Work Text:
Ada tujuh peluru yang bersemayam di tubuh Lee Chan. Tiga di tangan dan empat lainnya di kepala. Tubuhnya hancur, penuh lebam di mana-mana. Seperti bentuk dendam yang dihujan habis-habisan.
Tapi ini adalah Lee Chan. Ia tak banyak cari perkara. Lebih sering bekerja dari balik meja. Susun berita, sampaikan apa yang politisi bicarakan di balik singgasana. Sejatinya ia tak lebih dari pemuda banyak kata. Atau barangkali kata-kata itulah yang buat dia celaka. Apalagi beberapa hari lalu, mukanya habis muncul di televisi perkara laporan kasus penggelapan dana.
Seungcheol menyampaikan pembicaraan yang ia dengar dari lapangan. “Banyak orang mengincar kepalanya. Kebanyakan suruhan dari atas. Kiriman bangkai tikus, babi, dan siram air keras.”
Sesekali Jeonghan pergi untuk mengintai. Jaket jeans lusuh di antara para mahasiswa, atau polo hitam luntur di kursi penjaja makanan pinggir jalan. Membaurkan diri agar orang lain memandangnya seperti sosok yang lugu tak mengerti keadaan. Berusaha cari aman. Toh, bukan cuma orang-orang berseragam hijau keji itu yang boleh melakukan penyamaran.
Belakangan ini, selalu ada yang cari masalah. Kebanyakan disebabkan karena rasa saling curiga. Pelengseran diktator lama cuma formalitas pergantian diktator-diktator baru. Jejak-jejak yang telah tertanam akan terus dilanggengkan, tak akan habis kecuali ditumpas sampai ke akar—seperti yang pernah terjadi puluhan tahun lalu; ribuan orang yang ditumbalkan hanya karena gambling kekuasaan. Pertumpahan darah yang dirampas dari buku sejarah oleh orang-orang yang memenangkan permainan.
Hingga kini, belum ada yang bisa menghapus kelicikan tikus-tikus di kursi para politisi. Potensi kerusuhan terjadi masih tinggi. Jisoo selalu khawatir dengan rekan-rekannya yang turun langsung ke jalan. Di waktu yang panas seperti ini, siapapun bisa jadi target kemarahan. Dari atas atau bawah; tak pandang bulu. Apa yang terjadi pada Lee Chan, bisa terjadi juga pada Seungcheol, Jisoo, atau bahkan Jeonghan….
Kendati mereka lebih sering bekerja menganalisis kasus dari bilik kantor, bukan berarti ancaman betul-betul terhalang.
“Pemuda malang,” gumam Jeonghan. Ia memperbaiki letak kacamata di hidung. Tampaknya baru saja menyelesaikan satu berita di pagi hari ini. Tugasnya menumpuk setiap hari.
Sepuluh tahun setelah pelengseran, kondisi negeri masih berantakan. Orang-orang seperti mereka tak punya waktu bersantai. Selalu ada gerakan-gerakan—yang diam-diam dirancang—di balik ketenangan palsu.
Katanya, jurnalis itu seperti anjing pengawas, watchdog, salah satu tugasnya adalah untuk memastikan tiga pilar kekuasaan menjalankan tugasnya dengan sewajar-wajarnya. Dituntut netral juga. Tidak boleh terlalu mencela. Sebab, mereka-mereka yang terlalu keras akan berakhir tragis seperti Chan, atau seperti pemuda-pemuda yang hilang di pintu biliknya. Kebanyakan diancam dan diculik.
“Kakak laki-laki Chan baru tiba di bandara sore ini. Terbang dari Thailand,” terang Jeonghan.
Kasus Lee Chan sudah menjadi sorotan sejak kemarin. Kantor berita mengabarkan, televisi—yang tak dibungkam—pun menyiarkan. Sebagian radio yang masih hidup turut menyampaikan.
Satu-satunya keluarga yang tersisa dari Lee Chan adalah kakak tirinya. Selain itu, Chan menghabiskan banyak waktu dengan rekan-rekan kerjanya saja. Pemuda itu sering bepergian. Entah mencari apa. Kepergiannya hari itu tak meninggalkan tanya, seperti sudah biasa. Kawan-kawannya baru merasa kehilangan dan menyesal setelah mayatnya ditemukan.
Seperti Jeonghan, Jisoo ikut memperhatikan foto Chan di layar laptop. Seperti ada perasaan getir setiap kali melihatnya. Namun, di saat seperti ini, Jisoo tetap teguh pada kewajibannya untuk objektif.
Tubuh itu tergeletak pasi di rawa dekat jalan pedesaan. Alih-alih memori, Jisoo berusaha mengalihkan sudut pandang. Soal motif. Pembunuhnya pasti tak punya cukup banyak waktu untuk mengurus mayat itu. Ada percobaan untuk memotong kaki dan tangannya, tapi lukanya tampak sangat berantakan. Seperti bekas pisau dapur yang digesekkan berkali-kali karena tak tajam.
“Tak akan sulit menemukan pelaku. Pertanyaannya, siapa dalang di belakangnya?” Seungcheol menyesap kaleng kopi terakhirnya. Lantas dilempar sembarang ke kotak sampah di pojok ruang. “Polisi pasti akan segera menemukan kambing hitam, untuk mengalihkan perhatian.”
Punggung sang jurnalis bersandar layu di rak kayu. Wajahnya lelah. Baju yang ia kenakan tampak sama lusuhnya.
Jisoo tahu pemuda itu belum tidur dua hari untuk mengejar tenggat warta utama.
“Apakah akan ada kabar buruk lainnya?”
Pertanyaan itu dikeluarkan Jisoo dengan ragu-ragu. Sungguh, ia baru beberapa tahun bekerja di perusahaan media kecil milik Jeonghan, tetapi seluruh fisik dan raganya tersedot habis di ruang kerja. Seakan ia tak punya kehidupan tanpa kartu pers di dadanya.
Pertanyaan itu selalu menghantui. Saat sedang sendiri: di jalan, di rumah, di halaman kantor yang luang. Kengeriannya masih terasa meski Jisoo jalan santai di akhir pekan, atau rehat di rest area yang jauh dari perkotaan. Seperti selalu mengikuti.
“Tidak ada jaminan.” Jeonghan mengangkat bahu. “Aturan soal pers sudah disahkan. Siapapun bisa jadi incaran. Gerakan aliansi jurnalis juga sudah dibatasi.”
Situasi tak jua membaik, malah semakin mencekam. Siapa yang berkuasa, berhak mempermainkan. Keberadaan mereka tak ada beda dari nila yang harus disingkirkan.
Jisoo menghela nafas. Ia semakin berat untuk meninggalkan kantor media ini. Tapi, ia masih punya tugas untuk dilakukan.
“Aku harus pergi,” Jisoo mengingatkan Jeonghan. Berjalan ke arah meja kerjanya, mempersiapkan barang-barang yang hendak dibawa ke bandara, menemui narasumbernya. Kepalanya sudah sibuk menyusun pertanyaan yang akan diajukan.
Jeonghan mengekor di belakang, basa-basi mengingatkan, “Jangan lupakan digicam.”
“Hmmm, sudah….” Jisoo merapikan buku dan dokumen-dokumen lain di atas meja. Dokumen itu memuat data-data beritanya. Meski sekarang teknologi sudah mulai maju, Jisoo masih gemar membuat catatan fisik. Seperti sedang menggenggam tanggung jawab di tangan.
Catatan dan data-data itu lebih nyata. Tak seperti bangsawan-bangsawan yang cuma ada omong manis saja.
“Mau aku antar?” Jeonghan menawarkan diri untuk menyetir mobil.
“Kamu juga sibuk.” Jisoo tidak mau merepotkan. Apalagi, pemuda itu belum tidur sejak semalam.
“Tidak sibuk kalau untukmu,” Jeonghan mendelikkan matanya pada Jisoo. Bahunya yang loyo itu menyenggol main-main, meski rasanya seperti tepukan pelan saja sebab ototnya jarang dilatih.
Jisoo tertawa kecil. Dia kenakan tas selempangnya. Sudah siap keluar kantor dengan tanda pengenal pers yang tergantung di lehernya.
“Yakin? Ingat, kita baru kehilangan sponsor jutaan dari partai. Banyak yang harus dikerjakan.”
Kali ini Jeonghan yang tertawa. “Spnsor? Siapapun tahu kalau itu suap.”
Jisoo tak bisa menyanggah. Hampir semua orang di bidang pekerjaan ini sudah tahu tentang pembungkaman. Aliansi jurnalis sudah mengingatkan sejak dulu: jangan mudah percaya pada janji-janji kosong. Tapi rakyat mudah dikontrol, apalagi jika hukum semakin lemah, dan orang-orang tak lagi punya tempat aman.
Jisoo melangkah ke luar gedung dengan hati yang berat.
“Hati-hati!” Jeonghan melepasnya di lobi kantornya yang cuma bertingkat dua. Kecil dan sederhana, kendati menyimpan banyak hal-hal penting di dalamnya.
Jisoo menatapnya dari balik bahu. Benaknya berpikir, akhirnya pimpinan redaksi itu akan makan siang setelah melewatkan makan malam dan sarapan.
Jisoo menghirup udara Ibu Kota yang penuh asap dan polusi. Sesak berkepanjangan. Namun, ia hadapi sebisanya.
Kepada Jeonghan, Jisoo balas melambai. Dia berangkat, sambil berharap doa semesta menyertainya di sepanjang jalan.
Tidak ada banyak waktu untuk berduka—yang hidup harus tetap melanjutkan nasibnya.
…
“Hong Jisoo?” Sapa seorang pemuda berambut pirang di arrival gate. Jisoo sudah memandangnya dari kejauhan. Tanpa memegang papan nama pun, seharusnya pemuda itu sadar sudah ditunggu.
“Siang.”
“Siang… Aku Junhui….”
Pemuda dengan field jacket itu menyalaminya. Entah seberapa sering Jisoo menghadapi orang-orang dengan wajah lelah dan pakaian lusuh—pemuda ini termasuk di antaranya.
Barangkali penerbangan berjam-jam dari utara, makan yang kerap terlewatkan, dan kesibukan-kesibukan di antara berita dukanya. Semuanya pasti carut marut di kepalanya. Tak akan ada waktu untuk memperbaiki penampilan.
Tapi kedatangan Jisoo bukan untuk menghakimi penampilannya. Ia hendak menggali isi kepalanya, menarik jawaban-jawaban yang akan muncul di wartanya.
“Turut berduka.” Pertama-tama, Jisoo menyampaikan belasungkawa.
Salah satu pemuda berbakat dengan masa depan cerah baru saja dihabisi negaranya sendiri. Sudah sepantasnya Jisoo bersimpati.
Pemuda di hadapannya tersenyum kecut. Jika ditilik lebih seksama, ada jejak-jejak lembab di pipinya. Jejak air mata yang sulit disembunyikan.
Jisoo berniat mengajaknya melipir ke tempat yang lebih kondusif, tetapi pemuda itu keburu menyela.
“Maaf, Jisoo—aku harus pergi ke tempat adikku dulu. Apakah wawancaranya boleh ditunda?”
Oh.
“Oh, begitu….”
Jisoo berpikir bahwa mengundur publikasi sama saja seperti membiarkan publik cepat memalingkan mata. Kasus seperti ini biasanya cepat ditutup dengan isu-isu lain yang tidak penting, entah soal urusan rumah tangga selebriti atau cari sensasi artis-artis tak terlalu bernama.
Mudah menutupi kematian Lee Chan seperti kematian-kematian lain yang pernah terjadi. Tak lama lagi, namanya akan berubah jadi hitungan angka. Cuma jadi salah satu bagian dari statistik korban negara.
Karena itu, sebetulnya, Jisoo tak mau menyia-nyiakan banyak waktu lagi. Meski, dalam diam, ia hanyut dalam empati.
“Satu atau dua pernyataan saja,” pintanya, berusaha sopan. Bahkan hendak mempersiapkan alat rekam.
Junhui menghela nafas. Wajahnya antara lelah, tapi tak mampu berbuat banyak. “Aku dulu pernah jadi wartawan,” bebernya. “Aku mengerti. Kamu sedang mengejar tenggat berita…. Tapi saat ini aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Aku bahkan belum tahu kondisi Chan….”
Jisoo meneguk liur dengan pahit. Dia memang salah. Terkadang, dia lupa diri kalau sudah masuk ke mode gila kerja.
“Maaf.”
“Tak apa,” tutur Junhui. Dia menimbang. “Atau, mau ikut aku? Sebelum wartawan lain datang dan mulai ramai….”
Jisoo tak mau membuang jeda. Disetujuinya tawaran itu. Perihal Jeonghan dan deret tugasnya yang lain bisa menunggu nanti.
Junhui menumpang di mobilnya. Sedan yang selalu minta diperbaiki, tapi setidaknya masih sanggup membelah jalan tol ibu kota lewat dari kecepatan minimum. Saat hendak melaju, baru ia sadari bahwa bawaan Junhui tak begitu banyak. Cuma satu ransel kecil—yang ketika dibuka akan tampak dua helai baju ganti dan buku-buku catatan pribadi. Tak ada gawai lain kecuali telepon seluler lawas yang sedang dipegang.
“Pantas susah dihubungi,” kata Jisoo. “Ternyata masih menggunakan gawai lama?”
Junhui yang tadinya memandang ke luar jendela—sontak menoleh ke arah sang pengemudi. Dia tidak banyak menjawab. “Iya. Cuma ini alat komunikasi yang kupunya.”
“Komputer pun tak punya?”
Junhui tertawa getir. “Sudah dihancurkan.”
“Ah….”
Tak butuh waktu lama sampai mereka tiba di rumah sakit tempat jenazah Lee Chan diistirahatkan. Seungcheol, salah satu rekannya, sudah menunggu di sana. Baru tuntas mewawancarai beberapa petugas yang bekerja.
“Itu Junhui?”
Jisoo mengangguk. Mereka berdua menunggu di balik ruangan sementara sang detektif menjelaskan hasil otopsi sang adik.
“Kenapa kau ikut ke sini?”
“Belum selesai wawancara.”
“Dia menolak?”
“Ditunda.”
Seungcheol mendekat ke arah rekannya, berbisik saat wajahnya tepat di samping kepala. “Pisaunya sudah ditemukan, tak jauh dari lokasi kejadian.”
“Pelaku?”
“Sudah diamankan. Masih diinterogasi polisi. Tinggal tunggu konferensi.”
“Kau akan berangkat ke konferensi sendirian?”
Seungcheol mengiyakan. Ini memang sering dia lakukan. Media mereka memang masih kecil, tidak punya banyak pekerja. Cuma beberapa orang nekat yang mengedepankan idealisme saja. Satu orang bisa punya beberapa pekerjaan sekaligus. Mengover kekurangan di lini lainnya.
Jisoo hendak menyuruhnya untuk hati-hati di jalan, tetapi Junhui keburu ke luar dari ruangan. Wajahnya yang semua lesu, jadi berkali-kali lipat lebih gelap. Selain duka, ada sekelebatan amarah di sana.
“Boleh antarkan aku ke suatu tempat?” pintanya.
…
Jisoo tak masalah disuruh bekerja seharian. Pergi ke sana dan ke sini untuk mencari fakta di lapangan. Jeonghan sering menugaskannya untuk pergi menyusuri gang sempit bekas rumah bordil, pernah juga melipir ke pedalaman tempat narasumber menyembunyikan diri dari kejaran polisi, atau berangkat ke tengah kota untuk menghampiri rumah koruptor yang baru disita karena penggelapan.
Tapi kali ini—alih-alih perintah Jeonghan—Jisoo melintas di jalan raya atas suruhan orang yang baru ditemuinya beberapa jam lalu.
“Ikuti saja,” kata Jeonghan dalam pesan tertulis. “Tapi tetap jaga netralitas.”
Jisoo tahu hal ini menyalahi kode etik. Bersimpati pada narasumber berarti membuatnya tidak netral. Namun ada dorongan yang menuntutnya untuk terus bergerak. Sama seperti saat dulu dia mengerjakan dokumenter dan warta-warta in-depth untuk isu serius. Selalu ada sentuhan frasa-frasa personalnya. Riwayat menulis fiksi untuk penerbit besar tidak bisa sepenuhnya dia hilangkan. Susunan katanya tak pernah jauh dari empati-empati pribadi. Ini juga yang mendorong Jeonghan untuk menempatkan Jisoo sebagai kolumnis opini.
“Di sini?” tanyanya ragu, ketika mereka tiba di sebuah kafe retro yang sepi, hampir terbengkalai. Junhui masih belum mengungkapkan alasan mereka pergi ke tempat ini.
“Iya. Ayo masuk,” kata Junhui. Sang wartawan mengikuti tanpa banyak kata.
Dari laporan Seungcheol, Jisoo mengetahui beberapa hal tentang Junhui. Tentang ia yang pernah menjadi salah satu otak pergerakan. Dan pembicaraan mengenai tulisan-tulisan anonim di media internasional Economist yang mirip dengan tulisannya.
Jisoo kira, pada akhirnya Junhui akan membuka kesempatan wawancara. Mengajaknya singgah di salah satu kursi untuk bincang malam, sambil menunggu pergantian hari di kafe yang sepi ini.
Namun, dugaannya meleset. Pemuda kutu buku itu mengarahkan Jisoo ke lorong sempit di sisi konter kafe. Sejak masuk, belum ada pekerja yang ia temui. Tempat itu terasa dingin dan—anehnya—tak begitu berbau kopi. Aromanya samar, bercampur dengan bau khas buku-buku di rak dinding dan pengharum ruangan sintetis. Tampaknya sudah tutup sejak beberapa jam lalu. Lampunya juga sudah redup.
Junhui menyelinap masuk dengan kunci yang ia pegang sendiri, seperti menjelajahi rumah pribadi. Jisoo jadi bertanya-tanya, tempat macam apa ini.
Lorong itu sangat gelap, hampir tersembunyi. Jam yang mulai larut membuat situasi juga lebih sunyi. Jisoo meningkatkan kewaspadaannya. Di balik saku, sudah tergenggam pisau lipat yang selalu dibawa untuk saat-saat darurat. Pun, jaraknya dengan Junhui tak begitu dekat, jaga-jaga jika terjadi hal yang tidak ia inginkan.
Tiba-tiba, Junhui menengok ke belakang, melihat sekilas ke arah Jisoo yang mengikuti jejaknya. “Maaf merepotkanmu larut malam begini,” Ia meringis bersalah.
“Bukan masalah,” respon Jisoo, berusaha menyembunyikan nada kagetnya. Demi warta eksklusif.
Sebab, anehnya, setelah menemui beberapa wartawan di sepanjang jalan, Junhui terus tutup mulut. Sejumlah wartawan terus mendesaknya, di bandara, di kantor polisi, dan di ruang publik. Namun, nihil tanggapan dari pemuda itu. Seakan, pria itu cuma bersedia diwawancarai oleh Jisoo.
“Aku harap kau masih punya energi untuk menyusun berita.”
“Aku sudah sering terjaga semalaman begini,” ungkap Jisoo. Ia mengeratkan genggaman pada pisaunya. Mata memicing ke sekitar, memastikan jalan keluarnya tak berpenghalang. Di sisi lain, ia pun mengerti betapa lelahnya Junhui. Sejak menerima kabar kematian sang adik, pemuda dari Thailand itu belum beristirahat sama sekali.
Jisoo seharusnya tidak begitu curiga dengan orang yang habis berduka.
Mereka tiba di sebuah ruangan dengan pintu besi. Junhui membukanya dengan kunci dari ranselnya. Ternyata itu ruang penyimpanan. Dan di dalam ruangan kecil itu, masih ada pintu tersembunyi yang mereka masuki. Kelihatan seperti pintu belakang, tetapi ternyata malah mengarah ke ruangan yang berbeda.
Ruangan itu tampak usang. Berbagai perabotan kayu lapuk berdiri di dalamnya. Meja kerja, kursi reot, rak-rak yang tampak seperti terpaksa berdiri menopang barang-barang di atasnya, dan tumpukan dokumen yang tertumpuk debu di permukaannya. Ada ventilasi di salah satu dinding, jadi satu-satunya sumber cahaya bulan dan sirkulasi udara. Tak heran, ruangan itu terasa sesak dan gelap.
Jisoo menyapu tatapan ke penjuru ruang. Hingga temukan objek yang menarik di matanya. Ada foto usang yang dipajang di nakas pojok ruang. Jisoo kenal semua rupanya. Berurutan dari kiri ke kanan, ada Seo Myungho, Kim Mingyu, Lee Chan, Wen Junhui, Jeon Wonwoo, Lee Jihoon, Kwon Soonyoung. Jisoo mengabsen dalam kepala.
Semua orang di foto itu tampak jauh lebih muda. Sepuluh tahun, kalau tak salah hitung. Lee Chan tampak sangat belia. Senyumnya begitu cerah. Matanya yang runcing melengkung manis. Ia jelas berubah—sangat berbeda dari sosok tegas dan tak takut ranjau yang terakhir kali Jisoo lihat. Di sisi bocah itu, berjajar sosok-sosok lain yang terlihat akrab. Junhui saling rangkul dengan pemuda bersurai hitam. Kemudian Jihoon—pimpinan redaksi media besar itu—berdiri rapat dengan Soonyoung. Lalu, ada Minghao dan Mingyu, dua tokoh diaspora yang kerap menjadi wajah perwakilan suara massa.
Nama dan wajah-wajah itu tercatat dalam sejarah. Jisoo cuma kenal dari buku dan berita yang dia baca. Tapi, hingga saat ini, ia tak punya kesempatan untuk bertemu dengan mereka secara langsung.
“Sedikit pengap ya?” tanya Junhui tiba-tiba. Dia masih sibuk menggeledah lemari-lemari yang ada di sana. “Sudah lama sejak ruangan ini dikunjungi. Sudah tak ada yang merawatnya lagi.”
Mungkin Lee Chan orang terakhir yang pergi ke sana. Jisoo melirik meja yang paling dekat dengan pintu. Ada bekas botol minuman dan bungkus rokok yang baru dibuka. Mereknya tak asing. Chan pernah membawanya saat liputan aksi.
Jejak itu jelas menandakan persinggahan baru-baru ini. Satu minggu yang lalu? Dua minggu? Satu bulan? Jisoo menyusun berbagai skenario di kepala: bagaimana kiranya Chan keluar dari ruangan ini terakhir kali, lalu melanjutkan pekerjaan, menghadapi berbagai rintangan, hingga tiba di penghujung usianya.
Nafas Jisoo tercekat membayangkan wajah terakhir Chan sebelum terpejam selamanya.
Seketika Jisoo sadar kalau dia ada di tempat yang dikunjungi Chan sebelum ajal menjemputnya. Kira-kira apa yang dilakukannya saat sedang berada di ruangan ini? Apakah sedang menyusun opini? Melanjutkan draf bukunya yang terhenti? Membaca jurnal? Mengulas laporan?
Atau, jangan-jangan, dia sedang bersantai? Membaca buku susastra seperti yang ia suka di kala luang? Membaca paragraf penuh lelucon yang tak sengaja lewat di Kaskus? Menyetel musik sendu sambil menyesap rokok dengan menyedihkan? Apakah ia sedang melamun sambil menahan kerinduan? Atau justru jatuh cinta pada melankolisme malam? Yang mana kiranya?
Jisoo menebak-nebak sambil mencengkram pisaunya. Jika dia bisa melampiaskan amarah tanpa ikatan moril, mungkin sudah dibunuhnya aparat-aparat keparat itu.
Emosi dan nafas sulit diatur di ruang sempit itu. Jisoo menarik udara kuat-kuat, beberapa masuk bersama debu dan timbulkan batuk kecil.
Saat pandangannya tersapu ke sekitar, Jisoo menemukan lebih banyak lagi hal menarik. Seperti kalender yang berhenti di tahun 1998, tumpukan kopi saset yang lupa dibuang, dan—tentu saja—buku dan tumpukan kertas tulisan tangan. Kebanyakan berisi tanda tangan Junhui dan Chan. Di samping itu, ada juga keterangan nama Jeon.
Tetapi yang paling menarik perhatian adalah logo surat kabar kecil di setiap dokumen. Jisoo ingat, surat kabar itu sudah berhenti terbit sejak pemakzulan sepuluh tahun lalu. Hilang tanpa kabar. Tiba-tiba lenyap dari publik.
Apakah ruangan ini dulunya tempat kantor surat kabar itu beroperasi?
“Jadi… inilah ruangan pemberontakan yang selama ini dicari pemerintah?” Jisoo mengingat mengulang propaganda yang disebarkan pemerintah pada masanya. Upaya cuci otak konyol yang berakhir sia-sia.
Junhui mendengus, merasa sedikit geli. “Berlebihan kalau menyebutnya pemberontakan. Toh ini cuma ruang diskusi dan susun berita.”
Kini Jisoo sedikit memahami fungsi ruangan itu. Ia ingat lagi bacaannya dulu, tentang rencana dan diskusi yang disusun secara diam-diam. Mungkin inilah, ruangan yang menjadi saksi.
Junhui berhasil mengumpulkan beberapa dokumen penting. Terakhir, ia membuka sebuah brankas. Ada beberapa carik kertas dari sana. Ia ambil salah satu yang paling kecil; yang dilipat tak rapi, tampak dibuat buru-buru.
“Ini surat terakhir dari Chan,” terang Junhui. Segera tahu cuma dari lipatan luarnya saja. “Sebelum menghilang, Chan pernah mengirim salinan surat ini kepadaku. Karena surat inilah, aku mengajakmu ke tempat ini, Hong Jisoo.”
Jisoo menerima secarik kertas itu dari tangan Junhui. Cuma selembar kertas itu saja. Tanpa amplop atau bungkusan lainnya.
Saat dibuka, Jisoo menemukan tulisan khas Chan. Huruf sambung yang berantakan, kecil-kecil seperti yang biasa dilakukannya saat membuat catatan—agar kertasnya muat banyak kata.
…
…. Setelah aturan pers diresmikan, akan ada aturan-aturan baru dari rezim yang merepresi rakyat. Rencana konflik horizontal, isu sara, keracunan masal, peretasan besar, manipulasi bencana, kebaran, dan penggerebekan kantor-kantor media. Jurnalis dan aktivis bakal dijebak. Seolah kita yang salah, menerima suap.
Kak Junhui, tolong hidupkan lagi perlawanan seperti yang kita lakukan dulu.
Kalau aku hilang, cari Hong Jisoo. Dia penulis yang hebat. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Maaf kalau aku belum jadi adik yang sempurna, tapi aku senantiasa berusaha.
Sekecil-kecilnya perlawanan, tetap menjadi perlawanan. Aku mau memperjuangkannya sampai akhir.
…
“Bisa kita mulai wawancaranya?”
Akhirnya diskursus malam itu dimulai.
Jisoo mengaktifkan perekam, dengan kartu memori tertanam. Di tangan, tergenggam buku catatan beserta pena andalannya. Dia sudah siap—walau sebetulnya, sungguh, dia sudah siap jauh sebelum ini, bahkan sejak bertatap muka pertama kali.
Junhui mengambil posisi di seberangnya, duduk di kursi kafe dengan latar belakang dinding yang monoton dan membosankan. Ia tertangkap kamera sebatas pinggang, pandangannya mengarah ke Jisoo alih-alih ke lensa.
Dan di saat itu, Jisoo merasa seluruh dunia berhenti di sekitar mereka. Seperti ada magnet ketegangan: kejujuran-kejujuran yang dibagi hanya di antara mereka. Jisoo selalu merasa seperti ini setiap mendengarkan narasumbernya. Ada debar dan ketakutan yang sulit dijabarkan. Seperti ketakutan bahwa nantinya ia tidak bisa memegang tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh; tidak bisa menyampaikan fakta yang sebenar-benarnya ke publik.
Tapi Junhui memberinya tatapan seolah siap memberikan seluruh dunianya pada Jisoo. Hanya kepada Jisoo ia percaya.
Dunia adalah sandiwara, tapi kepada Jisoo dia sanggup membeberkan skenario tersembunyinya. Begitu intim.
Di tengah ketegangan itu, Jisoo mengingat obrolannya dengan Jeonghan, kala fajar, dan dunia masih hening dari berbagai suara.
“Kalau undang-undang pers betul-betul disahkan, berapa banyak wartawan yang masuk penjara?” Jeonghan bertanya sambil tertawa. Kacamatanya berbintik-bintik, kena ciprat air yang enggan dia bersihkan.
Jisoo meraihnya dari pertambatan telinga dan hidung yang merah karena lelah. Lantas membersihkan gagang hingga lensa yang minus dengan kain fiber lembut di atas meja.
Jeonghan memang seperti itu. Malas mengurus diri sendiri. Dia juga sering makan makanan hampir basi, minum kopi tanpa air panas, makan mi instan yang setengah matang. Untung selama ini ada Jisoo di sisinya.
“Kamu pasti dipenjara duluan,” celetuk Jisoo saat itu. Dia menatap Jeonghan dengan seribu makna di bola matanya. “Apakah kamu bisa menjaga diri di sana?”
Dan Jisoo selalu mengingatnya: bagaimana mata Jeonghan yang bebas dari lensa itu menyipit, bagaimana wajahnya mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
“Aku juga sedang mempertanyakan. Memangnya bisa ya?” Sambil berkata demikian, Jeonghan usap wajah Jisoo yang semakin sendu. “Tapi aku akan berusaha.”
Dari sana, Jisoo perhatikan bulu mata yang bergerak cantik, dan lembab bibir yang timbulkan bercak pantulan lampu. Jisoo merindukan seluruhnya; mengharapkan hangat pemuda itu untuk menenangkan takutnya.
Namun ketakutan itu berusaha ditampisnya. Ia bukan orang yang mundur karena rasa takut. Rasa takut adalah dorongan animalistik terkuat dalam diri manusia, membuat amarahnya ikut bangkit, dan membara.
Jisoo menulis seperti hembus angin yang beradu-adu dengan deru senjata di medan pertempuran. Ia memadamkan api-api pertikaian di antara rakyat. Menjadikannya satu suara untuk menyerang sumber konfliknya. Ia bak anjing pengawas yang menggonggong kepada setiap pengembara yang tersesat atau kepada orang-orang yang menyalahgunakan kepemilikannya.
Selesai wawancara, komputer di sudut kafe terus menyala. Kata per kata hadir di layarnya. Jisoo tenggelam dalam dunia distopianya, sampai sebuah suara mencuat.
“Kopi?”
Junhui menyapa dari samping. Baru menyelinap ke luar dari dapur—yang ternyata masih bisa beroperasi. Di tangannya tergenggam dua cangkir dengan cairan hitam.
“Terima kasih,” Jisoo menyambut kopi itu dengan penuh syukur. Sungguh, dia sangat butuh. Terjaga dua malam membuat ia lemah tanpa kafein.
“Sudah hampir tuntas rupanya,” komentar Junhui, memposisikan diri di kursi kosong sebelah Jisoo, membaca terang-terangan draf yang sedang dikerjakan oleh sang pewarta.
“Hanya perlu sedikit suntingan.”
Jisoo membiarkan Junhui memperhatikan layar komputer. Sekaligus mengoreksi, barangkali ada pernyataan yang ingin ia revisi. Meski sebetulnya berita harus netral dan bebas campur tangan, kali ini ia membiarkan. Toh, Junhui juga seorang penulis. Ia bisa ikut menyunting kesalahan-kesalahan yang terlewat olehnya.
Pria itu mengangguk-angguk. Wajahnya tampak sama lelahnya dengan Jisoo. Di keremangan ruangan kafe itu, Junhui tampak sangat berbeda dari apa yang pernah Jisoo bayangkan sebelumnya.
Ia terlihat seperti pria biasa. Yang biasa ditemukan di sudut perpustakaan kota, atau di taman penuh warga, atau juga toko pakaian bekas yang sedikit bau apek. Seperti itulah Junhui. Bukan pria berapi-api yang ditakutkan banyak politisi, atau sangar seperti yang digambarkan di televisi.
“Kamu banyak berdiskusi dengan Chan ya, Jisoo?”
“Ya, karena kami bertemu pertama kali di forum diskusi, jadi sering bertukar sapa setiap ada pertemuan.”
Junhui tersenyum kecil, “Tulisanmu terasa familiar.”
Jisoo bangga mendengarnya.
“Aku selalu mengingatnya, Junhui.”
Ia mengingatnya di segala sudut pikiran, di antara ketuk mesin tik, di antara jejak, dan kenangan tentangnya.
…
“Kenapa alih profesi? Sebelumnya kau penulis fiksi bukan?”
“Kebetulan Jeonghan butuh penulis tambahan.”
“Bohong.”
“Tidak mungkin alasannya sesederhana itu,”
“Kenapa begitu?”
“Pekerjaanmu berbahaya.”
“Semua pekerjaan punya resiko masing-masing, Chan,” Jisoo menjawab, dengan kening berkerut.
“Tapi di situasi seperti ini, lebih baik cari pekerjaan yang aman. Pokoknya jangan jadi wartawan.”
Jisoo sungguh tak paham kenapa Chan begitu keras kepala. Matanya mendelik.
“Memangnya jadi penulis fiksi lebih aman? Kau pikir, apa yang aku tulis di novel? Aku juga menulis hal-hal luar biasa, tahu!” Dia menyombongkan diri. Alisnya naik menantang. Sungguh, dia terlihat sangat sok. “Kritik juga bisa lewat romansa, komedi, misteri, dan satir-satir tolol kok.”
Chan berhasil tertawa dibuatnya. Tahu kalau dia sudah melewati batas dan buat Jisoo jengkel.
“Gemasnya,” dia bilang. “Baik, Tuan Hong. Maafkan aku. Aku terlalu meremehkanmu.”
Jisoo mengatakan fakta. Dia memang menulis hal-hal yang diinginkannya selama ini. Dewan kesenian dan penilai Kusala Sastra menyematkan juara satu ke karya-karyanya bukan tanpa alasan.
“Aku cuma khawatir,” ungkap pemuda yang lebih muda. “Takut kau cepat menyerah.”
Jisoo menampiknya. “Menyerah? Tidak semudah itu.”
Chan terkekeh lagi. Dia suka optimisme Jisoo. Mirip sekali dengan kekasihnya, Yoon Jeonghan.
“Lantas, bagaimana menurutmu? Apakah pekerjaan ini cocok buatmu?”
“Hmmmm….” Jisoo tampak berpikir keras. Dahinya berkerut-kerut. Dia baru bekerja setengah tahun. Pertanyaan itu terlalu awam untuknya. Mungkin kalau diberi waktu beberapa bulan lagi, dia bisa menjawab lebih pasti. Namun, untuk saat ini, jawabannya: “Aku suka.”
Chan sedikit tidak menyangka. “Alasannya?”
“Aku suka menulis dengan lugas. Lewat berita, aku bisa bicara apa adanya. Semuanya fakta.”
Jisoo melanjutkan, “Akan ada waktu di mana fakta tak bisa disuarakan lagi. Selagi aku masih bisa menulis, aku akan terus menyampaikannya sampai akhir.”
“Kamu cukup berani.”
“Kamu sendiri—apakah pekerjaan ini cocok buatmu?”
“Aku suka menulis.”
Jisoo bisa melihatnya dengan jelas.
Ketika sedang menulis, Lee Chan bak mencurahkan segalanya. Ia menulis dengan lugas. Jisoo selalu suka cara dia menumpahkan isi kepala secara terang-terangan. Seperti Shakespears yang menyair panas di rubik opini.
“Apakah aku sudah cerita? Aku punya kakak—dia tinggal di Thailand….” Chan menatap Jisoo dengan mata yang begitu penuh. Ada puluhan—atau ratusan—lembar halaman cerita yang tak terungkap di sana. Jisoo siap mendengarkan. Sebagian atau seluruhnya, apa adanya. “Kakakku itu—”
…
Menjelang pukul dua, Junhui cuma berdiam diri di belakang meja pastry. Dia termenung. Lamunannya bertahan sampai Jisoo menegur.
“Sudah selesai.”
Artikel Jisoo sudah tersimpan di diska lepas. Siap dikirim ke kantor redaksi.
Sekarang, tantangan mereka cuma satu. Bagaimana caranya mengirim file dengan aman tanpa ada satu korban pun.
Jisoo dan Junhui sama-sama tahu. Sesaat setelah mereka menginjakkan kaki ke luar kedai, mereka akan bertaruh dengan waktu.
Jauh di sisi lain, Jeonghan tengah menunggu dengan cemas. Kedua telapak tangannya berkeringat. Ia tidak kunjung masuk ke dalam kantor. Semalaman menunggu resah di luar pintu. Siap sedia jika sewaktu-waktu Jisoo tiba dan membutuhkannya.
Kantor dua lantai di belakang punggungnya masih sibuk. Beberapa orang begadang mengurus publikasi hari ini. Berita terbit seiringan dengan fajar. Khusus hari itu, Jeonghan berdoa agar fajar tak cepat datang. Setidaknya Jisoo masih punya sisa beberapa waktu untuk mengerjakan urusannya.
Sedikit rasa bersalah bersarang dalam diri Jeonghan. Ada rasa menyesal karena tidak memaksa diri untuk menemani Jisoo pergi. Semoga tidak ada tragedi yang terjadi, harapnya dengan hati yang rungsang.
Menjelang jam tiga pagi, ia mendengar radio. Sudah ada yang mengabarkan kedatangan Junhui di bandara pagi ini. Berita akan cepat menyebar.
Pemuda itu adalah musuh tirani. Banyak yang mengincarnya. Dan, saat ini, satu-satunya orang yang ada di sisi Junhui cuma Jisoo.
Jeonghan mengerti bahaya tidak cuma mengancam Junhui, tapi juga Jisoo. Ia meneguk air mineral dengan tenggorokan tercekat. Sudah sekian gelas kopi ia teguk hingga dini hari. Mulutnya pahit.
Selesai membuang botol minum di tempat sampah, ia melihat siluet mobil dari kejauhan, tak asing. Sorot lampu depannya semakin mendekat. Lama-kelamaan, tampak jelas bahwa itu adalah mobil sedan tua yang dibawa Jisoo pergi kemarin pagi.
Jeonghan sontak maju menyambutnya. Masuk ke mobil begitu pintu dibuka oleh sang pengemudi.
Jisoo ada di balik kemudi. Sebagaimana seharusnya orang yang baru begadang dan banyak bekerja, ia tampak sangat kelelahan. Wajahnya pucat dan matanya begitu lesu. Begitu banyak hal berlalu-lalang di kepalanya.
Tanpa banyak kata, Jisoo menyerahkan diksa lepas kepada Jeonghan. Sang kepala redaksi tak memedulikan peranti itu sama sekali. Diperhatikannya Jisoo secara lamat-lamat. Sosok yang biasanya lembut dan banyak cerita, sekarang bergeming dilahap penat.
Jeonghan sadar, mereka tak punya banyak waktu. Maka, disapunya rambut sang kekasih. Lembut, seperti undangan untuk lelap. Jisoo sempat memejamkan mata selama beberapa detik, menyandarkan pelipisnya pada usapan halus itu. Namun, tak lama, ia kembali terjaga. Sebab, ya, mereka tak punya banyak waktu.
Tatapan keduanya bertemu. Pesan-pesan yang tak berlisan, kendati ada begitu banyak yang mau Jisoo sampaikan. Namun, ia harus memberi Jeonghan waktu dan jarak yang dibutuhkannya.
Junhui, duduk di kursi belakang, memperhatikan mereka berdua dalam diam. Ada sorot tidak terbaca di matanya. Kilas balik memori, serta kerinduan.
Tapi malankolia tidak berlangsung lama. Kantor percetakan segera dihubungi. Jeonghan melepas Jisoo untuk kedua kali.
Dini hari itu, juga, dengan tinta yang masih hangat dari mesin, koran-koran mereka dicetak dan disebarkan.
…
Warta sayup-sayup mengatakan: Wen Junhui kembali ke Ibu Kota. Kendati belum ada yang tahu persis kemana tepatnya ia pergi.
Sebagian menduga ia menyusuri misteri kematian sang adik. Namun, cuma Jisoo yang mengetahui bagaimana Junhui perlahan-lahan menerima semuanya dengan pasrah.
“Adikku itu anak yang sangat pemberani.”
Junhui jadi orang terakhir datang ke pemakaman Chan dini hari itu. Jam menunjukkan pukul empat. Langit masih begitu gelap. mata manusia pun masih sulit melihat.
Bersama Jisoo, Junhui menyelinap masuk ke komplek pemakaman, mengenakan jaket panjang hitam. Topi menutupi wajahnya agar sulit dikenali. Dia menangis dalam hati.
Jisoo tak mendengar isak atau jatuh tetes air matanya. Tapi dia bisa merasakan seluruh kesedihannya; duka yang ditopang oleh bahunya.
“Mestinya aku paksa ikut pergi sejak dulu, sekarang semuanya sudah terlambat.”
Junhui merintih. Menahan kesedihan dalam dirinya.
Jisoo memahaminya. Sebab, ketika menahan terlalu banyak emosi, tubuh cenderung merasa nyeri. Dan itu akan terasa di seluruh tubuh. Di dada, di paru, di lutut, di punggung, di kepala. Junhui pasti merasakannya sekarang. Entah sudah berapa lama dia memendamnya.
Jisoo menjulurkan tangan untuk mengelus pelan bahunya. Toh, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Lee Chan adalah pemuda penuh cinta. Dia suka bunga, tidak seperti pemuda kebanyakan. Dia pernah bilang, bahwa aster adalah kesukaannya. Kecil dan menggemaskan, persis dirinya.
Junhui meletakkan bunga aster di samping nisan adiknya. Dan lengkap sudah kedukannya. Dia melepaskan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa.
“Selanjutnya, bagaimana?” Jisoo menggaungkan pertanyaan itu dalam benak, tak sanggup ia suarakan. Ia tahu persis, bahwa Junhui pun sedang mempertanyakan, langkah apa yang harus mereka ambil setelah ini.
Lantas, ketika menit berlalu, dan Junhui mulai melangkah meninggalkan makam, ke arah jalan setapak yang mulai disinari matahari pagi, Jisoo tetap mengikuti. Hatinya turut merasa sakit.
“Apakah menurutmu, masih tersisa harapan untuk negeri ini?” Junhui bertanya lirih, sambil berjalan di depannya.
Jisoo memperhatikan bahu yang sempit itu dengan langkah pelan-pelan. Melihat bagaimana Junhui berjalan di atas Tanah Airnya, yang tak lagi terasa seperti milik mereka.
“Masih,” entah kepercayaan diri dari mana, hingga Jisoo menjawab demikian. Tapi setiap mengingat Chan, Jeonghan, dan pemuda-pemuda lain yang masih bertahan, ia percaya, bahwa masih ada harapan untuk negeri ini.
“Masih banyak harapan untuk negeri ini, Junhui,” jawab Jisoo, penuh kejujuran. “Setiap aku melihatmu, melihat Lee Chan, dan pemuda-pemuda yang tetap berjuang, aku selalu merasa bahwa, mungkin, kemakmuran itu nyata. Utopia, di mana kita tidak harus merasa kerdil dengan nilai mata uang, atau alam yang dirusak, dan bencana yang terus datang tak berkesudahan.”
Jisoo melihat langit yang mulai terang. Biru muda, dengan serabut kuning dari arah Timur. Lalu dia mengingat masa muda, saat masih berkelana ke berbagai tempat.
“Atau pendidikan yang merata, kesehatan yang terjangkau, dan kejujuran yang tak dimanipulasi, atau cinta yang tidak dibatasi,” imbuh Jisoo.
Junhui berjalan semakin pelan, seakan tak mau cepat-cepat meninggalkan tanah kelahirannya. Sementara Jisoo melanjutkan ucapannya, “Aku percaya, suatu saat akan ada orang-orang pintar dan hebat yang akan merealisasikannya. Dan perjuangan kita—serta mereka yang sakit, atau gugur—akan terbayarkan. Kita akan melihat anak-anak muda cerdas yang membanggakan penemuannya, orang-orang tua yang hidup sejahtera di masa senjanya, dan kita—yang lebih aman bersuara, dalam tulisan-tulisan kita. Aku percaya.”
Jisoo meraup udara susah payah. Saat itu, ia baru menyadari, bahwa bahunya sedang terguncang hebat. Oh, dia menangis.
Junhui—yang masih memunggungi Jisoo—menghentikan langkah. Bukan karena menyadari kejatuhan air mata Jisoo, tapi karena di kejauhan, ada siluet-siluet tak asing yang berjalan menghampiri mereka.
Bayangan itu samar, dan semakin samar karena pandangan Jisoo terhalang genangan di kelopak. Saat bulir-bulir air itu jatuh, baru dia bisa melihat jelas, siapa-siapa yang sedang berjalan di kejauhan.
Dia mengingat wajah-wajah itu dari media dan surat kabar.
“Minghao,” Junhui berbisik, memanggil salah satu nama pemuda yang berjalan paling depan. “Minggu, Soonyoung, Jihoon….”
Minghao melebarkan kedua lengan ke udara, menarik Junhui ke dalam pelukan erat.
Sedangkan Junhui berdiri lemas, hampir ambruk. Tapi ia masih berdiri lunglai karena topangan kawannya.
“Kau kembali, Junhui.” Minghao tersenyum lebar. Kepalanya bersisian lekat dengan milik kawan karibnya. “Aku merindukanmu.”
Ketiga orang lainnya, Mingyu, Soonyoung, dan Jihoon, ikut memeluk Junhui dari samping.
“Kau semakin kurus, Junhui.”
“Sudah lama ya.”
“Aku sangat merindukanmu.”
Junhui memejamkan mata. Akhirnya, ia tiba di tempat teraman di negeri ini; di pelukan orang-orang tercintanya.
…
“Aku menulis secara anonim. Dulu diunggah lewat dead drop digital. Terkadang, komputer pihak ketiga—di kafe, perpustakaan. Tapi sekarang semua jejaknya sudah hilang. Beberapa tahun lalu ada yang meretas komputerku.”
Selama perjalanan, Junhui menerangkan kabar dirinya yang telah menghilang belasan tahun.
Jisoo di kursi kemudi, Junhui di samping, dengan Minghao dan Jihoon di kursi belakang.
Matahari semakin naik. Televisi dan radio masih sibuk bertukar kabar. Jisoo memilih stasiun penyiar yang sibuk memutar lagu-lagu terkini. Ia jadi mempertanyakan, apakah Junhui punya waktu untuk menikmati hiburan semacam ini? Bagaimana ia menghabiskan waktu dengan akses internet dan pesan yang terbatas?
“Apakah ia baik-baik saja?” Jihoon bertanya dari kursi belakang.
Junhui berdengung. “Sangat baik. Masih sibuk dengan kameranya.”
Dari cermin pantulan, Jisoo melihat senyum merekah di bibir Jihoon. Pria itu bilang, “Senang mendengarnya. Aku selalu berharap kalian hidup tenang dan melakukan apa pun yang kalian inginkan. Aku harap kau dan Wonwoo selalu aman”
Jisoo memutar setir di tikungan, sesuai arahan Minghao. Ia kenal jalanan yang tengah mereka lalui. Ke arah kantor surat kabar kompetitor, Jisoo sering pergi ke sana jika ada agenda pertemuan.
“Kau akan tinggal bersamaku sementara. Kami sudah menghubungi pengacara untuk mendampingimu. Kau akan aman, Junhui.” Demikianlah Minghao berpesan. Junhui akan tinggal di ruang yang lebih aman. Ia dilindungi banyak orang. Jisoo merasa lebih lega saat mendengarnya.
Ia melipir di lobi gedung. Minghao dan Jihoon ke luar lebih dulu, sambil membawa ransel Junhui. Namun, Junhui tak juga turun dari mobil itu. Sinar matahari pagi merangsek masuk dari jendela mobil. Menyinari mereka berdua, menghantarkan hangatnya.
“Terima kasih, Jisoo.”
Sang wartawan menggeleng kecil, sambil tersenyum ramah. “Seharusnya aku yang berterima kasih, Junhui. Kau sudah bersedia aku wawancarai.”
Seseorang mengetuk jendela di kursi depan. Dari luar, tampak Minghao menyuruh Junhui untuk masuk.
Junhui cuma mengangguk, tapi tak kunjung bergerak. Minghao dan Jihoon setia menunggunya di salah satu sisi lobi.
Jisoo memperhatikan lingkaran orang-orang di sekeliling Junhui: sebagian bentuk pemuda yang masih menyimpan bara. Orang-orang yang masih terlibat dalam sebentuk perjuangan. Ada penulis, penyiar, pembicara, ahli politik, dan lainnya. Tak tampak raut keputusasaan di wajah mereka, tidak seperti Jisoo.
Ada kalanya Jisoo dilanda sengsara, merasa tak ada upaya yang bisa menuntaskan apa-apa yang terjadi di negaranya. Di saat seperti itu, Jisoo menyimpan benci sendirian. Ditelan amarah sendirian. Maka, tulisannya jadi sebentuk panah yang terbang tak beraturan. Kadang terlalu tajam dan bahaya, sering membuatnya dapat kiriman misterius serupa bangkai burung atau surat ancaman. Kadang juga lemah dan ketakutan, sehingga kritik tersiratnya tidak tersampaikan. Karena itu, Lee Chan pernah menyebut Jisoo: inkonsisten.
Jisoo berbeda dengan Junhui. Junhui punya presensi kepala-kepala lain. Pengontrol baranya.
Junhui dan kawan-kawannya yang lain sudah menemukan tempo mereka. Bisa memperkirakan, kapan harus maju, atau kapan harus mengatur strategi.
Sedangkan Jisoo—yang kerap merasa sendiri—masih belum menemukan tempo itu. Jeonghan yang selalu setia di sisinya pun mungkin belum tahu sisi-sisi dirinya yang ragu dan takut ini. Sebab, ia senantiasa berusaha untuk mempertahankan tembok ekspresinya. Aku harus tetap melaju, kukuhnya. Namun, pagi ini, di hadapan Junhui, Jisoo meruntuhkan temboknya, dan mempertontonkan kerapuhannya.
“Aku tak tahu harus apa setelah ini,” jujurnya. Apalagi setelah ia kehilangan banyak orang di sekelilingnya. Dibunuh atau diculik—yang barangkali bisa terjadi pada dirinya juga.
Junhui mengamit jarinya. Hangat.
Jisoo merasakan dorongan kecil, seperti pesan bahwa ia tidak sendirian.
“Kau sudah berjuang sejauh ini,” puji Junhui. “Jalan yang sudah kau lalui sungguh berat. Aku paham.”
Adalah mata yang gelap dan berduka. Jisoo mentatapnya dengan hati berdenyut sakit. Mata yang mirip Lee Chan. Mata yang telah menatap Chan dengan penuh sayang sebelum dirinya.
“Tapi setiap suara sangat dibutuhkan,” Junhui menyampaikannya seperti sebuah permohonan. Seakan ia mengatakannya sambil bersujud di kaki Jisoo. Seperti berdoa agar Jisoo tak lelah berlari. Lantas, dikatakannya, “Semoga kau bisa bertahan sedikit lagi. Sedikit demi sedikit, hari demi hari….”
Jisoo menemukan kesungguhan dari matanya. Sungguh hebat bagaimana bara itu tak pernah mati oleh waktu. Justru, semakin nyala sampai sekarang.
Jisoo mengangguk, menyimpan pesan itu dalam hati.
Lee Chan menuntaskan tugasnya sebagai pemantik. Setelah ini, Jisoo akan melanjutkan tugas itu dengan melempar kobar api ke udara. Ini adalah permulaannya. Nyala-nyala api lain akan semakin membara ke depannya. Mati satu, tumbuh seribu. Demikian mereka menyebutnya.
“Mereka mungkin membumihanguskan kamu, tapi segala pemikiranmu akan terus mengalir sepanjang zaman,” imbuh Junhui. “Jangan pernah berhenti menulis dan bersuara. Sebab, jika suatu saat perjuangan kita berhenti, Jisoo…”
“Yang hidup akan meneruskannya,” pungkasnya, lagi. Ia kelihatan sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Siapa pun yang tulus mencinta, dia akan memperjuangkan. Seperti Jeonghan, seperti Wonwoo…. Untuk negeri ini, atau untuk orang-orang tersayang.”
Sambil melihat ke arah teman-temannya, Junhui menyampaikan, “Aku sudah melakukannya. Meneruskan perjuangan orang-orang yang kucinta.”
Wajah Jeonghan muncul jelas dalam pikiran Jisoo. Orang-orang tersayang.
…
“Kenapa kamu bisa suka padaku?” Jeonghan pernah bertanya pada suatu malam. Sepi dan dingin. Mereka menghabiskan kopi hangat di lobi kampus. Masih banyak orang terjaga untuk mengerjakan tugas akhir mereka.
Jisoo duduk santai sambil bersandar di dinding, bersentuhan bahu dengan Jeonghan—kawan seangkatannya.
Ia angkat bahu, lalu lanjut menyeruput kopinya yang masih panas. Uap-uap mengepul heboh dari gelasnya. Putih, kontras dengan gelapnya balkon kampus malam itu. Aroma kopi menguar di sekitarnya, berpadu dengan aroma khas parfum Jeonghan. Kayu manis dan citrus yang kuat.
Jeonghan menyenggol bahu Jisoo main-main, hampir buat tumpah kopinya, tapi dia masa bodoh dan memohon, “Ayolah, ceritakan.”
Jisoo menyeringai usil, balik menyenggol bahu Jeonghan. “Betul-betul penasaran?”
Saat itu, mereka belum jadi pasangan. Cuma tukar rayuan dan peluk manja antara satu sama lain.
Bagi mereka, komitmen masih terasa terlalu dini. Keduanya masih mau mengenal satu sama lain sebelum benar-benar serius menjalin hubungan. Lagipula, keduanya masih sangat muda, masih dua puluh.
“Aku suka karena kamu tampan.” Jisoo menyerah pada akhirnya. Ia jujur pada sang kawan.
“Itu saja?” Jeonghan terdengar sedikit kecewa. Padahal, Jisoo baru saja memujinya.
“Hmm, ya.”
Jawaban singkat itu sukses membuat desahan sendu Jeonghan ke luar. “Aku sedih sekali, aku pikir kau terpukau karena karismaku yang lain.” Pemuda itu memegang dadanya dengan main-main, seakan sedang menahannya dari kehancuran.
Jisoo terkekeh manis. Mendengar tawa itu, Jeonghan langsung melempar tatapan nyalang, kemudian membawa tangan Jisoo yang menganggur untuk turut memegang dadanya.
Di balik permukaan tangan, Jisoo merasakan debar tak beraturan jantung Jeonghan. Mirip dengannya.
“Rasakan patahannya. Kamu membuat hatiku hancur,” keluhnya. “Aku tidak mau kalau dilihat cuma sebagai pria tampan saja.” Bibirnya tertekuk manja. Kepalanya semakin bersandar ke bahu Jisoo, hampir tenggelam di lengkung lehernya. Begitu pas diisi oleh dirinya.
Jisoo menunduk sedikit, menyamakan wajahnya dengan milik Jeonghan. Kemudian, ia maju, dan mengecup pipi pemuda itu. Tangannya beralih memegang sisi kepala sang kawan.
Jeonghan terpaku. Ia rasakan hembus nafas Jisoo di pipinya, juga lembab yang mesra dan penuh kasih. Sontak, ketika pemuda itu menjauh, ia tahan kepalanya. Kali ini, ganti Jeonghan yang mencium pucuk hidungnya.
Kepala Jisoo dicangkup oleh tangan Jeonghan yang besar. Jempolnya menyentuh bibir Jisoo, mengusapnya pelan.
Mata mereka bertatapan dalam jarak hampir nihil. Begitu dekat. Jeonghan menatapnya dengan pandangan dalam dan gelap. Hampir mengalahkan gelapnya malam. Cahaya dari koridor menciptakan bayangan redup di antara mereka. Keduanya bersembunyi sejenak dari dunia.
Dalam detik-detik yang terasa panjang itu, mereka menghabiskan waktu cuma untuk saling tatap. Masih dengan jemari Jeonghan di wajah Jisoo, dan usap lembut di belah bibirnya.
“Aku suka matamu,” bisik Jisoo kemudian.
“Oh ya?” Jeonghan balik bersuara, nafasnya begitu dekat dan hangat. Cuma sesenti lagi, dan Jisoo bisa menariknya dalam ciuman panjang. Tapi ia urungkan niat amoril itu.
Alih-alih mengecup, Jisoo balik menyentuh wajah Jeonghan. Jarinya, yang kini bebas dan tak lagi memegang kopi, menangkup pelipis sang pemuda.
“Aku suka matamu yang menyala tajam saat diskusi di kelas,” tuturnya, mengusap ujung mata Jeonghan yang kini tampak sayu, hampir meruntuhkan Jisoo dan segala tembok batasnya. Dan, entah kapan, tubuh Jeonghan kini telah mengukung Jisoo sepenuhnya. Menghimpitnya di dinding, dengan sebelah tangan yang melingkar di pinggangnya.
Telunjuk Jisoo berjalan turun, menusuk pelan pipi Jeonghan dengan kukunya. “Atau pipimu yang merah karena malu dan canggung ada di dekatku.”
Jeonghan tersenyum lebar sampai giginya tampak. Dahi mereka bersentuh, membuat hidung saling bertabrakan.
Jisoo melanjutkan, kali ini tangannya mundur, mengusap rambut Jeonghan, alih-alih mengabsen objek wajahnya.
“Aku juga suka karena kamu penuh empati. Kamu menyimpan banyak kasih sayang, meski kadang disampaikan dengan tajam. Tapi itu yang buatku suka.”
Senyum Jeonghan semakin lebar, hingga mungkin tampak konyol. Tanpa sadar, ia memajukan tubuh, seakan hendak meraih bibir Jisoo.
Jisoo yang sadar, sontak melempar wajahnya ke atas, sambil tertawa geli, “Jeonghan!”
Bukan berarti dia tidak mau dicium. Sungguh, sejujurnya dia tak peduli. Kalau bisa, dia mau menarik Jeonghan dengan mesra, lalu duduk di atas pangkuannya, menjambak rambutnya, dan meraup bibirnya dengan lapar. Tapi diurungkan sekuat tenaga.
“Jangan di kampus!” cercanya, sebelum menarik kepala Jeonghan untuk bersembunyi di lehernya, hanya untuk mendapat kecup dan gigitan mesra di sana. “Jangan di kampus, Han!” katanya, sekali lagi. Tapi Jeonghan adalah laki-laki bebal.
…
Setelah menurunkan Junhui di lobi, Jisoo melanjutkan perjalanan seorang diri. Jalan sudah disibukkan oleh para pekerja dan anak sekolah. Kendaraan lain juga sudah mulai meramaikan lalu lintas.
Jisoo mulai merasakan kantuk dan penat di tubuhnya. Sebelumnya ia berusaha mengabaikan semua perasaan lelah itu. Tapi, kini ketika ia sendirian, semuanya merangsek paksa hingga tidak bisa ia abaikan lagi.
Kepalanya berdenyut, dan matanya pedas karena ia paksakan terbuka. Sudah dua hari lebih ia terjaga dan berkelana. Ia paksa tubuhnya menyetir, meski matanya mulai rabun karena air mata kantuk.
Jeonghan pasti menunggu di rumah mereka. Jisoo janji akan istirahat hari ini, setelah menyelesaikan tugasnya mendampingi Junhui.
Mobilnya terhenti di tikungan lampu merah. Kendaraan dari arah sebaliknya melaju ke sana dan ke mari. Tengah kota yang begitu sibuk.
Jisoo menyadari, walaupun negeri ini hampir hancur, dan pemerintahannya terus main-main, rakyat masih punya kepentingan masing-masing. Semuanya tetap harus melanjutkan pekerjaan demi bertahan hidup. Selelah apapun mereka.
Jisoo menghela nafas. Demi mengurangi kantuk, Jisoo menatap ke langit, hampir ke arah datangnya sinar matahari.
…
Sejak dulu, Jeonghan selalu ingin punya perusahaan media sendiri. Dia memang suka menulis. Mulai dari tabloid himpunan mahasiswa, lembaga pers, sampai jadi kontributor di media-media nasional. Jeonghan selalu punya rasa ingin tahu: kulik berita dari sudut yang berbeda, judul-judul sangar, dan data-data yang terang-benderang.
Maka, ketika mereka tiba pada semester akhir dan mulai mempertanyakan jalan karir, Jisoo menyarankan untuk membuat media independen.
“Direktur utama sekaligus editor tulisanku,” Jisoo berkelakar saat melihat wajah berantakan Jeonghan yang sedang mengoreksi tulisan. Ia berusaha cari hiburan dari kesibukan kekasihnya yang kian menumpuk. Ditusuk-tusuknya pipi Jeonghan yang sedang serius.
Jeonghan melirik, lalu mendesah lelah. Tangannya menyerahkan setumpuk kertas, beberapa warta hasil tulisan Junhui yang sudah dicorat-coret tinta merah. Mirip seperti tugas akhir yang dulu direvisi dosen.
Setelah itu, Jeonghan memeluk Jisoo yang duduk berhimpitan dengannya di sofa. Ia cubit pipi Jisoo gemas. Cukup kencang sampai Jisoo mengaduh dan cemberut.
“Jangan terlalu puitis, Sayangku. Kamu sedang menulis untuk politisi, bukan buat pacarmu,” Jeonghan berkata demikian sambil mengusak surai halus Jisoo.
Jisoo memutar mata malas. “Kita kan bisa mengkritik dengan puitis.”
“Itu kalau di kolom opini dan sastra,” Jeonghan menunjuk naskah Jisoo yang terpinggirkan. “Kamu sedang belajar menulis warta utama. Pembacanya dari khalayak umum, bukan sastrawan.”
Dua tahun setelah lulus, Jeonghan masih merintis medianya. Belum banyak sponsor dan berita advertorial, tapi ia tetap menulis dengan rutin. Didukung kontribusi beberapa kawannya—yang tentu dibayar dengan layak sesuai beban tugas.
Karena penghasilan media itu belum menentu, Jeonghan juga kerap ambil kerja tambahan sebagai penulis lepas tabloid ekonomi, tempatnya magang selama kuliah.
Waktu istirahat yang dia habiskan semakin sedikit setiap harinya. Jisoo bisa melihat jelas kantung mata hitam di wajahnya. Ia raba kulit yang berkerut halus itu.
“Kamu pasti lelah,” bisiknya lirih. “Tidur hanya beberapa jam sehari, lalu putar otak untuk cari ide, data, wawancara, dan buat tulisan. Kamu juga masih meluangkan waktu buatku. Tidak pernah marah, walaupun tulisanku masih tidak enak dibaca. Tidak pernah mengeluh juga…. Kesayanganku pasti lelah….”
Jeonghan terkekeh. Dia masih memeluk Jisoo dari samping. Keduanya sama-sama bersandar di sofa empuk ruang tengah—di ruang hunian yang sudah mereka bagi bersama sejak tahun terakhir kuliah, saat mereka mulai menjalin hubungan secara resmi.
Jeonghan membuat ekspresi sendu yang dilebih-lebihkan, lalu dia mengangguk. “Lelah sekali,” katanya. “Aku butuh vitamin penyemangat.” Dan, sebagaimana pemuda yang nakal dan berani, ia memajukan bibirnya, membuat gestur minta dikecup.
Jisoo terkekeh lucu. Ia tangkup wajah Jeonghan dengan kedua tangan, lalu mengikis jarak untuk mengecup singkat bibir kekasihnya.
Cup
“Lagi!”
Cup, cup, cup.
Senyum Jeonghan semakin merekah, membuatnya hampir tampak konyol. Namun, di mata Jisoo, dia justru semakin lucu. Kekasihnya yang tampak keras di luar, tapi sejatinya adalah sosok penuh empati dan kasih sayang.
“Apakah kita perlu liburan?” Jisoo mengusulkan. Sejak lulus kuliah, mereka berdua jarang sekali berlibur. Jika ada waktu untuk pergi, mereka biasanya singgah ke toko buku atau ke teater. Bukan bepergian ke tempat wisata seperti orang lain.
Jeonghan sepertinya tertarik dengan saran itu. “Ke mana ya sebaiknya?”
“Ada tempat yang mau kamu kunjungi?” Jisoo memastikan.
Jeonghan tampak berpikir keras, tapi tak lama ia menjawab, “Tidak ada.”
Jisoo tahu Jeonghan akan menjawab demikian. Pemuda itu bukan seseorang yang sering mengulik tempat-tempat wisata. Baginya, membaca buku dan menonton teater sudah cukup sebagai hiburan.
Sebenarnya, Jisoo mirip dengan Jeonghan. Di hari libur—yang tidak banyak—ia akan bersantai di rumah, menyelami buku-bukunya atau membuat kerajinan tanah liat. Jeonghan membelikan alat-alat ukir sebagai hadiah ulang tahun. Sejak saat itu, Jisoo terus menggunakannya jika ada waktu luang.
Namun, kali ini, Jisoo tertarik mengunjungi suatu tempat dengan sang kekasih. “Bagaimana kalau kita pergi liburan ke pantai?”
Sedihnya, saat itu, mereka belum punya mobil. Pasca krisis moneter, keluarga mereka menjual banyak barang, termasuk kendaraan. Yang mereka punya kala merintis, hanya sepeda motor kuno yang akinya sudah lemah dan kadang harus dipaksa menyala.
Mereka pun pergi lintas kota dengan kendaraan seadanya. Jisoo dibonceng oleh Jeonghan, dengan lingkar lengan di pinggul, sepanjang jalan. Lima jam berselang, laut di utara mulai tampak.
“Lebih biru dari di kota,” ujar Jeonghan.
Air itu mengundang mereka untuk menyeburkan diri. Mencari kesegaran di tengah panasnya hari.
Maka dari itu, setibanya Jisoo dan Jeonghan di batas pantai, mereka langsung melepas jaket dan barang-barang, kemudian berlarian menyambut ombak.
“Rasakan!” Jeonghan menggendong Jisoo di bahu, lalu melemparkannya tanpa rasa kasihan ke permukaan laut dangkal.
Air asin menerpa wajah dan rambut Jisoo. Dengan mata terpejam, ia menarik tangan Jeonghan hingga ambruk menabraknya.
Kemudian ombak itu surut, dan ia baru bisa membuka mata.
Jeonghan ada di atasnya, menopang tubuh dengan kedua tangan. Nafasnya terengah. Pakaiannya putihnya basah semua. Transparan, memperlihatkan kulit tubuh bagian atas. Jisoo menatapnya lapar.
Kala itu, Jisoo ingat jelas, cahaya matahari sore dan tatapan sayang Jeonghan berlomba menghujani wajahnya. Tetes-tetes air dari rambut Jeonghan jatuh di pipinya. Mereka sangat dekat… hanya tinggal sejengkal.
Jeonghan mengelus sisi wajah Jisoo. Lebih pelan dari sapuan air laut di punggungnya.
“Aku sayang kamu,” pria itu berbisik tulus. Tapi bagi Jisoo, bisikan itu jauh lebih lantang dari segala hempas ombak yang ada di dunia.
Keinginan Jisoo untuk menarik Jeonghan jatuh, dan menabrakkan bibir mereka, begitu tinggi.
Namun, ia pilih untuk menyentuh wajah sang kekasih. Menggeser anak rambut yang jatuh di kelopak matanya.
“Aku juga sayang kamu.”
Jeonghan tersenyum tipis. Langit biru berpendar di punggungnya. Pemandangan ini akan selalu Jisoo ingat seumur hidupnya, sampai di akhir hayatnya.
“Setidaknya, kalau kita tidak bisa menyelamatkan negeri ini, kita harus menyelamatkan satu sama lain,” Jeonghan berkata sungguh-sungguh. Ada ketakutan di matanya, mata yang senantiasa tampak tajam dan tak gentar. Barangkali tahu, dunia bisa memisahkan mereka kapan saja.
Tapi, di momen indah ini, Jisoo tak mau tenggelam dalam kekalutan. Maka, ia alihkan pembicaraan.
“Kamu sebetulnya superman ya? Makanya kamu punya fantasi untuk menyelamatkan?”
Jeonghan tertawa kencang sampai tubuhnya terlempar ke samping. Kini, ia tidak lagi mengukungnya.
Jisoo paling suka melihat tawa lebar Jeonghan. Sebentar saja, dia mau menikmati kebebasan ini: saling genggam dan saling mencintai.
Jisoo meraih sebelah tangan Jeonghan. Ia bawa kepalan itu ke depan bibir untuk mengecupnya perlahan, setiap buku-buku jarinya. Betapa ia mencintai orang di depannya ini….
Jisoo tahu ke depannya akan ada jalan panjang dengan berbagai rintangan yang harus dilalui. Tapi, bersama Jeonghan, ia akan melewati semuanya dengan hati yang luas.
Ia melihat ke langit. Matahari yang bersinar terang. Menyiram wajahnya yang pucat dan kelelahan. Memberi setitik kehidupan.
…
Lalu, sapuan ombak itu sirna. Dan seketika, Jisoo ingat, bahwa ia masih ada di balik kemudi mobilnya. Baru kembali dari mengantar Junhui, dan akan pulang ke rumah.
Ia berusaha memfokuskan pandangan. Tapi matanya silau sekali. Begitu terang dan putih.
Kemudian ada dengung di telinganya, karena suara kendaraan, dan barangkali karena kelelahan.
Dengung itu bertahan selama beberapa detik, hingga digantikan oleh klakson kendaraan.
Nyaring. Begitu nyaring.
…
“.... Kita sering menganggap bahasa itu netral, padahal tidak selalu begitu. Dalam politik, bahasa bisa dipakai untuk membentuk persepsi, mengaburkan realitas, bahkan memanipulasi emosi publik. Bahasa bisa dipermainkan; mendistorsi sejarah.
Seperti pemerkosaan massal yang tidak divalidasi, peringatan hari perempuan yang kini bergeser sebatas selebrasi, perjuangan rakyat yang dikaburkan jadi alat politik, atau segelintir kasus pembungkaman kritik.
Kalau kita biarkan ini terus terjadi, negara ini bukan lagi milik rakyat, tapi milik mereka yang memegang kuasa.”
…
Ingatan Jisoo terlempar lagi ke masa lalu. Yang Jisoo ingat, Lee Chan dan Jeonghan saling melempar tawa saat membaca tulisan di layar komputernya.
“Tulisanmu sudah mulai galak ya, Jisoo,” Chan menggoda. “Tidak terlalu puitis seperti dulu.”
Pemuda yang diledek mendengus. “Kalian masih ingat?”
“Ingat!” seru Jeonghan. “Saking puitisnya, aku masukkan ke kolom sastra, bukan sosial-politik lagi.”
Tawa Chan makin kencang. “Bersanding dengan syair-syair romansa?”
Mendengar itu, Jisoo makin berang.
“Cinta dan politik itu sejalan!” geramnya.
Sebelah alis Chan terangkat, sanksi. “Oh iya? Berkenan memberikan contoh?”
Saat itu—yang Jisoo ingat—adalah mata Jeonghan yang berkilauan disinari layar komputer. Ruangan remang yang pengap dan suram di malam hari, tapi Jisoo menemukan sebinar percik dari manik hitam itu.
Saat itu—yang Jisoo ingat—adalah bagaimana jantungnya berdegup riuh, dan perutnya bergejolak gugup. Sudah dua tahun pun, ia masih jatuh berkali-kali.
“Karena politik, kita jadi tidak bisa bebas mencintai.”
Kerut di dahi Chan mengendur, kali ini ia mendengar dengan seksama.
“Seluruh aspek kehidupan diatur: dari cara kita berperilaku, berkomunikasi, dan saling berbagi kasih,” Jisoo menjelaskan dengan tenggorokan yang tercekat. “Siapa-siapa yang menyalahi norma, akan dijauhkan dari struktur sosial.”
Alih-alih sendu, Jeonghan melempar setatap ekspresi gamang. Tak lama, senyum pahitnya terkembang.“Iya, itu benar. Cinta dan politik memang sejalan,” pemuda itu mengakui.
Chan mengangkat bahu. “Cuma mau menggodamu kok, sebetulnya aku juga sudah paham.” Ia mengukir senyum miring yang membuat Jisoo sedikit jengkel.
Ejekan itu mengundang tawa dari Jeonghan. “Kau memang paling pandai membuat Jisoo kesal, Chan.”
Kejengkelan Jisoo justru sedikit meluruh saat mendengar tawa Jeonghan.
Kekasihnya itu, menepuk bahu Chan main-main. “Semoga kamu tidak pernah merasakan,” katanya, memandang yang lebih muda dengan sungguh-sungguh.
“Merasakan apa?” Chan bertanya keheranan.
Jeonghan, masih dengan ekspresi lembutnya, menjawab, “Cinta yang dikekang negara. Semoga kamu tidak pernah merasakannya.”
Kali ini, Chan tidak tertawa. Alih-alih, dia memandang Jeonghan dan Jisoo bergantian. Tak lama, ia buang muka ke luar jendela. Barangkali, mencari pemandangan yang lebih indah, dibanding potret tragedi dua pemuda yang dimabuk cinta, dan mabuk doktrin moral pemerintah.
Seandainya….
…
Saat kenangan itu sirna, Jisoo merasakan tubuhnya terpelanting di udara. Dunianya berputar. Kaki tak lagi menyentuh permukaan, dan tangannya melambai tak kenal arah. Lalu, kepalanya terbentur. Sekali, dua kali, hingga berkali-kali. Disertai pecahan kaca yang berserakan di sekitarnya. Tubuhnya yang kelelahan tak mampu bertahan. Ia sungguh mengantuk. Sangat mengantuk sampai tidak bisa melihat jelas apa-apa yang terjadi di sekelilingnya.
Begitu ia terpejam, dunianya terasa begitu tenang. Tiada bising sama sekali. Klakson kendaraan, obrolan pagi di pinggir jalan, semuanya membisu.
Lantas, Jisoo mendengar suara ombak, deru angin, kicauan, dan tawa dari kejauhan.
Guncangan yang hebat itu terasa seperti lantun syair baginya. Seakan ia sedang diguncang pelan oleh ibunya dalam gendongan. Seperti saat ia masih belia.
Matanya mulai memejam sempurna. Tak dihiraukan lagi apa yang terjadi di sekeliling.
Jeonghan, aku mengantuk.
Saat itu, memori pertemuannya dengan Jeonghan, terulang dalam pikiran.
Dalam sebuah diskusi himpunan mahasiswa yang mempertemukan mereka, dengan topik diskusi yang cukup serius. Saat itu orang-orang mempertanyakan, kenangan apa yang terlintas di kepala sebelum kematian? Apakah penyesalan? Segala kesenduan-kesenduan yang membekas? Atau kebahagiaan? Memori-memori manis yang selamanya tersisa di sudut kepala, bahkan di saat terakhir kehidupan?
Jisoo kini tahu jawabannya.
Ia mengingat Jeonghan. Mengingatnya sebagai kesenduan dan puncak kebahagiaan. Tak pernah sekalipun ia menyesal telah dipertemukan.
Mengingat Jeonghan membuat Jisoo mencela sekaligus menyukuri kehidupan.
Seandainya, bisa mengejar cita-cita kita, dan bebas mencinta….
Jika bukan di negeri ini…
jika bisa lebih dari ini….
Mau bagaimanapun, yang hidup harus terus melanjutkan perjuangan.
“Apakah kamu bisa menjaga diri di sana?”
“Aku akan berusaha.”
…
Aku tak pernah menatap surga atau ketenteraman.
Aku hanya memandang hutan terbakar sepanjang zaman dan nanah busuk selalu mengucur dari akar.
(T. Triwikromo)
