Actions

Work Header

this is where we leave each other

Summary:

the silence after almost, and the healing that follows.

(a short story inspired by THE8’s “Skyfall”)

Work Text:

 

 

Minghao masih menetap di apartemen yang sama dan tidak banyak yang tahu tentang fakta ini beberapa bulan belakangan.

Ia masih menetap pada unit kecil lama di lantai delapan, dengan jendela besar yang menghadap kerlap-kerlip lampu kota dan riuh bising khas perkotaan yang tidak pernah benar-benar sepi. 

Apartemennya tidak besar dan juga tidak mewah. Langit-langitnya rendah dan polesannya sudah menua bersama waktu. Penerangannya redup dan temaram, pintunya berderit saat dibuka, dan parket lantainya berdecit ketika diinjak. Dindingnya juga mulai dipenuhi retakan dan Minghao bisa menyebutkan ratusan kekurangan lain pada apartemen ini jika diminta.

Namun, entah karena kenangan yang menetap atau perasaan bersalah yang membayangi, ia tidak pernah benar-benar bisa meninggalkannya.

Bukan karena ia tak punya tempat lain untuk berpulang; bukan juga karena ia terlalu keras kepala untuk pergi.

Sebab di tengah kota yang terus bertumbuh dan berkembang, unit apartemen ini menjadi satu-satunya yang bertahan.

Yang diam-diam menjadi ‘rumah’nya, juga menjadi saksi ketika hidupnya pernah terasa penuh.

 


 

Jauh di sudut kepalanya, Minghao selalu memantapkan diri bahwa jika Mingyu “pergi” (dalam situasi apa pun, baik secara literal maupun kontekstual), ia juga akan pergi meninggalkan apartemen.

Sebab apa artinya menghuni apartemen ini jika tanpa Mingyu?

Apa artinya menjalani hari-hari seorang diri, tanpa Mingyu yang selalu menyambutnya di balik pintu? Yang selalu siap menenangkannya dengan pelukan dan secangkir teh hangat di meja makan jika ia mengalami hari yang berat?

Begitu pikir Minghao.

Dan bahkan jika boleh jujur, Minghao bahkan tidak bisa membayangkan kesehariannya di apartemen tanpa Mingyu.

Namun, tiga bulan setelah Mingyu pergi, Minghao justru menemukan dirinya masih menghuni apartemen yang lama. 

Ia bekerja keras untuk ‘mengubah’ apartemen mereka. Menggeser semua furniturnya, menata ulang setiap ruangannya, membuka jendela-jendela besarnya agar udara segar masuk ke dalam unit, dan memasang aromaterapi agar ruang kamarnya tidak lagi meninggalkan wangi khas Mingyu.

Namun anehnya, apartemen tersebut tetap terasa familiar.

Masih terasa seperti Mingyu.

Cangkir retak favorit Mingyu masih tergeletak di sudut dapur. Koleksi postcard milik Mingyu masih tersimpan rapi di rak buku. Di pintu kulkas, tempelan catatan belanja serta resep-resep yang ditulis tangan oleh Mingyu masih bertahan, ditemani selembar polaroid yang diambil di hari pertama mereka menghuni apartemen.

Di setiap ruangan tersimpan kenangan yang pernah ia bagi bersama Mingyu.

Obrolan yang tertukar di atas sofa.

Aroma kopi di dapur yang diseduh untuk dua.

Dan harapan yang perlahan-lahan berubah bentuk.

Everything feels like a quiet version of before

Mungkin, karena kenangan tentang Mingyu tidak pernah benar-benar pergi.

 


 

Mingyu tidak pernah hadir dengan suara keras. 

Ia bukan sosok yang memenuhi ruang dengan kata-kata. Bukan juga tipe yang memenuhi ruangan dengan tawa meledak atau cerita yang menggebu-gebu.

Kehadirannya selalu terasa seperti embun. Sunyi dan sederhana. Yang halus, tenang, sejuk, dan juga hening. Selalu ada setiap pagi, selalu muncul di tempat yang sama tanpa pernah benar-benar diminta. 

Mingyu hadir dalam gerakan-gerakan kecil.

Pada gumaman perlahannya saat menyiapkan makanan untuk Minghao di dapur—nada-nada tak bernama yang memenuhi ruang, seolah memberi tahu bahwa ia ada dan semuanya akan baik-baik saja.

Pada kebiasaannya mengganti spons cuci piring sebelum benar-benar kotor, tak pernah menunggu sampai Minghao mengeluh. (Mingyu memasak, Minghao mencuci piring. Seperti itu kesepakatannya. Tapi Mingyu selalu tahu lebih dulu kapan spons harus diganti).

Pada rutinitasnya mengisi ulang botol minum Minghao sebelum tidur, diletakkan tepat di sisi tempat tidur, dingin dan penuh—sesuai dengan preferensi Minghao.

Pada rutinitasnya mengecek baterai ponsel Minghao setiap malam, agar pagi hari Minghao tidak dimulai dengan kekesalan kecil. (Ia sering lupa mengisi daya baterai ponselnya).

Pada caranya memastikan tisu kamar mandi tak pernah habis. 

Pada kebiasaannya untuk menyalakan lampu di ruang utama saat ia akan lembur, agar apartemen tak terasa terlalu sepi saat Minghao pulang.

Pada caranya menyelipkan jaket ke dalam tas Minghao diam-diam saat cuaca mendung, meski ia tahu Minghao akan berkata, “nggak dingin, kok.”

Dan pada kebiasaannya menyimpan teh favorit Minghao di tempat yang sama, selalu terisi ulang, selalu siap, meski tak pernah diminta.

Minghao pernah menikmati semua kebiasaan-kebiasaan kecil itu tanpa terkecuali.

Kini tidak lagi.

Ia sering mengawali hari dengan kondisi ponsel yang sudah low battery. Terbangun di tengah malam dengan kondisi kehausan dan harus keluar kamar untuk mengambil minum. Lupa mengisi tisu toilet sehingga ia kerap merutuk saat membutuhkannya. Pulang dengan kondisi apartemen yang gelap gulita karena ia lupa menyalakan lampu.

Sebelumnya, Minghao tidak pernah menyadari bahwa Mingyu mengambil porsi besar dalam kesehariannya.

Dan kini, kekosonganlah yang menyadarkannya.

Hari-hari di apartemen kini terasa lebih sunyi dan malam terasa lebih panjang dari biasanya.

 


 

Di langit-langit kamar mandi apartemen mereka, terdapat retakan yang tidak pernah benar-benar diperhatikan Minghao.

“Sayang, lihat deh,” kata Mingyu di suatu pagi saat mereka sedang menyikat gigi bersama. Jari telunjuknya terangkat ke atas. “Retakan yang itu mirip bulu angsa, nggak, sih?” tanyanya penuh antisipasi.

Saat itu, Minghao tidak terlalu memerhatikan.

Pikirannya terdistraksi. 

Ada meeting besar yang harus dihadirinya pagi itu.

Jadi, tanpa benar-benar menatap retakan tersebut, Minghao hanya mengangguk kecil dan menjawab. “Iya kayaknya.”

Yang ia ingat adalah keheningan yang mengikuti setelahnya.

Mingyu melanjutkan aktivitasnya dalam diam, kemudian meninggalkan kamar mandi tanpa menunggu Minghao selesai seperti biasa.

Kini, Minghao berada di kamar mandi yang sama dan menatap retakannya dalam-dalam.

Betul kata Mingyu.

Retakannya mirip dengan bulu angsa.

 


 

Pada suatu malam, ketika ruang kamar sudah gelap dan mereka berbaring bersisian, Mingyu pernah bertanya pada Minghao.

“Sayang. Do you think we love each other the right way?

Saat itu, Minghao tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi ia hanya diam dan membiarkan pertanyaan tersebut menguap di udara.

 


 

Kenangan terakhir bersama Mingyu yang dimiliki Minghao adalah pada satu hari Minggu di bulan Maret.

Minghao tidak ingat di tanggal berapa, namun ia ingat semua momennya.

Di hari itu, ia bangun paling siang seperti biasa. 

Dengan kecupan hangat di dahi seperti biasa. 

Dan di meja makan sudah tersedia sarapan yang disiapkan Mingyu seperti biasa.

Sisa hari itu mereka habiskan dengan berjalan kaki di sekitar apartemen. Menyusuri gang-gang kecil. Berpegangan tangan. Saling mencuri kecup di sela-selanya. Bertukar tawa. Mengelus kepala kucing yang mereka temui. Dan berakhir di kafe langganan mereka di seberang jalan.

Berbagi keheningan dengan menu favorit masing-masing.

Pada satu titik, Mingyu menggenggam tangan Minghao dan berkata, “Let’s not talk today. Let’s just… be. Aku mau nikmatin sisa hari ini dengan diam aja sama kamu.”

Dan itulah yang mereka lakukan. Duduk diam di meja yang menghadap ke jalan, menyesap kopi dengan perlahan, dan saling tenggelam pada pikiran masing-masing. Minghao bahkan sempat menyandarkan kepalanya pada pundak Mingyu. Merasakan bahunya yang naik turun, menyamakan tempo napasnya, dan menghidu aroma parfumnya yang terasa familiar.

Tidak ada yang aneh di hari itu.

Hanya ada rasa nyaman.

Damai.

Like they remembered how to be in the same moment at the same time.

Minghao tidak tahu bahwa hari itu merupakan hari terakhir yang ia bagi bersama Mingyu.

Mungkin Mingyu tahu.

Entahlah.

Ada beberapa hal yang lebih baik tidak ia ketahui alasannya.

 


 

Mingyu meninggalkan apartemen keesokan paginya.

Tidak ada keributan.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada suara pintu yang dibanting.

Hanya ada ruang kosong.

Hanya ada keheningan.

Dan dapur yang sunyi tanpa kehadiran Mingyu yang biasa sibuk memasak di pagi hari.

Minghao mengecek ponselnya dan menemukan chat dari Mingyu.

Maybe this is where we leave each other.

Ia hanya membacanya tanpa pernah membalas, dan memilih melanjutkan aktivitasnya seperti biasa dengan kesedihan yang ditekan dalam-dalam.

 


 

Bulan demi bulan berlalu dan Minghao masih menghuni apartemen yang sama.

Rasa sakitnya masih ada dan rasa sedihnya masih terasa.

It just lingers — soft, background, like a bruise that’s mostly faded but still tender if you press too hard.

 


 

Terkadang, Minghao masih terbangun di malam hari dan teringat dengan kenangan yang dibaginya bersama Mingyu.

 


 

Hari ini genap 12 bulan berlalu tanpa kehadiran Mingyu di apartemen milik mereka.

Minghao menatap retakan di kamar mandi yang disebut-sebut Mingyu sebagai bulu angsa.

Bahkan setelah 12 bulan, kenangan tentangnya tidak pernah benar-benar pergi.

And then, something clicks.

Mungkin, Minghao tidak butuh menghapus semua tentang Mingyu di sisinya.

Mungkin, Minghao tidak butuh closure seperti yang selama ini ia pikirkan.

Mungkin, kisah mereka berakhir memang karena masanya sudah habis.

Maybe it was just two people running out of road. 

No villain.

No betrayal. 

Just two hearts out of sync, even when the love was real.

And it was real. 

Minghao bisa mengamininya sekarang.

Minghao pernah benar-benar menyayangi Mingyu.

But it’s okay to let go now.

It’s okay to keep living.

Dengan atau tanpa Mingyu.

 

 

 

 

 

 

Epilogue

(Satu tahun kemudian)

Kota ini terus berubah dan berkembang, namun sudut-sudutnya masih menyimpan kenangan yang sama.

Pada suatu pagi yang dingin sehabis hujan, Minghao berjalan perlahan menyusuri gang kecil yang dulu sering dilaluinya. Gang yang sudah berbulan-bulan ia hindari, namun hari ini, entah mengapa ia rindu roti hangat yang dijual pada kafe langganannya dahulu. Kakinya melangkah dengan hati-hati–setengah karena keraguan, dan setengah lagi dipenuhi ekspektasi entah apa.

Kafe yang ditujunya berada di seberang jalan dan Minghao sudah selangkah lagi saat lampu penyeberangan berubah merah.

Langkahnya terhenti dan ia memutuskan untuk berdiri di sisi jalan bersama beberapa orang. Sambil menunggu lampu berubah hijau, matanya berkeliaran menatap ke kanan dan ke kiri, lalu beralih ke arah kafe yang sayup-sayup menggaungkan irama soft jazz ke udara.

Dan di sana, ia melihat Mingyu.

Duduk nyaman di depan jendela, dengan kedua mata yang fokus menghadap layar Kindle. Rambutnya kini dipangkas pendek dan ia mengenakan kacamata berbingkai hitam yang pernah Minghao sukai. Di mejanya, terdapat cangkir kecil dan piring yang kini telah kosong–yang jika Minghao boleh menebak, pasti berisi hot chocolate dan juga butter croissant . Menu yang tidak pernah absen dipesan Mingyu setiap kali mereka menghabiskan pagi di sana.

Tanpa sadar, Minghao menahan napasnya.

Dan Mingyu mengangkat kepalanya.

Matanya berpapasan dengan kedua manik mata milik Minghao.

Selama sepersekian detik, dunia terasa berhenti berputar.

Kemudian, Mingyu tersenyum.

Bukan senyuman yang lebar. Hanya senyum sapa; sebuah ‘halo’ tanpa suara.

Yang kemudian dibalas Minghao dengan anggukan kecil.

And that’s it.

Tidak ada kata-kata yang tertukar. Tidak ada luapan emosi yang membuncah. Hanya dua orang asing yang pernah berbagi kenangan yang sama, di apartemen yang sama, selama 4 tahun lamanya. Yang kini berada di titik yang berseberangan, terpisah jalan, namun ada di tujuan yang sama.

Ketika lampu penyeberangan berubah hijau, Mingyu menghilang dari depan jendela.

Dan Minghao menyadari bahwa hatinya baik-baik saja.

It doesn’t ache.

It just is.