Work Text:
Di televisi, krisis selalu terdengar seperti istilah ekonomi.
Di dapur kontrakan, ia berbunyi seperti minyak goreng yang dituang terlalu sedikit.
Damar Aryasatya pertama kali memikirkan kalimat itu saat berdiri di depan kompor listrik ruang sekretariat bantuan hukum kampus, menatap telur ceplok yang pinggirannya terlalu cokelat dan tengahnya terlalu pucat. Di sebelahnya, Ratri sedang menghitung uang kas untuk membeli air mineral bagi massa aksi yang baru dibubarkan. Di layar ponsel seseorang, seorang pejabat berbicara tentang tekanan global, penyesuaian harga energi, kestabilan fiskal, dan optimisme pertumbuhan.
Di atas meja, ada lima bungkus nasi kucing untuk empat belas orang.
"Kalau dipotong dua, semua kebagian," kata Ratri.
Damar menatap telur di wajan. "Kalau martabat juga bisa dipotong dua, mungkin negara ini sudah lama kenyang."
Ratri tidak tertawa.
Tidak ada yang benar-benar tertawa lagi belakangan ini. Tawa masih ada, tentu saja. Ia muncul sesekali, pendek dan kasar, seperti korek api yang dipaksa menyala di tengah hujan. Tetapi tawa yang lepas, yang tidak membawa ekor berupa rasa bersalah, sudah lama mengungsi dari kampus.
Sejak harga bahan bakar naik, bahkan humor ikut terkena inflasi.
Di luar sekretariat, halaman fakultas masih basah. Hujan turun sejak sore, bercampur dengan sisa gas air mata yang terbawa angin dari arah jalan besar. Poster-poster aksi tergeletak di lantai: TURUNKAN HARGA, BUKA DATA ANGGARAN, JANGAN SURUH RAKYAT HEMAT SAAT PEJABAT TAMASYA. Karton-karton itu lembek di ujungnya, tinta spidol melebar seperti luka yang dibiarkan terkena air.
Hari itu, Jakarta turun ke jalan.
Bukan hanya mahasiswa. Bukan hanya buruh. Ada ibu-ibu yang membawa struk belanja. Ada pengemudi ojek yang menulis harga bensin di punggung jaketnya. Ada anak kos yang membawa panci kosong. Ada guru honorer yang berjalan dengan sepatu basah. Ada bapak tua yang berdiri di belakang barisan, memegang poster kecil bertuliskan: KAMI SUDAH HEMAT SEBELUM KALIAN MENYURUH.
Di televisi, mereka disebut massa.
Di jalan, mereka punya nama.
Damar hafal sebagian. Bagas, mahasiswa teknik, ditangkap di depan halte. Lintang, buruh pabrik garmen, kena pukul di bahu. Amar, pengemudi ojek, pingsan setelah menolong anak sekolah yang terkena gas air mata. Nara Baswara, mahasiswa kampus seberang, belum pulang sejak magrib.
Dan Kak Saka belum menjawab teleponnya.
Itulah yang membuat semua suara di sekretariat terdengar seperti berasal dari ruangan lain. Damar meletakkan telur ceplok ke piring plastik. Ponselnya sejak tadi terbuka pada ruang obrolan dengan Saka Mahardika.
Pesan terakhir dari Damar pukul 21.12:
Kak Saka di mana?
Centang dua.
Tidak dibaca.
Pukul 21.37:
Kak, jawab.
Centang dua.
Tidak dibaca.
Pukul 22.04:
Jangan ke barikade depan. Mereka mulai dorong massa.
Centang dua.
Tidak dibaca.
Pukul 22.48:
Saka.
Satu centang.
Damar menatap satu centang itu seolah ia adalah lubang kecil di dinding yang bisa memperlihatkan masa depan buruk. Satu centang selalu tampak sederhana sampai ia menjadi satu-satunya tanda bahwa seseorang yang kau tunggu mungkin sedang berada di tempat yang tidak bisa dijangkau doa, hukum, maupun sinyal.
Damar hampir menelepon lagi ketika pintu sekretariat terbuka. Seorang mahasiswa masuk dengan mata merah dan napas tersengal, ditopang dua orang relawan. Bahunya memar. Jaket almamaternya basah, bukan hanya oleh hujan. Ratri langsung berdiri, memanggil relawan medis dari ruang sebelah. Seseorang bertanya namanya. Seseorang lain mencatat kronologi. Di pojok ruangan, printer kembali menjerit mencetak surat kuasa.
Kekacauan, Damar pelajari, tidak pernah datang sendirian. Ia datang membawa rombongan.
Damar mengambil napas, meletakkan ponselnya di sebelah piring, lalu membantu Ratri memindahkan mahasiswa itu ke kursi panjang. Tangannya bekerja otomatis: ambil kapas, buka botol antiseptik, tanya lokasi kejadian, tanya apakah ada yang ditangkap, tanya apakah ia sempat melihat Nara.
"Dekat stasiun lama," kata mahasiswa itu, suaranya serak. "Ada yang ditarik ke mobil."
Damar berhenti. Kapas di tangannya menggantung di udara.
"Siapa?"
Mahasiswa itu menggeleng. "Saya nggak lihat jelas. Asap tebal. Tapi ada wartawan yang motret. Kayaknya dari Lintas Suara. Yang sering pakai jaket hitam."
Semua darah di tubuh Damar seperti turun ke kaki. Ratri menatapnya. Tidak ada yang menyebut nama. Tidak perlu.
Ponsel Damar bergetar pukul 23.19. Ia menyambarnya begitu cepat sampai hampir jatuh.
Saka Mahardika: Dam, kalau aku nggak balik sebelum subuh, jangan cari aku sendirian.
Ruang sekretariat kehilangan oksigen.
Damar membaca kalimat itu satu kali. Dua kali. Tiga.
Ada kalimat-kalimat yang tidak perlu mengaku sebagai perpisahan untuk terdengar seperti perpisahan. Kalimat Saka adalah salah satunya. Ia tidak dramatis. Tidak panjang. Tidak memakai tanda seru. Justru karena itu, ia terasa seperti sesuatu yang ditulis sambil berlari.
Damar langsung menelepon. Tidak diangkat. Ia menelepon lagi. Sekali. Dua kali. Ketiga.
Pada panggilan keempat, suara Saka akhirnya muncul. Pecah, berat, bercampur angin, sirene, dan napas yang berusaha tidak terdengar panik.
"Dam."
"Kak Saka di mana?"
"Jangan marah dulu."
"Kak Saka di mana?"
"Dekat stasiun lama."
Damar berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur meja. Sebuah map jatuh. Kertas-kertas di dalamnya menyebar di lantai seperti burung yang ditembak.
"Share location sekarang."
"Nggak bisa."
"Saka."
Nama itu keluar tanpa Kak. Dan di seberang sana, Saka diam sepersekian detik, cukup lama untuk memahami bahwa Damar sudah melepas pagar sopan santun dan berdiri telanjang di tengah ketakutannya sendiri.
"Aku lagi diikuti," kata Saka.
Damar berhenti bernapas.
Di sekitarnya, posko tetap bergerak. Ratri masih menekan kapas ke bahu mahasiswa. Relawan lain masih mengetik. Kipas angin masih memotong udara dengan malas. Tetapi bagi Damar, dunia tinggal suara Saka di ponsel.
"Aku punya rekaman," kata Saka. "Aku lihat mereka bawa Nara ke mobil. Bukan mobil tahanan. Mobil sipil. Pelatnya ditutup. Ada tiga orang. Dua pakai jaket gelap, satu pakai masker putih. Aku dapat wajahnya waktu maskernya turun."
Damar memejamkan mata. Semua kemungkinan buruk membuka pintu sekaligus di kepalanya.
Sejak sore, kota memang sudah seperti paru-paru yang dipenuhi asap. Aksi awalnya bergerak dengan suara yang hampir tertib: mahasiswa berorasi, buruh mengangkat spanduk, ibu-ibu membentangkan struk belanja seperti bukti perkara, pengemudi ojek menaruh helm di atas aspal, kosong, berjajar seperti kepala-kepala yang sedang menunggu keputusan.
Lalu menjelang malam, barikade bergeser.
Tidak ada yang tahu siapa mendorong duluan. Dalam sejarah resmi, kekerasan selalu lahir dari kabut. Tiba-tiba ada botol terbang. Tiba-tiba tameng maju. Tiba-tiba gas ditembakkan. Tiba-tiba semua orang berlari. Tiba-tiba kata rakyat berubah menjadi massa tidak terkendali.
Dan Saka, tentu saja, berada di sana. Saka selalu berada di sana.
"Dengar aku," kata Damar. "Jangan ke redaksi. Jangan ke kos. Jangan ke tempat biasa. Kamu ke kampus. Pintu belakang fakultas. Aku jemput."
"Dam—"
"Tidak ada debat."
"Aku harus kirim file dulu."
"Kirim dari sini."
"Aku nggak yakin memori utamanya aman. Mereka mungkin sudah lihat aku motret."
"Makanya kamu ke sini."
Hening sebentar. Lalu Saka tertawa kecil. Retak.
"Galak banget."
Damar ingin membentak. Ingin mengatakan bahwa lelucon adalah barang mewah yang tidak boleh dipakai ketika seseorang sedang diburu tengah malam. Ingin mengatakan bahwa ia lelah menyaksikan Saka mengubah tubuhnya menjadi pagar di depan setiap kebenaran yang berbahaya. Ingin mengatakan, sekali saja, jadilah egois. Pilih hidupmu sendiri. Pilih pulang. Pilih aku.
Namun yang keluar dari mulutnya justru lebih pelan.
"Ka. Tolong."
Di seberang sana, Saka diam. Damar tahu permintaan tolong itu mengenai sesuatu. Saka kebal terhadap larangan. Kebal terhadap nasihat. Kebal terhadap semua bentuk kecemasan yang disampaikan sebagai instruksi. Tetapi permintaan tolong membuatnya berhenti, barangkali karena Saka tidak pernah benar-benar tahu apa yang harus dilakukan ketika orang lain mengaku butuh ia hidup.
"Oke," kata Saka akhirnya. "Lima belas menit."
"Telepon tetap nyala."
"Baterai tinggal tujuh persen."
"Saka."
"Aku hidup sampai kampus," kata Saka. "Itu jawabannya."
Panggilan terputus.
Damar berdiri mematung dengan ponsel masih menempel di telinga. Pada layar laptop di meja, draf laporan penangkapan terbuka. Kalimat terakhir yang ia ketik sebelum pesan Saka masuk berbunyi:
Setiap warga negara berhak atas perlindungan dari tindakan sewenang-wenang.
Damar menatap kalimat itu lama. Lalu tertawa sekali. Tidak lucu. Tidak bahagia. Hanya bunyi pendek dari seseorang yang terlalu sering menyaksikan bahasa hukum berjalan pincang di depan kekuasaan yang membawa tongkat.
"Kita buka pintu belakang," kata Ratri, sudah berdiri dengan ponsel di tangan. "Aku hubungi Bima. Jangan lewat gerbang utama."
Damar menyambar jaket, kotak P3K kecil, charger, dan dua flashdisk kosong. Ia berlari sebelum Ratri selesai bicara.
Kampus pukul hampir tengah malam tidak pernah benar-benar kosong. Ia hanya berhenti berpura-pura menjadi tempat belajar. Di lorong fakultas, lampu neon berkedip seperti mata yang kurang tidur. Poster diskusi hukum agraria mengelupas di papan pengumuman. Lantai basah oleh jejak sepatu massa yang datang mencari pertolongan. Di sekretariat bantuan hukum, beberapa mahasiswa tidur dengan jaket basah sebagai selimut, dikelilingi karton air mineral, spanduk yang belum sempat digulung, dan bau minyak kayu putih.
Damar menunggu di pintu belakang fakultas dengan dada terlalu sempit untuk napasnya sendiri. Hujan mengecil menjadi gerimis. Jalan kecil di belakang kampus tampak licin dan lengang, tetapi setelah telepon Saka, lengang bukan lagi tanda aman. Lengang hanyalah cara bahaya menahan napas.
Pukul 23.41, Saka muncul dari ujung gang. Ia berlari tanpa suara. Jaket hitamnya basah. Rambutnya menempel di dahi. Kameranya tidak tergantung di leher seperti biasa, melainkan dipeluk di dalam jaket. Ada luka tipis di bibirnya. Di pelipis kirinya, darah sudah mengering membentuk garis kecil ke arah rahang.
Damar ingin marah. Damar ingin memeluknya. Dua keinginan itu bertabrakan di dadanya dan sama-sama tidak menang.
"Masuk," katanya.
Saka melewati pintu. Damar menguncinya dari dalam. Begitu pintu tertutup, Saka bersandar ke dinding dan tertawa pelan.
"Lihat? Aku hidup."
Damar menampar bahunya. Tidak keras. Cukup untuk membuat Saka mengaduh.
"Aduh."
"Bodoh."
"Aku baru dikejar orang, Dam."
"Harusnya dari dulu kamu belajar lari lebih cepat."
"Aku wartawan, bukan atlet."
"Kamu wartawan yang tidak tahu batas."
Saka membuka mulut untuk membalas, tetapi Damar sudah meraih wajahnya. Bukan dengan lembut. Damar memegang dagu Saka, memiringkannya ke arah lampu, memeriksa bibir pecah, pelipis terluka, pipi yang mulai memerah di satu sisi. Tangannya bergetar. Ia membenci getaran itu. Ia membenci Saka karena melihatnya.
"Dam," kata Saka, lebih pelan.
"Diam."
"Aku nggak apa-apa."
"Kalimat itu sudah pensiun dari mulutmu."
Saka menurut. Itu membuat Damar semakin takut.
Mereka masuk ke ruang arsip. Ratri sudah menunggu dengan laptop menyala. Bima, koordinator posko, berdiri di dekat jendela sambil bicara pelan di telepon. Begitu melihat Saka, ia menutup panggilan.
"Ponsel mati," kata Bima.
Saka menyerahkan ponselnya.
"Kartu memori?" tanya Ratri.
Saka membuka jaketnya. Dari dalam lapisan yang tampak sengaja dijahit ulang, ia mengeluarkan satu kartu memori kecil, satu flashdisk, dan alat perekam suara seukuran korek api.
Damar menatap benda-benda itu.
"Serius kamu jahit kantong rahasia di jaket?"
Saka menyeringai lemah. "Kamu pernah bilang aku berantakan. Aku tersinggung, lalu berbenah secara taktis."
"Ini bukan taktis. Ini paranoia."
"Di negara begini, paranoia adalah bentuk perawatan diri."
Tidak ada yang membantah.
Ratri memindahkan file dengan cepat. Video pertama terbuka. Layar laptop menampilkan jalanan yang dipenuhi asap. Kamera berguncang. Suara orang berteriak saling tumpang tindih dengan sirene. Lalu terlihat seorang mahasiswa berjaket hijau ditarik oleh dua orang berbaju gelap. Ia meronta. Ada suara Saka di balik kamera, terengah-engah, berkata, "Hei! Dia luka! Dia bukan—"
Gambar berguncang lagi. Mobil hitam. Pintu belakang terbuka. Tangan yang mendorong kepala mahasiswa itu masuk. Lalu satu wajah menoleh. Masker putihnya turun ke dagu. Frame itu singkat, tidak sampai dua detik. Tapi cukup. Cukup untuk menjadi bukti. Cukup untuk menjadi alasan seseorang diburu.
Ruang arsip menjadi sangat sunyi. Bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang penuh. Sunyi yang diisi oleh semua hal yang tidak boleh dikatakan terlalu cepat karena begitu dikatakan, ia menjadi nyata.
Damar menatap layar. Lalu menatap Saka.
Saka tidak melihat siapa-siapa. Matanya tertancap pada video itu, seolah ia baru menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu sejak tadi: ada momen ketika kamera berhenti menjadi alat kerja dan berubah menjadi target.
"Siapa mahasiswa itu?" tanya Ratri.
"Nara Baswara," jawab Saka. "Aktivis hukum dari kampus seberang. Ibunya sudah ke posko mereka tadi malam. Dia belum pulang."
Damar menutup mata sebentar. Nama selalu membuat bencana menjadi lebih berat. Sebelum bernama, seseorang masih bisa disembunyikan di balik istilah korban, massa, provokator, oknum, orang tak dikenal. Setelah bernama, ia menjadi anak seseorang. Teman seseorang. Orang yang mungkin tidak suka daun bawang, mungkin selalu lupa membawa payung, mungkin masih punya cucian basah di kos.
Bima menarik napas. "Kita amankan file ini. Tiga salinan. Satu offline. Satu terenkripsi. Satu kirim ke jaringan."
"Jangan unggah dulu," kata Damar.
Saka menoleh. "Kenapa?"
"Karena kalau diunggah mentah, kamu langsung habis."
"Kalau disimpan, Nara bisa habis."
"Kalau kamu habis, siapa yang verifikasi?"
"Aku bukan bagian terpenting dari cerita ini."
Damar menatapnya. Inilah yang paling ia benci dari Saka: caranya mengecilkan diri sendiri dengan nada moral yang sulit diserang. Seolah tubuhnya hanya catatan kaki dari berita yang lebih besar. Seolah keselamatannya tidak layak menjadi kalimat utama.
"Kamu penting," kata Damar.
Saka diam.
Damar melanjutkan, kali ini lebih keras. "Bukan karena kamu saksi. Bukan karena kamu punya file. Bukan karena kamu wartawan. Kamu penting karena kamu manusia."
Ratri menunduk ke laptop, pura-pura sibuk. Bima melihat ke jendela, pura-pura memantau situasi.
Saka memandang Damar dengan mata yang tiba-tiba kehilangan semua perlindungan.
"Kamu kalau panik jadi puitis," katanya.
"Dan kamu kalau takut jadi menyebalkan."
"Aku selalu menyebalkan."
"Betul. Tapi malam ini lebih parah."
Saka tersenyum kecil. Senyum itu membuat Damar ingin memecahkan sesuatu. Karena di dunia yang lebih masuk akal, Saka Mahardika seharusnya tidak berdiri di ruang arsip kampus pukul hampir tengah malam dengan bibir pecah dan bukti penculikan di tangan. Ia seharusnya sedang tidur. Atau mengeluh soal honor liputan yang terlambat. Atau mengirim foto kucing jalanan kepada Damar dengan caption bodoh. Atau melakukan hal-hal remeh yang menjadi hak semua orang muda sebelum negara memanggil mereka terlalu cepat ke dalam sejarah.
Ratri menancapkan flashdisk kedua ke laptop. Bima menutup tirai. Damar mengambil kotak P3K dari tas.
"Kamar mandi," katanya kepada Saka.
Saka mengerutkan dahi. "Apa?"
"Lukamu dibersihkan."
"Nanti saja."
"Sekarang."
"Dam, file—"
"File sedang disalin."
"Aku harus bantu—"
"Kamu harus duduk sebelum aku kehilangan kesabaran dan memperlakukanmu sebagai barang bukti."
Saka melirik Ratri, mencari dukungan. Ratri tidak mengangkat wajah dari laptop. "Jangan lihat aku. Aku pro-Damar untuk urusan orang berdarah."
Bima mengangguk. "Saya juga."
Saka mendesah dramatis. "Kudeta."
"Demokrasi prosedural," kata Damar. "Jalan."
Saka mengangkat kedua tangan, menyerah. Tetapi saat ia melangkah melewati Damar, tubuhnya oleng sedikit. Sedikit saja. Mungkin orang lain tidak akan melihat. Damar melihat. Tangannya langsung menangkap lengan Saka.
Untuk satu detik, Saka bersandar padanya. Beratnya kecil. Terlalu kecil untuk seseorang yang beberapa menit lalu mengaku hidup. Damar merasakan basah jaket Saka menempel di telapak tangannya. Merasakan hangat tubuh di balik kain basah itu. Merasakan kemungkinan kehilangan menjadi sesuatu yang punya suhu.
Saka buru-buru menegakkan diri.
"Aku nggak apa-apa."
Damar menatapnya.
Saka mengubah kalimat. "Aku agak apa-apa."
"Bagus. Ada kemajuan."
"Mahasiswa hukum kalau punya pasangan pasti melelahkan, ya?"
Damar membeku sepersekian detik. Pasangan. Kata itu lewat begitu saja dari mulut Saka, seperti burung yang tidak tahu ia baru saja memasuki ruangan tertutup. Saka sendiri tampaknya baru sadar setelah mengucapkannya. Matanya melebar sedikit, lalu ia berdeham, pura-pura melihat ke arah lain.
Ratri masih menunduk ke laptop. Tetapi sudut mulutnya bergerak.
Damar menggenggam lengan Saka lebih kuat.
"Jangan mengalihkan isu."
"Iya, Pak."
"Dan jangan panggil aku Pak."
"Baik, Dek Hukum."
Damar menoleh tajam.
Saka tersenyum. Kecil. Lelah. Masih menyebalkan. Masih hidup.
Untuk saat itu saja, Damar membiarkan dirinya bernapas. Lalu ia membawa Saka ke kamar mandi fakultas, tanpa tahu bahwa beberapa jam setelahnya, ia akan mengutuk dirinya sendiri karena pernah mengira pintu terkunci, file tersalin, dan tubuh Saka di sampingnya adalah tiga hal yang cukup untuk melawan dunia.
Kamar mandi fakultas berada di ujung lorong, dekat tangga darurat yang lampunya selalu mati separuh. Di siang hari, tempat itu hanya ruang biasa dengan keramik putih yang mulai kusam, cermin bernoda bekas air, dan tulisan-tulisan kecil di pintu bilik yang dibuat mahasiswa bosan saat kuliah pengantar hukum pidana. Tetapi lewat tengah malam, setelah aksi dibubarkan, setelah tubuh-tubuh datang ke posko dengan memar dan mata perih, kamar mandi itu berubah menjadi ruang perawatan darurat yang tidak pernah diminta siapa pun.
Damar menyalakan lampu. Cahayanya terlalu terang.
Saka memicingkan mata. "Interogasi?"
"Perawatan."
"Nuansanya mirip."
"Kalau kamu kooperatif, mungkin tidak perlu ada paksaan."
"Paksaan medis oleh mahasiswa hukum. Ini preseden buruk."
Damar meletakkan kotak P3K di tepi wastafel. "Duduk."
Saka menunjuk meja wastafel. "Di situ?"
"Di situ."
"Kalau patah?"
"Mejanya atau kamu?"
"Dua-duanya punya nilai guna."
"Mejanya lebih bisa diam."
Saka tertawa kecil, lalu memanjat duduk di atas meja wastafel dengan gerakan lebih lambat daripada biasanya. Damar melihatnya lagi. Cara Saka menahan sisi kanan tubuhnya. Cara bahunya naik sedikit setiap menarik napas. Cara ia memaksakan semua rasa sakit menjadi lelucon kecil agar tidak merepotkan orang lain.
Damar membuka botol antiseptik. "Jaketnya lepas."
Saka menurut. Jaket hitam itu berat oleh hujan. Saat dilepas, air menetes ke lantai, membentuk genangan kecil di dekat sepatu Damar. Di baliknya, kaus abu-abu Saka basah menempel di tubuh. Ada noda hitam di bagian perut, mungkin lumpur, mungkin aspal, mungkin sesuatu yang tidak ingin Damar pastikan.
Kamera Saka diletakkan di samping wastafel. Benda itu tampak kotor, lecet di sudut, tetapi utuh. Lebih utuh daripada pemiliknya.
Damar membasahi kapas. "Siapa yang mukul?"
"Salah satu dari mereka."
"Kapan?"
"Waktu aku lari."
"Kamu bilang tadi cuma diikuti."
"Definisi diikuti bisa berkembang sesuai intensitas lapangan."
Damar menekan kapas ke sudut bibir Saka.
Saka meringis. "Aduh. Itu sengaja."
"Iya."
"Mahasiswa hukum tidak boleh main hakim sendiri."
"Aku belum jadi pengacara."
"Berbahaya. Kamu masih dalam fase paling radikal."
Damar tidak tertawa. Saka memperhatikannya lewat cermin. Di cermin itu, wajah mereka tampak seperti dua orang yang salah masuk ke malam milik orang lain. Saka dengan bibir pecah, pelipis berdarah, rambut basah, dan mata yang kelelahan. Damar dengan rahang terkunci, kemeja kusut, tangan terlalu hati-hati untuk seseorang yang sedang marah.
"Dam," kata Saka, lebih pelan.
Damar membuang kapas ke tempat sampah. "Apa?"
"Jangan lihat aku seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti kamu sedang menghitung berapa banyak cara dunia bisa mengambil aku."
Damar membeku. Air dari keran menetes satu-satu. Di luar kamar mandi, suara posko terdengar jauh: langkah kaki, printer, seseorang batuk, Ratri memanggil nama Bima. Di tempat lain, kota masih hidup dalam versi paling buruknya. Di ruangan sempit ini, hidup mengecil menjadi jarak antara jari Damar dan luka Saka.
"Kamu tahu yang paling melelahkan dari kamu?" tanya Damar.
"Pesonaku?"
"Kamu selalu tahu bagian mana yang benar, tapi tetap memilih kalimat yang paling menyebalkan."
Saka tertawa pendek.
Damar mengambil plester. Tangannya lebih hati-hati ketika membersihkan pelipis Saka. Ia menyeka darah kering dari kulit, dari ujung rambut, dari garis rahang. Saka tidak banyak bergerak. Sesekali ia menahan napas. Sesekali matanya turun ke wajah Damar, lalu cepat-cepat menghindar ketika Damar menangkapnya.
Ini bukan pertama kalinya Damar merawat luka Saka. Ada terlalu banyak aksi, terlalu banyak dorongan, terlalu banyak malam ketika Saka muncul dengan tubuh sedikit rusak dan senyum yang minta dimaafkan. Damar pernah membersihkan luka di buku jarinya setelah Saka jatuh saat meliput penggusuran. Pernah memaksa Saka meneteskan obat mata setelah liputan demo buruh. Pernah menyodorkan obat maag karena Saka, manusia berusia dua puluh enam tahun yang mengaku bisa bertahan dalam tekanan negara, tetap saja lupa makan nasi sebelum minum kopi.
Namun malam ini berbeda. Malam ini luka-luka itu bukan lagi risiko kerja. Luka-luka itu adalah surat peringatan.
Damar menempelkan plester di pelipis Saka. Saka menangkap pergelangan tangannya sebelum ia sempat mundur.
"Dam."
Damar menatap tangan Saka di kulitnya.
"Apa?"
"Kalau besok namaku masuk berita—"
"Jangan mulai."
"Dengar dulu."
"Tidak."
"Damar."
Nama itu menghentikan Damar. Saka jarang memanggilnya lengkap kecuali sedang serius, marah, atau takut. Malam ini, barangkali ketiganya.
"Kalau besok namaku masuk berita," ulang Saka pelan, "jangan biarkan mereka menulis aku sebagai orang hilang yang misterius. Aku nggak misterius. Aku wartawan. Aku meliput. Aku punya rekaman. Aku diikuti setelah merekam dugaan penculikan warga sipil. Tulis itu."
Damar menarik napas tajam.
"Kamu sedang menyusun obituari sendiri di depan aku?"
"Aku sedang memastikan fakta."
"Kamu sedang membuatku gila."
"Aku sedang realistis."
"Tidak." Damar menarik tangannya dari genggaman Saka. "Kamu sedang menyerah lebih dulu atas tubuhmu sendiri."
Saka diam.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya berubah sepenuhnya. Lelucon yang sejak tadi menjadi kulit keduanya luruh. Lelah yang ia tahan naik ke permukaan, membuatnya tampak lebih muda dan lebih tua sekaligus.
"Aku nggak mau mati, Dam."
Kalimat itu memadamkan semua kemarahan Damar. Saka menunduk, menatap lantai basah di antara sepatu mereka.
"Aku tahu kamu pikir aku sembrono. Mungkin iya. Aku tahu aku sering bikin kesel. Aku tahu aku sering ngomong seolah-olah nyawaku bisa ditukar dengan satu berita bagus. Tapi aku nggak mau mati."
Damar tidak bergerak.
"Aku cuma nggak tahu cara berhenti melihat," lanjut Saka. "Setiap kali aku coba mundur, aku ingat ibu-ibu yang datang bawa foto anaknya. Aku ingat orang yang dipukul tapi disebut perusuh. Aku ingat berita resmi yang bilang tidak ada, padahal aku ada di sana. Aku lihat. Aku dengar. Aku rekam."
Ia mengusap wajah dengan kedua tangan.
"Kalau aku diam, rasanya aku ikut membunuh mereka sekali lagi."
Damar menatapnya. Di bawah lampu kamar mandi fakultas, Saka tidak terlihat seperti martir. Tidak terlihat seperti simbol kebebasan pers. Tidak terlihat seperti tokoh besar dalam narasi perlawanan. Ia hanya laki-laki muda dengan bibir pecah, mata basah, dan tubuh yang terlalu sering dipaksa menjadi saksi.
Damar ingin mengatakan bahwa itu tidak adil. Tentu saja tidak adil. Tetapi seluruh hidup mereka belakangan ini memang hanya variasi dari ketidakadilan yang diberi format berbeda-beda: pasal, kronologi, pernyataan sikap, berita, konferensi pers, poster kehilangan.
"Aku capek," kata Damar.
Saka mengangkat wajah.
"Aku capek pura-pura takutku ke kamu cuma soal keselamatan narasumber."
Udara berhenti. Kalimat itu keluar sebelum Damar sempat merapikannya. Tidak ada kop surat. Tidak ada nomor lampiran. Tidak ada pertimbangan hukum. Hanya sesuatu yang telanjang dan berdarah.
Saka turun dari meja wastafel perlahan.
"Terus soal apa?"
Damar menatap plester di pelipis Saka. Bibir pecahnya. Matanya. Semua hal yang beberapa menit lalu hampir tidak sampai ke pintu belakang fakultas.
"Soal aku yang akan hancur kalau namamu muncul di berita besok pagi."
Saka tidak langsung menjawab. Wajahnya bergerak sedikit, seperti ada pintu dalam dirinya yang selama ini ditahan dengan kursi, lemari, dan semua lelucon bodoh, akhirnya terbuka dari dalam.
"Dam," katanya.
"Jangan."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Aku tahu. Aku cuma—" Damar menutup mata sebentar. "Aku cuma tidak sanggup kalau kamu menjawabnya dengan bercanda."
Saka diam. Lalu, untuk sekali itu, ia tidak bercanda.
Ia melangkah mendekat. Pelan. Memberi Damar waktu untuk mundur, menolak, mengubah semua ini kembali menjadi koordinasi lapangan yang aman dan pengecut. Damar tidak mundur.
Jarak mereka habis dengan cara yang hampir tidak dramatis. Tidak ada musik. Tidak ada petir. Tidak ada waktu yang tiba-tiba melambat demi memberi restu pada dua orang yang terlalu lama takut menyebut takut dengan nama lain. Hanya kamar mandi fakultas yang bau antiseptik. Hanya hujan di luar. Hanya Saka yang mengangkat tangan, menyentuh pipi Damar, lalu bertanya sangat pelan, "Boleh?"
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dada Damar patah. Sebab Saka, yang sering mengambil risiko tanpa izin siapa pun, masih meminta izin untuk menyentuhnya.
Damar menjawab dengan mencium Saka lebih dulu.
Ciuman itu tidak rapi. Ia lahir dari panik, dari marah, dari lega yang terlambat, dari dua tahun saling menatap terlalu lama lalu pura-pura sibuk dengan kerja masing-masing. Bibir Saka terasa asin oleh darah dan hujan. Tangan Damar mencengkeram sisi kausnya, terlalu erat, seperti kalau ia mengendur sedikit saja, dunia akan kembali masuk dan menyeret Saka keluar.
Saka membalas dengan hati-hati pada awalnya. Lalu tidak. Ia menarik Damar lebih dekat, satu tangan di tengkuknya, satu tangan lain menggenggam bahu. Ciuman kedua lebih pelan. Lebih sadar. Masih takut, tetapi bukan lagi kebetulan. Di dalamnya ada semua percakapan yang mereka tunda: kopi tanpa gula, debat tentang prosedur hukum, pesan-pesan tengah malam, luka yang dibersihkan, nama-nama korban yang mereka sebut bersama, dan puluhan kesempatan mengaku yang mereka biarkan lewat karena negara selalu lebih dulu terbakar.
Ketika mereka berpisah, napas Saka tersangkut.
"Aku sayang kamu," katanya. Pelan sekali. Seperti kalimat itu bisa mengundang bahaya jika diucapkan terlalu keras.
Damar memejamkan mata. Ia pernah membayangkan banyak cara Saka mengatakan kalimat itu. Sambil bercanda. Sambil mengirim foto buram. Sambil menyelipkan kopi di meja ruang arsip. Tidak pernah di kamar mandi fakultas hampir tengah malam, dengan bibir pecah dan file penculikan warga sipil baru saja disalin ke tiga tempat berbeda.
Tapi mungkin begitulah cinta bekerja di negara yang sakit. Ia tidak menunggu waktu yang tepat. Ia masuk melalui celah darurat.
"Aku sayang kamu," kata Damar.
Saka menghela napas seperti baru saja diberi izin untuk tetap tinggal di tubuhnya sendiri.
"Sekarang masih dihitung, kan?" tanya Damar, suaranya pecah. "Walaupun terlambat?"
Saka tertawa kecil. Basah.
"Selama aku dengar," katanya, "masih dihitung."
Damar menariknya ke pelukan. Kali ini Saka tidak bercanda. Tidak mengelak. Tidak menjadikan tubuhnya seolah benda ringan yang boleh dipakai dunia untuk membuktikan sesuatu. Ia memeluk Damar balik dengan seluruh beratnya, seolah baru ingat bahwa ia memang punya berat, punya tubuh, punya hak untuk ditahan.
Untuk beberapa menit, mereka hanya berdiri begitu. Dua orang muda di kamar mandi fakultas. Di luar, sebuah negara sedang belajar cara baru untuk membungkam. Di dalam, dua nama belum menjadi berita.
Bima mengetuk pintu sepuluh menit kemudian. Tidak keras. Tetapi cukup untuk membuat mereka terpisah.
"Saka. Redakturmu sudah aman. Dia minta file dikirim lewat kanal kedua. Setelah itu kamu naik ke ruang majalah. Kita tunggu pagi."
Saka menoleh ke pintu. "Oke."
Damar mengusap wajah. Ia mengambil tas, menghindari menatap cermin karena takut melihat dirinya sendiri dan menemukan seseorang yang baru saja menyerahkan bagian paling lunak dari tubuhnya kepada malam yang tidak bisa dipercaya.
Saka menyentuh punggung tangannya. Sebentar. Seperti janji kecil.
Mereka naik ke perpustakaan lama lewat tangga belakang. Ruangan majalah berada di lantai tiga, di ujung lorong yang jarang dilewati. Bau kertas tua, debu, dan kayu lembap menyambut mereka. Di dalamnya ada dua lemari besi, tumpukan jurnal hukum dari tahun-tahun yang sudah lama lewat, satu sofa cokelat yang kulitnya mengelupas, dan jendela kecil menghadap halaman belakang kampus.
"Rumah aman yang sangat akademis," gumam Saka.
Damar menatapnya.
Saka mengangkat tangan. "Maaf. Refleks."
"Refleksmu akan membunuhmu."
"Mudah-mudahan jangan malam ini."
Damar tidak suka kalimat itu. Saka melihatnya dan langsung menyesal.
"Maaf."
Damar menggeleng, terlalu lelah untuk marah lagi. "Duduk."
"Kamu?"
"Di kursi."
"Kasihan kursinya."
"Saka."
"Kita bisa duduk berdua di sofa."
"Ini bukan waktunya—"
"Untuk apa? Duduk?" Saka menunjuk sofa yang sempit dan rusak. "Dam, kalau kita bisa ciuman di kamar mandi fakultas saat negara sedang runtuh, kurasa duduk berdampingan masih masuk akal."
Damar membenci fakta bahwa argumen itu valid. Mereka duduk di sofa.
Sofa itu terlalu kecil. Bahu mereka bersentuhan. Saka meletakkan kamera dan recorder di atas meja rendah. Damar menaruh tas di lantai, tetapi tidak melepaskan satu flashdisk dari genggaman. Ratri mengirim pesan: jaringan sudah menerima file. Redaktur Saka sudah mengonfirmasi. Nama Saka belum akan disebut. Besok pagi akan ada rilis gabungan menuntut pengembalian Nara Baswara dan perlindungan saksi.
Besok pagi.
Damar menatap frasa itu lama. Ada kata-kata yang tampak biasa saja sampai hidup seseorang bergantung padanya. Besok pagi. Nanti. Sebentar lagi. Pulang. Aman.
Saka menyandarkan kepala ke dinding.
"Kamu pernah ke Bandung?" tanyanya tiba-tiba.
Damar menoleh. "Pernah. Seminar."
"Itu bukan ke Bandung. Itu diculik kampus dan ditaruh di hotel."
"Menurutmu harus bagaimana?"
"Ke rumahku."
Damar diam. Saka tetap menatap langit-langit. "Ibu pasti suka kamu."
"Kamu yakin?"
"Ibu suka orang galak yang baik."
"Aku tidak baik."
"Kamu baik."
"Aku melelahkan."
"Iya." Saka menoleh dan tersenyum kecil. "Tapi baik."
Damar menatap senyum itu.
Saka melanjutkan, suaranya semakin pelan. "Nanti kalau semua ini selesai, kita ke Bandung. Aku tunjukin tempat aku pertama kali belajar motret. Sebenarnya cuma lapangan dekat rumah, tapi kalau sore cahayanya bagus. Terus kita makan batagor yang menurutku paling enak sedunia, walaupun kamu pasti bilang standar pembuktianku lemah."
"Karena memang lemah."
"Aku akan ajukan saksi ahli."
"Siapa?"
"Ibuku."
"Konflik kepentingan."
Saka tertawa. Tawa itu kecil, lelah, tetapi hidup. Damar menggenggam flashdisk lebih erat.
"Nanti," katanya.
Saka menoleh. "Apa?"
"Nanti kita ke Bandung."
Untuk sesaat, wajah Saka berubah. Janji kecil itu masuk ke tubuhnya seperti air ke tanah kering. Bukan menyembuhkan. Tidak sejauh itu. Tetapi cukup untuk membuat sesuatu yang retak berhenti melebar.
"Nanti Bandung," ulang Saka.
Damar mengangguk.
Mereka tidak tidur. Tidak sungguh-sungguh. Saka beberapa kali memejamkan mata, lalu membukanya lagi setiap kali ada suara dari lorong. Damar menatap pintu, menghitung kemungkinan, memetakan jalan keluar, mengutuk semua hukum yang tidak punya tangan untuk menahan orang-orang bersenjata.
Pukul satu lewat sedikit, Ratri datang membawa kopi dan roti. Ia menatap mereka berdua. Menatap bahu mereka yang bersentuhan. Menatap tangan Damar yang tanpa sadar menggenggam ujung jaket Saka. Lalu ia meletakkan kopi di meja tanpa berkata apa-apa.
Orang-orang baik di tengah krisis tahu kapan harus pura-pura tidak melihat.
Setelah Ratri pergi, Saka mengambil satu gelas kopi dan menyerahkannya kepada Damar.
"Tanpa gula," katanya.
Damar menerimanya. "Kamu masih sempat ingat?"
"Aku wartawan. Kerjaku mencatat detail."
"Detail yang tidak penting."
"Menurut siapa?" Saka menyandarkan bahunya ke bahu Damar sedikit. "Kamu tidak suka kopi manis itu informasi penting."
"Untuk negara?"
"Untuk aku."
Damar menatap gelasnya. Kopi itu panas. Murah. Terlalu pahit. Di permukaannya, cahaya lampu lorong memantul samar seperti sesuatu yang hampir habis.
"Ka," katanya pelan.
"Hm?"
"Kamu takut?"
Saka tidak langsung menjawab. Damar mengira ia akan bercanda. Mengira Saka akan bilang takut honornya tidak turun, takut kameranya rusak, takut Damar akan menyita kartu memori dan memperlakukannya seperti anak kecil. Tetapi Saka hanya memutar gelas kopi di tangannya, lalu mengangguk.
"Iya."
Damar menoleh.
Saka menatap jendela kecil. "Takut banget."
Kejujuran itu lebih menghancurkan daripada semua leluconnya.
Damar merasakan dorongan untuk meraih tangan Saka. Ia melakukannya sebelum sempat menimbang apakah itu terlalu banyak, terlalu cepat, terlalu tampak oleh siapa pun yang mungkin masuk. Saka menatap tangan mereka yang bertaut. Lalu menggenggam balik.
"Aku juga," kata Damar.
"Takut aku mati?"
"Takut aku tidak sempat mencegah."
Saka menghela napas pelan.
"Dam."
"Jangan bilang itu bukan tanggung jawabku."
"Tapi memang bukan."
"Aku bilang jangan."
Saka menoleh kepadanya. Di wajahnya ada kelembutan yang membuat Damar ingin marah, karena kelembutan Saka selalu datang di saat-saat Damar paling tidak punya pertahanan.
"Aku dua puluh enam," kata Saka. "Kamu dua puluh dua. Aku yang lebih tua. Harusnya aku yang jaga kamu."
Damar menatapnya datar. "Kamu baru saja dikejar orang, berdarah, dan menyembunyikan kartu memori di jahitan jaket. Klaim kedewasaanmu sedang lemah."
Saka tertawa. Kali ini lebih sungguhan.
"Galak."
"Faktual."
"Galak faktual."
Damar membiarkan sudut bibirnya bergerak sedikit. Saka melihatnya. Tentu saja. Saka selalu melihat.
"Bukti bahwa kamu pernah lembut," katanya.
Damar menatapnya. Kalimat itu bukan yang pertama. Saka sudah sering mengucapkannya tiap kali Damar ketahuan melakukan sesuatu yang tidak sesuai reputasinya sendiri: menyelipkan obat maag ke tas Saka, membelikan payung setelah Saka kehujanan, menyimpan kursi kosong untuknya di posko. Tetapi malam ini, kalimat itu tiba di tempat yang berbeda.
Mungkin karena mereka sudah berciuman. Mungkin karena pagi terlalu dekat. Mungkin karena ada kata-kata yang baru terdengar seperti kenangan bahkan saat sedang diucapkan.
Damar menggenggam tangan Saka lebih erat.
"Jangan jadikan itu caption foto."
"Telat."
"Apa?"
Saka tersenyum miring. "Aku punya satu folder."
"Kamu motret aku diam-diam?"
"Wartawan tidak pernah benar-benar diam-diam. Kami hanya observasi tanpa mengganggu subjek."
"Subjek bisa menuntut."
"Saksi ahli: ibuku."
"Konflik kepentingan lagi."
Mereka tertawa kecil bersama. Kecil saja. Tetapi di tengah malam yang penuh rekaman penculikan, ponsel mati, dan pintu terkunci, tawa itu terasa hampir tidak sopan. Hampir mewah. Hampir seperti hidup sedang menunjukkan wajahnya sebentar sebelum ditampar kembali oleh sejarah.
Saka menunduk, menempelkan bibirnya ke buku jari Damar. Ciuman itu ringan. Tidak sepanas ciuman mereka di kamar mandi. Tidak lahir dari panik atau marah. Ia lebih seperti ucapan terima kasih yang tidak menemukan kata kerja.
Damar memejamkan mata.
"Jangan bikin aku percaya kita punya waktu," bisiknya.
Saka tidak menjawab lama. Lalu berkata, "Aku juga sedang berusaha percaya."
Di luar, hujan berhenti. Dan justru karena itu, kampus terdengar lebih sunyi daripada sebelumnya.
Pukul 02.12, redaktur Saka menelepon lewat ponsel Ratri. Damar tidak mendengar semua percakapan. Hanya potongan-potongan yang jatuh ke ruangan seperti serpihan kaca.
"Verifikasi..."
"Kanal kedua..."
"Jangan sebut namaku dulu..."
"Ibunya Nara sudah tahu?"
"Iya, aku aman."
Damar menoleh ketika mendengar kata terakhir itu. Aman. Kata yang terlalu sering dipakai orang-orang yang tidak benar-benar aman.
Saka duduk di ujung sofa, satu tangan memegang ponsel, tangan lain masih menggenggam tangan Damar seolah ia lupa melepaskannya. Atau tidak mau. Di bawah lampu kuning ruang majalah, wajahnya terlihat lebih pucat. Plester di pelipisnya mulai basah di pinggir. Bibirnya yang pecah mengering dengan garis merah kecil yang membuat Damar ingin membawanya ke tempat tidur, menguncinya dari luar, lalu menyatakan perang kepada siapa pun yang mencoba mengetuk.
Tetapi Damar hanya duduk di sana. Menjadi mahasiswa hukum. Menjadi relawan posko. Menjadi orang yang mencintai terlalu terlambat dan terlalu takut untuk mengaku bahwa ia ingin menjadi egois.
Saka mengakhiri telepon dengan suara pelan. "Hard disk cadangan ada di loker redaksi. Kalau aku nggak bisa ambil, minta Gani."
Damar langsung menoleh. Saka menghindari tatapannya.
Setelah panggilan ditutup, Damar berkata, "Tidak."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Kamu tidak pergi ke redaksi."
"Aku tahu."
"Jangan 'aku tahu' kalau kepalamu sudah merencanakan sebaliknya."
Saka menghela napas. "Hard disk itu berisi arsip liputan tiga bulan terakhir. Ada beberapa rekaman yang mungkin nyambung dengan Nara. Aku nggak harus ambil sendiri. Aku cuma harus pastikan Gani tahu lokasinya."
"Dari sini."
"Dia tidak angkat."
"Hubungi lagi."
"Sudah lima kali."
"Berarti tunggu."
"Dam—"
"Tidak."
Kata itu jatuh seperti pintu besi.
Saka menatapnya. Damar menatap balik. Di antara mereka, semua hal yang baru saja diakui berdiri dengan canggung. Cinta tidak otomatis membuat seseorang mudah diselamatkan. Kadang cinta hanya membuat semua risiko yang sudah ada menjadi lebih pribadi, lebih kejam, lebih sulit ditanggung.
Saka mendekat.
"Damar."
"Jangan lembut-lembut."
"Aku belum lembut."
"Kamu pakai suara itu."
"Suara apa?"
"Suara yang bikin aku ingin percaya kamu akan pulang."
Saka terdiam. Kalimat itu terlalu jujur. Terlalu dekat dengan inti ketakutan mereka.
"Aku akan pulang," kata Saka.
Damar tertawa, satu kali, getir. "Semua orang bilang begitu sebelum jadi nama di papan posko."
Saka memejamkan mata. Damar langsung menyesal. Tetapi kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik pulang. Kalimat tidak punya tombol hapus begitu ia menyentuh orang lain.
"Maaf," kata Damar.
Saka menggeleng. "Nggak. Kamu benar."
"Aku tidak mau benar."
"Aku tahu."
"Kamu benar-benar harus berhenti mencuri kalimatmu sendiri."
Saka tersenyum samar.
Pukul 03.29, kabar dari Gani masuk melalui grup redaksi: ia sudah sampai kantor, hard disk ditemukan, akan dibawa ke titik temu jaringan. Saka tampak lega. Damar baru bisa bernapas setengah.
Subuh merayap pelan di luar jendela. Langit berubah dari hitam menjadi abu-abu yang ragu-ragu. Kampus masih basah. Daun-daun pohon ketapang di halaman belakang meneteskan air satu per satu. Dari kejauhan, suara kendaraan pertama mulai muncul. Kota bersiap melanjutkan hidupnya seperti tidak ada yang diculik, tidak ada yang diikuti, tidak ada dua orang muda di ruang majalah lantai tiga yang baru belajar menyebut cinta di tengah pengepungan.
Saka akhirnya tertidur menjelang pagi. Kepalanya jatuh ke bahu Damar. Damar tidak bergerak.
Selama hampir satu jam, ia duduk begitu, membiarkan lengan kirinya kesemutan, membiarkan kopi mendingin, membiarkan dunia percaya bahwa setidaknya untuk pagi itu, Saka masih ada. Ia memperhatikan wajah Saka dari jarak yang terlalu dekat untuk tetap disebut menjaga. Bulu mata yang basah. Garis lelah di bawah mata. Luka kecil di bibir. Napas yang akhirnya teratur.
Damar baru sadar, selama ini ia lebih sering melihat Saka saat terjaga: saat berlari, bertanya, memotret, menulis, tertawa miring, membantah, menyodorkan kopi, menolak istirahat. Saka yang tidur adalah hal yang jarang, nyaris asing. Saka yang tidur tampak seperti seseorang yang akhirnya dikembalikan kepada umurnya sendiri.
Dua puluh enam. Masih terlalu muda untuk menjadi arsip. Masih terlalu muda untuk menjadi poster. Masih terlalu muda untuk membuat Damar belajar mencintai dalam bentuk kronologi kehilangan.
Damar menunduk sedikit.
"Ka," bisiknya, nyaris tanpa suara. "Nanti Bandung, ya."
Saka tidak menjawab. Tetapi dalam tidurnya, tangan Saka bergerak kecil di atas pangkuan Damar, seolah mencari sesuatu. Damar menyambutnya. Menggenggamnya.
Dan akhirnya, karena tubuh manusia bukan hukum yang bisa dipaksa terus berdiri, Damar tertidur. Hanya beberapa menit. Hanya cukup lama untuk membuat dunia menemukan celah.
Pukul 05.31, Ratri masuk. Wajahnya tegang.
"Dam."
Damar membuka mata.
Satu detik pertama, ia tidak mengerti apa yang salah. Lampu masih menyala. Ruangan masih sama. Hujan sudah berhenti. Kopi di meja sudah dingin. Kamera Saka masih ada di dekat tumpukan majalah. Flashdisk masih dalam genggaman Damar.
Lalu ia sadar.
Bahu kirinya kosong. Saka tidak lagi bersandar padanya.
Saka berdiri di dekat pintu, sedang memakai jaket.
Damar langsung bangun. "Mau ke mana?"
"Bawah sebentar," kata Saka.
"Kenapa?"
"Gani datang."
Ratri menggenggam ponselnya terlalu erat. "Dia bawa hard disk. Tapi dia nggak mau masuk kampus. Katanya takut diikuti. Dia nunggu di warung belakang."
"Aku yang ambil," kata Damar.
Saka langsung menoleh. "Jangan."
"Kenapa?"
"Kalau dia benar diikuti, kamu ikut kelihatan."
"Kalau kamu yang turun, kamu juga kelihatan."
"Aku pakai masker. Aku cuma ambil lalu balik. Lima menit."
Damar menatap Ratri. Ratri tampak ragu. Itu yang membuat Damar takut. Jika Ratri langsung melarang, semuanya mudah. Tetapi keraguan berarti situasinya punya celah logika. Celah itulah tempat Saka selalu menyelinap.
"Kita turun bertiga," kata Damar.
Saka menggeleng. "Terlalu mencolok."
"Aku tidak peduli."
"Aku peduli."
"Saka."
Saka mendekat. Ia berdiri begitu dekat sampai Damar bisa melihat garis luka di bibirnya sudah mulai mengering.
"Aku balik sebelum kopimu dingin," katanya.
"Jangan pakai kalimat seperti itu."
"Kalimat apa?"
"Kalimat yang terdengar seperti ditulis untuk menyakitiku nanti."
Saka terdiam. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan di depan Ratri: ia menyentuh pipi Damar. Sebentar saja. Ibu jarinya menyapu kulit di bawah mata Damar yang sembap karena kurang tidur.
"Aku balik," katanya.
Damar ingin memegang tangannya dan tidak melepaskan. Ia ingin menjadi egois. Ingin mengatakan persetan dengan hard disk, persetan dengan bukti tambahan, persetan dengan berita, persetan dengan semua orang yang membutuhkan mereka untuk tetap waras dan berani. Ia ingin menyembunyikan Saka di balik rak majalah lama, di dalam lemari besi, di tempat paling gelap yang tidak bisa dijangkau negara.
Tetapi Damar juga tahu dunia tidak berhenti membutuhkan bukti hanya karena ia baru dicium. Maka ia melakukan kesalahan yang kelak akan ia ulang di kepalanya sampai bertahun-tahun kemudian.
Ia mengangguk.
"Satu syarat," katanya.
"Apa?"
"Telepon tetap nyala."
Saka mengangkat ponsel pinjaman dari Ratri. "Nyala."
"Lima menit."
"Lima menit."
"Kalau ada apa-apa, lari balik. Jangan lihat. Jangan rekam. Jangan jadi wartawan."
Saka tersenyum kecil.
"Aku coba jadi pacarmu dulu."
Damar membeku. Ratri membuang muka dengan sangat sadar diri.
Saka seperti baru menyadari kata itu keluar. Pipinya memerah sedikit, aneh dan tidak pada tempatnya di tengah semua kekacauan ini.
"Maaf," katanya. "Terlalu cepat?"
Damar menatapnya.
Lalu, karena dunia sedang buruk dan waktu selalu pendek, ia menjawab, "Tidak."
Saka tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum. Di ambang pintu ruang majalah, dengan langit subuh di belakangnya dan luka di bibirnya, Saka tampak hampir seperti seseorang yang punya masa depan.
"Lima menit," ulang Damar.
Saka mengangguk.
"Nanti Bandung," katanya.
Damar menelan ludah.
"Nanti Bandung."
Saka pergi. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Dan ada bunyi yang, setelah hari itu, tidak pernah lagi bisa Damar dengar dengan cara yang sama.
Klik.
Sesederhana itu. Pintu ditutup. Seseorang pergi. Dunia tetap berdiri, seolah tidak ada yang baru saja retak.
Telepon tersambung selama tiga menit pertama. Damar menyalakan pengeras suara dan meletakkan ponsel di atas meja. Ratri berdiri di sampingnya. Mereka berdua diam, mendengarkan langkah Saka menuruni tangga.
Satu. Dua. Tiga.
Lalu suara pintu belakang dibuka. Engsel tua berderit. Udara pagi masuk ke seberang panggilan sebagai bunyi yang basah dan kosong.
"Masih nyala?" suara Saka terdengar kecil.
"Nyala," jawab Damar cepat.
"Galak amat. Aku cuma cek."
"Jalan terus."
"Iya, Pak."
"Jangan panggil aku Pak."
"Baik, pacarku yang galak."
Ratri memejamkan mata seperti sedang mendoakan kekuatan kepada seluruh penghuni ruangan. Damar tidak sempat malu. Ia terlalu sibuk mencatat setiap bunyi.
Langkah Saka di paving basah. Motor lewat sekali, jauh. Suara sendok beradu dengan gelas dari arah warung. Seekor kucing mengeong.
Saka menghela napas. "Warungnya kelihatan."
Damar menggenggam pinggir meja.
"Gani ada?"
"Kayaknya."
"Jangan mendekat dulu kalau ragu."
"Aku lihat dia. Jaket biru."
"Sendiri?"
"Hm."
"Saka."
"Aku lihat dulu."
"Saka."
"Dam, aku cuma—"
Lalu suara lain masuk ke panggilan. Bukan kata-kata. Hanya gesekan. Seperti kain ditarik kasar. Seperti sepatu kehilangan pijakan. Seperti sesuatu jatuh ke lantai.
Damar langsung berdiri.
"Saka?"
Tidak ada jawaban.
"Saka!"
Di seberang, napas Saka terdengar dekat sekali, lalu jauh, lalu patah.
"Dam—"
Ada benturan.
Ratri sudah berlari ke pintu.
Damar menyambar ponsel.
"Saka! Jawab aku!"
Suara Saka muncul lagi, lebih jauh. Bukan teriakan. Justru itu yang membuatnya mengerikan. Ia terdengar seperti sedang menahan sesuatu, seperti sedang mencoba menyelamatkan kalimat terakhirnya agar tidak terbuang percuma.
"Dam, jangan—"
Panggilan terputus.
Damar berlari. Tidak ada pikiran. Tidak ada hukum. Tidak ada strategi. Tidak ada prosedur. Hanya tubuh yang tiba-tiba mengerti bahwa semua pengetahuan manusia tidak berguna ketika orang yang dicintai menghilang di ujung telepon.
Lorong fakultas memanjang seperti mimpi buruk. Tangga terasa lebih banyak daripada biasanya. Suara Ratri memanggil Bima terdengar di belakangnya, pecah dan cepat. Damar hampir terpeleset di anak tangga terakhir, menabrak dinding, bangkit lagi sebelum rasa sakit sempat mendaftar.
Pintu belakang terbuka. Udara pagi menghantam wajahnya dengan bau hujan, minyak goreng, dan knalpot. Warung belakang kampus sudah buka setengah. Terpal birunya masih basah. Panci bubur mengepulkan uap tipis.
Bu Tini, pemilik warung, berdiri di dekat kompor dengan wajah pucat. Tangannya memegang spatula, tetapi tubuhnya tidak bergerak. Di tanah, segelas kopi tumpah. Kopi hitam. Tanpa gula. Tutup plastiknya menggelinding sampai dekat selokan.
Tidak ada Saka. Tidak ada Gani. Tidak ada hard disk.
Hanya satu benda di dekat kaki meja: masker hitam yang talinya putus.
Damar mengambil masker itu. Tangannya tidak gemetar. Belum. Tubuh punya cara aneh untuk menunda kehancuran ketika pekerjaan belum selesai.
"Mobil," kata Bu Tini, suaranya bergetar. "Hitam. Cepat banget, Mas. Saya pikir temannya. Dia sempat— dia sempat nengok ke sini, terus..."
Damar menatapnya. "Terus apa, Bu?"
Bu Tini menangis. "Terus Mas Saka jatuh. Mereka angkat. Saya teriak, tapi..."
Tidak ada tapi yang sanggup menyelesaikan kalimat itu.
Damar menoleh ke jalan. Kosong.
Pagi masih terlalu muda. Langit masih abu-abu. Burung-burung kecil melompat di kabel listrik, kurang ajar dalam ketidaktahuannya. Di kejauhan, kota mulai bangun: mesin motor dipanaskan, gerobak didorong, orang-orang berangkat kerja, seseorang membuka pagar, seseorang menyalakan televisi, seseorang menuang minyak terlalu sedikit ke wajan.
Hidup berjalan. Saka tidak ada.
Damar berdiri dengan masker hitam di tangan dan merasa seluruh tubuhnya menjadi ruang yang ditinggalkan.
"Dam," Ratri menyentuh lengannya.
Damar tidak menoleh.
"Dam, kita harus bergerak."
Kata itu menyelamatkannya untuk sementara. Bergerak. Ya. Itu sesuatu yang bisa dilakukan tubuh sebelum ia hancur.
Damar menarik napas. "CCTV."
"Toko fotokopi depan ada kamera," kata Bu Tini cepat, masih menangis. "Tapi arahnya ke jalan, Mas. Mungkin—"
"Kita ambil."
Damar berbalik.
"Ratri, hubungi Bima. Tutup pintu kampus belakang. Catat semua kendaraan keluar-masuk dari jam lima. Minta orang cek gang samping. Jangan sendiri-sendiri."
Ratri menatapnya sejenak. Barangkali ia ingin mengatakan, duduk dulu. Minum dulu. Menangis dulu. Tetapi ia mengenal Damar. Ia tahu ada orang yang baru bisa runtuh setelah semua kemungkinan disisir sampai darah terakhir.
Ratri mengangguk. "Baik."
Dalam enam jam pertama, Saka belum menjadi berita. Ia masih menjadi panggilan yang terputus. Masih menjadi kopi tumpah. Masih menjadi masker putus. Masih menjadi kata jangan yang tidak selesai.
Damar melakukan semua yang selama ini ia lakukan untuk orang lain. Ia menulis kronologi.
Pukul 05.31, Saka Mahardika meninggalkan ruang majalah lantai tiga.
Pukul 05.34, panggilan tersambung.
Pukul 05.36, terdengar keributan dari arah warung belakang.
Pukul 05.37, panggilan terputus.
Ia menulis keterangan Bu Tini. Mencatat warna mobil. Arah kabur. Jumlah orang yang terlihat. Tinggi badan perkiraan. Jaket. Sepatu. Suara. Ia mengamankan CCTV toko fotokopi yang sudutnya buruk, terlalu tinggi, terlalu jauh, tetapi tetap menampilkan bayangan mobil hitam berhenti selama dua puluh tiga detik.
Dua puluh tiga detik. Begitulah rupanya waktu yang dibutuhkan dunia untuk mengubah seseorang dari tubuh hangat menjadi kasus.
Ia menelepon kantor redaksi Lintas Suara. Tidak ada yang tahu Gani ke mana. Nomor Gani mati. Grup redaksi panik. Redaktur Saka bersumpah tidak pernah menyuruh Gani menunggu di warung belakang. Tidak ada rencana titik temu di sana. Damar mencatat itu juga.
Ia menelepon rumah sakit. Tidak ada pasien atas nama Saka Mahardika.
Ia menelepon kantor polisi. "Belum ada informasi."
Ia menelepon lagi. "Mungkin yang bersangkutan pergi sendiri."
Ia menelepon lagi. "Jangan menyebarkan spekulasi."
Ia menulis semua kalimat itu. Bukan karena percaya. Karena suatu hari, kebohongan pun perlu diajukan sebagai barang bukti.
Menjelang siang, Ratri memaksanya duduk. Damar duduk selama tujuh detik. Lalu berdiri lagi.
"Dam."
"Aku harus tulis sebelum mereka menulis versi mereka."
Kalimat itu membuat Ratri diam. Sebab ia tahu Damar benar. Di negara yang pandai berbohong, siapa pun yang terlambat menulis akan dipaksa mengoreksi kebohongan lebih lama daripada mencari kebenaran.
Damar membuka laptop. Tangannya akhirnya gemetar. Ia menatap dokumen kosong. Untuk pertama kalinya sejak Saka dibawa, ia ragu pada satu hal yang selama ini paling ia percayai: bahasa.
Bagaimana menulis seseorang yang baru beberapa jam lalu mencium bibirmu? Bagaimana mengubah pacarku menjadi terlapor hilang? Bagaimana mengetik nama lengkap orang yang tadi bersandar di bahumu tanpa membuat dunia terdengar seperti lelucon yang sangat kejam?
Ratri berdiri di belakangnya, tidak menyentuh. Damar menarik napas. Lalu mengetik.
Saka Mahardika. Wartawan Lintas Suara. Usia dua puluh enam tahun. Terakhir terlihat di belakang Fakultas Hukum pukul 05.36. Diduga dibawa paksa oleh sejumlah orang tidak dikenal setelah meliput dugaan penculikan Nara Baswara.
Ia berhenti di sana. Kursor berkedip setelah titik terakhir.
Damar menatap kalimat itu. Saka, yang tadi pagi sempat memakai kata pacar dengan malu-malu, kini menjadi subjek dalam kronologi dugaan penghilangan. Saka, yang ingin mengajak Damar ke Bandung, kini menjadi nama yang harus dikirim ke jaringan bantuan hukum. Saka, yang selalu memesan kopi tanpa gula untuknya, kini menjadi alasan kopi di meja ruang majalah dibiarkan dingin sampai permukaannya membentuk lapisan tipis.
Damar menutup mata. Di dalam kepalanya, suara Saka masih ada.
Aku coba jadi pacarmu dulu.
Damar menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa darah. Lalu melanjutkan mengetik.
Ia mengetik sampai siang berubah menjadi sore, sampai sore berubah menjadi malam, sampai ruang sekretariat kembali dipenuhi orang-orang yang datang membawa nama, luka, dan pertanyaan yang tidak punya tempat pulang.
Hari itu, Saka belum menjadi jenazah. Ia masih menjadi kemungkinan. Kemungkinan disembunyikan di kantor yang tidak terdaftar. Kemungkinan dibawa ke pos pengamanan. Kemungkinan sedang diinterogasi tanpa akses pendamping. Kemungkinan dibuang di pinggir kota dengan mata tertutup dan tangan terikat. Kemungkinan muncul beberapa jam lagi dengan wajah babak belur dan senyum bodoh, lalu berkata, "Maaf, Dam. Macet."
Damar memegang semua kemungkinan itu seperti memegang pecahan kaca. Sakit. Tapi selama masih ada kemungkinan, ia tidak boleh melepaskannya.
Menjelang malam, berita pertama naik.
Wartawan Media Independen Hilang Usai Meliput Aksi Kenaikan Harga BBM
Lalu berita kedua.
Organisasi Pers Desak Aparat Cari Saka Mahardika
Lalu berita ketiga.
Polisi Bantah Menahan Wartawan yang Dilaporkan Hilang
Damar membaca judul-judul itu di layar laptop ruang arsip. Saka sudah menjadi berita.
Kalimat yang selama ini ditakutinya akhirnya terjadi dengan cara paling dingin: font tebal, foto profil, keterangan singkat, tautan yang dibagikan orang-orang bersama emoji marah dan doa. Orang-orang yang tidak pernah mendengar tawa Saka kini punya pendapat tentang keberaniannya. Orang-orang yang tidak tahu ia suka menyimpan kartu memori di jahitan jaket kini menyebutnya simbol. Orang-orang yang tidak tahu ia baru saja memakai kata pacar untuk pertama kali kini menulis, "Semoga ditemukan."
Damar ingin menghancurkan laptop. Sebaliknya, ia mengetik.
Ia mengetik rilis kedua. Ia mengetik kronologi lanjutan. Ia mengetik daftar saksi. Ia mengetik kalimat desakan. Ia mengetik sampai jarinya kaku dan matanya panas. Setiap kali nama Saka muncul di dokumen, ia menahannya agar tetap lengkap.
Saka Mahardika. Bukan S.M. Bukan seorang wartawan. Bukan korban hilang. Saka Mahardika. Dua puluh enam tahun. Wartawan. Anak Arum. Kakak dari seorang adik perempuan yang belum tahu bagaimana dunia bisa begitu jahat kepada orang yang selalu membelikannya seblak sepulang liputan. Dan seseorang yang, selama kurang dari satu pagi, pernah menjadi pacar Damar.
Hari kedua, Arum datang dari Bandung. Perempuan itu tiba dengan jaket krem, tas kain, dan wajah seseorang yang sepanjang perjalanan dipaksa memilih antara runtuh sekarang atau nanti. Di sampingnya, adik perempuan Saka berdiri masih dengan seragam sekolah, memeluk tas kakaknya yang dikirim redaksi semalam sebelumnya. Anak itu tidak menangis. Matanya terlalu kosong untuk disebut tenang.
Damar berdiri di depan mereka dan merasa semua ilmu hukum yang pernah ia pelajari berubah menjadi kertas basah.
"Ibu," katanya.
Arum menatapnya. "Kamu Damar?"
Damar mengangguk.
Mata Arum bergerak ke wajahnya. Lama. Seperti mencari sesuatu yang pernah diceritakan anaknya.
"Saka sering cerita," katanya.
Damar tidak siap. Tubuhnya, yang dua hari terakhir bekerja seperti mesin, tiba-tiba mengingat bahwa ia punya dada.
"Apa katanya?" tanya Damar, suaranya hampir tidak keluar.
Arum tersenyum sedikit. Senyum seorang ibu yang sedang berdiri di depan jurang, tetapi masih punya sisa kasih untuk anak orang lain.
"Katanya, ada mahasiswa hukum galak di Jakarta yang selalu bikin dia ingin pulang hidup-hidup."
Damar menunduk. Ia tidak menangis. Tidak di depan Arum. Tidak di depan adik Saka. Tidak ketika masih terlalu banyak hal harus ditulis, terlalu banyak pintu harus diketuk, terlalu banyak orang harus dipaksa mengaku melihat.
Arum menyentuh lengannya. "Dia sempat pulang ke kamu, ya?"
Damar menggigit bagian dalam pipinya. Sempat. Kata itu kejam karena benar.
Saka sempat pulang. Sempat masuk dari pintu belakang dengan napas berantakan dan bibir pecah. Sempat duduk di meja wastafel. Sempat mencium Damar. Sempat berkata sayang. Sempat menjadi pacarnya. Sempat menjanjikan Bandung. Sempat. Lalu tidak lagi.
"Iya, Bu," jawab Damar akhirnya. "Sempat."
Arum mengangguk pelan, seolah kalimat itu cukup untuk membuatnya bertahan satu jam lagi.
Pada hari ketiga, rekaman Saka tentang Nara dipublikasikan oleh Lintas Suara bersama jaringan media dan lembaga bantuan hukum. Wajah dalam video itu diburamkan sebagian untuk keselamatan saksi lain, tetapi cukup banyak detail yang dipertahankan agar publik tahu: ada mobil. Ada orang ditarik. Ada wajah yang menoleh. Ada kekerasan yang selama ini disebut tidak ada.
Nama Nara kembali naik. Nama Saka ikut naik. Keduanya kini bergerak di linimasa seperti dua luka yang saling menerangi.
Pada hari kelima, tubuh Nara ditemukan di pinggir kanal. Hidup. Luka berat, dehidrasi, trauma, tetapi hidup.
Jenar Prameswari, ibunya, memeluk Damar di lorong rumah sakit dan menangis tanpa suara. Damar membalas pelukan itu dengan tubuh yang kaku, karena ia tidak tahu bagaimana menerima rasa syukur orang lain ketika rasa syukurnya sendiri belum punya alasan untuk lahir.
"Nara pulang," bisik Jenar.
Damar mengangguk.
"Berkat Saka," katanya lagi.
Damar mengangguk. Ia ingin berkata, iya, Bu. Saka melihat. Saka merekam. Saka tidak diam. Saka menyelamatkan anak Ibu dari kata tidak ada. Tetapi yang keluar hanya napas.
Beberapa jam kemudian, Nara sadar. Wajahnya pucat. Bibirnya pecah. Matanya seperti seseorang yang baru kembali dari tempat yang tidak punya jam dinding. Ketika melihat Damar, ia menggenggam ujung selimut rumah sakit.
"Wartawan itu," katanya parau. "Yang motret."
Damar mendekat.
"Saka," bisik Nara. "Dia aman?"
Tidak ada yang menjawab.
Nara menangis. Tangisnya pelan, rusak, hampir tanpa suara. Dan Damar membenci dunia karena bahkan orang yang baru diselamatkan pun dipaksa ikut menanggung kehilangan penyelamatnya.
Pada hari ketujuh, Saka pulang. Bukan ke kampus. Bukan ke posko. Bukan ke Bandung dalam kereta pagi bersama Damar seperti yang sempat mereka rencanakan dengan bodoh.
Saka pulang sebagai panggilan dari rumah sakit. Seorang nelayan menemukannya di pesisir utara saat laut sedang surut. Tubuhnya tersangkut di antara kayu, sampah plastik, dan jaring tua. Berita itu datang pukul 09.14, ketika Damar sedang menulis permohonan pendampingan untuk Arum.
Ratri yang menerima telepon. Damar tahu sebelum Ratri berkata apa pun. Ada kabar yang mengubah wajah orang sebelum ia sempat menjadi bahasa.
"Dam," kata Ratri.
Damar menatapnya.
Ratri tidak sanggup melanjutkan.
Tidak perlu.
Damar berdiri.
Ia tidak ingat perjalanan ke rumah sakit. Tidak ingat siapa yang menyetir. Tidak ingat apakah hujan turun. Tidak ingat apakah kota macet seperti biasa. Ia hanya ingat bau lorong: karbol, besi, kopi mesin, dan sesuatu yang dingin di balik pintu.
Arum masuk lebih dulu. Damar menunggu di luar bersama Ratri, Bima, dan adik Saka yang memeluk tas kakaknya. Di dalam, ada suara yang tidak akan pernah bisa Damar tulis dengan benar. Tangis ibu bukan suara. Ia adalah tempat runtuhnya seluruh bahasa.
Ketika giliran Damar masuk, ia merasa tubuhnya bukan tubuhnya. Saka terbaring di sana. Wajahnya sudah dibersihkan. Ada bagian-bagian yang tidak boleh dilihat terlalu lama jika Damar masih ingin bisa bernapas. Tetapi pelipisnya masih sama. Bibirnya masih sama. Rambutnya, meski basah dan kusut, masih jatuh ke dahi dengan cara yang Damar hafal.
Damar berdiri di samping meja. Tidak menyentuh. Ia takut jika menyentuh, Saka akan benar-benar menjadi tubuh.
Selama tujuh hari, selama namanya naik di berita, selama poster dicetak, selama orang-orang berteriak KEMBALIKAN SAKA, ada bagian kecil dalam diri Damar yang tetap kurang ajar dan percaya bahwa Saka hanya sedang bersembunyi dengan sangat buruk. Bahwa sebentar lagi ia akan muncul dari pintu posko, meminta charger, membawa kopi tanpa gula, dan berkata, "Galak amat, Dam. Aku kan bilang balik."
Tapi Saka tidak bangun. Saka tidak membuat lelucon. Saka tidak menatapnya dengan mata yang selalu terlalu berani untuk tubuh semuda itu.
Damar akhirnya menyentuh tangan Saka. Dingin. Sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang selama ini berdiri tegak dengan bantuan pasal, kronologi, dan kemarahan rapi, duduk di lantai dan tidak bangun lagi.
"Ka," katanya.
Tidak ada jawaban.
Tentu saja tidak ada.
Damar menunduk sampai dahinya hampir menyentuh punggung tangan Saka. "Kamu bilang lima menit."
Kalimat itu keluar kecil. Bodoh. Tidak berguna. Tetapi itulah yang tersisa dari cinta ketika sejarah selesai melakukan kekerasannya: bukan pidato besar, bukan tuntutan hukum, bukan poster. Hanya seseorang yang berdiri di ruang dingin, menagih lima menit kepada tubuh yang tidak bisa mengembalikannya.
Pemakaman Saka di Bandung dipenuhi orang. Wartawan. Mahasiswa. Aktivis. Tetangga. Orang-orang yang pernah ia tulis. Ibu-ibu korban penggusuran. Sopir ojek yang fotonya pernah dimuat Saka. Anak-anak kampus yang membawa poster. Jenar datang bersama Nara yang masih memakai kursi roda. Ia meletakkan bunga putih di dekat nisan dan berbisik, "Terima kasih sudah melihat anak saya."
Damar berdiri di belakang Arum. Tidak ada kata-kata yang cukup.
Setelah semua orang pulang, Arum menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Damar.
"Ini dari tas Saka," katanya. "Mereka kasih ke saya bersama barang-barangnya. Katanya cuma buku catatan dan kamera rusak. Tapi di bagian dalam tas ada jahitan kecil. Saya ingat Saka suka begitu sejak kecil. Menyembunyikan uang jajan dari adiknya."
Damar membuka amplop itu dengan tangan kaku. Di dalamnya ada satu kartu memori kecil. Dan secarik kertas. Tulisan tangan Saka miring, terburu-buru.
Kalau yang ini sampai ke kamu, berarti aku gagal pulang tepat waktu. Jangan marah dulu.
Damar tertawa. Akhirnya. Bukan karena lucu. Karena jika ia tidak tertawa, ia akan menjerit di depan makam.
Di bawah kalimat itu, ada tulisan lain.
File di sini bukan cuma soal Nara. Ada tiga nama lain. Ada pola. Aku tahu kamu akan menulisnya dengan benar. Tapi sebelum itu, Dam, tulis satu hal yang bukan berita. Tulis bahwa aku takut. Tulis bahwa aku ingin hidup. Tulis bahwa aku sempat sayang kamu dengan cara yang tidak rapi, tapi sungguh-sungguh.
Damar tidak membaca sisanya di makam. Ia tidak sanggup.
Malamnya, di kamar tamu rumah Arum, Damar memasukkan kartu memori itu ke laptop. Ada banyak file. Video. Foto. Rekaman suara. Catatan lokasi. Bukti yang cukup untuk membuat orang-orang kembali membantah dengan lebih panik.
Di folder terakhir, ada satu file foto bernama:
DAMAR_JANGAN_GALAK.jpg
Damar membukanya. Foto itu diambil beberapa bulan lalu di ruang arsip kampus. Damar tertidur di atas meja, pipi menempel pada tumpukan berkas, tangan masih memegang pulpen. Di sampingnya ada kopi hitam tanpa gula. Di sudut frame, bayangan Saka terlihat samar di kaca jendela.
Di bawah foto, ada catatan pendek dalam file teks.
Bukti bahwa kamu pernah lembut.
Damar menutup wajah dengan kedua tangan. Tangisnya datang terlambat. Tujuh hari terlambat. Bertahun-tahun terlalu cepat. Ia menangis tanpa suara pada awalnya, lalu dengan suara, lalu dengan seluruh tubuhnya. Menangis untuk Saka yang tidak pulang sebelum kopi dingin. Untuk ciuman di kamar mandi fakultas. Untuk kata pacar yang baru sekali dipakai. Untuk Bandung yang tidak sempat mereka datangi sebagai dua orang muda yang bodoh dan hidup. Untuk semua nama yang menunggu menjadi berita karena negara terlalu pandai menghapus manusia.
Keesokan paginya, Damar mulai menulis.
Bukan rilis pers.
Bukan kronologi.
Bukan pendapat hukum.
Setidaknya belum.
Ia membuka dokumen kosong dan menulis judul:
Sebelum Namamu Jadi Berita
Lalu ia berhenti lama.
Di luar jendela, Bandung terang. Ada suara penjual bubur lewat. Ada anak sekolah tertawa. Ada motor dipanaskan. Hidup, kurang ajar dan indah, tetap berjalan di sekitar rumah yang sedang berduka.
Damar menatap tangannya sendiri yang menggantung di atas keyboard. Jari-jarinya kebas, menggemakan denyut nyeri yang merambat dari pelipisnya yang kurang tidur. Matanya yang sembap terasa perih oleh cahaya layar putih, seolah matanya sendiri menolak untuk tetap terbuka dan melihat kenyataan yang harus ia rekam. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara pagi Bandung yang dingin mengisi paru-parunya yang terasa kering.
Damar menatap kursor yang berkedip. Mengabaikan rasa kebas di ujung jarinya, ia lalu mengetik.
Sebelum namamu jadi berita, kau adalah orang yang datang ke ruang arsip kampus membawa kopi tanpa gula dan luka yang selalu kau sebut tidak apa-apa.
Sebelum namamu jadi berita, kau adalah orang yang tahu cara membuatku marah hanya dengan satu senyum miring.
Sebelum namamu jadi berita, kau adalah wartawan yang takut mati, tetapi lebih takut jika kebohongan hidup lebih lama daripada korban.
Sebelum namamu jadi berita, kau menciumku di kamar mandi fakultas dengan bibir pecah dan tangan gemetar.
Sebelum namamu jadi berita, kau menyebut dirimu pacarku selama kurang dari satu pagi, dan aku, manusia paling bodoh di kota itu, membiarkanmu pergi selama lima menit.
Damar berhenti mengetik.
Tangannya gemetar. Di meja, kartu memori Saka tergeletak seperti peti kecil untuk kebenaran. Di sebelahnya, kopi hitam buatan Arum mulai dingin. Damar menghapus air matanya dengan punggung tangan. Lalu melanjutkan.
Aku tidak akan menulis kau sebagai simbol terlebih dahulu.
Simbol terlalu cepat menghapus manusia.
Aku akan menulis kau sebagai anak Arum yang suka menyembunyikan kartu memori di jahitan jaket. Sebagai kakak yang tidak pernah membalas pesan adiknya tepat waktu tapi selalu mengirim uang jajan sebelum diminta. Sebagai wartawan yang menyimpan bukti di tempat-tempat aneh. Sebagai laki-laki yang berkata, "Nanti Bandung," seolah masa depan adalah sesuatu yang bisa kita pesan dan ambil setelah badai reda.
Aku akan menulis bahwa kau takut.
Aku akan menulis bahwa kau ingin hidup.
Aku akan menulis bahwa kau mencintai, dan dicintai, sebelum negara ini belajar mengeja namamu di televisi.
Setelah itu, baru aku akan menulis apa yang mereka lakukan.
Satu per satu.
Nama per nama.
Wajah per wajah.
Karena kau benar, Kak Saka.
Yang pertama kali mereka ambil dari orang hilang bukan tubuhnya. Melainkan namanya. Maka aku akan menyebut namamu sampai mereka gagal membunuhmu sepenuhnya.
Damar menyimpan dokumen itu. Lalu membuka file bukti.
Di luar, hari berjalan. Di dalam, seorang mahasiswa hukum yang semalam menjadi kekasih dan pagi ini menjadi saksi, mulai bekerja.
Bukan karena ia kuat. Bukan karena ia rela. Bukan karena duka bisa berubah begitu saja menjadi keberanian. Tetapi karena Saka Mahardika pernah hidup. Karena ia pernah takut. Karena ia pernah ingin pulang. Karena ia pernah mencintai Damar dalam waktu yang terlalu pendek untuk disebut adil, tetapi cukup panjang untuk membuat dunia setelahnya tidak pernah sama.
Dan karena negara ini berutang jawaban.
