Chapter Text
Tidak banyak yang aku ketahui soal kamu, Juna Mahendra.
Yang aku tahu: kamu cuma salah satu dari sekian banyak murid tingkat akhir. Namamu kerap dielukan karena kemampuan menari—dan sebagian karena paras indahmu.
Orang-orang bilang kamu serupa angsa kalau sudah menari. Komtemporer atau balet aku tidak begitu mengerti, tapi kamu memang tampak cantik.
Aku akui, Juna… kamu memang lebih indah dari kebanyakan teman-temanku…. Aku pernah lihat kamu menari di perayaan tahunan sekolah. Aku pikir, pujian itu bukan hiperbola semata.
Kamu menari di aula yang diredupkan lampunya, dan sisakan sorot di tengah panggung. Di sanalah kamu menari seorang diri.
Kamu mengenakan kemeja semi transparan, dengan banyak rumpai yang menyerupai sayap. Kau tarikan gerakan-gerakan serupa terbang dan menari dengan leluasa, menjelajahi panggung dari satu sisi ke sisi lainnya.
Aku menyaksikanmu dalam diam—duduk sisi kursi penonton yang gelap—yang tak sebanding dengan terangnya kamu di atas sana.
Di akhir penampilan, aku bertepuk tangan bersama keriuhan penonton lain. Aku cuma satu di antara ratusan. Aku yakin kamu tidak tahu aku ada di sana.
Teman-temanku bilang kalau yang kau tarikan itu jenis tari kontemporer. Aku tidak begitu mengerti soal tari-tarian. Namun, satu yang kutahu: kamu memang seindah yang mereka deskripsikan.
Kamu punya surai pirang berkilau yang alami sejak lahir. Ada dua persik merah muda yang kerap menghiasi pipi kalau kamu kepanasan. Tak ketinggalan, lengkung senyum yang menawan dan melahirkan bintang.
Aku bisa menggambarkan kecantikanmu lebih jauh, seandainya aku punya kesempatan memperhatikan lebih lama.
Sayangnya, kamu selalu sibuk mengembara; sibuk cari kesenangan. Satu tempat ke tempat lain dengan wajah lugu seolah tiada resah soal masa depan.
Aku melihatmu sesekali. Kamu bisa ada di ruang latihan menari, di sisi kantin yang ramai dan dikelilingi kawan-kawan yang bising, atau di ruang belakang gudang sekolah untuk membolos kelas.
Aku melihatmu sesekali, cuma sesekali. Mungkin dua hari sekali. Dalam sekelebatan detik yang terasa sangat singkat.
Aku pun tak berani menatap ke arahmu lama-lama. Karena katanya kamu punya sifat yang tidak terlalu ramah. Kata orang-orang, sifat dan parasmu tidak senada. Tidak seelok yang mereka kira.
Rumor itu juga yang buat aku berhenti mendeskripsikan keindahanmu. Dan menyerah untuk curi-curi tatap.
Saat Dino—kawanku dari sekolah lain—bertanya sekali lagi, “Lo kenal kakak tingkat yang namanya Juna Mahendra? Dia orangnya gimana deh?”
Aku bingung harus menjawab bagaimana.
Aku seolah tahu segala tentang kamu, Juna, tetapi nyatanya aku tak tahu apa-apa.
Tiba-tiba Dino berceletuk, “Gue kasihan sih sama dia.”
“Kenapa?”
“Lo belum tahu Juna kenapa, Dik?”
Aku menggeleng.
Dino melempar tatapan yang tampak betul-betul penuh simpati.
“Katanya Juna cedera kaki, ditabrak mobil waktu mau nyebrang jalan.”
Aku pikir itu cuma satu dari sekian rumor lain yang tak nyata. Namun, kamu tiada lagi muncul di sekolah. Tidak barang sedetik pun.
…
Ada rasa heran yang selalu timbul saat melihat kamu bermain-main dengan bebasnya. Padahal, siswa lain sibuk bergumul dengan buku-buku mereka.
Sebagai kakak tingkat kelas tiga yang sibuk dengan puluhan ujian, kamu tampak bebas tanpa beban.
Suatu hari, di penghujung hari Sabtu—tepat sebelum liburan musim hujan—aku melihat kamu lagi-lagi berlarian di koridor. Di tanganmu ada speaker yang memutar lagu upbeat, menggelegar sampai ke ujung lorong. Kamu dan beberapa kawan yang badung itu mengganggu setiap anak yang lewat, entah menyenggol bahu, merebut minuman, atau menyentil telinga mereka.
Beberapa siswa merasa jengkel, sedangkan yang lainnya cuma ikut tertawa. Seolah dosa berhasil dihapus senyum penuh kelakar.
Saat itu, kamu dan teman-temanmu berjalan semakin dekat. Kamu mendekat. Kamu mendekat ke arahku.
Barangkali kamu mau lewat sisi lain lorong—mau menuju ruang latihan dansa—sebagaimana yang kamu lakukan setiap hari Sabtu.
Namun, kamu berhenti sepersekian detik di sampingku. Aku kira kamu mau menyenggol bahuku dengan angkuh seperti yang kamu lakukan ke anak lain. Namun, kamu cuma menepuk sisi lengan dan berlalu, sambil berkata, “Hati-hati kalo jalan.”
…
Aku paling benci musim hujan. Aku harus mengenakan pakaian berlapis-lapis, harus hati-hati melangkah di atas trotoar yang licin, dan harus menyalakan lampu saat tidur karena kamar semakin gelap, lembap, dan suram.
Aku paling benci musim hujan.
Rasanya tubuh ini memohon untuk direntangkan di atas ranjang untuk bermalas-malasan sepanjang siang. Kendati demikian, aku tetap memaksakan diri berangkat ke tempat les dengan langkah terseok.
Tempat les itu cukup jauh dari rumahku. Aku harus naik bis umum dan memotong keramaian kota sebelum tiba di sana.
Selain itu, aku juga harus melewati jalan yang paling kuhindari.
Ada sebuah persimpangan di pemberhentian ketiga, tempat di mana kamu tertabrak mobil tahun lalu. Tempat yang membuat tubuhmu terpelanting tiga meter dan tak sadarkan diri berhari-hari. Tempat yang membuat kakimu cedera dan terpaksa berhenti menari untuk seluruh sisa hidup. Tempat yang membuat kamu menghilang dan tak lagi muncul di sekolah, kecuali rumor-rumor yang menyusul dari waktu ke waktu.
Tak terasa sudah satu tahun berlalu… sekarang aku sudah naik kelas dua dan seharusnya kamu sudah masuk kuliah. Namun, kabarmu masih tak kudengar sampai sekarang.
Setiap lewat tempat kecelakaan itu, aku selalu mengalihkan pandangan. Entah ke sepasang sepatu lusuhku, ke arah penumpang lain yang kelihatan mengantuk, atau ke notifikasi ponsel dan keluh kesah Miguel soal ujian akhir.
Setiap hari aku berharap bisa berhenti membayangkan bagaimana tubuh ringkihmu terpelanting di udara, berhenti membayangkan darah yang menggenang di atas permukaan aspal, dan berhenti juga berharap sosokmu kembali muncul dengan keceriaan sedia kala.
Kadang aku tertawa. Mengapa juga teringat pada seseorang yang bahkan tak begitu aku kenal? Pasalnya, tidak banyak yang aku ketahui soal kamu, Juna Mahendra.
…
Tidak banyak yang aku ketahui soal kamu, Juna Mahendra. Makanya, saat aku melihatmu lagi dua tahun setelah kamu pergi, aku bingung harus menyapa seperti apa.
Kamu juga tampaknya tak mengenalku. Karena itulah, aku putuskan untuk duduk tenang dengan jarak dua meja di samping, memilih untuk diam seribu suara. Pura-pura tidak kenal adalah keputusan terbaik.
Aku memperhatikan kakak tingkat yang menjelaskan perihal komunitas catur ini sambil sesekali melirik ke arah kamu.
Kamu tak jauh berbeda dengan sosokmu tiga tahun lalu, masih sama eloknya.
Kamu menopang dagu dengan sebelah tangan dan kakimu menyilang bosan di bawah meja.
Satu-satunya perbedaan mungkin ada pada keriuhan dan kejahilan yang tampak sirna oleh lesu. Kamu jadi lebih mendung. Atau itu cuma halusinasiku? Apakah karena lampu ruang yang redup? Atau karena bajunya tampak kelabu? Semua tak lagi secerah dulu. Pirang suraimu pun juga tampak layu.
Oh iya, kamu masih berambut pirang. Aku perhatikan sekali lagi, dan sepertinya segala rupa fisik yang ada padamu masih sempurna seperti sedia kala. Barangkali bekas jahitan di kaki adalah satu-satunya pembeda.
Aku tatap dua belas jahitan itu, lalu bayangan tubuh yang terhempas ke atas aspal melintas lagi di kepala.
Sepertinya aku terlalu lama memperhatikanmu, karena kamu mendadak menyadari arah tatapanku.
Sebelah alis terangkat, mempertanyakan maksud tatapanku. Aku cuma membalasnya dengan senyum tipis.
Iya, sepertinya kamu memang tidak mengenalku. Namun, ini hal bagus. Karena aku tidak mau memperkenalkan diri sebagai anak kutu buku culun yang membosankan semasa sekolah. Aku harap setelah ini, kamu bisa mengenalku sebagai sosok yang baru.
Karena itulah, ketika kakak tingkat klub catur itu menyuruh para anggota baru memperkenalkan diri, aku berdiri dengan percaya diri dan menyebut nama dengan lantang, seolah nama ini tidak pernah kamu dengan sepanjang 20 tahun hidup.
“Nama saya Dika. Salam kenal.”
…
Ternyata Juna Mahendra tahu bagaimana cara bermain-main di atas bidak.
Kuda melompat dari E5 ke C6. Sementara Gajah hitam meluncur dengan anggun di sepanjang diagonal papan, bergerak dari D7 ke H5. Kamu memotong seluruh strategi yang sudah aku buat di kepala. Dengan gerakan tersebut, semua jalur keluar raja yang aku punya telah tertutup oleh bidak-bidak milikmu.
Lalu, “Skak,” tandasmu, sambil tersenyum puas.
Aku menggulingkan bidak Ratu milikku sebagai bentuk kekalahan.
“Lo tahu salahnya di mana?” tanya Juna kemudian.
Aku menggeleng.
“Lo terlalu tegang,” terangmu.
Kamu ikut membereskan pion-pion yang berserakan, hitam dan putih dipisahkan ke kotak yang berbeda.
“Just have fun, kita gak lagi turnamen beneran kan?”
Aku setuju.
Jari-jari kita saling bersentuhan di atas meja saat membereskan catur yang tertinggal. Kamu melirik sekilas, kemudian abai.
“Kalo gitu ayo main lagi, kali ini sambil ngobrol,” kataku, mengusulkan.
Ia menimbang-nimbang. “Oke.”
Dari percakapan itu, Aku jadi tahu banyak hal tentang kamu. Aku bukan lagi seorang Dika yang curi-curi dengar kabar dari mulut lain.
Aku tahu banyak tentangmu. Soal kamu yang kini ambil jurusan Desain Komunikasi Visual dan punya minat yang besar untuk jadi seniman. Soal kamu yang tidak suka olahraga lagi pasca lulus sekolah. Soal kamu yang suka melewatkan sarapan. Atau soal kamu yang ternyata lebih tua dua tahun dariku (yang jelas-jelas sudah aku ketahui sebelumnya, cuma pura-pura tidak tahu saja).
“Lo bener-bener payah ya ternyata,” cercamu pada kekalahanku yang ketiga.
Aku meringis merasa bersalah. Pasti kamu berpikir kalau permainanku membosankan.
“Maaf, saya masih pemula.”
“Terus, kenapa join ke klub catur? Orang-orang di sini pasti udah jago sebelumnya,” jelasmu.
Aku memindahkan salah satu pion di atas papan. Kamu membalasnya tanpa pikir panjang, menjegalku dengan bidak Kuda.
“Saya coba banyak komunitas. Kebetulan salah satunya komunitas catur.”
Kamu berdecak pelan. “Orang kayak lo pasti gak bakal dateng lagi di pertemuan ketiga.”
Aku merasa sedikit tersinggung. “Why?”
Lantas, kamu menjelaskan dengan wajah penuh rasa jengkel.
“Hari pertama, lo dateng karena kepo…” Kamu menunjuk ke arahku yang duduk di seberang meja dengan tenang. Kemudian, melanjutkan kalimatnya yang terjeda. “Gue jamin, lo pasti bakal ngerasa klub ini boring. Terus—hari kedua—lo nahan diri buat keluar karena masih penasaran sama kegiatannya…. Tapi di hari ketiga—lo udah pasti males—dan lo gak mau lagi buang-buang waktu…. Lo merasa klub lain bakal jauh lebih menyenangkan. Akhirnya… lo milih buat cabut aja dan gak pernah balik lagi.”
Tuk.
Suara bidak yang diketuk pelan di papan catur memecah keheningan ruangan. Aku meletakkan satu bidak Raja dengan tepat sasaran dan menyelesaikan pertandingan dengan King's Move yang berani.
Beberapa pasang mahasiswa lain masih fokus pada permainan mereka, tenggelam pada rumus-rumus di kepala dan strategi untuk mengalahkan lawan. Di meja kita, hanya ada dunia kita berdua.
“Skak,” aku bilang. Akhirnya berhasil mengalahkan kamu setelah tiga kali percobaan.
Kamu menyeringai.
“Besok dateng lagi kan?” tanyamu, jelas menantang.
Tidak mungkin aku tidak datang. Tak ada kata “membosankan” dalam kamus hidupku kalau sudah menyangkut kamu.
…
Satu bulan sebagai mahasiswa baru adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Tidak ada banyak tugas, ada kesempatan bertemu dengan banyak orang, dan bisa dengan bebas menghabiskan waktu seharian di ruang klub yang luang.
Aku merebahkan kepala di pahamu, selagi kamu membuat sketsa di tablet lebarmu itu.
Aku sempat lihat sekilas, tampaknya kamu sedang membuat nirmana digital. Kamu pernah mengeluhkan betapa sulit membuatnya. Raut yang saat ini kau pajang pun sudah menggambarkan segala kerumitannya.
“Anjing banget dah nirmana,” kamu mengumpat sambil menghapus jejak kesalahan di layar.
Aku terkekeh, masih santai di atas sofa ruang klub.
“Lo gak ada tugas apa?” Kamu bertanya dengan nada jengkel dan iri.
“Sudah selesai semua.”
“Enak banget tai.”
Aku tertawa lagi. Kamu masih suka bicara sebebasnya ya? Tidak heran. Kebiasaan memang sulit dihilangkan.
“Hari ini gak main catur?” Aku memastikan.
“Persetan sama catur. Gue mau nyelesaiin pertarungan hidup dan mati ini dulu,” tuturmu, masih fokus menggores warna di tablet. Katamu, desainnya bakal dipindahkan ke kertas. Kerja dua kali. Aku mau tak mau dibuat takjub.
Kita habiskan menit demi menit bertarung dengan benak masing-masing. Kamu masih membisu, bahkan tak mengeluarkan satu patah kata pun saat kepalaku bergeser cari celah nyaman di pahamu.
“Kaki kamu… gak sakit?”
Kamu terdiam selama beberapa detik.
Dalam penantian itu, nafasku sempat berhenti secara tak sadar
“Maksud saya, kepala saya bikin kaki kamu pegel gak, Jun?” Aku ganti pertanyaan, agar kamu tidak perlu mengingat tragedi yang menyakitkan itu.
“Pegel,” jawabmu, singkat. “Makanya, minggir.”
Kepalaku diguncang oleh gerak pahamu. Aku bangkit dari rebah itu, lalu pindah untuk duduk di sisimu.
Kini, kita sama-sama duduk bersandar di sofa. Aku tak mau pergi jauh, jadi aku duduk serapat mungkin dan menyatukan bahu kita berdua.
Kamu menggeram kecil. Kemudian, menyenggolku agar menjauh. “Sempit anjing.”
Namun, aku tak bergerak sedikit pun. Alih-alih pergi, aku malah menyandarkan kepala ke bahumu.
“Saya ngantuk.”
Setelah itu, kamu mulai sedikit tenang. Barangkali kamu tahu aku tak akan mengganggu lagi kalau sudah tertidur. Jadi, kamu relakan sebelah bahu untuk menahan kepalaku.
Aku pejamkan mata, tapi tak pernah benar-benar tidur. Aku cuma mau merasakan hangatmu dari dekat.
Semoga kamu tidak menyadari degup jantungku yang riuh ini, Juna.
…
Kontak bahu dan permainan senggol-menyenggol lengan hanya permulaan.
Aku berikan undangan secara tersirat, dan kamu mulai menerimanya perlahan-lahan.
Kamu jelas tahu apa yang kulakukan.
…
“Lo selama ini tuh flirting ya sama Juna?”
Suatu hari, Miguel—sahabat kecilku—bertanya demikian, setelah melihat interaksi kita berdua di kantin umum kampus. Dia mampir untuk menyerahkan buku milikku yang tertinggal di rumahnya.
Aku malu menjawab pertanyaan itu. Namun, tanpa dijawab pun, Miguel sudah mengerti.
“Juna gap year tahun lalu?”
Aku tidak tahu. Tidak berani cari tahu.
“Dia jadi satu angkatan sama kita, pasti something happen setelah dia kecelakaan itu gak sih?”
Aku juga menduga hal yang sama. Namun, masa lalu ada di masa lalu. Buat apa dipikirkan lebih lanjut?
“Gak usah ngomongin orang.” Aku tepuk lengan Miguel sebagai teguran. Dia menghela napas lelah.
“Polisi moral kambuh lagi,” cercanya.
Kamu datang tak lama kemudian. Wajahnya kusut dan bersunggut-sunggut. Ada aura gelap yang menyertai kedatangannya sejak di ambang batas pintu masuk.
Kamu segera ambil tempat di sisiku, tak mempedulikan tatapan mencela yang diberikan Miguel.
“Dika….”
“Iya?”
“Capek banget, gila.”
Kepalamu disandarkan ke ceruk leherku, cari tempat untuk mengistirahatkan penat.
Aku coba untuk memahami segala resahmu. Satu tanganku terjulur ke belakang punggung kamu, membuat usapan-usapan pelan untuk usir lelahmu. Tangan itu sesekali naik ke bahu atau rambutmu.
Gerutuanmu mulai menipis, karena berhasil diredam oleh buai-buaian gestur tanganku.
“Mau cerita?” tawarku padamu.
Dan seketika kamu mengeluarkan semuanya, mulai dari kawan yang absen dari diskusi kelompok, dosen yang memberi setumpuk tugas, hingga kuis pagi yang kelewatan susah.
Selama itu juga, Miguel masih duduk di seberang meja. Dia melihat semuanya. Dia melihat bagaimana aku tak pernah mengalihkan pandangan dari wajahmu. Dia melihat bagaimana kamu meringkuk nyaman di bawah rangkulanku. Dia melihat bagaimana kamu tidak menjauh meski wajahku hanya sejengkal dari wajah milikmu. Dia melihat semuanya.
“Juna juga suka sama lo.”
Kesimpulan itu Miguel dapatkan setelahnya. Dia sampaikan saat kamu menjauh sejenak untuk membeli minum, pastikan tidak didengar sama sekali.
Miguel bilang, “Kalo lo tiba-tiba cium Juna sekarang, gua yakin dia gak bakalan nolak.”
Aku tertawa geli.
“Saya takut ditampar kalo cium-cium sembarangan.”
Miguel mendesis sinis.
“Yang ada lo dijambak karena dia keenakan. Gak usah nahan lah.” Miguel berceloteh liar tanpa filter. Benar-benar khas sifat sembrononya. “Tembak cepet-cepet, gue yakin Juna bakal terima lo, Dik.”
Memikirkan ikatan hubungan denganmu selalu membuat perutku dipenuhi kupu-kupu. Geli dan menyenangkan.
Jika memikirkan kamu saja sudah buat aku berbunga-bunga, bagaimana jika aku benar-benar mengungkapkan rasa? Mungkin aku sudah hangus, hancur, lebur, jadi abu.
…
Atau… mungkin… aku memang sudah hangus dibuatmu.
“Gak datang ke klub catur?” Tanyaku, saat melihat kamu tak juga bangkit dari kursi kafe. Di meja tempatmu duduk sudah ada lembar-lembar sketsa. Beberapa ada yang sudah tuntas, tetapi beberapa lagi masih perlu dipoles hingga sempurna.
Perlu dua kali bertanya sampai akhirnya kamu menjawab. “Enggak deh. Gue lagi ada deadline.”
Alih-alih pergi, aku tetap duduk di depanmu.
“Lo sendiri, gak dateng?” Katamu, heran. Bukannya pergi, aku malah berdiam diri, satu meja denganmu.
Lantas, aku menggeleng. “Saya juga ada deadline.”
Hari itu, aku putuskan untuk mengada-adakan tugas. Mengerjakan apapun yang sekiranya bisa dikerjakan, demi bisa tinggal bersama kamu.
Kita pesan tiga gelas kopi sampai malam. Satu makanan berat dan satu kudapan untuk dicoba. Lalu, kamu menyuapiku potongan bolu tanpa sadar, sambil bilang, “Gue sebentar lagi kelar kok.”
Lama juga tidak apa-apa, Juna. Aku suka menghabiskan waktu denganmu.
Aku suka melihat wajah seriusmu saat menatap ke arah kertas yang terbentang, aku suka mendengar gerutuan saat ada gores di luar garis sketsamu, aku suka berada di dekatmu. Apapun demi bersama kamu.
Sayangnya, di kampus tak ada yang namanya kompromi dan perihal tunda-tunda. Ada kalanya aku harus mengejar yang lain.
…
“Di mana?”
“Masih ada kelas, Juna.”
“Gak bisa ke klub hari ini?”
“Saya belum bisa. Maaf.”
“Gue lagi di kafe nih.”
“Saya ada diskusi kelompok. Belum bisa nyusul.”
“Sebentar aja, gak bisa?”
“Maaf ya.”
“Di mana sih? Gue di fakultas lo nih, mau ketemu orang. Temenin dong!”
“Wah, saya lagi penelitian lapangan.”
“Kapan selesainya?”
“Sampai sore, kemungkinan gak akan ke kampus lagi.”
“Ck, payah lo!”
“Maaf, Juna.”
“Di mana?”
“Baru selesai kelas.”
“Hari ini ada pertemuan klub, penting. Mau bahas perwakilan turnamen.”
“Iya, saya tau.”
“...”
“Juna?”
“Apa lagi hari ini? Diskusi kelompok? Kelas pengganti? Penelitian lagi?”
Aku tertawa gemas. “Hari ini saya free.”
Kamu terdiam selama beberapa detik. Aku tahu kamu sudah kepalang kesal.
“Yaudah, dateng ke ruang klub sini, buruan!”
Hari itu pun, kamu tampak sangat menggemaskan. Lagi-lagi, bibirmu menguncup lucu, pipimu merona karena menahan jengkel, dan alismu menekuk tajam.
“Sibuk banget lo kayak Rektor,” ejekmu begitu aku tiba di meja yang biasanya kita tempati. Tepat di ujung ruangan, dekat jendela dan jauh dari bisingnya dunia. Dari tempat kita duduk, kita bisa memandang lapangan dan langit dengan sesukanya.
Aku mengusak rambutmu dengan begitu rusuh.
“Saya memang lagi banyak kegiatan.”
“Hari ini mau ada pemilihan mahasiswa buat ngewakilin di turnamen nasional.” Kamu mengulang informasi yang sudah aku baca di grup chat. Aku cuma mengangguk karena informasi lainnya sudah aku ketahui lebih dulu.
Kamu bilang, “Kita gak usah ikut gak sih? Repot banget, pasti harus latihan dan latihan. Buang-buang waktu. Mending kita nongkrong berdua.”
Hasutan itu aku setujui. Aku juga tidak ada niatan untuk benar-benar serius di bidang ini. Bagiku, catur cuma satu dari sekian alat untuk habiskan waktu luang. Selain itu, aku juga menjadikannya alasan untuk bertemu kamu seusai kelas.
Namun, sayang sekali…. Ternyata kamu yang harus mematahkan janji. Kamu sendiri yang terpilih untuk maju ke pertandingan resmi.
Aku maju jadi orang nomor satu yang mendukung kamu menang, meski tampaknya kamu benar-benar enggan.
Saat maju ke depan untuk isi formulir, kamu melirikku. Wajah yang manis itu sedang menahan jengkel. Ditahan sebisa mungkin, lalu kamu lampiaskan saat sisa kita berdua di ruang toilet yang sepi.
“ANJIIIIINGGGG, KENAPA GUEE?”
Aku tertawa begitu kencang sampai perutku sakit. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memelukmu.
“It’s okay, Juna. Kamu gak harus menang kan? Anggap aja kayak lagi habisin waktu luang.”
“Gue gak ada waktu luang,” keluhmu dengan suara setengah bergetar. “Gue mana ada waktu luang, Dikaaaa? Gue udah pusing sama tugas-tugas gue.”
Aku mengusap punggungmu pelan-pelan, berharap kamu bisa lebih tenang.
Aku berbisik di sisi telingamu yang merah karena amarah, “Nanti saya bantu latihan, ya? Saya gak akan ninggalin kamu berjuang sendirian.”
Tubuhmu lepas dari tegang. Aku bisa merasakan pundak dan lehermu mulai santai. Tak lama, kamu membalas pelukanku. Dua lengan dilingkarkan kuat di punggungku.
“Janji ya?”
“Janji.”
…
Sesuai ikrar, aku menemanimu di setiap sesi latihan. Kita yang tadinya cuma datang ke ruang klub dua kali seminggu, jadi datang hampir setiap hari.
Aku akan menunggumu datang, dan terkadang kamulah yang menungguku datang.
Beberapa kali, Joshua singgah untuk memantau progress harian. Kakak tingkat ramah dan teduh itulah yang selama ini mengurusi anak-anak baru.
Dia senantiasa sabar mengajariku yang awam soal catur. Dia juga yang memberi motivasi sesabar samudra saat kamu frustasi saat latihan.
“Gapapa, Juna… hari ini istirahat aja ya kalo kamu capek.”
Kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Jika disuruh istirahat, artinya kamu benar-benar akan istirahat.
Tanganmu terjulur ke depan, dengan wajah kusut dan lelah karena seharian kuliah.
“Dika. Kaki gue sakit… gendong….”
Aku melirik sekilas ke arah Joshua yang memandang penasaran, tetapi tak buang waktu untuk menghampirimu.
Kedua tanganmu melingkar di leherku. Aku sisipkan lengan di bahu dan di bawah lulutmu. Lalu, mengangkatmu ke arah sofa yang sering kita duduki bersama. Di sana, aku merebahkanmu perlahan. Agar kamu bisa istirahat.
Tak lama setelah punggungmu menyentuh permukaan sofa, kamu segera memejamkan mata. Nafasmu mulai teratur dan kamu tak peduli lagi pada sekitar. Kamu jatuh tertidur—dengan aku yang menjagamu di sisi.
“Dika….”
Itu adalah bisikan dari belakang punggungku. Lembut dan halus suaranya, berusaha agar tidak mengganggu kamu. Lihat kan? Semua orang perhatian padamu.
Joshua berusaha untuk tidak menatap kita lama-lama. Namun, ada rasa penasaran yang bersarang dalam dirinya.
“Lo sama Juna… pacaran, Dik?”
…
“Lo sama Juna sejak kapan mulai pacaran?” tanya Satria.
Kakak tingkat dari klub lari itu melontarkan isi kepalanya setelah melihat kamu turun dari pangkuanku. Kursi taman di belakang fakultas yang sepi ini jadi tempat persinggahan beberapa mahasiswa untuk merokok. Namun, bagi kita, ini adalah tempat untuk lepas penat sambil menunggu kelas berikutnya.
Untungnya, Juna, kamu sudah lebih dulu pergi saat Satria bertanya demikian. Kalau tidak, aku pastikan kamu bakal melihat wajahku yang merah padam ini.
“Enggak pacaran, Bang.”
Satria hirup lagi batang tembakau yang sisa setengah itu. Dia menoleh dan terlihat skeptis terhadap jawabanku.
“Belum pacaran tapi pangku-pangkuan?” Lantas, dia lempar senyum menyebalkan itu. Seringai yang licik dan berusaha menggali pengakuan. “Kalo di kampus aja berani deket-deket gitu, gimana kalo kalian cuma berdua coba?”
…
Tidak banyak yang terjadi saat kita cuma berdua bukan?
Cuma kamu dan aku dan beberapa lembar watercolor paper yang iseng kita habiskan. Coba goresan warna yang berusaha kita padu untuk hasilkan jingganya senja.
Kita berbaring telungkup di atas lantai gedung serbaguna di Fakultas Seni dan Rupa. Orang berlalu lalang, tapi kita tidak peduli.
Pojok ruang yang tertutup perlengkapan ini adalah ruang yang kita bagi dengan nyaman.
“Nanti dateng kan pas pameran?”
“Datang, Juna.”
“Kalo pas turnamen catur, lo dateng juga kan?”
“Iya, saya datang.”
Tak terasa, satu semester mulai berlalu, kamu dan aku masih jadi sesuatu yang membingungkan.
Kamu sibuk mempersiapkan pameran tahunan. Sementara aku, disibukkan dengan tumpukan laporan. Ada jeda-jeda singkat yang kita curi dari semesta untuk dihabiskan bersama.
“Lo gak sibuk apa, Dik? Ke sini mulu lo.” Komentar pedas dicapkan oleh Hans. Ia singgah sebentar ke pojok ruang tempat kita bermain-main itu untuk meletakkan standee banner. “Cari tempat lain lah kalo mau pacaran.”
Bukan cuma mengganggu keheningan istirahat kita, Hans juga menendang pelan watercolor palette yang kamu letakkan di sisi lengan. Beberapa tetes air tumpah ke lantai dan menggenang dengan menyedihkan.
Kamu berdecak kesal, kemudian mencubit betis Hans yang terekspos karena celananya digulung sampai lutut.
“Aduh! Sakit anjing!”
“Lagian bacot banget lo, Bang. Siapa juga yang pacaran?”
Benar. Siapa juga yang pacaran?
Kamu masih bertengkar dengan kakak tingkatmu yang iseng itu, sementara aku memandang genangan cat air yang tadi disenggol dan mengotori lantai.
Ah, sayang sekali….
…
Sungguh… sayang sekali.
Aku harus pergi ke jalan yang berlawanan arah denganmu. Malam ini, kita terpaksa berpisah sampai di sini.
Aku bawa hasil lukisan kita sore tadi. Langit sore yang dihiasi sejumput putihnya awan. Kata kamu, warna langitnya indah. Ini oleh-oleh yang kamu berikan, sebelum kita istirahat di tempat masing-masing.
Entah mengapa, aku merasa sedikit kecewa. Namun, aku tidak bisa menahan kamu lama-lama.
“Oke, kalo gitu—” Aku melambaikan tangan di sisi kepala. “Hati-hati di jalan, ketemu lagi besok!”
Kamu tidak membalas salam perpisahan itu, dan kamu juga tidak melakukan apa-apa selain berdiri diam di bawah lampu jalan yang redup.
“Lo gak nganterin gue?”
…
Kamu tinggal sendiri di kamar asrama yang sederhana. Ranjang tingkat yang harusnya untuk berdua, kamu alihkan untuk menampung beberapa barang yang jarang dipakai. Jadi, yang ditiduri hanya ranjang bagian bawah.
“Enak banget satu kamar sendiri,” aku sampaikan komentar saat kamu mengundangku untuk masuk. “Tapi saya gak bisa lama-lama. Harus cepat pulang.”
Kamu tarik tanganku agar semakin masuk ke ruangan kamar itu.
“Kenapa buru-buru banget sih? Katanya mau bantu gue latihan? Gue masih butuh banyak latihan hari ini.”
Tapi wajahmu tidak kelihatan seperti sedang putus asa. Kamu malah terlihat… berbinar. Seperti berhasil bawa pulang buruan yang diidam-idamkan. Apakah aku sang buruan itu?
Aku putuskan untuk ikuti permainan yang kau ciptakan.
Dorong-dorongan menuju lembah yang memang sudah kita harapkan. Lembah atau palung atau ngalau jelma dari hasrat kita yang terdalam, tapi tak berani disampaikan.
Dini hari itu, pion dan papan catur di lantai cuma jadi kedok. Sekaligus saksi. Dia yang jadi alasan wajah kita sisa sesenti. Dia juga yang jadi alasan bibir kita saling bertemu dalam tautan canggung.
“Saya selalu penasaran, rasanya cium kamu…”
Kamu tertawa kecil. Ujung jarimu menahan dagu. Wajahku tak dibiarkan kabur.
“Terus, gimana rasanya?”
“Manis, luar biasa.”
Kali ini tawamu tak tertahankan lagi. Gelaknya terdengar renyah ke seluruh penjuru ruang.
Aku bungkam tawa itu dengan satu kecupan. Yang kemudian menjelma jadi sesuatu yang lebih menakjubkan.
Aku rengkuh pinggulmu dengan sedikit terburu. Barangkali tali pertahanan telah lenyap dan ini adalah batasan moral yang bisa kutahan. Setelah ini, jerat pesona tak ada ubahnya dengan kubangan nafsu. Akan kubiarkan diri ini terjebak. Semua karena kamu, Juna.
Tanganmu masih mencangkup wajahku. Tangan yang ramping dan hangat dan cantik, dan yang acap kutatap kala bermain-main di atas bidak…. Kini tangan itu bermain-main dengan komponen biologis di kepalaku. Mulai dari raba alis, mata, pipi, dagu, telinga, dan berakhir pada jambak-jambak rambut ringan.
Sementara itu, bibir kita masih saling lahap.
Aku selalu membayangkan ciuman denganmu akan tampak cantik dan indah.
Tapi hasrat buat semua jadi berantakan. Dan aku pikir inilah realitanya. Seni brutalisme yang dipuja-puja.
Bibir merenggut-renggut, lidah bertarung tiada habis, dan gigi yang sesekali bertabrakan.
Tanganmu menahan belakang kepalaku seakan bisa membuat aku lebih dekat dari yang sudah ada. Tapi tak bisa. Kecuali kita telanjang dan selatan menubruk jauh di dalam, kita tak bisa lebih dekat lagi.
Pasalnya tubuhmu sudah begitu erat dalam peluk. Dan kepala kepalang rapat, bergumul kecap.
Ketika kita pada akhirnya berpisah, paru saling lomba raup udara. Lalu kita—lagi-lagi—tertawa.
Nafasmu yang hangat menerpa wajahku. Buatku tak kuasa untuk raih lagi bibirmu. Beberapa kali lumatan sebelum jeda.
Mata kita bertatapan. Lapar.
“Mau jadi pacar saya?”
Pertanyaan sarat dorongan impulsivitas dan kehendak ingin memiliki itu terlantun begitu saja.
Kamu diam sejenak. Gelap di matamu berubah jadi misteri yang begitu ingin aku ungkap.
Lenganmu masih melingkari leherku dan kamu masih duduk tenang di pangkuanku. Aku sendiri menunggu dengan debar yang bertalu-talu. Barangkali juga kamu sudah tahu.
Dadamu menempel erat dengan punyaku. Bisakah kamu rasakan debarku yang riuh untukmu?
Aku memandangmu tulus, sembari berharap semesta masih berbaik hati padaku. Pada akhirnya… kamu membuka mulut. Kamu bilang, “Lo belum kenal gue, Dika. Hidup gue gak seseru yang lo pikir.”
Saat itulah penyesalan soal kebohongan dan kepura-puraan meninju kepala. Apa jadinya kalau aku jujur dari awal? Apakah kamu akan menerima dengan lebih leluasa? Atau justru menolak sejak awal?
Bahwasanya aku adalah bagian dari masa lalumu, bagian dari masa sekarang… dan berharap untuk jadi bagian masa depanmu, Juna.
“Kamu Juna Mahendra.”
Kerut di dahimu sedikit berkurang. Dan suram wajahmu tersapu sedikit oleh tawa kecil di bibir. Bibir yang ranum dan masih berkilah karena bekas ciuman lalu…
Aku berusaha alihkan perhatian. Meski sedikit susah, karena kamu masih di rengkuhan dan di pangkuan.
“Kamu Juna Mahendra. Kamu dulunya anak badung, tapi sekarang berubah jadi mahasiswa rajin.”
Senyummu sedikit-sedikit mulai pudar.
“Kamu paling gak suka belajar, makanya dulu mau pilih jurusan olahraga atau seni tari. Kamu pikir jurusan itu gak banyak belajar, ternyata sama aja.”
Wajahmu kembali memberenggut. Sorot matamu berubah kebingungan. Kamu sadar kalau kamu sedang dipreteli satu per satu—oleh pria yang baru kamu kenal di kursi kuliah satu semester lalu.
“Kamu lebih suka menggulung lengan baju sampai bahu, lebih suka duduk di taman alih-alih di dalam kelas, dan lebih suka cari angin di balik tembok belakang…. Kalau hari Sabtu kamu selalu latihan tari, kalau istirahat kamu suka makan roti, dan kalau pergantian jam, kamu suka lalu lalang larena bosan di kelas….”
Matamu melebar terkejut. Pasti di kepalamu berlalu-lalang pertanyaan perihal aku. Siapa aku?
Aku cuma satu dari sekian penonton yang terkesima, Juna.
“Dulu kamu punya banyak temen… tapi kebanyakan perundung atau tukang onar.”
Aku tahu dulu kamu pernah cedera kaki. Aku tahu dulu kamu suka menari. Aku tahu dulu kamu suka memanjat pagar demi melarikan diri. Aku tahu dulu kamu pelari tercepat di antara siswa-siswa lain. Aku tahu, Juna aku tahu….
“Dika—“
“Tapi kamu gak bisa menjauh, karena takut jadi korban baru.”
Lengan yang semula melingkar di bahuku mulai mengendur. Keduanya ditarik dari persinggahan, jatuh kaku di tengah badanmu. Hebatnya, kamu masih sanggup mendengarkan.
“Kelas tiga, hampir ujian akhir… kamu kecelakaan…. Ditabrak mobil yang kebut-kebutan….”
Tepat ketika kalimat itu diucapkan, matamu berubah sendu. Tak ada satu duka pun yang berhasil kamu sembunyikan.
“Kamu hilang… lama…. Tapi gak ada satu orang pun yang cari kamu….” Betapa inginnya aku menghancurkan pertahanan, aku tetap kalah pada rasa sayang. “Kamu berjuang sendirian, cari tujuan baru, rencana baru.”
Aku mengeratkan pelukan. Apapun ekspresi yang kamu tunjukkan, aku menafsirkannya sebagai nostalgia kesenduan.
Mimpi soal tarian, larian, dan kemenangan bagi kamu cuma omong kosong. ”Terus kamu melarikan diri, coba hal lain…. Akhirnya kamu coba olahraga catur—karena gak perlu kaki buat main catur kan?” Berenang, panah, kayuh—hampir semua butuh kaki yang prima. Kamu sendiri tahu.
Kamu kehabisan kata. Aku menafsirkannya sebagai kekalahan telak. Rahasia-rahasia yang berhasil dibongkar sampai ke akarnya.
Tak apa kalau kamu anggap aku tega. Tapi kamu tidak akan pernah jujur dan bicara jika bukan aku yang mulai duluan.
Kamu tidak menjawab, masih membiarkan aku untuk melanjutkan.
“Terus di sana kamu ketemu saya….”
Aku pandang matamu yang bening, luas, dan berbintang. Mata yang berbagi lirik semasa sekolah. Lantas lupa dan hilang. Aku tak pernah melupakanmu. Tapi kamu… kamu yang lupa, Juna.
“Gak ada satu orang pun yang cari kamu… kecuali saya….”
…
“You got something going on with Dika?”
Meski aku duduk jauh dari tempatmu mengobrol, aku masih bisa dengar sedikit apa yang dikatakan oleh Fauji dari kursi perpustakaan di sisi jendela.
Pura-pura membaca buku adalah apa yang selanjutnya kulakukan. Tanpa sepengetahuan kamu, aku coba dengar seksama apa yang kalian bincangkan.
“Emang kenapa, Ji?”
“Lo berdua mesra banget.” Fauji sampaikan dengan gamblangnya, seperti bagaimana ia biasanya bicara.
Kamu tertawa kecil saat mendengarnya. “Emang iya?”
“Iya, lo sama Dika keliatan gitu…. Y ou two look like a couple that's been dating for three years and never fights.”
“Bangsat. Itu mah lo sama Nyonge.”
“Nah, itu dia, Jun…. Justru gue ngeliat lo dan Dika kayak lagi reminiscing tahun pertama gue pacaran. Deketnya, mesra-mesraannya, malu-malunya. Mirip kayak gue sama Nyonge dulu.”
“Lo ngapain merhatiin gue? Creepy lo, sumpah!”
Fauji tertawa jahat.
“Lo lucu si, Jun, enak digodain. I can't believe someone like you used to be a troublemaker. Cerita Nyonge itu beneran? Kalo lo nakal banget pas SMA?”
Kamu terdiam selama beberapa detik. Dari sudut pengelihatan, aku sadari bahwa kamu sempat menengok ke arahku.
“I am,” ujarmu, jujur.
“Terus, soal lo… kecelakaan? Itu juga bener?”
“Iya.”
“Oh… sorry.”
Kamu tertawa kecil. “Santai aja kali, Ji. Itu kan udah lama.”
“Sakitnya udah sembuh?”
“Kadang masih sakit…. Tapi gue udah gak semarah dulu.”
Fauji tertegun. Dia coba menjabarkan kemarahan apa yang ada di dalam hati Juna. Namun, manusia adalah makhluk kompleks yang sulit diterawang dari mimik muka. Jadi dia cuma mengangguk perlahan. “Gue ngerti….” Jawabnya, penuh empati.
Sampai malam datang dan larut telan segala bising dunia, aku terus memikirkan semuanya.
…
“Iya. Gue dulu pernah kecelakaan,” ungkapmu, pada akhirnya, saat aku singgah di kamar asrama yang sepi karena tak banyak barang itu.
Juna Mahendra telat masuk kuliah karena harus pengobatan kaki. Dia homeschooling dan ambil paket C untuk ujian. Selama tiga tahun penuh kesendirian itu, dia berjuang.
Setidaknya itu yang aku simpulkan.
“I feel ashamed,” bebermu.
Aku meyakinkan kamu untuk cerita, lewat pelukan yang mengerat. Agar kamu lebih nyaman rebah di pelukanku.
Kamu—bersandar ke dada—aman di antara kedua lengan dan pekuk kakiku. Dan kita sama-sama jujur pada rembulan, soal isi hati yang dipendam.
“Gue cuma bisa nari dan lari, sisanya berantem, bolos, nakal. Gue gak pernah bener-bener belajar, liat soal aja gue muak. Dan waktu kecelakaan itu… gue gak punya siapa-siapa di sisi gue. Bener-bener sendirian”
Aku menghela nafas gundah. Aku kecup bahumu sebagai penenang—atau mungkin sebagai bentuk penenang diri sendiri.
Kamu lanjut bicara, “Selama satu tahun itu gue gak bisa gerak. Kaki gue remuk.”
Dan bayangan itu muncul lagi….
Merah, air, genangan, merah, tumpah ruah, lalu gelap.
Barangkali traumanya bukan hanya dialami kamu, Juna. Kadang aku bisa merasakan apa yang kamu lalui selama ini.
“Tapi gak ada yang ngerawat gue. Orang tua gue gak peduli sama gue. Bagi mereka—masa depan gue udah ancur. Udah gak ketolong. Bahkan sejak gue masih ada mimpi jadi dancer atau atlet, mereka selalu ragu sama keputusan yang gue buat.”
…
Aku mencium bekas jahitan di kakimu. Semua bekas lukamu yang terpampang di depan mata.
Kamu tatap aku, antara percaya dan tak percaya.
Apakah masih ada keraguan dalam dirimu? Sisa-sisa kecewa yang membuat kamu susah berharap.
Padahal—sungguh—aku tak pernah setulus ini sebelumnya.
Hening sejenak, kamu tatap aku dengan bimbang.
“Gue gak bisa di atas. Kaki gue sakit.”
Aku tahu.
Aku peluk tubuh kamu yang ringkih. Berusaha untuk pelan dan hati-hati.
Saat merebahkan tubuhmu di atas ranjang pun, aku pastikan kamu berada dalam posisi ternyaman agar tiada bagian tubuh yang terluka dan sakit-sakitan.
Tampaknya kamu sadar kalau aku terlalu menahan diri, makanya setelah itu kamumemeluk aku erat bak koala. Secara tidak sadar, aku tertawa.
“Kenapa ketawa?”
“Gemes.”
Kamu sepertinya tak puas dengan jawaban itu. Wajahmu seketika tertekuk masam.
“Kenapa gemes? Lo harusnya sange.”
Oh.
Ternyata kamu masih Si Bebas Bicara seperti dulu. Namun, kali ini aku sudah terbiasa.
Dibanding mempermasalahkan celetukan itu, fokusku dicuri oleh bagaimana kamu merenggutkan wajah manja.
Kamu kelihatan lucu sekali saat merajuk. Bibirmu mengerucut dan pipi menggembil lucu. Bagaimana bisa aku terangsang saat yang kurasakan saat ini adalah rasa sayang yang membuncah?
“Gue gak menarik ya?” tanyamu.
“Kenapa gitu?”
“Gue pasti gak menarik lagi karena sering sakit-sakitan.”
Perlu beberapa detik untuk memproses kalimat yang kamu lontarkan itu sebelum aku benar-benar paham.
“Kamu tetap yang paling cantik.” Aku berusaha menampis seluruh gundahmu, tetapi kamu tetap tampak lesu.
“Tapi kenapa lo—” Sepertinya kamu tidak kuasa melanjutkan perkataannya.
Apakah kamu kecewa? Apakah kamu sedih? Maaf karena sudah membuatmu merasa resah, Sayang. Sungguh, aku tidak bermaksud.
“Bukan gitu….”
Aku mau, sangat mau. Sungguh, kamu tidak akan pernah membayangkan seberapa besarnya keinginan dalam diriku.
Melihat kamu berbaring lemah di bawah kukunganku, amat cantik dari rambut hingga tumit. Semuanya dipersembahkan hanya untuk aku seorang.
Aku bingung merangkai kata, jadi aku mewakilkan jawaban dengan mencium lembut dahimu.
“Saya mau kamu, Juna Mahendra. Kamu sendiri… mau… hmmm —tidur—sama saya?”
Kamu menjawab sungguh-sungguh dengan anggukan yang tak menunggu jeda, terlepas dari nada pertanyaanku yang terbata-bata.
Aku lagi-lagi dibuat tertawa. Kamu memang betul-betul menggemaskan. Sepertinya aku sudah tunduk dan dikekang hingga akal sehat hilang.
Malam itu kita tidak jadi bercinta seperti yang kamu inginkan, tapi tak ada di antara kita yang menyesal.
Alih-alih berlomba capai puncak orgasme, kita berlomba untuk jadi yang paling hangat, jadi yang paling bisa buat nyaman.
Kamu tak lagi tergesa saat pagut bibirku. Kini yang kurasakan adalah kecup penuh kelembutan. Ada jeda di selanya, sesekali kamu tatap balik mataku yang memastikan bahwa aku belum tidur, setelah itu, kamu maju lagi untuk gigit bibir bawahku.
Aku tersenyum simpul. Kubalas perbuatan itu sampai kamu ikut tersenyum. Ciuman sambil tersenyum itu aneh ternyata. Sesekali gigimu menyenggol bibirku, meleset dari belah yang seharusnya kamu kecup.
Aku balas dengan menjilat sisi bibirmu, tinggalkan lembap dan jejak yang membuatmu membelalakkan mata.
Tak cukup sampai sana, kamu renggut rambut belakangku dan menariknya sampai wajah kita mendekat lagi, menyatu lagi.
Kamu terasa seperti mint tea yang tajam dan menyegarkan. Kamu tidak semanis yang aku bayangkan. Namun, semua yang kurasakan adalah sensasi yang benar-benar sempurna.
Kamu bukan jelma klise cinta yang mereka jabarkan di buku-buku fiksi romansa. Kamu bukan individu yang ideal dari segi moralitas. Kamu juga bukan cantiknya Helene yang ramai dielu-elukan sampai ciptakan perang Troya yang tak berkesudahan.
Namun, bagiku, kamu adalah segalanya, sempurna dalam caramu sendiri.
Hampir aku katakan cinta, tapi tentu harus kutelan semuanya.
Aku coba cari pertahanan, sesuatu yang bisa menahan kesabaran. Untung, lengamu masih melingkar di sisi-sisi tubuhku.
Aku tahu, tanpa pegangan itu, aku akan terjang kamu sampai hancur.
Aku ikrarkan di dalam hati, sambil memagut bibirmu untuk yang kesekian kali: semua ada waktunya, termasuk soal rasa.
Aku yakin kita berdua tampak bodoh ditatap rembulan, tetapi persetan.
Sudah kunantikan momen ini selama bertahun-tahun. Kamu di pelukanku, tanpa khawatir direnggut bisingnya semesta, tanpa ada yang ganggu.
“Besok mau pergi beli kopi bareng selesai kuliah?”
Aku menawarkan kencan lainnya. Ada harapan besar agar kamu menerima.
Harapan itu dikabulkan. Sebab, kamu langsung menggemakannya dengan jawaban Mau yang disusul rengkuh tangan di punggungku, sudah bersiap untuk tidur. Tampaknya, kamu mulai mengantuk. Kamu balas kecup-kecup kecilku sambil berkedip lucu, tak lagi fokus.
Meski mengantuk, kamu masih membiarkan aku melahap sisa manis di bibirmu. Oh, Tuhan… kamu benar-benar lucu.
“Ngantuk, Dika…”
“Tidur….”
Kamu sudah memejamkan mata, tetapi ciuman yang kuhujani belum mengenal akhir. “Saya masih mau cium-cium.”
Kamu ulangi lagi dengungan kantuk itu. “Hh—hmmm….”
“Boleh ya?” Izinku.
Kamu cuma mengangguk, belum tentu sadar pada pertanyaan yang aku tuturkan.
Sepertinya kamu suka tidur sambil dicium seperti ini. Jadi aku tidak berhenti sampai kamu benar-benar geming.
Tak akan kubiarkan tautan ini lepas hingga pagi datang, Juna. Meski kamu membalikkan punggung di tengah tidur, aku tetap akan menyelimuti dengan pelukan, dengan seluruh kasih sayangku.
TBC.
