Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-13
Words:
5,440
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
45
Bookmarks:
3
Hits:
793

tuntaskan aku dengan dirimu

Summary:

Bina, dengan segala ragu dan mau, akhirnya menuntaskan dirinya lewat Anton (literally and figuratively).

Notes:

non beta-ed. a part of an au series on X.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kalau orang lain intip, mungkin mereka akan ucap hal yang sama saat melihat situasi Bina. ‘Kok cowoknya masih mau?’ adalah satu dari banyak bisikan yang akhir-akhir ini mampir di telinganya. Bukannya Bina ambil pusing mendengar omongan orang lain, apalagi dari mereka yang bukan teman dekatnya. Tapi, tembok di fakultas ini seperti memiliki telinga. Masalah sepele apa pun bisa jadi gosip besar buat orang-orang yang bahkan nggak kenal mereka.

Bina sejujurnya tidak pernah terlalu memikirkan semua omongan itu. Selalu dia tanamkan bahwa orang lain tidak tahu situasi yang sebenarnya, jadi biarkan saja mereka berkomentar sesuka hati. Toh, yang tahu kebenarannya dia, yang menjalani juga dia. Kenapa harus peduli?

Hanya saja, ketika Anton meluapkan emosinya lewat chat minggu lalu, Bina jadi kepikiran. Bina yakin dirinya orang baik. Dia nggak pernah berbuat macam-macam atau dengan sengaja jahat pada orang. Tapi, mungkin itulah yang membuatnya tanpa sadar sudah memperlakukan Anton dengan tidak adil.

Did he really…?

Jauh di lubuk hatinya, Bina memang merasa bersalah, tapi dia juga nggak terima setiap kali menyadari bagaimana orang-orang hanya menyalahkan dirinya. Hey, mereka berada di situasi tidak jelas ini atas andil dua pihak. Bina nggak pernah memaksa Anton untuk tetap stuck sama dia, tuh? Bina nggak pernah meminta Anton untuk tetap menjalani hubungan tidak jelas ini, apalagi setelah Bina tolak ajakan Anton untuk beri label pacaran pada hubungan mereka, dua kali pula.

Kalau mau jujur, Bina kan sudah jelas-jelas menolak Anton. Tapi Anton sendiri yang masih saja tidak mau lepas. Ketika Bina bilang dia merasa label pacaran itu nggak penting, Anton setuju kok. Anton dengan penuh kesadaran dan kemauan tetap tinggal untuk terjebak di situasi hubungan ‘kating-adting’ nggak jelas bersamanya. Jadi, ini bukan salah Bina sepenuhnya, kan?

Walaupun kalau ditarik lagi beberapa bulan ke belakang, termasuk dalam jangka waktu Anton nembak Bina dua kali, memang seringnya Bina juga yang menarik cowok itu untuk tetap terjebak bersamanya dalam hubungan bak lingkaran setan ini. Di kesempatan apa pun, ketika Bina butuh, orang pertama yang akan dia hubungi adalah Anton. Ketika dia bosan, dia mau makan, mobilnya mogok, atau setiap dia pulang terlalu malam, dia akan langsung mengirim pesan pada Anton, dan Anton akan selalu datang untuknya saat itu juga.

Jadi sebenarnya ini salah siapa, sih? Bina yang terlalu gengsi dan egois, atau Anton yang terlalu jatuh?

Atau mungkin kombinasi keduanya yang buat situasi mereka makin rumit.

Bina akui dia memang belum pernah secara gamblang menyatakan perasaannya ke Anton. Belum pernah dia nyatakan suka seperti yang Anton lakukan, yang kalau dihitung entah sudah berapa kali jumlahnya. Kadang Bina merasa bahwa kata suka dan afeksi yang Anton utarakan terkesan terlalu gampang bagi si adek tingkat, sampai Bina kerap kali berpikir kalau Anton tidak benar-benar punya perasaan padanya.

Makanya, bagi Bina, ketika Anton meminta dia jadi pacarnya, Bina merasa ajakan itu cuma sia-sia. Kalau mereka sudah nyaman dan senang di situasi yang sekarang, kenapa harus dibuat lebih rumit dengan title pacaran? Kalau ujungnya akan putus, buat apa terlalu serius menjalani hubungan tanpa status ini? Dan ketika Bina menolak pun, Anton tidak protes. Anton masih tetap bertahan di sisinya, masih mau temani Bina meski statusnya tidak ada. Itu artinya Anton setuju, kan?

Tapi untuk apa dia meminta dua kali kalau dia setuju?

Terakhir kali Bina pacaran adalah saat masih SMA. Satu hubungan yang dia kira bakal langgeng sampai dewasa, tiba-tiba berakhir di tengah persiapannya masuk kuliah. Bina mungkin tidak terlihat begitu sedih waktu putus, tapi tanpa dia sadari, efek gagalnya hubungan itu mempengaruhi pandangannya soal hubungan sampai sekarang.

Oke, Bina salah karena selalu memberi mixed signal pada Anton. Dia terima afeksi Anton, dia berhubungan intens dengan Anton, bahkan dia yang inisiasi first kiss mereka, tapi dia juga yang selalu kabur setiap Anton mulai menatapnya terlalu dalam dan penuh perasaan.

Mau kamu apa sih, Bina?

Ah, entahlah. Pusing. Bina pusing kalau memikirkan soal ini.

Bina mengembuskan napas perlahan, kembali fokuskan pandangan ke cermin di hadapannya to judge his own looks, dalam balutan jeans, kaos putih, dan kardigan abu-abu — pilihan outfit paling nyaman dan template Bina, terutama untuk agenda seperti malam ini.

Ini hari Jum’at. Bina baru menyelesaikan ujian akhir bloknya pagi tadi, dan malam ini dia sudah membuat janji dengan teman-temannya untuk melepas penat bersama. Clubbing, as you can guess.

Bina nggak berencana untuk ikut minum sebenarnya. Kalaupun iya, mungkin hanya sedikit. Dia lagi nggak berniat mabuk, cuma mau datang untuk temani yang lain mengeluarkan sisa-sisa stres dari segala keriuhan sepanjang minggu ini. Tapi untuk jaga-jaga kalau semua berakhir terlalu wasted nanti, mereka sudah janjian untuk pergi naik taksi saja. Lebih baik mencegah hal-hal yang tidak diinginkan daripada harus menyesal.

Handphone Bina sejak tadi sudah berdering, menunjukkan pesan-pesan dari Sion dan Taro bahwa mereka sudah menunggu di lobby gedung apartemennya. Bina mengecek refleksinya sekali lagi sebelum bergegas mengantongi handphone dan memakai sepatu. Dia keluar dari unitnya dengan sedikit berlari, seketika tersadar bahwa Sion di bawah sana pasti sudah siap untuk mengomel karena harus menunggu cukup lama. Hanya 10 menit sih, tapi Sion adalah Sion.

Jarak dari apartemen Bina ke club tujuan mereka tidak terlalu jauh. Bina bahkan belum selesai menyandungkan lagu keempat yang terputar di dalam taksi saat mereka tiba-tiba berhenti. Dan detik berikutnya, Bina dapati dirinya berdiri di tengah ruangan remang penuh sorotan kelap-kelip lampu disko sebagai satu-satunya sumber cahaya, berpadu dengan suara musik yang menurut Bina sangat menjerit di telinga.

Mereka tidak bertiga saja malam ini. Sion yang usulkan untuk “open table aja yuk,” dan mengajak beberapa teman lainnya untuk bergabung. Karena itu, Bina menurut saja ketika Sion dengan cepat menyeret dia dan Taro untuk pergi ke area table yang sudah diisi teman-teman mereka.

Bina tidak bertanya siapakah teman-teman yang Sion ajak, karena sejujurnya Bina bisa menebak orang-orang yang pasti menjadi korban Sion untuk agenda seperti ini. Bina pun tidak pernah keberatan, toh mereka teman seangkatannya juga. Walaupun dia nggak begitu dekat, tapi tidak ada salahnya untuk nimbrung dengan yang lain.

Alhasil, Bina sudah punya bayangan tersendiri siapa wajah-wajah yang akan dia lihat malam ini. Begitu sampai di table mereka, dia langsung sapa teman-temannya tanpa betul-betul memperhatikan siapa saja yang ada disana. Baru ketika Bina posisikan dirinya untuk duduk di pojok kanan sofa, ia tersadar.

Ruangan itu memang bising, penuh dengan manusia-manusia yang berdansa lepas dan menenggak alkohol seolah malam tidak ada ujungnya. Campuran bau keringat, alkohol, dan vape tercium menjadi satu, menghasilkan aroma khas yang cerminkan ramainya club di malam hari. Tapi, sesibuk apapun hidung Bina mencerna bau-bau itu, dia akan selalu mengenali wangi parfum dari sosok di sebelahnya. Dia terlalu kenal, penciuman Bina sudah terlalu familiar dengan wangi yang temani hari-harinya beberapa bulan terakhir.

Ini… Anton?

Bina detik itu juga langsung bergeser ke ujung sofa hingga tidak ada ruang lagi bagi dirinya untuk menjauh. Dia pastikan jarak duduknya dan Anton tidak akan membuat mereka bersentuhan tanpa sengaja. Tangan Bina bergerak cepat meraih handphone-nya. Dengan panik dia kirimkan pesan pada Sion, menanyakan kenapa Anton bisa ada disini bersama mereka.

Dan Bina berakhir ingin mengumpati Sion ketika balasan yang dia dapat hanyalah ‘biar lu mampus’ disertai emotikon wink yang membuatnya kesal setengah mati.

Dia taruh kembali handphone-nya di saku, menarik napas panjang agar tetap tenang. Bina berusaha untuk bersikap seacuh mungkin, meyakinkan dirinya bahwa dia bisa kok bersikap biasa saja di depan Anton, kesampingkan fakta bahwa mereka sedang perang dingin seminggu terakhir, yang kini duduk tepat di sampingnya.

Bina kemudian mencoba lirik wajah-wajah yang ada di meja itu, dan dia temukan beberapa orang disana yang dia kenali sebagai teman-teman Anton. Pikirannya seketika tertuju pada satu teman Anton yang dua minggu ini berlalu-lalang di story milik si adek tingkat. Bina refleks mengedarkan pandangan kembali ke teman-teman Anton, memastikan bahwa orang itu tidak ada disana.

Why the fuck do I even care about that anyway?

Bina nggak peduli kok, sumpah. Dia nggak ada masalah sama sekali kalau Anton mau jalan atau dekat dengan siapapun. Memang ada hak apa juga dia mau marah? Bina bukan siapa-siapa.

Ah, andai ada yang bisa dengar isi pikiran Bina barusan, sudah pasti dia akan digeplak sampai sadar. Ya, Bina nggak akan mengelak kalau dia yang minggu lalu sensi tanpa alasan ketika melihat Anton jalan bersama orang lain. Mau cari pembenaran pun, Bina masih punya malu. Perasaannya sendiri yang membuat hubungan tidak jelas mereka semakin rumit. Bisa apa sih Bina untuk memperbaiki semua ini?

Bina rasanya sudah menghela napas berat sebanyak seratus kali hari ini. Dia coba untuk lemaskan pundaknya yang tegang, senderkan punggungnya ke sofa sambil menatap situasi di depan sana yang menampilkan kerumunan orang-orang bergerak bebas, hanyut dalam ketukan musik di lantai dansa.

Bukan pemandangan yang begitu menarik, tapi Bina sedang berusaha keras untuk tidak melirik sosok di sampingnya, yang saat ini tengah tertawa menanggapi candaan dari seseorang di meja mereka.

Terus terang, sejak awal orang-orang di meja itu memulai percakapan, Bina sudah tidak menyimak topik apa yang mereka bahas. Pikirannya terlalu sibuk mengutuk betapa bodohnya dia saat mengambil tempat duduk tadi, tanpa menyadari bahwa Anton ada disini, berjarak tak sampai sejengkal darinya.

Bina berakhir melamun tanpa ia sadari. Bisingnya musik dan suara tawa di dalam club seolah meredam dunia sekitar, ribut menjadi BGM dari riuhnya isi pikiran Bina, membuat Bina terdiam dan larut dalam dunianya sendiri.

Sayangnya lamunan Bina buyar ketika dia rasakan tepukan pelan di pahanya. Bina seketika menengok ke sebelah kiri, walau yang dia temukan hanya punggung Anton, dengan kepala yang berpaling sepenuhnya ke arah teman-teman mereka.

Bina menatap heran sosok adek-adekannya itu. Pikirannya terusik, tidak bisa paham kenapa yang lebih muda tiba-tiba lakukan kontak fisik dengannya. Anton bahkan mengabaikan keberadaan Bina sejak dia tiba disini, seolah-olah Bina hanya angin lalu. Jadi, untuk apa Anton mendadak menepuk pahanya tanpa alasan?

Atau mungkin yang tadi itu hanya khayalan Bina saja?

Cepat-cepat Bina gelengkan kepala, berusaha enyahkan pikiran soal Anton dari benaknya. Pandangannya kembali fokus menatap lautan manusia yang kian padat penuhi lantai dansa seiring larutnya malam. Bina nyaris terlempar lagi dalam lamunan ketika suara Sion tiba-tiba menginterupsi di telinganya.

“Bina! Anjirlah daritadi dipanggil ga nengok!” Sion yang duduk di ujung seberang sofa berteriak cukup kencang. Matanya pun bertemu dengan milik Bina ketika sosok yang dimaksud menoleh, baru sadari bahwa dia lah yang dipanggil Sion sejak tadi.

“Apaan?” sahut Bina, menatap malas pada Sion yang jadi penyebab utama atas kesialannya saat ini.

“Jangan ngelamun jir, ngobrol sini ngobrol. Tuh minum, si Anton ga mau minum soalnya.” Sion masih berteriak sambil menunjuk ke arah meja, arahkan tatapan Bina pada gelas di depannya yang bahkan dia baru sadari ada disana.

Bina seketika mengerutkan alis. “Apa hubungannya anjing,” gumamnya kecil. Ya, Sion tidak mungkin dengar sih, tapi Bina juga tidak mungkin mengatakan itu keras-keras sementara Anton duduk di sisinya.

Yang Bina tidak sangka adalah bagaimana gelas berisi alkohol itu tiba-tiba disodorkan padanya. Bina membeku di tempat ketika tangan yang jauh lebih besar dengan tanpa peringatan menyentuh jemarinya, perlahan membuka kepalan tangan Bina lalu selipkan gelas di sana.

Bina segera kembalikan gelas itu dalam genggaman Anton tanpa berpikir panjang. Selain karena dia memang sedang tidak ingin minum, buat apa juga Anton memberi minumnya pada Bina?

Tapi, Anton dengan cepat menangkap tangannya. Ia pertahankan posisi gelas tadi agar tetap dalam pegangan Bina, sementara jemarinya lingkari genggaman tersebut, memastikan Bina tidak bisa mengoper lagi minuman itu untuk kedua kalinya.

Mata Bina saat itu juga bergulir menatap Anton dan seketika terpaku saat mendapati sorot mata yang lebih muda nyatanya sudah lebih dulu terkunci pada Bina. Dia kagok setengah mati kalau bisa dibilang, tidak tahu harus bereaksi bagaimana ketika pandangannya terperangkap dalam tatapan Anton.

“Minum aja kak, gue nggak.” Anton akhirnya buka suara. Wajahnya tunjukkan ekspresi paling datar yang pernah Bina lihat.

Bina menggeleng. “Nggak. Kamu aja.”

“Gue nyetir balik habis ini. Minum aja.” Ucap Anton mutlak sebelum melepas genggaman pada gelas di tangan Bina, memalingkan kepala untuk kembali fokus pada teman-temannya.

Dan Bina rasanya ingin kabur detik itu juga.

Padahal belum ada lima menit lalu Bina masih kekeuh untuk tidak sentuh alkohol malam ini. Tapi, kian kusutnya pikiran, ditambah dentuman musik yang semakin memekakkan telinga, membuat niat Bina lebur begitu saja. Dengan impulsif dia tegak habis isi gelas dalam cengkramannya. Biarlah kalau dia malah berakhir mabuk nanti, Bina sudah kepalang bingung bagaimana mau menyikapi kekacauan hidupnya.

Bina taruh gelas kosongnya di atas meja sembari menegakkan punggung dari sandaran sofa. Alkohol yang mulai diserap sistem tubuhnya suskses memberi Bina rasa rileks, mengikis ketegangan yang sedari tadi penuhi dadanya. Dan hanya berdiam diri lama-kelamaan membuat Bina bosan hingga akhirnya dia putuskan untuk mengalihkan perhatian ke obrolan yang tengah berlangsung di meja itu.

Namun, begitu Bina majukan posisi duduknya untuk menyimak lebih baik, orang di sampingnya malah ikut bergerak juga. Kali ini gantian Anton yang menyenderkan punggungnya di sofa, ubah pandangan Bina menjadi lebih leluasa menatap teman-teman mereka, seolah si adek tingkat mengerti apa yang Bina butuhkan saat dia memperbaiki posisinya.

Bina berusaha tidak ambil pusing tindakan Anton, bersikap seolah dia tidak menyadari gesture yang Anton lakukan. Hanya saja, Bina temukan kepura-puraan itu semakin sulit dipertahankan ketika menyadari sebuah tangan yang kini menetap di pinggangnya.

Lama-lama Bina benar bisa jadi gila kalau begini.

Tangan Anton hanya berdiam melingkari pinggang Bina, tapi Bina sampai setengah mati atur napasnya yang mendadak terasa tercekat saking tegangnya. Bina nggak berani bergerak satu inchi pun bahkan saat ia terdorong untuk tertawa mendengar celetukan Taro. Dia lanjutkan bersikap pura-pura tidak peduli meski detakan jantungnya berkata lain.

Mereka bertahan di posisi itu cukup lama, hingga jam tunjukkan pukul 12 malam dan salah satu teman Anton mengajak mereka semua turun ke dance floor. Dentuman lagu yang sekarang berganti jadi lebih cepat sangat memancing orang-orang untuk meramaikan. Bina awalnya sudah berniat ikut turun juga, tapi Taro lebih dulu menghampirinya sambil meracau minta pulang. Sudah ngantuk, katanya. Omongan Taro yang disertai racauan ngelindur itu jadi tanda bahwa dia sudah cukup mabuk, dan buat Bina akhirnya mengiyakan.

Bina berdiri dari duduknya lalu pamit pada yang lain, mewakili Taro dan Sion yang mulai tidak bisa berjalan lurus. Dia gandeng erat dua temannya itu, berusaha menuntun mereka menuju pintu keluar. Namun, langkah mereka terhenti ketika Anton tiba-tiba memanggil.

Tuhan, apa lagi ini…

“Pulang naik apa, kak?” Anton lemparkan pertanyaan sambil berjalan mendekati Bina.

Otak Bina rasanya kesulitan bekerja ketika Anton berdiri tepat di depannya, diam menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Bina.

“Hmm, naik taksi,” jawab Bina singkat.

“Bareng gue aja kalo gitu. Balik kemana emang?”

“Eh nggak usah, bisa kok ini…”

“Daripada lu ribet kak nge-geret dua orang gitu.”

Dan Bina menoleh sekilas ke arah dua temannya yang tengah mengangguk-anggukkan kepala mengikuti beat musik yang sedang bergema. Sebenarnya bukan masalah bagi Bina untuk menuntun dua orang ini sampai pulang, lagipula mereka nggak sampai hilang kesadaran kok.

Sebuah gelengkan kepala diberi Bina sebagai jawaban sebelum dia membalas ucapan Anton.

“Nggak kok. Bisa ini mah, gampang. Balik dulu ya,” ucap Bina seiring kakinya bersiap melanjutkan langkah ke arah pintu keluar.

Sayangnya Bina kalah cepat dari cekalan tangan Anton yang menahan dirinya.

“Balik kemana, kak?” Anton ajukan pertanyaan itu sekali lagi, tatapannya terbitkan rasa gugup dalam diri Bina.

“Ke apart aku doang, deket kok. Bisa sumpah, nggak usah dianter.”

Respon Anton yang hanya diam ketika mendengar jawabannya membuat Bina mengira perdebatan kecil mereka sudah selesai sampai di sana. Tapi Bina memang tidak seharusnya asal menebak apa yang Anton akan lakukan, karena di detik berikutnya, tanpa aba-aba, Anton malah meraih lengan Sion dan memapahnya untuk berjalan keluar.

The fuck?!

Bina yang masih tercengang sontak buru-buru mengikuti langkah besar Anton yang membelah jalan untuk mencapai pintu keluar. Dia berusaha imbangi langkah cepat Anton dengan langkahnya yang lebih pendek, tangannya tak lupa menggandeng erat Taro yang terdengar meracau protes karena terus diseret setengah berlari.

Langkah mereka terhenti ketika sampai di depan mobil yang terlalu Bina kenal luar dalam. Bina serasa dihantam kilas momen dirinya bersama Anton dalam mobil itu, hal yang sama sekali tidak membantu di tengah napasnya yang sudah ngos-ngosan setelah berjalan tergesa-gesa demi mengejar Anton untuk sampai ke area parkir.

“Anton, beneran nggak usah. Kita bisa pulang sendiri. Emang kamu nggak lanjut di dalem?” Bina tegaskan lagi ucapannya meski Anton sudah bergerak membantu Sion duduk di jok belakang mobil.

Bina rasanya mau meledak saat itu juga. Kenapa sih orang ini mengabaikan dia terus?

“Anton, aku serius.” ucap Bina agak keras, mulai kesal karena Anton tetap tidak menanggapinya.

Anton kemudian berjalan ke arah Bina, langkah panjangnya terhenti tepat di hadapan si kakak tingkat. Namun bukannya menjawab, yang dilakukan Anton malah mengambil alih tangan Taro dan menuntunnya ke dalam mobil untuk duduk di samping Sion.

Oh, God. Andai dua orang itu tidak menginap di tempatnya, Bina sudah akan kabur saat itu juga dan membiarkan Anton yang mengurus mereka pulang.

Selesai membantu Taro duduk, Anton kembali menghampiri Bina yang belum berkutik dari posisinya.

“Gue mau balik juga, kak. Sekalian aja. Masuk gih.” Anton katakan semua itu dengan cepat sebelum berbalik ke arah mobil, meninggalkan Bina yang bahkan masih bingung harus merespons apa.

Ketika Anton sudah memposisikan diri di balik kemudi, Bina pun mau tidak mau bergegas masuk ke dalam mobil. Mobil sialan yang selalu bikin Bina teringat momen memalukan saat dia mencium Anton untuk pertama kalinya.

Dan sesuai dugaan, perjalanan dari club menuju apartemen Bina hanya diisi keheningan. Duduk di jok depan, tepat di samping Anton, membuat Bina semakin sadar betapa tegangnya suasana canggung di antara mereka, diperparah dengan suara dengkuran dari dua orang di kursi belakang yang justru sudah tertidur pulas.

Untung bagi Bina bahwa apartemennya tidak begitu jauh dari club tadi. Bina serasa ingin sujud ketika mobil Anton memasuki area basement.

Sepanjang jalan barusan, Bina sudah menyusun apa saja yang mau dia katakan pada Anton begitu mereka sampai, bahwa dia bisa membawa Sion dan Taro ke unitnya sendirian lalu berterima kasih atas tumpangan dari yang lebih muda.

Tapi belum sempat Bina katakan apapun, Anton lebih dulu turun dari mobil dan membuka pintu belakang di sisi Taro.

“Lu bisa bantu Sion kan, kak?” tanyanya sambil membantu Taro yang sudah linglung untuk turun.

Bina mengumpat dalam hati sebelum mengangguk, membawa dirinya turun dari mobil untuk membantu Sion. Tidak lupa Bina bisikkan ‘lu emang anjing, gue doain kepala lu pusing mampus besok pagi.’ di telinga temannya seraya mereka berjalan masuk ke dalam gedung.

Keheningan di mobil tadi kembali hadir saat mereka berada di dalam lift menuju unit Bina. Belum pernah Bina rasakan waktu yang seolah melambat untuk sampai ke lantai tujuan mereka. Dia bahkan tidak mampu sembunyikan hembusan napas lega yang sedari tadi tertahan ketika mereka akhirnya tiba di depan pintu unitnya.

Tangan Bina bergerak cepat menekan digit kode di pintu dan tidak membuang satu detik pun untuk melangkah masuk sambil menyeret Sion, sudah tidak sabar ingin menggeletakkan temannya itu di sofa ruang tamu.

Secepat kilat Bina bawa Sion ke sofa dan membaringkannya di sana. Tak lama, badan Taro ikut menyusul tergeletak di sebelah Sion. Dua orang yang paling dekat dengan Bina itu pun tampak langsung kembali tertidur,

… atau mungkin belum. Bodo amat deh, Bina juga sudah terlalu lelah untuk memikirkan apakah mereka masih terjaga atau tidak.

Yang bisa Bina pikirkan sekarang hanyalah betapa berat suasana di dalam unitnya saat dia mendadak sadar bahwa Anton tengah berdiri di sebelahnya, berada di dalam apartemennya, dan tinggal mereka berdua yang masih sepenuhnya terjaga.

Bina berusaha memutar otak untuk menemukan kata-kata yang ingin dia ucapkan pada Anton. Berterima kasih saja sepertinya cukup. Tapi, mungkin ini waktunya untuk membahas ketegangan yang sudah dua minggu terakhir mengendap di antara mereka. Masalahnya, Bina belum siap. Memangnya dia mau bilang apa? Minta maaf? Menjelaskan perasaannya?

Keheningan itu akhirnya pecah saat Anton lebih dulu angkat bicara.

“Kak-” Bina seketika menengok dengan napas tercekat.

“-mau ke toilet.” Dan bahu Bina langsung merosot lemas, lega, saat mendengar yang keluar dari mulut Anton bukanlah konfrontasi seperti yang dia takuti.

“Oh iya, itu yang pintu samping dapur. Tau, kan?” tanya Bina memastikan sambil menunjuk pintu yang dia maksud.

Anton mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu hanya dirinya yang tersisa di ruang tamu, Bina baru bisa menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya menekan dada di sebelah kiri, mencoba redakan detak jantung yang saking kencangnya, Bina curiga kalau telinga Anton juga bisa dengar tadi.

Bina mendudukkan diri di bagian sofa yang masih kosong, berusaha menenangkan batinnya yang siap hanyut kapan saja setelah lewati rentetan kejadian malam ini. Jika bisa menghilang saat ini juga, Bina akan lakukan tanpa pikir panjang.

Dia lirik jam dinding yang tunjukkan waktu hampir menginjak pukul satu pagi. Bina sebenarnya belum terlalu mengantuk sih, tapi dia ingin cepat-cepat mengurung diri di kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil meratapi nasib.

Kok dia lama banget ya di dalem?

Bina terus mengamati pergerakan jam di hadapannya. Dalam diam dia catat bahwa sudah lima menit terlewati sejak Anton masuk ke dalam toilet. Waktu yang tergolong lama bagi Anton untuk sekedar buang air kecil.

Karena tidak ingin menunggu lebih lama, Bina akhirnya berdiri untuk menghampiri kamar mandi yang dimasuki Anton tadi. Tiga ketukan dia layangkan, namun hanya keheningan yang menyambutnya dari balik pintu.

“Anton?” Bina memanggil pelan, mencoba memastikan bahwa Anton masih ada di dalam sana.

Tapi lagi-lagi, yang menyambutnya hanya keheningan.

Bina mulai heran. Dia ketuk ulang pintu itu tiga kali sambil memanggil nama Anton. Tapi, tetap tidak ada satu pun respons yang Bina terima.

Pikiran Bina perlahan dipenuhi rasa gelisah. Anton yang sudah terlalu lama berada di dalam, ditambah dia tidak menyahut sama sekali, membuat Bina mulai memikirkan berbagai skenario buruk. Seperti Anton yang tidak sadarkan diri misalnya.

Dengan sedikit ragu, Bina menghela napas panjang sebelum meneriakkan, “Anton, aku masuk, ya?” sembari tangannya memutar gagang pintu untuk melihat ke dalam kamar mandi.

Ketika pintu itu akhirnya terbuka lebar, Bina tidak tahu harus merasa lega atau kesal karena yang dia temukan adalah Anton, yang sedang berdiri di depan counter wastafel, dengan kedua tangan bertumpu pada tepiannya. Sorot mata Anton yang dia tangkap melalui pantulan cermin seketika membuat nyalinya ciut.

Bina terdiam, tidak berani untuk melangkah dari ambang pintu ketika matanya terkunci oleh tatapan intens si adek tingkat.

Pandangan keduanya bertaut selama beberapa detik sebelum Anton lah yang lebih dulu alihkan sorot matanya ke arah wastafel. Dan pergerakan itu seolah menjadi isyarat bagi Bina untuk melangkah maju, merasakan bagaimana sepasang mata tadi ingin sampaikan banyak hal yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.

Langkah Bina membawanya hingga berdiri tepat di belakang Anton, menyisakan jarak begitu dekat sampai Bina bisa rasakan kehangatan dari punggung lelaki yang lebih tinggi. Tatapan Bina pun masih terpaku pada bayangan Anton di cermin.

Anton kembali mengangkat pandangannya untuk menatap balik Bina melalui cermin. Keduanya masih diselimuti keheningan, dengan kontak mata yang seolah memancarkan begitu banyak kata yang ingin mereka ungkapkan.

Mungkin ikatan batin di antara mereka memang tidak bisa berdusta. Atau mungkin, perasaan mereka memang sudah tumbuh sedalam itu. Karena pada detik berikutnya, Bina melangkah mendekat bersamaan dengan tangan Anton yang raih pinggangnya, menarik Bina hingga dia bersandar pada counter wastafel.

Ini bukan kali pertama Bina terjebak dalam kurungan lengan Anton, dengan jarak yang membuat mereka seolah menghirup oksigen satu sama lain, diiringi detak jantung yang berpacu seolah saling beradu.

Tatapan intens Anton membuat Bina seakan hanyut dalam sorot mata yang penuh dengan begitu banyak emosi. Bina tidak mampu mengalihkan pandangan, jantungnya terus berdebar dan napasnya kian memburu. Detik demi detik terlewat begitu saja tanpa ada yang berniat memutus kontak mata terlebih dahulu.

Saat Anton mulai mengikis jarak, Bina tanpa ragu ikut memangkas sisa ruang di antara mereka, menyambut bibir yang lebih muda untuk akhirnya saling mengecap satu sama lain.

Anton yang bergerak lebih dulu, melumat bibir bawah Bina kemudian berpindah ke bagian atas. Ia sesap bibir Bina dengan begitu dalam, pastikan setiap jengkalnya terjamah seolah sedang menikmati rasa manis yang buatnya ketagihan, yang hanya bisa ia temukan di sana.

Tangan Bina pun terangkat untuk melingkar di leher Anton ketika yang lebih muda mulai membawa ciuman mereka lebih jauh. Anton menyelusupkan lidahnya ke dalam mulut Bina, melilit lidah si kakak tingkat untuk diajak beradu, menciptakan suara basah yang buat kemaluannya berkedut seketika.

Bina seolah tidak bisa berpikir lurus lagi. Yang ada di otaknya hanya hal-hal tidak senonoh yang ingin ia lakukan sekarang juga bersama Anton.

Tautan bibir itu akhirnya terlepas saat keduanya mulai kehabisan pasokan oksigen. Dengan sorot mata yang tetap terkunci, mereka meraup napas dengan tergesa, sebelum kembali menyatu, menenggelamkan diri dalam candu yang tak bisa mereka tolak.

Pagutan mereka kian memburu seiring dengan hasrat yang terus menumpuk di antara keduanya. Anton merengkuh pinggang Bina dalam cengkeraman erat, lalu dengan mudah ia dudukkan si kakak tingkat di atas wastafel yang sejak tadi Bina sandari. Bina dengan spontan mengeratkan lingkaran lengannya pada leher Anton, menarik yang lebih muda untuk berada pada jarak sedekat mungkin, sampai kemaluan mereka yang masih terhalang pakaian saling bersentuhan.

Keduanya sudah tidak peduli betapa basah dan berantakannya cumbuan mereka. Anton mendekap pinggang Bina seerat mungkin, mengunci tubuh yang lebih tua di ujung wastafel agar ia bisa leluasa untuk menikmati bibir itu tanpa celah.

Dan Bina, dengan pikiran yang sudah berkabut oleh nafsu, mulai bergerak menggesekkan kemaluannya dengan milik Anton yang sama tegangnya. Kontak fisik yang masih terhalang jeans itu sukses meloloskan lenguhan dari bibir Bina, menyalurkan kenikmatan yang membuatnya menggeliat gelisah.

Sensasi gesekan kasar kain jeans di antara mereka bawa akal sehat Bina benar-benar lenyap hingga pikiran Bina hanya terisi desakan untuk mengejar kepuasannya. Bina gesekkan selangkangannya dengan frustrasi, sementara pagutan bibir keduanya kian mendalam.

“A-ah… Anton…” Bina memutuskan tautan bibir mereka, membiarkan desahan yang sejak tadi dia tahan lolos begitu saja.

Napas Anton yang memburu terasa hangat menyapu kulit lehernya. Bina refleks memiringkan kepala, memberi akses lebih bagi Anton untuk jelajahi area itu.

Pandangan Bina mulai berkunang-kunang saat Anton menyesap kulit lehernya, selaras dengan bagian bawah tubuh mereka yang terus bergesekan tanpa henti, buat akal sehat Bina menguap tanpa sisa. Seluruh indranya kini hanya bisa merasakan keintiman mereka, mengirimkan gelombang nikmat yang membuatnya kewalahan.

Kaki Bina mulai bergetar, tidak sanggup menahan lonjakan gairah yang kian mendesak, membuat tubuhnya seperti kehilangan kendali.

Dan Anton seolah paham bahwa Bina sudah begitu terdesak untuk capai pelepasannya. Tangan kirinya segera melepaskan dekapan dari pinggang Bina, bergerak turun menuju ritsleting celana yang lebih tua dan membukanya tanpa ragu. Tangannya yang mahir langsung melorotkan jeans serta boxer yang menghalangi, membebaskan batang penis Bina yang sudah menegang sempurna.

Bina bahkan belum sempat bersuara ketika tangan Anton langsung menggenggam miliknya. Napasnya seketika tercekat saat melirik ke bawah, menyaksikan bagaimana kemaluannya tampak begitu kontras di dalam genggaman tangan Anton yang lebih besar.

Napas keduanya berderu hebat sebelum tangan Anton mulai bergerak naik turun, mengocok penis Bina dengan perlahan. Pekikan lolos begitu saja dari belahan bibir Bina kala merasakan gesekan tangan Anton pada miliknya yang sudah sensitif mentok.

“H-hahhh — Anton! Anton… Ah!” Bina rasanya sudah tidak punya rasa malu lagi untuk meloloskan desahan. Pertahanan diri Bina sepenuhnya hilang karena yang tersisa di otaknya saat ini hanyalah enak, Anton, dan enak.

Bina kira ia sudah habis sampai di sana, tapi Anton masih bisa buat si kakak tingkat semakin kehilangan akal. Yang lebih muda bawa tangan kanannya turun, membuka ritsleting celananya sendiri lalu menurunkan jeans serta boxer-nya, membebaskan kejantanan yang sudah menegang hebat hingga keluarkan cairan pre-cum di ujung. Anton mulai mengocok miliknya sendiri, kepalanya terlempar ke belakang saat rasakan sensasi yang sejak tadi ia dambakan.

Dengan napas yang bergetar, Anton dekatkan bagian bawah mereka. Ia bawa kedua penis itu dalam satu genggaman erat, membiarkan kemaluan sensitif mereka bersentuhan tanpa halangan. Keduanya seketika mendesah keras. Mata Bina sampai berair, tak sanggup membendung gairah yang siap meledak dari dirinya detik ini juga.

Anton tatap mata Bina lamat-lamat, memastikan fokus si kakak tingkat tidak beralih ke mana pun saat jemarinya mulai bekerja. Ia mengocok dua penis yang kontras ukurannya itu sekaligus, menciptakan gesekan yang langsung merenggut sisa kesadaran mereka tanpa ampun.

Kamar mandi dengan pintu yang masih terbuka lebar itu pun menggemakan suara basah hasil bercampurnya pre-cum Anton dengan milik Bina. Anton mempercepat gerakan tangannya, gairahnya memuncak merasakan sensasi penis mereka yang saling beradu, bersama suara desahan Bina yang tidak kunjung putus penuhi telinganya. Pandangan Anton tidak lepas dari bagaimana Bina terengah-engah dengan mata yang sudah merem melek dan wajah memerah total akibat gairah.

Apa itu video porno? Pemandangan Bina yang masih dalam balutan cardigan saja sudah cukup buat Anton sange bukan main. Anton bisa klimaks berkali-kali rasanya kalau disuguhkan Bina yang seperti ini.

Napas Bina yang kian tersendat seolah menandakan bahwa pelepasannya ada di depan mata. Bina sudah benar-benar di ambang batasnya ketika Anton dengan jahil malah memperlambat gerakan tangannya, mempermainkan kejantanan Bina yang memerah sensitif, siap tumpah dalam satu sentuhan lagi.

Bina seketika mengerutkan alis, merasa frustrasi karena puncaknya ditunda begitu saja. Namun, belum sempat sebaris protes lolos dari bibirnya, Anton langsung mempercepat kocokan tangannya kembali, membuat Bina kepayahan dihantam gelombang nikmat yang datang secara tiba-tiba.

Hanya saja, gerakan tangan Anton tidak lama kembali memelan, sukses memicu rasa kesal dalam diri Bina karena merasa terus dipermainkan. Bina dengan cepat membuka mulut untuk meluapkan amarah, tapi yang keluar justru hanya desahan ketika Anton mempercepat ritme kocokannya sekali lagi tanpa aba-aba.

“Kak Bina, minta maaf dulu sama aku,” bisik Anton di tengah desahan pasrah Bina yang kesadarannya telah mengabur.

“Hhh… kenapa- ah. Maaf. Heungh, maaf Anton. Plea- please.” Bina meracau tanpa bisa berpikir lebih jauh.

Anton naikkan ritme gerakan tangannya, membuat Bina semakin kelojotan tak berdaya. “Aah — janji dulu, kak. Janji kamu nggak akan gengsi-gengsian lagi?”

Bina hanya mengangguk dengan sisa kesadaran yang makin menipis. Sejujurnya, dia sudah tidak mampu mencerna penuh apa yang baru saja Anton tanyakan.

“Kamu suka sama aku, kak? Jawab.” Anton kencangkan genggamannya pada penis mereka berdua.

“Suka sama aku? Sayang sama aku?”

Dan Bina langsung mengangguk cepat. Pikirannya sudah tidak bisa diajak berkompromi. Seluruh dinding pertahanannya runtuh, membiarkan dirinya jujur di hadapan Anton.

“Jawab, kak. Mulutnya dipake ngomong, jangan desah aja.”

“Iyah-hhh. Suka sama kamu. Sayang- aah, sayanghh sama kamu.”

“Kamu kemarin cemburu, kan? Jawab.”

“Iyaa — ahh. Anton! Iyahh.”

Pandangan Bina mulai sayu, cahaya lampu kamar mandi di atas mereka tampak berpendar buram di matanya. Kepala Bina dibuat benar-benar kosong, mati rasa akibat gesekan yang kelewat nikmat di bawah sana.

Dan Anton berikan tiga kocokan terakhir yang begitu kuat hingga jeritan keduanya pecah seketika saat klimaks menghantam mereka bersamaan. Tubuh keduanya menegang hebat sebelum akhirnya ambruk, menyisakan suara napas yang terengah-engah dan berantakan.

Butuh beberapa saat bagi Anton untuk akhirnya turun dari kabut kenikmatan yang mengaburkan pikirannya. Ia tarik napas perlahan, terkekeh melihat telapak tangannya dipenuhi oleh sisa pelepasan mereka berdua.

Dengan cepat Anton mencuci tangannya pada wastafel di samping Bina. Ia kemudian meraih segulung tisu, dengan telaten membersihkan sela paha mereka bergantian hingga benar-benar bersih, sebelum membantu Bina mengenakan celananya kembali.

Anton bawa tangannya untuk mengelus punggung Bina perlahan, menuntun si kakak agar kesadarannya kembali utuh setelah dihantam gairah yang menguras tenaganya.

Ia bantu Bina mengatur napasnya yang masih memburu. Dengan penuh sayang, ia tangkup dagu yang lebih tua, mempertemukan sorot mata mereka untuk membantu Bina mengumpulkan kembali fokusnya yang sempat hilang.

Begitu kesadaran Bina perlahan kembali, Anton langsung tersenyum. Ia bubuhkan satu kecupan di bibir Bina, sukses membuat rona merah menjalar di pipi si kakak tingkat karena malu.

“Hai. Mau kan jadi pacar aku?”

Ini ketiga kalinya Anton menanyakan hal yang sama, sedikit merasa takut akan ditolak kembali, meski ia tahu dirinya tidak akan menyerah begitu saja berapa kali pun Bina menolak.

Bina menundukkan kepalanya, kehilangan keberanian untuk membalas tatapan mata Anton.

“Curang kamu nanya pas aku begitu…” gumam Bina pelan, rasa gengsi yang biasa dia dahulukan baru kembali lagi seiring dengan otaknya yang mulai berfungsi normal.

Anton hanya menggeleng sambil tertawa kecil. “Kalo nggak gitu kamu nggak akan jujur sama aku, ego kamu kegedean.”

Bina merengut. “Nggak ya!” sahutnya, yang langsung disambut dengan Anton menaikkan satu alisnya.

“Ya- ya… yang kemarin-kemarin tapi aku emang salah. Maaf.”

I’m down bad for you, kak. Kamu nggak paham se-stres apa aku harus ngadepin kamu yang tarik ulur terus.” aku Anton dengan jujur.

“Maaf…”

“Jadi, mau pacaran sama aku?”

Bina terdiam beberapa saat, rasa bimbang masih tampak jelas tersirat di wajahnya.

“Tapi, kita pelan-pelan aja, boleh?” ucap Bina perlahan.

Anton mengangguk mendengar permintaan yang lebih tua. “Boleh. Nggak ada yang kejar-kejar kamu, kak. We’ll just take it at our own pace, OK?

Dan Bina tersenyum sebelum mengangguk setuju pada perkataan Anton. Bina langsung merengkuh tubuh yang lebih muda untuk dipeluk, dan Anton dengan senang hati menyambutnya ke dalam dekapan hangat.

Mereka terdiam di posisi itu cukup lama, sampai Anton tiba-tiba memecah keheningan.

“Cuma yang barusan kayaknya bukan slow step ya, kak. Kamu perlu dienakin dulu ya biar mau open up?” goda Anton dengan wajah cengengesan yang buat Bina seketika memukul bahunya.

“Tai kamu ya. Jangan diungkit-ungkit!”

“Hahahah. By the way, pintunya daritadi kebuka loh kak.”

Dan Bina belum pernah rasakan jantungnya merosot dengan lebih horor dibanding ketika dia harus membayangkan Sion dan Taro yang bisa saja mendengar perbuatan tidak senonohnya tadi.

“Kenapa nggak kamu tutup?!” protes Bina seraya turun dari counter wastafel, dengan cepat berjalan keluar kamar mandi untuk mengecek kondisi teman-temannya yang ia tinggal tadi.

“Biar orang-orang denger kalo kamu sayang sama aku.”

plak!

“orang gila!”

Notes:

this was my first attempt of writing in indonesian so i hope it wasn’t so bad… thank u for reading! catch me up on X