Work Text:
Matahari sore itu warnanya jingga pekat, menyinari lapangan tanah luas tempat Shinyu dan Dohoon menghabiskan hampir seluruh masa kecil mereka. Sejak masih sangat kecil, mereka tidak terpisahkan. Kalau ada Shinyu, pasti ada Dohoon. Mereka tumbuh besar dengan debu lapangan yang menempel di baju dan luka lecet di lutut akibat mengejar bola.
Namun, di antara semua jenis permainan, ada satu yang paling Shinyu kuasai. Permainan kejar-kejaran.
Shinyu memiliki sepasang kaki yang seolah memiliki sayap. Dia cepat, lincah, dan tak kenal lelah. Dan entah mengapa, dari sekian banyak anak yang berlarian di lapangan, target utamanya selalu satu, Dohoon.
Sore itu, mereka berkumpul di tengah lapangan. "Ayo suit!" seru mereka berbarengan. Tangan-tangan mungil itu bergerak membentuk gunting, batu, dan kertas. Sesuai dugaan, Shinyu kalah dalam suit dan harus menjadi si pengejar.
Begitu hitungan dimulai, semua anak berpencar. Dohoon lari sekuat tenaga ke arah pojok lapangan, berharap kali ini dia bisa sembunyi di balik tiang gawang. Tapi Shinyu seperti punya radar khusus. Dia mengabaikan teman-temannya yang lain dan langsung melesat ke arah Dohoon.
Puk!
Tangan Shinyu mendarat telak di bahu Dohoon. "Kena! Kamu jadi ya!" seru Shinyu sambil nyengir.
Permainan berlanjut. Mereka suit lagi, dan lagi-lagi Shinyu yang jadi pengejar. Dan lagi-lagi, dalam hitungan detik, Dohoon adalah orang pertama yang berhasil dia sentuh bahunya. Begitu terus sampai berkali-kali, hingga Dohoon harus berkali-kali pula menjalankan hukuman atau tantangan konyol.
Lama-lama, Dohoon habis kesabaran. Dia berhenti berlari, berdiri tegak sambil terengah-engah dengan wajah merah padam.
"Shinyu!" teriak Dohoon ngamuk. "Kamu curang ya? Kenapa dari tadi aku terus yang kamu kejar?! Itu yang lain lari pelan, kenapa kamu gak tangkap mereka sih?!"
Shinyu berhenti tepat di depan Dohoon. Dia sama sekali tidak terlihat lelah, malah wajahnya tampak sangat senang. Dia tertawa kecil melihat ekspresi kesal sahabatnya itu.
"Ya karena kamu yang paling gampang aku kejar," jawab Shinyu enteng sambil membetulkan letak rambutnya yang berantakan.
Dohoon cuma bisa mendengus kesal, meski dalam hati dia tidak benar-benar marah. Dia hanya tidak habis pikir kenapa Shinyu begitu terobsesi mengejarnya. Akhirnya, mereka kembali bermain, berlari di bawah langit yang kian menggelap.
Mereka baru berhenti saat lampu jalan mulai menyala. Dengan napas yang masih tersisa, mereka berjalan beriringan menuju arah rumah masing-masing, saling melempar tawa dan janji untuk bertemu lagi di lapangan yang sama besok sore.
Persahabatan Shinyu dan Dohoon berlanjut hingga bangku kuliah. Mereka tetap sedekat nadi. Kamar kos Shinyu sudah seperti rumah kedua bagi Dohoon. Sering kali, setelah Dohoon pulang berkumpul dengan teman-temannya yang lain, dia akan mampir ke tempat Shinyu, mengobrol sebentar, lalu berakhir tumbang dan ketiduran di kasur Shinyu karena saking nyamannya.
Namun, di balik itu semua, ada badai yang berkecamuk.
Setiap kali Dohoon tertidur di sana, Shinyu tidak pernah bisa langsung memejamkan mata. Dia akan duduk di sisi kasur, memandangi wajah tenang sahabatnya itu dalam waktu yang lama. Shinyu mulai sadar bahwa rasa sayangnya sudah melampaui batas persahabatan, dan hal itulah yang membuatnya merasa bersalah.
Namun, mencoba membuang perasaan sendiri adalah hal yang paling sulit. Momen yang paling berat adalah saat mereka pulang kuliah bersama. Saat Shinyu membonceng Dohoon, setiap kali motor berhenti atau melambat, sentuhan Dohoon di punggungnya membuat Shinyu merasa seperti ada aliran listrik yang menjalar. Dia harus mencengkeram kemudi motor lebih kuat hanya untuk tetap terlihat tenang.
Kondisi tidak menjadi lebih mudah saat mereka bermain game bersama di kamar. Dohoon sering duduk sangat dekat, berteriak heboh saat menang, dan terkadang spontan merangkul pundak Shinyu. Di saat-saat seperti itu, fokus Shinyu pada layar televisi langsung buyar. Dia hanya bisa menatap profil samping wajah Dohoon dari jarak yang sangat dekat.
Ada dorongan yang sulit dikendalikan di dalam kepalanya. Saat melihat Dohoon tertawa lebar sampai matanya menyipit, Shinyu ingin sekali mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Dohoon.
Kejadian yang paling menguji pertahanan Shinyu adalah waktu itu, saat Dohoon baru pulang dari kegiatan kampus dan langsung terlelap di kasurnya. Dohoon tidur miring dengan bibir sedikit terbuka, terlihat sangat lelah. Shinyu yang seharusnya lanjut mengerjakan tugas, justru tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Shinyu condong ke depan sambil menahan napas. Wangi sabun yang biasa dipakai Dohoon tercium jelas. Di detik itu, penyangkalan Shinyu runtuh total. Dia tidak hanya ingin mengelus pipinya. dia ingin merasakan sesuatu yang lebih jauh.
Dia ingin mencium Dohoon.
Keinginan itu begitu kuat hingga Shinyu bisa merasakan bibirnya sendiri bergetar. Dia sangat ingin tahu bagaimana rasanya menyesap bibir yang sering memanggil namanya itu. Namun, tepat sebelum jarak itu hilang, Shinyu segera menarik diri dengan kasar. Dia bangkit dari kasur dengan jantung berpacu cepat, lalu segera menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dingin.
"Gila. Gue udah gila," umpatnya pada diri sendiri di depan cermin.
Semakin dia menyangkal dan mencoba membenci perasaan itu, Shinyu justru merasa semakin jatuh sedalam-dalamnya. Dia sadar bahwa dia telah kalah. Dia telah jatuh cinta sepenuhnya pada Dohoon.
Pagi itu, saat mereka sedang duduk santai di kantin kampus sambil menunggu kelas dimulai, Dohoon membuka ponselnya dan tiba-tiba tertawa kecil. Shinyu yang sedang menyesap minumannya mencoba bersikap biasa saja, meski sebenarnya dia penasaran dengan apa yang tengah membuat lelaki itu tertawa.
"Eh, lu tahu Donggyu-hyung, kan? Kakak tingkat kita yang di himpunan itu?" tanya Dohoon tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Shinyu menelan ludah dengan susah payah. Nama itu tidak asing. Donggyu adalah kakak tingkat yang populer, ramah, dan punya reputasi baik. "Iya, tahu. Kenapa?"
"Dia aneh banget belakangan ini. Kepo banget, tahu!" Dohoon bercerita dengan nada polosnya yang biasa. "Dia sering chat gue deh, tanya-tanya kegiatan, bahkan nanya gue suka makan apa. Barusan aja malah nawarin buat nganterin gue pulang.”
Shinyu merasakan dadanya menyempit. Dia mencengkeram botol minumannya lebih kuat.
"Terus? Lu jawab apa?"
"Ya gue bilang udah bareng lu sih," jawab Dohoon enteng. "Kayaknya sih... bukan gue kepedean ya, tapi dia demen sama gue," ucapnya pelan. "Teman-temannya juga suka godain gue kalau pas-pasan di koridor."
Mendengar itu. Rasa cemburu mulai membakar Shinyu, tapi dia mati-matian menahannya di balik wajah datar. Dia berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar bergetar.
"Terus... menurut lu gimana? Lu demen juga sama dia?" tanya Shinyu, mencoba terdengar seperti sahabat yang sedang bertanya.
Dohoon meletakkan ponselnya, lalu mengangkat bahu. "Nggak tahu ya... gue belum terlalu suka sih sama dia. Maksud gue, dia baik kok, tapi ya gue sendiri belum kepikiran buat pacaran atau semacamnya. Masih pengen santai aja."
Mendengar kalimat itu, Shinyu merasa ada sedikit beban yang terangkat dari pundaknya. Ada rasa lega yang amat sangat menyelinap di antara rasa sesaknya.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan sebentar.
Pikiran Shinyu kembali tidak tenang. Fakta bahwa ada orang lain yang mulai secara terang-terangan mendekati Dohoon, membuat Shinyu merasa terancam. Dia tahu betul betapa menariknya Dohoon, sifatnya yang manis, tawanya yang lucu, dan betapa nyamannya ia berada di dekat lelaki itu. Cepat atau lambat, orang lain pun pasti akan melihat apa yang Shinyu lihat.
Shinyu menatap Dohoon yang sekarang asyik mengunyah rotinya. Dia ingin sekali bilang, gak usah bales chat-nya lagi, gue cemburu.
Tapi Shinyu hanya bisa terdiam. Lidahnya kelu. Rasa takutnya jauh lebih besar daripada keberaniannya. Dia terlalu takut kalau dia menyatakan perasaan sekarang, Dohoon akan merasa tidak nyaman dan menjauh.
Jadi, Shinyu hanya bisa tersenyum pahit, menelan sisa minuman yang sudah dingin, dan kembali berperan sebagai sahabat yang baik. Sambil dalam hati terus merutuki dirinya sendiri karena menjadi pengecut yang hanya bisa mencintai dalam diam.
Sore harinya, saat mereka sedang duduk bersama, sebuah suara asing menyapa Dohoon.
“Dohoon!"
Shinyu mendongak dan melihat Donggyu berjalan mendekat dengan senyum lebar yang terlihat sangat menyebalkan di matanya. Donggyu tidak datang dengan tangan kosong. dia membawa dua botol minuman dingin yang salah satunya langsung ia sodorkan pada Dohoon.
"Ini, buat kamu, katanya suka americano kan?” ucap Donggyu tanpa ragu. Dia sama sekali tidak memedulikan kehadiran Shinyu yang duduk tepat di sebelah Dohoon.
Dohoon tampak terkejut tapi tetap menerimanya dengan sopan. "Eh, makasih ya, Hyung. Repot-repot banget."
"Enggak repot kok kalau buat kamu," balas Donggyu, lalu dia dengan santainya duduk di sisi kosong di sebelah Dohoon, membuat Dohoon kini berada di antara mereka berdua. "Oh iya, soal tawaran tadi pagi, nanti sore aku ada kendaraan kosong. Kita cari makan bareng yuk habis kelas selesai? Ada tempat enak yang baru buka."
Shinyu yang duduk di sana merasa seperti udara di sekitarnya mendadak hilang. Dia bisa melihat bagaimana Donggyu menatap Dohoon dengan tatapan yang penuh cinta—tatapan yang sangat ia kenali karena itu adalah cara yang sama bagaimana ia menatap Dohoon diam-diam selama ini.
Cemburu itu menyentil dada Shinyu, rasanya panas dan menyesakkan. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat. Dia ingin sekali menarik tangan Dohoon dan pergi dari sana, atau setidaknya menyela pembicaraan itu. Tapi lidahnya terasa kaku. Dia sadar, dia tidak punya hak untuk melarang siapa pun mendekati Dohoon.
"Aduh, gimana ya Hyung..." Dohoon melirik ke arah Shinyu, merasa tidak enak. "Aku sebenarnya udah ada janji mau main game di tempat Shinyu sih."
Donggyu beralih menatap Shinyu sejenak, memberikan senyum tipis yang terasa seperti tantangan bagi Shinyu. "Oh, begitu ya? Tapi makan kan sebentar saja. Shinyu pasti nggak keberatan kan kalau aku pinjam Dohoon sebentar? Lagian kalian kan setiap hari barengan terus, nggak bosen apa?"
Pertanyaan itu membuat Shinyu kesal. Bosan? Shinyu tidak akan pernah bosan jika itu bersama Dohoon. Tapi di depan Donggyu, Shinyu hanya bisa terdiam.
Melihat Dohoon yang tampak ragu dan bolak-balik menatapnya. Dia melihat betapa cepatnya Donggyu mendekati Dohoon. Berani, terang-terangan, dan punya posisi yang jelas. Sementara dia? Dia hanya sahabat masa kecil yang terjebak dalam perasaannya sendiri.
Mungkin memang sudah saatnya, pikir Shinyu dengan hati yang tak rela.
"Pergi aja, Do," ucap Shinyu tiba-tiba, suaranya terdengar sangat datar dan asing di telinganya sendiri. "Gue juga baru ingat kalau nanti sore ada urusan lain. Kita main game-nya kapan-kapan aja dah. Lu sama dia aja.”
Dohoon tampak kaget. "Lho? Urusan apa? Tadi pagi katanya kosong?"
Shinyu tidak berani menatap mata Dohoon. Dia takut pertahanannya runtuh jika melihat binar polos itu.
"Ada tugas mendadak. Gapapa pergi aja sama dia.”
Donggyu langsung berbinar. "Nah, tuh kan! Berarti jadi ya nanti sore?"
Saat melihat Dohoon akhirnya mengangguk pelan, Shinyu merasakan dunianya seolah runtuh perlahan-lahan. Dia bangkit berdiri, berpamitan dengan alasan yang dibuat-buat, dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Shinyu duduk sendirian di meja belajarnya, menatap layar laptop yang hanya menampilkan kursor berkedip. Tugas kuliahnya sama sekali tidak tersentuh. Pikirannya sudah melayang jauh, membayangkan apa yang sedang dilakukan Dohoon dan Donggyu di luar sana.
Dada Shinyu terasa sesak setiap kali membayangkan mereka duduk berdua di sebuah kafe. Apakah Dohoon tertawa keras juga bersamanya? Apakah Donggyu menyentuh tangannya? Pikiran-pikiran buruk itu berputar layaknya badai. Shinyu merasa payah. Dia membenci dirinya sendiri karena telah membiarkan Dohoon pergi, tapi dia juga membenci kenyataan bahwa dia tidak punya hak untuk marah.
Dia hanyalah seorang sahabat, dan hari ini, kata sahabat itu terasa seperti hukuman yang sangat berat untuknya.
Tiba-tiba, suara kunci diputar terdengar. Pintu kamar kos-nya terbuka.
Shinyu melonjak kaget, ia berusaha memasang wajah sedatar mungkin saat melihat Dohoon melangkah masuk dengan raut wajah cerah. Di tangannya, Dohoon menenteng sebuah kantong plastik kecil.
"Belum tidur?" tanya Dohoon sambil meletakkan kantong itu di depan Shinyu. "Ini, gue beliin jajanan kesukaan lu. Tadi lewat depan minimarket pas pulang."
Shinyu menatap makanan itu, lalu beralih menatap Dohoon. Rasa cemburu masih mengganjal di tenggorokannya. Dengan nada yang diusahakan tetap santai, Shinyu bertanya, "Gimana tadi? Date-nya sama Donggyu-hyung asik?"
Mendengar itu, Dohoon malah ketawa. Dia menjatuhkan diri ke atas kasur Shinyu seperti biasa.
"Ngedate apanya, sih? Lu ngomong apa?" Dohoon masih tertawa sambil melepas jaketnya. "Tadi itu gak berdua doang. Pas sampai di tempat makan, ternyata teman-teman organisasi Donggyu-hyung juga ada di sana. Jadi ya akhirnya kami makan rame-rame, satu meja penuh."
Shinyu tertegun. "Rame-rame? Jadi kalian nggak berduaan?"
"Enggaklah! Gue juga bakal canggung kalau cuma berdua," jawab Dohoon enteng sambil membuka bungkus jajanan. "Lagian gue kan udah bilang, gue belum ada perasaan apa-apa sama dia. Jadi tadi ya seru-seruan aja kayak nongkrong biasa."
Mendengar penjelasan itu. Sebuah senyum kecil yang tulus akhirnya muncul di wajahnya. Dia mendekat ke arah kasur dan duduk di lantai sambil mengambil jajanan yang dibawa Dohoon.
"Oh... syukur deh kalau rame-rame," gumam Shinyu pelan, hampir tak terdengar.
"Kenapa? Lu takut gue kenapa-napa ya kalau berdua sama dia doang?" goda Dohoon sambil menyenggol bahu Shinyu.
Shinyu hanya terkekeh, tidak berani menjawab jujur. Setidaknya untuk malam ini, dia bisa tidur dengan tenang. Dohoon masih di sini, di kamarnya, dan yang paling penting, hati Dohoon belum menjadi milik siapa pun.
Setelah malam yang menenangkan itu, hari-hari berikutnya justru menjadi yang lebih berat bagi Shinyu. Jadwal kuliahnya mendadak sangat padat karena proyek laboratorium yang menyita waktu. Untuk pertama kalinya, rutinitas pulang bareng mereka terganggu.
Di saat itulah, Shinyu mulai sering melihat pemandangan yang menyakitkan. Dari jendela gedung kuliah, dia sering melihat Dohoon berjalan di koridor atau parkiran bersama Donggyu. Karena berada dalam satu organisasi, intensitas pertemuan mereka menjadi jauh lebih sering.
Hingga sampailah pada suatu malam yang paling menyesakkan bagi Shinyu.
Shinyu pulang ke kosan dalam keadaan lelah pukul sepuluh malam. Dia berharap bisa melihat Dohoon sudah meringkuk di kasurnya, tapi kamar itu kosong. Sunyi. Dia menunggu hingga lewat tengah malam, namun Dohoon tidak kunjung pulang. Ponselnya hanya dibalas singkat.
Shinyu, kayaknya gue nggak pulang malam ini. Masih banyak urusan yang harus m gue kerjain.
Malam itu, Shinyu tidak bisa tidur. Dia terus membayangkan di mana Dohoon berada dan dengan siapa dia menghabiskan malamnya.
Keesokan harinya, barulah Dohoon muncul dengan wajah lelah namun tetap terlihat segar. Shinyu yang sedang menyeduh mie instan berusaha mengatur napas agar tampak seolah-olah dia tidak terjaga semalaman menunggu.
"Baru pulang?" tanya Shinyu, suaranya diusahakan tetap ringan.
"Iya, aduh capek banget gue," jawab Dohoon sambil melemparkan tasnya ke kursi. "Tadi malam progresnya banyak banget, jadi ya... akhirnya gue nginep aja biar paginya bisa langsung lanjut."
Shinyu terdiam sejenak, jari-jarinya meremas pinggiran meja. "Di mana? Di sekre?"
"Enggak, tempatnya sempit dan dingin banget. Akhirnya Donggyu-hyung ngajak menginap di apartemennya sih. Katanya biar istirahatnya lebih enak karena dia punya kasur kosong," jawab Dohoon begitu saja.
Mendengar itu, ada sesuatu yang menyentil hati Shinyu. Bayangan Dohoon menghabiskan malam di bawah atap yang sama dengan orang yang terang-terangan menyukainya membuat Shinyu merasa hampir gila karena cemburu.
Tangannya sedikit bergetar, tapi Shinyu segera menyembunyikannya di balik mangkuk mie. Dia menarik napas panjang, mencoba menepis segala pikiran buruk yang memenuhi dadanya. Dia tidak ingin merusak suasana.
Shinyu kemudian menoleh, memaksakan senyumnya.
"Oh, syukur deh kalau gitu. Setidaknya lu nggak tidur di lantai sekre yang dingin," ucap Shinyu sambil tertawa kecil, meskipun hatinya sedang hancur.
"Gimana? Urusannya udah beres semua, kan?"
Dohoon ikut tersenyum lebar melihat reaksi Shinyu yang suportif. "Udah! Beres semua.”
Shinyu hanya mengangguk pelan. Di balik senyum itu, dia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dia sangat ingin bersikap egois dan melarang Dohoon dekat dengan Donggyu, namun rasa takut kehilangan persahabatan mereka membuatnya memilih untuk tetap diam. Dia lebih memilih menanggung rasa sakit sendirian daripada harus melihat jarak di antara mereka semakin menjauh.
Puncak dari segala itu akhirnya tiba. Sore itu seharusnya menjadi momen yang baik untuk mereka. Setelah sekian lama sibuk dengan urusan masing-masing, mereka akhirnya janjian untuk pulang bareng. Shinyu sudah menunggu di parkiran, bahkan sudah memanaskan mesin motornya.
Namun, ponsel Dohoon bergetar. Sebuah pesan dari Donggyu masuk, mengajaknya bertemu sebentar untuk urusan organisasi yang katanya mendesak.
Dohoon menatap Shinyu dengan ragu. Ada perasaan aneh di hatinya, seolah-olah dia sedang meminta izin pada seseorang yang lebih dari sekadar teman.
"Shin... Donggyu-hyung chat, katanya ada urusan bentar. Lu... keberatan nggak kalau gue temuin dia dulu?"
Shinyu terdiam sejenak. Ia memaksakan senyum tipis yang terlihat sangat dipaksakan.
"Nggak apa-apa. Temuin aja. Gue bisa balik sendiri kok. Lu ketemuan aja sama dia."
Mendengar jawaban itu, Dohoon justru merasa tidak enak. Ada rasa tidak suka yang muncul di benaknya. Namun, Dohoon akhirnya mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah gedung organisasi.
Shinyu menghela napas panjang, memakai helmnya, dan melajukan motor keluar dari gerbang kampus.
Di tengah perjalanan, motor Shinyu terhenti karena lampu merah. Di sisi jalan, terdapat sebuah lapangan kecil di mana sekelompok anak laki-laki sedang bermain kejar-kejaran. Suara tawa mereka menembus kebisingan jalanan. Seketika, memori masa kecil berputar hebat di kepala Shinyu.
Ia melihat bayangan dirinya yang masih kecil, berlari dengan lincah mengejar Dohoon ketika mereka bermain. Ia ingat betapa beraninya ia dulu. Shinyu tidak pernah ragu untuk mengejar Dohoon untuk menyentuh bahunya. Baginya saat itu, mengejar Dohoon adalah hal paling menyenangkan.
Kenapa sekarang gue jadi begini? batin Shinyu. Dadanya terasa sesak hingga ia sulit bernapas.
Shinyu sadar bahwa rasa takut telah melumpuhkannya. Takut ditolak, takut merusak pertemanan, dan takut dirinya tidak cukup baik. Namun melihat anak-anak itu, Shinyu sadar bahwa dia tidak mau kehilangan jejak Dohoon selamanya. Jika dia tidak mengejarnya sekarang, mungkin suatu saat nanti dia tidak akan pernah bisa melihat Dohoon lagi.
Lampu berubah hijau. Bukannya melaju lurus ke arah kosannya, Shinyu dengan nekat memutar balik motornya di tengah jalan. Ia memacu motornya kembali ke kampus secepat mungkin. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kecepatan motor, tapi karena ia sudah bertekad untuk menyatakan perasaanya. Dia harus menyusul Dohoon. Dia harus berada di sana. Dia tidak boleh membiarkan Donggyu atau siapa pun mengambil posisi yang seharusnya ia perjuangkan sejak lama.
Dia akan mengejar Dohoon lagi, persis seperti saat mereka masih kecil, tapi kali ini dengan seluruh perasaan yang selama ini ia pendam.
Shinyu memacu motornya secepat mungkin. Begitu sampai di parkiran kampus, dia tidak lagi peduli dengan helmnya yang diletakkan asal. Dia berlari dengan napas terengah-engah, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor gedung yang sudah mulai sepi. Pikirannya hanya satu, jangan sampai terlambat. Dia ingin menarik tangan Dohoon, mengajaknya pulang, dan mengatakan hal yang sudah lama terpendam di hatinya.
Dia akhirnya sampai di depan ruang organisasi mereka. Pintunya sedikit terbuka, membiarkan cahaya lampu dari dalam ruangan memantul ke koridor yang gelap. Shinyu berhenti tepat di depan pintu dengan dada yang naik-turun hebat. Namun, pemandangan di depannya seolah menghentikan waktu secara paksa.
Di dalam ruangan itu, Shinyu melihat Dohoon sedang berdiri di depan Donggyu. Dunia Shinyu terasa runtuh saat melihat tangan Donggyu melingkar di tubuh Dohoon, menariknya ke dalam sebuah pelukan yang tampak begitu erat. Dan yang paling menghancurkan adalah... Dohoon tidak melepaskan pelukan itu.
Shinyu mematung. Seluruh keberanian yang ia kumpulkan di lampu merah tadi menguap, digantikan oleh rasa sakit yang menjalar ke hatinya. Ternyata, lapangan bermain mereka sudah benar-benar berubah. Dohoon tidak lagi menunggunya untuk dikejar. Seseorang sudah menangkapnya lebih dulu.
Lemas, Shinyu pun bersandar pada papan pintu. Dia mengeluarkan tawa kecil yang getir. "Kayaknya... gue kalah ya kali ini?" ucapnya setengah berbisik, lebih kepada dirinya sendiri.
Dia teringat anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran di pinggir jalan tadi. Anak-anak itu bisa tertawa karena jika mereka tertangkap, mereka hanya perlu bertukar posisi dan mulai lagi. Tapi dalam permainan yang Shinyu jalani, dia merasa tidak akan ada kesempatan kedua.
Tanpa suara, dia mundur perlahan agar kehadirannya tidak diketahui. Dia berbalik badan dan berjalan menjauh dari ruangan itu. Langkahnya gontai, bahunya jatuh. Sepatu ketsnya bergesekan dengan lantai koridor yang sunyi, menciptakan bunyi yang terdengar menyedihkan di telinganya sendiri. Dia berjalan menyeret kaki menuju tempat parkir, melewati koridor-koridor yang kini terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.
Shinyu berjalan menuju parkiran dengan langkah yang benar-benar berat. Namun, saat dia hampir sampai di tempat ia memakirkan motornya, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang berlari kencang dari arah belakang.
”Hei!”
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Shinyu, membuatnya tersentak kaget. Dia menoleh dengan cepat dan matanya melebar kaget. Di sana, Dohoon berdiri sambil membungkuk memegangi lutut. Napasnya naik-turun dengan sangat berantakan—persis seperti saat mereka bermain kejar-kejaran waktu kecil dulu.
"Kenapa sih... jalan lu... cepet banget?" tanya Dohoon terengah-engah, wajahnya merah padam karena lelah berlari.
Shinyu terpaku, otaknya seolah berhenti bekerja. "Lho? Bukannya lu tadi sama Donggyu-hyung.”
Dohoon menegakkan tubuhnya, mencoba mengatur napas sambil menyeka keringat di dahi. Dia sempat terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
"Iya, tadi emang gue sama dia," jawab Dohoon pelan.
"Donggyu-hyung tadi nyatain perasaannya sama gue..." Shinyu terdiam seribu bahasa. Dia menahan napas, dadanya berdenyut kencang menunggu kalimat selanjutnya yang akan menentukan segalanya. Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Shinyu.
"Tapi gue nggak bisa nerima itu," lanjut Dohoon sambil menatap mata Shinyu. "Gue bilang ke dia kalau gue nggak punya perasaan yang sama. Pas gue liat lu jalan keluar tadi, gue langsung pamit dan lari ngejar lu."
Mendengar itu, Shinyu merasa seolah beban ribuan di pundaknya lenyap seketika. Dia belum kalah. Permainan ini belum berakhir. Dia melihat Dohoon yang sekarang berdiri di depannya—sahabatnya yang kini justru berbalik mengejarnya.
Shinyu menunduk, menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Dia merasa sangat bodoh karena sudah nyaris menyerah, padahal Dohoon masih ada di sini, masih bisa ia raih.
"Lu kenapa ketawa?" tanya Dohoon bingung.
Shinyu mendongak. Ada kilat berbeda di matanya. Dia ingin sekali mengatakannya sekarang. Dia ingin jujur bahwa dia mencintai Dohoon dan hampir gila karena perasaan ini. Namun, tiba-tiba suara klakson mobil yang keras dari arah belakang memecah suasana. Beberapa mahasiswa lain juga lewat dengan berisik, membuat suasana yang baru saja terbangun itu buyar seketika.
Shinyu tersenyum tipis, tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Meski gagal bicara. Dia menarik tangan Dohoon dengan cepat, membawanya mendekat ke motor.
"Nggak apa-apa. Udah, naik," kata Shinyu sambil menyodorkan helm ke arah Dohoon. "Kita pulang sekarang."
Dohoon menurut, naik ke boncengan motor Shinyu dan melingkarkan tangannya di pinggang Shinyu seperti biasa. Saat mesin motor menyala dan mereka melaju meninggalkan area kampus, Shinyu merasa hatinya penuh kembali.
Begitu sampai di kosan, suasana terasa canggung. Dohoon turun dari motor dan menatap Shinyu dengan dahi berkerut. Dia merasa ada yang aneh, sepanjang jalan tadi Shinyu menyetir dengan sangat fokus dan terburu-buru, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengejarnya.
"Lu kenapa sih?," tanya Dohoon saat mereka sudah masuk ke dalam kamar.
Shinyu tidak langsung menjawab. Dia menutup pintu, menarik napas panjang, dan mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia tidak mau menjadi pengecut lagi. Dia tidak ingin kalah untuk kedua kalinya dalam satu hari yang sama.
"Dohoon," panggil Shinyu dengan suara berat. "Gue udah lama suka sama lu."
Dohoon terdiam. Shinyu menunduk, tidak berani melihat reaksi sahabatnya. "Gue tahu ini mungkin salah. Gue tahu kita temenan dari kecil, tapi gue nggak bisa bohong lagi. Sorry kalau ini bikin lu nggak nyaman."
Hening sejenak menyelimuti ruangan itu, sampai tiba-tiba suara tawa pecah. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa renyah yang sangat akrab di telinga Shinyu. Shinyu mendongak bingung. "Kenapa lu malah ketawa?"
"Aduh, Shinyu..." Dohoon memegangi perutnya, tawanya perlahan mereda tapi senyum lebar masih menghiasi wajahnya. "Kenapa sih lama banget buat bilang gitu? Gue udah nungguin lu ngomong berbulan-bulan, tahu!"
Mata Shinyu membelalak. "Maksudnya? Lu... lu udah tahu?"
"Lu pernah nggak sengaja nulis sesuatu di buku catatan lu pas kita belajar bareng. Lu lupa, ya? Gue nggak sengaja baca pas lu lagi ke kamar mandi,"
Dohoon melangkah mendekat, menatap Shinyu dengan tatapan yang selama ini ternyata menyimpan arti yang sama.
"Lagian... gue juga suka sama lu, bego," lanjut Dohoon blak-blakan. "Gue tadinya mikir, kalau lu diem aja kayak gini terus, gue yang bakal nyatain duluan ke lu atau gak bahkan nembak lu duluan!”
Shinyu terpaku. Sekali lagi, dia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Ternyata selama ini perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia terlalu sibuk dengan penyangkalannya sendiri sampai tidak sadar bahwa Dohoon juga sedang menunggunya.
Mereka berdua akhirnya tertawa bersama, menertawakan betapa konyolnya drama yang mereka lalui hanya karena sama-sama ragu. Tawa itu perlahan memudar, berganti dengan sesuatu yang jauh lebih dalam. Jarak di antara mereka terkikis. Tatapan mereka bertemu, dan kali ini tidak ada lagi rasa takut di mata Shinyu.
Tanpa ragu lagi, Shinyu menangkup wajah Dohoon, dan akhirnya berhasil mencium bibir itu lebih dulu. Sebuah ciuman yang selama ini hanya ada dalam bayangnya, kini terasa nyata.
Suasana di dalam kamar kos itu mendadak berubah. Setelah ciuman pertama yang penuh keraguan itu pecah, semuanya terasa mengalir begitu saja. Rasa yang dipendam Shinyu selama bertahun-tahun seolah keluar begitu saja. Shinyu tidak melepaskan tautan bibir mereka. Dia justru semakin memperdalamnya, seolah ingin membayar semua waktu yang terbuang karena rasa takutnya sendiri. Dohoon pun tidak tinggal diam, tangannya melingkar erat di leher Shinyu, menarik sahabatnya itu semakin dekat sampai tidak ada lagi celah yang memisahkan mereka.
Dalam posisi yang masih bertautan, langkah mereka terhuyung ke belakang hingga akhirnya keduanya jatuh ke atas kasur. Shinyu berada di posisi atas, menumpu badannya dengan kedua tangan sambil menatap wajah Dohoon yang memerah dan napasnya yang tidak beraturan. Mereka saling melempar senyum kecil.
"Dohoon..." suara Shinyu terdengar lebih serius. "Gue nggak mau cuma sekadar tahu kita sama-sama suka. Gue mau lu jadi pacar gue. Lu mau, kan?"
Dohoon yang tadinya masih mengatur napas, tiba-tiba menarik ujung bibirnya, membentuk senyum jahil yang sangat khas. Dia tidak langsung menjawab. Alih-alih, dia malah menatap Shinyu dengan tatapan menantang, seolah ingin menggoda sahabatnya itu sedikit lagi.
"Menurut lu... setelah semua yang kita lewati, setelah gue lari-larian ngejar lu ke parkiran tadi... gue bakal jawab apa?" tanya Dohoon balik sambil menaikkan sebelah alisnya.
Shinyu sempat tertegun, otaknya mencoba mencerna maksud pertanyaan itu sebelum akhirnya ia sadar bahwa Dohoon sedang bercanda. Shinyu terkekeh pelan, rasa percaya dirinya kembali muncul.
"Gue rasa jawabannya nggak ada pilihan lain selain 'iya'," jawab Shinyu dengan nada penuh keyakinan.
"Pede banget, ya?" cibir Dohoon, tapi kemudian ia menarik tengkuk Shinyu dengan kedua tangannya, memaksa wajah mereka kembali sangat dekat. "Tapi lu bener. Jawabannya emang cuma itu. Gue mau."
Mendengar itu, Shinyu tidak menunggu sedetik pun. Dia langsung membungkam bibir Dohoon lagi, kali ini dengan lebih lembut dan penuh perasaan. Di sela-sela ciuman itu, tangan Shinyu mulai bergerak perlahan, mengelus pipi dan turun ke leher Dohoon, merasakan detak jantung sahabatnya yang berpacu sama cepat dengan miliknya sendiri.
Di dalam benaknya, Shinyu menyadari satu hal. Permainan kejar-kejaran mereka memang sudah selesai, tapi hubungan baru mereka baru saja dimulai. Malam ini, Shinyu berpikir bahwa ia tidak hanya ingin berhenti di sebuah ciuman. Ia ingin memberikan seluruh rasa cinta yang selama ini tertahan, dan memastikan bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi jarak yang memisahkan mereka.
Shinyu kemudian menatap Dohoon dalam-dalam, memastikan bahwa orang yang paling ia cintai ini benar-benar miliknya sekarang. Dan dengan satu anggukan kecil dari Dohoon, Shinyu tahu bahwa malam ini akan menjadi malam sangat panjang bagi mereka.
