Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-11-03
Updated:
2026-05-03
Words:
3,625
Chapters:
3/?
Comments:
3
Kudos:
34
Bookmarks:
2
Hits:
532

the fifth season

Summary:

Sungchan terdiam, mulutnya tiba-tiba terasa kering. "Memang kamu sudah jatuh cinta dengan Park Wonbin?" tanyanya lagi sembari menginjak pedal rem dengan perlahan, lampu merah ada di hadapan mereka.

Eunseok membuka matanya. "Sekarang belum. Nggak tahu nanti."

Lirih suara Eunseok menjadi penutup perjalanan pulang mereka yang hening. Dalam diam Sungchan memikirkan bagaimana semburat merah jambu pada pipi Wonbin ketika mereka berbincang.

-

atau wonbin adalah tunangan eunseok, tapi eunseok meminta tolong kepada sungchan, 'bagaimana kalau kamu menjaga wonbin?'

Notes:

tuhan berikanlah aku kekuatan untuk menyelesaikan cerita ini

Chapter 1: prologue

Chapter Text

Menurut Sungchan, keluarga Park punya rumah yang tidak terlalu besar, tetapi megah. Mereka punya kebun kebun bunga yang tertata rapi, dengan gazebo dan kolam ikan. Bangunannya mungkin sudah ada hampir setengah abad lalu, tetap berdiri tegap dengan renovasi di sana dan sini mengikuti zaman. Tidak jauh berbeda dengan rumah keluarga Song tempatnya tumbuh dewasa. Hanya saja, keluarga Song tidak begitu senang dengan kolam ikan di belakang rumah, mereka lebih senang dengan air mancur besar, diletakkan di halaman depan, sengaja dipamerkan agar orang-orang yang berkunjung bisa melihat seperti apa kekayaan konglomerat yang tidak kunjung habis.

 

Jika ia boleh membandingkan, lima puluh tahun bukan waktu yang lama. Oleh karena itu, ketika Eunseok menariknya untuk ikut duduk di kursi penumpang, menyuruh mengikutinya dari belakang untuk bertemu dengan si bungsu dari keluarga Park, ia hanya maklum dan langsung mengerti kemana arah tuannya ini membawa. Sungchan tahu keluarga Park merasa harus mengembangkan lagi kekayaan mereka yang baru sebentar ini.

 

"Namanya siapa tadi?"

 

Setelah makan malam singkat antara dua keluarga, Eunseok kabur dari ibunya sendiri dan mengajak Sungchan bergeser pada sebuah bar di tengah kota sambil melonggarkan jas dan dasi mereka. Sungchan memesan dua gelas martini, satu untuknya dan untuk si tuan muda Song. Ia dengarkan baik-baik pertanyaan pertama Eunseok, sebelum menjawab, "Wonbin. Namanya Park Wonbin…"

 

"Oh…"

 

"Kenapa? Tertarik untuk segera menikah?"

 

"Nggak tahu."

 

"Itu namanya belum tahu, Song Eunseok." Ia mengoreksi. Sungchan menyenggol bahu si tuan muda, menyesap minumannya sedikit kemudian. "Dia terlihat baik, sopan…" ujarnya lagi. "Tidak mau coba sesekali menuruti pilihan Nyonya?"

 

Eunseok mengangkat bahu, kemudian tertawa pelan. "Jangan dipikirkan sekarang."

 

⋆✴︎˚。⋆

 

Mereka tidak mabuk malam itu, sehingga Sungchan ingat betul dengan jawaban Eunseok yang mengsyaratkan bahwa pemuda itu masih belum punya opini apa pun tentang Park Wonbin. Oleh karenanya, ketika ia membantu Eunseok mengemas barang-barang yang akan dibawanya ke luar negeri, Sungchan terheran-heran dengan yang dilontarkan Eunseok pada hari itu.

 

"Kamu mau temani Wonbin?"

 

"Sorry, bagaimana?" Sungchan yang sedang menjejalkan pakaian hangat pada koper Eunseok langsung menghentikan usahanya, berganti untuk menatap si tuan muda dengan raut wajah keheranan. Cincin pertunangan belum ditukar, dan Eunseok punya dua minggu untuk memikirkannya lagi sampai ia memberi jawaban setelah kepulangannya dari Finlandia.

 

"Temani Wonbin selama dua minggu aku pergi." Eunseok yang sedang mengemas kabel dan barang elektronik, tidak bereaksi banyak. "Tidak harus seperti kamu yang mengikutiku kemana-mana, tapi temani Wonbin saja kalau kamu sempat." Ia berdiri dari duduk, memandang jendela besar kamarnya yang langsung menghadap taman. "Aku cuma dengar dia jarang keluar rumah karena terbiasa dipingit, dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah setelah lulus dari asrama." Eunseok berbalik menghadapnya, dan sungguh, Sungchan tidak menyangka Eunseok akan ingat fakta sederhana tentang Park Wonbin.

 

"Oh… kamu mau aku membawakannya hadiah dan menemaninya minum teh atau makan siang?"

 

"Semacam itu."

 

"Mudah saja."

 

Ia kembali mengemas pakaian hangat untuk Song Eunseok, sambil memikirkan hadiah apa yang akan dia bawakan atas nama Eunseok untuk Wonbin.

 

⋆✴︎˚。⋆

 

Sungchan datang membawa pai persik, dibuat langsung oleh pâtissier keluarga Song setelah ia mengingat lagi jamuan yang dihidangkan saat ia masih remaja dan jadi favorit Song Eunseok. Ia menyetir sendiri mobil keluarga Song dan tersenyum kepada orang-orang yang pernah dijumpainya sesampainya dia di rumah keluarga Park. Si tukang kebun, pelayan yang membawakan pencuci mulut, maupun pelayan yang sedang mengelap porselen di ruang tengah. Seorang pelayan yang lain mengantarnya langsung menghampiri Park Wonbin yang sedang menghadap taman, membaca buku.

 

"Selamat siang." Sungchan menyapa, membungkuk sopan, kemudian mengangkat pai persik yang dibawanya dalam kantung kertas. "Saya membawa oleh-oleh."

 

Wonbin balas tersenyum, "Oh, kamu yang ikut makan malam tempo hari?"

 

"Ya, saya dengan Jung Sungchan."

 

Wonbin mengisyaratkan agar pelayan menghidangkan oleh-oleh Jung Sungchan bersamaan dengan teh dan kopi (pilihan Sungchan), kemudian mereka duduk berhadapan. Sungchan agak terkejut dengan bagaimana Wonbin menyambutnya tanpa ragu. Namun, bersamaan dengan teh dan pai terhidang, Sungchan mengerti mengapa Wonbin menyambutnya.

 

"Kamu orang terdekat Eunseok, kan?" Park Wonbin bertanya tanpa ragu sambil menyesap tehnya. Ada senyum yang terpulas di sana, manis, sopan, penuh dengan kehati-hatian, seolah ada dinding diantara mereka berdua walau tidak mengganggu. Sungchan mengerti mengapa nyonya Song terpikirkan untuk menjodohkan anak semata wayangnya dengan bungsu keluarga Park. Kekayaan lima puluh tahun tidak berarti apa-apa jika Park Wonbin lah yang merepresentasikanya.

 

"Asisten pribadinya…" Ia mengoreksi, tidak perlu Sungchan ceritakan bagaimana mereka tumbuh besar bersama meski ia bukanlah anak majikan, sampai akhirnya ia menjadi Jung Sungchan si tangan kanan. "Atau pelayan pribadinya, semacam itu."

 

Wonbin mengerutkan dahi, agaknya kurang senang dengan apa yang dikatakan Sungchan. "Tapi kalian seperti sahabat, bahakan saudara?" Tehnya diletakkan kembali, Wonbin menyendok pai persik yang dibawa Sungchan, mencicipnya tanpa tergesa. Ada senyum dan garis wajah yang tergambar, mudah ditebak. "Enak…"

 

"Ya, mungkin kami tumbuh besar bersama." Sungchan ikut menyendok pai yang ia bawa, manis dan asamnya bercampur, rasa yang sama persis dicicipnya sejak bertahun-tahun lalu. "Pai ini kesukaan Eunseok," katanya lagi, tidak tahu apakah ia pantas untuk menceritakan ini atau tidak, tetapi ia datang untuk sebuha misi. "Sengaja saya bawakan. Saya dengar Anda senang dengan kue-kue semacam ini."

 

"Terima kasih. Aku suka." Wonbin tersenyum lebih lebar. Ada semburat kemerahan pada pipi, bersaing dengan bunga yang mekar di taman keluarga Park. Pemuda itu menyendok lagi pai persik yang dibawa Sungchan, mengambil potongan yang lebih besar. "Boleh ceritakan lagi seperti apa Song Eunseok?"

 

Sungchan tersenyum sebelum ia membuka mulut, menceritakan seperti apa Song Eunseok ketika mereka tumbuh dewasa bersama.

 

⋆✴︎˚。⋆

 

Ia tidak ingat apa saja yang sudah diceritakannya kepada Park Wonbin. Ceritanya tidak runut, dan kadang terloncat-loncat mengikuti pembahasan mereka detik itu juga. Pada pertemuan pertama, ia bercerita tentang pai persik yang jadi kesukaan Eunseok dan harus dimakan paling tidak seminggu sekali pada hari Sabtu atau jika sempat. Pada pertemuan kedua, ia menceritakan nilai matematika Eunseok yang sempurna, maupun anjing peliharaan mereka yang sudah mulai menua. Pada pertemuan ketiga, ia bercerita bagaimana Eunseok menangisi film Before Sunrise, yang kemudian disambut dengan tawa dari Park Wonbin.

 

Eunseok pulang dua minggu kemudian, wajahnya lelah, agak mengantuk, tetapi hari itu Sungchan sengaja menyetir dan menjemputnya. Awalnya basa-basi singkat, sebelum Eunseok yang hampir tertidur itu bertanya, "Bagaimana dengan Park Wonbin?"

 

"Masih... dia anak yang baik, sopan." Sungchan menjawab dengan jujur, sejauh ini impresinya tentang Park Wonbin selalu baik. "Aku merasa Nyonya memang memilih tunangnmu dengan hati-hati." Ia berdeham sedikit, melirik Eunseok melalui spion sebelum membuka suara lagi. "Bagaimana berpikirnya? Mau melanjutkan pertunangan?"

 

"Hm… mungkin."

 

Sungchan terdiam, mulutnya tiba-tiba terasa kering. "Memang kamu sudah jatuh cinta dengan Park Wonbin?" tanyanya lagi sembari menginjak pedal rem dengan perlahan, lampu merah ada di hadapan mereka.

 

Eunseok membuka matanya. "Sekarang belum. Nggak tahu nanti."

 

Lirih suara Eunseok menjadi penutup perjalanan pulang mereka yang hening. Dalam diam Sungchan memikirkan bagaimana semburat merah jambu pada pipi Wonbin ketika mereka berbincang.

 

⋆✴︎˚。⋆