Actions

Work Header

Rindu (Katanya)

Summary:

Hyunjin merindukan kekasihnya, dan memutuskan untuk menginap. Harusnya sih mereka hanya tidur... bukan 'tidur'.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Thank you kak Minho.” ucap Jisung seraya merapihkan piring bekas makan mereka bertiga, iya bertiga; Jisung, Minho dan Hyunjin.

Hyunjin memutuskan akan menginap di dorm kekasihnya ini, karena semenjak mereka pisah dorm, keduanya jarang sekali miliki waktu bersama seperti saat keduanya masih berada di dorm yang sama.

Setelah jadwal grup yang cukup padat minggu ini, akhirnya Hyunjin dan Jisung miliki waktu mereka berdua, walau keesokan hari masih ada jadwal yang menanti.

“Cucian piringnya langsung masukin aja ke dishwasher, besok pagi biar tinggal rapihin. Kakak ke kamar duluan ya.” Ucap Minho sambil berjalan menuju kamarnya, namun saat sampai depan pintu, dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Hyunjin dan Jisung.

“Oiya, Jin, Jiji, jangan berisik ya… sama… jangan lupa pake kondom.” Minho berkata sambil tersenyum jahil. Jisung yang mendengarnya sangat terkejut, mulutnya terbuka lebar dan matanya membulat sempurna, seraya berteriak,

“KAK MINHO APAAN SIH”

Hyunjin mendengar ucapan Minho dan teriakan Jisung hanya terkekeh geli, meski memang tidak berniat untuk bercinta malam ini, tapi siapa yang tahu kalau nanti.

“Jangan ketawa ih, bantuin aku sini.” Jisung mendelik sinis pada Hyunjin dan Hyunjin hanya tersenyum.

“Iya sayang.”


Sekarang keduanya berada di kamar Jisung. Setelah membersihkan diri dan menggunakan skincare, Hyunjin naik lebih dulu ke kasur milik Jisung, mencari posisi yang nyaman sambil memperhatikan Jisung yang masih memoleskan lip balm pada bibirnya.

“Sini.” Ucap Hyunjin sambil merentangkan tangannya setelah melihat Jisung selesai dengan urusannya. Jisung pun langsung jatuh pada pelukan Hyunjin, menyamankan posisi dengan menaruh kepalanya dekat dengan dada Hyunjin. Tangan Hyunjin segera merengkuh tubuh mungil Jisung dengan erat sambil menghirup aroma shampoo yang Jisung gunakan.

“Kangen.” Ucap Jisung lirih, semakin membenamkan kepalanya pada dada Hyunjin.

“Maaf ya, baru punya waktu sekarang.” Hyunjin berkata sambil mengelus rambut Jisung yang halus dan berkali-kali mengecup kepala Jisung.

Keduanya berpelukan dalam waktu yang cukup lama, menikmati waktu yang ada sebelum esok hari mereka kembali disibukan oleh jadwal yang menanti mereka.

Tangan Hyunjin turun mengusap punggung Jisung, semakin turun ke pinggang Jisung yang ramping. Dia selipkan tangannya masuk ke dalam pajama Jisung yang sedikit terangkat.

Tangannya masih mengelus Jisung dengan lembut, namun dia mulai bertindak nakal. Hyunjin bawa tangannya naik ke arah dada Jisung yang semakin membesar karena Jisung rajin work out. Hyunjin remas dada Jisung, lalu dia mainkan putingnya.

Jisung nyaris tenggelam dalam mimpi, jika saja tangan Hyunjin tidak meremas dadanya.

“Hyunjin, tangannya jangan iseng ah.” Jisung mendongak, menatap wajah Hyunjin dari bawah.

“Hmm.” Hyunjin hanya bergumam, tangannya masih setia meremas dada Jisung dan memainkan putingnya.

“Hyunjin ahh, besok masih ada jadwal.” Jisung mencoba menepis tangan Hyunjin yang bermain-main di putingnya. Hyunjin tidak menjawab lagi, dia turunkan kepalanya agar sejajar dengan leher Jisung, dan menghirup aroma sabun Jisung disana. Sedangkan tangannya masih setia di dada milik kekasihnya.

“Hyun nghh udah.” Jisung mulai mendesah pelan karena tangan Hyunjin tidak berhenti memaikan putingnya. Hyunjin paham betul titik sensitif milik kekasihnya.

“Boleh ya? Aku kangen kamu.” Hyunjin menatap wajah Jisung yang mulai memerah.

“Tapi kita masih ada jadwal besok.”

“Gak apa-apa, aku pelan-pelan dan gak akan lama. Jadi, boleh ya?” Tanya Hyunjin sekali lagi.

Jisung tidak menjawab, tapi Hyunjin paham bahwa Jisung-nya juga inginkan ini. Mereka saling merindukan satu sama lain.

Diamnya Jisung, Hyunjin anggap sebagai ‘iya’. Maka Hyunjin semakin gencar memilin puting Jisung, sambil mengecup leher kekasihnya. Jisung pun semakin gelisah dalam dekapan Hyunjin. Dia mulai merasakan cairan pre cum keluar dari ujung penisnya.

“Hyun hhh, jangan bikin tanda.” Ucap Jisung memperingati, karena Hyunjin menggigit dan menghisap lehernya cukup kuat.

“Iya, enggak.” Jawab Hyunjin yang masih asik menghisap leher Jisung, tangannya pun semakin turun ke arah pantat sintal milik kekasihnya. Dia remas pelan pantat itu dari luar celana.

Jisung pun tanpa sadar mulai menggesekan penisnya yang masih tertutup celana ke penis Hyunjin yang Jisung rasa sama tegangnya dengan miliknya.

Nghh

“Sange juga kan kamu?” bisik Hyunjin tepat di telinga Jisung saat dia rasakan kekasihnya mulai mencari kenikmatan sendiri. Jisung tidak menjawab dan masih fokus menggerakkan pinggulnya.

Hyunjin pun menghentikan pergerakkan Jisung, dengan sigap, Hyunjin merubah posisi mereka sehingga Jisung tiduran telentang di kasur. Tangan Hyunjin dengan cekatan mulai membuka baju tidur yang Jisung kenakan, dan pada akhirnya Jisung telanjang bulat di hadapan Hyunjin dengan penisnya yang tegang mengeluarkan cairan bening.

“Cantik,” Hyunjin menatap tubuh Jisung penuh kagum. Dia dekatkan wajahnya dengan wajah Jisung. Hidung mereka bersentuhan, nafas keduanya sama-sama memburu sarat akan nafsu.

“Jisungku selalu cantik.” Ucap Hyunjin, kemudian dia pertemukan bibirnya dengan bibir Jisung. Hyunjin hisap bibir bawah dan bibir atas Jisung bergantian. Ciuman mereka sangat bergairah penuh kerinduan.

Hyunjin melepas ciuman mereka, lalu menyodorkan dua jarinya di hadapan Jisung.

“Hisap, sayang.”

Maka Jisung membuka mulutnya dan menghisap kedua jari panjang Hyunjin dengan penuh nafsu, seakan jari tersebut adalah permen lolipop.

Setelah dirasa jarinya cukup basah, Hyunjin tarik kedua jarinya dari mulut Jisung, kemudian dia arahkan ke pintu anal Jisung yang berkedut. Dia usap dengan lembut anal kekasihnya, dan tubuh Jisung langsung menggeliat.

“Belum aku masukin loh, sayang.” Hyunjin berkata menggoda Jisung, yang semakin merengek karena digoda oleh kekasihnya.

Tidak mau berlama-lama, seperti janjinya tadi. Hyunjin masukan satu jarinya ke dalam anal Jisung. Tubuh Jisung pun langsung melengkung, menaikkan pinggulnya,

Ngghhh Hyun — hhh jin.”

Setelah itu, kembali Hyunjin masukan satu jarinya lagi yang semakin membuat Jisung mendesah berisik sehingga Hyunjin harus membekap mulut kekasihnya.

“Sssttt jangan berisik, ada Kak Minho. Kamu mau Kak Minho denger?” Tanya Hyunjin, Jisung pun menggeleng ribut. Tentunya dia tidak ingin Kak Minho mendengar desahannya, bisa diolok habis-habisan dia.

Hyunjin mulai menggerakan jarinya keluar masuk anal Jisung, pelan-pelan sampai dia merasa lubang Jisung cukup rileks. Jisung masih sibuk menahan desahannya, walau sebenarnya dia sudah ingin berteriak menerima kenikmatan yang Hyunjin berikan.

Setelah dirasa lubang kekasihnya sudah rileks, Hyunjin menambah tempo jarinya. Dia semakin cepat menggerakan jarinya keluar-masuk, kemudian dia tekuk sedikit jarinya yang membuat Jisung tidak dapat lagi menahan desahannya.

hahhh Hyun — lagi… disana… mmhh” Jisung mendesah heboh saat jari Hyunjin mengenai prostatnya. Hyunjin pun semakin bersemangat mengerjai Jisung. Badan Jisung bergerak gelisah, pinggulnya terangkat mengikuti gerakan jari Hyunjin.

“Aku… nghh mau keluar.”

Hyunjin yang mendengar hal tersebut buru-buru menarik jarinya keluar dari lubang kekasihnya. Hal itu sebabkan erangan frustasi dari Jisung karena pelepasannya harus tertunda.

Ahh… kenapa? kenapa dikeluarin…” Jisung merengek, hampir menangis karena dirinya sudah benar-benar ada di ujung. Hyunjin yang melihat itu pun hanya terkekeh dan semakin bersemangat menggoda kekasihnya

“Gak mau aku masukin kah? Kamu kan kalo udah keluar sekali langsung lemes kecapekan.” Ujar Hyunjin sambil membuka seluruh pakaiannya. Sekarang keduanya sama-sama telanjang bulat.

“Mau… mau Hyunjin, mau dimasukin sama Hyunjin.” Jisung merengek layaknya anak kecil yang tidak diberikan permen oleh Ibunya.

“Sini sepongin dulu kontol aku.” Kata Hyunjin sambil memegang penisnya yang sudah tegak sempurna dan mengeluarkan pre cum sama seperti miliki Jisung.

Jisung pun bangkit dari posisinya, menghadapkan wajahnya pada selangkangan Hyunjin. Dia menatap penis Hyunjin yang ukurannya tidak bisa dibilang kecil. Jisung menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati penis Hyunjin mulai dari ujung kepalanya hingga ke pangkalnya. Tangannya turut serta mengurut pelan penis Hyunjin.

Mmhh pinter, Jisungku.” Hyunjin berkata sambil mengelus kepala Jisung.

Setelah dia rasa penis kekasihnya sudah cukup basah, perlahan Jisung mulai memasukan penis Hyunjin ke dalam mulutnya yang kecil, dan menggerakan kepalanya maju-mundur.

“Ji- shhh pelan-pelan sayang.” Hyunjin memperingati karena gerakan kepala Jisung yang terkesan buru-buru dan serampangan dibalut kabut nafsu. Jisung hanya ingin Hyunjin segera memasukinya.

Jisung tidak mempedulikan ucapan Hyunjin, dirinya masih sibuk menggerakan kepalanya, mengeluarkan penis Hyunjin yang sangat basah, menjilatnya kemudian memasukannya kembali ke mulutnya.

Hyunjin hanya bisa menggigit bibirnya, rangsangan yang diberikan Jisung terlalu nikmat. Hyunjin rasa, dia akan keluar dengan cepat jika Jisung terus melakukan hal ini pada penisnya. Pandangan Hyunjin turun ke bawah, memperhatikan Jisung yang sibuk dengan penis miliknya. Pipi kekasihnya menggembung, matanya sedikit berair, juga terdapat air liur yang berantakan di sekitaran bibirnya. Pemandangan yang sangat erotis menurut Hyunjin.

“Ji udah, aku mau keluar di dalem kamu.” Ucap Hyunjin menghentikan kepala Jisung.

Jisung pun menurut, dia lepaskan penis Hyunjin dari mulutnya. Diam dan menanti perintah Hyunjin selanjutnya.

“Nungging, sayang.” Perintah Hyunjin yang tentu saja langsung Jisung turuti. Jisung memutar badannya membelakangi Hyunjin, memposisikan pantatnya ke atas dan menurunkan dadanya, menjadikan tangannya sebagai tumpuan.

“Hyunjin, ayo, hiks ma — masukin.” Jisung menggoyangkan pantatnya sambil sedikit terisak, menggoda Hyunjin agar segera memasuki lubangnya. Hyunjin pun menampar pelan pantat Jisung kemudian meremasnya.

“Genit banget godain aku.” Ucap Hyunjin sambil terus meremas pantat Jisung.

Mmhh Hyun hhh ayo. Mau rasain kontol Hyunjin di lubang aku. Mau Hyunjin hiks.” Rengekan Jisung semakin tidak terkontrol. Benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu.

Hyunjin pun mengocok penisnya sebentar sebelum akhirnya dia masukan ke dalam lubang sempit milik Jisung. Dalam sekali hentak, seluruh penisnya tertelan sempurna di dalam Jisung.

Mmhh” Badan Jisung ikut terhentak ke depan. Teriakannya cukup kencang, namun dia sudah tidak lagi mempedulikan Kak Minho yang mungkin mendengar.

“Penuh, Hyunjin besar… penuh.” Keluh Jisung rasakan lubangnya dimasukin penis besar milik kekasihnya.

Tanpa menunggu Jisung yang masih belum terbiasa dengan kehadiran penisnya, Hyunjin langsung menggerakan pinggulnya maju-mundur, menghentakkan penisnya dalam-dalam di lubang Jisung. Badannya turun, dia biarkan dadanya menempel dengan punggung Jisung. Hyunjin peluk tubuh mungil Jisung dari belakang. Tangannya kembali menggerayangi dada Jisung, memilin putingnya. Bibirnya sibuk mengecup tengkuk kekasihnya dan pinggulnya masih terus bergerak dengan tempo cepat dibawah sana. Bunyi kulit saling bertabrakan pun terdengar cukup kencang.

Ahh enak… suka… lagi” Jisung meracau tidak jelas, pandangannya mulai kabur, lubangnya penuh diisi kenikmatan.

Hyunjin pun tersenyum dalam kecupannya, dia kembali tegakkan badannya.

“Enak, ahh sayang?” Tanya Hyunjin sambil menampar pelan pantat Jisung yang bergoyang-goyang karena terhentak oleh dirinya.

Nghh enak… mmhh kangen… punya Hyunjin.” Jisung menjawab ribut sambil menganggukan kepalanya.

Jawaban dari Jisung tentunya semakin menambah semangat Hyunjin. Dirinya menggenjot Jisung tanpa ampun. Bisa dipastikan Jisung akan kesulitan berjalan esok pagi dan mungkin mereka akan ditegur oleh Leader mereka, tapi siapa peduli? Nafsu sudah diujung tanduk, maka harus dituntaskan.

Ahh Hyunjin, pegel.” Adu Jisung yang merasa tangannya mulai pegal karena menjadi tumpuan badannya. Hyunjin pun mengubah posisi Jisung menjadi tiduran miring tanpa melepas penisnya dari lubang kekasihnya. Setelah dirasa posisi keduanya sudah nyaman, Hyunjin kembali menggenjot Jisung, tangannya menahan tubuh Jisung agar tidak semakin terdorong karena hentakan tubuhnya.

“Lubang kamu makin berasa rapet kalo begini, sayang.” Hyunjin semakin keras menggenjot Jisung, matanya menatap wajah Jisung yang mendesah teriakan namanya.

NGHH lagi Hyun hhh Jin disitu…lagi…” Jisung mendesah ribut saat rasakan prostatnya ditumbuk keras oleh penis Hyunjin.

Ah ternyata penis Hyunjin tepat mengenai prostat milik kekasihnya. Hyunjin pun semakin semangat mengenai titik kenikmatan tersebut. Memompa penisnya dengan semangat sampai titik terdalam Jisung.

Hyunjin kembali merubah posisi keduanya, sekarang Jisung tiduran telentang, tubuhnya penuh keringat padahal AC di kamar Jisung cukup dingin. Di posisi ini Hyunjin dapat semakin jelas melihat wajah berantakan Jisung. Mata berair, rambut berantakan, bibir merah membengkak yang senantiasa merapalkan desahan dan selalu terselip nama Hyunjin di dalamnya.

Mata Hyunjin turun kebawah memperhatikan perut Jisung yang sedikit menonjol karena penisnya. Dia menarik tangan Jisung agar turut merasakan tonjolan itu.

“Kerasa gak? kontol aku nembus sampe perut kamu…” Kata Hyunjin sambil menggerakan tangan Jisung, mengelus penisnya dari luar perut Jisung. Jisung pun hanya merengek, tubuhnya meremang, kakinya bergetar karena ucapan Hyunjin.

Hyunjin yang melihat Jisung bergetar pun terkekeh.

“Enak banget ya diewein aku, sampe kamu gemeteran gini.”

Jisung yang mendengar ucapan Hyunjin pun semakin terangsang, lubangnya semakin meremas kuat penis Hyunjin.

Fuck — nghh Ji, sayang, jangan diketatin.”

“A-aku, mau mmhh keluar, Hyun — AHH” Ucapan Jisung terpotong karena penisnya langsung menyemburkan sperma, mengotori perutnya. Hyunjin yang sedikit lagi akan capai pelepasan pun tidak berhenti menggenjot Jisung, meskipun Jisung baru saja capai puncaknya.

Hhh tahan sebentar ya, aku nghh keluar sebentar lagi.” Ucap Hyunjin tanpa mengurai tempo hentakannya. Jisung yang baru saja ‘keluar’ pun makin sensitif, terlalu banyak kenikmatan, air mata pun mulai keluar dari mata Jisung.

Nghh ud-dah…sensitif hiks” Jisung berkata sambil terisak.

“Sebentar lagi sayang, tahan ya cantik.”

Maka Hyunjin fokuskan dirinya agar segera capai pelepasan. Dia pun merasakan lubang Jisung semakin erat mencengkeram penisnya. Badan Jisung pun kembali gemetar. Penisnya mulai kembali mengeluarkan cairan.

“Jisung, sayang, mmhh mau keluar lagi ya?” Tanya Hyunjin yang hanya dijawab anggukan oleh Jisung.

“Bareng ya sayang.”

Mmhh, di dalem, ahh mau dibasahin sama Hyun — hhh jin.” Pinta Jisung, yang jelas akan Hyunjin turuti dengan senang hati.

Setelah beberapa hentakan kemudian, Hyunjin pun capai pelepasnya, dia mengeluarkan cairannya di dalam lubang Jisung, disusul oleh Jisung yang capai puncak untuk yang kedua kalinya. Seketika Jisung bergidik merasakan cairan hangat Hyunjin mengalir di lubangnya.

Hyunjin keluarkan penisnya dari lubang Jisung, dan langsung merebahkan tubuhnya disamping Jisung, kemudian dia menarik tubuh kekasihnya agar masuk ke dalam pelukannya.

Keduanya terengah-engah setelah pelepasan hebat tadi. Hyunjin menatap wajah Jisung yang memerah penuh akan peluh, bibirnya bengkak, rambutnya berantakan, matanya berair habis menangis, namun bagi Hyunjin, Jisung-nya masih tetap menawan.

“Kayaknya kita harus mandi lagi deh.” Ucap Hyunjin sambil merapihkan rambut Jisung, kemudian tangannya turun ke pipi Jisung yang gembil.

“Gara-gara kamu.” Jisung memukul dada Hyunjin pelan sambil menggerutu, Hyunjin pun hanya tertawa, kemudian dia menggendong Jisung menuju kamar mandi setelah mendapatkan tenaganya kembali. Hyunjin ingin membersihkan tubuh keduanya sebelum mereka tidur nanti. Hyunjin tahu bahwa Jisung-nya tidak akan mau berjalan setelah pergumulan melelahkan mereka tadi, dan Jisung tidak suka tidur dalam keadaan berkeringat seperti ini.


Nghh Hyunjin

Suara desahan terdengar samar-samar dari kamar Minho.

Minho yang sedang memainkan ponselnya pun berdecak kesal. Sudah diperingatkan jangan berisik, namun kedua manusia kelebihan hormon itu sepertinya tidak mengindahkan kehadiran Minho.

Ahh Hyun- pelan

Ji- ahh sayang

Ah dua orang itu rupanya sudah benar-benar tenggelam dalam nafsu sehingga lupa bahwa ada Minho disini. Segera Minho membuka room chatnya dengan seseorang.

Notes:

meet me at x @hdorablev