Work Text:
12 Oktober 20xx
“I… Have crush on you Eita….” Sepasang netra coklat Semi membelalak kaget. “Huh?” Banyak sekali pertanyaan yang berkeliaran dikepalanya. Apakah pria didepannya ini baru saja terbentur dibagian kepalanya? Pasalnya, tiba-tiba sekali sosok bernama Oikawa Tooru menyatakan cintanya terhadap dirinya. Padahal bukan rahasia lagi jika setter sekaligus kapten tim Aoba Johsai itu membenci para pemain asal sekolahnya, Shiratorizawa academy.
“Apakah… Kau baik-baik saja Oikawa-san? Sepertinya kau baru saja terbentur…?” Tanya Semi tak yakin. Bahkan rekan setimnya yang diam-diam menguping pun sama terkejutnya. Iya, dia tau kalo Tendou dan lainnya tuh lagi nguping. Salahkan rambut Tendou yang berwarna merah menyala abangkuh itu yang sangat mencolok.
Oikawa kemudian tertawa kecil. Semi sedikit berjengit kaget. “Aneh bukan? Aku juga tak paham dengan perasaan ku…” Ujarnya perlahan sembari menundukkan kepalanya. “Tapi bagaimanapun juga aku tak bisa membohongi perasaan ini” Lanjutnya sambil tersenyum lembut kearah pria bermarga Semi itu.
Oikawa kemudian pamit pergi, tidak berniat mempermalukan dirinya lebih dari yang telah terjadi. “Aku juga!” Teriak Semi dengan wajah yang menunduk. Pipinya yang berwarna pucat kini menjadi merah. Langkah kaki Oikawa pun ikut terhenti karenanya. Dibelakang dinding belokang, Tendou dan lainnya menganga kaget. Bahkan seorang Ushijima pun ikut menganga kaget.
15 Oktober 20xx
Semenjak kejadian digedung olahraga itu, kini Oikawa dan Semi resmi berpacaran. Hari ini kebetulan sekali sekolah Semi memperbolehkan para muridnya untuk pergi berkeliaran diluar area akademi. Semi memainkan jemari-jemarinya dengan gugup. Dinginnya angin musim gugur tak dapat mengalahkan rasa gugup dalam dirinya. Dirinya bahkan tidak menyadari jika tubuhnya sendiri telah menggigil kedingingan.
Pluk
“Huh?” Semi mendongak kaget saat merasakan syal disekeliling leher jenjangnya. Netra coklatnya membelalak kaget. Pipinya terasa panas. Diatasnya, terlihat Oikawa yang tengah memakaikan syal miliknya yang berwarna abu-abu pucat itu kearahnya. Senyuman menawan terlukis diwajah tampannya itu. “O-Oikawa-san…” Gumamnya pelan.
Senyuman diwajahnya semakin lebar mendengarnya sebelum berganti menjadi cemberut main-main. “Mouuu… E-chan! Berapa kali aku bilang, panggil aja Tooru! T.O.O.R.U!” Ujarnya dengan nada kesal main-main. Oikawa bahkan mengeja namanya sendiri dan memberikan penekanan disetiap hurufnya. Semi tertawa kecil saat melihatnya.
“Hai hai~ Tooru-san~ Gomenne!” Balas Semi dengan nada main-main dan senyuman manis diwajahnya. Oikawa yang melihat itu pun sedikit terpana. Ia kemudian mencubit pipi Semi yang agak tirus itu dan mengunyel-unyelnya layaknya mochi. “Awww! Swakwittt!!” Keluh Semi. Oikawa kemudian melepaskannya dan tertawa kecil.
Semi pun cemberut kesal dan menggerutu. Namun gerutuannya tiba-tiba saja terhenti saat Oikawa mencuri ciuman diam-diam darinya. Oikawa kemudian pergi duluan meninggalkan Semi yang mematung kaget. “Tooru!!!” Teriaknya yang hanya dibalas tawa dari Oikawa.
19 Oktober 20xx
Oikawa meminum tehnya dengan tenang. Entah kenapa hari ini, pertemuannya dengan Semi terasa sangat tegang. “E-” Ucapan Oikawa tiba-tiba saja dipotong oleh Semi. “Oikawa” Potongnya. Pria yang lebih tinggi pun menatap bingung kearah pria yang lebih mungil itu. Karena tiba-tiba sekali Semi memanggilnya menggunakan nama marganya, bukan nama miliknya. Meskipun ada kalanya Semi keceplosan, tetap saja ini terasa berbeda…. Rasanya seperti ada sesuatu yang salah… Tapi apa?
“Aku…. Punya permintaan” Oikawa tambah bingung. Tapi dia cuman menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia dapat menyanggupi apapun permintaan sang kekasih. Semi menggigit bibir bawahnya sebentar, tanda bahwa ia ragu. Namun Oikawa tetap diam menunggunya dengan setia. “Tetaplah…” Semi terdiam ditengah kata-katanya.
“‘Tetaplah’?” Beo Oikawa bingung. “Tetaplah… Bersamaku… Hingga aku ulang tahun…. Aku Mohon…” Gumamnya perlahan. Semi menundukkan kepalanya. Sepasang netra abu-abu tajamnya menitikkan air mata. Ia tahu… Ia tahu jika dirinya hanyalah sebuah mainan yang akan dibuang setelah bosan. Semi tau jika Oikawa tidak benar-benar mencintainya.
Ia tau jika Oikawa memacarinya adalah karena dare dari teman-temannya itu. Ia juga tau jika kencan kali ini sebenarnya Oikawa ingin memutuskannya. Jadi ia ingin menghindarinya… Walaupun itu hanyalah sebulan, setidaknya biarkan lah dirinya merasakan kebahagiaan walaupun itu hanyalah sebuah kebohongan. Semi tidak peduli jika ia harus hidup bahagia dalam kebohongan… Setidaknya untuk kali ini…
Tolong biarkanlah ia bahagia…
20 Oktober 20xx
Hebat… Oikawa dan Semi terlibat pertengkaran hebat hari ini. Keduanya bersitegang karena suatu masalah kecil. Atau begitulah menurut Semi…
“Semi… Kau yang terlahir dengan bakat tidak akan mengerti bagaimana ra-”
“‘Bakat’?! Bakat apanya Tooru?! Aku tidak punya bakat! Aku.Tidak.Punya.Bakat.Apapun!” Balas Semi berteriak. Keduanya kini berada di lapangan voli indoor milik umum. Oikawa berlatih hingga larut malam, bocah itu tidak kehabisan akal meskipun ia telah diusir dari gymnasium sekolahnya. Iwaizumi lah yang mengabari Semi tentang hal ini. Awalnya Semi hanya menelpon dan menchat Oikawa, namun tak kunjung mendapatkan balasan.
Semi yang tengah dalam jam belajar mandirinya yang telah dijadwalkan sekolahnya pun nekat kabur. Ia menitipkan absennya dirinya itu kepada Reon yang tengah belajar disampingnya. Mengabaikan fakta bahwa Reon kelimpungan karena Tendou juga absen. Dan kini, disinilah ia. Bertengkar dengan kekasihnya. Oikawa hampir saja melayangkan tamparan kearah kekasihnya yang lebih kecil itu.
“Oi! Apa kau gila hah Shittykawa?!” Teriak Iwaizumi sambil menahan tangan Oikawa yang terangkat hendak menampar Semi. Oikawa yang awalnya dibutakan oleh amarah akhirnya sadar. Ditatapnya sosok Semi yang mengangkat tangannya dalam posisi bertahan.
Deg!
Dengan perlahan, Semi membuka kedua matanya yang tertutup. Sepasang netra abu-abu itu terlihat berkaca-kaca menahan tangisannya. “Semi-san, sebaiknya kau kembali ke akademi mu” Ujar Matsukawa. Ia pergi kemari bersama Iwaizumi dan Hanamaki tepat setelah Semi menchat Iwaizumi, berkata bahwa ia mungkin akan membutuhkan pertolongan. Namun ia cukup terkejut saat melihat Oikawa hampir menampar Semi.
Karena sebrengsek apapun Oikawa, Matsukawa tau jika ia tak akan pernah menampar orang lain (mari kita kecualikan Iwaizumi) apalagi jika orang itu adalah pasangannya sendiri. Semi yang masih dalam keterkejutannya hanya mengangguk lemah. Iwaizumi kemudian menyuruh Matsukawa mengantar pulang Semi, sedangkan ia dan Hanamaki mengurus Oikawa.
27 Oktober 20xx
Semi menatap diam bola voli ditangannya. Sudah seminggu ini ia tak fokus. Fokusnya selalu teralihkan pada malam itu. Malam dimana ia bertengkar dengan Oikawa. “Eita!!!” Semi langsung tegak pas diteriaki Washijou-sensei. Kadang ia lupa jika pelatihnya adalah jelmaan iblis. Eh enggak deng, iblis pun keknya minder liat kelakuan tuh kakek-kakek bangkotan.
Ia kemudian akhirnya memulai latihan servis miliknya sembari memikirkan tentang bekal yang ia kirim ke Oikawa. Iya, dia membuat bekal sebagai permintaan maafnya. Kalo boleh jujur, ia ingin menelpon agar mereka bisa bertemu, namun karena kejadian ia kabur dan keciduk, alhasil ponselnya disita. Ia menitipkan bekalnya kepada temannya yang lokasi rumahnya tak jauh dari SMA Aoba Johsai itu.
“Permisi” Semi mengabaikan suara yang berasal dari pintu Gymnasium itu. “Eita!” Teriak Washijou-sensei memanggilnya. Semi kemudian menghampiri nya. Terlihat sosok gadis muda. Sepertinya anak SMP. Ia membungkuk sebagai tanda hormat kepada sosok yang lebih tua. “Semi-san, ini ada yang menitipkan bekal ini. Yama-san meminta ku untuk mengantarkannya untuk Semi-san” Ujarnya sembari memberikan paper bag berisi bekal. “Eh? Arigatou” Ujarnya.
Malamnya, Semi membuka bekal itu. Terasa sudah dingin. Sepertinya diantarkan saat jam makan siang. Pantas saja Yama-san, satpam akademinya meminta seseorang mengantarkannya. Sepasang netra coklatnya membelak kaget. Didalamnya terlihat bekal yang telah disusun sedemikian rapihnya. Namun yang menarik perhatian nya adalah keberadaan secarik kertas di atasnya.
‘Maaf atas kejadian kemarin, aku benar-benar frustasi. Maafkan aku E-chan (◞ ‸ ◟ㆀ)’
- Oikawa Tooru
Senyuman kecil terbit diparas cantiknya itu. Diusapnya perlahan kertas itu. “Dari siapa?” Tanya Reon yang baru saja selesai mandi. “Oh, dari Tooru” Jawabnya yang hanya dibalas ‘oh’an dari Reon. “Jadi kau tidak akan makan malam di kafetaria?” Tanya nya lagi yang diangguki Semi. “Aku makan disini saja, tapi mungkin akan kedapur untuk memanaskannya”
Setelahnya ia pun mencicipi masakan Oikawa. “Ugh! Asin…” Gumamnya. Tanpa ia ketahui, dibelakang kertas tadi masih ada tulisan milik Oikawa.
‘Kalo rasanya aneh maafin ya, gak pinter masak ૧(ꂹີωꂹີૂ)’ Tulisnya.
28 Oktober 20xx
“Hey…”
“Hey…” Semi tersenyum kecil saat melihat pemandangan dimana Oikawa bela-belain naik pagar asrama hanya untuk menemuinya. “Maaf tiba-tiba datang tengah malem gini” Ujar Oikawa sembari melompat turun dari pagar. Semi menjauh sedikit saat melihatnya kemudian menggelengkan kepalanya. “Ie…Tidak apa-apa kok,” Jawabnya sembari tersenyum kecil kearahnya.
Oikawa kemudian mengelus sebelah pipi Semi. Semi yang digituin pun memejamkan matanya, menikmati elusan lembut dari sosok yang lebih tua. Oikawa yang melihatnya pun tersenyum kecil, ia kemudian memajukan tubuhnya, mengecup kening dari pria bermarga Semi itu. Sepasang netra coklat Semi membelalak kaget saat dicium. Ciuman itu terus berlanjut, dari kening kemudian pipi dan berakhir dibibir.
Jika kalian berfikir itu adalah ciuman panas dan penuh nafsu maka kalian salah, ciuman itu hanyalah sebuah ciuman polos. Dua pasang bibir saling menempel menjadi jembatan antara perasaan keduanya. Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit kemudian terlepas saat keduanya mendengar suara teriakan guru piket yang biasa berkeliaran dimalam hari untuk memastikan para siswa tidak kabur.
Oikawa kemudian menarik Semi berlari. Awalnya mereka hanyalah kejar-kejaran tanpa arah hingga Semi yang menarik tangan Oikawa menuju arah lain. Keduanya tertawa kecil. Mengabaikan teriakan guru itu.
31 Oktober 20xx
Drap drap drap
Suara langkah kaki terburu-buru melintasi lorong di Rumah Sakit. Pikiran Oikawa kacau. Sedetik yang lalu ia masih melihat rupa sang Ibunda di rumah menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya, sedetik kemudian ia mendapatkan telepon bahwa sang Ibunda berada di Rumah Sakit karena mengalami kecelakaan…
“Okaa-san!!!”
“Tooru!”
“Eh?!”
Atau itu lah yang ia bayangkan. Didepannya, terlihat sosok Ibunda tengah duduk disamping ranjang Rumah Sakit. Tunggu… Jadi Ibunya bukan korban kecelakaan?! Lalu mengapa pihak Rumah Sakit menelpon seakan-akan Ibunya adalah korban?! “Anda terburu-buru mematikan teleponnya Oikawa-san” Ujar seorang Dokter seakan-akan mengetahui apa isi pikirannya.
“Eh?!” Oikawa kemudian minggir dari pintu UGD. Dokter itu kemudian masuk untuk memeriksa keadan korban aslinya, yaitu Semi Eita. Oikawa diem dulu, ngeproses apa yang sebenarnya terjadi. Dan ternyata saat Ibunya berbelanja tadi, ia tanpa sengaja menyerempet seorang siswa Shiratorizawa yang tengah jogging, dan kebetulan siswa itu adalah Semi yang tengah pemanasan sebelum berlatih.
2 November 20xx
“Apa kau seriusan baik-baik saja?” Semi terkekeh kecil saat mendengar suara khawatir sang kekasih. “Iya, aku baik-baik saja Tooru. Tenanglah” Jawabnya. Semi kemudian menyelesaikan memakai kemeja sekolahnya yang berwarna baby blue itu. “Sedang apa kau sekarang?” Tanyanya. Semi bersenandung sejenak. “Sedang mengganti baju, aku baru saja selesai jam olahraga” Jawabnya. Tak lama kemudian panggilannya dimatikan. “Eh? Kok? Apa jaringannya ya?” Gumamnya pelan.
Tak sampai sedetik kemudian, Oikawa kembali menelponnya. Atau spesifiknya vidio call.Wajah Semi langsung memerah dan menolaknya mentah-mentah.
Tooru❤
Kenapa dimatiin E-channn?!?!? :(
Semi kemudian membalasnya dengan voice note. “Cabul!!” Ujarnya sedikit meninggikan suaranya. Ia kemudian mengeratkan blazer putih miliknya. Mendapatkan tatapan tanya dari Ushijima yang juga tengah mengganti bajunya disampingnya. Entah kenapa Semi dapat mendengar suara Oikawa yang tertawa. Ia pun menggerutu kesal. Bahkan ia sempat beberapa kali membentak temannya. “Apa salah gw nyet?!” Balas Hayato yang tiba-tiba diamuk oleh elang betina satu itu.
3 November 20xx
“E-channn!!!” Teriak Oikawa sembari menerjang kearah sosok yang lebih mungil. “He?! HEEE?!?!?!”
Brukk
Keduanya pun terjatuh sebab Semi yang kaget dan tak sempat menahan tubuh bongsor Oikawa. Oikawa kemudian menarik Semi bangun dan memeluknya erat. Jujur saja, ia masih merasa bersalah atas kejadian Semi keserempet Ibunya itu.
Hari itu mereka berencana untuk pergi berkecan ke gallery yang baru saja buka. Mumpung hari itu Semi diijinkan keluar, why not?
Keduanya kemudian berjalan sembari bergandeng tangan. Semi menatap puluhan lukisan yang tengah dipamerkan disana. Tatapannya kemudian jatuh pada sebuah potret lukisan seorang wanita cantik. Wanita itu memiliki surai berwarna hitam. Kulitnya dilukis dengan campuran berbagai warna, namun yang paling menonjol adalah warna kuning. Wanita itu terlihat sedang berternak.
“Apa yang sedang kau lihat?” Tanya Oikawa menghampiri Semi. Ia kemudian melihat lukisannya dan membaca keterangannya. “The beauty of Indian” Bacanya perlahan. “Pelukisnya…” Oikawa dan Semi menoleh kearah asal suara. Terlihat seorang wanita muda yang merupakan pekerja disana.
“Pelukisnya adalah seseorang berkebangsaan Eropa. Ia jatuh cinta dengan wanita lokal suku Indian, namun sayangnya keduanya tidak dapat bersama. Gadis itu dibunuh oleh para tentara Eropa, dan sebagai bukti cintanya, Eardwulf mengabadikannya dalam lukisan. Dan kini, wanita itu abadi dan tak akan pernah mati” Keduanya mendengarkan dengan seksama.
“Romantis bukan?”
“Hm?”
“Eardwulf-san, dia sangat romantis”
“Hmmm~ Ada yang pernah mengatakan, jika kau membuat seorang pelukis jatuh cinta, maka kau akan abadi”
Semi tersenyum kecil mendengarnya. Keduanya kemudian lanjut berkeliling. “Arigatou Tooru” Oikawa menggeleng pelan. “Tidak papa” Ujarnya. Keduanya kemudian menatap satu sama lain, Oikawa melirik kearah belakangnya, terlihat sang mentari hampir tenggelam, bertukar tugas dengan sang rembulan. “Ja… Aku pulang du-”
Chuu~
Semi berjinjit untuk mencium pipi Oikawa. Oikawa yang tiba-tiba dicium pun hanya bisa mematung kaget. Rona merah pun menjalar diwajahnya. “E-E-Ei-”
“Tooru…” Oikawa menatap bingung kearah Semi yang menundukkan kepalanya. “Dont give up on me” Dengan begitu Semi melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Oikawa pun hanya membalasnya dengan lambaian tangan, tak mengerti satu pun ucapan sang kekasih.
8 November 20xx
“A!”
“Hm? Ada apa Shittykawa?” Yang ditanya tidak membalasnya, Oikawa malah menatap bingung jarinya yang berdarah karena tergores alat penelitian. Entah kenapa perasaannya tidak enak sekali sedari pagi.
Kringggg
Begitu mendengarnya, Oikawa langsung keluar lab untuk menelpon seseorang. “Oi! Shittykawa!” Panggil Iwaizumi yang diacuhkan Oikawa.
“Nomor yang anda tuju tida-”
Oikawa menghela napasnya kasar. Ia mengacak-acak rambutnya kesal. Entah kenapa sedari kemarin Semi tidak dapat ditelpon atau dikabari sama sekali. Bahkan di chat pun tidak jawab, boro-boro dijawab, dibaca saja tidak. Tubuh tingginya itu kemudian merosot. Tanpa sadar, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia melatunkan do’a kepada Kami-sama agar Semi tetap baik-baik saja.
10 November 20xx
Ringgg!!!
“Emmm…” Oikawa mengusap-usap matanya sebelum mengambil ponselnya. “Jam 11.57” Gumamnya melihat kearah jam. Ia kemudian melihat ID sang penelpon. “Schatz?” Gumamnya sendiri agak bingung. Ia diam sebentar memproses. “OH!”
“Ha-”
“EITAAAA!!!”
Terdengar suara tawa kecil diujung sana. “WAGHHHH!!!” Suara tawa itu kembali terdengar dari sisi lain ponselnya itu. “Maaf Tooru… Akhir-akhir ini aku sakit, jadi gak megang hp” Ucap Semi meminta maaf. “Heeee, kenapa gak bilang kalo sakit? Kan aku bisa bawain sup buatan Kaa-san” Balas Oikawa sembari memanyunkan bibirnya. “Tidak usah, nanti malah repot.”
Keduanya kemudian asik mengobrol sebentar. “Apa kau ingin aku menjenguk mu nanti siang?” Tanyanya. Tak ada sahutan diujung sana. “Eita?”
“Um… Aku mau…”
“Ngomong-ngomong, Tooru. Aku punya permintaan”
“Hmmm? Ada apa?”
“Bisa kah kau membawakan bunga tulip merah?”
“Bunga favoritmu itu? Tidak masalah, aku akan membawakannya untuk mu”
Disisi lain ponsel, Semi tersenyum lembut. “Arigatou Tooru” Ujarnya agak lirih. Berharap suara lirihnya tak terdengar jelas. Ia kemudian kembali mengobrol dengan Oikawa sebelum kemudian mematikan sambungan.
Tes…
Tes… Tes…
Semi menatap sendu sebuah kertas yang berisi tulisan jeleknya. Akhir-akhir ini kondisinya tiba-tiba saja drop, padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Namun hari itu, saat sedang berlatih, ia tiba-tiba saja jatuh pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit. Dan kini dirinya tengah berada disalah satu ruangannya. Pikirannya asik menebak-nebak, kira-kira bagaimana reaksi Oikawa saat mengetahui keadaannya sesungguhnya ya? Apakah ia akan terkejut? Atau malah merasa bersalah ya? Apakah ia akan merindukan dirinya yang penyakitan ini? Entahlah… Tapi yang pasti Semi memiliki firasat bahwa sebelum ia mengetahui jawabannya, ia sudah pergi duluan.
11 November 20xx
Drap drap drap
Lagi dan lagi, Oikawa harus merasakannya kembali. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Ibunya mendapatkan telpon dari Ibu Semi. Ia menelpon Ibunya menggunakan ponsel sang anak. Oikawa kaget bukan main saat melihat Ibunya dipenuhi derai air matanya. Wanita yang sudah berumur setengah abad lebih itu memeluk putra bungsunya erat, mengucapkan kata-kata aneh.
“Eita… Eita meninggal Tooru…”
Ucapan sang Ibunda langsung menjadi komando tubuh tingginya. Oikawa langsung berlari menuju Rumah Sakit tempat Semi dirawat. Mengabaikan fakta bahwa ia berlari menuju Rumah Sakit menggunakan seragam sekolahnya.
“Eita!” Kini, disinilah dirinya berada. Terlihat sosok wanita tua yang tengah menangis dipelukkan pria yang ia asumsikan sebagai orang tua Semi. Tak jauh darinya, terlihat sosok wanita yang umurnya tak jauh berbeda darinya. Wanita itu nampak persis seperti Eitanya. Pandangannya kemudian teralihkan saat beberapa perawat tengah membawa pergi sosok yang ditutupi oleh kain putih.
Helaian coklat miliknya bergoyang. Oikawa kemudian mencegat mereka, membuka kain itu. Tak percaya pada apa yang tengah ia lihat. Dimana sosok yang biasanya tersenyum lembut itu kini telah hilang selamanya. Tubuh hangatnya kini menjadi dingin, dingin sekali… Sedingin angin musim gugur… Angin yang membuat tubuh Eitanya menggigil kedinginan.
20 Juli 2021
Oikawa menaruh buket bunga tulip merah didepan sebuah batu nisan. “Lama tak berjumpa… Eita….” Ujarnya lirih. Semenjak ia lulus SMA, Oikawa mendapatkan tawaran beasiswa penuh di Argentina. Dan kini ia mewakili Argentina dalam Olimpiade Tokyo cabang bola voli. Upacara pembukaan akan dimulai beberapa hari lagi, pelatihnya memberikan mereka cuti selama beberapa hari dan Oikawa tentu saja menggunakannya untuk mengunjungi kekasihnya. Kekasihnya yang setia menunggunya di Jepang.
Oikawa kemudian asik berbicara sendiri dihadapan batu nisan Semi. Hal itu dimulai dari permintaan maafnya karena telah pergi ke Argentina tanpa pamit kepadanya kemudian ia menceritakan hari-harinya selama di Argentina, bagaimana budaya mereka yang membuat Oikawa mengalami ribuan kali culture shock, bagaimana makanan mereka yang ternyata menurutnya terlalu banyak rempah-rempah dan semua makananya terasa pedas. Bahkan ia pernah sekali memesan sebuah ramen disana dan memintanya agar tidak pedas namun tetap pedas. “Tapi sekarang sudah baik-baik saja! Aku bisa makan-makanan pedas apapun!” Ujarnya dengan nada riang.
Ingatannya kemudian melayang jauh kemasa lalu, saat ia dan Semi berkencan, bagaimana pria yang lebih kecil itu membenci makanan pedas. Suara tawa kecil pun keluar dari sepasang bibirnya. Oikawa kemudian mengelus batu nisan itu, membayangkan ia tengah mengelus surai lembut Semi. “Aku pamit dulu Eita, pelatihku nanti marah jika aku keluar hingga larut malam” Pamitnya sambil menatap matahari yang hampir terbenam. Ia kemudian membalikkan tubuh berototnya.
Deg!
“Ganbatte, Tooru” Oikawa membalikkan tubuhnya. Ia yakin seratus persen tadi merasa dipeluk dari belakang dan mendengar suara kekasihnya itu. “Eita?” Namun tak ada jawaban yang datang. Ia pun menggaruk tengkuknya itu, merasa agak merinding. “Hiii!” Oikawa pun mempercepat jalannya itu. Tanpa ia ketahui, ada sosok yang tertawa kecil saat melihatnya. Semi tersenyum lembut saat melihat sosok Oikawa yang sekarang. Ia kemudian membalikkan tubuhnya, berjalan kearah yang berlawanan, ditelan oleh cahaya matahari.
