Chapter Text
Apakah kamu percaya jika setiap orang yang kita temui hadir dengan alasan khusus dalam kehidupan kita? Seperti kita terikat dengan sebuah benang yang tidak terlihat satu sama lain. Bagai benang yang terulur panjang, terkadang kusut kadang pula meregang kencang. Namun uniknya benang itu tidak pernah terputus begitu saja. Ujung-ujung benang yang sesekali sering bersinggungan, berjalan seiringan tanpa disadari, hingga akhirnya kedua ujung itu bertemu. Bagai sebuah takdir yang terus bersinggungan, membentur, hingga akhirnya saling mengikat satu sama lain.
‘Red String Theory’
Sebuah konsep atau kepercayaan yang cukup popular mengenai setiap orang terhubung dengan sebuah benang merah atau tali takdir. Meskipun mereka berada ditempat yang jauh dan dengan segala perbedaan yang ada, jika mereka ditakdirkan untuk bersama maka tali takdir akan mempertemukan mereka.
Terdengar sangat puitis, tapi setidaknya itulah yang dapat William simpulkan ketika ia tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang gadis di meja sebelahnya. Ibu jarinya yang tengah sibuk menyentuh layar ponsel terhenti ketika pembicaraan mengenai ‘Red String Theory’ menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak begitu peduli, namun setelah beberapa saat pembicaraan itu menarik seluruh perhatiannya.
“Aku kira juga itu cuma cerita di au-au gitu loh. You know what I mean, right? Tapi pas aku liat tante ku sama suaminya, terus sekarang kamu sama pacar kamu, aku jadi kayak—wah, ternyata red thread of fate itu beneran ada ya?”
“iya kan? Eh aku sampe merinding asli”
Sudut bibir William sedikit tertarik membuat simpul kecil di wajahnya, merasa lucu mendengar obrolan kedua gadis sebelahnya tersebut. Jarinya kembali bergerak untuk menggulir tampilan pada layar ponselnya, tetapi pikirannya tidak menyatu denga napa yang ia lihat pada layar ponselnya tersebut.
‘Red thread of fate…, Red string theory…, bukannya itu cuma kebetulan aja ya?’, pikirnya.
Yap, pikirannya tertarik pada hal tersebut. Ia sudah sering mendengar teori itu pada banyak platform sosial media, tapi ia tidak pernah mencari tau dengan dalam maksud dari teori tersebut. Tetapi siapa yang menyangka jika hari ini seorang William yang hanya tertarik soal musik, akan memikirkan sebuah teori yang jelas tidak ada kaitannya dengan minatnya tersebut. William mendengus pelan, berusaha mengalihkan pikirannya dengan kembali fokus kepada layar ponselnya. Jika kalian pikir pembahasan ‘Red String Theory’ tersebut akan berhenti sampai disana, maka jawabannya adalah salah. Karena kini jarinya dengan lihai mencari lebih lanjut apa yang sebenarnya arti dari ‘Red String Theory’ tersebut.
“The Red String Theory is an ancient East Asian belief originating from Chinese and Japanese mythology (known as Akai Ito) suggesting that an invisible red thread connects those destined to meet, regardless of time, place, or circumstances. The thread may stretch or tangle but never breaks, ensuring people find their soulmates”.
“The string represents fate—even if individuals are far apart or face obstacles, they are destined to connect eventually”.
Dirinya terdiam, mencerna tiap-tiap kalimat yang menjelaskan tentang apa yang ia cari sebelumnya. Kepalanya mulai bekerja, menarik kesimpulan dari setiap informasi yang ia dapatkan. Namun perlahan, dirinya justru jadi menerka-nerka, siapakah pemilik ujung dari tali merah takdir yang mengikat dirinya. Jika memang teori itu benar adanya, akankah dirinya dapat kembali bertemu dengan sosok yang memiliki pick gitar nya dulu? William terkekeh pelan dengan pikiran konyolnya.
“Liam!”, pekik seorang lelaki sembari berjalan menghampiri William. Merasa terpanggil, William mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan lelaki tersebut ke tempat dimana dirinya berada.
“Aman, Keen?”, tanya William begitu temannya duduk di sebrangnya dengan wajah kusut.
“Aman apanya?! coba lu liat muka gue? gue sekarat!!”, protes Keen yang kini menenggelamkan wajahnya kedalam lipatan tangannya. Sementara William tertawa kecil melihat kelakuan temannya tersebut.
Keen mengangkat wajahnya, kedua tangan memegang kedua sisi kepalanya.
“Sumpah, gue frustasi banget. Uji kompetensi tiap bulan beneran kayak pembunuhan berencana! Gak sanggup lagi gue, mau udahan rasanya”, ucapnya dengan dramatis.
“Alay”, ucap Nut sembari memukul kepala Keen dengan gulungan kertas yang ia bawa.
“Aw! Nut!!” Protes Keen pada Nut yang kini telah mengambil posisi disampingnya. “Serius loh tapi, gue stress banget. Botak iya ini kepala gue lama-lama”, lanjut Keen dengan keluhannya.
“Bukannya dulu jaman sekolah lu ambis banget mau masuk Teknik Informasi? Sekarang malah mau udahan terus”, ledek William.
“Ya kan gue gak tau kalo bakalan bikin gue segila ini?! Kalo tau juga mending gue gak masuk teknik. Gak tau lah! pusing gue. Alamat dah nilai gue”, sanggah Keen yang kini mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Enggak elah, aman aja nilai mah. Baru uji kompetensi, bukan tugas akhir apalagi final exam”, ucap Nut dengan santai, berniat menenangkan temannya tersebut.
“Ya tapikan, nilainya juga bakalan tetep ngaruh ke final exam, Nut. Kalo nilai uji kompetensi gue aja jelek, gimana pas final exam nanti??”
“Final exam masih lama, masih banyak waktu kok. Bisa nanti tinggal belajar lagi aja, Keen”
“Tapi kan—”
Belum selesai menjawab, sebuah roti membungkam mulut Keen begitu saja.
“Kunyah, telen, terus minum. Lu tuh laper kan abis ujian? makanya lebay begini”, ucap William. Benar, pelaku nya adalah William dengan roti yang sempat ia beli sebelumnya.
Keen menatap tajam William sambil mengunyah roti dimulutnya. Nut menggeleng pelan melihat kelakuan dua temannya tersebut. Keen memang selalu ambisius tentang akademiknya, ia tidak pernah merasa puas jika dirinya tidak mengerahkan yang terbaik dalam ujiannya. Sudah menjadi hal normal pula bagi teman-teman dekatnya melihat kelakuan dramatis Keen disaat seperti ini, khususnya William yang sudah berteman dengan Keen sejak bangku sekolah tersebut.
“Hong sama Lego lagi di perpus katanya, gue mau kesana abis ini. Ikut gak?”, tanya Nut.
“Gue—”
“Lu udah pasti ikut, gue nanya-nya ke William”, potong Nut yang membuat Keen mendecak kesal.
William terkekeh pelan sebelum menjawab, “Ikut deh, gabut juga gue”.
Keen mengernyit setelah mendengar jawaban William.
“Tumben banget lu gabut, biasanya latihan atau enggak ke klub lu”, tanya Keen penasaran.
“Latihan gue nanti sore. Kalo ke klub sekarang mah gak bakalan ada orang, makin gabut yang ada”, jelas William sembari membereskan barangnya.
Tidak puas dengan jawaban William, Keen makin menatap temannya tersebut dengan penuh rasa curiga. “Bohong ya lu? Lagi naksir orang di perpus kan lu? Ngaku”, tebak Keen.
“Apaan sih, ngawur!”, tegas William.
“Eh Keen, itu kalo gitar sama mic bisa berubah jadi orang juga mungkin udah dipacarin sama dia. Lu tau sendiri William kayak apa”, tambah Nut yang kini telah bangkit dari bangku nya.
“Ya kali aja William sok sok branding anti romantic, padahal aslinya yearner cinta tak dilirik sang kekasih”, ucap Keen sambil menggendong backpack nya dan langsung dihadiahi pukulan kecil pada bahunya oleh William.
***
Perpustakaan adalah tempat yang William diam-diam sukai sejak dulu. Sebagai seseorang yang hampir sepanjang hari berada diantara keramaian, ketenangan yang ditawarkan perpustakaan selalu sulit untuk ia lewatkan. Semenjak duduk dibangku perkuliahan, harinya semakin penuh dengan berbagai macam instrument. William selalu bersama instrument dan latihan vokalnya semenjak dibangku sekolah, keramaian dari berbagai macam alat musik maupun suara lainnya sudah seperti bagian dari hidupnya. Ia bahkan bisa menghitung kapan saja dirinya benar-benar tenang tanpa adanya keramaian tersebut, dan salah satunya adalah setiap pergi ke perpustakaan.
William memang bukan pribadi yang suka membaca buku serius karena dirinya lebih tertarik pada chord atau hal-hal lain yang masih berkaitan dengan musik. Namun, entah mengapa, dirinya tidak pernah bisa menolak hasrat untuk singgah ke perpustakaan. Seperti ada hal yang menarik dan menunggunya didalam. Walau pada akhirnya, William hanya akan sesekali membaca buku-buku yang menarik pehatiannya, mengerjakan tugas, atau sekedar mendengarkan musik didalam sana.
“Tui mana?”, tanya Hong begitu Keen, William, dan Nut sampai ke meja tempat dirinya dan Lego duduk.
“Nyusul katanya”, jawab Keen sembari mengeluarkan laptop miliknya.
“Kok lu nanyain Tui doang sih?”, protes Nut yang kini duduk disamping Hong.
“Ya kan lu bertiga udah disini, wajar dong gue nanyain dia kemana?”, jelas Hong mengernyitkan dahinya, bingung.
“Kangen lu sama Tui?”, tanya Nut lagi.
“Hah? Kan Tui sohib gue, nanyain bukan berarti kangen?”, jawab Hong makin bingung.
“Loh emangnya gue sama yang lain bukan sohib lu juga?”, timpal Nut untuk kesekian kalinya.
“Hah??”, respon Hong yang kini dibuat bingung dengan pertanyaan tak masuk akal dari Nut.
“Hadeeuhhh, pasusu satu ini. Kalo ribut jangan didepan jomblo bisa gak?”, protes Lego.
“Tau nih pak Nut Thanat, cemburu kok sama temen sendiri”, cibir Keen dengan mata yang fokus pada laptopnya.
“Ngomong apasih lu?!”, protes Nut pada Keen yang kemudian langsung ditimpali oleh Lego, “Denial is the river in Egypt, Nut”.
William tertawa pelan melihat perdebatan kecil diantara dua temannya itu sembari mengeluarkan tab nya. Perdebatan kecil yang bahkan sebetulnya tidaklah penting sering terjadi antara Nut dan Hong. Ia tidak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka satu tahun belakangan ini. Karena setiap ditanya alasan mengapa Nut sering menjahili Hong, orang itu akan selalu menjawab jika dirinya hanya suka melihat reaksi yang diberikan oleh Hong. Meskipun jawaban tersebut tidak menjawab rasa penasarannya sama sekali, tapi sepertinya perlahan ia—dan juga yang lainnya—mulai paham arti dibalik jawaban tersebut.
Hong mengalihkan topik dengan kembali bertanya tentang keberadaan Tui pada Keen, memecah suasana yang tiba-tiba hening.
“Tui kemana emangnya, Keen?”, tanya Hong penasaran.
“Tadi bilangnya lagi sama Tam ngomongin kamera”, jelas Keen.
“Tam Golden circle?”, tanya Lego yang kini ikut penasaran dan diangguki oleh Keen sebagai jawaban.
“Perfilman mau ada proyek lagi kah? Sibuk amat pak sutradara”, ucap Hong.
“Bisa jadi sih. Toh kalo bukan proyek juga, Tui kan emang deket sama anak-anak Golden circle. He himself also part of it”, jelas Keen.
“Lah temen kita yang dua ini juga anak Golden circle”, ucap Nut menunjuk ke arah William dan Lego.
“Ya maksud gue modelan Daou, Est, Punch gitu loh”, timpal Keen yang disambut ‘oh’ ria oleh Nut.
William memilih tidak menimpali pembicaraan mengenai Golden circle meskipun dia adalah satu diantara orang banyak yang termasuk didalamnya. Golden circle adalah sebutan untuk sekumpulan mahasiswa yang memiliki reputasi baik atau terkenal dikampus. William tidak tau pasti siapa dan kapan awal mula sebutan tersebut ada. Namun yang jelas, sebutan itu mulai melekat pada setiap orang yang dikategorikan didalamnya.
Sebetulnya, dirinya juga tidak mengerti mengapa dia dapat masuk kedalam kategori Golden circle tersebut. Dirinya tidak terlalu mahir dalam hal akademik, bahkan sebagian besar kegiatannya adalah tampil sebagai vokalis utama band kampus nya, mengikuti beberapa perlombaan, kemudian aktif pada kompetisi di klub teater. Tidak ada sesuatu yang se-spesial kemampuan Tui dalam menjadi composer maupun sutradara film, ataupun Lego yang selalu menjuarai lomba dance dengan kelihaian nya. Oke, di beberapa hal mungkin dirinya memang layak untuk berada dalam kategori tersebut. Tapi tetap saja, menurutnya ia tidak lebih daripada kawan-kawannya yang lain.
“Tuh, your sohib dateng”, ucap Nut menyenggol lengan Hong yang tentunya membuat mereka yang ada di meja tersebut menoleh kearah yang dimaksud.
Tui masuk bersama dengan dua orang yang memang dikenal dekat dengan dirinya, selayaknya Tui dekat dengan William dan juga yang lainnya. Tiga orang tersebut berjalan kearah meja mereka sembari menyapa dengan ramah.
“Sorry guys, Tui nya gue pinjem dulu tadi sama Tam. Ini gue balikin ya, mulus no lecet-lecet”, ucap Punch. Mahasiswi yang dikenal dengan suara nya yang ceria dan khas.
“Sialan”, protes Tui.
“Oh Liam, sore bareng dong ke klub nya. Gue mau ke sevel dulu nanti”, ucap Daou yang merupakan teman satu klub nya baik pada klub musik maupun klub teater.
“Aman, chat aja nanti”, ucap William dengan senyumnya.
Mereka bercengkrama sebentar sebelum akhirnya pamit untuk menghampiri teman mereka yang memang kebetulan juga sedang berada di perpustakaan.
“Nih lah temen lu, Tui. Rewel banget nanyain mulu”, ucap Nut begitu Tui duduk disamping William.
“Cuma dua kali?!!”, protes Hong.
“Tetep nanyain kan tapi?”, sanggah Nut.
Helaan nafas terdengar dari Lego, Keen, maupun William seakan ketiganya berkata ‘Yap, here we go again’. Tui terkekeh pelan dengan situasi yang ada dihadapannya.
“Halo?? Gue baru dateng ini plis? Kenapa lagi pasusu kita ini?”, tanya Tui dengan mengangkat kedua tangannya setinggi bahu nya.
“Pasusa pasusu, lu gue lempar Tui”, ucap Hong.
“Ya lagian lu berdua berantem mulu. Stop geret gue ke permasalahan rumah tangga kalian ya. I need some peace… so please dada and daddy get along well, okay?”, ucap Tui bagai menuangkan bensin kedalam api yang tengah membara diantara keduanya.
Jelas tindakannya tersebut dihadiahi pukulan pelan pada dahinya oleh Hong, “ai Tui!”, tegur Hong.
William menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-temannya tersebut. Sudah menjadi hal biasa untuknya melihat keributan kecil seperti ini, khususnya yang berasal dari Hong dan Tui. Kedua orang itu memang sangat dekat karena memiliki minat maupun hobi yang sama. Ditambah Hong bukan tipikal yang mudah terbuka dengan orang lain dan Tui yang mudah memiliki banyak teman. Tak heran jika Hong sering mencari keberadaan Tui yang nyaris selalu memiliki urusan dengan banyak orang.
Keributan kecil itu terhenti karena Lego menegur mereka untuk memelankan suara dan kelakuan tiga orang tersebut karena mereka saat ini berada di perpustakaan. Lima orang disekitarnya mulai terlihat fokus kepada tugas maupun kegiatan masing-masing. William sesekali menahan tawanya setiap kali melihat wajah serius teman-temannya tersebut. Mungkin karena mereka terlalu sering bercanda sehingga ketika suasana berubah hening atau serius, dirinya justru tertawa geli. Untuk mengalihkan pikiran tersebut, William mengedarkan pandangannya dan melihat papan pengumuman yang memang tidak jauh dari tempat ia duduk. Pandangannya tertuju pada sebuah poster pengumuman yang memang selalu diganti setiap minggu-nya.
‘Weekly Best Readers’, batinnya membaca poster yang berisikan nama, jurusan, beserta foto mahasiswa yang paling banyak meminjam juga rutin membaca di perpustakaan.
Est Supha, S.
Ilmu Komunikasi (PR).
Matanya memperhatikan foto dengan nama yang sangat sering ia dengar. Mahasiswa berprestasi sejak tahun pertama dengan segelintir penghargaan dikampusnya. William tentu sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut. Hampir disetiap acara di kampusnya Est akan selalu ada disana. Setiap pengumuman penghargaan, perlombaan, atau sekedar perkumpulan klub, Est pasti ada disana. Entah sekedar namanya atau memang pemilik nama tersebut hadir disana.
Setelah dipikir-pikir, dirinya tidak pernah melihat pemilik nama tersebut secara langsung. Ia hanya melihat dari postingan orang-orang, dari kejauhan, atau lewat poster seperti saat ini. Ia tidak pernah benar-benar bertemu dengan Est secara langsung, atau mungkin dirinya yang tidak sadar?. Entahlah, tapi William rasa dirinya memang belum pernah melihat Est dengan benar.
Hong mengangkat wajahnya dari layar tab karena William yang tiba-tiba bangkit dari duduknya. Dahinya mengernyit bingung memperhatikan pergerakan lelaki disebrangnya itu.
“Mau kemana lu?”, tanya Hong yang membuat yang lainnya ikut menoleh ke arah William.
“Keliling, liat buku. Gabut”, jawab William singkat sembari mendorong kursi ke tempat semula.
“Tumben?”, ucap Nut yang kini merasa janggal dengan kelakuan William.
“Udah gue bilang dari di kantin tadi, aneh ni orang”, ucap Keen.
“Gue gak enak kalian pada fokus gitu, mending gue keliling liat buku. Siapa tau dapet bacaan bagus”, jelas William yang kini berjalan menjauh dari teman-temannya.
Kelima temannya menatap kepergian William yang menurut mereka cukup aneh. Sebenarnya William sendiri sudah cukup sering pergi ke perpustakaan bersama mereka. Tetapi yang membuat teman-temannya itu merasa aneh adalah inisiatif William yang tiba-tiba ingin melihat-lihat buku. Seorang William? yang bahkan untuk membaca hal selain yang berkaitan dengan musik saja sangat pilah-pilih, dan bahkan bisa dihitung dengan jari.
Disisi lain, William berjalan mengelilingi rak-rak buku yang berjajar tinggi. Ia sebetulnya juga tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba ingin berkeliling. Entah darimana dorongan tersebut datang hingga dirinya saat ini berdiri pada salah satu rak dengan kategori ‘Fiction & Literature’. Ia terkekeh kecil begitu menyadari keanehan pada dirinya saat ini, sungguh sangat bukan William. Bukannya berhenti justru ia malah memperhatikan satu persatu judul-judul buku yang ada pada rak tersebut. Haruskah ia meminta saran bacaan kepada petugas perpustakaan? pikirnya sekilas sebelum menoleh kearah information table, tempat dimana petugas perpustakaan berada.
Tidak, William tidak langsung menghampiri meja tersebut. Dirinya melihat papan informasi yang berada tepat dibelakang petugas tersebut.
‘Today’s Library Buddy’
Charisar Oldham
Paul Tanan
Est Supha
Pream Nutnicha
Acare Chompoopuntip
Matanya terhenti pada nama ketiga dari list tersebut. ‘Est Supha’, nama itu lagi. Haruskah ia bertanya pada pemilik nama tersebut untuk meruntuhkan rasa penasarannya saat ini? Tapi ia tidak tau pasti yang mana dirinya diantara banyaknya orang yang ada di perpustakaan ini.
Mungkin semesta, mungkin udara mendengar keluhannya sehingga disaat ia berniat menghampiri penjaga perpustakaan, seseorang memanggil nama yang sempat ia pikirkan tadi.
“Kak Est!”, panggil seorang perempuan yang ia ketahui bernama Bonnie itu berlari kearah belakangnya. Pandangannya mengikuti kemana arah Bonnie pergi, menghampiri seorang lelaki dengan kemeja biru yang digulung hingga ke siku dan dua buah buku dilengan kanan nya.
“Udah ketemu?”, tanya Est kepada Bonnie yang kini mengangkat sebuah buku dengan bangganya.
“Udah! tadi dibantuin sama Pream. Lumayan jauh ya rak-nya”, jawab Bonnie.
William terdiam ditempatnya, mematung beberapa saat sebelum akhirnya sedikit bergeser untuk dapat melihat dengan jelas sosok Est yang tidak jauh darinya tersebut. Dirinya tanpa sadar memperhatikan pria tersebut dengan seksama, dari bagaimana gulungan lengan kemejanya terlipat dengan rapih, hingga senyumannya dan tawa pria tersebut ketika menanggapi lawan bicaranya.
‘Cantik’
Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya sadar mengenai apa yang ia pikirkan saat ini. Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu kepada seseorang yang jelas-jelas pria? Tetapi ungkapan seperti ‘cantik’ itu bersifat umum ‘kan?.
Salah satu tangannya menyentuh lehernya, sebelum akhirnya memilih untuk kembali ke meja tempat teman-temannya berkumpul. Entah William sadar atau tidak, tetapi ujung bibirnya tertarik hingga menimbulkan seringaian kecil. Sebuah senyum kepuasan atas perasaan yang tak dapat ia jelaskan.
