Actions

Work Header

Jangan Kabur!

Summary:

Pokoknya, Baek Kanghyuk nggak akan membiarkan nomor satunya itu kabur!

Notes:

hai.... it's been months sejak aku terakhir kali nulis. terus aku juga lagi tergila-gila pake BANGET sama pair ini. jadi, why not nulis baek kanghyuk & yang jaewon plus exercise nulis juga? enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Baek Kanghyuk datang ke Korea—ke Rumah Sakit Universitas Hankuk—tanpa ekspektasi apa-apa. Maksudnya, ia sudah tahu sebusuk dan sebobrok apa penanganan situasi gawat darurat di sini. Oke, nggak segitunya juga, sih. Mungkin Baek Kanghyuk sedikit berharap kalau-kalau setidaknya, ada dokter bedah trauma yang berjaga di UGD. Setidaknya ada profesional yang bersiaga jika terjadi sesuatu.

Akan tetapi, yang ia temukan malah seorang dokter kolorektal muda dengan tampilan super duper cupu. Bahkan melakukan pungsi pleura saja dia masih kagok. Baek Kanghyuk hampir mendampratnya jika ia tidak tahu bahwa si dokter cupu ini bukanlah dokter jaga tetap. Pantas saja tangannya bergetar setengah mampus waktu melakukan pungsi. Si Yang Jaewon ini memang bidang spesialisnya memang bukan paru-paru. Kolorektal dan pulmonolog itu jauh, lho. Jadi Baek Kanghyuk biarkan saja untuk saat itu.

Masalahnya adalah, Baek Kanghyuk sendiri malah kepincut ketika si anus—Yang Jaewon—menjadi asisten dalam operasinya. Memang tidak setangkas timnya di Timur Tengah dulu, sih. Cuma kalau harus dibandingkan dengan yang lain, si anus ini memang lebih cekatan dan sigap. Mau tidak mau Baek Kanghyuk jadi menginginkannya.

Sebegitu inginnya sampai-sampai ia mengibarkan bendera perang ke Kepala Bagian Bedah Umum sekaligus Direktur Bedah Kolorektal Rumah Sakit Universitas Hankuk, karena ia merebut muridnya. Sebegitu inginnya sampai-sampai ia belajar cara merayu dari si gangster. Pada awalnya, Baek Kanghyuk yakin kalau ia melakukan ini semua semata-mata agar pusat trauma memiliki tenaga lebih. Ia mau Yang Jaewon menjadi budaknya membantunya di departemen ini. Walaupun Baek Kanghyuk percaya pada kekuatan kemampuan pribadinya, menghadapi kericuhan bedah trauma tidaklah mudah! Akan lebih baik lagi jika ada personel tambahan, kan? Dan Yang Jaewon adalah kandidat utamanya. Kandidat satu-satunya.

Jadi, si Profesor lakukan apa pun supaya fellow barunya itu bisa betah di departemen ini. Mulai dari menyeretnya untuk makan siang di kantin rumah sakit. Atau menyodorkan roti dan minuman energi ketika mereka betul-betul dihimpit waktu sehingga tidak sempat untuk makan. Di lain waktu Baek Kanghyuk juga akan membiarkan Yang Jaewon tidur sedikit lebih lama setelah mereka merampungkan operasi panjang. Baru setelah itu ia akan meneriakinya agar bergegas bangun dan berkeliling ICU.

Waktu di departemen pusat trauma memang selalu bergulir cepat. Tahu-tahu satu tahun sudah terlewati begitu saja. Rumah sakit sekarang sudah memiliki helipad dan tim pusat trauma juga sudah bertambah. Si dokter dari militer itu juga sudah bergabung bersama mereka. Suster Jangmi pun sudah dibantu oleh perawat-perawat lain—memang belum setangkas itu, sih. Tetapi tetap saja itu bantuan yang amat berarti untuk departemen kecil ini. Dan meskipun sudah ada ‘budak’ lain, Baek Kanghyuk tetap membutuhkan—menginginkan—Yang Jaewon di sampingnya ketika mengoperasi pasien.

“Kamu betah juga ya,” celetuknya, random. Kafetaria rumah sakit kosong melompong. Ini hampir tengah malam, tidak ada dokter segila dokter spesialis bedah trauma yang akan makan di waktu yang tidak manusiawi ini. Jadilah Baek Kanghyuk dan Yang Jaewon menyantap makan malam mereka berdua saja. Di bawah lampu yang remang-remang, di tengah-tengah kursi kantin yang semuanya sudah dirapikan itu.

“Hah?” Jaewon memiringkan kepalanya bingung.

“Kau,” jeda sejenak, si Profesor menelan makanannya, “sudah satu tahun di bawahku. Ternyata kau betah juga di pusat trauma.”

Oke, sejujurnya Baek Kanghyuk memang memiliki ekspektasi yang tinggi sejak awal. Ia sudah dengar dari banyak orang kalau budak nomor satunya ini memang pintar. Penerima beasiswa penuh Universitas Hankuk. Budak nomor satunya itu sampai beberapa waktu yang lalu hanya melakukan operasi hemoroidektomi sederhana. Beberapa bulan setelahnya, Yang Jaewon bahkan memimpin operasi darurat pada si profesor itu sendiri. Mengangkat sepertiga levernya.

Jaewon mencebikkan bibirnya sebelum menjawab. “Memang kalau saya nggak betah Profesor bakal biarin saya kabur?”

Oh, Jaewon ternyata sudah sebegitu mengenalnya. Kanghyuk cuma terkekeh pelan sambil melanjutkan makan malamnya. Pertanyaan retoris itu nggak membutuhkan jawaban. Keduanya juga tahu kalau Baek Kanghyuk tidak akan membiarkan nomor satunya itu kabur. Meski Baek Kanghyuk sudah mendapat ‘budak-budak’ baru, Yang Jaewon tetap tidak boleh kabur. Karena Jaewon adalah nomor satunya. Budak nomor satu. Kesayangan nomor satu. Yang tersayang, yang tercinta.

“Jangan kabur, ya,” ucap si Profesor ketika mereka berjalan kembali ke ruang jaga. Ia tatap lamat-lamat mata Jaewon yang mengerjap bingung di balik kacamatanya itu. Yang Jaewon tentu heran setengah mampus. Kenapa pula profesornya yang satu ini? Sakit? Kelelahan karena operasi? Salah makan? Atau sudah gila karena kurang tidur? Tumben sekali, biasanya Jaewon yang akan tumbang lebih dulu.

“Profesor nggak enak badan?”

“Saya serius. Jangan kabur, ya, Jaewon,” ucapnya sekali lagi. Tak ia hiraukan pertanyaan super duper absurd yang jaewon lontarkan. “Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman—nggak betah, bilang sama saya.” Karena Baek Kanghyuk butuh Jaewon. Semata-mata karena Yang Jaewon adalah murid pertamanya. Karena Jaewon adalah yang paling mengenalnya, sehingga koordinasi di ruang operasi bisa lebih mudah. Ya ya ya, itu alasan paling logis kenapa Baek Kanghyuk butuh Jaewon. Tidak ada alasan lain seperti misalnya Baek Kanghyuk merasa lebih bersemangat ketika Jaewon ada di dekatnya. Atau jantungnya yang berdetak lebih cepat beberapa sekon tiap kali bahu mereka bersentuhan. Semua ini demi keefektifkan di ruang operasi. Supaya mereka bisa menyelamatkan lebih banyak pasien.

Jaewon yang kebingungan cuma bisa manggut-manggut. Sedikit mrengut karena bingung, Profesornya itu betul-betul tidak bisa ditebak! Selama ini, sih… Jaewon tidak merasa menemukan hal yang membuatnya betul-betul ingin ‘kabur’. Mungkin beberapa kali ketika Profesor Baek membentaknya kelewat ketus di ruang operasi. Biasanya setelah itu Jaewon akan menciut dan buru-buru kabur setelah operasi selesai. Tetapi Profesor Baek bakal menemukannya dengan mudah dan segera meminta maaf. Ditambah roti isi dari kantin dan kopi kalengan sebagai sogokan… mana bisa Jaewon menolak! Menurut Jaewon, tim trauma ini nggak semenyeramkan itu untuk membuatnya ingin kabur.

Perbincangan super random itu berakhir begitu saja ketika keduanya sudah menyentuh kasur ruang jaga. Tidak ada yang mengungkitnya sampai tiba-tiba Jaewon mengeluarkan celetukan yang sama randomnya.

“Kalau saya kabur… Profesor bakal kejar saya, nggak?” Tanyanya. Out of nowhere. Out of the blue. Jaewon melongok ke bunk bed bagian bawah. Bertanya pada yang lebih tua. Pukul dua dini hari. Jaewon sebetulnya sudah hampir menjajaki alam mimpi. Namun, rasa penasaran akan perbincangan mereka beberapa pekan lalu mengusiknya lagi.

“Kenapa nanya? Katamu nggak akan kabur?”

Kemudian cuma hening. Baek Kanghyuk mengerutkan alisnya. Nampak tidak senang akan pertanyaan yang baru saja diajukan—atau mungkin lebih ke tidak senang akan prospek Yang Jaewon yang ‘kabur’, siapa yang tahu? Kemarin katanya betah-betah saja? Kenapa sekarang dibahas lagi? Ditambah Jaewon yang tidak lagi menanggapi pertanyaanya….

Si Profesor menendang kasar bunk bed si nomor satu dari bawah. Mengejutkan sang pemilik yang sudah tertidur. Memang betul-betul kurang ajar anak didiknya ini. Setelah mengusiknya dengan pertanyaan mengerikannya itu, bisa-bisanya Jaewon malah terlelap?! “Hoi, Yang Jaewon.”

“Ah! Saya mau tidur!” Jaewon merengek tidak senang. Mengganggu tidur saja!

Dan Baek Kanghyuk, yang entah kenapa sangat amat lemah tiap kali dihadapkan dengan rengekan Jaewon, hanya bisa mendengus geram. Memang tahik Yang Jaewon ini. Berani betul mengusik perasaannya dengan pertanyaan yang mungkin meluncur secara tidak sadar itu. Besok, Kanghyuk akan memastikan kalau Yang Jaewon bakal menerima ganjarannya. Sebab sudah membuat hatinya gundah. Kabur katanya? Hah! Sampai ke ujung dunia pun akan ia kejar. Kalau nomor satunya itu kabur, Baek Kanghyuk yang akan menyeretnya kembali dengan tangannya sendiri.

“Saya bakal kejar kamu,” gumamnya dengan suara pelan. Lebih ditujukan ke diri sendiri. “Saya bakal seret kamu, Yang Jaewon.” Karena Jaewon adalah nomor satunya. Budak nomor satu. Murid nomor satu. Kesayangan nomor satu. Yang tercinta. Yang terkasih.

Karena itu, Baek Kanghyuk tidak akan membiarkan Jaewon kabur, raib dari pandangannya. Sebab Baek Kanghyuk sudah terlanjur sayang Yang Jaewon.

Notes:

ayo ngobrol di sini!