Chapter Text
Ini sudah dijadikan sebagai tradisi, turun-temurun, ritual penting yang tidak boleh dilwatkan bagi para anak gadis perawan di desa, terlebih jika sudah mendapatkan datang bulan pertamanya.
Cucu tercinta dari seorang nenek tua, Mbah Nurwitri. Mbah Nuwitri hidup menjanda sejak puluhan tahun karena suaminya meninggal sebab penyakit jantung. Punya anak perempuan hanya satu, yang naasnya setelah anaknya melahirkan seorang cucu untuknya, anaknya malah juga ikut berpulang menyusul suaminya.
Mbah Nuwitri hidup dengan banyak sekali cobaan, kehilangan suami dan anak untuk renta waktu yang sebentar. Namun Mbah Nuwitri tidak mau larut dalam kesedihan ketika ia menyadari bahwa setidaknya masih ada cucunya yang akan menemani.
Seorang cucu perempuan yang ia beri nama Cahya Bening Rembulan. Atau biasa dipanggil dengan Bening.
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang Bening sudah menjelma menjadi seorang gadis belia yang baru mendapatkan datang bulan pertamanya, di usia 15 tahun.
Yang artinya, sesuai dengan tradisi, maka Bening sudah saatnya untuk menjalani ritual turun-menurun yang biasa dilakukan para gadis perawan untuk memulai masa pendewasaannya.
Ritual pecah perawan, atau sebenarnya menghilangkan keperawanan.
Dengan bantuan dari seorang Bayan kehormatan desa, yang sudah membantu seluruh proses 'pendewasaan' para wanita yang ada di desa ini dari sejak puluhan tahun yang lalu.
Ritual ini penting, tidak boleh dilewatkan atau nanti jika menolak dan tak mau melakukannya, maka konsekuensinya adalah harus pergi angkat kaki dari desa. Hukuman terbaik untuk seseorang yang tidak mau menaruh patuh pada peraturan di tanah tempatnya berpijak.
"Mbok, Bening takut..." Malam itu Bening bercerita kepada si Mbah.
Mbah Nuwitri tersenyum singkat sambil menyalakan api pada lampu teplok yang menempel di dinding bambu rumah kecil, nan sederhana milik mereka.
"Ndok, cah ayu...." Panggil si mbah dengan lembut.
"Nda ada yang perlu ditakuti. Pak Bayan itu baik sekali, dia tidak jahat. Dia nanti akan memberi bimbingan penuh kepada kamu. Akan ajari kamu banyak ilmu. Kamu hanya perlu nurut, patuh, dan tampung semua ilmunya. Belajar yang benar dari Pak Bayan." Si mbah duduk di dekat cucunya.
Bening menggigit bibir bawahnya pelan, entahlah. Dia tidak bisa membayangkan mengenai hari esok. Dia hanyak merasa terlalu gugup saja. Apalagi nanti akan bertemu dan bertatap muka langsung dengan pak bayan. Tokoh penting dan sangat dihormati, yang selama ini hanya bisa Bening lihat dan pandangi dari jauh semata, sekilas saja, karena dia merasa malu dan kecil diri saja jika lancang memandang sosok tersebut lama-lama.
Bening sadar sekali bahwa ia hanya wong cilik, tidak pantas bila bersinggungan terlalu lama dengan orang terhormat dan terpandang seperti Pak Bayan.
Maka dari itu ketika Bening membayangkan bahwa telah tibalah kesempatannya untuk bertemu, dan bersinggungan langsung dengan Pak Bayan, hatinya langsung berdebar keras. Gugup tidak terdeskripsikan.
"Sudah, nda usah gugup. Besok si mbah anter ke rumah pak bayan, ya."
"Iya, Mbok."
***
Pagi harinya, sebelum Bening dan Mbah Nuwitri pergi ke rumah pak bayan yang berada cukup jauh dari gubuk renta mereka -yang ada di dekat sawah serta hutan, rumah pak bayan ada di dekat alun-alun desa, pusat desa, dekat pasar. Mereka berdua lebih dulu menyiapkan barang-barang yang harus mereka bawa ke rumah pak bayan terlebih dahulu.
Untuk keperluan pribadi sebenarnya tidak ada hal yang muluk, cukup hanya membawa tiga lembar selendang jarik, sebagai ganti nanti selama tiga hari berada di rumah pak bayan.
Selebihnya adalah, barang yang dijadikan sebagai syarat wajib untuk persembahan dari si gadis perawan kepada sang bayan.
Yaitu, daun legundi, daun widuri, dan kulit kayu trenggulung. Ketiganya itu dikeringkan dan ditumbuk hingga halus, dibuat menjadi bulatan-bulatan kecil serupa pil besar seukuran kelereng.
Setelah jadi, maka dibungkuslah menggunakan cawat bekas pakai si perawan, dan disimpan di balik jariknya, di antara sela dadanya, terus letakkan di sana selama perjalanan dari rumahnya menuju ke rumah pak bayan. Dan saat nanti sudah sampai rumah pak bayan, maka bungkusan tersebut sudah bisa dikeluarkan dari sela dadanya untuk kemudian segera diserahkan kepada pak bayan.
"Ayo, masuk dulu."
Bening menganggukkan kepala. Matanya tidak lepas dari pria yang tengah menuntunnya masuk. Wajahnya terlihat sangat tampan, badannya tegap, tinggi, besar dan kekar. Ototnya di mana-mana, perutnya kotak-kotak, betisnya keras penuh otot, begitu juga lengannya.
Pria itu adalah Pak Mardi, sosok bayan yang sangat disegani dan dihormati itu. Yang selama ini selalu membuat Bening sungkan dan malu untuk memandangnya, yang selama ini membuatnya merasa minder untuk mendekat.
Tapi ternyata pak bayan terlihat sangat ramah, murah senyum dan wajahnya sangat teduh, bagai seseorang yang penuh kasih.
"Ini, syarat yang diminta untuk disiapkan, Ndara." Bening berkata ketika mendapatkan senggolan pada lengannya. Lamunan buyar dan hilang, segera sadar untuk mengeluarkan buntalan yang diselipkan di tengah dada di balik jarik yang membalut tubuhnya.
"Panggil seperti orang lain saja, pak mardi. Tidak usah memanggil begitu, cah ayu." Mardi mengulurkan tangan, menerima barang pemberian dari sosok gadis belia di depannya.
"Nggih, pak." Bening menjawab dengan malu-malu ketika tangannya tidak sengaja bersinggungan dengan tangan sang bayan. Terlalu gugup, ia tarik tangannya cepat-cepat, dan simpan di balik lutut sambil kepala menunduk, terlalu malu jika saling bertemu mata dengan si bayan.
"Namanya siapa?"
"Bening, pak." Jawab Bening.
"Cantik, ya Mbok dia. Bukti kalo Mbok sudah rawat dia dengan baik." Ucap Mardi sembari melirik ke arah Mbah Nuwitri.
"Njih pak Mardi..."
Si mbah dan pak bayan terlibat ke dalam obrolan sedangkan Bening sendiri kini kembali nakal, sibuk mencuri-curi pandang pada tubuh kekar sosok lelaki yang usianya begitu jauh di atasnya tapi terlihat masih sangat tampan dan gagah. Pak Mardi memakai kain jarik yang melilit di pinggang, bawah pusar, pendek -hanya sampai lututnya semata. Itu adalah gaya berpakaian yang wajar dikenakan oleh para lelaki di desa mereka. Lebih terbuka daripada para wanita yang memakai kemben jarik dari atas dada sampai lutut.
"Cah Ayu, wetonnya Ahad wage?" Suara pak Mardi mengagetkan Bening yang tadi pandangannya sudah jatuh pada lilitan kain di bawah pusar. Pada pertengahan tubuh Pak Mardi, yang memiliki kurva segitiga terbalik, dengan beberapa bulu halus yang menghias di bawah pusar sampai je dalam, di balik lilitan jarik yang tak dapat ditangkap oleh mata nakal, serta jelalatan milik Bening.
"Eh... Nggih Pak Mardi. Ahad wage." Bening mengangguk, kali ini ia mendongak, lebih berani untuk menatap langsung mata dari Pak Mardi.
Di sanalah mata mereka bertemu. Dalam sejenak, Bening merasakan sebuah tiupan halus membelai telinga bagian belakangnya. Tiupan yang menggelitik, membuat ia merasa geli sekaligus merinding, bergidik hingga kedua bahunya terangkat. Tidak berhenti sampai di sana saja, setelah sensasi tiupan itu usai, sekarang mendadak Bening merasakan hatinya berdesir. Berdetak sangat keras, serasa seperti mau meledak.
Bening sulit menangani hal tersebut, jantungnya bertingkah dengan sesuka hati untuk mengusik ketenangan. Dan ketika matanya masih terpenjara dengan mata milik Pak Mardi, di sanalah Bening merasakan keresahan tidsk terbendung. Ia merasa matanya terpenjara, diselami jauh oleh pak Mardi, sampai Bening berpikir jika Pak Mardi mampu menembus iris miliknya untuk membaca dan menjelajah isi kepalanya hanya melalui tatapan mata saja.
Kegugupan ini memancing Bening untuk menggigit bibir bawahnya pelan sambil saling memilin jari-jemarinya gelisah.
Bening ingin sekali untuk berpaling. Tapi tidak bisa. Tatapan Pak Mardi benar-benar membelenggunya, menjerat dan memenjara dengan terlalu erat bagai tiada jalan untuk dapat keluar dan terbebas darinya.
"Ahad wage artinya itu orangnya suka kebersihan, berhati-hati terhadap kejahatan, baik hatinya, berbakti dan menurut kepada suaminya, dermawan namun pada tempat yang kurang tepat, maksudnya jangan mudah berbuat baik kepada orang lain nanti jadi mudah dimanfaatkan. Jika tidak berhati-hati, nanti malah cah ayu sendiri yang kesusahan." Pak Mardi membaca sifat milik Bening melalui wetonnya.
Memang seperti ini susunannya, sebelum si gadis yang hendak melakukan ritual pendewasaan dititipkan pada pak bayan. Pasti akan dibacakan dahulu sifat-sifat yang dimiliki baik dari wetonnya, dari perilakunya, dari raut dan sinar mukanya, semuanya dapat dibaca dengan mudah oleh pak bayan.
Selama dibacakan oleh Pak Mardi, Bening hanya bisa mendengarkan sembari matanya tidak pernah berpaling dari sosok tersebut. Kenyataannya memang sudah terpenjara secara sepenuhnya oleh sorot mata teduh, mengayomi dan penuh pikat itu.
"Kamu itu nduweni raut muka yang nyenengake, menyenangkan. Sinar matanya cerah, kalau bertutur kata begitu halus dan lembut, yang mana itu mampu memikat dan memabukkan lelaki kalau kamu ajak bicara. Dari raut muka kamu itu, bisa terbaca kalau kamu itu tipe wanita ndemenakke, yang memuaskan. Artinya kamu ini nanti akan pintar dalam hal memuaskan dan menuruti keinginan suami kamu, memang cocok juga sama wetonmu. Selain itu juga, kalau kamu pandai merawat diri dan senantiasa menjaga kesopanan berberilaku, saya yakini kamu bakal pandai juga dalam memikat lelaki, sampai mereka merasakan asmaranala, cinta yang merasuk sampi ke dalam hati."
Penjelasan Pak Mardi ini juga bagai merasuk langsung ke dalam benak milik Bening. Dia angguk-anggukan kepala begitu patuh, dengan tatap mata yang tak pernah berpaling sedikit pun darinya.
"Masalah rumah tanggamu nanti, nda usah khawatir. Saya lihat kamu nanti bakal jadi istri yang sangat berbakti, jadi suamimu bakal terus cinta dan setia sama kamu. Akan jarang terjadi pertengkaran, jadi nda usah khawatir." Pak Mardi mengulurkan tangannya, menyentuh puncak kepala Bening dan memberi usapan kepada gadis belia itu.
Bening sendiri segera memajukan kepala, agar sang bayan biss lebih mudah dan leluasa dalam memberi belaian di kepalanya.
"Lalu, Pak Mardi... Ekhem!" Mbah Nuwitri nampak gugup sebelum bicara.
"Ada apa Mbok? Bicara saja, katakan." Pak Mardi menarik tangannya kembali dari rambut Bening. Namun meski pun tangannya sudah terlepas, mata milik Mardi masih betah untuk menatap tubuh molek si gadis.
Kulitnya berwarna kuning langsat, rambutnya hitam legam dan digulung, dicepol tinggi di atas, mempertontonkan permukaan lehernya yang jenjang dan indah itu secars terbuka. Bahunya sempit, memiliki dua tahi lalat di dekat selangka dan leher. Turun ke bawah, bisa Mardi lihat betapa bulatnya payudara milik Bening walau usianya masih lima belas tahu. Ikatan jaritnya terlalu ketat dan menekan, menyebabkan beberapa lemak payudara ikut mengintip keluar, dan juga menampilkan belahan dadanya yang saling menghimpit.
Mardi menyeringai senang dengan indahnya tubuh gadis perawan yang hari ini datang ke rumahnya, yang hari ini juga akan ia pecahkan perawannya.
"Bening ini... Dia datang bulannya lebih lama dari para teman-temannya Pak. Saya hanya khawatir saja, takutnya itu karena ada masalah atau sesuatu di diri cucu saya. Apakah keterlambatannya ini nanti juga bisa memengaruhinya di masa depan, seperti amit-amit, jadi susah punya anak atau malah -jangan sampek, malah jadi mandul?" Si mbah begitu khawatir, dari seluruh teman-teman Bening, semuanya sudah mendapatkan datang bulan mereka ketika di usia 10-13 tahun, sedangkan Bening sendiri di usia 15 tahunlah baru mendapatkan datang bulannya.
Pak Mardi mengerti dan paham mengenai keresahan yang dirasakan oleh Mbah Nuwitri. Memang sudah menjadi kekhawatiran tak mendasar di kalangan orang-orang tua jika mengetahui anak atau cucu gadisnya sedikit lebih terlambat mendapatkan datang bulannya jika dibandingkan dengan para teman-teman seusianya yang lain.
Padahal sebenarnya itu bukan sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan.
"Nda usah khawatir. Itu hal wajar, Mbok. Jangan terlalu menakut-nakuti diri sendiri. Tapi untuk memastikannya lagi, nanti coba biar saya periksa dulu." Mardi menoleh kepada Bening. Memberi isyarat pada si gadis kecil agar berdiri.
"Coba berdiri ndok." Perintah Mardi yang langsung diikuti oleh Bening.
"Sekarang coba copoten jariknya." Perintah dari Mardi berikutnya sukses membuat Bening terkejut bahkan sampai membulatkan matanya secara penuh.
"Sudah Ndok, segera lakukan. Biar Pak Mardi periksa badan kamu, ada masalah atau tidak nanti biar segera tahu. Ayo, cah ayu dibuka ya jariknya." Bujuk si Mbok kepada cucunya.
Bening sedikit kikuk dan malu-malu, bagaimana pun dia belum pernah bertelanjang secara bulat-bulat di depan orang lain selain si mboknya.
"Kalo boleh tahu, kapan dia selesai mensnya?"
"Dua hari yang lalu, Pak Mardi." Jawab si mbok sambil membantu bening melepaskan ikatan dan lilitan jariknya.
Kain jarik dengan panjang hampir dua meter dan lebar satu meter itu akhirnya terlepas dari tubuh Bening. Membuat si gadis berada dalam kondisi bertelanjang penuh sebab sebelum kemari ia diberi wejangan oleh si mbok untuk tidak perlu memakai dalaman apa pun. Hanya lilit tubuh dengan lapisan jarik saja, sedangkan yang di dalam biarkan tak berbalut apa pun.
Bening merasakan wajahnya memerah ketika ia melihat Pak Mardi memandangi tubuhnya dengan tatapan menelanjangi ketika nyatanya ia sudah bertelanjang. Tatapan itu memindai tubuhnya secara menyeluruh, membuat Bening merasa seperti sedang diintai dengan begitu tajam oleh sang pria dewasa.
Tapi kegugupan Bening perlahan dapat memudar ketika tatapan Pak Mardi saling bertemu dengan tatapannya. Mereka bertatap lama sebelum kemudian Pak Mardi menyematkan senyum kepadanya. Senyum yang membuat hati Bening menjelma menjadi lebih tenang.
"Mbok, nda usah khawatir. Dari penglihatan saya, Bening nanti sangat subur dan mudah beranaka. Tidak sulit untuk dihamili." Jawab Pak Mardi, yang memang terkenal dengan pandangan yang sakti.
"Bening ini nyaris sempurna Mbok. Tidak hanya paras luarnya saja yang cantik tapi dalamnya pun tidak kalah menakjubkan. Jadi nda usahlah khawatir soal masalah itu." Ucap Mardi sambil memerhatikan tubuh Bening dengan lebih intens.
Lehernya jenjang seperti tumbuhan menjalar. Susunya bulat, berwarna kuning persis seperti kelapa gading. Lengannya bagaikan busur gading dengan bahu yang kecil dan sangat indah. Tadi Mardi juga sempat memerhatikan cara berjalan Bening yang begitu anggun dan perlahan, pinggangnya yang ramping bergerak melenting serupa bunga tunjung yang terbawa arus air. Dan tubuhnya juga menebarkan aroma wangi yang menawan, aroma yang tertinggal sekali pun sosoknya sudah melangkah jauh di depan.
Bening sendiri, yang sejak tadi terus-menerus mendapatkan pujian dari Mardi pun segera salah tingkah.
"Syukur duh Gusti, jadi saya nda usah khawatir lagi kalo gini. Terima kasih, ya Pak Mardi. Saya lega, lega sekali!" Si Mbok menyentuh dadanya sendiri.
Obrolan itu sudah selesai, prosesi Mardi yang untuk membaca watak dan masa depan serta lain-lainnya juga sudah selesai. Kini tinggal Mbah Nuwitri yang telah berpamit, memasrahkan cucunya selama tiga hari ke depan agar dibimbing melalui proses pendewasaan dengan sang Bayan -yang sejak tadi tak pernah lepas mata sedikit pun dari si belia.
Tatapan Mardi sungguh terlihat cabul. Memandangi susu milik Bening lapar, terlihat sekali kalau dia tak sabar ingin segera menangkupnya, atau bahkan lancang menyucuk pentil cokelatnya.
Pasti pentilnya lembut, satu gilasan sudah cukup untuk membuat si perawan menggelinjang di bawahnya. Mardi menjadi tidak sabar, apalagi badan Bening benar-benar sangat bagus, menonjol di tempat yang pas.
"Bening." Panggil Mardi ketika di dalam rumahnya kini hanya tinggal ia berdua saja dengan si perawan.
"I-iya..." Menjawab dengan gagap. Satu tangan sibuk menutup susu sedang satu tangannya yang lain turun ke bawah, menangkup tempiknya, berusaha menutupinya.
"Sini, ndok." Mardi melambaikan tangan, meminta agar si gadis datang kepadanya.
Bening melangkah mendekat, langkahnya kecil namun terburu-buru, dengan kedua tangan yang masih sibuk menutupi diri. Mardi tersenyum melihatnya, terlihat lucu sekali tingkah si perawan satu ini.
"Habis ini, apa yang harus saya lakukan, pak?" Tanya Bening setelah berdiri di dekat Mardi. Bening tundukkan pandangan, pada Mardi yang duduk di sebelah, matanya tidak berkedip, ada satu hal yang menarik perhatiannya.
Bagian selangkangan Mardi yang menggembung, tercetak sebuah kerucut tinggi dari balik jarik berwarna hitam yang dikenakan. Bening tidak pernah melihat itu, dan aneh sekali mendadak ada tonjolan seperti itu di sana ketika sejak tadi saat masih mengobrol dengan ditemani si mbok di sekitar mereka, kerucut itu belum berdiri, masih datar.
"Nda usah ditutupi begitu susu sama tempiknya. Nanti selama di rumah saya, saya maunya kamu bertelanjang bulat seperti ini." Mardi menarik tangan Bening agar berhenti menutupi pemandangan surgawi yang ia idamkan.
"Jadi sebenarnya gak usah bawa jarik ganti juga nda papa, karena nantinya juga nda terpakai. Ayo buka tangannya, nda usah malu-malu." Mardi senang ketika tidak ada penolakan sedikit pun dari Bening.
"Nggih, Pak. Bening cuma gugup tadi." Ucap Bening dengan suara pelannya.
"Iya, dimaklumi." Mardi bangun, ia menggandeng tangan Bening untuk ia bawa ke belakang rumah. Lebih tepatnya pada sungai yang ada di belakang rumahnya.
"Pelajaran pertama, sehabis belajar sama saya, mungkin gak lama kamu bakal dilamar, menikah dan punya suami. Selepas punya suami, jangan pernah bantah suami, nurut terus sama dia. Sekarang gunanya kamu dikirim ke sini itu buat belajar biar bisa muasin suamimu dan layani suamimu dengan baik. Jadi nanti kita mulai pelan-pelan, dengan kamu bisa anggap saja saya sebagai suami kamu. Jadi nanti nurut ya sama saya, di sini saya suami kamu." Mardi menoleh kepada Bening.
"Nggih, Bening paham Pak."
"Panggil kang mas saja, anggap saja suami kamu ini usianya tidak jauh dari kamu." Mardi bergerak untuk melepaskan gulungan rambut Bening. Dan setelah itu tergerailah rambut panjang sebokong, bergelombang indah dan rapi, berwarna hitam dan nampak sangat berkilau ketika terkena terpaan cahaya matahari siang itu.
"Baik, Kang Mas. Tapi boleh nda Bening bertanya?" Bening melihat aliran anak sungai kecil yang ada di belakang rumah Mardi. Mengalir dengan air tenang, dengan warnanya yang nampak sangat jernih hingga bebatuan di dasar sana dapat terlihat dari posisinya berdiri.
"Tanyakan saja ndok." Mardi melangkah terlebih dahulu ke dalam air, ia menenggelamkan dirinya ke dalam air, sampai pada lehernya.
"Ini di luar Kang Mas... Bening takut, wedi kalau ada yang liat Bening lagi bugil begini..." Bening menatap sekeliling dengan tatapan cemas dan was-was. Apalagi ini di tengah hari, masih terang sekali, orang yang kebetulan lewat pasti akan dengan mudah mendapatinya tengah bertelanjang seperti ini.
"Bagus, harusnya kamu bangga diliati banyak orang sedang bertelanjang dengan saya. Mereka juga pasti tahu tujuan kamu ke sini buat apa, untuk ritual pendewasaan diri kamu yang hitungannya sudah sedikit terlambat untuk melakukannya jika dibandingkan dengan yang lain. Harusnya kamu malah bisa pamerkan ini semua pada orang-orang yang kemarin sudah menggosipkan kamu soal telatnya ritualmu. Kalau mereka sudah lihat kamu sedang melakukan ritual, maka mereka sudah nda akan bisa gosipin kamu lagi. Sudah, kemari susul masuk ke dalam air, Ndok." Perintah Mardi.
Bening membenarkan ucapan yang dilontarkan oleh Mardi. Ia anggukan kepala dan kemudian rasa percaya dirinya perlahan naik, sedikit demi sedikit menyingkirkan rasa malu-malu yang sejak tadi membebani diri.
Bening menyusul masuk ke dalam air dengan bantuan uluran tangan dari Pak Mardi, atau sekarang Mardi adalah Kang Masnya. Bukan lagi bapak-bapak selaku bayan yang tengah membantunya dalam proses pendewasaan. Ikuti kata lelaki itu untuk mulai sekarang menganggapnya sebagai suami, Kang Masnya.
"Jadi, Ndok kita mulai ritualnya dengan cara mandi, membersihkan dan mensucikan diri terlebih dahulu." Mardi menarik Bening untuk mendekat, menyatukan tubuh bagian depan mereka hingga saling tempel. Dada bulat sebesar kelapa gading yang masih muda itu menempel dan melekat di dada bidang nan keras miliknya, membuat Mardi berdesir, dan merasakan sebuah efek yang cukup besar pada kacuknya di bawah sana yang sudah keras, tegang sempurna, ngaceng total.
"Uuhh..." Hal serupa juga dirasakan oleh Bening, ia bahkan sampai mendesah pelan merasakan geli dan menggelitik ketika dadanya memantul di atas dada milik Mardi, sebelum kemudian sebuah tangan melekat di punggung, mendorongnya ke depan, membuat dadanya bertahan untuk saling menempel dengan tubuh sang lelaki. Pentilnya bergesek-gesek pelan dengan perut bagian atas milik Mardi, menghantarkan sebuah sensasi tak nyaman pada area selangkangannya.
Bening tak pernah merasakan ini, sungguh aneh sekali. Ia kegelian sampai harus merapatkan kakinya dengan resah sambil menggesek-gesekkan kedua pahanya tidak tenang, yang mana tingkahnya ini membuatnya jadi tidak sengaja menyenggol benda di selangkangan Mardi yang kondisinya sudah keras dan kaku.
"Kenapa Ndok? Kok keliatan nda tenang sekali." Mardi mengusap wajah Bening, membawa dagu lancip milik si gadis agar mendongak dan menatap langsung pada matanya.
"Ge-geli Kang Mas. Gara-gara pentilnya Bening nyenggol perut Kang Mas, rasanya jadi seperti digelitiki di perut. Dan nda tau bahaimana, tiba-tiba wowoknya Bening rasanya juga jadi gatel sedikit!" Adu Bening dengan tetap lanjut menggesekkan kedua pahanya. "Tapi Kang Mas, itu apa? Kok keras, Bening nyenggol apa di bawah?"
Mardi ingin terkekeh, Bening masih sangat murni dan lugu. Bocah ayu satu ini sepertinya akan memerlukan banyak waktu untuk belajar sampai benar-benar mahir dan andal, genaon.
Aliran air yang tenang Mardi ambil untuk ia tangkupkan di satu telapak tangan, ia arahkan guna mengguyur tubuh si perawan. Ia guyur perlahan, ia basuh tubuh itu sampai benar-benar basah sebelum nanti baru mulai menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Bening.
Mardi tidak melupakan bingkisan yang dibawakan oleh Si mbok dan gadis ini. Itu adalah racikan, ramuan obat untuk memperkuat diri dan sekaligus membuat diri jadi bisa tahan dengan lebih lama.
Itu perlu diminum oleh Mardi sebelum menjalani ritual yang lamanya mencapai tiga hari. Ada tiga butir obat, masing-masing satu per harinya.
Bening memerhatikan Mardi yang menelan butiran obat itu bulat-bulat. Ditelan mudah, dan kemudian matanya terpaku pada bibir Mardi yang bergerak, komat-kamit seperti tengah membaca mantra atau memang demikianlah nyatanya.
"Sekarang sudah mandi, wis resik badan kamu." Ucap Mardi, membawa tubuh Bening agar sedikit menepi, mendekati sebuah batu besar untuk Bening agar duduk di sana.
Bening duduk di atas batu, dan kemudian Mardi berdiri di depannya, meminta Bening agar membuka kaki agar ia bisa berdiri di antara kakinya. Posisi ini akan memudahkannya dalam memberi pelajaran penting nantinya.
Sekarang, tersajilah pemandangan tempik milik Bening secara terbuka dan cuma-cuma di depan muka Mardi.
"Turuk Munthuk." Ucap Mardi, reaksi yang keluar saat pertama kali disuguhi tempik milik si perawan. Yang artinya, "tempikmu tembem ndok, cah ayu. Tempik, bukan wowok. Sekarang sebutnya tempik."
Bening gelisah dalam duduknya, perkataan kotor dari Mardi membuat vaginanya jadi terasa aneh, dia bahkan mulai merasakan sedikit licin dan kedutan halus di bawah sana. Ditambah juga jangan lupa sensasi menggelitik bagai diterbangi oleh kupu-kupu yang menyerang perutnya.
Tapi meski pun itu menggelitik dan membuatnya terjun dalam keresahan, ada satu sisi yang bagi Bening terasa menyenangkan. Debaran di dadanya, itu membuatnya kegirangan dengan tanpa sebab, rasa licin di tempiknya yang membuat ia reflek semakin melebarkan kaki, seakan ingin memamerkan keseluruhannya dengan lebih terbuka dan cuma-cuma kepada sang Kang Mas.
"Pinter, ndok. Buka yang lebar pahamu biar Kang Mas bisa liat dengan jelas tempikmu." Ucap Mardi sambil mengusap bulu halus yang tumbuh sedikit di sekitar tempik dengan warna merah pekat sedikit gelap itu. Warnanya mirip dengan pentil si perawan, namun yang di bawah memang sedikit lebih pekat, merahnya sewarna hati ayam yang habis direbus. Pekat, dan lebih menggugah untuk Mardi.
Mardi memajukan wajahnya ke depan, mendekat pada tempik milik Bening.
"Angh.... Kang... Akang!" Bening tentu saja kaget pada sentuhan pertama yang ia dapatkan dari jari milik Mardi. Tidak ada aba-aba, Bening sudah fokus pada wajah Mardi yang mendekat, berekspektasi kalau sang lelaki ingin membubuhkan kecupan pada kemaluannya lebih dulu, namun ternyata ia salah, malah sentuhan laij datang dari jemari milik Mardi.
"Bibirnya tebel. Bibir tempikmu dagingnya tebel, sampai kelentitmu ketutupan sepenuhnya. Jadi perlu dibuka dulu, boleh kan?" Mardi angkat kepalanya, mendongak dan bertanya kepada Bening.
Bening jelas mengangguk.
"Bo-boleh Kang Mas, Bening nurut saja sama Kang Mas." Ucap Bening sembari memberi remasan pada bahu milik Mardi.
"Pinter, Ndok cah ayu." Ucap Mardi, memuji kepatuhan Bening. Ia kini membuka labia milik Bening dengan lebih lebar, menggunakan jari manis dan telunjuk, sedangkan jari tengahnya berada di tengah untuk dengan sengaja akan ia gesekkan pada kelentit milik Bening yang sudah mulai sedikit menegang sebesar kacang merah.
"Kanghh... Ahhh rasanyaa-uuhmm!" Bening tidak tahu apa yang tengah Mardi lakukan pada tempiknya, namun gesekkan-gesekkan di bawah sana, dari jari-jemari Mardi sukses menggetarkan pahanya, membut perut bawah pusarnya menegang dan entah mengapa telah muncul sedikit dorongan -hasrat untuk buang air kecil seiring dengan semakin intens ia rasakan gesekan yang Mardi berikan kepadanya.
Sensasi itu membuat Bening reflek meremat bahu Mardi sembari berusaha merapatkan kaki, tapi sayang sekali pahanya ditahan oleh Mardi, membuat ia tak berkutik dan tetap bertahan dalam posisi tersebut.
"Kang Mas sedang buka bibir tempikmu lebar-lebar cah ayu." Ucap Mardi, "sambil kelentitmu Kang Mas usap-usap kasar." Sambuk Mardi dengan semakin kasar mengusak puncak kelentit milik Bening.
"Aahh... Ke-kelentit apa Kang Maash-aahhh?! Jangan cepet-cepet! Ahhh! Aahhh Bening rasanya kayak mau pipi-pipishhh!!" Susah payah Bening bicara, mengutarakan apa yang tengah ia rasa kepada Mardi.
"Kenalan dulu sama kelentitmu, Itil. Itilmu ini bakal ngaceng kayak kacang. Yang kalau Kang Mas sentuh, main-mainkan, atau gesek-gesek seperti ini pasti bakal buat kamu kegelian tapi juga keenakan. Ini pusat kenikmatan kamu di luar. Karena kamu masih pemula, kita kenalan pelan-pelan pakai jari dulu." Mardi kini memakai ketiga jarinya untuk langsung mengusak kelentit milik Bening dengan lebih kasar dan brutal, sebab ia merasa bahwa Bening sudah sangat licin, sudah naik gairahnya, birahi dan nafsunya, maka sudah aman untuk dinaikkan lagi tahapan perkenalan yang ia terapkan.
"Aahhh!! Kang Mashh!! Pipiissshh! Kenapa Beniing jadi pengen pipiiish kalo digese-aahhh! Kang Maash!" Kepala Bening menggeleng kasar, bersama dengan rambut bergelombangnya yang juga ikut bergerak berantakan seiring dengan semakin berantakannya sentuhan di permukaan -yang kata sang Kang Mas adalah kelentitnya, itilnya.
"Itu tandanya gairahmu sudah naik, kamu sudah mulai terangsang, sudah mulai sange dengan sentuhan dari Kang Mas. Kalau sudah sange ada banyak tandanya."
Mardi mencubit itil tegang milik Bening yang langsung mengeluarkan suara pekikan keras.
"Aakhhh! Kang Mashh linuuu!" Keluh Bening.
"Kalo itilmu sudah ngaceng dan tempikmu basah, banjir, becek seperti ini itu artinya kamu sudah sange, Ndok Cah ayu." Mardi menjelaskan pelan-pelan yang membuat Bening langsung mengangguk mengerti.
Selanjutnya Mardi juga mencubit pentil milik Bening.
"Awhh!" Bening tersentak, bahunya naik secara bersamaan ketika putingnya dicubit. Ia meringis pelan sambil gigit bibir. Wajahnya sayu, keringat bercambur air semakin membuat wajahnya basah.
"Pentilmu ngaceng begini, itu artinya kamu juga sudah sange, ndok."
Cubitan di pentil secara bergantian, sesekali dadanya juga diremas, dan sekarang mulut Mardi juga ikut campur untuk mencaplok pentilnya, dihisap-hisap dan dijilati rakus sekali.
Sentuhan itu juga selaras dengan usakan pada kelentitnya yang semakin kasar, keras, dan cepat, terlalu cepat hingga membuat badan Bening bergetar hebat, kelojotan karena kenikmatan.
"Makin sange kamu, bikin kamu jadi makin pengen disentuh, pengen terus dienakin kayak gini, pengen terus dibikin kelojotan kayak gini, bikin kamu mulai jadi nda waras karena mendadak pengen pipis. Pengen pipis kan? Kang Mas bantu ya, biar bisa pipis, biar bisa lega, biar sangenya bisa diatasi." Mardi semakin kencang mengusak itil Bening, ia barengi dengan kembali memanja dua pentil Bening secara bersamaan dengan lebih rakus.
"Aahhh! Kang Maashh! Ndaakh! Aduuhh Bening udah nda kuaath!"
Makin cepat. Lebih cepat. Kasar sekali hingga Bening bisa merasakan kelentitnya tertekan dengan terlalu kuat, terlebih bagian bawah kelentit, lebih ke bawah lagi, di bawah lubang kencinya yang dibelai-belai dengan ibu jari. Ditekan kuat dan sukses membuat Bening jadi semakin basah, becek, lendirnya benar-benar mengucur deras. Selain itu, tekanan yang ia dapatkan juga membuat dorongan untuk buang air kencingnya semakin menggebu, dengan perut bagin bawah yang kian lama kian terasa mengeras.
"Pipisshh! Kang-awaas!! Kang Mash awaas Bening mau pipiishh!"
"Pipis saja ndok, Mas mau lihat tempikmu ngucur makin bocor sama pipismu. Pipis saja, mancurin ke muka Kang Mas-"
"Aaarghhhh!!! Pipiiissshh! Aahhh Mbookk maafin Bening uda gede tapi pipis sembarangan-hiiksss! Aangh... Maafin Beninghh.... Aahh pipiissh enaaakhh!!" Bening benar-benar dibuat kelonjotan oleh nikmat yang dirasakan. Dibuat ngomong ngawur dan berantakan karena kewarasannya sempat hilang sebentar. Dibuat merem-melek sampai kejang-kejang karena badannya tak sanggup menuai basai nikmat yang terlalu berlebihan.
Ini tadi apa?
Kenapa rasanya seenak itu?
Kenapa ia bisa sampai terkencing-kencing?
Dan kenapa sekarang ia malah menginginkan untuk dibuat seperti itu lagi oleh Kang Masnya?
"Angh... Angeet..." Selain air kencingnya yang mengucur deras, Bening juga bisa merasakan lubangnya mengeluarkan sedikit cairan hangat yang meleleh bertepatan dengan gelombang hebat yang menggulung tubuhnya tadi.
"Aduh.. ka-kangmas mau apa lagi?" Bening tergagap ketika melihat Mardi menunduk dan membubuhkan jilatan secara tiba-tiba di atas itilnya.
"Aahhhh... Kangmashh..." Lemas, belum surut rasa nikmat yang dirasakan akibat muncratan pertamanya, masih sensitif di bawah sana, dan Mardi sudah datang membawa sentuhan lain yang membuat sekujur badannya langsung kelojotan.
"Sekarang kita kenalan lebih jauh sama tempikmu. Kita sudah kenalan sama itilmu, dan sekarang gantian kita bersama-sama kenalan sama bagian pusakamu yang di dalam."
Ucapan Mardi membuat Bening keheranan, namun setelah itu rasa herannya langsung hilang, melayang bersama kewarasannya saat ia merasakan jilatan Mardi kembali bersarang di atas itilnya. Selain menjilat, Mardi jug mencecap dan melumat bibir vaginanya secara bergantian, dengan lumatan rakus, dengan memberi sedikit gigitan pelan yang terasa linu, tapi juga membuatnya merasa keenakan.
Aneh.
Aneh sekali.
Ini juga pengalaman baru, sangat baru, yang mana Bening tak sangka jika itu bisa menghantarkannya pada nikmat yang sejauh ini.
Jari Mardi menelusup masuk, dari bawah kelentit untuk diam-diam memasuki lubang rapat milik si perawan. Hanya satu jari lebih dulu, sangat pelan dan menghanyutkan, sedangkan mulut masih sibuk dan asik menyucuk itil bengkak yang kembali tegang itu.
"Unghh sakiit Kangmaash!" Bening merintih, memekik pelan sambil meremas rambut terikat kecil milik Mardi sebagai pelampiasannya.
"Kamu juga perlu kenalan sama badanmu sendiri." Mardi bangun, melepaskan sesapannya pada itil Bening dan meraih tangan Bening yang ada di atas rambutnya. Kedua tangan Bening ia pegang, ia arahkan perlahan untuk menyentuh dada muncung miliknya sendiri.
Bening memasang wajah heran. Matanya mengerjap pelan, menatap Mardi lekat-lekat sebab butuh penjelasan.
"Sewaktu Kangmas hisap pentilmu, remas susumu, pijat pentilmu, cubiti pentilmu tadi rasanya seperti apa?" Tanya Mardi pelan. Tangannya berada di atas punggung tangan Bening yang sudah ia letakkan di atas susu bulat itu.
"En-enak kangmas..."
"Enak? Kamu suka gak ndok?"
"Suka..." Mendunduk malu-malu, "uunghh.... Kangmaash!" Dan mendesah saat tangannya dituntun oleh Mardi untuk meremas dadanya sendiri. Bening berdebar saat tangan Mardi melakukan gerakan meremas yang lebih kencang, membuat ia pun reflek untuk juga mengencangkan remasannya pada dadanya sendiri.
"Kamu kenalan sama susumu sendiri, kenalan sama pentilmu sendiri. Dimain-mainkan, diremas, dicubiti, dan dipelintiri ya cah ayu. Kenalan sendiri biar kamu tahu di mana saja titik-titik nikmat di susumu." Perintah dari Mardi ini langsung diangguki oleh Bening dengan patuh.
Bening melakukannya, ia remasi dadanya sendiri. Ia mainkan sambil ia kucek-kucek kedua pentilnya bersamaan. Membuat sekujur badannya jadi bergetar dengan hebat, dilanda kenikmatan yang membuat gelombang itu mulai kembali mendekat lagi.
Gelombang yang membuat tempiknya makin basah dan becek, gelombang yang membuat perutnya seperti diremas-remas, dan gelombang yang membuatnya ingin kembali terkencing-kencing lagi.
Duh, Gusti!
Bening tidak tahu kalau ternyata tempiknya bisa sebocor ini, sejak tadi deras dan bersemangat sekali keluar cairannya.
"Kaanggmaash... Aahh enaaakk!!" Bening merem-melek merasakan nikmat di dadanya sekaligus pada tempiknya yang sekarang suda kembali dijamah oleh sang kangmas.
Tempiknya dimainkan, dari lubangnya yang sudah dimasuki oleh dua jari, serta itilnya yang dihisap dan dijilati rakus sekali.
"Apanya yang enak, Ndok cah ayu?" Bangkit dari jilatannya hanya untuk melontarkan pertanyaan singkat kepada Bening, dan selanjutnya ia kembali menyibukkan diri menyucuk kelentit Bening rakus,
Bening bingung harus menjawab bagaimana. Semuanya enak, dari susunya yang ia mainkan, itilnya yang dikokop, dan lubangnya yang digenjot dengan satu jari, dikorek-korek dinding vaginanya membuat dia merasakan semakin deras saja cairan pelumasnya keluar.
Semuanya enak! Dan untuk menjawabnya satu-satu akan terasa sulit sebab mulutnya membisu, hanya bisa menyuarakan desahan, selain itu maka sulit sekali untuknya bisa keluar kata.
"Aakhhh!!!" Bening reflek berteriak sambil mencubit putingnya sendiri kasar ketika itilnya dihisap dengan terlalu kuat, sampai Bening merasa bila nyawanya juga ikut terhisap bersamanya.
"Kangmas bertanya dijawab, Ndok!" Mardi melepas kokopannya. Mengganti dengan telapak tangan. Ia usak, kucek kacau itil milik Bening sambil satu jarinya masih setia keluar masuk dan mengorek lubang sempit, masih perawan milik Bening.
Mardi sebenarnya mau saja menambah jarinya, namun dia tak mau memecah perawan milik Bening dengan jarinya. Harus dengan pusaka miliknya, agar terasa lebih ampuh dan mantap.
"E-enaak semuah kangmaashh! Sodokannya enaaak, kucekaannya enaaka-aahhhh!! Remesan di susu Bening juga enaakkh-kangmaashhh! Bening mau pi-piipiisss lagiihh.... Gak kuaat kangmaash!!" Bening menggeleng resah, ia remat semakin kasar dadanya seiring dengan semakin kacaunya kucekan yang ia terima di itilnya, dan sodokan tidak tahu aturan di dalam lubangnya.
"Ayo pipis lagi, tempikmu memang bocor sekali, baru dikobel dan dikucek sebentar sudah ngompol dua kali. Ayo keluarkan!"
'PLAAK!!'
Tamparan Mardi berikan pada permukaan tempik milik Bening, membuat korbannya semakin bergetar dan badannya terlonjak, tersentak-sentak, bukti bahwa gelombang orgasmenya akan tiba.
"Aahhh!! Maafin Beniingg ngompol lagi mbook!! Aaahh! Beniing mau pipiissh kangmaassh! Ma-mauuu aahhhhh!! Gak kuaat!! ArghhhhN!!!" Teriakan hebat, menggema di siang bolong di tepi sungai dengan aliran kecil itu.
Bening sudah muncrat untuk yang kedua kalinya. Air kencingnya keluar banyak, mengucur berantakan karena Mardi masih nakal menampar tipis-tipis permukaan tempik tersebut. Tamparan ini membuat badan Bening kelojotan, kejang-kejang dengan kedua paha yang terbuka lebar.
Bening terlihat sangat kuyu, nampak lelah setelah tenaga terkuras untuk dua kali semburan yang ia keluarkan. Bening menengok ke bawah, pada kondisi tempiknya yang sudah kacau, berantakan, basah sekali dengan cairan licin, berlendir dan juga nampak bengkak, merah makin pekat, menghitam.
Bening menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya naik dan turun kacau.
"Ayo pindah ke dalam. Kita cari teman nyaman buatmu nanti kenalan sama badan kangmas." Ajak Mardi.
Bening tidak bisa turun sendiri dari batu tempatnya duduk. Itu karena dia terlalu lemas, terlihat sangat payah sekali. Kakinya langsung bergetar dengan hebat begitu menapaki permukaan kerikil di dasar sungai.
Akhirnya jadilah Mardi yang membawa Bening ke dalam gendongan. Dibawa menuju ke dalam rumah, dan langsung melangkah menuju ke kamar.
Bening didudukkan di dipan bambu yang ada di kamarnya, beralaskan tikar yang terbuat dari daun jarak.
"Lepaskan jarik kangmas, ndok. Sehabis ini, giliran kamu yang harus berkenalan dengan tubuh kangmas. Mau kan?" Mardi berdiri di depan Bening yang duduk di hadapannya. Ia usap puncak kepala si gadis sambil mambawanya untuk mendongak, menatap matanya langsung.
Bening menurutinya. Ia buka perlahan kain jarik tersebut, yang sejak tadi sudah menyembunyikan benda keras dan tegang milik Mardi di baliknya. Bening tidak semalu-malu tadi. Dia sudah terlanjur hanyut dalam permainan nafsu yang begitu membakar tubuh. Daripada malu-malu, Bening kini malah nampak lebih berani dalam bersikap, ia tiba-tiba saja sudah memberikan sentuhan halus pada batang zakar milik Mardi. Menyentuhnya perlahan, dari puncak palkonnya hingga ke bawah, pada buah zakarnya yang sudah keras sekali, berwarna sedikit kemerahan.
Penasaran, Bening belum pernah melihat benda ini, belum pernah terbayangkan juga ia akan menyentuh benda semacam ini.
"I-ini apa Kangmas?" Sungguh mengeluarkan pertanyaan lugunya.
"Kontol. Ini kelamin punya laki-laki. Tempatnya hasilkan peju yang akan kangmas masukkan ke tempikmu." Jawab Mardi sembari mengusap wajah Bening pelan.
"Peju?" Ada kata lain yang membuat Bening tidak paham. "Peju itu apa Kangmas?"
Mardi menyeringai.
"Turuti perkataan kangmas, nanti akan kangmas kenalkan kamu dengan bagaimana dan seperti apa peju itu."
"Baik, kangmas. Bening bakal nurut sama kangmas."
Mardi menyuruh Bening untuk menyentuh kontolnya menggunakan dua tangan sekaligus.
"Jilat dulu pucuknya."
Bening mengarahkan lidah pada puncak kontol milik Mardi, dia jilat perlahan yang kemudian dari sana lidahnya langsung disambut dengan rasa sepat, tapi ada sedikit manis, namun terkadang juga asam.
"Jilati terus sambil dipijat-pijat, puaskan kontol kangmas ya ndok... Hhhh..." Mardi menghela napas pelan merasakan Bening dengan patuh melakukan sesuatu sesuai perintahnya. Penisnya dipijat dengan dua tangan, ujungnya dijilat-jilati dengan bersemangat, sepertinya si gadis sudah mulai paham dengan bagaimana cara bermainnya.
"Buka mulutmu, Ndok. Kangmas mau rasain lubang atasmu...hhaahh!! Anget, lubangmu anget!" Mardi meringis pelan merasakan nikmat dari kontolnya yang sudah berhasil masuk ke dalam mulut Bening. Dan meski pun ini pengalaman pertama untuk Bening, nyatanya Bening dapat beradaptasi dengan cepat, dan sekarang sudah lahap sekali memanja kontolnya di dalam mulut.
Jilat-jilat, hisap, masukkan lebih dalam, keluar-masuk, keluar-masuk, sambil tangan ikut bergerak untuk memberi pijatan, dan saat Mardi mengarahkan satu tangan Bening pada buah zakarnya, mengajarinya untuk memberi pijatan, seketika itu juga tanpa perlu diawasi, Bening sudah bisa melakukannya sendiri dengan gerakan yamg cukup mahir.
Sampai Mardi dibuat merem-melek keenakan oleh kehebatan Bening.
Jujur saja, baru kali ini Mardi menemui gadis yang bisa cepat menyerap ajaran yang ia berikan dengan baik. Patuh, menurut, pintar, sopan, cantik. Sungguh sifat sempurna yang dimiliki oleh Bening ini kelak akan menjadi nilai dan daya tarik lebih di mata setiap lelaki yang pernah bersinggungan dengannya. Tak usah susah cari jodoh, ke depannya para pria itu sendiri yang akan mendatangi Bening dengan sambil mengemiskan cinta.
"Mmmhh!!" Suara geraman Bening yang tertahan oleh sebatang kontol besar yang dipenuhi oleh urat menonjol berwarna merah pekat. Urat itu menggesek tepian bibirnya setiap kali keluar-masuk di dalam mulut. Terdorong terus ke belakang, walau tak bisa tertelan sepenuhnya tapi unjung kontol tersebut berhasil mengetuk pangkal tenggorokannya. Hal itu membuat Bening sesekali tersentak, mendapatkan dorongan ingin muntah, namun sekuatnya ia tahan apalagi ketika belakang kepalanya tengah dicengkeram dan mendapatkan dorongan maju oleh Kangmasnya, alhasil bukannya muntah-muntah yang ada Bening malah semakin rajin mengeluar-masukkan kontol tersebut di dalam mulutnya berkat dorongan yang ia dapatkan di dalam kepalanya.
"Arghh... Anget mulutmu! Anget, enak mulutmu, ndok!"
Racauan dari Mardi ini membuat Bening tergelitik senang, perutnya bergejolak dan sesuatu yang basah dan hangat sekali lagi kembali merembes di lubang memeknya. Hal itu membuat Bening terus melanjutkan pekerjaannya namun dengan kaki yang terus-menerus ia rapatkan, dan pahanya terus ia gesekkan tak nyaman.
Batangnya semakin keras, kaku sekali menyamai batang kayu. Pijatan Bening pada batang dan buah zakar Mardi semakin dicepatkan, mulutnya pun ikut bekerja dengan lebih ekstra saat ia tahu bahwa Mardi juga sengaja menggerakkan pinggul, memaju-mundurkan kontol, menggenjot mulutnya dengan kontol cukup tidak sabaran.
Bening mulai merasakan pegal pada rahangnya karena terus dipakai buka mulut dengan terlalu lebar. Pinggilan bibirnya juga mulai terasa sakit, tapi entah bagaimana prosesinya Bening juga bingung, tak tahu kapan ini akan usai. Semoga saja secepatnya karena Bening benar-benar merasakan pegal dan sakit.
"Aarghh...."
"Mhhmm!!" Bening kaget, banyak cairan memasuki mulutnya. Rasanya sedikit pahit namun juga memiliki kesan manis saat menyapa lidahnya, dan mengalir terus memasuki rongga mulut hingga tertelan banyak olehnya.
"Itu peju namanya, yang habis kamu telan peju namanya." Ucap Mardi, ia keluarkan batangnya dari mulut si perawan, masih dalam kondisi sedang muncrat, dan sisa air maninya yang belum keluar itu ia semburkan di muka Bening. Wajah cantik itu langsung kotor oleh lelehan cairan kental putih miliknya. Dari alis, dahi, pipi, puncak hidung bahkan sekitar mulutnya juga meluber air mani yang belum sempat tertelan oleh Bening.
Pemandangan erotis. Mardi suka melihatnya.
Ditekan bibir bawah Bening pelan. Sebenarnya, dalam aturannya, tidaklah termasuk berciuman selama melakukan ritual. Ritualnya hanya mengajari anak gadis untuk pandai berkawin, hanya urusan kelamin saja. Tidak sama sekali dilibatkan untuk berciuman. Namun Mardi hari ini, ia terpesona dengan delima milik Bening yang nampak tebal, merah, ranum dan pasti terasa lembut untuk ia lumat.
Menahan diri, tapi sulit sekali bagi Mardi, terlebih sekarang ibu jarinya tengah sibuk membelai bibir tersebut. Ia mainkan bibir itu dengan jari, ia tekan perlahan sambil ibu jarinya juga ia masukkan ke dalam, membelai lidahnya yang lembut itu halus.
Terbuai. Jemarinya terbuai merasakan kelembutan ini.
Haruskah melanggar aturan dan nekat saja untuk mencicipi bibir tebal dan lidah yang lembut itu.
"Kangmash... Maaf tapi tempik Bening....ahhh!! Gateel lagi-sshhh!!" Bening mendesis pelan, ia buka kakinya dan melihat kalau kelaminnya di bawah sana memang terlihat jadi makin basah dan berlendir.
Kalimat dari Bening membuyarkan fokus milik Mardi. Suara desahan dari Bening membuatnya merasa seperti mendapatkan bisikan, bisikan agar melampaui aturan, menentang aturan, melanggar aturan, berbuat sesuka hati pada malam ini tanpa memedulikan aturan, aturan, aturan yang tidak akan ada satu pun yang peduli kalau ia sampai melanggarnya.
Jadi, bukankah itu sah-sah saja jika dilakukan?
Lagipula tak akan ada yang mengkuhumnya juga jika sampai ketahuan.
Mardi akan menuruti bisikan tersebut, ia tuntun tubuh mungil namun semok dan bersusu besar itu agar setengah berbaring di atas kasur bambunya. Ia tindih badan itu, berada di atasnya dengan menempatkan diri di antara kedua kaki jenjang yang tengah terbuka percuma untuk menyambut badannya.
Mardi raih tangan dengan jari-jemari lentik itu agar turun ke bawah, menyentuhkannya pada puncak kemaluan milik si gadis sendiri.
"Kamu juga perlu kenalan sama tempikmu." Mardi tuntun tangan itu agar mengucek itilnya sendiri. Mata milik Bening segera membulat dengan penuh. Membulat sempurna. Terkejut dengan sensasi rasa yang didapatkan dari sentuhannya sendiri.
"Kucek terus, kamu kenalan sama yang di bawah, sementara yang atas." Mardi kembali menatap bibir Bening, dengan tatapan yang lapar dan penuh damba.
"Aahhh... Kangmaash enaak sekalii!! Semakin dikuceek-ouuhhh! Kangmaash nikmat sekali itilnya dikuceek-hiiks! Enakhh!" Keenakan sampai tersedu-sedu. Bening terus mengucek itilnya sendiri dengan fokus tanpa menyadari orang lain kini tengah fokus menatap bibirnya.
Mardi tidak membuang waktu lama. Ia raih dagu milik Bening agar mendongak, posisi bibir itu sudah terbuka, memudahkan Mardi untuk langsung melesakkan lidahnya masuk ke dalam. Tapi sebelum itu, Mardi lebih dulu ingin merasakan lembutnya bibir Bening dalam lumatannya.
"Mmphhh!!" Bening bergumam, desahan tertahan, bibirnya dimainkan dengan cara dilumat, dihisap-hisap, dan dijilatin oleh Mardi.
Yang Mardi lakukan hanya membuat tubuh milik Bening jadi semakin lemas. Ia tak mampu bertahan lebih lama untuk setengah berbaring, punggungnya jatuh, meleleh dan menyatu di atas permukaan dipan bambu milik Mardi. Sambil berbaring ia berusaha meladeni apa yang Mardi lakukan, menyerahkan bibirnya agar dimainkan namun di sisi lain juga tidak mau kalah untuk ikut memberi lumatan halus di bibir pria itu. Rasa penasaranlah yang menantang Bening untuk melakukannya. Mencari-cari apa yang menyenangkan dengan memakan bibir orang lain seperti ini.
Dan Bening baru tahu kalau bibir orang lain akan bisa terasa selembut ini saat dilumat. Akan terasa semendebarkan ini saat berusaha saling mengalahi satu sama lain. Akan terasa semenggelitik ini ketika ujung lidah mereka saling bertemu.
Ciuman dari Mardi benar-benar mendistraksi Bening. Dia sampai melupakan itilnya dalam gosokan, ia malah gunakan tangannya untuk mengalung di bahu Mardi, meremasnya kuat seiring dengan semakin intensnya pergumulan mulut dsn lidah mereka. Lidah Mardi masuk, menjelajah mulut dan mengajak lidah Bening untuk saling menari bersama.
"Uunghh!!" Bening melenguh panjang ketika tautan bibir mereka terlepas. Dadanya kekurangan oksigen, ia raup rakus-rakus begitu akhirnya bisa mendapatkan akses itu secara terbuka. Dada kembang kempis, naik dan turun brutal. Mukanya sangat merah dan keringat membasahi seluruh permukaan tubuh.
Belum normal deru napasnya, Bening sudah kembali dikejutkan dengan sentuhan lain, dengan datangnya gosokkan di atas itilnya dari benda keras, penuh urat, yang ternyata adalah batang kontol milik Mardi.
"Itu tadi namanya berciuman. Bibir bersatu, lidah bermain bersama, liur bertumpah ruah menjadi satu. Itu disebut berciuman. Paham, cah ayu?" Mardi terus gosokkan kontolnya yang sudang ngaceng kembali itu di atas kelentit milik sang gadis.
Yang direspon oleh si perawan dengan badan bergetar, kelonjotan, desah-desah keras, keenakan dan kenikmatan.
"Setelah ini, kangmas mau pecahkan perawanmu. Pegang dan peluk bahu kangmas kuat-kuat. Cakar saja jika terasa sakit, atau gigit saja leher kangmas kalau sudah benar-benar tak tahan sama sakitnya." Mardi mulai menyiapkan kontolnya di bawah kelentit milik Bening. Inilah saatnya dia untuk memecah keperawanan milik si gadis dan membawanya pada tahapan kedewasaan yang lebih sempurna.
Kontolnya berdiri tegak, menempel di bawah kelentit, dan bagai cucuk kumbang yang tengah menghisap madunya, Mardi ketuk-ketukkan puncak kontolnya di depan lubang perawan itu. Meski pun sudah basah, sudah sangat licin, tapi untuk memasukinya masihlah sangat sulit. Sempit sekali.
"Aargh... Sa-sakiit kangmash hiks... Sakiit!" Bening menjadi berisik, dia menangis kesakitan sambil menggelengkan kepala brutal.
Lubangnya serasa dipaksa melebar, terus melebar demi agar bisa menerima masuknya batang keras, besar dan panjang milik kangmasnya ke dalam liangnya. Mardi juga sudah berusaha bersikap hati-hati, tapi lubang kawin bocah ini sungguh masih sangat rapat. Masih begitu sulit untuk dimasuki. Dorongan demi dorongan ia berikan, dan di sana dia bisa melihat kalau tempik milik si bocah mulai berdarah, pertanda kalau perawannya telah pecah.
Perih, Bening cakar badan milik Mardi sebagai pelampiasan sakit yang ia dera.
Baru masuk setengah, dan selanjutnya Mardi dorong dengan lebih kuat, membuat akhirnya batang kontolnya bisa bersarang seutuhnya di liang kawin Bening.
"Aarghh!! Sakiit! Akiitt kangmaashh! Huks!" Menangis.
Mardi menenangkannya dengan cara mengecup badan itu banyak-banyak. Mengasihinya dengan beberapa mantra yang ampuh untuk membuat Bening berhenti menangis dan berhenti merasakan sakit. Mantra sudah terucap dan Mardi meniup lubang telinga Bening lembut. Membuat badan dalam dekapannya itu bergetar dalam beberapa saat.
"Sudah ndak sakit?" Bisik Mardi di telinga Bening. Ia kecupi, ia ambil cuping telinganya untuk ia mainkan, dijilati dan dilumat pelan.
Bening bergidik, merinding merasakan telinganya dimainkan seperti itu.
"Sudah tidak, kangmas... Geliihh!" Bening meringkuk kecil di bawah kungkungan badan besar milik Mardi.
Mardi melepaskan pelukan itu. Ia menunduk, melihat kedua susu milik Bening tersuguh. Ia lapar, sampai tak sadar menjilat bibir bawahnya sendiri, tak sabar ingin kembali merasakan pentil mancung itu masuk ke dalam mulutnya kembali.
"Aahhhh!!" Dan desahan dari Bening melantun saat ia merasakan pentilnya dimasukkan ke dalam mulut, dimainkan dengan lidah di dalam sana dan dihisap-hisap rakus.
Keenakan dibuatnya sampai matanya berputar ke atas, juling, hingga menyisakan bagian putihnya saja.
"Aahh! Kangmaashh tempikku digenjot lagiihh! Aahhh.... Enaaakk digenjot sama yang leb-lebihh gedeehh...!!" Bening mendesah lagi, lebih keenakan karena lubang kawinnya kembali digenjot lagi. Berbeda dengan sensasi saat digenjot hanya dengan jari, kini memakai kontol yang berkali lipat lebih besar, panjang, penuh urat yang menggelitik dinding kawinnya, sungguh terasa penuh. Hanya membuat Bening makin enak saja dan rakus ingin terus dienakkan seperti ini lagi dan lagi.
Ajaib sekali, padahal tempiknya berdarah, padahal tadi terasa sangat perih dan sakit, tapi sejak ia merasakan telinganya ditiup oleh Mardi, rasa sakit itu hilang. Tergantikan oleh rasa nikmat, enak, ketagihan, itu saja, tidak ada yang lain.
"Kenalanmu belum selesai sama tempikmu yang bocor ini. Ayo kenalan lagi, dikucek-kucek itilnya, dimainkan sambil kangmas genjot lobang kawinmu yang laper sama kontol kangmas ini!" Ucap Mardi sambil menggenjot lubang Bening dengan tempo yang semakin lama semakin naik kecepatannya.
Mardi arahkan jemari Bening untuk menggosok dan memainkan itilnya sendiri, sedangkan ia tidak akan pernah berhenti atau pun memelankan genjotannya pada lubang surgawi yang melingkupi kontolnya.
"Aahh... Enaakh kangmaashh hikss!! Beniinghh gak kuaat enak bangeethh!! Mbookk! Si mbook Bening keenakan!!" Bening sejak tadi terus menyebutkan si mboknya, itu sudah jadi kebiasaannya yang apa-apa selalu mengadu dan melaporkan segala sesuatu yang terjadi dan dialami kepada si mboknya. Dan kini ia tengah melaporkan betapa keenakannya ia saat lobangnya digenjot, dan saat putingnya dihisap dan dimainkan, juga saat tangannya sendiri bergerak mengucek itilnya sendiri.
"Aahh!! Iyaaah teruuss kangmaaas di sanaahhh! Ahahhh lebih cepeet! Arghh!"
Nikmat di mana-mana, ia kewalahan membendungnya sampai harus mencengkeram lengan milik Mardi kuat sebagai pelampiasan.
"Aarghh! Tempikmu ndook!!"
Mardi mengerang sebab lubang kawin milik Bening benar-benar luar biasa. Lubang kawin Bening memang sangat sempit sekali, memberi sensasi menghisap-hisap saat ia tarik kontolnya keluar, kemudian saat kontolnya ia dorong masuk maka lobang itu terasa mendorongnya dengan lebih dalam, seakan menuntunnya agar semakin mentok menggenjot lubang tersebut. Dinding lubangnya juga terus berkedut, memberikan sensasi seperti dipijati saat bergesekan dengan batang penisnya yang berurat bagai dipenuhi gerigi itu.
Benar-benar lubang kawin yang sangat nikmat dan memuaskan untuk kontol besar milik Mardi.
"Aangh! Lobangmu kedut-kedut lagi, cah ayu! Laper ya sama kontol punya kangmas! Dasar lubang murahan!" Mardi merasakan lubang milik Bening mulai berkedut dengan lebih hebat, ia pikir mungkin bocah itu hampir mencapai nikmat surgawinya kembali.
'PLAAK!'
'PLAK!!'
Tamparan beruntun dari Mardi berikan pada tempik yang sedang dikucek-kucek oleh Bening.
"Aanghh! Ja-jangaan ditampaar kangmaash...aahhh! Linuu! Linuuu!" Bening belingsatan di tempatnya. Ia hampir mencapai puncaknya, dan tampara dari Mardi membuat ia kegilaan karena dirundung nikmat yang tak kira-kira.
"Pipiisssh! Bening mau piipiis lagii awas... Kangmaas awas-aaahhh!!!" Desahannya begitu panjang, air kencingnya kembali mengucur dengan deras, bersamaan dengan itu lubangnya menyempit, kedutannya menggila, sesuatu yang hangat terasa keluar dan mengalir di dalam lubangnya. Bening ingin merapatkan kaki, tapi tak bisa karena ada badan Mardi di antaranya.
Kontraksi dari Bening yang Mardi rasakan adalah kontolnya dipijat-pijat oleh kedutan lubang itu. Dimanja luar biasa, dihisap kuat hingga membuat lututnya bergetar dalam sesaat.
"Aaahhh kangmaas pelan-pelan duluuh masih sensitif-hiks!! Aahhh kangmaas..." Bening benar-benar sudah lemas tapi badannya tidak diberi istirahat sama sekali. Lubangnya kembali digenjot, membuat sekujur badannya kembali dilanda nikmat sampai ia bergetar dengan hebat. Jari kakinya mengangkang lebar di pinggul Mardi, jari-jemarinya menekuk ke dalam dengan kuat, ia sudah tidak kuasa, ia sudah tidak kuat, tapi kontol di dalam masih perkasa, masih betah menggenjoti lubangnya, terus membawa gelombang demi gelombang nikmat yang rasanya terlalu luar biasa.
"Aahh!! Gedeee kangmaas! Kontolnyaa makiin gede... Tempik beniing penuuhh! Aahh! Mentook sekaliii!! Hiikss Bening ndaa kuaatt!! Mbookkk! Aahhh!!" Sungguh berisik namun itu terdengar bagai musik penyemangat untuk Mardi yang dirasa sebentar lagi juga akan keluar pejunya memenuhi lubang kawin sempit itu.
Genjotan terakhir dengan sentakan yang kuat menjadi penyambut semburan air mani milik Mardi ke dalam lubang kawin Bening.
"Aarghhh!! Terima peju dari kangmas dek!! Mas keluarin semua, mas penuhin kamu sampek kembung peju! Aaahhh!" Mardi keluar dengan deras, banyak sekali yang keseluruhannya ia lesakkan di dalam. Kepala penisnya terasa berkedut, mengeluarkan sisa mani yang belum keluar seluruhnya. Ia dorong ke dalam, memastikan agar itu benar-benar masuk dengan baik.
"Aaahh... Angeet, perut Bening-nghhh angeet!" Bening merasa perutnya yang menonjol, membuncit karena cetakan kontol besar Mardi yang ada di dalamnya, dan juga karena derasnya semburan peju yang ia terima dari Mardi, yang membuatnya sampai-sampai merasa kembung.
"Kamu sekarang sudah melewatinya, sudah resmi disebut dewasa karena perawanmu sudah kangmas pecahkan." Mardi ambil keluar batang kontolnya dari liang nikmat itu.
"Ssshh...!" Bening mendesis merasakan penis itu ditarik dari lubangnya. Ia bangun, menunduk ke bawah dan melihat tempiknya dipenuhi oleh banyak sekali cairan kental, entah dari cairan kentalnya sendiri, dari sisa darah karena robeknya lapisan perawannya, ataupun dari lelehan peju milik Mardi yang ikut mengalir, meluber keluar bersamaan dengan keluarnya kontol milik Mardi.
Bening masih terpaku dengan bentukan kelaminnya sendiri yang nampak sangat berantakan, seperti kue apem warna merah yang sengaja dihancurkan dan diacak-acak. Persis seperti itu bentuk kelaminnya saat ini.
Asik melamun Bening sampai terkejut saat Mardi menyuruhnya untuk bangun dan memberinya sebuah selendang jarik baru. Mardi menyuruh Bening untuk mandi dan membersihkan diri. Sekarang pelajarannya cukup sampai di sini dahulu dan bisa dilanjutkan nanti malam setelah matahati terbenam, sebab sore ini Mardi masih ada acara di kawedanan bersama perangkat desa lainnya. Mungkin ia akan pergi sampai malam, nanti setelah pulang jika ia mendadak kembali berselera untuk memasuki lubang kawin milik Bening, maka sudah jelas ia akan kembali mengajak Bening untuk kawin lagi.
Apalagi sekarang Bening sudah tahu sedikit ilmu darinya, maka nanti malam sudah tak perlu lagi mengajarinya terlalu lama dan tinggal kawini sampai puas, sampai bocah itu lemas kelojotan dengan genjotan kelaminnya.
"Kangmas pergi dulu, kamu lebih baik istirahat kalau capek." Pamit Mardi sebelum pergi meninggalkan Bening sendirian di rumahnya.
***
Bening tidur di kamar Mardi, masih di dipan bambunya dan berselimutkan kain jarik pendek yang hanya menutup pada sebagian tubuh, dari paha sampai perut saja. Bening pikir dia akan kedinginan, tapi ternyata tidak. Sebaliknya di sini malahan terasa hangat dan nyaman sekali, membuat ia terbuai dan tidur selama beberapa saat sebelum kemudian kembali terbangun saat ia mendengar suara pintu kamar terbuka.
Mardi sudah pulang.
"Kangmas sudah pulang?" Bening tidak malu lagi untuk bertelanjang di depan Mardi, kini ia bahkan nampak lebih santai dan bisa bersikap biasa saja. Ia bangun dan turun dari dipannya untuk melangkah mendekati Mardi, menyambut kepulangannya.
"Ayo layani kangmas lagi, kangmas sudah menahan sange dari sejak di kawedanan tadi." Selama di kawedanan, Mardi terus didekati dan digodai oleh para penari yang diundang sebagai bintang tamu, yang berinteraksi langsung dengan para penonton serta tokoh-tokoh elit desa yang hadir. Para penari itu berpakaian tak senonoh, melakukan gerakan tari yang tak senonoh juga. Badannya dijamahi, dibelai dan digodai habis-habisan.
Tapi malam ini Mardi sedang tak ingin bermain dengan mereka. Mardi malam ini hanya ingin bermain dengan bocah ayu-bocah cilik yang sudah menunggunya di rumah. Mardi tidak sabaran karena jujur saja siang tadi dia belum merasa puas sama sekali. Dia masih ingin berkawin dengan lebih hebat.
"Ki-kita mau seperti tadi siang lagi kangmas?" Tanya Bening dengan malu-malu.
Mardi mengangguk. Ia segera melucuti pakaiannya sendiri sebelum kemudian menarik tangan Bening untuk kembali berbaring di kasur.
Bening bisa merasakan kalau yang lebih tua sedang tidak sabaran sekarang, terlalu bernafsu dan sangat terburu-buru. Saat menjamah kemaluannya, untuk melicinkannya juga memakai gerakan yang sangat berantakan tapi syukurnya Bening dapat merasakan nikmat dari sentuhan itu.
"Aahhhh!! Kangmaass! Beniing mau sampaaihhh-aarghh!!" Belum apa-apa dan Bening sudah dibuat keluar untuk yang pertama kalinya pada malam ini hanya dengan kucekan jari.
"Sudah basah, sudah siap Mas genjot lagi. Sudah siap kan, cah ayu?" Mardi melebarkan kaki milik Bening, ia posisikan kontolnya di depan lubang kecil yang sedang berkedut, cengap-cengap dengan lendir putihnya yang menetes dan mengaliri, membasahi, membeceki tempik itu.
"Masukkan saja kangmash... Tempik Bening juga sudah gatel-aaarnghh!" Bening pintar berkata, pintar menyuarakan apa yang dirasa. Dia pejamkan mata erat merasakan batang kontol keras, kuat, dan kokoh itu kembali memasukinya lagi.
Pengalaman pertama tadi siang cukup menyakitkan. Dan itu berbeda dengan yang sekarang, untuk sekarang Bening bisa merasa lebih rileks dan tak merasakan sakit sama sekali. Sebaliknya, dia malah dibuat keenakan senang saat kontol panjang itu bergerak masuk, melesak sampai ke dalam untuk memenuhinya, untuk nanti menggenjotinya dan menumbuk titik nikmatnya sampai berkali-kali seperti tadi siang.
"Aahh! Aduuh kangmaass!! Aarhh... Kenapaa Bening di atas-angh!! Jadii makin mentook kangmas!" Bening merapatkan kaki setelah posisinya dibawa oleh Mardi untuk berbalik, ia diangkat dan dibuat duduk di atasnya dengan kontol yang tetap bersarang di dalam tempik. Alhasil itu membuat kontol Mardi jadi menancap dengan lebih dalam dan jauh di sana.
Enak, lebih enak daripada berbaring.
"Latihan gerak di atas. Naik-turun, maju-mundur pelan, puter bokongnya kayak ngulek sambel. Ulangi terus, manjakan kontol punya kangmas." Perintah Mardi yang langsung diiyakan dan dilaksanakan oleh Bening dengan patuh.
Dengan tenaga yang payah, Bening naik-turun pelan-pelan kemudian maju dan mundur, setelah itu bokongnya ia tekan ke bawah, melakukan gerakan berputar seperti sedang mengulek.
"Aanghh!! Kangmaash!! Mentokk sekaliii! Ahhh di sanaah... Di sanah.... Enaakh!!" Bening keenakan di atas Mardi karena ulahnya sendiri. Badannya terasa makin gelisah, seperti dia tengah terbakar oleh api gairah yang terlalu membara.
"Aahhh!! Susunya Bening gateel kangh!!" Mendesah sambil merabai dadanya yang mendadak terasa gatal.
Pemandangan ini membuat Mardi menelan ludah pelan, Bening terlihat sangat erotis dan panas di matanya.
"Kangmas bantu biar nda gatel lagi-aargh!" Mengerang sebab kontolnya dijepit terlalu rapat oleh lubang kawin milik Bening.
Desahan mereka selanjutnya saling bersahut-sahutan. Saling memberi nikmat, dan menjamah tubuh satu sama lain dengan tanpa mengenal kata puas. Mardi menyusu pada pentil kanan Bening, sedangkan pentil kiri Bening ia mainkan dengan tamgannya. Kontolnya ia biarkan dikendarai oleh Bening. Si cantik itu sejak tadi begitu bersemangat menungganginya demi mengejar nikmat saay titik puncaknya saling bertemu tumbuk dengak unung kontolnya.
Bunyi becek terdengar nyaring, berisik sekali dengan pertemuan antar kulit yang saling bertepuk, bertemu secara brutal. Kelamin mereka semakin basah dan becek, beberapa cairan bahkan sudah merembes keluar membasahi perut atau pun paha.
"Aahhh!!! Kangmaashhh!! Be-beniing mau sampaiiih lag-aarghhh!!"
"Sama-rrghhh!!"
Mereka keluar secara bersamaan. Mardi lagi-lagi memenuhi lubang Bening dengan pejunya. Bening sendiri bergetar hebat saat air kencingnya kembali mengucur, deras dengan lubangnya yang berkedut mengeluarkan cairan kental berwarna putih.
Mardi tentu saja belum puas. Ia bangun, melepaskan kelamin mereka dan menggiring Bening agar menungging, akan ia kawini anak cantik itu dengan gaya anjing kawin.
Kontolnya mudah masuk, karena sebelumnya memang sudah basah dan lubangnya pun sudah lebih merenggang elastis.
"Aahhh! Aahhh! Lebihh daleeem kangmaas! Lebiih masuuk kalo posisi iniihh! Aahh iyaah di sanaa.... Enaaak sekalii kontool kangmaas rojok tempik Beniinghh!!" Yang Bening suarakan begitu Kangmasnya sudah bergerak merojok tempiknya kencang, kuat dan menghentak dari belakang.
Badan Bening juga ikut terhentak-hentak, susunya di bawah sana menggantung, gundal-gandul, memantul keras seiring dengan badannya yang terus digarap habis-habisan dari belakang.
Kontol Mardi masuk lebih dalam, lebih mentok, lebih memanjanya dengan gila. Bening sampai kewalahan, kedua lututnya benar-benar bergetar kuat, lemas, tidak kuat menumpu badan.
Dan bertepatan saat ia nyaris nyungsruk ke depan, badannya diangkat agar bangun, dibawa dalam posisi setengay berdiri dengan lutut sebagai tumpuannya. Ia digenjot sambil dipeluk dari belakang. Ia juga merasakan cumbuan pada kulit tengkuk, bahu dan punggungnya.
"Aahhh!! Jaangan!! Kangamaas jangan kuceek itiilk Beniing!! Nanti lemeeshh pipiss lag-aahh! Enaaaakh! Teruss di sanaa kangmaas, genjoot teruuss!" Kacau sudah kalimatnya. Awalnya blingsatan saat itilnya dikucek kasar dari belakang sambil lobang kawinnya masih digenjot. Membuat sensasi nikmat yang ia terima jadi makin tidak terbendungkan.
Tapi saat titik nikmatnya terus ditumbuk habis-habisan, Bening lupa juga pada semuanya. Buyar, tak bisa fokus, dan pasrah saja Mardi ingin melakukan apapada tubuh lemasnya.
"Aakhh!! Kangmaasshh!! Beniing ma-mauuu!! Aakhh!! Gak kuaaat mau muncraat lag-lagiihh!!" Bening kepalkan tangannya kuat, giginya mengerat kuat, gelombang nikmat itu datang untuk menggulung tubuhnya. Tapi nahas ia tak bisa menikmatinya dengan lebih jauh, bahkan ketika air seninya mengucur tinggi dan panjang, di belakang sana Mardi masih asik menggenjotnya dengan tanpa jeda. Menyiksanya dalam rasa nikmat yang bagai tiada batasnya itu.
Mardi baru berhenti ketika pria itu sudah mendapatkan klimaksnya kembali. Sudah menembakkan pejunya lagi ke dalam lubang kawin Bening yang makin penuh dan makin basah itu.
"Aarghh!" Menggeram merasakan sensasi nikmat yang menderanya.
Mereka sama-sama kacau dalam bernapas. Memburu, berantakan dengan tubuh yang sama dipenuhi oleh peluh. Mengambil istirahat untuk sejenak dengan mengambil air minum dalam kendil, meminumnya berantakan serta kacau, bahkan Bening sampai tersedak-sedak karena saking haus dan tidak sabarannya saat minum.
Selepas minum, tentu saja mereka kembali melanjutkan kegiatan panas mereka bahkan sampai menjelang pagi. Baru berhenti ketika Bening merasa lemas dan tidak berdaya, benar-benar kehilangan banyak energi.
***
Tiga hari berlalu, Bening terus digarap oleh Mardi di dalam rumahnya. Segala penjuru ruangan sudah menjadi tempat dan saksi keduanya asik berkawin, mendulang nikmat bersama.
"Minum." Sebelum pulang, Mardi menyerahkan segelas jamu untuk Bening. Ia tersenyum selama melihat Bening meminumnya dengan cepat dan langsung tandas dalam beberapa saat.
"Itu apa, Pak Bayan? Manis sekali. Terima kasih." Ucap Bening yang sudah kembali memanggil Mardi secara formal karena tiga hari telah berlalu, dan masa pendewasaan dengan ditemani oleh Mardi telah usai. Sekarang posisi dan status mereka pun sama dan kembali seperti sebelumnya.
"Bukan apa-apa. Hanya minuman manis saja. Ayo saya antarkan pulang. Oh, ya. Kalau kamu mau berkunjung ke rumah saya, datang saja tidak usah sungkan. Akan saya sambut kedatangan kamu dengan senang hati nanti." Ucap Mardi lalu mengantatkan Bening kembali pulang ke rumahnya sendiri.
***
Setelah pulang dari rumah Mardi dan resmi menyandang status dewasanya, segera saja banyak sekali perjaka yang datang ke rumah si mbok untuk melamar Bening. Namun semua lamaran itu ditolak oleh si mbok dengan halus, sebab Bening sudah ia persiapkan untuk orang lain.
"Kamu dikasi minuman manis sama pak bayan setelah ritual tiga hari selesai?" Teman Bening, Rinjani namanya, bertanya pada Bening ketika ia tengah berkunjung.
Rinjani sendiri sekarang sedang hamil anak pertama setelah dua bulan lalu menikah dengan perjaka desa sebelah. Rinjani menjalani prosesi ritual pendewasaan saat berumur 12 tahun, berjarak sangat jauh dari Bening.
"Iya. Jamunya manis. Memang kamu tidak?"
"Ndak. Aku dikasinya yang pait, pait banget sampek pengen muntah!" Rinjani juga heran kenapa bisa berbeda dengan Bening, padahal dengan gadis-gadis lainnya saat ia tanyai, semua dapat jamu pait sebelum pergi dari rumah pak bayan. Berbeda dengan Bening yang malah dapat jamu manis.
"Oh? Kok bisa gitu-"
"Rinjani, suamimu di depan ndok. Kamu sudah ditunggu untuk pulang kayaknya." Ucapan si mbok memutus obrolan mereka.
Akhirnya Rinjani pergi pulang dan sekarang di rumah hanya menyisakan Bening bersama si mboknya.
"Memangnya benar, ya mbok? Harusnya jamunya pait?"
Si mbok tak langsung menjawab, ia malah tersenyum kepada Bening.
"Sudah, ayo sarapan dulu." Menyodorkan ubi jalar kukus kepada Bening.
Bening menerimanya, namun baru menyentuh dan hendak menghirupnya, Bening langsung melemparnya kembali karena serangan mual tak terduga datang.
"Hoeek!! Hoeekk! Mbok, unghh! Maaf Bening mau muntah du-hoeek!!" Bening berlari ke belakang dapur, keluar untuk memuntahkan isi perutnya. Tapi ternyata tidak keluar, ia hanya mual-mual saja, namun mualnya sangat hebat hingga cairan bening itu berhasil ia muntahkan.
Si mbok datang dari belakang. Ia usap-usap punggung cucunya pelan. Kondisi ini sudah si mbok perhitungkan dari sejak pertama Bening bercerita diberi minuman dengan rasa manis daripada pait selayaknya gadis lainnya.
Minuman pait itu digunakan untuk menggagalkan tumbuhnya benih sang bayan yang tertanam dan masuk di rahim para gadis selama menjalani ritual pendewasaan. Mencegah agar tidak hamil.
Tapi Beningnya malah diberi minuman manis, yang fungsinya malah sebaliknya.
Untuk membantu menyuburkan benih yang sudah tertanam sehingga bisa berkembang dengan baik, sampai akhirnya dinyatakan hamil.
Si mbok indikasikan kalau pak bayan sepertinya naksir dan suka dengan cucunya, sehingga dibiarkan dan diharapkan hamil oleh lelaki itu.
Si mbok senang-senang saja. Dia sudah tua, sudah tak mungkin bisa berada di sisi sang cucu untuk merawatnya. Setelah ini, biarlah nanti suami dari cucunya yang akan mengurus dan merawat cucunya.
"Ndak papa, ayo minum teh anget. Besok kita ke rumah pak bayan lagi ya."
"Eh? Untuk apa mbok? Bening ada salah ya sampai harus dibawa ke sana lagi?"
"Nda ada. Kita cuma minta periksa dan memastikan sesuatu saja. Oh, jangan lupa besok dandan yang cantik juga ya, ndok. Dandan yang cantik, buat pak bayan suka, betah nyawang kamunya."
"Baik, Mbok."
****
TAMAT!!!
