Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Sweetest rose, and crush it till the petals fall
Stats:
Published:
2024-06-15
Words:
671
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
169

You always hurt the one you love (the one you shouldn't hurt at all) II

Summary:

Jaemin pernah membaca, musim juga dapat menjadi trigger untuk PTSD seseorang. Rasa familiar yang musim itu hadirkan memantik ingatan buruk Haechan dan mimpi-mimpi gelapnya. Maka disinilah mereka sekarang, pindah ke negara yang hanya memiliki 2 musim. Berharap Haechan dapat membaik.

Work Text:

Singapura — November 1965

 

Suara televisi yang masih menayangkan berita euphoria merdekanya negara Singapura sayup-sayup menemani kegiatan sore Jaemin yang sedang mempersiapkan teh untuk kekasihnya.

 

Setelah mendengar kemerdekaan Negeri kecil ini bulan juli lalu, Jaemin dan Haechan memutuskan untuk pindah ke negeri yang dulunya berada dalam kedaulatan Malaysia ini. Meninggalkan flat sederhana mereka di Paris. PTSD yang Haechan alami tak kunjung membaik saat mereka berada di Perancis. Jaemin pernah membaca, musim juga dapat menjadi trigger untuk PTSD seseorang. Rasa familiar yang musim itu hadirkan memantik ingatan buruk Haechan dan mimpi-mimpi gelapnya. Maka disinilah mereka sekarang, pindah ke negara yang hanya memiliki 2 musim. Berharap Haechan dapat membaik.

 

Sweetie, what do you think? biscuits or donut?” Jaemin bertanya riang sambil mempersiapkan piring dan kue-kuenya. Tak kunjung mendapat jawaban, Jaemin memalingkan muka ke arah kekasihnya yang duduk di samping jendela.

 

Jaemin berjalan mendekat, memijat pelan pundak Haechan yang masih sibuk memandang ke arah luar jendela.

 

“Sayang mau ke luar? taking a nice walk before the sun set down? hmm?” Jaemin bertanya lagi.

 

I wonder what my kids are doing right now. I miss them” Mata Haechan masih fokus pada sekumpulan anak-anak yang tengah bermain di taman bermain tak jauh dari rumah mereka.

 

I’m sure they miss you too, hun” Jaemin tundukkan badannya, ia kecup puncak kepala Haechan.

 

Do you think they’ll let me teach again, Jaemin?” Pikiran Haechan masih mengawang. Ia remat jemari Jaemin yang bertengger di pundaknya. Jaemin berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka.

 

“Kamu guru yang hebat sayang. Ketika kamu sembuh total nanti, aku akan pastikan kamu mendapat izin mengajar di sini, ya? untuk sekarang masih banyak hal yang harus kita perhatikan untuk kesembuhanmu” Haechan alihkan pandangannya, kini menatap dua mata coklat Jaemin. Ia tersenyum tipis lalu mengangguk

 

 

We’re great Karina. Jaemin juga sudah bekerja 2 bulan di rumah sakit dekat rumah. Dan akhir-akhir ini dia mengizinkanku memetik bunga di halaman rumah sakit. I’ve got so much sun lately. we’re both super tan right now

 

Suara tawa Karina di sebrang sana terdengar nyaring mengundang senyum Jaemin dan Haechan.

 

Satu tahun belakangan ini memang sangat berat bagi Haechan dan Jaemin. Teror dari orangtua Haechan yang tiada henti, mimpi-mimpi buruk Haechan. Belum lagi fisik dan mental keduanya yang dipaksa untuk beradaptasi di 2 negara berbeda. Tapi keinginan Haechan untuk sembuh membuat keduanya kuat.

 

Perlahan senyum Haechan mulai muncul, Lelaki manis itu juga sudah senang memulai percakapan dengan orang baru. Tidak lagi mendorong Jaemin ketika kekasihnya menyentuhnya. Oh! Dan jangan lupakan juga Haechan yang mulai develop interest in flowers. Hobi baru katanya, Mengkategorikan bunga-bunga indah yang mekar di negara beriklim tropik.

 

But you know what the folks said, nothing comes without a price.

 

Haechan mungkin secara fisik berangsur-angsur membaik. Tapi semua trauma yang ia dapat dari tempat terkutuk itu masih terus menghantuinya. Mengikuti tiap jejak Haechan walaupun 15 ribu kilometer jauhnya.

 

The electric shock that he got. Terkadang masih dapat Haechan rasakan di permukaan kulitnya. Membuatnya merinding setiap saat. They said, you will feel a little bit euphoria after it happened. Sebelum ia perlahan melupakan sedikit demi sedikit memorinya. Tapi yang Haechan dapat rasakan hanya rasa sakit yang tak berujung. Ia selalu memberontak selama disana. Berusaha sekeras mungkin agar tidak melupakan kehidupannya yang lalu, agar tidak melupakan Jaemin-nya.

 

Then it happened. Para Dokter gila itu mulai berdiskusi. Accusing him full of evil. Segala akses milik Haechan di cabut. Mereka mengurungnya dalam ruangan pengasingan. Terikat dan sendirian.

 

Para iblis penentang tuhan memenuhi jiwa Haechan — hanya itu pembelaan dari mereka di depan mahkamah agung — yang berujung dengan penandatanganan persetujuan untuk melobotomi Haechan oleh negara.

 

They drilled his front brain.

 

Merusak lobus frontalnya. Ia tidak lupa. Ia masih mengingat seluruh hidupnya, temannya, Jaeminnya. Serta seluruh kejadian yang terjadi di dalam Briarcliff.

 

Haechan tahu, bahwa ia mencintai Jaemin. Tapi Haechan tidak tahu bagaimana rasa cinta itu. Haechan tidak tahu lagi apa itu bahagia, sedih, marah. Lelaki itu kehilangan seluruh emosinya.

 

Ia kerap terduduk di tengah malam sendirian. Merenung dalam diam karna takut membangunkan Jaemin yang tertidur.

 

Little did he knows, Jaemin pun tak lagi dapat tertidur tenang sejak hari itu.