Actions

Work Header

Disepong Di Toilet Parkiran

Summary:

Niat awal Alan sore itu sebenernya simple, cuman pengen nasehatin Bibin buat ngurangin tembakau lalu diselingi candaan laki-laki pada umumnya. Tapi, saat satu notifikasi pesan singkat dari Bibin berhasil menguji sisa-sisa kewarasannya hingga ke batas akhir, Alan terpaksa menyeret Bibin ke toilet parkiran kampus demi memberi pelajaran atas tantangan yang dilontarkan Bibin.

Notes:

This piece is still part of the AU @kulitmenangis on X.
Direkomendasikan untuk baca dulu tweetnya, tapi kalau belum juga gak apa yak, gusy.

Bon appétit!

Work Text:

Sinar matahari sore membias tipis di sela-sela tiang kayu pendopo kampus yang mulai sepi. Dan di atas meja kayu panjang, laptop Alan masih menyala sempurna, menampilkan tumpukan jurnal pencarian dan draf esai yang belum selesai. Di seberangnya, Bibin duduk dengan tenang jemarinya lincang mengetik di atas keyboard. Mungkin, jika dilihat sekilas mata, mereka tampak seperti dua mahasiswa sipil yang sedang dikejar tenggat waktu tugas akhir. 

Namun ketenangan itu tidak berselang lama. Ponsel Alan yang tergeletak di samping laptop bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar, Alan meliriknya sekilas, berpikir bahwa itu hanyalah pesan masuk dari organisasi atau kelompok tugas matkul kampret itu. 

Jadi kapan isep-isep kontolnya?

Darah Alan berdesir hebat, naik ke kepala dengan kecepatan yang mengerikan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga gema detaknya seolah memenuhi rongga dadanya. Matanya terpaku pada baris kalimat vulgar yang dikirimkan oleh orang yang saat ini duduk tepat di hadapannya dengan wajah tanpa dosa. 

Alan perlahan mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Di seberang meja, Bibin dengan sengaja menurunkan sedikit layar laptopnya hingga mata mereka bertemu. Bibin menatap Alan dengan tatapan yang begitu pekat, sementara ibu jarinya bergerak menyapu bibir bawahnya sendiri dengan gerakan yang sangat lambat. Detik itu juga muncul letupan panas yang membakar bagian bawah celana Alan. Anjing! Sexy banget, setan!

Kejantanannya menegang dengan sentakan yang kuat, berdenyut menuntut kebebasan, menciptakan sensasi menggelitik yang luar biasa hebat di dasar perutnya. Kepala Alan mendadak pening karena pasokan oksigen yang terasa menipis. Imajinasinya berputar liar, bayangan rongga mulut Bibin yang hangat, basah, dan siap mengulum kebanggaannya itu langsung menghujani benaknya, mengikis fokus yang ia bangun sejak pagi. Tangannya yang berada di bawah meja sudah mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan dorongan untuk meraih kaki Bibin di balik meja dan mendudukkannya di atas pangkuannya. 

“Alaan?” suara Bibin memecah kesunyian, terdengar begitu polos namun terdengar nada mengejek yang samar di sana. Alan memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan menghembuskannya perlahan-lahan untuk mengontrol tubuhnya. Wah, anjing lu, Bin. Alan harus bertahan, ini masih di lingkungan terbuka, siapa saja bisa berlalu-lalang. 

Alan membuka matanya, menatap Bibin dengan sorot ancaman yang tertahan. “Ada apa, cantiik?” Bibin tidak menciut, sebaliknya, menatap Alan — menantang, kilat matanya dipenuhi kepuasan setelah berhasil mengusik ketenangan pria yang ada di depannya. “Nggak papa, gue kira ada masalah sama esai lu." Alan berusaha semaksimal mungkin untuk memusatkan perhatiannya pada layar laptop, namun fokusnya sudah menguap total. 

Setiap kali Bibin menggeser posisi duduknya, atau saat deru nafasnya terdengar agak berat dari seberang meja, kejantanan Alan di balik jeansnya semakin berdenyut ketat. “Lan, gerah nggak sih?" Bibin melepas kemeja flannel yang melekat di tubuhnya, menyisakan sehelai kaos putih polos  ketat hingga dapat menampakkan dengan jelas lekuk tubuhnya. Bin, udah gak sih, Bin. 

Alan langsung menutup laptopnya dengan hentakan pelan, tanpa sepatah kata apapun menyambar tasnya, dan menatap Bibin penuh isyarat. Bibin yang paham pun turut berbenah. Detik berikutnya Alan mencengkram pergelangan tangan Bibin dengan usapan ibu jari yang menekan dalam, lalu menariknya keluar menuju area parkiran yang sunyi. Gairah yang terlanjur meletup-letup membuat jarak menuju kosan terasa terlalu jauh dan menyiksa. Hingga akhirnya pilihan mereka jatuh pada sebuah bilik toilet umum di dekat sudut parkiran yang sudah sepi dari lalu lalang mahasiswa.

You better watch your words deh, Bin, habis ini. Atau lu habis sama gua.” Begitu pintu kayu toilet itu ditutup dan dikunci dari dalam dengan bunyi klik yang solid, atmosfer di dalam ruang sempit itu langsung berubah pekat dan pengap oleh deru napas yang memburu. “Loh, tadi kan lu sendiri yang menawarkan diri. Gue salah?” Alan langsung mendesak tubuh Bibin ke dinding semen, mengunci pergerakannya. “Nggak salah, tapi gua nggak nyangka kalau lu akan menanggapi asbunan gua, Bin.”

Alan menurunkan resleting celana Bibin secara kasar, menyingkirkan helaian kain yang menghalangi hingga pusat kehangatan Bibin yang sudah basah dan mendamba terekspos sepenuhnya. “Hah, anjing, Bin. Gua bahkan belum ngapa-ngapain lu, tapi kontol lu udah se basah ini?” Ibu jarinya bergerak jail mengusap pangkal kejantanan Bibin yang memerah.

“Ah! Alannh....” Bibin menggeliat di bawah kungkungan Alan.

“Kalau ada orang nanya, jawab, Bin. Jangan kayak perek bisanya ngedesah doang.”  

Mendengar ucapan Alan, Bibin terkekeh pelan dengan napasnya yang memburu. “Mmnh.... Gara-gara lu bilang buat isep kontol luhh… Gue jadi ngebayanginhh... Ahn... Kalau dienakin lu bakal bikin gue segila apa yah....”

Alan tersenyum menang, pemandangan Bibin dari atas sana hampir saja membuat akal sehatnya lenyap sejenak. “Ngebayanginnya enak, ya, Bin?” Bibin mengangguk nikmat saat jemari Alan menari dengan bebas pada bagian selatan tubuhnya.

“Emh…. enakhmph — ” Alan merangsek maju, membungkam bilah bibir Bibin dengan sebuah ciuman yang lapar, kasar, dan langsung menghancurkan sisa-sisa jarak di antara mereka. Alan tidak memberikan waktu bagi Bibin untuk sekadar meraup oksigen. Lidahnya langsung menginvasi, menerobos barisan gigi Bibin yang pasrah terbuka, berputar dan membelit lidah Bibin dengan gerakan yang menuntut dan luar biasa serakah.

Bunyi kecipak basah menyeruak memenuhi seisi ruangan, mengundang gairah nafsu yang seketika mendidih di dalam pembuluh darah mereka. Tangan Alan yang bebas naik mencengkeram rahang Bibin, menengadahkan wajah itu agar ia bisa memperdalam sesapannya, sementara tangannya yang lain masih terus mengusap kasar pangkal kejantanan Bibin yang kian menegang di bawah sana.

Bibin benar-benar dibuat kewalahan. Rasa nikmat yang menjalar dari bibir hingga ke selangkangannya membuat seluruh tubuhnya gemetar. Kedua tangan Bibin bergerak liar, mencengkeram bahu kokoh Alan, meremas kemeja kuliah pria itu hingga kusut demi mencari pegangan agar kakinya tidak melemas dan jatuh ke lantai toilet. Alan akhirnya memutuskan pagutan dahsyat mereka dengan sentakan pelan,menyisakan benang saliva yang terputus di udara oengan bilik toilet. 

“Lihat, Bin. Kontol lu merah banget. Se enak itu, ya?” 

Bibin hanya bisa mengangguk pelan, “emh... Enyak... Ahnn... Lagi, Lan... Geli bangethh.. Ahh....” 

Suara erangan Bibin kembali terdengar tatlkala Alan melanjutkan jamahannya di bawah sana. Alan mempercepat gerakan tangannya, konstan, dan penuh penekanan yang presisi pada bagian ujungnya yang sensitif. “Desah terus, Bin. Desah kayak perek, biar orang-orang bisa denger kamu lagi diapain di sini.”

“Ahh! Mmnh... Iyah... Kan aku pereknya kamuhh... Alannh... Aku mau pipis Alanh... Mau pipis bangethh...” Jerit Bibin frustasi, matanya terpejam, kepalanya mendongak sementara pinggulnya bergerak maju sendiri, mendesak telapak tangan Alan. 

“Pipis di tangan aku ya, cantik. Keluarin semuanya yang pinter, oke?" Perintah Alan dengan suaranya yang terdengar mutlak. 

“Ahhh... Alanhh... Aku pipis... Aku pipishh... Alanhh.. Ahhn!”

Tubuh Bibin menegang kaku, jemari kakinya mencengkeram lantai toilet saat ia mencapai puncak ejakulasi pertamanya. Cairan hangat yang pekat menyembur kuat dalam beberapa kali sentakan, melumuri telapak tangan Alan hingga meluber ke sela-sela jarinya. Bibin terkulai lemas di dinding, dadanya kembang kempis dengan sisa erangan yang memudar, benar-benar dibuat tak berdaya oleh jamalan tangan Alan.

Alan terkekeh rendah, memandangi tangannya yang penuh dengan jejak pelepasan Bibin. “Enak banget ya, Bin? Sampe bucat gini.” Tanpa rasa jijik, ia mengusapkan sisa cairan tersebut ke paha Bibin, sebelum akhirnya memundurkan langkahnya sedikit untuk menuntut haknya yang belum terpenuhi. “Sekarang gantian gua yang dienakin, ya, cantik?”

Alan menurunkan risleting celananya sendiri, membebaskan kejantannya yang sudah menegang maksimal sejak di pendopo tadi. Organ kokoh itu menyentak keluar, berdenyut kemerahan di udara malam yang dingin dengan ukuran yang besar padat dan aroma maskulin yang pekat. “Lihat kontol kebanggan gua ini, Bin. Udah gak sabar mau dibelai mulut perawan lu itu.” 

Bibin mendudukkan dirinya pada lantai bilik toilet. Meskipun tubuhnya masih lemas sisa ejakulasi, namun gairah di mata Bibin kembali menyala saat melihat milik Alan yang mengacung tegang di depan wajahnya. Rasa lapar dan penasaran yang sama kembali menguasai dirinya. 

"Sini, majuan lagi, Lan... Gue emut semuanya sampe dengkul lu kopong." Tantang Bibin frontal. 

Ia membuka bilah bibirnya lebar-lebar, menyambut ujung kepala kejantanan Alan yang sudah mengeluarkan carian pre-cum. Gerakannya perlahan namun pasti, hingga organ tegang itu memenuhi rongga mulutnya yang basah, lalu mulai menghisapnya dengan dalam. 

Slurps.... Suara cecapan basah seketika menggema di dalam ruangan toilet yang sempit. Bibin bergerak maju-mundur dengan ritme yang semakin berani, mengulum batang kokoh iit hingga ke pangkal tenggorokannya, menggunakan kehangatan dan jepitan bibirnya untuk menyedot Alan dengan ketat. 

"Ahh, bangsat... Mulut perawan enak banget, anjing! Hmnn..." Alan sontak melenguh keras, kini kepalanya yang mendongak, membentur dinding dengan mata terpejam saat jemarinya mencengkeram erat rambut belakang Bibin, memandu gerakan maju-mundur itu agar semakin dalam dan mengigit. "Kenyot yangh bener, Bin... Kulum kepalanya pake lidah lu... Ahh... Pinter bangeth cantik...." 

Sluurp... Chup... Slurps... 

Bibin semakin menggila. Suara hisapan yang ketat dari mulutnya bersahutan dengan lenguhan napas Alan yang kian menderu, "ahh... Gua mau crot, Bin... Gua crot di dalem, ya? Boleh, ya, cantikhh? Ahh...." 

"Mmh... Lepeh semuanya, Alanh..." Gumam Bibin di sela-sela kulumannya, mendongak dengan tatapan yang sepenuhnya tenggelam dalam kabut gairah. 

"Bin, Anjing! Gua mau croth.... Telen semuanyahh... Ahh... Jangan ada yang tumpah, okehh?" Geram Alan rendah, sebelum akhirnya sentakan hebat menandai puncak pelepasan Alan yang pekat, membanjiri rongga mulut Bibin mingga merembes keluar melalui sela-sela yang ada. 

Bibin meneguk sisa pelepasan itu dengan paksa hingga gerak jakunnya naik-turun. Badai nafsu yang liar itu perlahan surut, menyisakan napas terengah-engah dari dua makhluk Adam. Alan membantu Bibin berdiri, memandangi wajah temannya yang berantakan namun tampak begitu sensual dan menggoda untuk dimakan. Jangan ngaceng lagi, Lan. Tahan. 

"Bener-bener lu telen habis semuanya, ya. Ternyata rakus banget mulut lu kalo lagi sange gini, Bin." Bisik Alan, ia merunduk sejenak untuk menyeka sisa sperma yang meluber di sudut bibir Bibin dengan ibu jarinya, lalu menjilat itu dengan pandangan yang mengunci mata Bibin. 

Bibin hanya bisa tersenyum lemas. Sambil mengatur sisa napas, mereka membenahi kembali pakaian kuliah mereka yang sempat berantakan di dalam toilet. Begitu pintu bilik dibuka, hawa malam parkiran yang sejuk langsung menyambut, mengusir sisa-sisa kehangatan yang baru saja mereka bagi. 

Alan merangkul pundak Bibin yang berjalan agak lemas, menuntunnya menuju motor yang terparkir di bawah temaram lampu yang mulai sepi. Bibin merogoh kantong celananya, berniat mengambil sekotak rokok dan korek api untuk menenangkan sarafnya yang baru saja tegang. Namun, niatnya ia urungkan tatkala Alan memandangnya dengan senyum tipis yang terpahat di wajahnya. 

"Kayaknya gue ganti rokok deh mulai sekarang." Bibin menatap Alan dengan sisa tatapan sayu yang kini berganti menjadi senyuman penuh arti. Ia melirik sekilas ke arah bibir Alan, lalu memasukkan kembali kotak rokoknya ke dalam saku. "HAHAHAH!" Tawa Alan lepas dari empunya suara. Menggema renyah di keheningan parkiran malam itu. Ia gemas lalu mengacak rambut Bibin pelan sebelum memakaikan helm ke kepala temannya itu. 

"Ganti apa emangnya, Bin?" Suaranya pelan namun ada nada mengejek di sana. "Ah, monyet lu, Alan. Rokok lu lebih enak dibanding tembakau gue." 

"Oh, jelas. Malahan bisa bikin kenyang dan ketagihan tiap hari. Udah mah gratis, stoknya unlimited khusus buat lu."

Bibin memukul pelan lengan Alan, wajahnya ditolehkan ke arah sembarang, tidak ingin bersitatap dengan sosok pria di depannya itu. "Najis banget lu, anjir! Tapi besok-besok jangan di toilet, dong. Dingin tau!" 

Tawa Alan kembali pecah, "iya iyaa, maaf ya, cantiik. Ini kita ke kos gua aja, ya? Udah malem." Bibin mengangguk pelan, saat ini dirinya hanya bisa termanut mengikuti Alan, karena mau bagaimanapun kos Alan sudah seperti kos miliknya juga. "Nih, pake helmnya. Biar otak lu gak makin geser gara-gara kebanyakan mikirin kontol gua," ucap Alan sambil mengetuk pelan kaca helm Bibin. 

"Bacot, lu. Udah, ah. Buruan jalan, gue laper beneran sekarang." Seru Bibin dari balik helm. 

"Iyaa, cantiik. Bawel dah. Mie ayam dulu kalo gitu, mau?" 

"Maau." 

Setelah memastikan Bibin duduk dengan nyaman di boncengannya,Alan menyalakan mesin motor. Bibin menyandarkan dagunya di bahu kokoh Alan, memasukkan tangannya ke kantong jaket pria itu. Malam itu,motor mereka perlahan maju membelah jalanan ibu kota yang kian larut,membawa mereka berdua pulang bersama dalam dekapan angin yang hangat.

Sangat kasual, bukan?