Actions

Work Header

Doctor, I'm Ovulating!

Summary:

Apa yang bisa terjadi saat kamu mengunjungi Zayne di tempat kerjanya pada hari pertama ovulasimu?

Work Text:

Kamu tidak mengerti sejak kapan kamu jadi sebirahi ini.

Tadinya kamu hanya berniat mengunjungi Zayne, pacar sekaligus dokter pribadimu itu, di rumah sakit tempatnya bekerja. Kamu bahkan membawakannya sekotak almond croissant dari merek bakery kesukaannya untuk makan siang bersama. Saat kamu mengetuk dan membuka pintu ruangan Zayne, menemukan lelaki itu sedang duduk di hadapan komputernya dengan wajah lelah yang langsung berubah menjadi wajah tersenyum, kamu langsung menyeruak masuk dan memeluknya erat-erat seakan kalian sudah begitu lama tak bersua (padahal pagi tadi kamu masih sempat memakaikan dasinya sebelum Zayne berangkat kerja). Saat Zayne menyambut kedatanganmu dengan membelai rambutmu dan mencium pipimu, tiba-tiba saja kamu merasakan sesuatu yang aneh tetapi familiar di dalam tubuhmu. Sentuhan Zayne di tubuhmu terasa seperti sengatan yang membangkitkan sesuatu dalam dirimu. Ketika Zayne menatapmu, rasanya seperti ada sesuatu yang bergejolak di dadamu, sesuatu yang berdenyut di antara kedua kakimu.

“Zayne…” Kamu membiarkan intrusive thoughts-mu menang—perlahan kamu memutar kursi yang diduduki Zayne, kemudian kamu duduk di pangkuannya. Jantungmu berdetak semakin kencang saat kamu menatap wajah tampannya yang begitu dekat dengan posisi kalian yang seperti ini.

“Hm?” Zayne yang masih mengetikkan sesuatu di komputernya—menyudahi kegiatannya, kemudian ia memfokuskan perhatiannya kepadamu yang ada di pangkuannya. Satu tangannya merangkul pinggangmu, sementara tangannya yang lain membelai lembut rambutmu. “Kenapa, Sayangku?” Lalu Zayne mendekatkan wajahnya ke lehermu, menghirup aroma hangat vanila yang menguar dari tubuhmu—membuat nafasmu semakin berat karena kamu bisa merasakan deru nafasnya seakan menusuk kulit lehermu.

“Aku…” Kamu memejamkan kedua matamu, menimbang-nimbang apa ini saat yang tepat untuk mengungkapkan kebutuhan biologismu pada pacarmu itu. “...Aku horny.” Ya, mudah-mudahan ini saat yang tepat karena kamu baru saja melakukannya.

Kedua mata Zayne menyipit mendengar pengakuanmu, seakan-akan ia adalah pastor dan kamu adalah sang pendosa yang baru saja mengungkapkan pengakuan dosamu. “Horny…?”

“He-eh.” Kamu membenamkan wajahmu di dadanya, tidak kuasa menatap matanya setelah ia mendengar pengakuanmu.

Zayne melirik kalender meja yang ada di meja kerjanya, kemudian ia terkekeh kecil.

Kamu mengangkat wajahmu, menatapnya dengan bibir dikerucutkan. “Kenapa kamu malah ketawa?”

Zayne tersenyum penuh arti, kemudian mencubit pelan hidungmu dengan sayang. “I see. You're ovulating right now.”

W-whaaaat…?” Kamu menganga, kemudian ikut melirik ke arah kalender meja itu dan melihat tanggalan bulan ini. Kalau dihitung sejak hari menstruasimu yang terakhir, memang hari ini adalah hari ke-14—hari pertama masa ovulasimu dimulai. “K-kamu hafal tanggal haid aku?!” tanyamu, tidak percaya. Bagaimana lelaki itu bisa mengetahui masa ovulasimu hanya dengan melihat kalender? Well, memang itu pengetahuan umum seorang dokter sih, tapi kan tetap saja—bagaimana Zayne bisa tahu kapan masa ovulasimu kalau bukan karena ia menghafal tanggal menstruasimu?!

“Ya gimana nggak hafal, Sayangku?” Zayne tertawa renyah, kemudian ia mengelus perut rampingmu seakan-akan kamu adalah ibu yang sedang mengandung dan ia adalah ayah dari anak yang sedang kamu kandung. “Tiap bulan kan kamu ngeluh kram perut, minta dibeliin es krim, minta makan ayam goreng, minta dibawain heating pad… Belum lagi kalo kamu mendadak mood swing.”

Kedua pipimu bersemu. Kamu bahkan tidak sadar kalau kamu sering sekali mengeluhkan hal-hal terkait menstruasimu kepada Zayne setiap bulannya, akan tetapi ternyata lelaki itu mengingat semuanya.

“Terus kamu sekarang mau apa, hm?” Zayne kembali membelai rambutmu, membuatmu memejamkan kedua matamu merasakan sentuhan lembut tangannya di kepalamu.

Kamu tersenyum seduktif menatap Zayne. “M-mau… Mau anu… Sekarang. Sama kamu.”

Zayne tersenyum geli. “Anu?”

Kamu mengerucutkan bibirmu. “Anu.”

“Anu apa?” Zayne tertawa geli, pura-pura tidak mengerti. “Ngomong yang jelas, dong, Sayang.”

“Mmmph…” Kamu merengut sebal, kemudian kamu membenamkan wajahmu di bahu lebarnya. “Pengendiewe.”

“Pengen apa, Sayang?” goda Zayne sambil mendekatkan telinganya ke wajahmu. “Nggak denger.”

“Iihhh… Pengen diewe!” serumu sebal dengan wajah memerah sambil memukuli lengannya menggunakan kepalan tanganmu yang mungil, membuat Zayne tertawa terbahak-bahak.

“Hm… Gimana, ya?” Zayne melirik jam digital yang ada di meja kerjanya. “Waktu istirahatku sebentar lagi selesai. You know that I'm not used to touch you while in rush, right?”

“Sebentaaaaar aja!” pintamu dengan bibir dimanyunkan, dilengkapi dengan tatapan ala anak anjing yang sedang mengayunkan ekornya. “Tiga ronde aja. Nggak deng, dua. Uuuuukhh, satu ronde aja juga gak papa! Ujungnya aja, deh! Please… Aku udah basah.”

Zayne tidak mampu berkata apa-apa lagi kalau kamu sudah mengeluarkan jurus bibir manyun dan puppy eyes itu. Apalagi mendengar kata basah darimu—pikirannya langsung kacau dan ke mana-mana. Zayne kembali melirik ke jam digital yang ada di ujung meja kerjanya. Pukul 12.33. Jam istirahatnya akan berakhir dalam waktu kurang dari setengah jam. Itu artinya ia hanya punya waktu kurang dari setengah jam untuk memanjakanmu yang benar-benar sedang haus akan sentuhannya. Zayne menghela nafas, menggunakan kakinya untuk menggeser kursi beroda yang sedang ia (dan kamu) duduki bergerak mendekati pintu, lalu… Klik. Menekan kenopnya hingga pintu itu terkunci.

“Ya udah. Nungging.”

Kamu membuka mulutmu—antara senang dan tidak percaya. Dengan senang hati kamu langsung bangkit dari pangkuan Zayne lalu menunggingkan badanmu di meja kerja Zayne, membuat rok mini yang kamu kenakan terangkat hingga menampakkan langsung g-string-mu di hadapan Zayne.

Naughty girl.” Plak! Kamu tersentak saat Zayne mengusap, lalu memukul bokongmu dengan tangannya yang dingin. “Bisa-bisanya horny gak tau tempat.” gumam Zayne dengan suara rendah. Kamu bahkan bisa merasakan lelaki itu tengah menyeringai selagi ‘memarahi’mu.

“A-aku horny juga kan gara-gara kamu, Dok.” lirihmu—memanggilnya dengan panggilan yang biasa kamu sebutkan setiap kali sedang bercinta dengan Zayne: Dokter. “Dokter ganteng banget sih hari ini… Aku kan jadi pengen… Mmmm… Pengen ngapa-ngapain sama Dokter.”

Plak! Kamu tersentak lagi saat Zayne kembali memukul bokongmu. Sedikit rasa perih menjalar di sana, tapi anehnya kamu merasa semakin… Bergairah. “Pengen ngapa-ngapain?” Zayne terkekeh, mengusap guratan kemerahan di bokongmu secara perlahan sebelum ia kembali memukul area kemerahan itu. Plak! Define that. Kamu pengen diapain sama aku, hm?”

“Hmph—” Kamu menggigit bibir bawahmu kuat-kuat, menahan rasa perih di bokongmu. “Pe-pengen… Pengen diewe… Sama Dokter… D-dari belakang… Terus… Pe-pengen… Pengen Dokter… Remesin tete aku… Hngh—” Kamu mendesah saat salah keinginanmu langsung diwujudkannya—tangan Zayne merambat untuk meremas payudaramu yang masih tertutup kaus putih yang kamu kenakan siang itu.

“Kayak gini?” kekeh Zayne sambil terus meremas-remas payudaramu, membuatmu melenguh tidak karuan. Kedua kakimu bergetar, rasanya kamu bahkan sudah tidak kuat menumpu tubuhmu sendiri untuk menungging di meja kerja Zayne.

“Ngh… Iya… K-kayak gitu…” jawabmu dengan susah-payah. Kedua kakimu menyempit, mencoba menyembunyikan fakta bahwa ada sesuatu yang mulai mengalir di antara kedua kakimu. Sialan, kenapa kamu bisa basah secepat ini—hanya dengan pukulan di bokongmu dan remasan di payudaramu?

“Oh…” Zayne menyeringai saat pandangannya mendarat kepada sesuatu yang mengalir di antara kedua kakimu. “Someone's already drenched.”

“H-haa… Dokter… Please, aku gak tahan lagi...” Kamu sudah tidak peduli betapa lacurnya kamu terlihat saat ini—dengan susah-payah kamu melepas kaus yang kamu kenakan, melemparnya ke sembarang arah, melepaskan pengait bra-mu, melemparnya ke sembarang arah lagi, lalu yang terakhir memelorotkan celana dalammu yang sudah basah di bagian selangkangan. Kemudian kamu kembali menunggingkan badanmu di meja kerja Zayne, mengekspos vaginamu yang sudah benar-benar becek dibuatnya. “Please, fuck me… Fuck me hard…

Zayne tidak dapat menahan senyum puasnya melihatmu yang sudah benar-benar di ujung tanduk. Sekilas ia melihat ke arah celananya sendiri, melirik ke sebuah gundukan kecil yang sudah membuat celananya sesak sedari tadi.

Alright, Sayang.” Zayne menciumi tengkuk dan lehermu dari belakang, sementara kedua tangannya meremas payudaramu dan memainkan putingmu. "Let your personal doctor take a veeeery good care of you, okay?”

“H-haa… Yes, Dokter…” Kamu melenguh semakin keras saat kamu bisa merasakan sesuatu yang keras dan tegang digesek-gesekkan ke lubang vaginamu yang sudah basah. Meskipun tidak bisa melihatnya dari posisimu saat ini, kamu tahu benar kalau sesuatu yang keras dan tegang itu adalah penis Zayne. Vaginamu seakan sudah menghafal dan terlatih akan tekstur kepala penis pacarmu itu.

“—Hngh!” Kamu tersentak saat Zayne menyodokkan ujung kepala penisnya ke vaginamu tanpa aba-aba. “Ngh, Dokter…”

Baru juga kamu merasa nikmat, tiba-tiba saja Zayne menarik penisnya keluar, membuatmu merengek sebal. “K-kenapa dikeluariiiiiin…?!”

“Bukannya tadi kamu yang bilang, minta ujungnya aja?” Zayne terkekeh sambil kembali mengelus bokongmu dengan dua tangannya.

Kamu melenguh, menyesal sudah mengatakan hal yang tidak kamu sungguh-sungguh ingin katakan tadi. Lagipula, kalau tahu semudah ini Zayne akan menyetujui untuk menyetubuhimu, tentu saja kamu tidak akan mengatakan ‘ujungnya saja’ tadi. “Ngghh… K-kan itu tadi! P-please… Masukin lagi, please… Masukin…”

Zayne tidak dapat menahan tawanya selagi melihatmu yang begitu desperate, memohon-mohon untuk disetubuhi seperti kucing birahi. “Masukin semua atau ujungnya aja, hm?” Zayne kembali menggodamu dengan menggesek-gesekkan ujung penisnya di bibir vaginamu. “Apa nggak bahaya kalau kamu minta dimasukin semuanya pas lagi ovulasi? Gimana kalau kamu nanti hamil?”

Kamu menutupi wajahmu dengan kedua tangan, saking frustasinya. “Uuuh, nggak peduli! Aku mau kamu hamilin! Masukin semu—NGH!” Lagi, Zayne kembali menyodokkan penisnya masuk ke vaginamu tanpa aba-aba, membuatmu langsung merem-melek. “H-haaa—ngh… Dokter…” Rahimmu langsung terasa begitu penuh. Setengah mati kamu menggigit bibirmu, menahan dirimu sendiri untuk tidak meneteskan liur selagi menerima kenikmatan duniawi yang sedang kamu rasakan saat ini.

“Hmmh… Sayang…” Zayne menggeram pelan selagi mendekap tubuhmu dari belakang, penisnya masih bergerak maju-mundur menghantam serviksmu habis-habisan. Tangan kanannya meremas payudaramu, sesekali ia memainkan putingmu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Satu tangannya menyusup melalui bawah lenganmu yang gemetar selagi bertumpu di meja kerjanya, memilin klitorismu yang berkedut-kedut—membuatmu semakin gemetar hebat selagi dicumbunya.

“D-Dokter… Hngh… J-jangan…” Kalau saja ada sebuah cermin di hadapanmu saat ini, kamu yakin kamu bisa melihat ekspresi wajahmu sendiri yang sudah sangat cabul saat ini. Bagaimana tidak? Semua titik sensitifmu sedang dimanja Zayne hanya dengan dua tangannya. Um, juga satu penisnya.

“Jangan apa?” Zayne berbisik mesra di telingamu, bibirnya pun tak bisa diam untuk menciumi telinga dan lehermu. “Jangan berhenti, hm?”

Kamu menganggukkan kepalamu kuat-kuat. “Hngh… Ja-jangan berhenti… Angh—genjotin aku… Lebih kenceng…” Kamu meremas lengan kekar Zayne yang mendekap tubuhmu erat dari belakang, merasakan gelombang orgasme sudah begitu dekat untuk menghantammu. “NGH—Dokter! A-aku mau—” Kamu ambruk di meja kerja Zayne begitu mencapai klimaks. “A-aku keluar…” gumammu lemas, merasakan cairan cintamu merembes menuruni kedua kakimu.

“Ooh, naughty girl.” Zayne menyeka cairan yang merembes di antara kedua kakimu itu dengan dua jarinya, lalu mengulum jarinya dengan kedua mata terpejam. “You cum this much for your doctor, huh?”

“Ngh…” Kedua matamu berkunang-kunang. Kedua kakimu terasa seperti jeli, benar-benar lemas hingga akhirnya kamu merosot dan bersimpuh di hadapan Zayne. “I- I cum a lot for you, Dokter… KYAA!” Kamu menjerit saat Zayne mengangkat tubuhmu dengan mudahnya, kemudian ia mendudukkanmu di meja kerjanya sebelum ia membuka kedua kakimu lebar-lebar. “D-Dokter…?” tanyamu takut-takut, apalagi setelah kamu melirik penis Zayne yang masih berdiri tegak dengan pre-cum di ujung penisnya. Selama itu Zayne menyetubuhimu tadi—dan dia masih belum keluar juga?

Your doctor hasn’t cum yet, Sweetie. Katanya tadi kamu pengen dihamilin?” Zayne menyeringai sambil mengurut batang penisnya sebelum ia kembali menghentakkannya ke dalam vaginamu. “Don’t be a selfish, naughty girl who just wanna have fun alone by herself. Now be a good girl, please your doctor, and carry his child too, okay?