Actions

Work Header

Tikus Percobaan Favorit

Summary:

Kim Minseok dan Kim Junmyeon hanya butuh satu orang untuk menuntaskan tugas penelitiannya. Dengan rentang waktu tujuh hari dan imbalan berupa uang, Oh Sehun tertarik.

Chapter 1: Perkenalan dengan satu-satunya kandidat

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

---🐈🐇

 

"Itu gila banget! Mana mungkin bisa diuji coba ke manusia?" ucap Junmyeon sambil meminum es teh favoritnya. Panas sekali hari ini, mungkin itu yang membuat kepala Kim Minseok ikut terpanggang hingga mencetuskan ide yang nyeleneh. 

"Ya gimana dong, kalau nggak diujicobakan kita nggak akan tahu hasilnya berhasil apa enggak. Nilai kita kosong nanti." jawabnya santai sambil mengetik laporan di laptopnya. 

Ya, bener sih. 

Tikus memiliki kesamaan genetik dengan manusia sebesar 95% hingga 98%, yang membuat tikus menjadi hewan favorit untuk menjadi bahan percobaan di lab kampus mereka.

Namun kalau cuma ke tikus saja, percuma. Mereka berdua mengerjakan tugas ini agar hasilnya bisa diimplementasikan ke manusia. Hanya butuh hasil akhir yaitu uji coba ke manusia untuk bisa memastikan apakah hasil kerja mereka selama ini membuahkan hasil. 

"Kalau nyoba satu tikus lagi gimana?"

"Nggak, kita butuh satu orang manusia. Kayaknya cowok aja deh, yang sehat biar kita gampang monitornya." jawab Minseok lagi.

"Tapi terlalu resiko nggak sih?" nada bicaranya mulai naik karena ide yang tidak masuk akal ini. "Lagian juga siapa yang mau jadi tikus percobaan coba? Gue aja nggak mau."

"Pasti ada yang mau lah."

"Pasti banget nih?"

"Ya, pasti lah. Caranya, kasih duit." Handphone di mejanya bergetar dua kali. "Kalau ada duitnya siapa yang nggak mau?" ucap Minseok sambil mengangkat handphonenya. Junmyeon menghela napasnya, sudah tahu dari siapa telepon itu berasal.

"Jongdae udah jemput, lu yang bikin flyer nya ya. Nanti sambung lagi di chat!" Minseok buru-buru menutup laptopnya dan meletakkannya ke tas ranselnya. Meninggalkan Junmyeon yang masih cemberut memikirkan caranya. 

Pakai duit siapa?

Gimana bikin flyer nya?

Siapa yang ngawasin proses nya nanti?

 

Junmyeon membuka aplikasi pembuat selebaran dan segera membuat satu contoh flyer nya. Dia tidak tahu berapa jumlah uang yang akan diberikan, tidak tahu bagaimana prosesnya nanti, narahubung siapa yang bisa dihubungi. Pokoknya dia buat dulu, mungkin nanti rekan kelompoknya itu bisa menambahkan hal lain. Setelah beres, dia mengirimkan desain nya ke Minseok untuk diperiksa sebelum dicetak. Junmyeon lalu membereskan perlengkapan tulis dan buku-bukunya untuk bergegas pulang juga. 

Lima menit kemudian, Minseok membalas pesan Junmyeon.

 

[untuk: Minseok]

 

*lampiran gambar*

 

udah cakep!

langsung cetak sepuluh!! 

 

Junmyeon menghela napasnya. Sebelum sampai rumah dia harus mampir dulu ke toko percetakan dan mengkopi selebaran.

 

---🧸🐣

 

"Ngawur banget, siapa coba yang mau jadi tikus percobaan kayak gini??" teriak Jongin di samping telinga Sehun saat dia mengambil satu flyer yang di tersedia di papan informasi kampus. 

"Sushhh, diem." Sehun membaca dengan teliti persyaratan dan ketentuan yang ada di selebaran itu. "Dibayar ini katanya, lumayan nih dapet duit gratis."

"Sepadan nggak itu?"

"Kalau cuma satu juta, kurang sih. Gue coba nego ah." Sehun lalu mengambil handphone nya. "Gue chat dulu CP nya."

 

---🐇🐣

 

[untuk: nomor baru]

hai

benar ini nomor kim junmyeon dari fakultas sains dan tekonologi?

Halo

Ya benar itu nomor saya

Siapa ini?

saya oh sehun

saya tertarik untuk jadi kandidat uji coba

Beneran??

iya

tapi saya mau bayarannya tiga juta

Tiga juta??

iya, take it or leave it

Oh

Saya bicarain dulu dengan rekan saya ya

Nanti saya infokan lagi kalau deal dengan harganya

sip!

 

Sehun meletakkan kembali handphone nya ke kantung kemejanya. Dia sangat percaya diri dengan harga yang dia tawarkan. Tidak ada manusia waras yang mau jadi bahan percobaan untuk proyek yang belum tentu aman untuk manusia. Jadi dia mencoba peruntungan untuk menaikkan harganya.

Junmyeon melengos sambil meletakkan handphone nya ke meja. Dih, belagu banget take it or leave it, take it or leave it! batinnya. Memang dia pikir dia siapa, menentukan harga seenaknya sendiri. Jangan salah, tiga juta, empat juta, bahkan lima juta pun, Junmyeon punya. Hanya saja, dia tidak mau memberikannya secara cuma-cuma, apalagi ke orang belagu yang baru bertemu di percakapan chat seperti ini barusan.

 

---🧸🐣

 

"Lu minta tiga juta??" teriak Jongin tidak percaya. 

"Sumpah suara lu," ucap Sehun sambil menutup telinga kanannya. "... ada tombol mute nya nggak sih."

Mereka berdua sedang berdiri dalam antrian es kopi murah yang ada di pinggir jalan. Setelah kelas berakhir, tidak ada yang lebih enak dari dingin dan segarnya es kopi untuk tenggorokan mereka. 

"Nanti kalau udah deal mereka ngasih kabar lagi. Lagian siapa juga yang mau, mereka pasti putus asa nyari kandidat lain dan nyanggupin tawaran gue."

Jongin menganggukkan kepalanya. "Terus lu nggak kuatir sama efek samping nya? Ada tulisannya di flyer loh, 'butuh satu cowok untuk uji coba pil', lu nggak takut?"

Angin berhembus membuat keduanya menyibakkan poni nya. Setelah membayar, keduanya berjalan ke arah gerbang untuk pulang. 

"Santai aja, 'kan mereka ilmuwan, pinter - pinter. "

Jongin melengos, "Ilmuwan juga 'kan masih belom lulus hun, namanya juga masih percobaan."

"Iyaaa tahuuu... Makanya gue minta nego harga, amit-amit kalau sampe harus ke klinik."

"Tapi... Tiga juta, hun?" Jongin memiringkan kepalanya. 

Sehun lalu terdiam. Tiga juta apakah dirasa cukup untuk seminggu menjadi tikus percobaan. Benar-benar easy money untuk anak kampus macam dia, terlepas dari apapun efeknya nanti. 

Yah, kalau memang harus berobat kayaknya nggak sampe segitu sih, batinnya. 

"Apa gue naikin aja jadi lima juta ya?"

"Sehun!!"

 

 

---🐈🐇

 

 

[untuk: Minseok]

 

jadi dia minta tiga juta??

Yep

Skip ajalah

Belagu banget orangnya

entar dulu

sampe hari ini udah ada berapa orang yang hubungin elu?

Sampe per hari ini?

ho'oh

Nggak ada sih

nah itu

duh gimana nih

udah jadiin aja sama dia

Trus ngasih dia tiga juta??

abis gimana

kita cuma punya satu orang

dan waktu kita nggak banyak, jun

kita mau nunggu sampe kapan?

Iya sih....

kita bagi dua aja

gue kasih 1.5 duluan

nanti lu kasih sisanya kelar eksperimen

gimana?

jadi dia nggak bawa kabur duitnya sebelum semua selesai

Hhh yaudah

 

lu yg atur ya untuk ketemuan sama dia

nanti gue yg siapin teknis dan ketentuannya

Ok

 

Jawaban singkat dari Junmyeon menandakan bahwa dia tidak bersemangat dengan semua ide ini. Dari awalpun sebetulnya Junmyeon sudah tidak setuju. Namun karena penjelasan masuk akal dari Minseok, akhirnya keduanya sepakat. Minseok menyepakati harga yang ditawarkan oleh Sehun ini. Junmyeon tidak suka, tapi Minseok benar. Tidak semua orang mau dan mampu mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi bahan percobaan yang belum tentu aman untuk tubuhnya. Jadi saat ada orang yang mengajukan diri, mereka harus memastikan orang itu tidak membatalkannya. Apapun dilakukan, termasuk menambah uang jaminan untuknya.

 

---🐈🐇🐣

 

Mereka akhirnya bertemu untuk melakukan proses wawancara dengan kandidat satu-satunya. Mereka berdua sudah mempersiapkan jawaban jika ada pertanyaan yang akan ditanyakan. Jam sudah menunjukkan jam sepuluh pagi saat mereka mendengar suara pintu diketok.

"Permisi?" Sehun menundukkan kepalanya saat melihat kedua cowok yang memakai jas lab itu. Sehun memperkirakan keduanya mungkin lebih tua darinya beberapa tahun, jadi dia memberi salam terlebih dahulu.

"Hai, Oh Sehun ya? Masuk sini!" ucap Minseok berseri-seri.

Oh, jadi ini si belagu itu? Sial kenapa dia ganteng sih, batin Junmyeon. Sehun mengenakan celana jeans dan hoodie abu-abu dengan topi yang dipakai terbalik. Memperkuat image cowok belagu di mata Junmyeon. Lalu ketiganya berjabat tangan untuk bertukar nama dengan singkat. 

"Oke, kita mulai ya?" ucap Minseok menepuk tangannya sendiri. 

"Oh iya, sebelum mulai, kita ambil foto dulu ya untuk data kita. Boleh?"

"Iya, boleh." jawab Sehun sumringah. Dia lalu melepas topinya dan mengibaskan rambutnya yang ikal (karena tidak sopan jika difoto dalam keadaan seperti itu). Dia juga membuka resleting hoodie nya dan meletakannya di kursi yang telah disediakan. Kini Sehun terlihat lebih formal dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung di bagian lengan, dan dia siap untuk difoto. 

Minseok lalu menyikut Junmyeon yang masih belum bereaksi. Wawancara belum dimulai, tapi pikirannya sudah melayang kemana-mana. 

"Jun, foto." bisik Minseok tegas.

Junmyeon lalu gelagapan ketahuan melamun lama. Dia mengambil handphone nya dengan terburu-buru, lalu mencari sudut dan pencahayaan yang pas. Kakinya tersandung kursi saat dia mundur melewati barisan kursi yang sedang terdiam. Minseok melihat itu semua sambil geleng-geleng, tertawa kecil melihat rekannya kelimpungan bertemu satu kandidat yang tampan ini.

"Sehun lihat kesini, satu... dua..." ucap Junmyeon sambil mengangkat handphone nya.

Sehun lalu berdiri dengan tegak sambil mengacungkan dua jarinya.

"Uh, nggak usah pose."

Lalu Sehun menurunkan tangannya untuk pengambilan gambar kedua.

"Tapi nggak apa deh, begini juga oke. Udah cakep. Eh, bagus maksudnya." Junmyeon makin meracau tidak karuan.

 

Setelah foto diambil, Minseok memberikan selembar formulir untuk Sehun isi.

"Ini diisi semua ya, kita tinggal dulu mau ambil berkas lain." ucap Minseok ramah. "Dan elu, sini ikut gue." ucapnya menunjuk Junmyeon.

Junmyeon mencucu mengikuti rekannya ke ujung dekat laci lab. Setelah jaraknya lumayan jauh dari sang kandidat, Minseok berbisik keras.

"Lu kenapa deh?"

Jangankan Minseok, Junmyeon pun tidak tahu kenapa. Jadi dia hanya bisa menaikkan pundaknya.

"Lucu ya..."

Minseok menyentil dahi Junmyeon, berharap itu bisa mengembalikan kesadarannya.

"Nggak usah macem-macem. Inget kita cuma punya satu aja, nggak ada kandidat lain. Kalau dia ilfeel terus kabur, gimana?"

Junmyeon makin mencucu sambil mengusap dahinya. "Orang cuma bilang lucu doang..."

Lalu Junmyeon menyentil balik dahi Minseok dan dia mengerang kesakitan.

"Ih, kenapa??"

"Bales, wle!" ucap Junmyeon menjulurkan lidahnya.

 

Suara ocehan mereka berdua terdengar hingga telinga Sehun. Dari kejauhan dia mengangkat tangannya, "Bang? Ini udah?"

Keduanya yang sama-sama sudah mengacungkan tinju kecilnya, menengok ke arah suara. Lalu tersadar mereka tidak hanya berdua saja di ruangan itu. Keduanya lalu menghampiri Sehun yang sudah selesai mengisi form.

"Maaf ya, kita kalau bercanda emang begitu." ucap Junmyeon sambil duduk berhadapan dengan kandidat.

Minseok mengambil kertas dan duduk di samping Junmyeon. Setelah itu dia membacakannya dengan lantang.

"Nama, Oh Sehun. Lahir tanggal 12 April 1994. Berat badan 70 kg, tinggi badan 183 cm, hobi berenang..." ucap Minseok sambil mengangguk.

"Oh, pantas tinggi." kata Junmyeon pelan.

"...dan dalam kondisi sehat. Bagus!" seru Minseok sambil meletakkan kertasnya di meja.

Sehun tersenyum saat akhirnya kondisi badannya dinyatakan bagus.

"Apa kamu ada kegiatan seksual?" tanya Junmyeon penasaran.

Minseok lalu menginjak kaki Junmyeon di sampingnya. Junmyeon meringis sambil menengok pelan ke arah Minseok, "Maksudnya.... ini 'kan salah satu screening kesehatan juga."

Ya, biar tau juga dia udah punya pacar apa belum, hehe.

"Oh iya, nggak kok bang. Saya belum punya pacar."

Minseok kini turun tangan menjelaskan. "Ah begitu. Soalnya begini, proyek kita nanti itu, salah satu dari kita bakal ikutin kamu terus untuk memantau progres dari pil yang lagi kita kembangin ini." Dia lalu mengeluarkan botol bening berisi beberapa pil dalam berbagai warna.

"Kita berdua udah uji coba ke tikus lab dan kita mau tahu juga kira-kira kalau diaplikasikan ke manusia, bakal dapat efek yang sama atau berbeda."

Sehun mendengarkan dengan seksama, sesekali dia mengangguk mendengarkan penjelasan dari keduanya.

"Tapi nggak usah kuatir, ini aman kok, food grade." ucap Junmyeon menambahkan.

Minseok lalu menjelaskan lagi, 

"Kita ada tiga pil, nanti kamu minum satu sebelum tidur. Dan kamu akan ngerasain efeknya besok paginya. Nanti Junmyeon yang akan catet perkembangan kamu seharian itu. Gejala yang dirasakan apa, perasaan hari itu apa..."

Junmyeon lalu memalingkan wajahnya ke rekan sebelahnya, "Bentar, gue??"

"Iya dong, gue yang ngerjain laporan, masa gue gue juga yang ambil data di lapangan? Lu ngapain?"

"Ta-tapi.." Junmyeon mulai panik dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Hadeh, gue udah ngerjain semua data, nyusun formula, sementara lu dateng aja telat, chat juga slow respon. Pokoknya lu udah nggak bisa milih, fiks ambil data di lapangan."

Junmyeon menghela napas dengan berat. Minseok benar.

Akhir-akhir ini tugas teater nya menyita banyak waktu, sehingga dia tidak fokus ke tugas lab bersama Minseok. Terkadang dia minta ijin ke Kyungsoo di aula untuk pulang duluan menuju lab, di lain hari dia minta ijin Minseok untuk datang terlambat dari ruang teater. Malah terkadang Junmyeon bolos juga untuk kedua nya karena dia ketiduran saat tubuhnya terlalu lelah. 

Jadi Junmyeon hanya bisa menerima nasib kalau dia yang akan ditugaskan untuk memonitor perkembangan dari tugas labnya kali ini.

"Iya deh iya... Uh, Sehun tinggal sendiri atau sama orang tua?" Junmyeon kini menghadap Sehun lagi yang masih memperhatikan.

"Sendiri, ngekos."

Semesta seakan berpihak pada Junmyeon. Membayangkan satu ruangan berdua dengan Sehun membuat dadanya berdegup kencang. 

"Jadi nanti saya numpang tidur disana selama tujuh hari ya. Deal?" Junmyeon menjulurkan tangannya. 

Sehun menyambut baik dan menyalami tangan Junmyeon dan Minseok. 

"Deal."

Ketiganya lalu berpamitan dan Sehun pulang dengan saldo yang bertambah satu juta setengah di rekeningnya. 

 

---🧸🐣

 

"Jadi tuh lu ngajuin tiga juta?" tanya Jongin, tangannya tidak berhenti menekan-nekan handphone nya dalam posisi landscape. Sudah kebiasaan lama untuk mereka berdua; sabtu malam minggu, tanpa pacar dalam pandangan, mabar sampai pagi.

"Jadi dong, mantep kan?"

Jongin geleng-geleng, "Gue masih nggak paham sama elu, kenapa mau-maunya."

"Tiga juta seminggu, Jongin, siapa yang nggak mau?"

"Cakep nggak? Jangan-jangan karena mereka cakep makanya lu mau. Eh eh eh!" tatapan matanya masih terpaku di layar handphone nya yang terang dan berkelap-kelip. 

Sehun malah belum mulai masuk ke aplikasi game di handphone nya. Matanya masih menatap chat terakhir dengan salah satu ilmuwan yang menarik hatinya. 

"Cakep gimana?"

"Ya 'kan mereka mahasiswa semester akhir, pasti pada pakai jas lab gitu gitu ya. Keren sih."

Sehun kini memutar-mutar handphone nya, mengingat-ingat bagaimana Junmyeon dengan canggung nya mengambil foto, bagaimana wajahnya mengernyit saat ditugaskan untuk memonitor Sehun tujuh hari ke depan nanti. Secara tidak sadar dia tersenyum. 

Jongin yang melirik ke arah teman baiknya lalu mencibir lagi, "Wah, beneran ada yang cakep berarti."

 

---🐈🐣

[untuk: bang minseok #2]

 

*pesan dihapus*

Maaf bang minseok salah kirim

Ok! 

 

 

---🐇🐣

[untuk: bang jun #1]

Bang jun

Mau konfirmasi lagi nih

Jadi nanti abang bakal sama saya terus 24/7 gitu ya?

 

nggak 24/7 banget sih

kan kita juga ada kuliah

bukannya udah jelas ya tadi?

Oke sip

Cuma butuh alasan aja biar bisa chat abang

;) 

 

Junmyeon menutup kolom chatnya dengan Sehun.

Ah elah...

Sabar Jun, cuma tujuh hari aja. Jangan kebawa perasaan, inget ini cuma tugas dan dia cuma tikus percobaan, jangan sampai batal, batinnya pada diri sendiri. 

 

 

 

 

---bersambung. 

 

 

Notes:

pengen recreate fic lama pake member EXO :3