Work Text:
Tenang sekali wajahnya.
Caleb menopang dagu, memandang guru di depan yang tengah menjelaskan materi biologi hari ini.
Pak Zayne, guru biologi dan wali kelas Caleb.
Juga orang yang baru saja Caleb ngentot sebelum bel masuk berbunyi.
“Hmmm."
Caleb merubah posisi topangan dagunya, masih menatap intens sang wali kelas. Wajah Pak Zayne sama seperti biasa—tanpa ekspresi. Datar saja, seolah bokongnya tidak digenjot kasar setengah jam yang lalu.
Padahal, siang ini Caleb sengaja tak memakai kondom, membiarkan pejunya berenang di dalam perut Pak Zayne. Dan, saat ia menyemburkan pejunya, bel masuk langsung berbunyi. Tentunya, Pak Zayne tak sempat membersihkan seluruh peju yang telah Caleb muncratkan.
Alias masih ada sisa-sisa air mani Caleb di dalam bool Pak Zayne sekarang—yang sedang mengajar di depan kelas.
Hot sekali.
Perut Caleb melilit geli, merasa bangga karena tak ada satu pun siswa yang tahu bahwa Pak Zayne saat ini tengah mengandung pejunya di dalam perut.
Pak Zayne menulis sesuatu di papan tulis—dan Caleb melihatnya, gerakan bokong yang menyempitkan diri.
Caleb tersenyum—bokong Pak Zayne sedang menahan pejunya agar tak keluar di depan kelas.
Ah.
Andaikan saja Caleb bisa mengentot Pak Zayne lagi sekarang, menahan tubuh seksi itu di atas podium; menarik kemejanya sampai kancing-kancing itu terputus, memamerkan tetek besarnya yang baru saja ia remas-remas hingga kemerahan tadi; kemudian Caleb menggenjot bool yang sudah bengkak itu lagi dengan kontol gedenya; menghentak sadis hingga kontol itu menyentuh usus sang guru, membuat wajah Pak Zayne kacau, penuh air mata; kemudian, Caleb akan menyemburkan pejunya berkali-kali hingga perut sang guru membuncit, seolah Pak Zayne tengah mengandung anaknya.
Caleb memejamkan mata.
Sial.
Selangkangannya sesak lagi.
Pak Zayne selalu bisa membuat kontolnya menegang terus.
Caleb berharap bel pulang segera berbunyi agar ia bisa mengentot guru kesayangannya lagi—lagi, dan lagi, hingga imajinasi itu terwujudkan.
