Actions

Work Header

Sengat Kalajengking Pantai

Summary:

Bamby dan si kasih berlibur di pulau terpencil dengan hotel dan fasilitas yang mewah, oh— bagaimana bisa Do Eunho disengat kalajengking?!

Dan oh! BERHENTI MENGGENDONG DO EUNHO DI HADAPAN BAMBY!

Notes:

Saya hanya mengetahui informasi mengenai sengatan kalajengking dari artikel kesehatan.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Menyetujui permintaan si kasih untuk membuang waktu di salah satu hotel ternama yang terletak dalam pulau terpencil tidak dapat menyimpulkan bahwa Bamby cinta gila dengan si kasih. Bamby memang cinta gila— Minggu yang ditandai sebagai hari keberangkatan mereka menuju lokasi yang dimaksud merupakan hari-hari sibuk bagi Bamby untuk mengekori ayahnya bertugas. Meskipun jadwalnya mengekori bolong sebab ia boloskan tidak akan membuat Bamby dicoreng sebagai pewaris, tetap saja si anak ini merasa tidak enak.

 

Untung saja Bamby sayang dengan si kasih sehingga ia rela mengemis restu dari keluarganya.

 

“Seandainya kamu ajak aku ke hotel di pegunungan. Jangankan menginap untuk lima hari, sebulan pun aku mau. Bakal rela aku sujud di kaki ayah aku biar diizinin. Biaya aku bayar semua juga aku oke.”

 

Do Eunho yang bersandar di sampingnya mendelik,”Kok gitu sih, yang?! Aku udah capek-capek loh ngumpulin duit. Kalau enggak mau liburan bareng ya udah, bisa ajak Bang Noah—”

 

“Jaga mulutnya ya!” Bamby menjentikkan jarinya di bibir si perak. “Kita ke sana juga karena Mas Yejun, kan. Kalau bukan karena tiket dari Mas Yejun dan kenalannya di sana, pasti kita enggak ada di sini.”

 

Memanyunkan bibirnya, “Iya sih…”

 

“ ‘Duh, seharusnya aku pukis -nya ke Mas Yejun, bukan ke kamu,” gerutu Bamby.

 

“Jaga mulutnya!” Kali ini giliran Do Eunho untuk membungkam paksa pintu suara itu dengan telapaknya. Menghasilkan Bamby memberontak di kursi pesawatnya hingga membuat seorang pramugari menghampiri dan bertanya apakah Bamby merupakan anak yang tengah diculik pria berambut belang.

 

Sejujurnya, tanpa Bamby mengemis pun keluarga Chae akan tetap menerima ajakan dari calon menantunya itu. Do Eunho sudah lolos kriteria menantu jalur orang dalam. Dari ujung akar terdalam hatinya pula Bamby rela membangkang dari perintah ayahnya bila itu untuk Do Eunho. Itu juga kalau ayahnya keukeuh untuk menekan jadwalnya kepada Bamby. 

 

Berada di pesawat tidak dapat membuatnya leluasa untuk berbuat banyak. Hiburan yang Bamby bawa untuknya mengisi waktu di udara juga bisa dihitung jari di sebelah tangan. Terlalu mengandalkan kekasihnya untuk menghibur membuat Bamby menyesal sendiri tidak mengangkut banyak. Terlebih kekasih yang dimaksud sekarang sedang mendengkur lembut di sisinya. Rasa jenuh tidak akan mendorong Bamby seenaknya membangunkan Do Eunho. Tidak mau jujur, Bamby itu sayang sekali dengan Do Eunho. Geli saja mengakui. Ada saja gombalan dan segala kiat milik pria itu mencari perhatian membuat Bamby sedikit, tidak, sangat muak untuk membalas. 

 

Puji syukur si pelaku tidak tersadar. Bamby bisa sepuasnya merasa sayu dan dramatis untuk mengenang dan melamunkan hubungan mereka. 

 

Lampu pesawat yang samar membuat Bamby sedikit kehilangan penglihatan. Membuka penghalang jendela pesawat pun sama saja. Hari sudah malam. Tidak ada yang dapat menopang Bamby dalam penerangan. Menyalakan senter di ponselnya sama saja bunuh diri, penumpang lain akan terganggu. Bamby yang tidak takut gelap memerlukan peralihan agar pikirannya tidak melayang. Jadilah dirinya berusaha memaku pandangannya kepada Do Eunho seorang. Terkadang memiliki kekasih pucat bak mayat yang dibekukan ada untungnya juga. 

 

Di mana tadi kita? Ah, iya. Bamby sulit secara terang-terangan membalas atensi dari Do Eunho.

 

Namun, soal percaya diri akan ikatan di antara Bamby dapat membuat tinggi Bamby berada di atas Gunung Jayawijaya. Gini-gini, jangan meremehkan mereka ya!

 

Mereka juga bisa romantis!

 

Dahulu Bamby pernah diundang mendatangi perayaan yang diadakan Han Noah. Yang sampai sekarang Bamby tidak tahu menahu apa asal dan sebab acara itu dilaksanakan. Mungkin bule gadungan itu hanya bosan dan kesepian. 

 

Sepulangnya dari acara itu, Bamby yang merajuk lantas dihujani sapaan-sapaan sayang dari Do Eunho. Bamby juga bisa manja. Do Eunho yang senang berkontribusi dalam manja dan dimanjakan pun selalu berlapang dada mendengar permintaan Bamby terutama semasa dia bermasam hati. Surai merah muda memerintah, surai perak mengindah. 

 

Gemas deh.

 

Intinya di sana mereka menerima bombardir berbagai pertanyaan yang sewilayah. “Kalian serius pacaran?”, “Love language kalian apa sih? Unik bener”, “Capek enggak berantem mulu?”, “Ini pacarannya bukan karena dipaksa kan?”.

 

BUKAN!

 

Mereka ini cinta sejati!

 

Walau Bamby hanya akan mengakuinya setelah mereka mati nanti. Tetap saja cinta sejati!

 

Belum sempurna apabila sang penyusun acara ikut bertanya, “Kalau Eunho ketemu sama yang bisa manjain dia 24 jam, gimana? Eunho kan suka tuh clingy-clingy gitu.”

Tidak akan ada gimana-gimana sebab mereka adalah CINTA SEJATI, CINTA MATI, CINTA TIDAK TAHU DIRI! 

 

Bulol? BULOL LAH MEREKA!

 

“Kamu tuh kalau dumel berisik banget, gila…” keluh pria di hadapannya tiba-tiba. Meregangkan tubuhnya. Do Eunho meraih botol dari sisinya dan meneguknya keras. 

 

“Loh, bangun?” Yang baru bebas dari tidurnya bukan dia, tetapi Bamby lah yang mengerjap linglung, “Aku enggak ngedumel?” Kala Do Eunho berkumur dan meminum air bekas kumurannya, Bamby mengernyit.

 

“Bisa kedengaran suara di otak kamu tanpa ngomong pun.”

 

Memutar matanya, “Oh, gitu. Maaf udah berisik.”

 

Do Eunho terkikik dan segera melingkari lengannya di sekitar Bamby. “Apa deh. Jangan lucu-lucu dong, nanti aku kebelet pipis.”

 

Ketat di dalam kungkungan Do Eunho, Bamby yang tidak ingin dilepas oleh hangat itu hanya menjepit tangannya ke tengah. Memberikan kesempatan bagi si kasih untuk semakin mengencang pelukannya. “Apa hubungannya?”

 

“Katanya pemanis buatan bikin sering pipis.”

 

Meski semu menyapu wajahnya, Bamby tidak ingin menerima begitu saja gombalan dari calon, batuk, suaminya. “Maksud kamu, aku ini artifisial? Enggak alami?”

 

“Iya, buatan manusia. Buatan om dan tante Chae.”

 

“Heh!” Bamby segera memutar lehernya demi membalas Do Eunho dengan tatapannya. Naas! Do Eunho lebih cepat dan segera menyapa bibir Bamby dengan miliknya. 

 

Lembab.

 

Saat pemilik surai perak itu memundurkan kepalanya. Garis wajah di kulit pucatnya itu terlalu lembut untuk membuat Bamby mengeraskan ekspresinya. Kelopak putra keluarga Chae kini berkerlip lambat. Pemandangannya memburam terkecuali untuk manusia di depannya. Penumpang lain yang melintas di jalan sempit pesawat berubah menjadi bayang-bayang berhamburan disandingkan dengan Do Eunho. 

 

Kekasihnya yang kini menutup setengah kedua matanya membuat Bamby tidak memiliki pilihan lain selain larat dalam genre yang dibawa oleh kecupan tersebut. 

 

Mungkin ini akibat dari lingkungan mereka berada. Di ladang manusia tertidur. Ketukan di dada Bamby terdengar keras. Bulu kuduk halus miliknya terasa mengusap nakal tubuhnya. Tingkah singkat pemberian si kasih terasa berkali-kali lipat lebih menggoda dibanding dalam keadaan biasa.

 

Kedua bibir lembab yang belum ia rapatkan sehabis “heh” itu sekarang ia satukan ke tengah hingga membentuk wujud hati kecil yang empuk. “Lagi,” bisiknya.

 

Sama-sama memiliki sisi remaja cinta monyet yang berbunga-bunga. Do Eunho mengikuti jejaknya dalam menaikkan darah merah itu ke kedua pipinya. Beruntung si penulis membuat latar itu dalam pesawat di jam malam. Sedetik kelabakan, detik berikutnya mereka bersembunyi di balik jaket milik Do Eunho untuk mencuri sun di bawah lampu redup pesawat. 

 

Ah, apa lah balas dendam itu. Lebih baik ciuman dulu.

 

Perjalanan mereka tidak berhenti begitu saja, mereka masih perlu berlayar menggunakan kapal untuk sampai ke tujuan. Lagi-lagi. Peluk dan kiss untuk Nam Yejun yang telah mempersiapkan banyak hal untuk dua sejoli ini. Kapal feri yang mereka tumpangi menghadiahkan mereka sesi untuk merebah di atas kasur. Setelah berjam-jam bertekuk lutut di pesawat, akhirnya mereka mampu berselonjor kaki di permukaan kasur yang empuk. Terlebih untuk Chae Bonggu.

 

“Mby, kamu ngapain tidur lagi sih? Sayang loh kalau kita tidur aja di kapal.”

 

Mengerang, “Tidur lagi, tidur lagi. Kamu tuh yang tidur terus di pesawat. Aku enggak kebagian!”

 

“Siapa suruh enggak tidur.” Mata Bamby memekik, “Hehe. Maksudnya, iya, yang. Ayo rebahan bareng.” 

 

Bergeser sedikit untuk menghadiahkan si kasih celah untuk menyelip, Bamby mempersilakan Do Eunho untuk menerjun kasur sempit ini. Si kebelet serigala itu menyaksikan gestur Bamby otomatis paham alasannya. Bisa saja dirinya mengisi kasur kosong yang ada di sisi lain. Tapi tidak ah. Berdempet sempit bersama pujaan hati terbayang lebih menggiurkan di pikirannya. Tentu saja Bamby turut berpikiran sama.

 

Dengan senang hati Do Eunho pun memasangkan tubuhnya di samping Bamby. Tangannya ia paparkan agar Bamby mampu menjadikannya bantalan untuk kepala bersurai merah muda itu. 

 

Bamby menebak-nebak apa yang saat ini memenuhi otak dempul si kasih.

 

Pasti dia berpikir aku sangat menggemaskan, memang.

 

“Kamu tuh lucu banget sih! Mau remas jadinya.”

 

Kan.

 

“Remas apa?”

 

Do Eunho menjeda aktivitas menenggelamkan wajahnya di rambut Bamby, “Remas kamu?”

 

Mendongak, “Iya, bagian apa?”

 

“Bagian…” Menggulingkan bola matanya ke atas, Do Eunho berpikir. Melebarlah kelopaknya kala ia menyadari intonasi yang barusan Bamby gunakan. “Ih, kamu ngeres ya. Padahal aku enggak mikir aneh-aneh dari tadi.”

 

Hehe. Bamby bersembunyi dalam dada pria di pelukannya. Badan bongsor si kasih yang tanpa olahraga berat pun sudah terlahir seperti ini mampu menyembunyikan Bamby dari mata umum. Tidak olahraga saja tubuhnya sudah raksasa. Bayangkan jika Do Eunho memiliki otot kencang bak atlet. Otot biologis miliknya akan lebih menonjol mengalahkan Ronnie Coleman. Tidak adil. Mengapa Bamby perlu rutin berolahraga untuk meraih tubuh mengintimidasi ketika Do Eunho bisa mendapatkannya tanpa usaha? Walau begitu, tubuh besar kepunyaan Do Eunho didominasi lemak. Cukup nikmat untuk Bamby gerogoti. Hehe, enak digigit.

 

Sudah jadian pun kebiasaan lelucon jorok miliknya tidak tahu istirahat. Setiap kali ia menangkap apa yang telah ia perbuat sebelumnya, Bamby akan merasa malu sendiri. Rasanya lebih alien ketika kalian melancarkan lelucon jorok kepada orang yang biasa menjadi partner kegiatan jorok kalian. Bersama Han Noah sih dia bisa santai, bersama Do Eunho? Kesannya Bamby sedang mengundang!

 

Eh, tidak salah sih. 

 

“Kok gitu. Aneh-aneh dong,” ucapnya tersembunyi di kain kaos Do Eunho. Membuat kalimatnya terdengar buyar di telinga. Dirinya mengaduh semasa lawan bicaranya justru menekan keras dahinya di pucuk Bamby. “Apa sih!?”

 

“Kalau mau tidur tuh, tidur!” serunya sambil tertawa. Pasti sengaja agar kegiatan ini tidak bercabang ke suatu yang panas. Aneh. Kita kan udah sering! Bamby berseru di otaknya.

 

Orang gila.

 

Ya sudah. Tidur, yuk.

 

Setibanya di pelabuhan. Hal pertama yang Bamby lakukan ada mengamati area pulau tersebut sedangkan si kasih sibuk mengurusi barang bawaan mereka. Memilah yang mana yang akan langsung dibawa ke hotel oleh porter dan yang mana yang akan mereka pikul sendiri. Di sekitar pelabuhan terdapat banyak kedai kecil yang menjual jajanan-jajanan ringan. Benar-benar pulau pariwisata. Sejauh mata memandang, ia tidak melihat adanya perahu nelayan. Pusat jangkar nelayan terkadang membuat Bamby ragu melepas diri di pantai. 

 

Catatan kaki: celana Bamby sempat tersangkut di perahu nelayan. Entah bagaimana caranya. Mungkin ada kayu yang mencuat keluar atau paku yang tidak tertancap rapih. Terluka sih tidak. Terasa malu mah sangat. (Iya, ini karena Bamby yang ngeyel diperingati agar tidak berenang mendekati perahu nelayan).

 

Gedung hotel tidak terpampang, namun seharusnya berada tidak jauh dari pelabuhan. Entahlah. Bamby juga tidak begitu ingat informasi yang diberikan Do Eunho. Dia hanya tahu ini adalah pulau kecil, mengenai seberapa kecil pulau ini merupakan tanggung jawab di luar tangannya.

 

“Wah, ada bukit, yang. Bisa tuh jogging pagi buat lihat sunrise .”

 

Bamby mengangguk. Setidaknya mendapat potensi kegiatan lain selain berbasah diri di air asin. 

 

“Mau keliling dulu atau langsung ke hotel?”

 

“Hotel aja, biar enggak banyak bawaan kita. Bawaan kamu aja sih, punya aku sedikit.”

 

“Barang aku juga sedikit loh?”

 

“Ransel itu enggak sedikit ya. Kamu pikir aku enggak tau isinya banyak. Lagi pula, sejak kapan kamu itu kalau nge- date itu bawa ransel.”

 

“Iya, ya,” Do Eunho menggaruk kepalanya tidak gatal. “Lah, memang kita lagi nge- date ?”

 

“Berisik ah! Aku jalan duluan. Pak! Saya mau ke hotel—”

 

“Yang, jangan main tinggal!”

 

Mobil angkutan yang disediakan hotel membawa mereka mengemudi menuju titik akhir. Bamby dengan sigap menghafal perjalanan mereka dari akses keluar pelabuhan hingga pintu hotel. Siapa tahu kan ya. Siapa tahu tiba-tiba mereka diserang virus mayat hidup lalu memaksa mereka bertahan hidup dan kabur dari pulau ini tanpa pemandu. Do Eunho bukan masalah, pria itu jenius. Kendati tanpa dititah pun sudah hafal jalan. 

 

Satu hal yang memesona di perjalanan adalah. Ternyata hotel ini memiliki kolam renang yang, ya ampun, besar sekali. Buat apa dibangun dengan pantai mengitari bila mereka sudah punya taman air sendiri?! Buat Bamby. Kolam sebesar dan beragam itu pun masih bisa sepi saja. Wajar sih. Penginapan ini tidak terlihat main-main, tidak semua orang sanggup ke sini. Anak sendok emas ini mengakui. 

 

Tiba di hotel dan mengurusi administrasi lagi-lagi merupakan urusan Do Eunho. Bamby hanya perlu menunggu si kasih memanggilnya. 

 

“Yang, udah. Tinggal tunggu porter.”

 

Bamby mengangguk.

 

Muncullah seorang pria jumbo, mengalahkan Do Eunho. Ya ampun. Bila Han Noah melihat ini, pasti pria itu akan menggila tidak karuan. Mengapa manusia yang memiliki, astaga, apa otot lengannya menonjol dari balik kain itu? Mengapa manusia yang memiliki potensi besar dalam menguasai dunia justru memilih menjadi staf hotel? Well, Bamby tidak bermaksud kalau profesi itu rendahan. Tetapi, ya ampun 2x, banyak orang yang berlomba memiliki tubuh yang mirip binaragawan. Jika Han Noah ada di sini, pria tersebut tidak akan bisa bebas dari jeratan didikan Han Noah. GWS .

 

“Sayang?” Panggil suara si kasih. Membuat Bamby mengedipkan matanya cepat untuk sadar dari batinnya. “Bengong mulu, ayo ke kamar.”

 

“Oh, iya. Yuk.”

 

Kamar mereka terletak di lantai lims. Berada di tengah lorong. Tidak dekat maupun jauh dari mesin elevator yang berada di setiap ujung koridor. Dengar-dengar dari pacarnya sih mereka dapat kamar dengan pemandangan memuaskan.

 

Porter atau staf yang bertugas mendorong troli koper tidak bersuara. Bamby menebak mungkin dia malu sebab hari ini hari pertamanya bekerja atau mungkin saja dia terlalu bingung memulai percakapan. Hanya saja, minimal dia bisa mengatakan “lewat sini, pak” atau apa pun itu? Dia harus sujud syukur karena Bamby dan Do Eunho bukanlah duo pria lugu yang tidak pernah menyewa kamar di hotel (mahal).

 

“Di sini ya.” 

 

Langkah Bamby terhenti saat telinganya menangkap kalimat tersebut dari mulut si porter. Bisa bicara juga dia rupanya.

 

“Terima kasih, Pak! Sisanya saya aja ya,” ucap Do Eunho.

 

Pria berambut gelam yang tengah membungkuk untuk menurunkan kopor mereka menganggukkan kepalanya. Usai berkata “terima kasih kembali” kepada si kasih, staf tersebut meninggalkan mereka di kamar 504.

 

Melihat Do Eunho melangkah mendekat jendela kamar yang berskala besar kemudian menarik terbuka tirai berwarna kuning gading suram. “Lihat, yang. Bagus view -nya,” seru si kasih.

 

Unpack dulu baru eksplor kamarnya.”

 

“Hehe, oke!”

 

Dalam hal kerapihan, mereka berdua tidak saling melengkapi. Lantaran keduanya sama memiliki prioritas sendiri mengenai kerapihan dan kebersihan. Sama-sama bersih dan rapih! Beberapa kali Bamby berandai, sekiranya mereka sudah menikah nanti. Apa ada hari yang mereka isi hanya untuk memurnikan tempat tinggal mereka? Tinggal bersama dengan Do Eunho, ah… Hehe.

 

Di atas jam satu merupakan masa mereka menyudahi bongkar kopor di kamar. Cukup lama ya. Bamby mendesah. Berdoa agar di tepi mereka mengakhiri liburan, mereka tidak akan menenteng barang bawaan baru yang memperlambat sesi mengemas.

 

Mulanya Bamby hanya ingin berdiam di kamar setidaknya sampai mereka makan malam. Hanya saja…

 

“Yang, please lah. Minimal sekali dulu ke pantai. Bukannya kamu anak alam? Masa menikmati pemandangan pantai di sore-sore ogah sih?”

 

Iya, ya. Kan Bamby anak alam. 

 

Jadilah mereka memutuskan untuk berjalan di perbatasan pasir dan ombak lembut laut. Menikmati terbenamnya matahari, itu kalau mereka lama di sana sampai beruntung mendapatkannya. 

 

Ini bukan tahun maupun hari pertama mereka menjalin asmara. Namun, rasa-rasanya tetap menggelitik perut Bamby setiap mereka mengaitkan tangan. Do Eunho dengan hati berbunganya terus mengayunkan jemari terikat mereka. Apa sih, malu-maluin aja!

 

Kuat inginnya untuk mengatakan “jangan dilepas ya”, hehe.

 

Malu ah!

 

“Aduh!”

 

“Kenapa, kenapa? Kenapa?” Bamby menahan kakinya dari berjalan lebih lanjut.

 

“Ah, enggak. Kayaknya aku injak karang? Enggak tau ah, udah hilang juga.”

 

“Enggak berdarah?”

 

“Kayaknya sih enggak.”

 

“Cek dulu!”

 

“Iya, iya.” Melepas sandal yang ia pakai, Do Eunho mengangkat dan memutar telapak kakinya agar terlihat, “Tuh, enggak.”

 

Mengangguk mengonfirmasi. Si kasih ini terkadang memiliki jam-jam dungu tingkat akut. Jari berdarah tersayat pisau pun perlu Bamby ungkit sampai ia sadar dan mulai merasakan perih. Mau tidak mau Bamby terpaksa selalu mengingatkan Do Eunho untuk siaga memeriksa tubuhnya sendiri apabila Bamby merasakan ada kejanggalan.

 

Adegan menapak kaki di pasir secara romantis dilanjutkan. 

 

Berhentilah mereka di suatu area yang kosong manusia. Kemudian memutuskan untuk duduk beralas pasir di sana. Bangunan tempat mereka menginap tidak terlihat. Bahkan kedai-kedai memenuhi pemandangan pelabuhan tidak sampai ke sisi pantai ini. Jika bukan karena pancaran lampu menyilaukan yang masih tertangkap kedua indra mereka. Dua sejoli ini bisa saja mengira diri mereka telah tersasar. Entah berapa lama mereka bersemedi sejajar. Hanya menikmati kehadiran masing-masing.

 

Mungkin langit yang belum teramat gelap merupakan faktor lainnya mereka tidak merasa takut. Kendati begitu, Bamby telah memutuskan untuk menyelesaikan sesi ini dan segera bangkit. “Balik yuk, No.”

 

“Ah, oke. Sebentar, sendal aku banyak pasir…” Do Eunho memukul vertikal wadah kakinya itu di atas pasir. Siapa suruh beride untuk mengubur benda berpasang itu di dalam kuburan pasir. Lamun ketika pria itu mulai menaikkan tubuhnya. “Ah!”

 

“Kenapa?”

 

“Kaki aku, yang!”

 

“Kenapa, kenapa?”

 

“Kaki aku yang kanan enggak bisa gerak!” 

 

“Apa sih, buruan bangun. Sebelum gelap nih.”

 

“Serius anjir,” gaduhnya meringis. “Kamu duluan deh, minta tolong.”

 

Demi apa, si kasih ini serius mati rasa?

 

Ini bukan siasat Do Eunho untuk mengejutkan dengan… Cincin pertunangan kan? Bamby harap bukan. Sebab dia sudah terlanjur panik total. “Aku gendong kamu aja, No!”

 

“Badan sekecil itu? Angkat aku? Gila kamu ya?”

 

Kamu yang gila, kurang ajar. 

 

“Maaf—”

 

Bamby memutar badannya ke belakang.

 

“—saya dengar ribut-ribut, ada apa ya?”

 

Porter tadi! 

 

Berdiri di tengah semak. Di bawah langit yang menghitam ini? Setan kah dia? Sedang apa pula ada di sini?! Stalker?!

 

“Kaki saya enggak bisa gerak, Mas,” jawab Do Eunho.

 

Ah! Dasar si kasih! Seenaknya saja dia jujur. Bagaimana kalau pria ini ternyata buronan! Sejak awal dia begitu mencurigakan. Kesan pertama yang ia berikan juga tidak memuaskan. Tidak bisakah si kasih ini lebih berhati-hati?

 

“Coba saya lihat.”

 

“Ah, iya. Terima kasih. Tolong bantuannya ya, Mas.” 

 

Porter itu menyahut dengan anggukan. “Permisi ya, Pak.”

 

“Iya, Mas,” balas, lagi-lagi, Do Eunho sembari mempersilakan pria itu dengan bebas menyentuh kakinya. “Kami orang muda, Mas. Jangan pakai “pak”, hehe.”

 

Dan bisa-bisanya si kasih ini malah bergurau?!

 

“Kalau gitu… Kak?”

 

Jangan membalas candaannya juga, wahai porter mencurigakan!

 

“Oh, ini mah sengat kalajengking, Kak,” porter itu menginfokan.

 

Jangan mengusap-usap kaki Do Eunho!

 

Tidak, Bamby. Pria itu tidak mengusap-usap kaki Do Eunho. Dia hanya mencari bila ada benjolan di kaki si kasih. Tapi apa lah.

 

“Emang di pantai ada kalajengking?” sungut Bamby.

 

“Um, saya juga kurang tau. Bisa aja ada.”

 

“...”

 

“Ini sugesti aja. Hukum tarik-menarik, Pak.”

 

Mengapa Bamby mendapat panggilan “pak” sementara Do Eunho adalah “kak”?

 

Dan apa pula alasan jelek itu? Hukum tarik-menarik? Are you for real ?

 

“Mending bawa segera saya ke dokter aja enggak sih?”

 

“Eh, iya, Kak.”

 

Bamby juga tahu, sengat kalajengking seharusnya lebih bisa ditoleransi dibandingkan milik ubur-ubur atau makhluk lainnya. Dirinya juga enggan menyalahkan Do Eunho yang bisa-bisanya tidak fokus sampai tidak merasakan tusukan oleh kalajengking. Hanya saja. Mendiagnosis keadaan ORANG LAIN dengan lantang alasannya adalah dia percaya sugesti merupakan… Apa lah, malas Bamby berdebat.

 

“Saya permisi ya, Kak.”

 

“Buat apa— NJIR?!”

 

“Lebih baik saya gendong aja ya, Kak. Maaf.”

 

PORTER MACAM APA YANG SEENAK JIDAT MENGGENDONG GAYA PENGANTIN WANITA KEKASIH ORANG LAIN TANPA ADA KONSENSUAL DARI ORANG TERSEBUT MAUPUN PASANGANNYA? Tugasmu itu bawa kopor, bukan bawa si kasih orang. Hey!

 

Gila.

 

“Di sini enggak ada rumah sakit, Kak. Adanya puskesmas.”

 

Bamby bisa melihat Do Eunho yang masih dilanda keterkejutan hanya mampu menganggukkan kepalanya. 

 

Cemburu? Iya, Bamby cemburu. Tidak sampai membuatnya sedih sih. Cemburunya condong ke kesal saja. Tetap cemburu. Memang pria ini punya apa, semaunya saja menyentuh badan si kasih dan mengabaikan Bamby. Jelas-jelas mereka beda kelas, Bamby itu menggemaskan. Do Eunho suka Bamby, begitu juga dengan sisi menggemaskannya. Jadi pria ini seharusnya tidak ada lawan untuk Bamby. Seharusnya… Kan?

 

Cemburu menyakitkan adalah ketika Bamby sadar diri bahwa lawan dan dirinya berada di tingkat yang sama. Memberitahukan jika si kasih bisa saja direbut kapanpun itu. Atau ketika Do Eunho memberikan perhatian dan ketertarikan jelas terhadap lawan. Tidak peduli jika itu hanyalah platonik. Lalu yang ini? Bamby tidak menyukai manusia yang arogan. Namun, bila itu menyangkut si kasih. Jangankan arogan. Menjadi diktator pun ia menyanggupi. Sangat kontras status di antara mereka. Pria, cih, berotot besar tanpa asal usul yang jelas dan, cih, tampan. Di sisi lain Bamby yang indah, menggemaskan, memiliki otot dalam takaran yang (katanya) Do Eunho suka, kaya raya, calon miliarder sukses (bantu doakan), dan tampang bak ukiran patung dewa mitologi. 

 

Rasanya menyebalkan. Greget!

 

Bila Do Eunbo lebih tenang diangkut pria lain yang bukan Bamby, Bamby bisa apa. Nanti Bamby bisa melampiaskan kekesalannya setelah ini usai kok. Bersiap babak belur kamu, Do Eunho!

 

Dirinya bisa saja berdiam diri menyaksikan si kasih dibawa pergi untuk menampilkan kekesalannya. Terlebih lengan yang tampak enak digigit itu sekarang mengalungi diri di leher si porter. Namun, melihat tatapan memelas dari balik pundak si porter tersebut membuat hati Bamby luluh. Mata layu itu berteriak keras “jangan tinggalkan aku, sayang!”. Kasihan sekali ekspresinya. Tidak tega Bamby. Mereka juga tidak ada yang tau bila porter ini benar membawa Do Eunho ke puskesmas atau tidak.

 

Akhirnya si surau merah muda mengekori dua pria bongsor yang saling mengitari lengan ke satu sama lain itu ke “puskesmas". 

 

Puji Tuhan. Porter tersebut betul mengantar Do Eunho ke pusat kesehatan yang terletak tidak jauh dari kolam renang hotel. 


“Iya, ini sengat kalajengking. Seharusnya tidak begitu fatal. Tapi saya anjurkan untuk istirahat setidaknya sampai bengkaknya menghilang.”

 

Liburan di pantai lima hari tanpa menggunakan kaki?

 

“Keren banget kamu, Do Eunho,” puji Bamby satir. 

 

“Aku bahkan enggak tau aku tadi disengat kalajengking??”

 

Dokter di hadapan mereka tertawa kecil. “Memang efek samping kalajengking sering tidak instan kok, Pak. Kadang sampai satu jam kemudian baru muncul. Enggak jarang kami terima kasus sengat kalajengking di sini. Efeknya suka beda tiap orang. Jarang juga fatal.”

 

Keduanya mengangguk mencerna.

 

“Seperti yang saya bilang. Kurangi pergerakan kaki dulu. Kalau ingin mempercepat pengempisan bengkak, bisa kompres pakai air es.”

 

Dokter tersebut mengatakan bahwa mereka tidak bisa menggunakan kursi roda di sini sebab. Ini gila. Tetapi ternyata kursi roda di pulau ini sedang habis dipakai para pengunjung! Maksudnya? Apa artinya pemandangan sepi kolam renang itu diakibatkannya banyak pengunjung yang tumbang akibat kalajengking? Begitu?

 

Dokter itu mengundurkan diri, meninggalkan Bamby yang heran mencari cara membawa Do Eunho ke atas. Dia meminta si kasih untuk duduk di ruang konsultasi dokter sebentar sementara dirinya tengah mencari solusi. Membuka pintu dan…

 

“Ah, bapak yang tadi.”

 

Syaiton. Porter ini lagi!

 

“Sudah selesai, Pak? Mau balik ke kamar kapan?”

 

“Sekarang,” balas Bamby kecut.

 

“Kakaknya mana?”

 

“Buat apa?”

 

“Saya bantu gendong ke kamar.”

 

“Enggak perlu. Makasih ya.”

 

“Kursi roda di sini habis loh, Pak.”

 

Entah bagaimana. Lamun cara manusia ini menyusun kata dan kalimatnya ini terdengar familiar. Terdengar seperti, siapa ya? Manusia pirang dengan cetar yang dibumbui unsur narsis. Siapa ya… 

 

Dihadang dilema. Iya sih, apa lagi yang bisa memberikan bantuan kalau bukan… Ah, iblis! Tidak ada cara lain!

 

“No!” panggil Bamby. “Kamu digendong om-om tadi enggak apa-apa kan?”

 

Dahi si porter berkedut.

 

“Om-om mana, yang?”

 

“Om porter tadi.”

 

“Hah, eh. Um. Kalau enggak ada jalan lain, ya udah deh.”

 

Mengawasi si paling bongsor menggendong Do Eunho. Demi apa pun. Dia bisa memilih gaya gendong lain selain GENDONGAN PENGANTIN WANITA. Bamby tidak buta ya. Tidak seperti Do Eunho yang tidak peka. Bamby sadar. Gestur dan tatapan nakal itu—

 

Dia menaksir si kasih!

 

Tidak, Bamby. Pria itu sejauh ini tidak, atau belum, pernah melempar tatapan dan gestur nakal. 

 

Dipikir-pikir. Dia kuat juga ya. Ototnya bukan aksesoris semata rupanya. Sedari tadi dia berjalan bermeter-meter dari tepi pantai antah berantah hingga puskesmas. Sekarang pun dilanjut menuju kamar Bamby dan si kasih.

 

Memang bukan main manusia seperti ini. Ajak turnamen gelut pun Bamby pasti kalah.

 

Merebahkan tubuh Do Eunho di atas kasur. Porter itu berkata, “Kalau gitu saya permisi dulu ya, Pak, Kak. Jika ada apa-apa bisa telepon resepsionis kami.” Sebelum akhirnya keluar dari kamar mereka.

 

“Iya, terima kasih, Mas.”

 

Bamby yang masih manyun-manyun hanya berdiri menonton adegan di depan kasur. 

 

“Kamu tuh kalau cemburu disembunyiin dikit napa. Keliatan banget,” goda Do Eunho. 

 

“Kalau enggak suka aku cemburu tuh bilang!”

 

“Hehe, jadi gemes tau,” kekehnya tidak lucu. “Lagian kok bisa cemburu. Aku kan top sejati, yang.”

 

“Top tap top tap. Anusmu nih sekarang juga aku tancap!” Kakinya menendang-nendang permukaan lantai, “Aku enggak buta ya. Kamu malu-malu sama porter itu!”

 

Mendesah lelah, “Siapa juga yang enggak malu digendong setengah hari anjir…”

 

Eh, “Iya sih.”

 

“Udah ah. Mending bobo yuk.”

 

“Tapi kamu belum makan malam…” cicitnya. Walau begitu ia tetap menuruti ajakan si kasih dan merangkak di sampingnya. Menidurkan kepalanya di atas dada si kasih. Jarinya yang lebih mungil dibanding milik Do Eunho menari-nari di atas perut surai perak.

 

“Emang kamu lapar? Kalau lapar, kita bisa panggil room sevice .”

 

Sedikit…

 

“Enggak. Ya udah, kita tidur aja yuk.”

 

“Hm?” Do Eunho mengecup keras rambut merah muda itu. Menimbulkan suara “muah” yang luar biasa memalukan. “Oke. Met bobo, yang.”

 

“Met bobo, No.”

 

“Ah…”

 

“Kenapa?”

 

“Porter tadi, dadanya keras banget— Aw! Apa sih?”

 

“Kamu lebih suka dada dia?!”






Notes:

“Bang, kira-kira teman abang itu ada kesempatan putus enggak?”

“Kalau orang ketiganya itu lu, ya ada. Gede malah.”

“Hehe. Kok tau, Bang, maksud Hamin apa.”

“Nenek gua cenayang.”

Berawal dari menyaksikan video TikTok suatu pasangan yang salah satunya disengat lebah di kakinya sehingga memaksanya untuk dipikul oleh salah satu staf hotel selama perjalanan. Otomatis teringat, “Ah, ini mah eunby.” Sampai akhirnya hamgeung berhasil menyerang titik lemah saya. Sialan si hamgeung itu!

Seperti yang dikatakan di tagar. Awalnya ini akan menjadi cerita konflik berat cinta segitiga tapi lain waktu saja ah! Wkwk.

Di balik panggilan “si kasih” juga ada sejarah dan alasannya. Tapi sama seperti sebelumnya, nanti saja ah! Gua hanya mau menginfokan kalau sebutan itu bukan salah ketik atau apa pun itu.