Actions

Work Header

Banyu

Summary:

Antar galon bonus sepong, katanya. Khusus buat yang ganteng-ganteng aja, tambahnya.

Work Text:

 

Semuanya pasti dimulai dari coba-coba.

“Mas, pelan-pelan aja,” kata si muka bule, tangannya udah pegang pundak yang lagi jongkok di lantai. Matanya sayu, hidungnya mengkerut, desahnya lepas waktu yang lain berhenti nyedotin kepala kontolnya.

“Gak bisa, Mas. Saya harus anter galon lagi habis ini.” Selesai bicara, mulutnya langsung dipakai buat ngokop burung peranakan Amerika.

Vernon sekarang nyender ke belakang, bagian bawah punggungnya nempel ke meja cor-coran yang harusnya jadi tempat masak. Kaos longgar yang kain lengannya dipotong sendiri, jadi singlet yang ukurannya jelas kebesaran, mulai nempel ke kulitnya yang keringetan. Celana yang awalnya dipakai dari tadi ditinggal di kamar, bahkan sebelum si tamu datang. Sekarang kolor warna abu itu selesai ditarik sebatas paha supaya mereka bisa saling menikmati.

Galon yang baru diantar masih duduk di lantai, di bawah dispenser, sebelahan sama galon kosong yang mau ditukar—gak jauh dari dua adam yang kelewat birahi.

Si tukang galon, Diki, dari tadi gak berhenti ngasih servis tambahan.

Antar galon bonus sepong, katanya. Khusus buat yang ganteng-ganteng aja, tambahnya.

Satu tangan megang pangkal kontol si pelanggan, kepala maju-mundur supaya mulutnya bisa nikmati batang itu keluar-masuk dari mulutnya. Gak jarang tangan yang udah basah karena liur digerakin ngikutin atau ngelawan gerak mulutnya. Batang yang berhasil dibuat tegang akhirnya jadi licin, bunyi becek ikut-ikutan menuhin dapur tanpa ventilasi.

 

 

Habis itu, pasti ada yang mau lagi.

Vernon minta diantar galon lagi, padahal air galon di kontrakannya belum habis.

Diki sempat nolak karena jalanan mulai sepi dan kios mau tutup.

Udah kelewat malem, alasannya.

Satu hal berujung ke hal lain, galon yang segelnya belum dibuka sekarang udah ditinggal di teras.

Kurang peduli sama pintu yang belum ditutup, si tukang galon diminta duduk di ruang tamu. Sabuk dan resleting dibuka buru-buru sebelum kain celananya ditarik supaya lepas sempura dari kakinya. Yang punya tempat ikut jongkok, lututnya istirahat di lantai, badan dikurung di antara kaki si kurir air. Jemari pucatnya meremas paha berotot yang mengukung kiri-kanan pundak.

“Pelan-pelan aja, Mas,” ucap Diki. “Kaya kata Masnya tadi, habis ini saya gak ada galon buat diantar lagi, kok.”

 

 

Kalau ada yang minta lagi, hampir mustahil kalau gak diberi.

Ludah mendarat di antara belahan pantat Vernon. Gak lama, lidah nyusul, menyapu kulit mulusnya sebelum godain lubang yang keriput. Gak jarang giginya ikut main-main, ninggalin jejak samar di satu sisi gunung sebelum pindah sisi yang lain terus berakhir ke kawahnya lagi.

Lengan Vernon dipakai jadi tumpuan biar badannya gak jatuh ke depan, ke permukaan meja yang hari ini belum dipakai sesuai fungsi. Punggungnya melengkung tiap Diki remas paha dan tarik pinggulnya ke belakang supaya bisa menikmati lubang yang belum longgar. Apa daya, peluh akhirnya mulai jatuh ke muka meja, ke sekitar mie instan yang ditinggal sama telanjangnya.

Yang bungkusnya berhasil dibuka tapi gak segera dimasak. Yang remah kuningnya rontok kemana-mana—gak sedikit yang jatuh ke lantai.

Di belakang sana, permainan makin panas. Liur sama keringat campur lebur, wajah ganteng akhirnya dibuat berantakan. Kepalanya manggut-manggut, rahang dibuka sebelum ditutup, udara panas dihembus dari hidung yang mancung ke kulit putih yang mulai jadi merah.

Vernon desah gak karuan. Kakinya gemetar, tangan gak kuat nahan beratnya sendiri. Badan akhirnya jatuh, biar istirahat di meja, sewaktu digit asing berhasil nembus lubang boolnya.