Actions

Work Header

om, jangan om, jangan ragu

Summary:

“Kenapa nangis?” tanya Dottore yang kembali mendudukkan Alhaitham di pangkuannya.

“Hayi ga mau jadi mami..”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Om Dotto,” Alhaitham memanggil laki-laki yang sedang membaca koran tidak jauh darinya, matanya masih tertuju pada televisi yang menyiarkan kartun yang selalu ia tonton setiap kali ke rumah lelaki yang ia panggil Om Dotto itu.

Dottore melirik, melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya, melipat koran yang sedari tadi ia baca dan meletakkannya di lantai, di sampingnya, “kenapa? Udah laper?” tanya Dottore pada keponakannya itu.

Alhaitham menggeleng, “belum, .. om Dotto pernah suka sama seseorang nggak?” 

“Hm.. Kenapa emangnya? Ada yang kamu suka di sekolah?” 

Alhaitham terdiam sesaat sebelum membalikkan tubuhnya untuk menghadap Dottore, “iya, di sekolah ada yang namanya Kaveh, dia baik sama Hayi, sering ajak main Hayi, terus dia bilang kalau Hayi pinter”

Naif. Itu yang Dottore pikirkan, keponakannya bisa dibilang sudah bukan anak kecil lagi, tetapi kepolosannya tidak beda jauh dengan anak SD, suka karena sering di ajak main dan dipuji pintar terdengar begitu lugu di telinga Dottore.

“Om juga sering ajak main kamu, berarti kamu suka sama om juga?” tanya Dottore bercanda, namun Alhaitham terlihat mengangguk menjawab pertanyaan itu, membuat Dottore terkekeh.

“Yang namanya Kaveh ini suka sama kamu juga nggak?” tanya Dottore lagi.

“Hayi ga tau, temennya Kaveh ada banyak, jadi Hayi ga tau siapa yang paling Kaveh suka, kalau om Dotto gimana?”

Dottore tersenyum miring mendengarnya, “gimana apanya? Kalau om sih juga suka sama kamu” 

Alhaitham mengerutkan dahi nya mendengar ucapan Dottore barusan, “ih, bukan itu, om pernah suka sama orang juga ga? Terus gimana caranya biar orang itu suka sama om?” 

Dottore terlihat berpikir sejenak sambil memperhatikan Alhaitham di hadapannya, matanya kemudian jatuh pada bibir merah muda yang sedikit kering itu, “caranya pakai ciuman”.

“Ciuman?”

“Iya, kamu mau om ajarin? Pernah liat orang ciuman nggak?” 

“Mau, tapi Hayi udah bisa ciuman, kan dulu sering cium pipi mami sebelum tidur”

“Ciuman yang om maksud bukan cium pipi, duduk sini biar om ajarin,” Dottore menepuk pahanya, mengisyaratkan Alhaitham untuk duduk di pangkuannya, “ciuman itu kaya gini,” jari Dottore mengangkat dagu Alhaitham, bibirnya menyentuh bibir keponakannya itu, matanya memperhatikan setiap reaksi yang Alhaitham tunjukkan.

Melihat Alhaitham yang tidak menunjukkan penolakan, Dottore mulai melumat bibir itu dengan lembut, tangannya yang sedari tadi berada di punggung kecil itu mendorongnya untuk menghapus jarak mereka, memastikan Alhaitham dapat merasakan suhu tubuh Dottore yang mulai terasa panas.

Suara kecapan terdengar nyaring di telinga satu sama lain, tangan Dottore yang berada di dagu mulai naik mengusap pipi Alhaitham, ibu jarinya perlahan menyentuh ujung bibir itu untuk memaksanya membuka, membiarkan lidah Dottore masuk untuk mengajarkan cara ciuman yang lebih panas lagi.

Ciuman berantakan membuat saliva mulai mengalir hingga ke dagu, mata hijau itu mulai terlihat sayu, entah merasa mulai nikmat atau mengantuk, jadi Dottore menyudahi sesi mengajarnya, meninggalkan Alhaitham dengan wajah merah dan mulut yang masih terbuka.

Dottore mengusap jejak saliva yang entah milik siapa, “gimana ciuman pertama kamu?” 

“Mm.. Hayi suka pas om Dotto jilat lidah Hayi, jantung Hayi berdebar-debar, kalau Hayi cium Kaveh kaya tadi, Kaveh bakal suka sama Hayi?” 

Mata Dottore turun menuju dada rata Alhaitham yang masih tertutup dengan seragam sekolah, tangannya tanpa ragu di letakkan di atas dada itu merasakan detak jantung Alhaitham yang masih tidak beraturan, selain itu ia juga dapat merasakan tonjolan kecil di telapak tangannya.

“Tentu, Kaveh pasti suka, tapi kamu harus bilang dulu kalau kamu suka sama dia, baru boleh ciuman,” dengan sengaja ia mengusapkan telapak tangannya, menggoda puting kecil yang semakin lama terasa semakin keras, “kamu juga ga boleh bilang kalau om yang ngajarin kamu ciuman, ini rahasia kita berdua aja” membuat Alhaitham mengangguk mengerti.

“Sekarang om lagi ngapain?” kepalanya menunduk, penasaran dengan apa yang dilakukan tangan Dottore saat ini.

“Oh, om cuma mau rasain detak jantung kamu doang kok, tapi kaya ada sesuatu disini,” kali ini Dottore menyentuh puting kecil itu dengan ujung telunjuknya, dengan berani menusuk untuk menggoda, “puting kamu jadi keras kaya gini, coba buka baju kamu, biar om bisa cek” 

Alhaitham membuka seragam sekolahnya tanpa rasa curiga sedikit pun, kancing demi kancing ia lepaskan, memperlihatkan tubuhnya dan juga putingnya yang mencuat menegang.

“Ada yang salah sama Hayi ya om?” tanya Alhaitham sedikit khawatir.

“Nggak kok, tapi puting kamu rasanya beda,” Dottore menyentil puting itu, membuat Alhaitham melenguh kaget, “eh, sakit ya?” 

“Sedikit..”

“Maaf ya, om bakal obatin sekarang biar ga sakit lagi,” Dottore sedikit mengangkat tubuh Alhaitham agar sejajar dengan puting yang sedang ‘kesakitan’, mendekatkan bibirnya dan mulai menghisap disana.

Alhaitham merasa aneh, tapi tidak mempertanyakan, sedangkan Dottore benar-benar menikmati setiap detik yang berlalu, penisnya mulai berkedut di dalam celana mendengar lenguhan lain yang keluar dari mulut Alhaitham saat dirinya menggigit kecil puting itu.

“Mm, kayanya bakal keluar susu dari sini,” ucap Dottore asal untuk mengerjai Alhaitham.

“Nghh.. Nggak, nggak bisa, Hayi ga bisa keluarin susu”

“Mhmm, bisa, dikit lagi susunya keluar ini” 

Alhaitham menggelengkan kepalanya, “ngg, Hayi ga mau punya bayi, ahh” 

Dottore terkekeh mendengar ucapan Alhaitham, jalan pikirannya benar-benar diluar nalar, ya walaupun tidak salah, namun sudah jelas Alhaitham tidak akan dapat mengeluarkan susu dari putingnya, dari pada puting, Alhaitham sepertinya lebih berbakat mengeluarkan susu dari penis Dottore.

Dottore dapat merasakan kepalanya yang di peluk erat, mungkin Alhaitham merasa ketakutan, membuatnya semakin menggemaskan saja, atau mungkin Alhaitham merasa nikmat dengan hisapan serta jilatan yang di berikan, lagipula Dottore dapat merasakan penis kecil yang sedari tadi bergesekkan dengan perutnya.

Puas mengerjai Alhaitham, Dottore akhirnya melepaskan hisapan nya, meninggalkan puting Alhaitham yang terlihat kemerahan dan sedikit bengkak itu, memperhatikan hasil karyanya untuk sesaat, sebelum dirinya mendongak melihat Alhaitham dengan wajah merah padam dan mata yang sedikit berair.

“Kenapa nangis?” tanya Dottore yang kembali mendudukkan Alhaitham di pangkuannya.

“Hayi ga mau jadi mami..” 

Dottore membawa tangan ke mulutnya, berusaha menahan tawa dan menutupi senyuman mesum di wajahnya, akhirnya ia menghela nafasnya, “nggak kok, nggak ada susu yang keluar kan? Tadi om yang salah kira” tangan Dottore mengusap kepala Alhaitham sayang untuk menenangkannya.

“Sekarang giliran om nih yang kesakitan,” iya, Dottore kesakitan, rasanya sakit saat penisnya terasa sesak di dalam celana yang ia kenakan.

“Om emangnya sakit dimana? Disini juga?” tanya Alhaitham menunjuk dada Dottore, kali ini dirinya tidak dapat menyembunyikan tawanya, “haha, bukan, bukan di situ,” Dottore mengambil tangan Alhaitham dan membawanya ke atas gundukan yang berada di antara kakinya, membuat tangan itu untuk meremasnya sedikit.

“Ahhh.. Kamu mau bantu om kan biar ga sakit lagi?” Alhaitham mengangguk untuk kesekian kalinya pada pertanyaan konyol Dottore.

Dottore langsung bergerak cepat sebelum keponakannya berubah pikiran, ia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang dari celana, kedutannya seakan menantang untuk cepat di puaskan, cairan bening dapat terlihat juga di ujungnya.

Dottore kembali meletakkan tangan Alhaitham disana, “kamu coba naik turunin tangan kamu kaya gini, pelan-pelan aja,” setelah mengarahkan apa yang harus Alhaitham lakukan, Dottore mulai merilekskan tubuhnya, matanya tentu tidak lepas dari Alhaitham dan gerakan tangannya yang sedikit canggung, namun rasanya tetap saja nikmat.

Dottore berusaha menahan klimaksnya dan tanpa sadar mengeluarkan desahan yang membuat Alhaitham agak panik, “sa-sakit ya om?” Dottore tersenyum melihat keponakannya yang perhatian itu.

“Iya, sakit, kayanya kita harus pakai cara lain, coba kamu berbaring, lepas celana kamu juga, kemeja nya biarin aja, om mau pinjem paha kamu” sekali lagi Alhaitham menurut, kedua kakinya diangkat, dirapatkan, kemudian Dottore menjepitkan penisnya yang licin di antara dua paha hangat.

Dottore mulai menggerakkan pinggulnya, memastikan penisnya menabrak penis kecil Alhaitham yang masih tertutupi celana dalam berwarna putih, kedua tangannya memeluk kaki Alhaitham agar tetap rapat, pemandangannya saat ini benar-benar membuatnya gila, dibawahnya terbaring Alhaitham yang setengah telanjang bersemu, tidak tau apa yang sedang di lakukan kepadanya, tubuhnya terlihat sangat menggoda dengan puting yang masih membengkak bekas di hisap sebelumnya, dan kemeja sekolah yang masih ia kenakan itu menambah gairah, mengingatkan Dottore pada fantasi-fantasinya yang terlarang.

“Uhhh.. Om, punya Hayi jangan ditusuk-tusuk terus”

Dottore memperlambat gerakannya saat menyadari penis Alhaitham juga sudah bereaksi, matanya kembali tertuju pada puting Alhaitham dan melepaskan penisnya dari perangkap paha hangat itu.

“Punya kamu keliatannya juga perlu di obatin, om buka celana dalam kamu ya,” tanpa menunggu jawaban, Dottore langsung menarik celana dalam putih Alhaitham, memperlihat kemaluan yang masih bersih polos tanpa satupun bulu disana, sangat berbeda dengan miliknya yang lebih besar dan berurat.

Tangan Dottore langsung memegang penis Alhaitham dan mengurutnya, “kayanya titit kamu juga sakit, om bakal obatin titit kamu dulu,” Alhaitham tidak mengerti, namun rasanya aneh, kakinya secara tidak sadar terbuka lebih lebar, memberikan akses lebih untuk Dottore melihat apa yang sedari tadi tersembunyi di balik sana, lubang anus yang belum pernah tersentuh sebelumnya baru saja mengedip, seakan mengundang Dottore untuk memainkannya juga.

“Uhhh ahhh om.. Hayi rasanya mau pipis ahh, mau ke toilet om,” mendengar itu, Dottore menghentikan gerakan tangannya dengan sengaja, “itu berarti kamu udah mau sembuh, jangan di tahan, sekarang om bakal sembuhin kamu pakai cara lain” Dottore menarik pinggul Alhaitham hingga terangkat, dengan lihai lidahnya mulai menggoda lubang anus yang sempit itu, membuat Alhaitham tentunya kaget dan berusaha mendorong kepala Dottore menjauh.

“Om, jangan om, ahh kotor! Itu kan buat pup hahh,” Dottore tidak menghiraukan kata-kata itu, lidahnya sudah masuk, memastikan di dalamnya basah dengan saliva, tangannya juga kembali memanjakan penis Alhaitham dengan perlahan, sembari memastikan untuk tidak membuat Alhaitham klimaks.

Merasa lubang itu sudah cukup basah, sekarang giliran jari Dottore yang masuk ke dalam lubang anus itu, jarinya ia dorong masuk dengan perlahan, namun tetap saja salivanya tidak membuat proses penetrasi itu menjadi lebih mudah dan malah membuat Alhaitham meringis, “ahhh om! Sakit om! Nggh”

Sudah tidak tahan lagi mendengar desahan yang keluar dari mulut keponakannya itu, Dottore mengangkat tubuh Alhaitham dan menggendongnya menuju ruang tidurnya, cepat-cepat ia mengambil pelumas dan menuangkannya tepat di lubang anus, kemudian jarinya langsung mendorong masuk cairan licin itu, tanpa membuang banyak waktu, jari lainnya ikut masuk membuat gerakan menggunting, mempersiapkan lubang sempit itu untuk dirinya.

“Ah! Ommm ahhh!” tubuh Alhaitham dapat terlihat menegang saat jari Dottore menekan-nekan rektumnya, kakinya berusaha ia rapatkan, namun Dottore langsung menahannya, “shhh.. Gapapa kok, ga sakit kan?” 

Tubuh Alhaitham terus menegang, sensasi aneh barusan terus ia rasakan, jari Dottore tidak berhenti sama sekali menekan di dalam sana walaupun Alhaitham sudah susah payah meraih tangannya, rasanya seperti ada yang mau keluar, namun Alhaitham tidak yakin apakah itu pipis atau bukan, karena rasanya sangat berbeda.

“Ahnnn!! Om, Hayi mau pipishh ahhh ahhh!! Ngahh!!♡” cairan putih dengan cepat mengotori dada Alhaitham, tangannya terlihat meremas kemeja sekolahnya, matanya juga terpejam erat, perlahan tubuhnya mulai kembali rileks, dan Dottore menarik kedua jarinya.

Dottore kini mulai menurunkan celananya hingga ke paha, perlahan ia menciumi perut Alhaitham yang ikut ternodai oleh cairan putih yang masih menetes, “hahhh omhh Hayi minta maaf, Hayi pipis di kasur om hahh..” 

“Shh.. Gapapa, bentar lagi om bakal kasih kamu obat disini” dengan sensual lidahnya menyusuri bagian perut Alhaitham yang berada di bawah pusar, kemudian lidahnya naik mengikuti aliran air mani itu, perlahan tangannya mulai mengurut penisnya sendiri tepat di depan lubang anal yang masih saja berkedut, sesekali tak sengaja ujungnya menyentuh lubang hangat itu.

“Kita sambil latihan ciuman lagi ya? Sekarang kamu coba tunjukin, apa aja yang udah om ajarin tadi” Dottore menatap mata Alhaitham, menunggu keponakannya itu untuk mengambil wajahnya untuk mendekat dan mulai menciumnya, lidahnya juga mengikuti gerakan Dottore sebelumnya, sedangkan Dottore menggunakan kesempatan ini untuk memasukkan penisnya dengan perlahan kedalam lubang Alhaitham.

Alhaitham yang tadinya memejamkan mata, langsung membukanya kaget saat sesuatu yang besar memaksa masuk di bawah sana, namun Dottore memperdalam ciuman mereka dan membebankan tubuhnya diatas tubuh Alhaitham yang lebih kecil, ujung penisnya terdiam sesaat sebelum akhirnya melesak masuk dalam sekali hentakan.

Dottore berusaha mengalihkan fokus Alhaitham, jarinya bermain di puting kecil yang masih menegang dan tangan lainnya mengusap-usap tubuh Alhaitham dengan perlahan selagi membiarkan Alhaitham menyesuaikan diri dengan ukuran penis yang sekarang berada di dalam dirinya.

Entah sudah berapa menit lamanya mereka berciuman, Dottore akhirnya mulai menggerakan pinggulnya perlahan, bergerak di titik yang sama untuk memberikan stimulasi di dalam sana.

“Aghh.. Sempit, enak banget di dalem kamu Tham, anget, om yakin si Kaveh juga bakal suka,” Dottore melepaskan ciumannya dan mulai fokus pada gerakan pinggulnya yang semakin lama semakin cepat, “hahh kerasa ga? Titit om lagi cium kamu juga disini”

Alhaitham terlihat memutar matanya merasakan bagian terdalamnya disentuh, apalagi saat jari Dottore menekan-nekan perutnya, “ahnnn ahhh omhh aneh ahhh rasanyah aneh om ahhh Hayi mau pipish lagihhh ahhh ahhh!!♡” cairan putih kembali keluar dari penis Alhaitham, namun hal itu tidak membuat Dottore berhenti.

“Mmhh.. Gimana? Enak ga di cium titit om? Nanti kamu kalau udah pacaran sama Kaveh, minta di cium juga disini,” Dottore memutar pinggulnya, memastikan Alhaitham mengingat bentuknya dan sedalam apa penis itu di dalam tubuhnya.

“Ahhh enakhh om, lagihh, Hayi mau dicium lagih ahhh” Dottore menyeringai mendengar ucapan Alhaitham, ini benar-benar seperti di dalam mimpi terliarnya, ia tidak menyangka bahwa Alhaitham sebertalenta ini.

“Ahhh pinter banget ya kamu godain om, hahh nih om cium lagi lebih dalem!” Dottore menghentakan pinggulnya lagi dan lagi, posisinya sudah seperti anjing di musim kawin, “hahh.. Sekarang waktunya kamu minum obat, om bakal keluarin semuanya sampai kamu hamil ahhh..” 

Alhaitham terkejut mendengar kata ‘hamil’ keluar dari mulut Dottore, “hnggh omhh Hayi ga mauhh ahhh” 

“Shhh, ini bagian dari latihan juga, Kaveh pasti suka kalau kamu mau di hamilin dia, ahhh ayo coba, bilang ke om kalau kamu mau di hamilin,”

Alhaitham terlihat ragu, namun dengan polosnya masih saja menurut, “ahhh omm, Hayi mauh dihamilin om Dotohhh ahhhnn, Hayi mauhh hahhh omhhh ommm!! Ahhh!!♡ Ahhh!!♡” tidak kuat mendengar desahan dan kata-kata mesum dari mulut Alhaitham, Dottore akhirnya menyemburkan semua air maninya di dalam, rasa nikmat membuatnya mengerang, pahanya bahkan ikut bergetar karena ejakulasinya.

-

“Om, hari ini Hayi mau latihan lagi”

Tamat.

Notes:

nulis judulnya yang paling bikin ketawa sih, semua ini terinspirasi dari satu komentar di tiktok dari video yang saya bahkan udah ga inget, saya ketawa banget baca komentar itu, abis itu langsung terinspirasi (╥﹏╥)

akhirnya ini cerita pertama saya yang fokusnya dottotham aja, still manage to insert kave's name tho huehuehue see you in hell sweetie! (˵ ¬ᴗ¬˵)