Chapter Text
“Zhang Zhexu.”
Zhang Zhexu terbangun oleh suara manis di telinganya.
Ia sontak berdiri dari posisi tidurnya yang nyaman, menatap tajam sosok tak dikenal yang mendadak muncul di kamarnya. Pria asing itu duduk di sisi kanan kasurnya yang biasanya kosong. Tubuh pria itu kurus, terbalut pas oleh sweater abu-abu favoritnya. Rambutnya hitam kelam, tersisir rapi ke bawah membingkai kedua bola mata lebar nan familiar yang mengerjap pelan ke arah sang tuan rumah. Jika bukan karena akal sehatnya, Zhexu mungkin saja terlena oleh wajah lugu seperti itu.
Napas Zhexu sedikit tercekat saat bertanya, “Who are you?”
Pria asing itu hanya tersenyum tipis padanya.
“Hai, aku Mi Jin. Istri kamu dari masa depan.”
Bahasa Mandarin. Sempurna seperti penutur aslinya.
Suatu hal yang jarang terdengar di Italia.
Ada banyak pertanyaan di kepala Zhang Zhexu waktu mendengar kalimat seperti itu. Mulai dari, mengapa pria itu bisa ada di kamarnya, mengapa mengenakan sweater favoritnya, dan mengapa ‘istri’ kendati orang ini jelas adalah pria? Tentu saja, ia tidak bisa percaya dengan pernyataan konyol seperti itu. Mi Jin ini jelas adalah orang gila yang menerobos masuk ke apartemen sempitnya!
Maka, ia segera merogoh ponselnya lalu panik menelepon polisi. Mulutnya komat-kamit, berbicara dengan bahasa Italia yang sudah ia kuasai setelah tinggal di negeri asing ini beberapa tahun lamanya. Sang pria asing hanya terdiam dan terkekeh menatapnya. Bulu kuduk sang tuan rumah pun merinding hanya dari menatap wajahnya.
“Telpon saja, aku mau turun ke bawah.”
Mi Jin melenggak pergi membuka pintu kamarnya seolah sudah hafal dengan seisi apartemennya. Zhexu pun mengejarnya, lalu mendapati si penyusup itu berjalan ke luar dan turun tangga untuk duduk di bangku tepi jalan dengan tenang. Beberapa tetangga yang lewat bahkan disapa dengan ramah oleh pria tersebut. Telinganya menangkap samar bahasa Italia yang juga fasih, bahkan lebih dari dirinya yang sudah hampir empat tahun di sini.
“Duduk?” tanya Mi Jin sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Tidak ada reaksi. Zhexu hanya menggenggam erat ponselnya, mengerutkan alis tidak paham dengan tingkah abstrak pria gila itu. Syukurnya, polisi segera tiba dan ia bisa menjelaskan semuanya sambil menunjuk-nunjuk Mi Jin yang tampak menggoyangkan kaki santai menyapa seekor anjing poodle yang lewat di trotoar. Polisi berbadan gempal itu hanya memicingkan mata, lalu menoleh kembali pada sang pelapor seperti dirinya lah yang gila.
“Tuan Zhang, saya rasa tidak bijak menuduh seseorang yang hanya duduk santai di bangku tepi jalan.”
“Tapi, tadi pria itu sungguh masuk ke kamar—”
“Baiklah, saya coba berbicara dengannya.”
Zhang Zhexu pun menggigit bibirnya dengan rasa tidak nyaman dan gelisah. Sang polisi dan si pria penerobos itu justru kini saling tersenyum seperti sahabat karib yang sudah saling mengenal begitu lama. Sungguh, kenapa polisi itu tampak lebih baik pada pelaku ketimbang pada korbannya? Pria berseragam itu segera kembali pada dirinya yang berdiri di depan pintu lalu menepuk pundaknya.
“Membuat laporan palsu yang menyulitkan polisi itu bisa dikenai pidana, Tuan Zhang. Aku lepaskan kali ini. Mungkin kau tidak tahu karena kau pendatang. Namun, jangan sampai terjadi lagi.”
Saat polisi itu hilang dari pandang, Mi Jin sudah berdiri dengan santai di hadapannya sambil tersenyum ringan.
“Mau makan siang?” tanyanya.
***
Zhang Zhexu pura-pura tidak menyadari ada seseorang yang mengikutinya. Saat diam-diam melirik ke belakang, alis tebalnya langsung berkerut tidak suka. Padahal, ia sudah berjalan cukup jauh dari apartemennya, tapi pria tinggi itu masih saja ada di sana mengekori langkahnya. Setiap kali ia menoleh ke sana, Mi Jin hanya tersenyum manis saja tanpa banyak bicara.
Tidak tahan lagi, ia pun memutuskan untuk mempercepat langkah, lalu berbelok ke jalan kecil tempat restoran langganannya berada. Tempat itu tidak besar, hanya rumah makan sederhana yang sering ia datangi untuk makan siang. Ia pun mendorong pintu kaca restoran dan bel kecil di atasnya berdenting pelan. Bapak tua dengan kumis putih di meja kasir yang merupakan pemilik restoran bahkan sudah mengenali wajahnya dan menyapanya dengan senyum lebar.
“Adrian! Welcome!”
Zhexu hanya mengangguk kecil menanggapinya.
Aroma kopi, saus tomat, dan roti panggang bercampur menjadi satu begitu menggugah seleranya. Ia pun duduk di meja pojok, agak jauh dari jendela. Di sudut ruangan, televisi tabung tua menyiarkan acara bincang-bincang berbahasa Italia yang tidak begitu menarik baginya. Seorang pelayan datang menghampiri dengan buku menu dan catatan kecil di tengannya.
Zhexu melihat menu sebentar, lalu menunjuk salah satu.
“Kopi satu,” katanya. “Dan makanannya… yang ini saja.”
Pelayan itu mengangguk, bersiap pergi. Namun, sebelum perempuan muda itu sempat melangkah jauh, kursi di depan Zhexu tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Seorang pria bertubuh jangkung duduk dengan santai di sana. Pria yang sama yang telah mengekorinya sedari tadi sudah memposisikan diri di hadapannya dengan raut wajah cerah.
“Satu raspberry tea ya,” katanya pada pelayan. “Less sugar. Oh, makanannya juga samakan saja. I'm with him.”
Pelayan itu menoleh sebentar antara mereka berdua, lalu hanya mengangguk sebelum mencatatnya di buku dan pergi. Zhexu menutup matanya sejenak, lalu menarik napas panjang. Sungguh, pria ini keras kepala sekali! Ia tidak mengerti apa yang orang asing ini inginkan dari dirinya. Matanya pun dengan tajam menatap wajah pria itu, meneliti ekspresi lugunya yang tersenyum tanpa rasa bersalah.
“Siapa namamu tadi?” tanyanya akhirnya.
“Mi Jin.”
Restoran kecil itu terasa makin sempit sekarang. Lampu kuning hangat menggantung rendah di langit-langit, memantulkan cahaya lembut ke meja kayu mereka. Mi Jin hanya menyengir pelan sambil menumpu dagunya di tangan. Mata bulatnya tidak lepas dari lawan bicaranya, seperti penuh harap. Dihadapkan dengan seseorang seperti itu, entah mengapa Zhang Zhexu jadi merasa tidak tega dan tidak bisa mengusir pria ini. Ia pun bersandar ke kursinya.
“Baiklah, Mi Jin, aku akan membayar makan siangmu hari ini.”
Mendengar kata-kata itu, si manis hanya tersenyum lebar. Ia tanpa tahu malu diam-diam berbisik dua patah “terima kasih” pada Zhang Zhexu. Sungguh, seperti anak kecil yang mendapatkan permen gratis. Zhexu hanya bisa memijat keningnya pelan lantaran pusing harus berbuat apa dengan Mi Jin yang tiba-tiba menggangu pagi cerahnya. Ia harap, makan siang yang ia bayar ini bisa membuat pria itu pergi dan berhenti merusak harinya.
“Setelah itu, tolong akhiri semua ini. Apakah ini semacam prank dari stasiun televisi? Mengapa kau mengikutiku seperti ini?” tanya Zhexu.
Mi Jin pun menggeleng kecil.
“Bukan,” jawabnya ringan. “Aku memang istrimu dari masa depan.”
Zhang Zhexu menatap Mi Jin selama beberapa detik, mencoba memastikan apakah pria itu serius atau benar-benar sudah gila. Ia pikir tadi pagi ia salah mendengar, terlebih mengingat telinganya yang memang kadang suka tidak benar. Namun, pria di depannya ini kini mengulangi kalimat serupa seolah mereka sungguh pasangan yang pernah saling menikah.
Istri?
Mata Zhexu memindai kembali pria di hadapannya itu yang kini sibuk menerima makanan dan minuman yang baru saja dihantar oleh sang pelayan. Perlu diakui, wajah Mi Jin memang terbilang ‘cantik’ dengan mata bulat dan bulu mata panjang. Bibirnya yang tebal juga merah membuat penampilannya terlihat lembut dan indah untuk ukuran seorang pria. Namun, tadi saat mereka berjalan, pria itu bahkan tampak sedikit lebih tinggi darinya. Ah, bahunya juga lebar dan jelas-jelas punya jakun yang menonjol di lehernya.
'Istri' dilihat dari sebelah mana?
“Dengar,” kata Zhexu tegas, “aku tidak tertarik pada—”
“Pria?” potong Mi Jin.
Zhexu langsung terdiam karena pria itu seolah tahu betul akan apa yang hendak ia ucapkan. Ia mengerutkan alisnya, merasa bahwa pria di hadapannya ini sungguh janggal. Ah, tidak, pria itu sepertinya hanya sembarangan saja menerka orientasi seksualnya dan kebetulan benar. Namun, kalimat berikutnya semakin membingungkan Zhexu.
“Sekarang mungkin kau belum menyadarinya, tapi nanti aku akan jadi pacar pria pertamamu. Kalau kau tidak percaya, tanya saja apa pun tentang dirimu. Apa saja.”
Mi Jin tersenyum pelan, kemudian melanjutkan ucapannya dengan percaya diri, “Aku tahu semuanya tentang dirimu.”
Zhexu menatapnya lama kemudian menarik napas panjang.
“Baik,” katanya. “Ulang tahunku?”
“27 September 1999,” jawab Mi Jin tanpa ragu. “Aku dua tahun lebih muda darimu.”
Zhexu mengedipkan matanya pelan. Baiklah, itu adalah informasi dasar yang bisa pria itu dapatkan dengan mudah jika punya akses internet. Sebab, dirinya memang pernah mengunggah foto ulang tahunnya di media sosial. Tidaklah sulit melakukan perhitungan dasar dari satu postingan tersebut.
“Kuliah?”
“Beijing Film Academy,” jawab Mi Jin. “Tapi kau tidak langsung diterima. Kau gagal beberapa kali dulu sebelum akhirnya lolos.”
Pria itu sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
“Tugas akhirmu film pendek berjudul 'Risperidone'. Kau mengirimkannya ke beberapa festival film kecil dan salah satunya menang. Dari situ, kau mulai mendapatkan koneksi pertama untuk masuk ke industri film.”
Ekspresi Zhexu berubah sedikit karena pria itu tahu cukup banyak soal dirinya. Meski begitu, ia tentu saja masih merasa skeptis dengan Mi Jin. Lagipula, informasi mengenai film pendek dan latar belakang edukasinya ini adalah informasi yang bisa mudah digali karena ia memposting portfolio secara online. Mungkin si penipu gila ini memang melakukan riset mendalam untuk mengetahui detail dirinya.
“Nama kedua orang tuaku?” tanya Zhexu lagi.
Ia yakin pria itu tidak akan bisa menjawab pertanyaan satu ini. Zhang Zhexu tidak pernah memposting apa pun tentang mereka. Namun, Mi Jin secara mengejutkan menjawab tanpa jeda. Nama ayah. Nama ibu. Tanggal lahir keduanya. Kota asal keluarga mereka. Pekerjaan mereka.
Pria itu bahkan menambahkan santai, “Kau lebih dekat dengan ibumu dibandingkan ayahmu.”
Zhexu tidak langsung bicara dan menelan ludah sejenak. Jari-jarinya mengetuk meja pelan dengan gelisah. Ada rasa tidak nyaman yang perlahan muncul di dadanya. Ia menyesap kopi perlahan untuk memenangkan dirinya. Tidak, tidak mungkin pria gila di hadapannya ini benar-benar tahu segalanya tentang dirinya.
“Saudaraku?”
Itu sebenarnya adalah pertanyaan jebakan. Zhang Zhexu tidak memiliki saudara dan ia yakin pria itu pasti akan gagal menjawab kali ini. Namun, Mi Jin hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan itu kemudian memiringkan kepalanya sejenak — seperti sudah tahu apa trik yang sedang dimainkan oleh si lebih tua.
“Kau anak tunggal.”
Sial, mengapa pria itu tidak terjebak?
“Kenapa aku di Italia sekarang?” tanya Zhexu lagi.
“Kau sempat bekerja sebagai kru dalam salah satu film dari negara kita yang syuting di sini. Setelah produksi selesai, kau berkenalan dengan seseorang dari production house lokal. Mereka menawarimu kontrak kerja sementara. Kontraknya sudah selesai beberapa minggu lalu, tapi visamu masih berlaku. Jadi kau memutuskan tinggal lebih lama.”
Matanya langsung ke arah Zhexu, “Kau ingin membuat film sendiri selama masih bisa tinggal di Italia. Kau sedang menulis naskahnya kan, Tuan Sutradara?”
Zhexu tidak berkedip dan tidak bersuara. Ia sama sekali belum pernah memberitahu siapapun bahwa ia sedang menulis sesuatu. Draft itu sudah berdebu di laptopnya, tidak tersentuh beberapa bulan ini. Bagaimana bisa pria yang baru ia temui tahu akan hal itu? Beberapa detik berlalu dalam diam begitu saja. Hanya ada suara bising restoran yang menjadi latar belakang mereka.
Mi Jin lalu menatap langsung ke mata Zhexu, masih dengan ekspresi manis dan misterius yang sama.
“Masih mau bertanya lagi?”
TBC.
