Actions

Work Header

penyetan di deket kampus

Summary:

kalau kamu jalan sekitar 450 meter dari gerbang depan kampus, kamu bisa ketemu george dan max lagi makan ayam penyet.

Notes:

part of my short AU on twt @georgiengitis but it can be read separately!

Work Text:


kalau jalan sekitar 450 meter dari kampus, kamu bisa ketemu sama dua anak adam yang lagi makan siang di warung penyetan di antara jeda-jeda kelas. ayam penyet di warung itu murah, cuman lima belas ribu udah lengkap sama nasi, tahu, tempe, kol goreng, dan lalapan. es teh tawar nya juga gratis, tapi kalau es teh manis jadi nggak gratis,

 

gula mahal bos , kata si mas-mas yang jual pas ditanya kenapa kalau pake es teh manis nambah.

 

ayam penyet itu jadi favorit sebagian besar mahasiswa-mahasiswi di kampus karena yaaa… in this economy , siapa sih yang nggak mau makan sampai kenyang bego cuman lima belas ribu?

 

max dan george (lebih ke george sih, sebenernya) termasuk yang suka banget sama ayam penyet itu. hampir tiap hari dia bisa makan di situ, dan max sebagai temen yang selalu nempel sama dia, mau nggak mau harus ikut makan di situ. max nggak pernah masalah sih, cuman max takut aja suatu hari mereka berdua mati konyol karena kebanyakan makan ayam penyet. tapi sejauh ini, syukurlah mereka nggak pernah ada yang tipes atau keracunan gara-gara makan di penyetan itu.

 

makan di penyetan itu udah jadi rutinitas max dan george sampai si mas-mas penyetannya udah hafal di luar kepala. tiap max dan george nampilin batang hidung mereka di warung penyetan itu, mas nya langsung sumringah dan bilang,

 

“penyet dua yang satu paha, yang satu dada yak?”

 

iya, se-setiap hari itu mereka makan di warung penyetan itu.

 

lucunya, yang pertama kali makan di penyetan murah itu justru max. max dikenalin sama penyetan murah itu dari temennya yang lain (iya, temen max bukan george doang) dan karena temennya yang lain ini juga suka banget sama penyetan itu, jadilah dia sering makan di situ juga.

 

terus ceritanya george bisa kecanduan sama penyet lima belas ribuan itu kalau max nggak salah inget, diawali karena mereka berdua satu kelompok bareng di tugas besar.

 

mereka berdua ini mahasiswa yang uang jajannya suka mepet tapi masih mau ngopi dan nugas di luar. bukan karena gengsi apa gimana, tapi kalau di kosan malah ngantuk dan kalau di kampus diusir sama satpam karena kemaleman, jadi mereka sering banget ke cafe-cafe buat nugas. tapi balik lagi, mereka mahasiswa dengan uang bulanan yang harus dijaga, jadi mereka selalu makan dulu di kampus demi menghemat pengeluaran,

 

dan karena waktu itu udah akhir bulan, jadi max ajak george dan temen-temen sekelompoknya yang lain buat makan di penyetan limabelas ribuan itu,

 

terus ya sisanya sejarah aja sih.

 

max sama george makin nempel karena kelas mereka bareng mulu, dan karena nomor induk mahasiswa mereka yang atas-bawah, mereka jadi sering satu kelompok di tugas-tugas besar.

 

tanpa max sadari, george udah masuk ke hidupnya dan jadi bagian dari hari-hari kuliahnya.

 

kelas pagi? ada george,

makan siang? di penyetan sama george,

nugas abis kuliah? sama george soalnya sekelompok,

bahkan nongkrong aja ada george karena circle pertemanan max sama george juga orangnya itu-itu lagi.

 

di tiap-tiapnya, selalu ada george dan max—

 

max bukan tipe orang yang sentimental atau melankolis, max jarang berandai-andai tentang masa depan yang belum terjadi. bukan karena max ngerasa hal itu nggak penting atau lebay atau gimana-gimana. cuman sesimpel karena max pernah kepikiran aja.

 

jadi, max nggak pernah kepikiran gimana kalau di hari-harinya yang selalu ada george, nggak lagi begitu.

 

kayak hari ini,

 

hari ini, max makan lagi di penyetan langganan mereka, sendirian. mas penyetnya udah hafal max bakal pesen apa, jadi max tinggal duduk manis dan nunggu ayam penyetnya dateng. max makan ayam penyetnya kayak biasa dan bayar pake QRIS kayak biasanya karena dia nggak pernah bawa cash selain buat parkir.

 

mas penyetan sempet nanya ke max, tumben sendirian, temennya mana a? pas max lagi nunggu pembayarannya berhasil. max cuman senyum, bilang ke mas ayam penyetnya kalau george lagi pergi aja .

 

terus kayak biasanya, max bakal jalan balik lagi ke kampus buat kelas selanjutnya. jalan balik ke kampusnya selalu sama, ada ratusan wajah yang max nggak kenal lalu lalang dan ada kucing-kucing di tepi jalan yang lagi berantem.

 

hari ini sama kayak biasanya, tapi max ngerasa kayak ada yang salah.

 

mungkin karena pesenan ayam penyet max salah karena mas penyetnya udah terbiasa bikin dua, yang satu paha dan yang satu dada , tapi karena hari ini dia cuman sendirian dan pesen satu aja, mas penyetnya jadi ketuker.

 

max selalu lebih suka ayam bagian paha dan ketika ayam penyetnya dateng dan malah bagian dada. hal itu buat max sadar kalau ayam penyet deket kampus mereka ternyata nggak seenak itu selain harganya yang murahnya nggak masuk akal. max nggak terlalu suka ayamnya yang digoreng terlalu kering dan sambelnya yang terlalu pedes buat selera max. max juga nggak terlalu suka rasa berminyak dari kol gorengnya dan es teh tawarnya yang sebagian besar air.

 

hari ini, max jadi sadar kalau dia lebih suka orang yang selalu ngajak dia makan penyetan deket kampus daripada ayam penyetnya itu sendiri.