Actions

Work Header

Time to Pretend

Summary:

Melalui sebuah playlist, Junmyeon Kim, 29 tahun, menceritakan semua kisah patah hati yang dialaminya sejak usia 19 hingga 23 tahun kepada kekasihnya, Oh Sehun.

Terinspirasi dari berbagai lagu indie pop yang dirilis pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an.

Notes:

Halo! Kembali lagi dengan spin-off SCBD AU. Sayangnya saat ini authornya sedang lumayan sibuk dan masih no idea gimana ngelanjutin cerita utamanya, tapi gue selalu ingin nulis cerita masa lalunya Junmyeon, terinspirasi dari musik yang dirilis pada masa kuliahnya.

Many of these songs are my actual favorites from the era, so please enjoy! Semoga ada lagu yang masuk ke playlist lo juga hehe. Ini masih ongoing ya, tapi nggak akan terlalu panjang!

Chapter 1: Genesis

Chapter Text

Senopati, 2022

Jumat kali ini, Junmyeon ingin menghabiskan waktu di apartemen mewah Sehun sambil ngewine daripada makan di restoran fancy. Sepulangnya dari kantor, Junmyeon membeli sebotol wine dan beef bourguignon dengan roti baguette sebelum jalan kaki ke tempat Sehun—dan ya, sang kekasih mengeluh karena ia tidak mau dijemput.

“You should’ve told me to pick you up,” gerutu Sehun; “Dari kantorku ke apartemen kamu tuh cuma 500an meter,” Junmyeon membela dirinya sendiri.

Junmyeon sedang meng-scroll aplikasi Spotify di handphonenya ketika Sehun menuangkan Decoy Sonoma County Cabernet Sauvignon dari Amerika Serikat. Ia membeli red wine tersebut untuk Sehun hanya karena labelnya bergambar seekor angsa.

“Semoga enak beneran ya,” kata Junmyeon ketika Sehun memberikannya gelas wine.

Sehun duduk di samping Junmyeon di sofa, dan tangan kanannya merangkul pundak lelaki yang lebih mungil, menariknya lebih dekat. “Buying this just because of the goose on the label. I think that’s really cute of you.”

“Oh ya? Abisnya aku bingung winenya banyak banget, jadinya aku milih yang paling lucu aja packagingnya, jawab Junmyeon sambil nyengir. Ia senang dipuji cute.

Keduanya mengadukan gelas wine untuk cheers, lalu meminumnya. Beruntungnya bagi Sehun, wine ini masih masuk ke seleranya: terasa seperti campuran buah-buahan beri berwarna gelap seperti blackberry dan black cherry dengan notes dark chocolate dan rempah-rempah yang lebih subtle.

“Good choice, baby,” puji Sehun sambil mengelus Junmyeon dari pundak ke lengan atas secara perlahan. It felt electric.

Junmyeon menggigit bibir bawahnya. 

“Thank you, handsome,” Junmyeon minum sedikit wine lagi sebelum meletakkan gelasnya di atas meja.

Sehun kembali meminum winenya hingga tersisa sedikit di dasar gelas. Junmyeon menatap Sehun tanpa berkedip dan mengagumi wajah tampan pacarnya: Alis tebal yang terbentuk sempurna, sorot mata tajam yang selalu terlihat lebih lembut ketika memandang dirinya, hidung mancung, dan bekas luka di pipi kanannya. Bagi Junmyeon, wajah Sehun itu seperti dipahat oleh Aphrodite, dewi kecantikan dalam mitologi Yunani kuno.

Junmyeon menganggap cheek scar tersebut membuat Sehun terlihat semakin hot (atau “lakik” kalau meminjam istilahnya Yixing). Hingga hubungan mereka berjalan sekian bulan, Junmyeon juga belum mengetahui apa penyebab luka tersebut—tentu ia pernah memujinya, namun Sehun hanya membalasnya dengan senyuman kecil dan ekspresi yang tidak bisa ia baca. Mungkin suatu hari nanti ia akan tahu alasannya.

Junmyeon tersadar dari lamunannya ketika Sehun menyerahkan remote speaker bluetooth. Gelas winenya juga sudah terletak di atas meja.

“Do you want to play your other playlist tonight or should we watch TV instead?”

Junmyeon tersenyum jahil. “The last time kita nonton TV, TV-nya kita cuekin terus kita make out nggak kelar-kelar.”

Sehun tertawa. “Alright then. Just tell me your stories while you’re playing your music.”

“What kind of stories?” Junmyeon bertanya balik dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas sofa. “Sambil dengerin playlistku ya.”

“Anything. I’ll stare at your beautiful face while you’re at it,” Sehun merengkuh Junmyeon dari samping, dan mulai menciumi bagian belakang telinganya. Lelaki yang lebih kecil tertawa geli, namun ia tidak menampik kalau ia menyukai sensasi yang ditimbulkan oleh sang pacar.

“Ih bentar, aku susah scrollingnya,” Junmyeon mengeluh ketika bibir Sehun berada di rahangnya.

Junmyeon menemukan playlist berjudul “i was the main character of the 2010s” yang ia buat di tahun 2017 lalu, berisi lagu-lagu penuh kenangan di bangku kuliah. Ia tersenyum ketika melihat judul-judul lagu yang ada di sana.

“Aku mainin playlist lagu-lagu yang aku denger pas kuliah kali ya?”

Sehun berhenti menciumi lehernya, dan menatapnya agak tajam. Junmyeon tentu saja tidak gentar karena menurutnya, Sehun mode serius atau jealous itu hot banget.

“And listening to stories about your exes?”

“Ex,” Junmyeon mengoreksi mengelus pipi Sehun. “Lagian, aku baik-baik aja sama Joohyun! Yang lain kan aku ga pacaran, deket doang!”

Dengan jahil, Junmyeon menepuk bokongnya sendiri. Ia merasakan Sehun menahan napasnya. “Lagian, you’re the only one who gets to tap my ass.”

“Okay, fine,” Sehun mengalah. “It’s okay, I’d love to get to know you more.”

Junmyeon menekan lagu pertama di playlist tersebut.

“Jadi, aku pertama kali pacaran tuh pas udah setahunan kuliah, kan. Jaman-jamannya aku lagi sering dengerin ini…

 

Depok, 2011

Genesis — Grimes

Tak terasa Junmyeon sudah memasuki tahun kedua kuliah. Periode ospek yang menurutnya terlalu panjang itu berakhir juga, dan kini ia bisa pergi ke kampus tanpa perasaan waswas harus berkumpul dengan seniornya setelah kelas.

Junmyeon tiba di area air mancur di tengah kampus Fakultas Ekonomi (FE) sambil mendengarkan album Wolfgang Amadeus Phoenix, yang masih suka ia ulang-ulang sejak tahun terakhir SMA.  Lagu 1901 mengalun dari handphonenya, yang ia dengarkan melalui earphone.

Ia celingukan mencari-cari teman sekelas yang ia kenal dari jurusan akuntansi, namun sepertinya mereka semua sudah berada di sekitar kelas—hingga pandangannya tertuju pada seorang perempuan cantik berambut panjang yang sedang mengobrol dan tertawa bersama kedua temannya.

Joohyun Bae.

Junmyeon mungkin baru menyadari kalau ia menyukai perempuan dan laki-laki dalam dua tahun terakhir, tapi ia sangat yakin Joohyun adalah orang tercantik yang ia pernah lihat. Ia berani berargumen kalau Joohyun jauh lebih cantik daripada semua perempuan di angkatan SMA-nya yang berada di selatan Jakarta.

And I'll be anything you ask and more...

Junmyeon berjalan mengelilingi air mancur, begitu juga dengan Joohyun dari sisi lainnya. Joohyun terlihat bersinar di bawah pancaran matahari pagi jam sembilan dan di balik percikan air mancur.

Junmyeon tidak menyadari kalau ia sedang melamun dengan mulut yang terbuka hingga akhirnya…

“Junmyeon ya? Lo kenapa?”

Joohyun menegur Junmyeon, yang kini terlihat bodoh sekali.

Junmyeon menyadari mulutnya yang menganga. Wajahnya memerah karena malu. 

Kalau bisa, sekarang ia lompat ke dalam air mancur dengan logo universitas mereka di tengahnya.

“O-oh nggak… Lo kelas STEKBIS kan?” tanya Junmyeon sambil menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal.

Joohyun tersenyum. Semoga saja Junmyeon tidak kegeeran karena kini, si cantik itu pun terlihat tersipu.

“Emangnya ada kelas apa lagi? Bareng, yuk.”