinkan Mingyu kalau mereka bisa membahas pertemuannya dengan adiknya esok hari, meminta anak kecil itu untuk tidur dulu. Namun, butuh tiga menit saja hingga Kak Jeonghannya keluar dari kamar dan meninggalkan Mingyu yang kembali membuka mata. Ia pandangi sekeliling kamarnya yang remang-remang, memandangi berbagai mainan di rak yang ada di ujung ruangan.
Hari ini bisa dibilang sebagai hari yang cukup menyenangkan. Mama mengajaknya untuk ke tempat bermain raksasa dan mereka membeli kue coklat favoritnya. Anak-anak di tempat bermain itu juga tidak ada yang menyebalkan, semuanya menyenangkan, meski Mingyu tidak tau siapa nama mereka. Kalau saja masih ada Meng-Meng, mungkin hari ini akan jauh lebih baik lagi.
Ketukan di jendela membuat Mingyu langsung terperanjat.
Yang barusan itu suara apa? Pikirnya.
Butuh beberapa detik hingga ketukannya terdengar lagi.
Bohong kalau Mingyu bilang, dia tidak takut. Khawatir kalau itu monster atau alien yang bisa menculiknya. Mingyu tidak mau berpisah dengan mama, dengan kayak-kakaknya, dengan teman-temannya, dengan semua orang yang ia kenal.
Tetapi, rasa penasarannya itu jauh lebih kuat dibanding apa pun. Maka, ia membawa tubuhnya untuk turun dari kasur, berjalan mendekat menuju jendela yang tertutup gorden. Di tangan kirinya ada Nerf yang ia ambil dari rak sebagai senjata.
Dengan jantung yang berdegup kencang, ia tarik gordon di depannya, bersiap mengarahkan pistolnya ke depan sana.
Namun, yang matanya tangkap bukan monster, bukan juga alien seperti yang teman-temannya ceritakan, melainkan kucing berwarna gelap dengan kacamata yang sangat familiar di matanya.
“MENG-MENG!”
Buru-buru, Mingyu tarik kursi belajarnya untuk dia panjat, lalu membuka jendela kamarnya untuk membiarkan Meng-Meng masuk. Matanya sedikit berair sekarang, saking senangnya dia.
“Meng-Meng, kamu ke mana aja….” Ujarnya, membawa kucing itu ke pelukannya. Tidak ada suara ngeong apa pun, tidak ada pula perlawanan apa pun.
“Kamu kenapa balik lagi? Kalau ketauan mama, nanti kamu dibuang lagi….”
Mingyu arahkan kucing itu ke hadapannya, membuat mereka saling menatap. Kemudian, ia bawa kucing itu untuk mendekat ke arahnya lagi, sebelum mengelus-elus hidung Meng-Meng dengan hidungnya dan mencium wajahnya.
Detik setelahnya, yang Mingyu tau adalah ia terjatuh dari kursi dengan pantat dan sikunya yang lumayan sakit karena terbentur lantai. Tetapi, yang lebih membuatnya mengernyit adalah dadanya yang seperti tertindih.
Mengarahkan pandangannya ke depan, ia bisa melihat kepala seseorang yang bergerak bangkit. Di atas kepalanya itu ada sesuatu yang seperti telinga kucing. Pakaiannya serba gelap dengan kacamata bertengger di batang hidungnya. Kalau Mingyu enggak salah terka juga, seharusnya laki-laki ini seumuran dengannya.
“Kamu siapa… Meng-Meng mana….”
“Halo…, Mingyu–”
“Kok kamu tau nama aku?!”
“Jangan kenceng-kenceng! Nanti mama kamu denger.”
Sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, Mingyu masih memperhatikan laki-laki di depannya ini. Dari mana pula dia masuk? Rumahnya memang tidak tingkat, tetapi jendelanya cukup tinggi untuk anak-anak seumurannya, mustahil kalau laki-laki ini bisa memanjat masuk ketika Mingyu membuka jendela untuk membawa Meng-Meng masuk.
Tetapi rambutnya, telinganya, bahkan ekor panjang yang entah sejak kapan ada di sana membuat Mingyu semakin mengernyit.
“Kamu siapa, sih?” Tanya dia sekali lagi.
“Aku Wonwoo,” jawabnya, tangan kecilnya meremas ujung baju hitamnya. “Tapi kamu manggil aku Meng-Meng.”
Kalau ada hal yang paling mengagetkan seumur hidupnya (yang belum mencapai sepuluh tujuh tahun itu), Mingyu rasa, ini lah saatnya. Matanya langsung melebar sembari membawa tubuhnya untuk bangkit. Mengitari manusia aneh di depannya, Mingyu seperti menginspeksi. Mengelus-elus telinga tambahan di atas kepalanya itu yang langsung membuat telinga laki-laki itu memerah dan menarik ekornya yang membuat Wonwoo sedikit marah.
“Maaf, aku kira itu bohongan.”
“Ekorku beneran.”
“Kupingnya juga?”
“Huum.”
“Kamu manusia kucing?”
Wonwoo mengangguk pelan.
“Kamu sebenernya Meng-Meng?”
Wonwoo mengangguk lagi.
“Terus, kok kamu ada di sini?”
“Soalnya kamu dan kakak-kakak kamu baik, jadi aku mau tinggal sama kalian terus….”
Mulut Mingyu langsung membulat.
“Terus, kok kamu bisa berubah jadi manusia?”
“Soalnya… kamu cium aku.”
“Emangnya aku cium kamu?”
“Iya, di jidat aku.”
“Terus, kalau mau balikin kamu jadi kucing lagi, harus cium jidat kamu lagi?”
Wonwoo kecil menggeleng, “yang bisa ngubah cuma aku, tapi aku masih belajar buat balik jadi kucing lagi.”
Mingyu langsung memiringkan kepalanya.
Kalau boleh jujur, keberadaan Wonwoo di sini sangat membuatnya senang. Pertama, Meng-Mengnya kembali, meski dalam bentuk yang… berbeda. Kedua, dia bisa punya teman untuk diajak bermain. Mingyu bisa mengajari Wonwoo semua game yang dia punya. Mingyu juga berjanji kalau dia akan menjadi guru yang baik dan serius untuk Wonwoo.
Tetapi, di luar sana ada mama yang tidak menyukai Meng-Meng. Kalau dia membawa Meng-Meng dalam bentuk Wonwoo, Mingyu rasa, mama akan lebih marah lagi.
“Meng-Meng enggak ngantuk?”
Laki-laki itu menggeleng, “Mingyu udah ngantuk?”
“Iya. Tadi aku pergi main, terus seru banget! Ada flying fox nya dan perosotan yang gede banget. Abis itu, aku makan kue coklat sama mama dan Kak Jeonghan.” Jelasnya dengan mata yang berbinar. “Coba kamu ikut, pasti bakal makin seru.”
“Memangnya boleh?”
“Kalau sama Kak Jeonghan, pasti boleh.”
Kalau jam di nakasnya tidak salah, Mingyu mengajak Wonwoo untuk tidur sekitar pukul sebelas malam, rekor tidur telat terlama yang pernah ia lakukan. Dia ajak Wonwoo untuk berdoa agar besok pagi nanti, mama tidak akan marah dan mereka masih bisa bersama-sama.
Namun Mingyu rasa, doanya masih kurang serius dan Tuhan belum mau mengabulkan. Sebab ketika matanya terbuka di keesokan paginya, yang dia sadari itu bagaimana jendela sudah terbuka dan absennya orang dari sisinya. Kaki kecilnya itu langsung membawa tubuhnya untuk turun dari kasur, menengok ke arah meja yang berantakan. Buku tulisnya terbuka dengan spidol tercecar ke mana-mana.
Namun, bibirnya membentuk senyum ketika matanya memindai gambar di sana, sebuah hati dengan kata “trima kasi” dengan huruf yang sedikit sulit Mingyu baca pada awalnya.
“Mingyu, udah bangun?”
Ia langsung berbalik badan, menyambut Jeonghan di daun pintu dengan senyum terbaiknya dan anggukan terkencangnya.
“Yes!”
Untuk beberapa alasan yang sulit ia jelaskan, Mingyu merasa yakin bahwa Meng-Meng akan kembali lagi nanti untuk dia, baik sebagai kucing maupun manusia sebaik Wonwoo.
