Work Text:
Tidak banyak hal yang Tsukinaga Leo ketahui tentang akuarium.
Bagi Leo, akuarium adalah tempat agar ikan-ikan dan berbagai jenis biota laut dapat tertampung dan menikmati kehidupan walau bukan pada teritori asli mereka.
Ketika kaki kecilnya melangkah memasuki lorong-lorong berkaca raksasa, ada perasaan yang tak dapat terdefinit. Pemandangan ini adalah yang pertama bagi Leo—sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayang-bayangkan, kini terbentang nyata di hadapannya. Suara gemuruh air bergema bagai ombak yang menepi ke pantai, seakan-akan menyambut kedatangannya. Deretan ikan bergerak perlahan seolah ikut menyapa.
Ia berdecak kagum menatap ke sekeliling tanpa jeda. Riuh pikiran di benaknya perlahan mereda, tergantikan oleh rasa takjub yang begitu memikat.
Matanya berbinar. Layaknya bocah, Leo berlari kecil menyusuri lorong, tak henti mengagumi akuarium raksasa yang mengelilinginya dari segala arah. Kepang rambutnya berayun-ayun mengikuti langkah si gadis. Ia mengetuk pelan kaca pembatas, lalu tersenyum geli saat melihat puluhan ikan membentuk formasi simetris.
Rasanya begitu menyenangkan berada dalam akuarium super besar ini. Seakan Leo benar-benar terjatuh ke dalam lautan luas, lalu arus tak kasatmata bersama para kawanan ikan menariknya turun perlahan, menyelami kedalaman yang tenang dan nyaris tak bersuara.
Satu per satu, pikiran yang semula berisik di kepalanya turut larut dan hanyut bersama arus yang tak terlihat. Yang tersisa hanyalah rasa hening yang aneh namun menenangkan—dan Leo menyukainya. Sebuah ketenangan yang tidak pernah ia temukan di titik manapun.
Leo mengembangkan senyum, matanya masih berbinar mengikuti gerakan ikan-ikan yang melintas perlahan di balik kaca raksasa itu. Cahaya kebiruan yang memenuhi ruangan sempat membuatnya terdiam sejenak.
Langkah Leo menjadi lebih pelan. Sesekali gadis itu berhenti, menatap lebih dekat makhluk-makhluk yang belum pernah ia temui sebelumnya. Senyumnya tak pernah benar-benar hilang, seperti anak kecil yang sedang menemukan dunia baru untuk pertama kalinya.
Kemungkinan untuk kembali ke tempat ini tentu selalu ada. Namun, ketika mengingat jarak antara rumahnya dan akuarium raksasa di tengah kota yang begitu jauh, harapan itu perlahan terasa seperti sesuatu yang sulit digapai. Kunjungan ini barangkali akan menjadi momen yang jarang terulang.
Leo berusaha mengingat semuanya—warna airnya, cahaya biru, ikan-ikan dan biota laut yang menyambut dari balik kaca, dan perasaan hangat yang menjalar tumbuh di dadanya. Ia mengumpulkan setiap detail, seolah kenangan ini harus cukup untuk mengisi hari-hari panjang yang akan datang.
Tidak apa-apa, siapa tahu Suou Tsukasa akan mengajaknya kembali lagi dalam waktu dekat.
