Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-13
Words:
2,781
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
20
Bookmarks:
2
Hits:
228

Soaring Close to One's Own Demise

Summary:

Bagi Shin Junghwan, Dohoon adalah mataharinya.

Dan Junghwan sadar sedari awal, kisah mereka berdua hanya akan berbuah menjadi tragedi. Mengulang kisah Icarus itu, seperti parodi.

Notes:

English vers ☆
https://archiveofourown.org/works/83177761

⋆⋅☆⋅⋆

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Junghwan melihatnya lagi. Entah sudah yang keberapa kali, Junghwan tak pernah bosan melihat surai dan manik legam itu mengitari dirinya. Hidupnya.

Ia selalu bertanya-tanya, pada dirinya sendiri, tentu saja. Akan identitas makhluk yang selalu menghampirinya itu. Tak berani ia suarakan rasa ingin tahunya saat hanya dia yang bisa melihat entitas itu. Iya, si pemuda dengan palet warna gelap itu hanya Junghwan yang bisa lihat.

Sekarang, tengah terbaring di rumah sakit akibat kecelakaannya di panggung, Junghwan melihat lagi sosok yang tanpa sadar sudah menarik perhatiannya sejak lama. Sosok itu tengah berdiri di samping ranjangnya sambil menggerutu lucu.

Tak sadar bahwa tingkahnya selama ini menjadi hal yang Junghwan nanti-nanti. Ia menarik napas dan memantapkan hati. Junghwan sudah berencana untuk berkenalan dengan si makhluk gaib, oleh karenanya 'kecelakaan' ini terjadi. Ia sudah repot-repot menyabotase panggungnya sendiri, tak akan dia lewatkan kesempatan emasnya ini.

"Namaku Junghwan," ucapnya tiba-tiba. "Bisa berhenti memanggilku idiot ceroboh? Oh, dan jika tidak keberatan aku ingin tahu namamu." Junghwan tatap lurus manik gelap makhluk itu.

Itu pertama kalinya Junghwan secara terang-terangan mengakui keberadaan makhluk itu. Dan makhluk itu tak pernah menyangka bahwa Junghwan dapat melihat dirinya, terbukti dengan raut terkejut yang ia tampilkan sekarang.

Entitas lucu itu menengok kanan dan kiri untuk memastikan keberadaan orang lain di ruangan itu. Tapi itu sia-sia. Karena hanya ada mereka berdua disini. Dan hanya makhluk itu yang cukup peduli untuk mengunjungi keadaan menyedihkan seorang Shin Junghwan.

"K—kau!?" makhluk itu menunjuk Junghwan dengan mata elok yang terbelalak. "Bagaimana bisa?! Kau belum matikan?" segera saja tangan makhluk lucu—yang ternyata kecil—itu menggerayangi tubuh Junghwan.

"Masih hidup, kok," gumamnya. "Tapi kenapa bisa?" sekarang mata ini berbalik menatap Junghwan tajam.

Junghwan hanya tersenyum tipis dibuatnya. Dari kecil, ia selalu menganggap makhluk ini adalah malaikat mautnya. Dengan desain yang kehitam-hitaman, mana mungkin Junghwan bisa berpikir positif karenanya. Terlebih lagi, makhluk ini selalu saja muncul disaat Junghwan sehabis mengalami kecelakaan besar yang mengancam nyawa. Jadi ia menarik kesimpulan begitu.

Tapi, Junghwan masih hidup. Sampai ia menginjak 23 tahun pun dia masih hidup. Berarti makhluk lucu yang selalu Junghwan lihat ini bukanlah malaikat maut. Kemudian makhluk itu juga selalu perhatian padanya? Sambil ngomel dan menggerutu, sih. Tapi jika dibandingkan dengan manusia yang sedarah daging dengan Junghwan, makhluk ini menunjukkan usaha untuk peduli lebih besar. Junghwan jadi candu akan kehadirannya.

Itulah asal muasal ide gilanya terkait sabotase panggungnya sendiri. Untuk bertemu malaikat manis ini.

"Kenapa terkekeh begitu?" ujar makhluk itu keheranan. "Apa lampu jatuh itu mengenai kepalamu?" tangannya beralih mengelus-elus rambut Junghwan, barangkali mencari luka di kepalanya.

Junghwan meraih tangan yang lebih kecil darinya itu untuk digenggam. "Kau sudah bersamaku sejak itu," Junghwan mencoba untuk mendudukkan dirinya. "Sejak kecelakaan pertama saat umurku 5 tahun, benar?"

Makhluk itu terlihat gelisah, ia menghindari tatapan Junghwan dan tangannya yang Junghwan genggam berusaha dia tarik lepas. Tapi mana mungkin Junghwan biarkan. Tangan lembut itu teramat pas di genggamannya, buat Junghwan enggan melepaskan.

"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Junghwan, namun sedetik kemudian ia menggeleng kepalanya pelan. "Apa sebenarnya dirimu?"

Makhluk itu menghela napas pasrah setelah terlihat melalukan argumen kilas dipikirannya. Ia balas menatap Junghwan dengan pandangan tegas. Matanya berbinar, jika Junghwan ingin melebih-lebihkan maka ia akan bilang bahwa tampak ada kobaran api di mata malaikat kesayangannya itu.

"Namaku Dohoon," ucapnya lantang, tangannya yang berada digenggaman Junghwan ia kepal—karena gugup, barangkali. "Aku malaikat yang bertugas untuk menjaga dirimu yang ceroboh gila itu."

 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

 

Sudah tiga minggu berlalu sejak ia berkenalan dengan malaikat lucunya itu. Dohoon, namanya. Buat Junghwan tak pernah bosan memanggil nama itu dalam benaknya.

Junghwan rindu. Dua minggu sudah berlalu sejak ia terakhir kali melihat si malaikat. Ia bingung bagaimana cara untuk mengobati hatinya yang sendu. Memikirkan segala macam akal agar malaikatnya terpikat.

Ia tengah menekan-nekan tuts piano miliknya asal saat ide cemerlang—gila—itu muncul di pikiran. Sedikit ragu karena si malaikat hanya datang disaat keadaan menyangkut nyawa, namun Junghwan tetap jalankan aksinya. Apapun hasilnya, demi melihat malaikatnya lagi, ia tidak masalah.

Berdiri di samping grand piano pemberian neneknya, Junghwan menerka-nerka sebaiknya berapa jari yang harus ia korbankan untuk menarik perhatian si malaikat. Lima, barangkali cukup?

Dengan satu tangannya menggenggam lid prop yang menahan tutup piano tersebut dan satu tangannya lagi yang ia biarkan bertengger di bawah lid grand pianonya—sudah siap untuk terjepit. Junghwan berhitung dalam hati untuk menarik lepas lid prop itu. Tepat pada hitungan ketiga dan ketika lid prop itu sudah tidak menahan tutup piano, Junghwan merasakan angin kencang menerpa dirinya dan tangannya yang sudah siap cedera ditarik dengan paksa.

BOOM!

"KAU GILA YA?!"

Teriakan nyaring itu beriringan dengan bunyi hantaman lid piano yang harusnya meremukkan jari Junghwan. Namun, hal itu tidak terjadi.

Karena malaikatnya datang.

Junghwan terperangah karena rencananya berhasil. Tidak sempurna, sih. Namun berhasil membuat entitas kesayangannya datang menghampiri.

"Kau datang."

"Tentu saja, bodoh!" malaikatnya—Dohoon-nya, menjawab dengan emosi menggebu. "Apa sih yang ada di pikiranmu?! Kau itu musisi, Shin Junghwan! Apa yang akan terjadi padamu jika tanganmu kenapa-kenapa?!"

"Aku tidak peduli soal itu," jawab Junghwan, masih mencoba menatap rakus eksistensi di depannya. "Musisi tidak pernah menjadi pilihanku." Ia lagi senang! Dohoon-nya begitu peduli padanya!

Dohoon-nya menatap nanar ke arah Junghwan. Barangkali merutuki nasibnya karena terjebak menjaga manusia seperti Shin Junghwan.

"Kumohon, berhenti merusak dirimu sendiri," ujar Dohoon sambil menggenggam erat tangan yang jika saja ia terlambat sepersekian detik maka sudah akan remuk bak rempahan kerupuk.

Dohoon membawa kedua tangan milik Junghwan kearah wajah mungilnya. Mata malaikat manis itu terlihat berkaca-kaca, lalu kepalanya menunduk untuk menyembunyikan wajah itu darinya, tidak mau Junghwan lihat. "Berhenti bertingkah aneh begitu." lirih Dohoon-nya pelan.

"Kalau begitu, teruslah bersamaku."

Napas Dohoon tercekat mendengar permintaan itu. "Jangan minta aneh-aneh." ujarnya memicingkan mata hitam pekatnya pada Junghwan.

Cantik. Semua yang ada pada diri malaikatnya begitu cantik dan sempurna buat dirinya tak bisa pangling.

Dan ya, Shin Junghwan sadar. Sadar betul bahwa mereka berdua adalah makhluk dengan fungsi dan alam yang berbeda. Keduanya bersama bukanlah hal yang wajar untuk dilakukan. Dohoon-nya bahkan jelaskan hal tersebut pada Junghwan dengan pelan. Mereka duduk di ceruk jendela yang berada di sudut ruangan. Keduanya masih berpegang tangan, meski sekarang sudah beralih pada Junghwan yang menggenggam malaikatnya itu.

"Tidak wajar, tapi boleh saja, kan?"

Dohoon terdiam tidak menjawab. Junghwan tersenyum manis karena ujarannya tidak dibantah.

"Kau tahu? Aku sangat kesepian sekali, Dohoonie." rengeknya pada si malaikat dengan raut wajah memelas dibuat-buat.

"Makanya cari teman sana, bodoh." Dohoon mencubit gemas lengan pemuda di depannya.

Menghela napas dengan dramatis, Junghwan berujar. "Manusia," ia berhenti sebentar untuk memberi jeda, menambah poin dramatisnya. "Sangat susah diajak bersosialisasi."

"Itu mah kau saja yang bertingkah seperti orang gila!" Dohoon beralih menekan kedua pipi Shin Junghwan geram. "Jika saja kau berhenti memberi orang-orang tatapan seperti itu, mereka pasti dengan senang hati menghampirimu!"

"Tatapan apa?" tanya Junghwan dengan tingkah sok polosnya.

"Tatapan seperti kau menganggap mereka adalah kerikil tak penting di hadapanmu! Tatapan dingin yang buat orang enggan untuk sekedar menyapamu!"

Sekarang Dohoon tengah berjalan bolak-balik dihadapan Junghwan dengan gerak-gerik tangan heboh untuk menjelaskan kelakuan menjengkelkan seorang Shin Junghwan. Junghwan terkekeh kecil menatap malaikatnya itu.

Kenapa bisa ia punya malaikat selucu itu?

"Nah! Begitu!" tunjuk Dohoon tiba-tiba. "Jika saja kau tersenyum begitu pada orang-orang, mereka pasti mau berteman dengan dirimu!"

Junghwan hanya tersenyum dan menjawab, "Tapi, ekspresiku yang ini hanya untuk Dohoon yang lihat."

Plak!

Pucuk kepalanya ditepuk dengan kuat buat Junghwan meringis kecil.

"Berhenti bersifat bak sosiopat! Sia-sia jika kau memiliki wajah wah seperti itu namun sifat jelek begitu!"

"Kenapa dengan wajahku?" tanya Junghwan dengan senyum penuh arti.

Pipi malaikat manisnya terlihat merona. Junghwan tidak tahu malaikat bisa malu dan memerah begitu. Tapi dia tidak akan komplain, karena Dohoon-nya sangat menggemaskan dengan rona merah yang menghias pipinya itu. Junghwan suka menjadi alasan dari pipi memerah itu.

"Ya begitu," ujar Dohoon sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. "K—kau bisa saja menarik perhatian banyak orang dengan wajah seperti itu—ah, persetan lah, bahkan meski dengan tingkahmu yang seperti bajingan, fansmu saja sudah banyak sekali." rona merah itu semakin menjalar hingga ke telinganya.

Buat Junghwan menatap gemas tingkah Dohoon-nya. Juga buat dia ingin menahan dan mengurung malaikat itu agar tak pernah pergi lagi meninggalkan dirinya.

"Oh iya juga," ujar Junghwan, lalu melakukan gestur pura-pura berpikir. "Jika tidak salah, kau pernah menyebut aku tampan saat kecelakaanku diumur 17? Atau 18 tahun?"

Sekarang Dohoon sudah merah semuka-muka. Junghwan rasanya bisa melihat asap yang mengepul dari kepala si malaikat. Ia teruskan menggoda Dohoon-nya.

"Bisa-bisanya saat aku baru mengalami kecelakaan hebat, kau malah fokus pada wajahku."

Kecelakaan itu terjadi sebulan sebelum ulang tahunnya yang kedelapan belas. Junghwan masih ingat jelas kejadiannya. Ia tengah duduk di kafe. Di bagian depan mengarah ke dinding kaca kafe, namun cukup jauh dari pintu masuk. Ia ingat sayup-sayup klakson mobil ditengah keramaian kafe. Ingat saat ia menoleh kearah kaca, mobil itu melaju kencang tepat di depan mata. Ingat suara ngilu pecahan kaca serta teriakan sekitar akibat mobil yang menabrak mereka. Ingat juga saat tubuhnya, entah bagaimana bisa terlempar cukup jauh kebelakang dan tidak terlindas kendaraan beroda empat tersebut.

Ulah malaikat pelindungnya pasti.

Meski terselamatkan dari tergencet mobil, ia tetap tidak bisa menghindari serpihan kaca yang menghantam dirinya. Wajahnya.

"Duh, kena muka tampannya," Junghwan samar-samar mendengar gumaman tersebut. Ia sudah diambang pingsan karena hempasan keras yang diterima badannya. "Apa kau akan baik-baik saja, Shin Junghwan?"

Ingat betul dia saat tangan hangat malaikat itu mengibas-ibas serpihan kaca dari rambutnya.

Erangan frustasi Dohoon terdengar oleh inderanya. Junghwan tertawa lepas melihat si malaikat menunduk berjongkok dengan menyembunyikan kepalanya yang sudah memerah hingga ke leher. Ia hampiri Dohoon dan ikut berjongkok disampingnya lalu menggasak surai legam malaikat itu.

"Gemasnya." bisik Junghwan tepat pada telinga malaikatnya. Dohoon merinding.

"JAUH-JAUH DARIKU, ORANG GILA!" pekiknya sambil mendorong Junghwan hingga pemuda itu berguling terlentang di lantai ruang musik sambil tertawa lepas.

Dohoon hanya menatap sangsi pemuda yang tengah menertawai dirinya sambil cemberut. Tawa Junghwan makin saja mengalun melihat ekspresi lucu Dohoon-nya itu.

Dia sudah jatuh terlalu dalam, tak ada lagi jalan keluar.

 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

 

Diumur 25, Junghwan lagi-lagi menghadapi keadaan diambang kematian.

Dirinya berada di kendaraan roda empat, hendak menuju tempat pernikahan teman karibnya yang ia kenal sekitar dua tahun lalu. Iya, malaikatnya terus saja memaksa Junghwan untuk mencari teman agar dia tidak kesepian.

Sejujurnya, asal ada Dohoon disisinya, Junghwan takkan pernah kesepian, kok.

Namun, ujung-ujungnya Junghwan menuruti perkataan malaikat itu saat dirinya diancam dengan Dohoon yang takkan kembali. Awalnya, ia anggap ancaman itu main-main.

Dohoon itu malaikat pelindungnya, kan? Mana mungkin ia meninggalkan Junghwan saat dalam keadaan gawat, benar? Tapi, ternyata Junghwan salah besar!

Sifat keras kepala malaikatnya itu tiada tandingan. Sekitar sebulan Junghwan dibuat uring-uringan. Berbagai macam tragedi kecelakaan ia mainkan, tetap saja tak satupun mampu buat Dohoon menampakan wajah manisnya!

Jadilah Junghwan—sebagai individu yang memiliki sifat lebih dewasa—mengalah pada malaikatnya itu. Dia mulai menegur orang-orang yang sekiranya seumuran saat berada di acara-acara besar. Jujur saja, orang-orang ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan. Junghwan sekarang memiliki setidaknya dua orang yang dapat ia percayai dengan tulus.

Namun, sudah dituruti pun malaikat manisnya masih jarang menemani Junghwan. Dirinya tidak menyukai hal ini, tidak suka harus jauh-jauh dari Dohoon-nya. Tidak terima harus pasrah dan berdiam diri saja saat Dohoon-nya mencoba menjauh dari dia.

Dan kebetulan sekali, sekarang ini Junghwan tengah berada di dalam mobil.

Menuju pernikahan.

Seperti yang ia bilang tadi, pernikahan yang akan ia datangi adalah pernikahan salah satu dari dua sahabatnya itu, Choi Youngjae.

Kebetulan juga, mobil yang dikendarai oleh supir keluarga itu melaju cukup kencang. Junghwan menopang kepalanya sambil menoleh ke luar jendela. Tersenyum tipis dan tanpa sadar terkekeh pelan.

Kebetulan lagi, Junghwan tadi pagi masih sempat mengotak-atik mobil yang selalu dirawat supirnya itu tanpa ketahuan. Serius, dirinya tak punya masalah pribadi dengan pak supir, Junghwan hanya ingin menguji sesuatu. Ingin mencoba hal baru, seperti...

Merusak rem mobil ini, barangkali.

Kejadiannya sudah ia prediksi. Maka ketika menuruni tanjakan dan laju mobil tak terhenti, dirinya menahan tawa geli, sedangkan wajah pak supir pucat pasi. Junghwan tersenyum membayangkan akan bertemu malaikatnya sebentar lagi, matanya tak lepas dari panorama di luar jendela yang mengabur akibat lajunya mobil mereka meluncur.

Menuju kematian.

Oh, dirinya benar-benar tidak bisa terselamatkan lagi, kan? Karena dia sungguh tidak butuh untuk diselamatkan siapapun kecuali oleh malaikat manisnya itu.

 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

 

Matanya terbuka.

Langsung saja manik itu bergulir ke sepenjuru ruangan untuk mencari sosok hitam yang menjadi jangkar hidupnya selama ini. Namun, nihil.

Tidak ada tanda-tanda keberadaan malaikat manisnya.

Junghwan mengerjap pelan, baru sadar kepalanya berdenyut kesakitan. Meski begitu wajahnya tetap datar, tetap tidak berekspresi bahkan saat sadar orang tuanya berada di ruangan menemani dia.

Karena mereka. Pasti karena kehadiran dua manusia ini yang membuat Dohoon-nya tidak menampakkan diri.

Junghwan menahan decakan kesal yang nyaris keluar dari bibirnya. Ia pandang sekilas ibunya yang memanggil dokter dan ayahnya yang memandangi balik dia, kemudian membuang muka dari keduanya.

"Pak Bong tidak selamat," suara berat ayahnya menyapa pendengaran Junghwan.

Oh, sungguh malang nasibnya, benak Junghwan berbicara.

"Apa tujuanmu Shin Junghwan?"

Pertanyaan itu dilontarkan dengan tekanan pada tiap katanya, buat Junghwan melirik ke arah ayahnya dan tersenyum tipis. Ketahuan rupanya.

"Ssh!" Ibu menginterupsi. "Apa yang kau bicarakan?! Berhenti mengganggu anakmu yang baru saja sadar!" Bisikan setengah berteriak itu buat ayahnya membuang napas kasar dan mengusap wajah lelah.

"Didikanmu buat anak ini menjadi gila." tuduhnya pada sang istri.

Shin Jieun, memasang wajah terkejut dan murka sekaligus, jari telunjuknya sudah teracung menekan-nekan dada sang suami. "Mengaca dulu, orang gila! Kalau kau bisa hadir juga untuk merawat anak itu selama ini dan bukannya membebankan segalanya padaku, maka hal-hal seperti ini tidak akan terjadi!"

Dan begitulah dua manusia bermarga Shin itu selalu bertingkah.

Anak ini. Anak itu. Shin Junghwan tak pernah sekalipun menjadi 'anak kita' di pandangan kedua orang tuanya.

Dirinya seperti beban yang tak diinginkan.

Memuakkan.

Junghwan memejamkan mata dan menulikan telinga. Berharap dokter atau perawat—yang mana saja—cepat datang dan menendang keluar dua manusia berisik ini. Dirinya ingin tidur selamanya saja...

Dengan begitu ia akan bersama malaikat manisnya, kan?

Namun, bisakah Junghwan masuk surga? Pantaskah dirinya berada disisi Dohoon-nya? Setelah semua yang ia lakukan?

Hah, apa pedulinya? Masuk neraka pun, tak akan menghentikan dia untuk bersama dengan malaikatnya.

Dia siap membumihanguskan segala hal yang menghalang jalannya.

 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

 

Tengah malam, dirinya terbangun akibat merasakan elusan lembut pada surainya. Sebelum matanya terbuka pun, senyum Junghwan sudah merekah dengan sempurna. Tangannya bergerak untuk meraih tangan kecil yang mengelus pelan kepalanya itu.

Namun, baru ia sadari sekarang bahwa kedua tangannya tak bisa ia gerakan.

Sayang sekali...

Netranya bertubrukan dengan netra kelam milik Dohoon. Malaikat itu memandang Junghwan dengan nanar.

"Hi," sapa Junghwan pertama kali. Tenggorokannya begitu kering sampai buat ia batuk-batuk kesakitan.

Dohoon dengan cepat menyodorkan segelas air padanya dan membantu dirinya minum—dengan satu tangan menopang kepala Junghwan dan satunya lagi memegang gelas ke depan wajahnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Ekor matanya menangkap wajah Dohoon yang terlihat duka. Junghwan membuka suara setelah minum dengan cukup dan mendudukkan dirinya dengan nyaman.

"Dohoonie—"

"Kumohon berhenti," Dohoon berucap dengan kepala tertunduk, tangannya meremat-remat seprai dengan kuat. "Kumohon jangan jatuh terlalu dalam lagi."

Junghwan terdiam. Cukup lama terdiam sambil melihat Dohoon yang tak kunjung menatapnya balik. Kemudian berucap dengan pelan.

"Tapi semuanya sudah terlambat, kan?" pertanyaan itu ia lontarkan dengan senyum kecil.

Tentu saja. Junghwan sadar dirinya sudah berada dititik paling dalam. Junghwan sadar dirinya baru saja menghabisi nyawa seseorang. Sadar bahwa ia bahkan tak merasa bersalah sekarang.

Jiwanya sudah terlanjur hitam, terlanjur kotor.

Pandangannya tiba-tiba menggelap. Dirinya didekap dengan erat oleh sang malaikat. Junghwan tak bisa menghentikan senyuman yang merekah di bibirnya. Terlampau bahagia oleh pelukan hangat untuk memikirkan dosa yang ia perbuat.

Pelukan itu semakin mengerat.

Junghwan menyayangkan tangannya yang cacat karena tidak bisa mendekap kembali tubuh kecil sang malaikat. Namun, tidak apa, semua keinginan tentunya ada bayaran, kan? Tangannya adalah bagian dari bayaran itu. Hal yang impas bagi Shin Junghwan.

"Kumohon berhenti," bisik Dohoon putus asa. "Berhenti berpikir dan lakukan hal-hal yang membuatku tak bisa menyelamatkanmu lagi nanti."

Berhenti dan kumohon, kata-kata itu terus saja dibisikan padanya seperti rapalan doa. Junghwan tidak masalah sama sekali. Dia tidak akan pernah bosan atau jenuh mendengar suara merdu Dohoon-nya.

Telinga Junghwan terkena tetesan air, ia dibuat tertegun sebentar sebelum menduselkan kepalanya pada dada malaikatnya sebagai gestur menenangkan. Isakan itu terlampau pelan, namun masih bisa Junghwan dengar. Kepalanya semakin ia tenggelamkan dalam dekapan yang Dohoon berikan, sementara malaikatnya menangis dalam diam.

Junghwan hanya bisa menajamkan telinganya. Menangkap suara-suara sekecil apapun yang malaikatnya buat, tanpa berani merusak kesunyian yang menemani mereka.

Yang ia dengar hanya isakan.

Yang ia sadari selanjutnya adalah tidak adanya detakan.

Junghwan memejamkan mata. Meluruhkan seluruh beratnya pada dekapan si malaikat. Hatinya sedikit mencelos saat menyadari lagi bahwa mereka benar-benar dua makhluk yang berbeda.

Makhluk hidup yang hatinya sekarang luluh lantak dan makhluk astral yang hatinya tak lagi berdetak.

Namun perasaan sedih itu hanya hinggap sebentar saja. Hatinya kembali gembira lagi, berdetak lebih cepat lagi, saat menyadari bahwa malaikatnya peduli. Begitu peduli.

Junghwan bersumpah akan mengakali kematian sekalipun demi bersama Dohoon lagi.

Notes:

⋆⋅☆⋅⋆