Actions

Work Header

Academic Misconduct

Summary:

Kepintaran Seongje tak pernah diimbangi dengan sikap santun.

Ketika ia bersikap kurang ajar di kelas, Profesor Sieun memutuskan bahwa mahasiswa satu itu perlu didisiplinkan.

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text


 

Klik.

Slide berganti. Di layar kini terpampang beberapa grafik dengan judul Hukum Pertama Termodinamika.

“Intinya, energi tidak diciptakan atau dimusnahkan,” terang Profesor Sieun sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Beberapa mahasiswa terlihat mencatat dengan serius, sebagian yang lain berusaha keras menahan kantuk. Tatapannya lalu kembali ke layar, “Energi hanya berubah bentuk. Dalam sistem tertutup, perubahan energi internal sama dengan energi yang masuk dikurangi energi yang keluar.”

Dia menekan pointer sekali lagi, lalu mematikan proyektor. Kursi-kursi mulai berderit, diikuti suara beberapa mahasiswa yang berbisik-bisik.

Saat Sieun kembali menghadap kelas, matanya menangkap sesuatu yang agak janggal di tengah ketertiban ruangan. Tempat duduk berundak itu membuat segala pergerakan di kelas bisa dia pantau dengan mudah.

Di barisan belakang, seorang mahasiswa bersandar santai di kursinya. Rahangnya bergerak-gerak seperti sedang mengunyah sesuatu. Sebuah permen karet menggelembung dari sela bibirnya yang membulat, mengembang seukuran kepalan tangan sebelum akhirnya pecah tanpa suara.

Sieun menghela napas cukup panjang, hingga membuat beberapa kepala ikut menoleh ke belakang.

“Sudah saya jelaskan di awal kelas,” katanya dengan suara tenang dan datar seperti biasa. “Di kelas saya tidak ada yang mengunyah makanan. Water is fine.”

Mahasiswa itu menatapnya lurus tanpa ekspresi, seakan peringatan dari sang profesor muda itu hanya formalitas belaka.

“Kalau begitu, besok saya ganti pakai rokok saja,” ujarnya cuek, ditanggapi kekehan kecil dari mahasiswa berambut mullet oranye di sampingnya. “Kebetulan saya ngunyah permen karet xylitol untuk terapi adiksi rokok.”

Sieun bersedekap dan menatap mahasiswa itu dengan mata ularnya yang dingin. “Untuk selevel mahasiswa saya kira membaca itu sudah jadi hal dasar ya. Apakah anda tidak bisa membaca tata tertib di pintu masuk gedung?”

Sieun merujuk pada standing banner di lobi gedung fakultas yang berisi Visi Misi Kampus dan Tata Tertib Mahasiswa.

Tapi mahasiswa gabut mana coba yang mau membuang waktu membaca omong kosong itu tiap mau kelas?

Mahasiswa berkacamata itu lalu meraih permen karet dari mulutnya, membungkusnya dengan secuil kertas yang ia sobek dari buku, lalu menyelipkannya ke kantong jaket olahraga yang ia kenakan. Tidak ada permintaan maaf ataupun raut wajah bersalah.

“Terima kasih,” ucap Sieun singkat.

Dia mengambil spidol dan menulis satu kalimat di papan.

Sistem terbuka vs sistem tertutup.

“Sekarang, saya ingin cek pemahaman kalian,” lanjutnya.

Sieun menoleh lagi ke barisan belakang tempat mahasiswa kurang ajar tadi duduk. Tapi agaknya kata kurang ajar terlalu berlebihan. Jadi di dalam kepalanya, Sieun memilih menyebutnya Si Permen Karet.

“Nama anda?”

“Geum Seongje,” jawabnya dengan suara datar tanpa minat.

“Baik, Geum Seongje,” (Si Permen Karet Kurang Ajar, Sieun menambahkan dalam benaknya). Sieun kembali menyilangkan tangan di depan dada, dengan telunjuk mengetuk-ngetuk lengannya. “Tadi kita berbicara tentang sistem tertutup. Pertanyaan saya, jika kita terapkan prinsip itu pada mesin nyata yang beroperasi di lingkungan terbuka, apa konsekuensinya?”

Beberapa mahasiswa saling pandang. Materi itu belum pernah dibahas.

Seongje tak langsung menjawab. Dia meluruskan punggungnya lalu berdiri tanpa diminta.

“Konsekuensinya… kita harus memperhitungkan pertukaran massa dan energi sekaligus. Mesin nyata kehilangan energi lewat panas, gesekan, dan aliran keluar. Jadi efisiensi tidak bisa dihitung ideal. Harus dikoreksi dengan kerugian.”

Kelas hening. Sieun sama sekali tidak memotong, namun matanya mulai sedikit menyipit dan berubah menjadi rasa penasaran. Awalnya Sieun hanya ingin membalas sikap kurang ajarnya dengan mempermalukannya sedikit, tapi Si Permen Karet ini tampaknya agak di luar dugaan.

Seongje kembali melanjutkan, masih dengan nada suaranya yang tak berminat. “Itu sebabnya diagram energi di sistem terbuka selalu pakai batas kontrol. Bukan cuma panas yang keluar masuk, tapi juga kerja dan aliran massa.”

Beberapa detik berlalu sebelum Sieun sadar bahwa jari telunjuknya sudah berhenti mengetuk lengan.

Dia berdehem sebelum bicara. “Dari mana anda tahu?” tanyanya.

“Baca,” jawab Seongje santai. “Dan sedikit pengalaman.”

“Pengalaman?”

“Magang di bengkel,” katanya. Dia mengedikkan bahu sekali sambil mengerutkan dagu. “Kenyataannya memang mesin di lapangan nggak ada yang ideal.”

Beberapa mahasiswa terdengar berbisik-bisik.

Sieun berbalik ke papan tulis dan menuliskan satu kata di bawah judul tadi. Kerugian. Lalu dia berbalik lagi ke arah Seongje.

“Jawaban anda tepat,” katanya sembari menunjuk ujung spidol ke arah Seongje. “Tapi sikap anda tadi, kuakui… cukup berani.”

Mata mereka bertemu. Keduanya tak mengalihkan pandangan, seakan ini hanyalah permainan untuk menentukan siapa yang lebih dulu berpaling.

Sieun yang pertama memutus kontak mata itu, ia berdehem lagi. “Di kelas saya, kepintaran bukan alasan untuk mengabaikan etika. Bisa dipahami? Tuan Geum Seongje?”

Seongje mengangguk sekali. “Ya, Pak.” Lalu ia kembali duduk.

Sieun menutup spidol, kembali memasang wajah profesionalnya.

“Kita lanjutkan.”

 


 

Seongje mengetuk pintu tiga kali.

“Masuk.”

Sieun tidak menoleh dari layar laptop saat Seongje melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Jemarinya masih sibuk mengetik, menganggap kehadiran Seongje tak lebih dari gangguan kecil yang bisa diurus beberapa menit lagi.

Ruang dosen itu sunyi, hanya dihiasi bunyi ketikan dan dengung AC yang menurut Seongje diatur terlalu dingin.

Meja kerja Sieun tertata rapi tanpa cela. Berkas-berkas tersusun rapi di sisi meja, buku-buku di rak diatur secara alfabetis dan bahkan mengikuti gradasi warna. Tipikal seseorang yang perfeksionis. Atau seperti yang pernah Seongje baca entah di mana, katanya para psikopat juga punya kecenderungan yang sama. Dia terkekeh kecil membayangkan kemungkinan bahwa dosennya yang berparas imut ini mungkin saja menyimpan sisi gelap di balik keteraturan yang berlebihan itu.

Sieun mendongak sedikit. “Ada yang lucu?”

Seongje segera berdehem. “Tidak. Maaf.”

“Duduk. Saya selesaikan ini sebentar.”

Seongje menurut, lalu duduk di kursi di hadapan meja kerja itu. Matanya diam-diam mencuri pandang ke arah dosen yang beberapa jam lalu mengiriminya pesan singkat untuk datang ke ruangan ini. Kemeja biru muda yang dikenakan Sieun tampak rapi tanpa kerutan, dengan potongan pas di badan, bahkan terlalu presisi sampai samar-samar menunjukkan bentuk dada dan lengannya yang cukup padat. Seongje hampir bersiul kalau saja dia tidak ingat sedang berada di mana. Dosen satu ini benar-benar seorang perfeksionis.

Tatapannya lalu turun mengikuti lengan Sieun hingga ke ujung jari.

Dia mengangkat satu alis. Tidak ada cincin.

Seongje pernah mendengar selentingan dari beberapa mahasiswa di kelasnya. Tentang Profesor Yeon yang menyukai sesama jenis. Tentang seseorang yang mengaku pernah melihatnya di sebuah gay bar. Juga tentang fakta bahwa pria itu belum menikah meski usianya sudah mendekati kepala empat.

Biasanya Seongje tak pernah benar-benar memikirkan rumor semacam itu. Di jaman sekarang, bukankah siapapun bisa memilih untuk tidak menikah? Entah karena faktor ekonomi, prioritas hidup, atau sekedar keinginan pribadi. Tidak ada yang aneh.

Namun sekarang, duduk berhadapan seperti ini dan hanya berdua di ruangan tertutup, membuat pikirannya melenceng ke arah lain. Tak ada salahnya mencoba, bukan? Persetan dengan etika akademik. Apalagi Profesor Sieun ini sangat sesuai dengan tipenya. Tubuh kecil namun berisi, wajah manis yang membuat orang mengira dia masih usia dua puluhan, serta kepribadiannya yang tegas dan penuh percaya diri.

Seongje bahkan tanpa malu sempat berpikir, bahwa ia tak akan keberatan jika punggungnya harus dijadikan pijakan kaki Sieun untuk melewati genangan air, sekedar agar sepatu desainer milik dosen itu tak ternodai lumpur kotor.

Sieun menutup laptopnya dan bersandar ke kursi, menatap Seongje dengan sorot mata yang sedikit meremehkan.

“Kamu tahu kenapa saya panggil?” tanya Sieun sambil mengatupkan kedua tangan.

“Karena saya tidak sopan di kelas,” jawab Seongje lugas, tanpa ada usaha untuk membela diri.

Sieun menghela napas pelan. “Kamu sadar kan, bahwa sikapmu melanggar etika kelas?”

“Ya, Pak.”

“Saya ingin memastikan satu hal,” lanjut Sieun dengan suara tegas. “Seperti yang saya bilang kemarin, di kelas saya, kepintaran bukan pembenaran untuk bertindak semaunya. Mengerti?”

“Ya.”

“Jawab yang benar.”

Seongje menegakkan bahu. “Dipahami, Pak!”

Sieun mengangguk kecil, lalu meraih satu bendel berkas yang dijepit klip dan meletakkannya di atas meja. Ia mendorongnya ke arah Seongje tanpa banyak bicara.

Seongje menerima berkas itu dengan ragu, membuka halaman demi halaman dan membacanya sekilas. “Ini apa, Pak?”

Sieun memperhatikan Seongje sejenak sebelum berkata, “Kamu cepat menangkap materi dan punya pengalaman lapangan. Itu suatu kelebihan. Kalau kamu bisa memperbaiki sikapmu, saya mau menawarkanmu bergabung dengan proyek penelitian saya.”

Sieun lalu membuka salah satu halaman yang menampilkan desain mesin dengan skema yang cukup rumit.

“Ini blueprint dari prototype yang sedang saya kembangkan. Tim saya butuh orang yang paham teori dan tidak asing dengan mesin nyata. Bagaimana? Kamu tertarik?”

Seongje membolak-balik beberapa halaman lagi. Namun tatapannya tak sepenuhnya fokus pada gambar, malah justru tampak sedang mempertimbangkan sesuatu yang mungkin saja hal di luar tawaran akademik dari Sieun.

“Baik.”

Sieun tersenyum dan mengangguk puas, lalu kembali membuka laptopnya. “Bagus. Kalau tidak ada pertanyaan, kamu boleh kembali. Detail teknisnya nanti saya kirim lewat email.”

Namun Seongje tak beranjak.

Ia tetap duduk tanpa melontarkan pertanyaan, menatap jemari Sieun yang kembali menari di atas keyboard.

“Geum Seongje,” kata Sieun dengan nada sedikit mengeras. “Saya tidak suka mengulang perkataan saya.”

“Ada satu pertanyaan.”

Sieun menarik napas pendek tanpa menoleh dari layar. “Silahkan.”

Seongje mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata Sieun. “Bapak masih single ya?”

Ruangan mendadak jadi begitu hening. Suara dengungan AC pun tak pernah terdengar sekeras ini.

“Itu bukan urusanmu,” kilah Sieun cepat.

“Maaf,” Seongje berkata santai. “Saya cuma penasaran. Soalnya di jari manis bapak nggak ada cincin.”

“Penasaranmu tidak relevan dengan urusan akademis.”

Seongje mengangguk perlahan, tampak menerima teguran itu. Namun sedetik kemudian, ia menambahkan dengan suara rendah, “Bapak nggak pernah kangen… sentuhan seseorang?”

Sieun membeku. Kedua tangannya mengepal di atas keyboard.

“Jangan kurang ajar,” katanya. Di balik nada suaranya yang terkendali itu terdengar jelas dia sedang menahan amarah. “Kamu melewati batas.”

Tapi lawannya adalah Seongje yang tak kenal kata mundur. Mahasiswa itu justru tersenyum tipis.

“Kalau saya melewati batas, apa Bapak masih akan tetap mengikutkan saya di proyek itu?” ujar Seongje tenang. Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Atau, supaya Bapak nggak merasa terlalu bersalah, anggap saja ini ucapan terima kasih saya atas tawaran tadi.”

Sieun menatapnya tajam. “Kamu ini terlalu percaya diri.”

“Mungkin,” Seongje mengedikkan bahunya. “Atau mungkin saya cuma tahu kemampuan saya.”

“Keluar.”

Seongje masih sempat mencondongkan tubuhnya ke arah Sieun, “Saya bisa bantu, Pak. Saya juga cukup berpengalaman di bidang ini.”

“Keluar,” ulang Sieun dingin.

Kali ini Seongje menurut. Ia berdiri dan melangkah ke pintu.

“Baik,” katanya sebelum keluar. “Kalau Bapak berubah pikiran… tawaran saya tetap berlaku.” Kalimat itu ia tutup dengan sebuah senyum miring.

Pintu menutup.

Begitu ruangan kembali sunyi, Sieun langsung menghembuskan napasnya yang sedari tadi ia tahan.

Dasar bocah kurang ajar.

Dan Sieun rasa, anak itu memang perlu didisiplinkan.

Notes:

Chapter 2 rating bakal naik ke E karena mengandung smut 🙂