Chapter Text
Junhan selalu mengantuk. Dia bisa tidur di mana pun dan kapan pun, kenyamanan bukan preferensi selama dia menemukan permukaan datar, tempat duduk (keras atau tidak, dengan sandaran atau tanpa sandaran), dia bisa dengan mudahnya menghilang ke alam bawah sadar dalam sekejap. Aku bahkan pernah melihatnya tertidur sambil berdiri (serius!), dia hanya perlu menyilangkan tangan dan menundukan kepala.
Hal yang patut disyukuri adalah secepat dia tidur, cepat pula ia bangun. Namun, agenda santai-santai berduaan tanpa melakukan apa pun adalah godaan dan kencan piknik merupakan kemewahan, seolah menikmati buah di kebun buah. Terlena.
Saat ini Junhan mulai bersandar di bahuku, sedikit-sedikit melirik dan mengangguk ketika aku mengatakan sesuatu. Kepalanya semakin turun setiap menitnya dan berakhir mendarat di pangkuanku.
Aku membelai helai rambutnya yang masih lembut karena dia baru saja keramas kemarin. Seakan teringat sesuatu, aku tertawa.
"Kenapa?"
"Dua hari lalu, kita mati listrik kan, terus air juga ikut mati. Jooyeon lagi keramas dan teriak-teriak, terus keluar gak pake baju—" aku menyela ucapanku sendiri saat melihatnya berkedip-kedip lambat. "Jangan tidur,"
"Enggak."
Junhan malah membalikan kepalanya ke perutku mendongak dengan senyum nakal, jari-jarinya yang panjang masuk ke sela-sela kausku dan mengelus-elus kecil di kulit yang terbuka. Tidak banyak orang di luar jadi aku membiarkannya.
"Aku bilang apa coba?"
"Jooyeon teriak-teriak kayak orang gila dan gak pake baju." Aku terkekeh pelan dan menatap matanya yang sayu.
"Kamu boleh deh, tidur."
"Beneran?" Aku mengangguk.
"Aku tidur dulu ya." Kira-kira sekitar lima detik setelah Junhan memejamkan mata, ia bergumam, "bangunin kalau kamu bosen."
Jadi aku meraih buku yang aku pinjam di perpustakaan (harus dikembalikan hari kamis kalau tidak mau kena denda) dan mendengarkan musik lewat earphone. Sementara tanganku yang tidak sibuk terus memain-mainkan rambutnya. Aku tidak menghitung berapa lama, tapi saat kakiku merasakan kesemutan, aku membangunkannya. Dia tampak kalem (berarti tidurnya cukup).
𖦹
Lalu beberapa hari berikutnya, Junhan datang ke kamarku, tujuannya adalah menonton bersama.
Aku bersandar ke dadanya sementara dia melingkari tubuhku, tapi lama kelamaan pegangannya semakin lemah dan tidak yakin, aku menengadah untuk memeriksa dan mendapatinya sudah terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Aku memutar mataku walau sebenarnya tidak kesal dan mencoba tenang untuk menyelesaikan film. Tetapi setelah film berakhir pun dia masih nyaman dengan situasinya. Aku bisa saja membangunkannya dia pasti langsung terjaga, sebaliknya aku berhati-hati keluar dari pelukannya dan menemui ikan-ikan gupi yang sudah tiga bulan bersamaku.
"Hei."
"Pagi," dia tersenyum malu-malu sambil mengurut pelipisnya. "Kok, kamu bangun?"
"Kamu gak ada."
Aku menghampirinya dan dia buru-buru meraih pinggangku dan membenamkan kepalanya di tubuh bagian depanku, menggosokkan wajahnya beberapa kali seperti kucing yang mencari perhatian. Masih berdiri. Aku menarik rambutnya dan membuatnya melihat menghadapku.
"Besok kita keluar aja, mau?" Kata Junhan, aku mengangguk. Jari telunjukku membuat pola memutar di surainya sementara dia membimbingku untuk duduk di pangkuannya.
"Rambut kamu makin panjang," dia menggumamkan sesuatu. "Aku mau kepang rambut kamu."
"Kamu boleh kepang rambutku kalau aku tidur,"
"Eum... " Junhan mengecup beberapa kali ke daguku sebelum turun ke leher.
𖦹
Tidak sampai satu minggu kemudian, sesuai rencana, aku akan mengepang rambutnya kalau dia tidur (dan memang dia lebih sering tertidur). Posisinya menyamping, jadi aku membuat dua kepangan kecil di sebelah kanan rambutnya dan diikat dengan karet yang Junhan beli dan dia simpan di kamarku.
Hasilnya tidak begitu bagus tapi dia tidak mengeluh dan memakainya sampai keesokkan harinya.
.
Hari ini kami makan siang setelah selesai latihan, aku menyadarinya saat dia menyuapiku dengan potongan daging yang aku pinta.
"Cat kukunya hampir ilang." Dia mengecek ke kukunya sendiri.
"Ya, gak pernah awet. Gimana kalau kamu cat ulang waktu aku tidur," dia menyeringai, aku membulatkan mata sebesar piring.
"Tapi nanti berantakan, aku gak bisa."
"Bisa. Kalau berantakan tinggal di bersihin."
"Hm. Aku pilih warnanya boleh?" aku melihat-lihat kukunya, "jangan item melulu."
"Boleh, sayang." Katakan, berapa lama waktu yang harus dihabiskan agar aku tidak lagi tersipu kalau dia menyebut sebutan-sebutan cinta.
𖦹
Biru gelap, biru tua yang elektrik, biru caroline. Aku pikir warna biru akan cocok buatnya. Terbukti benar atau pikiranku mengatakan itu benar. Junhan tertidur di atas sofa kamarnya sementara aku terduduk di bawah lantai yang berkarpet.
Alisku sudah berkerut-kerut dan mataku sakit karena harus fokus di satu titik, bagaimana orang lain melakukannya, mulai dari tengah bawa kuasnya ke depan, lalu ke samping-samping (oke keluar garis), tanganku gelagapan selagi Junhan menemukan kedamaian dan mendengkur ringan.
Betapa frustasinya seluruh anggota badanku ketika menyelesaikan sapuan terakhir. Jenuh dan pegal-pegal.
"Udah?" tanpa aba-aba, aku mendapatkan pengalaman jiwaku hampir keluar dari tubuhku ketika melihatnya menatap. Refleksku berkata ingin memukulnya tapi untungnya tidak.
"Kapan kamu bangun?!"
"Tadi," dia menarik tangannya, lalu meniup kukunya yang belum kering sambil menilai-nilai. "Lumayan kok, bagus."
"Beneran?"
Dia menangguk, "tinggal dirapihin dikit aja."
"Katanya bagus."
"Masih belepotan dikit." Junhan, membawa kepalaku dengan pergelangan tangan untuk mendekat ke arahnya, lalu mencium lama-lama keningku. "Makasih," turun mencium bibirku. "Nanti lagi ya."
Aku mengerang.
