Actions

Work Header

Cinta Satu Malam

Summary:

Dari ujung kepala hingga ujung kaki, biduan lelaki itu benar-benar tipenya sekali. Wajah elok, tubuh molek, suara indah, perangai lugu merangkap binal... belum lagi goyangan luwes pinggulnya yang jauh lebih candu dibanding berkilo-kilo bungkus ganja. Qin adalah paket lengkap, sosok idaman di dalam mimpi-mimpi liar setiap pria 'belok' yang merindukan hangatnya himpitan dinding anal seperti Hades.

Chapter 1: Pertama

Summary:

Om Hades ketemu pertama kali sama biduan Qin

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text


Gema dari dentuman musik yang heboh di atas panggung memekakkan indera pendengaran Hades. Telinganya sakit, namun ia harus bertahan di acara gebyar dangdut tahunan ini sedikit lebih lama lagi. Sebagai salah satu sponsor acara merangkap pemasok utama sarana dan prasarana, ia harus menunjukkan sikap profesional. Sepuntung rokok mahal yang ujungnya hitam terbakar terapit di bibir plumnya. Hades menghisap lintingan tembakau itu, meresap sensasi asap yang hangatkan tubuhnya, sebelum mereka keluar lewat hembusan tenang napasnya.

Dia sudah bosan direcoki ocehan bawel Bang Loki, seorang pengelola agensi sekaligus label rekaman khusus genre koplo sederhana yang anehnya cukup hits di kabupaten itu. Hades pura-pura mendengarkan cerita demi cerita Bang Loki soal para penyanyi yang bekerja di bawah naungan perusahaannya sambil menonton wanita dengan dandanan super menor yang sedang asyik menyanyi dan menari ditemani bapak-bapak tambun berkumis tebal. Ekspresi tak berminat terukir di wajah Hades. Ia bahkan tak tertawa saat perut buncit milik pria bangkotan itu disikut keras oleh si penyanyi setelah ketahuan hendak meremas buah dadanya yang nyaris tumpah dari belahan gaun mini jambon mencoloknya.

“Si Aphrodite itu emang galak, Pak. Gak suka dia kalau ada om-om hidung belang berani kurang ajar sama dia,” ucap Bang Loki usai menyeruput kopi hitamnya, menjelaskan sekilas info tentang biduan yang sedang manggung saat ini. “Tapi aslinya ramah banget. Makanya dia disukain semua orang, termasuk anak baru di tempat saya.”

“Oh, begitu,” balas Hades, menanggapi obrolan yang kering itu dengan nada malas.

“Kebetulan, habis Aphrodite ada anak baru yang belakangan ini lagi laris manis mau tampil, Pak. Tolong ditonton ya, sekalian kasih komentar juga. Soalnya saya mau tahu pendapat pribadinya Pak Hades.”

Tak lama setelah Aphrodite turun dari panggung, para penonton tidak perlu menunggu lama untuk disambut seorang pemuda bertampang nyentrik dengan rambut gelap yang menyapa mereka. Suara centilnya membahana di seluruh penjuru lapangan kala bibirnya didekatkan ke sebuah mikrofon merah menyala berlapis glitter.

“Penonton... udah siap nyanyi bareng Qin belum?~”

Area depan panggung yang awalnya hanya diisi oleh segelintir orang mendadak penuh secara ajaib. Sebagian besar jumlah penonton yang berbondong-bondong maju untuk menonton si biduan lebih dekat ialah kaum adam. Siulan menggoda dari beberapa oknum haus belaian samar-samar terdengar di antara sorakan penuh antusias. Hades penasaran mengapa semangat mereka dalam menyahuti ajakan penyanyi yang satu ini berbeda dengan para biduan yang telah tampil sebelumnya. Rasa ingin tahu sukses memancing Hades untuk memusatkan perhatiannya kepada pemuda di atas panggung itu.

“Aku bawain lagu Keong Racun, yah. Pada hapal liriknya, kaan?”

“Hapal dong!!” seru puluhan orang yang mayoritasnya adalah pria itu, sudah tak sabar ingin menari sambil ditemani suara merdu si biduan.

“Oke, deh... musiik!”

Mendengar permintaan itu, tim orkes pun segera mendendangkan irama dangdut koplo yang langsung menghipnotis keramaian. Manik tajam Hades tak berkedip saat menyaksikan pinggul berisi milik si biduan lelaki yang bergoyang ke kanan dan kiri selama bernyanyi. Sulit sekali untuk tidak menatap sepasang bongkah montok dalam balutan celana pendek hitam berhias keping payet, serta perut mulus nan datar yang luput dari crop tank top hitam dengan tulisan bordir ‘yummy’ di bagian tengahnya.

Sayang, si biduan tak mempertontonkan bahu hingga tangannya yang terhalang jaket crop jeans. Stoking hitam jaring-jaring memeluk dua kaki jenjangnya. Batin Hades berkata, siapa pun yang membuat sang biduan berbusana seperti itu harus dapat kenaikan upah. Ia gesekkan ujung rokoknya hingga padam di sebuah asbak keramik, kemudian mengembalikan atensinya lagi ke panggung.

Dasar kau keong racun

Baru kenal eh ngajak tidur

Ngomong nggak sopan santun

Kau anggap aku ayam kampung

Tanpa sengaja, mata Hades bertemu dengan sepasang gulir kelam milik sang biduan. Jarak duduknya memang tidak begitu jauh dari panggung. Karena termasuk orang penting, kursi Hades terletak di baris paling depan. Meskipun terhalang banyak orang, penyanyi itu masih bisa melihat si jangkung karena ia berdiri di tempat yang lebih tinggi. Pemuda itu mengunci tatapannya dengan Hades.

Sadar ada pria tampan yang menatapnya begitu intens, ia mencoba cari perhatian dengan memiringkan tubuh. Mula-mula tangannya mengusap dada, perut, lalu turun ke pinggang, seraya menaikkan satu bokongnya secara lambat dan terkesan seduktif—seolah berniat menggoda seseorang untuk mendaratkan sentuhan-sentuhan nakal di sekujur badannya.

Kau rayu diriku

Kau goda diriku

Kau colek diriku

Hades menyilangkan satu kakinya di atas paha, berusaha menutupi sesak di selangkangannya yang sudah menggembung. Ini masih pukul delapan malam. Ia belum mengantuk dan tidak sedang berhalusinasi. Jelas-jelas biduan itu mengedipkan sebelah matanya saat pandangan mereka beradu. Merasa gerah, Hades basahi kerongkongan keringnya dengan bir dingin yang tertampung di dalam gelas kaca berukuran sedang. Violet kembarnya mengamati lamat-lamat setiap goyangan dan liukan tubuh aduhai sang biduan. Bang Loki yang menyadari sorot mata penuh minat dari Hades pun mencetak senyum puas di bibirnya.

“Nah, yang ini maksud saya, Pak... si Qin,” kata Bang Loki. 

“Cantik ya? Qin tuh kesayangan penonton, paling banyak fansnya di sini. Dia pengen banget manggung di Jakarta, Pak. Tapi finansial kami gak cukup buat biayain sampai ke tahap itu. Barangkali Bapak mau jadi sponsornya?”

Suara Bang Loki larut dalam kombinasi antara musik dari speaker dan riuh rendah penonton yang meramaikan penampilan Qin. Hades tak menanggapi Bang Loki yang tiada lelah melontarkan beragam omong kosong di sampingnya. Seluruh fokusnya telah habis disedot oleh vokal emas serta rupa menggiurkan Qin. 

Mulut kumat kemot matanya melotot

Lihat body semok pikiranmu jorok

Mentang mentang kau kay

Aku dianggap jablay

Dasar koboy kucai ngajak check-in dan santai

Sorry sorry sorry jack

Jangan remehkan aku

Sorry sorry sorry bang

Ku bukan cowok murahan

Tak terhitung sudah berapa kali Hades menelan kasar ludahnya sewaktu menonton aksi panggung Qin yang sangat memukau. Penyanyi mungil itu berhasil menguasai panggung, memerangkap hati orang-orang dengan pesona serta kharismanya. Centil Qin berbeda dengan pedangdut lainnya. Dia tampak alami saat melakukannya, sama sekali tidak dibuat-buat. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, biduan lelaki itu benar-benar tipenya sekali. Wajah elok, tubuh molek, suara indah, perangai lugu merangkap binal... belum lagi goyangan luwes pinggulnya yang jauh lebih candu dibanding berkilo-kilo bungkus ganja. Qin adalah paket lengkap, sosok idaman di dalam mimpi-mimpi liar setiap pria belok yang merindukan hangatnya himpitan dinding anal seperti Hades.

Kau rayu diriku

Kau goda diriku

Kau colek dirikuuuh...

Para penonton menggila ketika Qin menunjukkan gerakan body roll sambil menurunkan jaketnya. Kain pendek berbahan jeans itu merosot hingga ke lengan Qin, mengumbar bahu dan ketiak mulusnya secara cuma-cuma di depan khalayak umum. Lagi-lagi sang biduan melayangkan tatapannya ke arah Hades. Qin menggigit bibir bawahnya sekilas, mengerling nakal, kemudian menutup dua mata seraya biarkan mulut berpoles pemerah bibirnya terbuka kecil. Daging tak bertulang Qin mengintip dari gua hangatnya, seakan memberi sinyal bahwa ia siap bergulat lidah, ditundukkan oleh ciuman bergairah yang senikmat dan selengket tumpahan madu. Cahaya lampu yang menyoroti si mungil membuat sekujur dirinya berkilauan bagai makhluk khayangan di mata Hades.

"Anjing.”

Birai Hades bergerak pelan, melancarkan umpatan tanpa suara. Jari-jarinya yang panjang dan tebal mencengkram kuat celananya sendiri. Ia frustasi, benci karena tak dapat berkutik selain duduk diam di kursi, menonton penampilan Qin di bawah tekanan yang mengganggu suatu bagian tubuhnya, seolah berjalan kaki dengan sebuah kerikil yang masuk ke dalam sepatu. Biduan itu punya nyali besar juga, berani menggodanya dengan cara seperti ini. Hades mengatur ritme napasnya, berusaha menenangkan sesuatu yang berontak minta dibebaskan dari sesak yang mengurungnya. 

“Ahh... mau kecipratan keringatnya Dek Qin!” teriak seorang pria, asal ceplos. Tangannya melemparkan tiga lembar uang kertas berwarna merah muda yang tak memiliki lipatan sedikit pun ke arah Qin.

“Jadi pengen goyangin kasur sampai jebol sama Dek Qin. Suit... suit... uhuyy~ jogetin terus, Dek. Pamerin pantat semoknya lagi ke kita!” timpal bapak-bapak berambut nyaris botak berjanggut putih yang berdiri di sebelah pria tadi, tak tahu malu.

Qin mengabaikan segala kalimat vulgar berkedok pujian dari orang-orang. Ia tetap menyanyi dengan percaya diri sambil membiarkan lembar-lembar kertas bercetak nominal angka hujani dirinya sampai lagu berakhir. Walau risih dengan segelintir pria bertampang mirip kodok berbau liat sampai berondong tua bermandikan minyak wangi nyong-nyong yang semuanya berlagak bak buaya darat, Qin tetap butuh apa yang tersimpan di dalam dompet mereka.

“Gimana, Pak Hades? Bagus, kan, si Qin?” tanya Bang Loki, mengingatkan Hades bahwa ia sedang berada di dunia nyata.

“Saya mau ketemu empat mata sama Qin habis dia tampil. Tolong cepat diatur, ya, Bang,” balas Hades, melenceng jauh dari konteks.

“Oh, boleh...” sambut Bang Loki, diiringi cengiran seolah ia baru saja memenangkan hadiah utama di situs slot judi online.

Maka di sinilah Hades sekarang, ngobrol berduaan dengan Qin di belakang tenda putih yang menjadi ruang ganti dan make up khusus artis pengisi acara. Tak ada tempat lain yang menyediakan privasi lebih daripada ini, karena letaknya di ujung—dekat area parkir yang sepinya menyamai lahan pemakaman. Bang Loki memperkenalkan Hades ke Qin, tidak ingin berlama-lama di sana sehingga ia meninggalkan keduanya agar bisa lebih leluasa kenal satu sama lain.

“Penampilan kamu tadi luar biasa,” puji Hades di tengah obrolan, memicu terbitnya rona merah di pipi Qin. Beruntung keadaan sedang gelap sehingga sang biduan lega Hades tak dapat melihat dirinya yang tersipu hebat. Mimpi atau nyata, sih? Si Qin bisa ngobrol bersama pria tampan yang terus membuatnya salah fokus saat sedang manggung malam ini.

“Terima kasih, Om,” cicit Qin, malu-malu.

Kapan lagi mendengar pujian dari pria matang yang tampan dan gagah macam Hades? Qin memainkan ujung jaketnya dengan gugup. Duh, wangi parfum si Om membuat kepala Qin pusing dengan cara yang teramat nikmat. Tubuhnya mendamba dekapan hangat, ingin dikelilingi aroma maskulin klasik itu sampai mereka membekas di kulit-kulitnya.

“Jangan panggil Om gitu. Umur saya emang tiga puluhan, tapi saya lebih suka kalau kamu pakai sebutan ‘Mas’, cantik.”

“Mas Hades,” ucap Qin, melafalkan dua kata itu. Suaranya yang, oh, begitu manis dan centil membuat Hades ketagihan ingin mendengarnya lagi. Telunjuk ramping sang biduan bermain-main di kemeja Hades, membentuk lingkaran acak sementara tatapan sayunya menghanyutkan kewarasan si jangkung.

“Mas Hades suka dengar aku nyanyi?” tanya Qin seraya mengelus-elus bisep kanan Hades yang tertutup kemeja biru tua. Entah sejak kapan, jarak di antara tubuh mereka semakin tipis sampai-sampai ia sudah merapatkan dirinya dengan Hades. 

“Suka, dong. Suaramu enak banget, Dek,” sahut yang lebih tinggi, lalu sedikit menunduk untuk berbisik di satu daun telinga Qin. “Saya sange lihat kamu nyanyi sambil joget begitu.”

Qin pejamkan matanya seiring rangkulan tangan besar Hades hinggap di pinggang kirinya. Penyanyi mungil itu balas melingkarkan kedua lengannya di leher Hades. Wajah mereka kini dekat sekali. Maju sedikit saja, dua belah bibir dengan tekstur kontras itu bisa berakhir saling sapa ke dalam sebuah ciuman.

"Oh, ada yang sange ternyata...” bisik Qin, semakin memprovokasi sosok tampan yang baru saja memojokkan dirinya ke sebuah pohon.

Qin kenal tatapan itu: sorot seorang pria yang dikuasai lonjakan birahi, tak sabar ingin segera menyantap incarannya. Gembungan di antara kedua tungkainya kian memperjelas suasana. Ya ampun, lihatlah ukurannya! Qin menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Dari penampilannya, ia yakin bahwa Hades begitu perkasa, bak Arjuna yang bertempur gagah berani di medan perang. Liur dalam mulut Qin menguap ketika otaknya sibuk membayangkan rupa kejantanan Hades. Dibandingkan dua pria lain yang telah ia layani dengan mulutnya beberapa bulan lalu, sepertinya milik Hades bisa langsung menyentuh ujung kerongkongannya dalam sekali hentak.

Sang biduan mengusapkan jemarinya di rahang tegas Haded sembari berucap, “Mas~ mau kontolnya diisepin mulut—ummh!”

Tawaran binal Qin diputus oleh lumatan tiba-tiba yang Hades tujukan pada bibirnya. Ia berjengit, dibuat terkejut dengan sesuatu yang sudah sangat ia nantikan sejak kali pertama pandang mereka bertemu. Qin membuka mulutnya, mengizinkan lidah tebal Hades menabrak bagian atap gua hangat hingga alat pengecap berlapis saliva miliknya. Dobrakan ganas yang membakar nafsu itu menaklukkan Qin. Kedua kakinya melemas, goyah sewaktu belah atas dan bawah bibirnya dihisap secara bergantian. Ia meresponnya dengan menyedot ujung lidah Hades, lalu menggigit-gigit kecil birai kenyalnya cukup lama. Lenguh tertahan yang menggema dari tenggorokan sepasang adam itu melebur di udara, memutar irama vulgar berisi kecipak ludah yang terus-menerus dioper dalam ciuman panjang memabukkan.

“Mmh, Mas~ cpkh...”

Tautan itu lepas kala Qin menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Akan tetapi, Hades belum ingin menyudahi pagutan mereka. Kelopak basah nan kenyalnya yang sedikit bengkak datang menjemput ceri matang Qin, membelai bibir si biduan dengan kecupan yang lambat laun berubah menjadi lumatan bernafsu. Saking nikmatnya, jemari indah Qin bahkan sudah berkeliaran di antara rambut Hades. Ia remas helaian surai perak pria itu dengan penuh perasaan. Qin pernah beberapa kali berciuman sebelumnya, tapi tak ada satu pun yang menjamah bibirnya senikmat Hades.

“Ahhn... enak, Mas,” desah Qin, pasrah ketika tangan bejat Hades mengusap-usap pinggangnya. Ia menggeliat pelan, merasa gatalnya reda usai tangan lain Hades menyentuh area selangkangannya. Kejantanan Qin yang terkurung di dalam celana pendek hitamnya kian bereaksi seiring Hades mengelus dan meremas organ intim itu.

“Kalau disepong aja mana puas saya, Dek,” tutur Hades, sambil membubuhkan serangkaian kecup ringan di leher sampai area selangka Qin yang mulai kembali berkeringat.

Walau angin berembus cukup sering malam ini, sepasang insan itu tidak merasa kedinginan sedikit pun. Setiap ciuman dan sentuhan hanya mengantarkan keduanya pada hawa gerah yang tak mereda. Semakin banyak kulit mereka bertemu, semakin besar pula keinginan untuk saling menyentuh. Baik Qin maupun Hades sama-sama ketagihan dengan sensasi panas itu. Lagi... lagi... mereka butuh yang jauh lebih nikmat, lebih intim daripada sekadar belaian dan kontak bibir.

“Hmm~ terus Mas ganteng maunya apa?” tanya Qin. Telapak tangannya mengelus-elus dada bidang Hades, sengaja mengetes kesabaran si tinggi.

“Perlu saya bilangin, hm?” tukas Hades, menggeram rendah. “Saya mau ngewe sama kamu,” lanjutnya, sebelum mengusakkan hidung dan menggigit pelan belakang telinga Qin.

“Gelii, Maash~ mm, aku bisa hamil, lho.”

“Tenang aja, saya bakal main pakai kondom,” balas Hades, enteng. Bibirnya kembali memagut birai semerah ceri Qin tak sabaran. Suara decakan tak senonoh terdengar begitu ia menyudahi ciumannya. “Atau saya bisa crot di luar.”

“Emangnya b-bisa?”

“Mmh, yang penting—cpkh—kita berdua ngentot dulu, sayang. Saya udah sange banget. Ini kontol jadi berat gara-gara banyak peju numpuk di dalam. Ahh, pengen saya siramin ke muka cantikmu.”

Desah manis bocor dari celah bibir Qin setelah Hades arahkan tangannya ke gundukan masif di tengah celana pria itu. Tepat seperti dugaannya, Hades begitu besar dan keras. Mulut analnya refleks kembang-kuncup saat membayangkan pilar tebal, hangat, dan berurat menghunus rektumnya tanpa ampun.

Qin ngidam seks hebat, persenggamaan liar super panas berdurasi lama sampai tubuhnya babak belur gara-gara dihajar klimaks tak terhitung, tapi ia masih terlalu takut untuk benar-benar melakukannya. Biduan itu tidak pernah melayani pria lain hingga ke tahap celap-celup. Hanya sebatas mengulum dan membiarkan penis mereka kacaukan isi mulutnya setelah rampung manggung.

“Tapi belum pernah—ngh—dijebolin sebelumnya, Om, eh Mas..." 

Seringai tipis tercetak di belah plum seksi Hades. Diam-diam, ia selinapkan tangannya ke dalam celana Qin. Merah ranumnya menelusuri sepanjang leher hingga bahu sang biduan sembari mengurut dan meremas ereksi pemuda itu. Aroma parfum murah yang wanginya tak berlebihan menyeruak, memenuhi rongga hidung Hades.

“Gak apa-apa, cantik. Nanti saya jebolin kamu pelan-pelan, biar kita sama-sama enak, oke?”

“Tititku jangan dikocokin gitu, Mash... ah~"

“Katanya gak mau, tapi badan kamu gak nolak, tuh.”

“Ngh, m-mau... ah, enak~ aku mau keluar—ohh...”

Badan Qin merosot ke bawah, lekas ditahan oleh cengkraman Hades pada pinggangnya. Ia tumpukan kepalanya di bahu lebar milik yang lebih tua, tak melawan kala pria tinggi itu kembali melahap bibir setengah terbukanya. Ciuman ini juga tak kalah basah dengan tautan mereka sebelumnya. Decak pelan timbul ketika dua petal kenyal itu terpisah, menyisakan seuntai benang saliva tipis yang perlahan lenyap seiring jarak di antara mulut mereka bertambah.

“Kalo kontol saya masuk ke dalam sini—”

“Ohh?! ♡”

Tangan biadab Hades meremas sepasang bongkah montok di tungkai jenjang Qin, kemudian ia arahkan satu telunjuknya ke lubang anus si biduan. Kukunya menekan dan menggesek kain berbahan anti air yang pisahkan jarinya dengan celah sempit itu.

“—dijamin pasti kamu bakal ketagihan, Dek. Saya bisa enakin kamu. Rasanya berkali-kali lipat lebih puas daripada digenjot mainan seks atau kontol cowok lain.”

“Hngh~ mau dienakin, Mas... boolku mau njepit kontolnya Mas Hades,” racau Qin, megap-megap mirip ikan kecil yang melompat keluar dari kolamnya.

“Iya, tapi kita gak bisa ngentot di sini, sayang,” ujar Hades, membalas bujukan genit Qin.

“Ihirr... langsung bungkus aja biduannya, Pak!” seru pria tak dikenal yang berjalan melewati tempat itu sambil merangkul lelaki dengan rambut merah muda bergaun mini motif macan bergaya norak yang ketinggalan zaman. Tawa cekikikan meluncur dari bibir berlipstik merah mencrang si pemuda. 

“Dapet yang daun muda, ya? Jangan lupa pake kondom, lho~” imbuh lelaki tadi, ikut-ikutan menggoda Hades dan Qin sebelum menyusul langkah pria gandengannya yang mulai menyanyikan lagu berbahasa Jawa berlirik tidak jelas. Punggung mereka menghilang ditelan kegelapan, mungkin sudah masuk ke sebuah mobil untuk melakukan esek-esek seperti yang hendak Hades perbuat ke Qin saat ini.

“Kita pindah ke tempat lain, ya. Ke hotel bareng sama saya, mau?”

 

*** to be continued ***

Notes:

saya mendaur ulang cerita ini dari fanfic lama yang dibiarin berdebu di draft. diposting karena iseng aja... buat hadiah ke @ushisenopati (maaf nanad akun km gak menerima gift, jadi aku mention di sini) 🩷🩷 terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak ✨️ chapter 2 bakal diposting pas malam minggu!