Work Text:
Seongje sedang asik bermain game di arena bowling. Arena itu sepi, hanya ada Baekjin yang masih sibuk dengan pekerjaanya, itu pun di dalam kantornya yang ada jauh di dalam arena.
Seongje duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan, asyik dengan handphonenya. Sudah sekitar 2 bulan sejak union kembali berjalan. Atau tepatnya, 6 bulan setelah pertarungan besar antara Eunjang dan Union. Masa tersuram dalam hidup Seongje, dimana Baekjin sempat menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi.
Untungnya, Seongje berhasil menemukan lelaki itu. Ia terpuruk, hampir mati dan sendirian. Dalam keadaan kalut, Seongje membawa lelaki malang itu ke rumah sakit. Menemani proses penyembuhanya selama sebulan penuh, dan menghabiskan sebulan lainya mengurus mantan union leader itu di rumahnya.
Masa-masa itu, 2 bulan yang penuh ketegangan, ketakutan, dan pengharapan itu, berhasil dilewati Seongje. Baekjin pulih, tumbuhnya kembali bugar, tenaganya kembali melimpah, dan entah dari mana, semangat juangnya juga kembali membara.
Seongje tak pernah mengira bahwa hal pertama yang diminta Baekjin saat sudah pulih adalah mengembalikan union. Seongje, tentu saja, dengan kesadaran penuh, menentang keras keinginan itu. Maksudnya, bagaimana bisa Seongje menerimanya setelah melihat Baekjin hampir mati di tangan si busuk Choi. Mana mungkin Seongje membiarkan Baekjin kembali ke jalan terjal itu, yang bisa saja suatu saat benar-benar merenggut nyawanya.
Tapi, siapa di dunia ini yang bisa menghentikan seorang Na Baekjin. Apalagi seorang Geum Seongje, hanya butuh satu kedipan mata dari Baekjin dan Seongje luluh seketika, lantak, tak lagi berbentuk.
Baekjin bilang ia akan lebih berhati-hati, ia tak akan melibatkan Choi lagi. Ia akan memulai dari bawah, mecari celah dari bisnis ilegal di jalanan dan membuka jalan untuk mereka. Detik berikutnya, Seongje sudah membantunya mencari Dongha dan Seongmok. Bukan hal sulit, karena mereka juga menunggu kembalinya Baekjin.
Dari situ, keempatnya mengumpulkan anggota lagi, menyeleksi secara ketat siapa yang bisa dipercaya. Arena bowling kembali dibuka, bengkel mereka kembali beroperasi, tapi lebih hati-hati kali ini, tidak melibatkan polisi, tidak melibatkan gangster. Hanya sekumpulan bocah yang mencari celah di tengah kejamnya kehidupan jalanan. Dan Na Baekjin tak pernah gagal. Union kembali jaya, pelan tapi pasti.
Tapi misi Baekjin tak selesai sampai di situ. Misinya jauh lebih tinggi, jauh lebih besar. Hampir mati di tangan Choi membuat Baekjin sadar, bahwa yang ia butuhkan bukan hanya uang, tapi juga kekuasaan dan kekuasaan itu hanya bisa diraih jika ia punya koneksi atau tau celahnya. Sayangnya, mencari koneksi bukan pilihan, ia tak ingin mengambil resiko mempercayai seseorang dan dikhianati. Satu-satunya jalan adalah mencari celah, dalam hukum, dan karena itu, Baekjin bertekad untuk masuk universitas, belajar hukum tepatnya. Union hanyalah tahap awal, yang harus ia lalui untuk mendapatkan cukup uang.
Karena itulah, Seongje di sini, karena Baekjin bersikeras untuk belajar sekaligus membangun union. Baekjin juga memaksa anak-anak lain belajar, mereka harus lulus SMA setidaknya. Karena harus belajar, sedangkan jumlah mereka yang tidak banyak, tugas jaga arena mereka lakukan bergantian. Saat ini adalah giliran Seongje.
Saat sedang asik bermain, tiba-tiba saja seekor kucing belang hitam putih masuk ke dalam. Kucing itu lewat di depan Seongje, berjalan dengan kepala tegak dan buntut tergerai panjang. warna belang kucing itu tersebar tidak merata, buntutnya sepenuhnya hitam panjang, bagian tubuh atasnya hitam menyeluruh, hanya punggungnya saja yang putih,warna putih yang membentang panjang dari badan ke buntut dengan sedikit melebar di sebelah atas, seperti sayap. Sedang kuping dan kepalanya hitam, hanya dari samping mata ke mulut yang putih, dengan dagu terbagi setengah hitam setengah putih.
Kucing itu berjalan di sekitar Seongje, mondar-mandir, terkadang melompati paha Seongje seakan itu adalah mainan, lincah gesit,namun jelas sedang mencari perhatian.
“Ah elah, kucing!! ngapain si cing!” ucap Seongje sambil mencoba mendorong mundur kucing itu.
Bukannya menjauh,sikucing malah semakin getol ngelendot di kaki Seongje, mengeluskan kepalanya ke sana, membuat Seongje semakin risih.
“CING!!!”
Kali ini Seongje mendorong kucing itu dengan lebih keras, membuat kucing itu berhenti agak jauh dari Seongje. Ia mengeong sambil memandang Seongje dengan memelas.
“Gua ga ada makanan, Dongha yang biasanya ngasih lu makan lagi ga ada. Besok aja balik lagi pas ada Dongha.” jelas Seongje panjang lebar seakan si kucing bisa memahami apa yang dikatakannya.
Dan benar saja, si kucing yang tadinya menatap dengan memelas kini menatap dengan geram, warna matanya berubah padahal tak terkena cahaya, bibirnya menggeram dan taringnya muncul di sela-sela bibir.
“Apa!! mau gigit!! sini gigit!! gua gigit balik lu! Dikira gua takut!!”
Seakan menerima tantangan Seongje, kucing itu langsung mendekat dan menggigit kaki Seongje, kuat, kencang, menancapkan taringnya yang runcing.
Seongje langsung berteriak,berdiri dari duduknya, mengguncang-guncang kakinya mencoba melepaskan gigitan si kucing. Setelah beberapa guncangan, ia berhasil, si kucing terlempar jauh dan mendarat di tengah arena bowling.
“Kucing goblok!!” teriak Seongje sambil mengejar kucing itu, yang tentu saja gagal karena si kucing sudah terlebih dahulu kabur, larinya kencang dan tak bisa diimbangi Seongje.
“Kucing tolol!” teriak Seongje masih marah pada si kucing.
Dalam keadaan kesal, ia berjalan ke arah kantor Baekjin dengan kaki sedikit pincang.
Baekjin sedang sibuk mengerjakan soal ketika Seongje masuk ke dalam ruangan. Gaya berjalanya aneh, kaki kanannya sedikit ia seret. Pemandangan itu membuat Baekjin merasakan sebuah dejavu. Membawa kenangan akan salah satu moment hidup yang ia sesali.
“Kenapa kaki lu?” tanyanya, sambil tetap memfokuskan pandangan pada buku soal dihadapannya.
“Digigit kucing?”
Bakjin mengernyitkan dahi, gerakan tangannya berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan memandang lekat Seongje yang masih berdiri di hadapannya.
“Kucing belang yang biasa dikasih makan Dongha?” tanyanya.
“Iya!! Rese banget si tuh kucing.”
Seongje sibuk, mengangkat celananya dan memperhatikan kakinya yang tadi digigit.
“Ati-ati loh, kata Dongha, itu kucing bukan kucing biasa.”
Seongje langsung berhenti memperhatikan kakinya. Ia mengangkat kepalanya dan memandang Baekjin dengan satu alis terangkat.
“Dan lo percaya omongan kaya gitu,” ucapnya dengan nada skeptis, “Aren’t you like, the intelligent between us, Baekjinie. You're supposed to be the kind who told me to go to hospital and get a rabies shot instead.” tambah Seongje, kali ini dengan nada mengejek.
“That one too.”
Baekjin menundukan kepalanya, kembali berkutat dengan soal dan rumus.
“That’s all? Not gonna ask if I’m okay???”
Baekjin menghela napas panjang. He will never be free from those mistakes, will he?
“You will never stop bringing those up, will you?”
“Nah, nope, never!”
Baekjin hanya mengangguk kecil, jika dia membalas itu hanya akan memperumit keadaan.
“Dasar ga peka! Dahlah, gua ke sini cuma mau bilang gua mau balik. You take care of the rest! gua mau bobo cantik.” ucapnya sambil berbalik dan melangkah ke arah pintu.
“Jangan lupa beneran suntik rabies.”
Seongje langsung berhenti berjalan, memutar kepalanya dan menatap Baekjin dengan mata yang disipitkan. Dia tidak serius ketika mengatakan dia bisa terkena rabies dari kucing. Kenapa Baekjin malah serius menyuruhnya????
“Better safe than sorry.” ucap Baekjin sambil sedikit mengangkat bahu.
“Nah, nothing bad would happen.” Seongje kembali berbalik dan langsung melangkah pergi, tanpa sempat melihat bagaimana senyuman kecil terpampang di wajah Baekjin.
***
Something bad did happen.
Kontol Seongje hilang, berganti dengan memek.
Seongje tak pernah menyangka bahwa suatu hari, ia akan terbangun dari tidurnya dan mendapati bahwa barang pusakanya menghilang, lenyap, tak berbekas, seperti ditelan wewe gombel.
Terlebih lagi, barang pusaka itu berganti dengan barang pusaka milik wanita. Sesuatu yang seharusnya tidak Seongje miliki.
Apakah Seongje sudah gila?
Ah! Pasti itu jawabanya, ia sudah gila dan saat ini, ia sedang berhalusinasi.
Ya, tepat sekali, betapa cerdasnya Seongje bisa menemukan jawaban secepat ini. Saat ini, yang perlu ia lakukan hanyalah menemui seseorang dan memastikan bahwa ia benar-benar sedang berhalusinasi.
Seongje bangun dari tempat tidur dan berganti baju dengan tergesa.
Setelah selesai, dengan kecepatan penuh, ia meninggalkan rumah dan menuju ke satu tempat di mana ia bisa menemukan orang itu. Orang yang bisa ia tanyai, bisa dipercaya, dan bisa diandalkan.
Brakk!
Pintu terbuka dengan kasar, Seongje masuk ke dalam ruangan sambil menutup pintu dengan rapat, sangat rapat sampai tak satu semutpun bisa melewatinya.
“Na Baekjin!!” Seogje berteriak sambil berjalan mendekati lelaki yang sedang duduk di kursinya dengan tenang.
Ini sudah hampir tengah hari, tentu saja di siang hari yang cerah ini Baekjin memilih untuk menyelesaikan soal latihan di kantornya yang gelap dan tak terjamah dunia luar.
Seongje berjalan mendekati lelaki itu, mengitari meja dan berhenti tepat di sampingnya.
“I need you to confirm something for me!” ucap Seongje, nada suaranya lemah, dan ia sendiri bisa mendengar getaran ketakutan dalam suara itu.
Baekjin masih menunduk dan tetap fokus pada bukunya.
“Ya!! NaBaek!!!!”
Baekjin mendesah panjang, meletakan pulpennya, lalu memutar kursinya supaya berhadapan langsung dengan Seongje.
“Apa? Kenapa?? Apa lagi!”
Mendapat perhatian dari Baekjin malah membuat Seongje gugup, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sedang pandangan matanya terus berpindah-pindah, mencoba lari dari pandangan mata Baekjin.
“Itu gua ilang.”
“Itu apa?”
“Itulohh! itu!!” nada suara Seongje meninggi.
“Ya itu apa???” nada suara Baekjin masih tenang.
“Itulohhh!! itu!!! masa lu gak paham si!”
“Ya mana gua paham! lu ngomong ga jelas! Itu apaan?”
“Ituloh yang dipake buat ngentot cuk!!”
“Itu apaan si? kontol??” ucap Baekjin kesal, setengah bercanda.
“Iya itu!!!”
Baekjin terdiam.
Seongje juga diam.
Keduanya saling pandang tanpa berkedip.
“Lu udah gila ya?” tanya Baekjin dengan nada suara yang semakin naik.
“Kayanya mah.” suara Seongje melemah, kepalanya tertunduk dan matanya terlihat seperti seseorang yang hampir menangis.
Baekjin kembali diam, takjub dengan kepasrahan Seongje.
Seongje menghembuskan napas panjang, “Kayanya gua emang udah gila, makanya lu periksa itu gua masih ada apa engga.”
“Apanya??”
“Kontol gua, bangsat!” Seongje kembali berteriak.
Baekjin kembali diam. Wajahnya terlihat pucat. Mata sipitnya membulat dan menatap Seongje penuh ketidak percayaan.
Seongje memutuskan untuk langsung bergerak, mengambil satu langkah maju kemudian meraih tangan Baekjin, membawa tangan itu ke arah selangkangannya kemudian mendaratkan tepat di sana, di tengah-tengah kedua paha Seongje.
Telapak tangan itu menangkup, menemukan celah, menemukan belahan, menemukan kekenyalan yang diyakini tidak ada sebelumnya, namun tangan itu hanya mendarat diam di sana.
Menyadari apa yang ia sentuh membuat mulut Baekjin menganga, yang seketika ia tutup dengan tangannya yang bebas. Matanya semakin membelalak, menatap Seongje tak percaya.
“You are trans?”
“No I’m not!!! Kita udah sering kencing bareng sebelahan, lu udah pernah liat jelas gua punya kontol!!”
Seongje benar, Baekjin sudah pernah melihat Seongje memiliki penis. Jadi, bagaimana bisa sekarag ia menyentuh sesuatu yang tadinya tidak ada.
Baekjin sedikit menekan jarinya, memastikan apa yang sedang ia sentuh, membuat Seongje meringis dan mengatupkan kedua pahanya.
“Terus ini apa??” tanya Baekjin.
“Ngak tau!! Makanya gua nanya elu!!”
“Why me? How am I supposed to know?”
“I don’t know, but you are the smartest person I know, so do something!!”
“What the fuck do you want me to do!” suara Baekjin meninggi dan tanpa disadari tanganya bergerak lebih keras, menekan jarinya ke bagian tubuh baru milik Seongje.
“Ahhh…”
Sensasi aneh menjalar di seluruh tubuh Seongje, dari satu titik menyebar ke seluruh bagian tubuhnya, terutama telapak kaki, membuat kakinya lemas. Tanganya menjulur berpegangan pada pinggiran meja kerja Baekjin, menahan tubuhnya supaya tidak jatuh.
“Ahhhh… Baekjin!! Jangan diteken.”
Baekjin langsung menarik tangannya. Matanya memandang lekat wajah Seongje yang memerah, matanya yang menutup, serta bibirnya yang terkatup rapat.
Sial, Seongje terlihat sangat sexy, membuat Baekjin menelan ludah.
Seongje bergerak pelan, mendudukan dirinya di meja kerja Baekjin, berusaha mengontrol tubuhnya, melupakan sensasi aneh yang juga terasa sangat nikmat itu.
“Don’t look at me like that?” ucapnya pada Baekjin.
“Like what?”
“Like I am your prey.”
Baekjin kembali menelan ludah, menyadari apa yang baru saja ia lakukan, ia mengalihkan pandangannya dari Seongje, mencoba berpikir jernih, rasional. Meskipun situasi saat ini tidak bisa dijelaskan secara rasional.
“Beneran ilang kontol gua jin?” tanya Seongje, kali ini wajahnya memelas, “Gua gak lagi halusinasi.”
Baekjin mengangguk, tak sanggup menjawab.
“Gua mesti gimana jin?” Nada suara Seongje semakin memelas.
Hal ini membuat Baekjin ikut kalut. Ia berpikir keras, apa yang kira-kira bisa mereka lakukan.
“Mau ke dokter?” tanyanya pelan, sedikit takut pada reaksi Seongje.
“Yakali!! Mau bilang apa gua? kontol saya berubah jadi memek dok, gitu?” suara Seongje kembali meninggi, namun bukanya marah karena dijadikan sasaran kekesalan, wajah Baekjin malah memerah, merona, mendengar apa yang baru dikatakan Seongje.
“Jangan malah mupeng, bangsat!” ucap Seongje sambil menggeplak kepala Baekjin.
Geplakan itu membuat Baekjin sadar, bahwa ia tak perlu repot-repot memikirkan solusi. Biar saja Seongje repot dengan urusan ini. Toh ini bukan masalah Baekjin.
“Bantuin mikir, anjing! Gua mau kontol gua balik, gak mau punya memek!! Jin, bantuin!!! bantuin bantuin bantuin!!!!”
Suara tinggi Seongje memekakan telinga Baekjin. Baekjin tak akan sanggup bertahan dari kengerian suara ini. Pada akhirnya, otaknya kembali bekerja, mencoba mencari solusi.
“Kalo gak mau ke dokter, kita ke alternatif aja. Gua tau dukun yang terkenal jago.” ucapnya dengan nada jengkel.
“Seriously, jin, dukun?” tanya Seongje dengan nada meremehkan.
Baekjin menarik napas panjang, meyakini dirinya sendiri untuk tidak membunuh Seongje saat itu juga.
“Terus mau ke mana? ke rs lu gak mau, yaudah ke dukun aja. Apa mau ke pak ustad, mau minta diruqyah lu???”
Seongje terdiam, hanya memandang Baekjin tanpa berkedip, tatapan matanya kosong, seperti orang yang sedang berpikir keras. Well, maybe opsi kedua tidak terlalu buruk.
Tiba-tiba saja Seongje berdiri, “Oke, kita ke dukun.” ucapnya tegas. sambil berbalik badan dan berjalan menuju pintu.
“Sekarang.”
Seongje berhenti berjalan di tengah ruangan, berbalik badan memandang Baekjin, “Tahun depan, ya sekaranglah goblok.”
Baekjin kembali menghembuskan napas panjang. Ia berdiri lalu mengikuti Seongje yang sudah kembali berjalan. Ini akan menjadi hari yang melelahkan.
***
Keduanya sampai di depan sebuah rumah tradisional korea yang terlihat mewah. Pintunya menjulang tinggi dan pagar membentang mengelilingi rumah.
“Lu yakin ini tempatnya?” tanya Seongje sambil memandang picik pintu pagar di hadapannya.
“Yakin gak yakin yakinin aja.”
“Kok lu gitu si ngomongnya!”
“Gitu gimana?”
“Kaya gak serius.”
Baekjin kembali menghela napas panjang, meyakinkan dirinya bahwa Seongje sedang berada dalam keadaan tidak stabil (meskipun sejatinya dia selalu berada dalam keadaan tidak stabil). Ia meraih tangan Seongje dan menariknya masuk ke dalam rumah.
Seongje dan Baekjin sudah masuk ke dalam ruangan si dukun. Lantainya coklat, ada patung buda besar di panajng di atas meja di hadapan mereka, sedangkan berbagai ornamen perdukunan di pajang di sekeliling mereka.
Seorang gadis muda mengenakan hanbok putih,,bertudung kepala putih transparan, dengan rambut hitam tergerai panjang, dan mengenakan masker putih duduk di hadapan mereka.
Gadis itu menatap Seongje lekat, seperti mengintai, sedang yang ditatap asing memandang ke kiri, kanan atas bawah, memperhatikan ruangan dengan saksama.
Baekjin dan Seongje duduk bersila di lantai. Mereka dan sang gadis dipisahkan sebuah meja kotak kecil yang membentang di hadapan mereka.
Baekjin berdehem kecil sebelum akhirnya bicara, “Jadi kita ke sini…”
“Ohoo! yang punya masalah yang harusnya cerita!” si dukun menyela Baekjin.
Seongje langsung menghentikan kegiatan memperhatikan ruangannya. Kepalanya memandang lurus ke depan, tepat ke si gadis.
“Keren juga mbah dukunnya.”
Si gadis langsung melotot ke arah Seongje, “Mbah!!”
“Terus apa dong manggilnya?”
“Peri Cheonji.” ucap si gadis pelan sambil mengibaskan kipasnya.
Seongje menghadeh.
Baekjin mendekatkan kepalanya ke arah telinga Seongje dan berbisik, “Just do as she said!”
“Oke, ibu peri.”
Peri Cheonji kembali melotot, namun sebelum dia sempat mengomel Seongje lebih dulu bicara.
“Ohoo!! Peri Cheonji! Panggil yang bener!! Pantesan kena hukuman, abis bikin marah Dewa Gairah bukanya refleksi diri malah makin kurang ajar! Emang mau terus-terusan hidup dengan yang bukan punya kamu!!” ucapnya kencang sambil memandang sinis Seongje, kemudian pandangannya beralih ke bawah tepat ke selangkangan Seongje.
“ckkckckckkk! Emang enak apa barangnya dituker.” dia berdecak kencang sambil kembali mengalihkan pandangan ke wajah Seongje.
Seongje dan Baekjin terkesiap, tak menyangka bahwa si gadis sudah tau permasalahan mereka. Seongje bahkan sempat menahan napas selama beberapa detik.
“Jadi..” Seongje mencoba bicara, kali ini nada suaranya lemah dan pelan, kepalanya sedikit menunduk dan tangannya terkepal, “Saya mesti gimana Peri Cheonji?”
Baekjin bisa melihat peri Cheonji tersenyum dibalik masker transparannya. puas melihat perubahan sikap Seongje.
“Karena kamu udah punya yang baru ya harus dipake dong.” ucapnya dengan nada riang, seakan itu adalah hal paling mudah dan sederhana di dunia ini, matanya mengernyit jail, sedang pandanganannya sesekali turun ke bagian bawah tubuh Seongje.
“Dipake?” tanya Seongje, namun nada suaranya nyaring, Baekjin bisa merasakan ketakutan dan kegelisahan dalam nada itu.
Seongje menelan ludahnya, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Peri Cheonji mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah depan, “Emm, dipake, selayaknya bagaimana barang itu biasa digunakan.”
Kemudian, ia melirik ke arah Baekjin, “Berdua!” ucapnya riang pada Baekjin, kali ini senyumannya bahkan ikut terpancar di matanya.
Baekjin Memandang peri Cheonji tanpa berkedip, kemudian menunjuk dirinya, ragu akan maksud si gadis.
Peri Cheonji mengangguk, gerakannya cepat, tegas dan pasti, “Emm, selayaknya gembok dan kunci, berpasangan, berbarengan, berhubungan, menyatu.” sambil tanganya membuat gerakan huruf O yang lalu dimasuki jari telunjuknya.
Seongje terbatuk, keras, kencang, suaranya memenuhi ruangan. Sedangkan Baekjin hanya memandang lekat gadis dengan senyum licik di hadapannya.
Sepertinya dia sudah salah langkah.
***
Atau mungkin tidak?
Seongje keluar dari kamar mandi, mengenakan celana boxer pendek dan kaos hitam bergambar harimau kesukaannya. Rambut basahnya dibalut handuk, dan sesekali digosok dengan tangannya.
Ia berjalan ke arah sofa dan duduk tepat di samping Baekjin.
Mereka sedang berada di rumah Baekjin saat ini. Keduanya dalam keadaan canggung, tidak bersuara sama sekali, tidak saling menatap, bimbang, bagaimana harus memulai pergulatan kali ini.
“Lo yakin Je?”
Seongje menelan ludah, menarik turun handuk yang ada di kepalanya dan meletakkannya di pangkuannya, menutup kedua tangannya yang gemetar dengan handuk itu.
“Emm, lo sendiri, emang beneran mau?”
Keduanya memandang lurus ke depan, belum berani saling menatap.
“Ya mau ga mau kan.”
“Ya kalo ga mau bilang ga mau! Gua cari yang lain kalo lu ga mau!!” Tanpa sadar suara Seongje meninggi, badannya berbelok ke arah Baekjin.
Baekjin ikut menolehkan kepalanya, balik memandang Seongje, matanya menyipit dan ada pancaran kemarahan di sana. pancaran mata itu membuat Seongje bergidik, ngeri, tapi bukan takut. Tidak, ia tahu ia tak perlu takut pada Baekjin.
“Diem di sini. Gua mandi dulu.” ucapnya tegas yang membuat Seongje seketika mengangguk pasrah.
Baekjin bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Bayangan akan Seongje meminta tolong lelaki lain membuat darahnya mendidih. Ia butuh mendinginkan diri.
Baekjin keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana boxer pendek dan handuk yang disampirkan di kepalanya.
Begitu menginjakan kaki ke ruang tengah dan menutup pintu kamar mandi, Baekjin tak pernah menyangka bahwa hal pertama yang akan dilihatnya adalah vagina Seongje.
Fuck, he think, this is real.
Seongje menyandarkan tubuhnya ke sofa, sudah tak menggunakan celana, hanya kaos yang masih bertengger di tubuhnya. Kedua kakinya terangkat ke atas sofa dan mengangkang lebar memperlihatkan vaginanya yang merekah merah. Jarinya bermain dengan tonjolan kecil di bagian atas lubianya yang Baekjin yakini sebagai klitoris, sedangkan jarinya yang lain membuka labianya, memperlihatkan lubang vaginanya yang berkedut.
Baekjin membeku di tempat.
“Jin… Baekjin… ini gimana… enak… jarinya ga bisa berenti…. Jinie… tolongin….”
Seongje meracau, kepalanya terkulai lemas di sofa, matanya sayu menatap Baekjin penuh pengharapan, bibirnya tak henti mengeluarkan desahan, sedang jarinya terus bergerak, berputar pelan di atas klitorisnya sendiri.
“Eunghhh… ahhh… ahhhh….”
Tubuh Seongje bergetar, jarinya berhenti bergerak, kedua pahanya terangkat dan mengangkang semakin lebar, matanya menutup rapat, bibirnya terbuka membentuk huruf O besar, mengeluarkan lenguhan panjang, sedang cairan bening keluar dari lubang senggamanya.
Keadaan Seongje yang sangat kacau, yang berantakan, yang seharusnya terlihat lusuh, ternyata sama sekali tidak membuat Baekjin jijik. Tidak, sebaliknya, pemandangan itu membuat Baekjin terangsang, darah mengalir cepat di dalam tubuhnya, menuju satu titik yang sama, membuatnya sesak.
Seongje terlihat sangat cantik dan Baekjin merasa itu bisa membuatnya gila.
Kewarasan Baekjin hilang, benang terakhir yang mempertahankan rasionalitasnya terputus, pertahanannya runtuh.
Baekjin bergerak cepat, berjalan ke arah Seongje. Begitu sudah dekat, ia menarik kedua tangan Seongje dengan satu tangan dan menahannya di atas kepala Seongje. Kepalanya berada tepat di atas kepala Seongje, memandang lekat lelaki itu.
Mata Seongje terlihat kosong, gelap, bibirnya basah, saliva menjalar di sekitar bibinya, kacamatanya terpasang dengan berantakan, dan napasnya berat, berhembus satu persatu.
“Do not regret this.” ucap Baekjin, tegas, bukan permintaan tapi perintah.
Pancaran gairah memancar di mata Seongje, seperti api yang menari, terang, menyala, penuh semangat.
Tanpa ragu lagi, Baekjin mendekatkan wajahnya ke arah Seongje, melahap bibir lelaki itu.
Dengan khidmat, Baekjin melumat, menghisap, menjilat bibir merah Seongje yang sudah basah. Lidahnya mengetuk bibir Seongje, menelusup masuk ke dalamnya, bermain-main dengan lidah Seongje, menjamah seluruh bagian dalam mulut Seongje. Setiap incinya di jelajahi dengan pelan, lembut dan penuh penghayatan.
Sedang tanganya yang bebas menjalar, dari rahang Seongje turun ke dadanya. Di tengah dada itu ia menemukan tonjolan kecil. Dari luar kaosnya, Baekjin mencubit tonjolan itu, memlintir pelan, lalu memilinya, diakhiri dengan menggaruk kukunya ke ujung tonjolan itu.
Gerakan itu membuat tubuh Seongje bergerak gelisah, dadanya terangkat, kakinya semakin lebar mengangkang, desahan lemah keluar dari mulutnya yang langsung ditelan Baekjin. Gatal, nikmat dan geli menjadi satu, menggelitik perut Seongje membuat tubuhnya tak bisa diam.
Baekjin melepaskan bibir Seongje, menyudahi ciuman mereka, mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Seongje. Pipi yang merona merah, bibir yang bengkak dan basah, serta mata yang sudah tak lagi fokus. Seongje seperti kehilangan akal sehatnya.
“Jin… gatel…. gatell… garukin….”
Fuck, suara serak Seongje membuat celana Baekjin terasa semakin sempit.
“Apanya yang gatel?” tanya Baekjin sambil masih memainkan puting Seongje.
“Ahh… eunghh… itu…. itu…..”
Badan Seongje makin menggeliat. Pinggangnya terangkat seakan mencoba mendekatkan bagian baru tubuhnya itu pada Baekjin.
“Itu apa, cantik?”
Jangan tanya Baekjin dari mana kata cantik itu bisa keluar.
“Ahhh… jangan digarukin… pentilnya… ahhh…”
Baekjin mendekatkan wajahnya ke arah telinga Seongje, menjilat lembut daun telinga lelaki itu.
“Katanya gatel, minta digaruk.” ucapnya tepat di lubang telinga Seongje.
“Bukan yang itu… ahhh… nghh…. jin…. yang bawah!! yang bawah!!”
Pinggang Seongje terangkat makin tinggi, tubuhnya bergetar karena garukan kuku Baekjin di putingnya yang semakin cepat.
“Yang bawah mana? apa? ngomong yang bener dong, cantik.”
Fuck, not that cantik words again.
Ciuman Baekjin berpindah ke pipi Seongje, kemudian turun ke lehernya, menyesap, menjilat dan membuat bekas merah di sana.
“Ahh… nghhh.”
Tangan Seongje yang ada dalam genggaman Baekjin bergerak gelisah, mencoba lepas, namun genggaman Baekjin terlalu kuat, tak memberikan celah bagi Seongje untuk bisa bebas.
“Me… ahh.. memeknya… jin… gatel…. memeknya… ahh… gatell…”
Kata itu, pengakuan itu, membuat Baekjin semakin gila. Ia menjauhkan tubuhnya dari Seongje, melepas genggaman pada tangan Seongje, kemudian dengan kasar, menarik lepas kaos Seongje. Membuat lelaki itu telanjang bulat di hadapannya, lemah, pasrah, tak berpelindung.
Baekjin kembali menerkam bibir Seongje, melumat dengan lahap bibir yang sudah bengkak itu. Tangannya turun ke bagian yang sedari tadi meminta untuk di sentuh.
Jari-jarinya langsung basah. Ia mengitari lubang senggama Seongje yang sudah becek. Cairan bening itu diraupnya, disebarkan ke seluruh bagian vagina Seongje, dari bawah hingga ke atas, menyentuh klitoris yang sudah menonjol.
Tubuh Seongje bergetar, ciuman mereka terlepas, kedua tangan Seongje yang sudah merengkuh kepala Baekjin mulai menjambak rambut lelaki itu. Desahan ringan melantun dari bibir bengkak Seongje.
Jari Baekjin terus bermain dengan benjolan kecil itu, mengambil basah cairan dari lubang Seongje kemudian menariknya sampai ke ujung klitoris, diputar jarinya, ditekan sesekali, kemudian digaruk pelan dengan ujung jari telunjuknya.
“ahhhh…. nghhh… Baekjin…. fuck!”
Tubuh Seongje menggeliat, pinggangnya terangkat, pahanya menutup, mengapit tangan Baekjin supaya tak bisa lepas dari vaginanya.
Baekjin mengangkat sedikit kepalanya, membuat tangan Seongje terlepas dari sana lalu jatuh terkulai ke sofa.
“Buka pahanya, Je.” ucapnya pelan sambil tetap memainkan klitoris Seongje.
Seongje tak melakukan yang diminta Baekjin. Matanya menutup rapat, bibirnya meringis dan mendesah, tanganya mengepal kuat sofa milik Baekjin, sedang pinggangnya masih terangkat dan paha menutup rapat.
“Buka pahanya, cantik! Biar bisa aku makan memeknya.”
Seongje merasakan tubuhnya kembali bergetar, pipinya terasa panas, dan cairan bening keluar dari lubangnya. Segala sesuatunya terasa tidak nyata dan sangat nyata di waktu bersamaan.
Sentuhan lembut Baekjin, suara lembut Baekjin, panggilan lembut Baekjin, segala kelembutan yang belum pernah Seongje rasakan sebelumnya. Semuanya terasa terlalu baru, baik sensasi di dalam perutnya, atau kepalanya yang semakin mengawang.
Seongje membuka mata, dengan sisa tenaganya, ia membuka pahanya, memperlihatkan bagian dirinya yang tidak ada sebelumnya, yang kini membuatnya dimabuk kepayang.
Mata Seongje beralih memandang wajah Baekjin, bibir yang sudah bengkak dan basah itu tersenyum. Matanya menyala dipenuhi gairah, rasa lapar yang sudah ada di ujung tanduk.
Baekjin menenggelamkan wajahnya ke selangkangan Seongje. Bibirnya menyentuh labia Seongje. Lidahnya menjulur, menjilati lubang vagina Seongjee, basah, hangat, lembut membuat Seongje mencengkram sofa semakin kuat.
Lidah itu kemudian naik, menuju klitoris seongje, menjilatnya pelan, sebelum kemudian melahapnya, memasukkannya ke dalam mulut dan menghisapnya kuat.
Ruangan itu langsung dipenuhi suara desahan Seongje dan suara becek seruputan Baekjin, pelan, kemudian kuat, kemudian diakhiri dengan jilatan lembut.
Seluruh tubuh Seongje menegang, pinggangnya terangkat, kakinya membuka lebar, pahanya bergetar kuat. Dalam keadaan tegang itu, Baekjin memasukan jarinya ke dalam lubang Seongje. Satu jari telunjuk menembus masuk hingga ke ujung, menggelitik dinding dalam vagina Seongje. Sedang lidah Baekjin masih asik bermain dengan klitoris Seongje, menjilat, menekan, memutar, dan sesekali kembali menghisap.
Kepala Seongje terasa semakin ringan. Rasa geli menggelitik menjalar dari ujung kaki hingga ke seluruh bagian tubuh Seongje. Pingganya bergerak tanpa henti, menyeimbangi gerakan lidha dan jari Baekjin. Tubuhnya menggeliat tak karuan, kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, tanganya mengepal kuat.
“Ahhhh… ahhh…. Baekjin!!! Baekjin!!!”
Jari kedua masuk ke dalam lubang Seongje, hangat menyelimuti jari Baekjin, gerakan jarinya semakin cepat, menekuk, mencari titik rangsangan yang bisa membuat Seongje naik ke langit ke tujuh.
Perut Seongje menegang, kencang, penuh, dan seakan siap meledak.
“Aahhh… Baekjin… mau pipis… mau pipis… stop dulu!!!”
Seongje menggeliat, menggerakan tubuhnya, mencoba mendorong wajah baekjin menjauh dari kakinya. namun, tiap gerakannya berakhir sia-sia. Baekjin bergeming, tak bergerak sedikitpun.
“Jin beneran!!! mau pipis!!! ngak kuat jin!!!”
Baekjin mengangkat wajahnya, bergerak menuju wajah Seongje, kemudian mengecup lembut bibir Seongje.
“Keluarin cantik. Pipisin aja.” ucapnya lembut, sambil kembali mengangkat tubuhnya, memandang lekat pergerakan tanganya di vagina Seongje.
Tiga jarinya kini bersemayam di lubang Seongje, mengobok-ngobok lubang itu tanpa ampun. Sedang, jarinya yang lain bermain dengan klitoris Seongje, menggaruk, menggosok, menekan sambil memutar dengan cepat.
Suara desahan Seongje malantun semakin keras, bercampur dengan suara becek pergerakan jari Baekjin di lubangnya.
Baekjin menikmati remasan dinding vagina Seongje pada jarinya. Menyaksikan dengan saksama bagaimana vagina itu berkedut, lalu pelan-pelan cairan bening keluar dari sana, muncrat ke segala arah, membasahi tubuh dan tangan Baekjin, bersamaan dengan suara desahan Seongje yang melengking.
Baekjin tersenyum puas, namun tak menghentikan gerakan jarinya. Ia menikmati basah dan hangat cairan Seongje.
“Wow, gila memek lu banjir, je.”
Seluruh tubuh Seongje bergetar, paha dan kakinya terangkat, sensasi menggelitik dalam perutnya tak kunjung berhenti.
“Ahhh… Baekjin udah… udah dulu… please… please…”
Suara Serak Seongje berhasil membuat Baekjin menghentikan gerakannya. Ia mengeluarkan jarinya, membiarkan lubang Seongje menyempit dan berkedut. Tangannya berhenti menggaruk klitoris Seongje yang sudah merah.
Tubuh Seongje yang tegang mulai lemas. Kakinya jatuh, lalu turun ke lantai, kepalanya terkulai lemas ke samping di sandaran sofa.
Baekjin merasakan penisnya berkedut melihat keadaan Seongje.
“Je… sekali lagi ya?”
Kepala Seongje bergerak, menoleh ke depan, memandang Baekjin, “A… apanya yang lagi?”
Baekjin naik ke sofa, duduk di samping Seongje, “Gua bikin pipis sekali lagi ya.”
Seongje belum sempat menjawab, Baekjin sudah bergerak. Ia mengangkat tubuh Seongje, membawa lelaki itu duduk di pangkuannya.
Seongje merasakan sesuatu menonjol menyentuh pantatnya. Saat itulah, Baekjin membuka lebar kakinya hingga sesuatu itu kini berada di antara pahanya, menyodok tepat ke arah lubangnya.
“Bae… Baekjin…”
Baekjin memeluk erat dada Seongje dengan satu tanganya, tangan itu menjelajah di sekitar dada Seongje, sesekali meremas atau memilin putingnya. Tanganya yang lain sudah turun ke bagian bawah, berada tepat di atas klitoris seongje.
“Kontol gua udah ga sabar pengen masuk ke dalam memek lu, je.” ucap Baekjin dengan nada suara yang berat dan pelan, tepat di telinga Seongje.
Seongje bergidik, bulu kuduknya merinding, dan lubangnya berkedut.
“Tapi gua tahan, soalnya gua pengen liat lo keenakan sampe pipis pipis sekali lagi, boleh ya, cantik?”
Kata cantik sialan itu lagi. Dari mana Baekjin belajar mengatakan hal sejorok dan semanis itu secara bersamaan??? dan jika Baekjin memanggilnya seperti itu, bagaimana mungkin seongje menolak.
Seongje mengangguk, “emmm, boleh, boleh Jin, bebas.”
Baekjin langsung bergerak, tonjolan penisnya ia tekankan ke lubang Seongje, bergesekan dengan labianya yang lembut. Sedang tanganya langsung bermain dengan klitoris Seongje, memutar, pelan, lalu menekan kuat, untuk kemudian memutar lagi.
Tanganya yang lain bermain di dada Seongje, mencubit putingnya, memilin putingnya dengan jari telunjuk dan jempol, lalu memutari telunjuknya ke sekitar puting.
Mulut Baekjin juga bergerak seirama tangannya, menciumi leher Seongje, menghisap, meninggalkan bekas merah di mana-mana.
Tubuh Seongje bergeliat tak karuan dalam rengkuhan Baekjin. Tangannya mencengkram erat lengan Baekjin. Desahannya tak pernah berhenti mengisi ruangan.
“Ahhh… Jinn… enakk… terusss… ahhh”
Baekjin tersenyum, berhenti mencium leher Seongje dan menaikan bibirnya ke telinga lelaki itu.
“Enak je?”
“Ehmmm.. enak jin…”
“Katanya ga mau punya memek, kok keenakan, kalo ketagihan gimana?”
Gerakan tangan Baekjin, himpitan penis baekjin, membawa kenikmatan yang tak pernah Seongje bayangkan sebelumnya. Kenikmatan ini membuatnya tak bisa berpikir. Bukan, ia tak mau perpikir, menolak berpikir.
“Ga tau… ahhh.. ga tau…. eunghh…. ga ngerti….”
Gerakan tangan Baekjin semakin cepat. Kenikmatan yang dirasakan Seongje semakin meningkat. Tubuhnya mulai tegang dan perutnya terasa mengencang.
“Ahhhh…. Baekjin…. mau pipis… mau pipis lagii…. ahhhhh”
Baekjin tak menghentikan gerakan tangannya, ia malah menggigit keras daun telinga Seongje.
“Emang itu tujuannya kan? Aku pengen liat kamu keenakan sampe pipis pipis, keluarin cantik.”
Kaki Seongje bergetar, terangkat ke atas, jari-jarinya menekuk, desahanya semakin keras, satu desahan panjang keluar bersamaan dengan cairan yang muncrat dari vagina Seongje. Cairan itu muncrat panjang dan kuat, membasahi lantai rumah Baekjin.
Mata Seongje terpejam, mulutnya terbuka, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“Open your eyes, je. Look how beautiful your pussy is, muncrat kaya aer mancur.”
Kesadaran Seongje perlahan kembali. Lehernya yang terkulai di bahu Baekjin memandang lekat wajah Baekjin yang tersenyum puas.
“Aren’t you enjoying this a little too much?”
Senyum Baekjin tetap terpampang di wajahnya, “Lo yang dari tadi bilang enak enak ya!”
Seongje menelan ludahnya, merasakan keras penis Baekjin yang masih ditekan ke arah vaginanya.
“Masukin.. jin.. cepetan.” Pinta Seongje, suaranya lemah, tidak menuntut tapi memohon.
Gairah kembali memenuhi tubuh Baekjin, “Sure, princess.”
Baekjin mengangkat tubuh Seongje, bridal style, kemudian membwa lelaki itu ke dalam kamarnya.
Baekjin meletakan Seongje di atas kasur, pelan, lembut, seakan Seongje adalah benda berharga yang harus dijaga. Kelembutan lain yang tak disangka akan ia dapatkan dari Baekjin.
Tapi bukanya naik ke atas tubuh Seongje, Baekjin malah berjalan ke arah laci, membukanya dan mengambil sesuatu dari sana.
“Gua pake kondom ya.” ucapnya mantap, melempar kondom itu ke arah kasur lalu melepaskan celana boxernya.
Penis Baekjin terpampang tepat di hadapan Seongje, besar, panjang, kemungkinan lebih besar dari punya Seongje (yang saat ini masih tidak diketahui di mana keberadaannya).
Seongje menelan ludah, membayangkan bagaimana kira-kira rasanya jika benda sebesar itu masuk ke dalam lubangnya.
“Takutnya lo juga jadi punya rahim, nanti kalo hamil repot.” ucap Baekjin sambil merangkak naik ke atas tempat tidur, memposisikan dirinya berlutut di antara kaki Seongje.
Seongje tidak mengerti apakah Baekjin sedang serius atau bercanda. Ia juga tak paham apakah itu bahkan mungkin terjadi. Ia masih menolak berpikir. Saat ini,mata dan pikirannya hanya terpaku pada penis Baekjin yang berkilau karena cairan pre-cum.
“Like what you see, princess?”
Tanpa Seongje sadari, Bakejin sudah membuka sebuah kondom yang langsung dipasang pada penisnya. Lalu, ia menggesekan penisnya ke vagina Seongje, bersentuhan langsung dengan lubang Seongje, menggesek klitoris Seongje, basah terkena carian Seongje.
Hanya sebuah sentuhan biasa, pelan, lembut, tapi mampu membuat seluruh tubuh Seongje terasa melayang.
“Should I be gentle, princess?” Tanya Baekjin sambil terus menggosokan penisnya di antara labia Seongje.
Kenikmatan kembali memenuhi kepala Seongje, tapi itu tak cukup, belum cukup. Ia butuh lebih, ia ingin lebih.
“I’m not fregile!! Just put it in!!!
“So eager.”
Baekjin tersenyum mendengar jawaban Seongje. Ia menghentikan gerakannya dan menempatkan penisnya tepat di depan lubang Seongje. Lalu perlahan, mendorongnya masuk ke dalam. Sulit, baru sedikit bagian kepala penis Baekjin yang masuk, tapi Seongje sudah mengeram, keras, tangannya mencengkram kuat sprei tempat tidur Baekjin, napasnya memburu.
Baekjin menundukan badanya ke arah Seongje, mengelus pelan kepala Seongje, “You said you not fragile.” ucapnya pelan.
Seongje tidak menjawab, napasnya memburu, lubangnya terasa perih dan panas. Air mata menggenang di sudut matanya. Rasa sakit itu seakan membawanya kembali ke permukaan.
Baekjin kembali mendorong penisnya, sampai setengah bagian dan Seongje langsung mengerang kesakitan.
“Take a deep breath, je.”
Baekjin berhenti mendorong, satu tangannya mulai memainkan klitoris Seongje, mencoba memberikan rangsangan tambahan. Wajahnya turun untuk melahap bibir Seongje, mengulum, pelan dan dalam.
Kenikmatan kembali menyelimuti tubuh Seongje, napasnya melambat, meresapi lembut sentuhan Baekjin. Lubangnya kembali dibanjiri cairan yang langsung mengenai penis Baekjin.
Baekjin kembali mendorong penisnya dan kali ini, seluruh bagian berhasil masuk ke dalam lubang Seongje,
“Ahhhh…”
Ciuman mereka terlepas, lenguhan Seongje terdengar nyaring dan panjang, seluruh tubuhnya menegang, perutnya terasa penuh.
Baekjin terus menciumi wajah Seongje, pipi, jidat, hidung, sesekali mengenai kacamata Seongje. Ia tidak bergerak dan membiarkan lubang Seongje terbiasa dengan kehadirannya.
Setelah merasa Seongje sudah tenang, Baekjin mulai bergerak. Mengeluarkan penisnya kemudian mendorongnya masuk, pelan, stabil, mencari titik kenikmatan Seongje.
Tangan Baekjin berhenti memainkan klitoris Seongje, tak ingin memberikan terlalu banyak rangsangan. Tangan itu naik ke bagian depan tubuh Seongje, pelvisnya yang bersih dari bulu, perutnya yang rata. hingga dadanya yang lumayan sintal. Telapak tangannya bergerak pelan, menjamah seluruh inci tubuh Seongje. Sementara bibirnya asik menciumi leher Seongje, memakan jakunya, menjilati tulang selangkanya, menggigit leher dan pundaknya. Tidak ada satupun bagian tubuh Seongje yang tidak terjamah oleh Baekjin.
“Ahhh… nghhh…. Baekjin…. enak…. terus… cepetinnn.” pinta Seongje.
Penjarahan Baekjin di tubuh Seongje sudah tak lagi membawa rasa sakit. Panas dan perih itu hilang, tak berbekas sedikitpun. Gerakan penis Baekjin yang menggesek dinding vagina Seongje kini membawa kenikmatan, terutama saat penis Baekjin menyentuh titik terdalam vaginanya.
Kepala Seongje terasa kosong, sentuhan tangan Baekjin dan bibirnya membuat Seongje merasa semakin berada di awang–awang. Seongje hanya bisa mendesah, membuka lebar-lebar kakinya sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Baekjin, tak ingin Baekjin menjauh, tak ingin penyatuan mereka terlepas.
Desahan dan permintaan Seongje membuat Baekjin makin bergairah. Ia percepat gerakannya, didekapnya erat tubuh Seongje. Dihentakan dengan kuat penisnya ke dalam lubang Seongje, cepat, kuat dan penuh semangat. Seakan membuat desahaan Seongje menjadi lebih keras adalah tujuan hidup paling utamanya.
dan benar saja, Suara desahan Seongje melantun semakin keras, diimbangi suara hentakan pinggang mereka. Suara yang nyaring dan basah bergema di dalam kamar.
Kedua insan itu tenggelam dalam kenikmatan, mencengkram kuat tubuh masing-masing. Seongje mencakar punggung Baekjin, sedangkan Baekjin meremas rambut Seongje. Napas mereka sama-sama memburu, embusan yang terasa hangat mengenai kulit masing-masing.
Hentakan pinggang Baekjin semakin cepat, menghentak dalam dinding rahim Seongje, menyentuh sudut yang belum pernah terjamah.
“Ahhh… Baekjin.. Baekjin… enak banget… ahh… fuck!!! Jin!!!….”
Baekjin hanya menggeram di leher Seongje, memperdalam tusukannya, mempercepat gerakannya, menikmati bagaimana dinding vagina Seongje meremas penisnya.
Tanpa disadari, Seongje sudah menangis, keras, hampir meraung tanpa henti. Tubuhnya melengkung, tanganya masih mencengkram kuat tubuh Baekjin, kepalanya terlempar ke belakang, kakinya terangkat ke atas dan bergetar hebat.
“Ahhh… Baekjin… mau keluar… mau keluar!!!”
Baekjin memeluk erat kepala Seongje, membenamkan wajahnya di leher Seongje, memberikan satu hentakan dalam ke vagina Seongje, merasakan cairan hangat pelepasan Seongje menyentuh penisnya.
Seluruh tubuh Seongje bergetar, tangannya berpegangan kuat pada pundak Baekjin. Dadanya merasakan hangat detak jantung Baekjin. kakinya melingkar kuat ke pinggang Baekjin, nafasnya memburu dan pikirannya entah ada di mana.
Perlahan ketegangan itu hilang dari tubuh Seongje. Tubuh itu melemas, kaki dan tangannya melepas kungkungan mereka pada tubuh Baekjin dan jatuh terkulai ke kasur.
Mereka masih menyatu, masih terhubung, masih bisa merasakan hangat tubuh masing-masing.
“Je, gua belom selesai.”
Seongje merasakan penis Baekjin berkedut di dalam vaginanya. Penis yang tadinya diam itu kembali bergerak, tidak memulai dengan pelan, tapi langsung mengambil tempo cepat.
Tubuh Seongje yang masih sensitif langsung merasakan rangsangan itu, darah kembali mengalir cepat, pikirannya kembali kosong, desahan kembali keluar dari bibir merahnya.
Tiba-tiba saja, Baekjin membalik tubuh Seongje, mengangkat pantat Seongje dan kembali menghujamkan penisnya ke dalam vagina Seongje. Kedua paha Seongje dibuka lebar, tangan Baekjin menahan pinggang Seongje supaya tetap di atas sementara kepla dan pundak Seongje sudah terkulai di kasur.
Seongje langsung meraih bantal di hadapannya, memeluknya erat, mencengkramnya kuat, menenggelamkan wajahnya di sana, namun Baekjin malah menarik kepalanya membuat wajahnya terangkat dan desahannya kembali menggema di dalam kamar.
“Jangan ditahan suaranya, cantik.”
“Ahhhh… baekjin… ahh…. bentar dulu… bentar…”
Seongje bergumam dalam desahanya, tangannya diangkat ke belakang, mencoba mendorong mundur tubuh Baekjin. Tubuhnya masih sangat sensitif, nikmat, nikmat, terlalu nikmat.
“Dikit lagi, je, tahan dikit lagi.”
Baekjin bergerak semakin cepat, tak karuan, tak bisa ditahan sedikit lagi ia akan sampai. Tangannya bergerak ke arah tubuh bagian depan Seongje, mencari klitoris Seongje, kemudian mempermainkanya.
Tubuh Seongje langsung bergetar, menegang, sampai kuku-kuku kakinya menekuk dan suara tangisannya semakin kencang.
“Ahhhh… Baekjin!! Jangan!!! Jangan di situ!!! Ahhhhh… NGhhh… nanti pipis… nanti pipis!!!”
Seongje menjadi semakin gila, perutnya terasa kencang, penuh dan bisa meledak kapan saja.
“Gapapa pipis aja cantik, pipisin kontol aku!”
Penis Baekjin berkedut, dan gerakannya semakin tidak karuan, sementara tangannya terus mempermainkan klitoris Seongje.
“Ahhhh.. jangan… nanti kasurnya… kasurnya basah…. Jin!!!”
Baekjin tidak berhenti, tidak menghiraukan kekhawatiran Seongje, gerakannya semakin cepat, semakin lantang, dan dalam satu hentakan kuat, ia tanamkan seluruh penisnya dalam vagina Seongje. Kedua tangannya menarik tubuh Seongje ke belakang hingga dadanya menyentuh punggung Seongje dan bibirnya berada tepat di telinga Seongje.
“Pipisin, sayang.”
Kata sayang itu menghancurkan pertahanan diri Seongje. Keduanya keluar di saat bersamaan, sperma Baekjin yang tertahan kondom dan cairan Seongje yang meluncur deras, keras, dan kencang, membanjiri kasur.
Tubuh Seongje bergetar hebat dan Baekjin memeluknya erat, memperhatikan air yang muncrat dari vagina Seongje, tak peduli dengan nasib kasurnya.
Begitu pancuran itu berhenti, Baekjin mendudukan dirinya di kasur, merasakan tubuh Seongje yang sepenuhnya terkulai ke dalam pelukannya. Ia rebahkan tubuh itu di bagian kasur yang tidak basah. Kemudian, melepaskan kondom dari penisnya, mengikatnya, lalu membuang sembarangan arah.
Baekjin memandang Seongje yang terkulai lemas, nafasnya terlihat sudah teratur, matanya tertutup, dan sudah tak lagi bersuara, hanya sesekali tubuhnya berkedut.
Baekjin menghela napas panjang, memandang hasil kerjanya. Sekarang, Baekjin harus membereskan kekacauan ini bukan.
***
Seongje membuka mata perlahan, tubuhnya menggeliat pelan dan mulutnya menguap. Ia memandang ke sekitar dan setelah beberapa detik, barulah ia menyadari kalau tempat ini bukanlah kamarnya.
Seongje langsung bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasur. Saat itulah ia menyadari bahwa seluruh tubuhnya terasa sakit, khususnya selangkangannya. Setelah berpikir sebentar, barulah Seongje mengingat apa yang sudah ia alami.
Ah, kontolnya hilang berganti dengan memek. Dalam keadaan panik, ia menemui Baekjin. Bersama Baekjin, ia menemui dukun. Dukun itu menyuruhnya menggunakan barang barunya itu bersama Baekjin.
Ah, kemarin ia dan Baekjin bersetubuh dengan dahsyat.
Ah, Baekjin memanggilnya cantik, princess dan bahkan…. sayang.
Pipi Seongje memanas mengingat itu semua. Mengingat bagaimana Baekjin menyentuhnya, bagaimana ia mendesah, menangis bahkan terkencing-kencing karena nikmat.
Seongje merasakan sesuatu mengalir di selangkangannya. Ia langsung membuka selimut dan mendapati bahwa…
Damn, ia masih memiliki memek. Kontolnya masih hilang dan tidak diketahui keberadaanya.
“Na Baekjin brengsek!” Makian keluar begitu saja dari mulut Seongje. Anggaplah ini bukan salah Baekjin, tapi apa peduli Seongje.
“YA NA BAEKJIN!!!”
Pintu kamar terbuka dan kepala Baekjin masuk ke dalam. Tanpa disangka sebuah bantal mendarat tepat di kepalanya.
Baekjin hanya menarik napas panjang, masuk ke dalam kamar dan berdiri di hadapan Seongje yang masih duduk di kasur.
Seongje menatapnya sinis, mata bulat yang dipenuhi kemarahan dan tangan yang sudah menggenggam bantal yang lain, yang siap dilemparkan tepat ke muka Baekjin.
“Yaaa!!! Lu udah ngentotin gua ya!! Tapi kenapa ini memek masih ada?! HUH?! Kenapa?? Kok bisa??!!! Lu gak bener lu ya!!! Brengsek! Bangsat! Badjingan!!!”
Seongje sudah berdiri, berteriak, berjalan ke arah Baekjin dan memukuli Baekjin, keras, kencang, penuh tenaga. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya masih telanjang bulat.
Baekjin menangkap kedua tangan Seongje, pukulan Seongje sangat kencang dan itu menyakitkan. Namun, sekuat tenaga, ia menahan diri supaya tidak memukul balik. Darahnya sudah memanas, marah karena kenapa jadi disalahkan. Nafasnya berat, berhembus satu-persatu. Namun kemudian Baekjin menyadari bahwa lelaki di hadapanya sedang menangis.
Kemarahan Baekjin hilang, berganti dengan rasa simpati. Ditariknya tubuh Seongje dan dipeluknya erat. Satu tanganya mengusap punggung Seongje, sedangkan tangannya yang lain mengusap kepala Seongje.
“It’s okay!! It’ll be back! It’s okay, Je. I got you.” ucapnya pelan, berharap Seongje akan mendengarkannya.
Seongje balas memeluk Baekjin, menyembunyikan wajahnya di dada Baekjin, meremas kuat kaos Baekjin, menangis tanpa suara dalam dekapan baekjin.
“It’s okay, kita balik lagi ke dukun. Kita tanya dia. Kita cari cara lain.”
Seongje mengangguk pelan, mendekap Baekjin lebih erat. Untuk pertama kalinya, ia berdoa, memohon kepada apapun itu. Semoga ini semua berakhir.
***
Seongje mendorong keras pintu ruangan hingga terbuka lebar.
“Yaaa dukun gadungan!!” ucapnya lantang sambil berjalan masuk ke dalam ruangan, tentu dengan Baekjin mengikuti tepat dibelakangnya.
Gadis dukun itu duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Kali ini, ia tidak menggunakan masker. Ia memegang sebuah kipas putih dan mengibaskannya pelan. Matanya menatap tajam pada Seongje. Tatapan itu menusuk, membuat Seongje bergidik.
Seketika amarah dan keberaniannya hilang bersamaan. Ia mengalihkan pandangannya dari si gadis, duduk bersimpuh di hadapannya dan berdehem pelan.
“Peri Cheonji maksudnya.”
Baekjin duduk di samping Seongje. Pandangan matanya tajam, penuh perhitungan, tapi ia tak mengatakan apapun, hanya menunggu adanya sedikit pejelasan.
“Kenapa? masih belom balik barangnya?” Tanya Peri Cheonji, pandangan matanya tak lagi memusuhi, namun suaranya tegas, tak menunjukan sedikitpun ketakutan.
“Belom?? Gimana si peri?? katanya bakal balik, tapi kok gak balik?? padahal kita udah…”
Seongje tak mampu menyelesaikan perkataannya dan hanya menghembuskan napas panjang.
Peri Cheonji, menutup kipasnya hingga bunyi kencang ‘tuk’ memenuhi ruangan, “Kalian gak bener kali ngelakuinnya.” ucapnya tanpa beban.
“Giaman gak bener si? Kan tinggal masuk, terus udah, harus gimana lagi emang? Harus sambil kayang gitu!” ucap Seongje jengkel.
Mata peri Cheonji menyipit, kali ini bukan karena marah, tapi tersirat kejahilan di sana, “Yakin udah? Udah sampai menyatu? terhubung? sampai ke pembuahan?”
“Pembuahan apaan si?” ucap Seongje jengkel.
Namun, perkataan itu membuat Baekjin menelan ludah, mulutnya terkatup rapat, menyadari apa kesalahannya.
“Kan, belom bener kan kalian ngelakuinnya?” ucapnya sambil tersenyum jahil ke arah Baekjin.
Seongje langsung beralih menatap Baekjin.
Lalu peri Cheonji.
lalu kembali ke Baekjin.
Wajah Baekjin pucat, tangannya tersilang di dadanya, matanya menatap entah ke mana, dan mulutnya tertutup rapat. Barulah Seongje menyadari apa maksud pembuahan ini.
“Ya Na Baekjin!!! Ngapain juga lu ngide pake kondom, Bangsat!!!”
Ucap Seongje yang tau-tau sudah mencengkram kerah baju Baekjin.
Baekjin berdehem pelan, sambil mencoba menurunkan tangan Seongje, tanpa benar-benar berusaha mengerahkan tenagaanya.
“Sorry, sorry, gua juga ga tau kan. Peri Cheonji juga gak bilang kalo harus sampe pembuahan.”
Peri Cheonji kembali membuka kipasnya dan mengibaskannya pelan, “kan udah dibilang, menyatu, terhubung, ya itu artinya sampe pembuahan, gimana sih, masa gitu aja ga paham!” ucapnya.
“Udah, udah sana pulang kalian, lakuin yang bener, sampe pembuahan.” tambahnya
Baekjin akhirnya menarik turun tangan Seongje, membiarkan lelaki itu duduk lemas di sampingnya. Lalu ia berdiri, menarik tangan Seongje supaya ikut berdiri dengannya. Ia memberi hormat pada Peri Cheonji lalu mulai berjalan sambil menuntun Seongje supaya ikut berjalan bersamanya. Mereka punya pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan.
***
Baekjin membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah sambil masih menarik tangan Seongje. Begitu pintu tertutup, ia berbalik, meraih wajah Seongje dan langsung mempertemukan bibir mereka. Satu tangannya mencengkram leher Seongje, sedangkan tangan lainya turun ke pinggang Seongje.
Baekjin menarik tubuh Seongje, menghapus semua jarak di antara mereka, menahan tubuh itu supaya tidak bisa lari ke mana-mana, sambil melumat rakus bibir Seongje.
Keinginan untuk menyentuh Seongje, menguasai Seongje, serta memporak-porandakan kewarasan Seongje kembali muncul tanpa bisa dibendung. Bayangan akan Seongje yang terbaring tak berdaya di bawah kukunganya, desahan Seongje, wajah pasrah, mmata yang dipenuhi gairah dan kenikmatan tak bisa hilang dari benak Baekjin.
Baekjin hampir tenggelam dalam bayangannya. Namun, Seongje mulai memukul pundaknya, sambil mencoba menarik kepalanya mundur dari Baekjin.
“Baekjin bentar!!” teriak Seongje tepat setelah tautan bibir mereka terputus.
Baekjin mendecak kesal, “Apasih?? nunggu apa lagi?” ucapnya sambil tetap menarik tubuh Seongje supaya tak bisa lepas darinya.
“Laper, dari kemaren belom makan!!”
Wajah memelas Seongje, bibirnya yang mengerucut, pipinya yang membulat, membuat Baekjin tertawa kecil.
Tanpa aba-aba, Baekjin mengangkat tubuh Seongje di atas pundaknya.
“Baekjin!! anjing lu, gua mau dibawa ke mana sat!!! dibilang laper!!! kasih makan dulu minimal badjingan!!!!! Yaaa laki mesum!!! jangan cuman mau ngentotin anak orang doang tapi gak dikasih makan bangsat!!!” Seongje berteriak sambil mencoba menendang-nendang tubuh Baekjin dan terus menerus memakinya.
Seongje baru berhenti memaki Baekjin saat baekjin mendudukannya di bangku meja meja makan.
“Diem sini, gua bikinin makanan.” hanya itu yang diucapkan lelaki tinggi itu sebelum pergi ke kulkas untuk memeriksa bahan makanan apa yang ia miliki.
Wajah Seongje memerah, nafasnya masih memburu, sisa-sisa adrenalin masih mengalir di tubuhnya. Sekarang ia merasa malu karena ternyata Baekjin hanya membawanya ke meja makan.
“Bilang dong dari tadi kalo mau dikasih makan!” gumam Seongje masih dengan wajah yang merah.
Baekjin tidak menggubrisnya. Ia menuju kompor, mulai memasak bahan-bahan yang ia miliki.
Sementara itu, Seongje menunggu dengan tidak sabar, ingin segera mencicipi masakan bikinan Baekjin.
***
Seongje selesai menyantap makanannya, nasi goreng lengkap dengan sayuran telur dan bakso. Perutnya kini kenyang dan tak lagi meronta-ronta minta diisi.
Baekjin mengambil piring kosong di hadapan Seongje, “Mandi gih,” ucapnya datar.
Seongje melirik Baekjin, “Tadi aja lu buru-buru banget, sekarang nyuruh mandi dulu! dasar clean freak!”
Baekjin melirik Seongje yang masih duduk di meja makan, “Lu mau mandi sendiri atau mau gua yang mandiin.”
Seongje menelan ludah, menyadari bahwa Baekjin benar-benar akan memandikannya jika ia tidak menuruti lelaki itu. Ia pun langsung bangun dari duduknya.
“Iya iya, ini gua mandi!!” ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi.
“Jangan dikunci pintunya, nanti gua nyusul abis nyuci piring.” ucap Baekjin tepat sebelum Seongje membuka pintu kamar mandi.
Seongje tidak terlalu menggubris perkataan Baekjin. Ia pikir itu hanya bualan. Tapi, ia tetap tidak mengunci pintu kamar mandi, bukan karena permintaan Baekjin, api karena ia malas melakukannya.
Baegitu pintu kamar mandi ia tutup, Seongje menghembuskan napas berat. Sedikit lagi, ia akan mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya, tinggal sedikit lagi.
Baekjin masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Seongje sedang membersihkan diri di bawah guyuran shower. Baekjin membiarkan Seongje, berjalan ke arah wastafel untuk menggosok gigi. Setelah selesai menggosok gigi, ia melucuti seluruh pakaiannya, meletakan pakaian kotor itu di keranjang, lalu berjalan ke arah Seongje.
Setelah telanjang bulat, Baekjin masuk ke dalam shower dan memeluk Seongje dari belakang.
“Anjing!! Gua kira siapa, bangsat!”
Baekjin tak mengindahkan teriakan Seongje, tanganya langsung bergerak, mendekap lebih erat tubuh Seongje, membuat dadanya menyentuh punggung Seongje dan penisnya yang sudah setengah ereksi memukul pantat Seongje. Sedangkan, bibirnya sibuk menciumi pundak Seongje.
Keduanya berada tepat di bawah shower yang masih menyala. Tertimpa air yang langsung mengaliri tubuh mereka, dingin, bercampur dengan hangat gesekan kulit masing-masing.
“Jin, biar selesai dulu si mandinya.” pinta Seongje dengan suara yang mulai terdengar berat.
Baekjin masih tak mengindahkan perkataan Seongje. Tanganya sibuk seakan sedang bermain dengan mainan baru. Satu tanganya meremas kuat dada sintal Seongje sambil memainkan putingnya. Sedangkan tanganya yang lain turun ke perut Seongje, terus hingga sampai ke area hangat di tengah tubuh Seongje.
Tangan itu sampai di labia Seongje, membukanya pelan lalu membasahi jarinya dengan cairan kental yang keluar dari lubang senggama Seongje. Jari itu kemudian dibawa naik ke klitoris Seongje, memutar pelan sambil sesekali menekan.
Tubuh Seongje langsung bergetar. Desahan secara otomatis keluar dari mulutnya. Tangan Seongje terulur ke arah tembok, berusaha menahan tubuhnya supaya tidak jatuh.
“Ahhhh.. jin… dingin…matiin dulu krannya.” pinta Seongje.
Baekjin masih enggan menjawab, bibirnya sibuk menciumi, menggigit, menjilati punggung Seongje, mengisi punggung putih itu degan bekas merah dan bekas gigitan. Tapi, tangannya yang bermain dengan dada Seongje bergerak, terulur ke depan dan mematikan keran.
Kemudian, dalam satu gerakan cepat, Baekjin membalik tubuh Seongje, menghantam punggung Seongje ke dinding dan menahannya di sana.
Baekjin kembali menghujani tubuh Seongje dengan ciuman, mulai dari matanya, tahi lalat di bawah matanya, pipinya, bibirnya, hingga turun ke leher jenjangnya. Sementara tanganya mencengkram kuat pinggang Seongje, menahan pinggang ramping itu sambil menempelkan pinggangnya sendiri ke sana.
Pinggang yang berhimpitan itu membuat penisnya menekan kuat vagina Seongje. Penis itu terhimpit di antara kedua labia Seongje dan menekan kuat klitoris Seongje, sesekali bergesekan, membuat tubuh Seongje menggeliat tak karuan.
“Ahhh… eunghhh… jin…”
Sangatlah lucu, bagaimana Baekjin sudah mendengar desahan Seongje sepanjang malam, sudah mendengar bagaimana Seongje memanggill namanya dengan suara parau sepanjang pergulatan mereka, tapi ia tak pernah merasa bosan atau muak mendengar suara itu.
Baekjin terus menggesekan penisnya yang sudah menegang sempurna di antara vagina Seongje. Sedangkan, bibirnya tetap asik melahap tubuh Seongje. Bibir itu sudah sampai di tulang selangka Seongje dan saat ini turun lebih jauh, ke dada Seongje, dan dengan cepat melahap puting Seongje.
“Ahhhh… Baekjin!!”
Jilatan lidah Baekjin di putingnya membuat tubuh Seongje bergetar. Kontak antara penis dan vagina mereka terputus, tapi kenikmatan masih memenuhi tubuh Seongje.
Lidah Baekjin menari dengan lihai di putingnya, bergerak memutar pelan, lalu menjilat cepat, sampai dihisap kuat. Seongje langsung memeluk erat kepala Baekji. Ia menyampaikan rasa frustasinya dengan menjambak rambut Baekjin.
Setiap jilatan lidah Baekjin menghasilkan tumpahan gelenjar bening keluar dari vagina Seongje, mengalir deras tanpa bisa dibendung.
Baekjin berpindah ke puting satunya, memberikan perlakuan yang sama persis, menikmati tiap inci dari puting Seongje dengan lidahnya, menghisap dengan lahap seakan puting itu adalah satu-satunya sumber makanan yang ia punya.
“Ahhh…. fuck… Baekjin… jangan diisep terus pentilnya… geli… ahhh…”
Seongje hanya bisa menjambak rambut Baekjin, menekan punggungnya lebih kuat ke arah tembok, dan terus mendesahkan nama Baekjin. Setiap gerakan Baekjin membuat lubangnya semakin berkedut dan klitorisnya terasa gatal.
Seakan memahami perasaan Seongje, satu tangan Baekjin kembali masuk ke vagina Seongje, membelah labianya kemudian mengobok-obok lubangnya, membuat jarinya basah dengan cairan Seongje. Dengan mudah, jari itu masuk ke dalam lubang Seongje, merogoh ke dalam sambil menggaruk dinding vagina Seongje.
“Ahhh…. ahhhh…. Baekjin!!!”
Desahan Seongje bergema dengan lantang di kamar mandi, kaget dengan gerakan Baekjin yang tiba-tiba. Tangannya memeluk erat tubuh Baekjin, menjadikan tubuh itu sebagai pegangan. kakinya bergetar hebat dan cairan bening terus keluar dari lubangnya.
Baekjin tak berhenti, malah memasukan satu jari lagi ke dalam lubang itu, bergerak dengan pelan dan lembut namun tepat menyentuh titik paling sensitif.
Serangan jari dan lidah Baekjin di tubuhnya membuat Seongje hampir gila. Kenikmatan yang terus menjalar membuat kepalanya hampir kosong. Namun, ini belum cukup, Seongje ingin lebih, Seongje butuh lebih.
“Ahhh… Jangan di sini… jin… di kasur aja, udah ga kuat… nghhh… pengen dientot pake kontol jangan pake jari….. jin..” ucap Seongje, susah payah, di antara desahannya.
Perkataan Seongje membuat tubuh Baekjin yang sudah panas menjadi semakin membara. Ia masih ingin menikmati tubuh Seongje, pelan-pelan, menjamah seluruh bagian tubuh itu tanpa meninggalkan sedikitpun celah. Tapi, jika Seongje memohon seperti itu, bagaimana ia bisa menahan diri?
“fuck you geum Seongje!” ucap Baekjin akhirnya melepaskan mulutnya dari puting Seongje dan mengangkat wajahnya sehingga kembali setara dengan wajah Seongje, sambil tanganya mempercepat gerakan di dalam vagina Seongje, menggaruk dindingnya tanpa ampun.
“Yesss! aahhhh.. fuck me!! Jin-ah.. nghhh…. fuck me!!” Seongje berteriak di tengah desahannya, semangat dan hasrat memenuhi tubuhnya, menunggu untuk dipuaskan.
Tapi bukanya memberi kepuasan itu, Baekjin malah memperlambat gerakan tanganya, mulutnya kembali sibuk menciumi setiap bagian wajah Seongje, membuat Seongje menutup mata, menikmati sentuhan lembut bibir Baekjin.
“Tahan ya je, gua masih pengen nyemilin memek lu. Gua makan sampe lu keenakan terus pipis pipis lagi, boleh ya cantik..” Baekjin berucap dengan suara datarnya, dalam dan tegas.
“Jangan panggil cantik!!” Seongje berteriak tanpa sadar, tanpa sempat berpikir panjang.
Baekjin berhenti menciumi wajah Seongje, mengangkat wajahnya sedikit supaya bisa melihat wajah Seongje, “Kenapa ga boleh, kan emang cantik, liat tuh ada memeknya, cantik banget!!” ucapnya sambil mengelus kuat dinding vagina Seongje.
“Eunghh.. ahhh… na.. nanti kalo ga ada memeknya jadi ga cantik?” ujar Seongje dengan muka memelasnya, memandang Baekjin dengan mata sayu, seolah kehilangan pengakuan Baekjin adalah hal paling menyakitkan di dunia.
Fuck! Baekjin is going to be absolutely mad.
Baekjin tersenyum kecil, kemudian kembali menciumi wajah Seongje, “Tetep cantik! gak bakal ilang cantiknya! tetep yang paling cantik.”
Desahan Seongje menjadi semakin lantang, seakan menunjukan kenikmatan, kepuasan akan jawaban Baekjin.
Baekjin melumat lembut bibir Seongje, kemudian melepaskannya, memandang lekat wajah Seongje, “Boleh ya cantik, aku pake sesuka aku, semau aku?” tanyanya sambil menekan jarinya ke titik sensitif Seongje.
“Ahhhh… pake… nghhh… pake sesuka kamu jin! ahhh…”
Baekjin langsung berlutut di hadapan Seongje, menempelkan wajahnya tepat di depan vagina Seongje. Jarinya bergerak dengan perlahan di dalam lubang Seongje. Ia julurkan lidahnya, menjilat klitoris Seongje, pelan dan intense, sambil menekan kuat gumpalan kecil itu.
“Ahhhh… ahhhh… hah Baekjin!!!” Seongje berteriak, matanya mulai basah, kakinya bergetar hebat, tangannya bertumpu pada bahu Baekjin, mencoba sekuat tenaga supaya tidak roboh.
Baekjin melahap kltoris Seongje, menambahkan satu jari lagi ke dalam lubang Seongje lalu memainkannya, mengorek dinding vagina Seongje dengan perlahan dan menyeluruh. Sementara lidahnya masih bermain dengan klitoris Seongje, berputar di sana sambil terus menekan kuat.
Seluruh tubuh Seongje bergetar hebat, cairan bening terus keluar dari vaginanya. Kenikmatan terus menjalar dari telapak kakinya, menekan dalam dan kuat, perutnya terasa penuh dan kencang, sedikit lagi seluruh cairan itu akan tumpah.
“Ahhhh… Baekjin…. Baekjin stop….. ahhh…. nghhh… mau pipis… mau pipis….”
Seongje berpegangan sekuat tenaga di Pundak Baekjin. menahan kakinya yang sudah seperti jelly, dan cairan yang siap membludak.
Baekjin menjauhkan wajahnya dari vagina Seongje, namun malah menggunakan tangannya yang bebas untuk terus menggosok klitoris Seongje,membuat seluruh ruangan dipenuhi lantunan suara desahan bercampur tangisan Seongje.
Baekjin terus menggerakan jarinya, menstimulasi bagian dalam vagina Seongje sekaligus klitorisnya, sampai pada akhirnya, cairan kenikmatan Seongje tumpah ruah membanjiri tangan dan tubuh Baekjin.
Rasa hangat memenuhi tubuh Baekjin, dibiarkannya carian itu menetes melewati tubuhnya. Meski begitu tanganya tek berhenti, terus mengaduk, terus menggosok.
Raungan Seongje memenuhi telinga Baekjin, kedua tanganya mencengkeram kuat bahu Baekjin, seluruh tubuhnya menegang dan cairannya tak kunjung berhenti keluar.
“Ahhhhh… AHH.. Baekjin stop!!!... ahhhh…. udah!! udah!!!!”
Baekjin menghentikan gerakan tangannya, menarik keluar tangannya dari dalam vagina Seongje. Kemudian, dengan sigap, ia berdiri dan langsung menangkap tubuh Seongje yang jatuh terkulai ke dalam pelukannya.
Baekjin merasakan napas Seongje di pundaknya, serta debaran jantung Seongje di dadanya. Diangkatnya tubuh Seongje dengan kedua tanganya. Seongje seperti bayi koala yang menempel pada induknya. lalu, tanpa mengatakan apa-apa, ia membawa Seongje keluar dari kamar mandi.
Baekjin membaringkan tubuh Seongje di atas kasur.
Seongje memandang Baekjin dengan mata sayunya, “Cepetan jin!” ucapnya sambil membuka pahanya lebar-lebar.
Baekjin tersenyum melihat tingkah Seongje, tapi dia sendiri sudah tidak sabar ingin kembali merasakan liang kenikmatan Seongje.
Baekjin naik ke atas kasur dan memposisikan dirinya di tengah-tengah paha Seongje. Penisnya yang sudah mengeras sempura ia gesekan ke vagina Seongje, sambil tanganya memainkan klitoris Seongje, memancing supaya lebih banyak pelumas alami keluar dari lubang Seongje.
“Nghhhh… jin…. cepetannn…” pinta Seongje, suaranya berat, napasnya mulai memburu, tubuhnya kembali bergetar, tangannya mencengkram kuat sprei, dan desahannya kembali melantun memenuhi kamar.
“Sabar cantik, dikasih pelumas dulu biar gampang masuknya.” ucap Baekjin.
Selesai melumuri penisnya dengan cairan Seongje, Baekjin memposisikan penisnya tepat di depan pintu masuk lubang senggama Seongje. Kemudian, dalam satu hentakan kuat, baekjin memasukan penisnya ke dalam vagina Seongje. Penis itu terbenam, dimakan habis sampai keujung, mempertemukan pinggang dan pantat kedua makhluk itu.
“Ahhhh… fuck!!! Baekjin!!! Nghhhhh!!!”
Teriakan Seongje menggema kuat, sedangkan tubuhnya menegang, kaget dengan benda asing yang baru saja masuk.
Baekjin mendekatkan wajahnya ke arah Seongje, mengulum bibir ranum Seongje, membiarkan lubang Seongje terbiasa dengan kehadirannya.
Tubuh Seongje merespon dengan balik merengkuh tubuh Baekjin, mengalungkan tangannya di pundak Baekjin, membalas ciuman dan lumatan Baekjin. Sementara kakinya melingkar di pinggang Baekjin, mengurung Baekjin supaya tak bisa pergi, tak bisa lepas.
Merasakan bahwa tubuh Seongje sudah mulai rileks, Baekjin pun bergerak, memundurkan pinggulnya untuk kemudian dihentakan kembali. Ia memulai dengan pelan, ringan, menikmati sentuhan lembut dinding vagina Seongje dengan penisnya, sesekali menekan pelvisnya ke klitoris Seongje, menikmati bagaimana tubuh Seongj bergetar tiap kali ia melakukannya.
lumatan bibir mereka terlepas dan desahan langsung mengisi ruangan itu. Seongje memeluk Baekjin lebih erat sedangkan Baekjin menenggelamkan wajahnya di leher Seongje.
“Ahhhh… fuck… jin… enak… mmmhhhmm… mentokin pleasee…”
Dengan senang hati Baekjin menuruti permintaan Seongje, bergerak lebih cepat, menusuk lebih dalam, dan memastikan bahwa ia sampai ke bagian paling jauh dalam vagina Seongje.
Baekjin merasakan tubuh Seongje bergetar dalam pelukannya, desahanya semakin kuat, melantun bagai musik paling syahdu. Namun, bersamaan dengan itu tubuh Baekjin ikut bergetar, remasan dinding vagina Seongje terasa semakin kuat, penisnya dimanjakan, dengan semua gerakan dan gesekan itu. JIka begini terus, Baekjin akan segera sampai.
“Ahhhh… nghhhh….. jin… Baekjin… na baekjin….. cepetin jin… cepetin…. ahhh fuck… enak banget…. jin!!!”
Permintaan Seongje terasa seperti perintah, tak boleh dilewatkan, tak boleh gagal, adalah misi yang harus Baekjin lalui sampai berhasil dengan sempurna.
Baekjin mengangkat tubuhnya, melepaskan diri dari dekapan Seongje, kemudian mendorong kedua paha Seongje, menyatukannya dengan pundak Seongje, membuat tubuh Seongje terlipat dan vaginanya terpampang jelas.
Dalam keadaan itu, Baekjin kembali menumbuk penisnya ke dalam vagina Seongje, gerakanya cepat, terarah, menyentuh langsung dinding serviks Seongje, membuat si empunya kelojotan di bawahnya.
Desahan Seongje menjadi semakin tak karuan, sedangkan Baekjin tenggelam dalam limpahan dopamin. Remasan dinding vagina Seongje bukan main nikmatnya, membuat seluruh tubuhnya terasa ringan, hingga geraknya menjadi semakin cepat dan tak beraturan.
“Ahhhh!!! Baekjin!!!! mau keluar!!! mau keluar!!!”
“Gua juga je, barengin!!”
Gempuran Baekjin menjadi semakin tak karuan, menumbuk, menusuk, dan menuju satu titik genting dalam tubuh Seongje. Sedangkan remasan Seongje terasa semakin kuat, melingkari tiap inci penis Baekjin. Dalam beberapa hentakan kuat keduanya mencapai puncaknya masing-masing.
Cairan Seongje mengalir keluar mengenai penis Baekjin, sedangkan sperma Baekjin memnuhi rahim Seongje, membuat Seongje merasa hangat, sesak dan penuh.
“Aahhhhh…. mhhhh…. penuh… penuh banget!”
Tubuh keduanya masih terasa tegang, menyatu, terhubung, dan tak ingin terlepas. Emosi keduanya masih berada di puncak, menunggu waktu yang tepat untuk turun.
Perlahan-lahan, nafas yang memburu mulai melemah, menjadi pelan. Tubuh yang tegang mulai melemas, jatuh terduduk dan terkulai di atas kasur.
“Baekjin…. peluk….” pinta Seongje dengan suara parau, kedua tangannya terbuka lebar menunggu kedatangan Baekjin.
Tanpa melepaskan penyatuan mereka, Baekjin menurunkan tubuhnya, masuk ke dalam dekapan Seongje dan balsa memeluknya erat, membiarkan kedua tangan Seongje melingkar di pundaknya, merasakan hangat tubuh Seongje, membiarkan debaran jantung mereka menyatu dan mulai menjadi seirama.
Setelah beberapa saat berlalu, kesadaran keduanya kembali. Saat itulah Seongje menyadari bahwa penis Baekjin masih tertanam di dalam vaginanya, dan penis itu, masih sama besarnya.
“Jinn, kok kontol lu masih gede aja?” tanya Seongje sedikit panik.
Baekjin mengangkat tubuhnya supaya bisa memandang wajah Seongje, “Gimana mau kempes kalo diremes terus sama memek lu, je??”
Wajah Seongje memerah merona, matanya langsung menunduk, mencoba kabur dari Baekjin, “Yaudah keluarin!!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Telat.” ucap Baekjin sambil menciumi wajah Seongje, “Lagi ya, cantik?”
Mata Seongje mengerjap pelan, mencoba mencerna permintaan Baekjin, vaginanya berkedut, meremas kuat penis Baekjin, membuat Baekjin mendesah pelan. Desahan yang meningkatkan kembali gairah Seongje.
“L…lagi!! lagi jin! Mau lagi!!!” pinta Seongje, suaranya serak, namun lantang dan pasti.
Baekjin tersenyum. Lelaki itu mulai menggerakan pinggangnya pelan, sangat pelan, sampai terasa seperti menyiksa Seongje.
“J… jin… bentar… mau ganti posisi.” Seongje menepuk pelan bahu Baekjin, “pengen di atas, Jin! Pengen di atas!!”
Baekjin mencium lembut bibir Seongje, lalu melepaskan tautan mereka.
“As you wish, princess!” ucapnya, kemudian dalam satu gerakan, ia membalik tubuh mereka.
Punggung Baekjin merasakan empuk kasurnya, sedangkan di atas tubuhnya ada Seongje yang sekarang sudah dalam posisi duduk.
“Ahhh… jin… dalem banget… eunghhh….”
Tubuh Seongje yang sudah lemas kembali menegang, darahnya mengalir deras, sementara perutnya masih terasa penuh. Penis Baekjin menyentuh dinding serviksnya membuat tubuhnya kembali bergetar hebat. Tangannya bertumpu pada perut Baekjin, merasakan keras otot perut Baekjin.
Mata Baekjin berbinar cerah, memandang tubuh Seongje yang terpajang di hadapannya Perutnya yang rata, dadanya yang sintal, putingnya yang mencuat seakan minta dimainkan. Lebih dari itu, wajah Seongje yang memerah, rambutnya yang berantakan, tubuhnya yang dipenuhi keringat, bekas air mata dan air liur di wajahnya. Pemandangan itu membuat tubuh Baekjin terasa semakin panas.
Seongje bergerak pelan, menaikan pinggangnya kemudian turun. Gerakanya berantakan, pelan dan tidak pasti, namun tiap pergerakan itu membuat Baekjin merasa semakin hilang akal.
Wajah Seongje yang sedang dipenuhi kenikmatan berada tepat di hadapannya, klitorisnya terlihat mencuat di antara tumpukan vagina dan penisnya. Setiap kali turun, tubuh itu bergetar hebat, dan wajah Seongje yang sedang mendesah sambil berusaha menahan tangis, terlihat lebih cantik dari semua jenis keindahan yang pernah Baekjin liat.
Baekjin mengulurkan tanganya, meraih wajah Seongje, menyampirkan rambut Seongje ke telinganya. Mata mereka bertemu, mata yang memelas seakan memohon pada Baekjin untuk mengambil alih, untuk memberinya segala apa yang dimiliki.
“Fuck, Geum Seongje, gimana gua bisa tahan kalo lunya begitu!”
Seongje masih berusaha bergerak, menikmati sendiri tiap pergerakannya itu. Ia tak mampu mencerna maksud perkataan Baekjin.
“Ahhhh… gitu… gimana… nghhh….”
“Gua bantuin ya.” hanya itu yang Baekjin katakan sebelum kedua tangannya meraih pinggang Seongje, menahannya kuat kemudian menghentakan penisnya ke dalam vagina Seongje.
Baekjin tidak berhenti sampai di sana, ia terus menumbuk vagina Seongje, cepat, dalam dan tanpa ampun, menikmati bagaimana liang surgawi itu meremas kuat penisnya.
“Fuck! Geum Seongje!! nikmat banget memek lu anjeng!!!”
tumbukan itu membuat tubuh Seongje ikut bergoyang di atas tubuh Baekjin. Tanganaya sekuat tenaga menahan diri supaya tidak jatuh, sedangkan pahanya bergetar hebat.
Hentakan penis Baekjin masuk terlalu dalam, menumbuk-numbuk liang senggamanya tanpa ampun.
Desahan Seongje sudah dicampuri raungan tangis. Air mata tak berhenti keluar membasahi pipinya. Seluruh tubuhnya terasa sangat sensitif. Perutnya kencang, penuh dan sesak, siap jebol kapan saja.
“AHHHH….. hhhngggg…. Bakejin!!! Baekjin!!!!! AHHH…. Pelan!!!! PElannn!!!”
Teriakan Seongje terasa bagai angin lalu bagi Baekjin. Tusukan penisnya malah semakin cepat dan dalam. Ia bahkan mengunci pinggang Seongje hanya dengan satu tangan, sedang tanyanya yang lain beralih ke klitoris Seongje, menggosoknya kencang, memainkannya sesuka hati.
“Ahhhhhh… Jin!!! Jin!!!! Jangan di situ!!!! Jangan dikobelin itilnya nanti pipis!!!!” Seongje kembali berteriak merasakan cairan beningnya mengalir semakin banyak dan pahanya bergetar semakin kuat.
Dan semua kenikmatan itu masih ditambah dengan kobelan jari Baekjin di klitorisnya. Tubuhnya sudah tak kuat menanggung semua itu, sebentar lagi ia akan meledak.
“Ahhhhh… jin!!! Baekjin…. ampun!!! Ampun!!!! AHHH!! pipis jin!!! pipis!!!”
Bersamaan dengan teriakan itu vagina Seongje memuncratkan cairan kencing yang membasahi penis, pelvis, perut dan dada Baekjin, bahkan sampai ke selimut dan kasur.
Di saat yang bersamaan, Baekjin menahan pinggang Seongje, menusuk penisnya ke bagian terdalam vagina Seongje dan menumpahkan spermanya di dalam sana.
“Ohhh fuck!!!” Baekjin menggeram kencang, merasakan nikmat pelepasannya yang masih diperas dinding vagina Seongje. Sedangkan tubuh Seongje bergetar hebat di atas Baekjin. Keduanya menikmati moment puncak mereka masing-masing.
Setelah euforia itu selesai, Baekjin bangun dan menangkap tubuh Seongje supaya tidak jatuh. Dada mereka basah karena pelepasan Seongje.
Dengan lembut, Baekjin membalik posisi mereka, melepaskan penyatuan mereka dan membaringkan Seongje di atas kasur yang tidak basah. Kemudian, ia mengelap tubuh Seongje dan tubuhnya dengan selimut.
Saat melakukan itu, ia melihat cairan putih spermanya keluar dari lubang vagina Seongje. Baekjin pun mengulurkan tangannya, menahan cairan itu dengan jarinya, memasukannya kembali ke dalam lubangdan menahan jarinya di sana.
Seongje yang sudah berada dalam keadaan setengah sadar menggeliat. Tangannya terulur ke arah selangkangannya, berusaha menghalau mundur tangan Baekjin.
“Jin udah…. nghhh…. jangan dikobelin lagi memeknyaaa….” Pinta Seongje dengan suara parau sementara matanya masih tertutup rapat.
Baekjin tetap menahan jarinya di vagina Seongje. Sia-sia usaha Seongje mendorong mundur tangan Baekjin karena tangan itu tak bergerak sedikitpun.
“Sabar, sebentar doang, mesti diginiin biar spermanya ga keluar, kalo ga jadi pembuahan kan yang kesiksa lu juga.” jelas Baekjin panjang lebar, tak yakin Seongje bahkan bisa memahami maksud perkataannya.
Seongje tidak menjawab apa-apa, tapi ia berhenti mendorong tangan Baekjin, hanya saja masih sedikit melenguh.
Baekjin memperhatikan tubuh Seongje lekat-lekat. Tubuh itu dibasahi keringat, dadanya berkilau dengan tambahan bekas air kencingnya sendiri. Matanya tertutup rapat, bibirnya merah dan basah. Sedangkan vaginanya merekah merah, lubang yang sesekali berkedut dan klitoris yang sudah membengkak merah.
Pemandangan itu membuat penis Baekjin yang tadinya sudah lemas, perlahan-lahan kembali terisi.
Baekjin menggeser tubuhnya mendekat ke arah Seongje, wajahnya turun ke arah telinga Seongje. Tangannya yang bebas menyentuh pipi Seongje lalu mengelusnya pelan.
“Je, jangan pingsan dulu Je.” ucapnya pelan.
Seongje masih belum mau membuka matanya, hanya melenguh pelan.
“Lanjut ya je, sekali lagi, takutnya belum sampe pembuahan yang tadi, kita main aman aja.” tambah Baekjin.
Seongje akhirnya membuka mata, memandang sinis pada Baekjin.
Baekjin tak menunggu lagi jawaban Seongje, ia langsung melumat rakus bibir Seongje dan satu jarinya yang tadinya hanya bertahan di depan lubang Seongje mulai menelusup masuk, kembali mengobok-ngobok lubang senggama itu.
Lenguhan Seongje tertelan oleh Baekjin.Tubuhnya yang sudah lemas terasa panas kembali.
Sambil terus melumat bibir Seongje, Baekjin bergerak. memundurkan tubuhnya hingga bersandar pada tembok. Lalu mengangkat tubuh Seongje supaya duduk di pangkuannya.
Tangannya memposisikan penisnya yang sudah menegang sempurna di depan lubang surgawi Seongje dan kemudian menghantam masuk seluruh batangnya hingga ke ujung.
Ciuman mereka terlepas, tubuh Seongje terdorong ke depan, tangannya langsung berpegangan pada paha Baekjin. Sementara Baekjin mencengkram erat pinggang Seongje, lalu langsung menumbukkan pinggangnya, menghantam Seongje bertubi-tubi, cepat, cekatan, dan tepat sasaran.
“Ahhhh…. nghhh…. Baekjin!!! pelan pelan dulu!!!!”
Baekjin tidak menurunkan temponya sedikitpun. Ia tenggelam dalam nikmat dari bagaimana liang vagina Seongje mencengkramnya kuat, meremas tanpa ampun.
“Ngak bisa pelan, je. Tahan dulu cantik.”
“Ahhhh…. hngghh…. mmm…. masih sensitif…. sensitif… jin!!!”
Baekjin memeluk erat dada Seongje, menahannya dari berusaha merangkak menjauh.
“Stay still, je. For me.” ucap Baekjin dengan suara rendah tepat di telinga Seongje.
Seongje berhenti melawan, tubuhnya bergerak naik turun seirama hentakan penis Baekjin di vaginanya. Baik air mata dan desahanya tak berhenti keluar. Pahanya tertutup rapat dan tanganya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Isi kepala Baekjin menjadi semakin gelap. Tanganya mencengkram tubuh Seongje lebih kuat. Naluri menguasai dirinya, seperti binatang buas yang tak ingin kehilangan mangsa. Wajahnya dibenamkan di leher Seongje, menghirup kuat aroma lelaki itu.
Seluruh sel dalam tubuh Baekjin meraung, menuntut pelepasan. Lubang Seongje terus menerus berkedut, meremas, kuat dan lembut secara bersamaan. Baekjin terbuai, akal sehatnya menguap bagai embun, pinggangnya bergerak keras tanpa henti. Ditambah raungan dan desahan Seongje yang malah terdengar bagai lagu yang indah.
“Nghhh!! Fuck je!! I’m going crazy because of you!!”
Baekjin memandang ke bawah, melihat paha Seongje yang menutup rapat. ia akan segera sampai dan ia ingin Seongje menjadi sama gilanya dengan dirinya. Satu tanganya bergerak turun, membuka paha itu, memperlihatkan penyatuan mereka dan vagina Seongje yang merekah.
Jari Baekjin mulai bermain gumpalan kecil di vagina Seongje,menekan kuat lalu memutar jarinya di sana. Setelah itu, tanpa ampun, Baekjin memainkan jarinya, menggosok gumpalan yang sudah memerah itu.
“AHHHH Baekjinn jangan!!! JANGan !! Ahhhh!!!!n nghhhh!! hhhh!!!”
Tubuh Seongje bergetar kuat, menggeliat dalam kurungan baekjin. Kepalanya menggeleng ke kiri da kanan tanpa henti. Tapi pahanya membuka semakin lebar bahkan terangkat ke atas dan jemarinya menekuk.
“AHhhhhh!!! ahhhhhh!!! Baekjin Ampun!!! Ampun!!! ampunnn!!! jangan dimainin itilnya!!!
Tubuh Seongje terus berguncang, penis Baekjin menumbuk dinding serviksnya terus menerus, hentakan dan hantaman yang membawanya naik ke langit ke tujuh, mungkin malah langit dua belas, jika ada. ditambah permainan jarinya di klitoris Seongje. Seluruh tubuhnya seakan hancur berantakan karena permainan itu.
“Baekjin it’s too much!! too much!!!”
Baekjin tak berhenti, raungan, permohonan ampun, semua itu malah membuat mata Baekjin menjadi semakin gelap. Penisnya berkedut, siap meledak dalam liang Seongje.
“Ahhh Baekjin!! pipis lagi!!! pipis lagi!!!! ahhaaa knghh!!!!
Seongje sudah melayang sangat tinggi, terlalu tinggi dan tak bisa turun. Dan saat itu juga vaginanya meledak, mengeluarkan cairan kental bercampur cairan bening. Cairan bening yang muncrat membentuk air mancur panjang sampai ke ujung kasur.
Baekjin menanam penisnya di dalam vagina Seongje, meluncurkan spermanya di dalam sana. Ia memeluk erat tubuh Seongje yang bergetar hebat dan menagang.
Nafas keduanya memburu, mengejar satu sama lain. Hangat mengalir dari kulit tubuh mereka. Deru nafas yang memburu jatuh di kulit masing-masing.
Tubuh Seongje yang tegang mulai menjadi rileks.Kepalanya terkulai lemas di pundak Baekjin. Nafasnya tak lagi memburu, namun baekjin tetap mendekapnya erat, mengecup pelan pucuk kepala Seongje.
“You do good, sayang.”
“You feel so amazing, baby!”
“Good boy! my good boy!”
Baekjin terus mengucapkan kata-kata manis sambil mengecup kepala Seongje. Merasakan bagaimana tubuh Seongje masih berkedut sesekali. Meksi ia bahkan tak yakin apakah Seongje masih sadar.
Setelah beberapa saat seperti itu, Seongje menggeliat, matanaya terpejam namun bibirnya melenguh pelan.
“Enhmmm… Baekjin… keluarin… penuh….” pintanya.
Baekjin melihat ke bawah dan menyadari bahwa mereka masih terhubung. Dalam gerakan yang pelan dan lembut, ia mengeluarkan penisnya dari vagina Seongje, membuat spermanya yang bercampur degan cairan Seongje menerobos keluar. Satu jari Baekjin kembali memasuki lubang Seongje, menutup jalan keluar sperma itu.
Seongje melenguh lebih keras, “Enghhh… baekjin… udah…. udahhh.. gak kuat” ucapnya kali ini dengan suara lebih keras.
“iya cantik, udahan, ini nahan doang kok.” ucapnya pelan.
Kepala Seongje menoleh ke arah Baekjin lalu perlahan ia membuka matanya. Keduanya saling menatap, tanpa berkedip, seakan terperdaya dengan mata masing-masing.
“Jinnn…. peluk…”
Seongje memutar tubuhnya di atas tubuh Baekjin, berbalik arah hingga dada mereka bersentuhan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Baekjin, menikmati rytme detak jantung Baekjin yang tenang.
Baekjin balas memeluk tubuh Seongje, menepuk-nepuk pelan kepala dan punggung Seongje, menutup mata, lalu menyenderkan kepalanya di atas kepala Seongje. Ia membirakan dirinya terbawa arus dan terbuai lebih lama dalam kenikmatan yang memabukan ini.
“jinn?” panggil Seongje dengan suara pelan
“emmmm?”
“Enak banget..”
Seongje tidak menjelaskan lebih jauh, namun Baekjin tau jelas apa maksudnya. Ia tak menyangkal hal itu dan hanya terkekeh kecil menunjukan bahwa ia mendengarkan Seongje.
“Na… nanti..” Seongje berdeham kecil, “nanti kalo pengen lagi gimana?”
Baekjin kembali terkekeh, namun pelukannya pada tubuh Seongje mengerat.
“Ya tiggal gua entot lagi, gampang.” ucapnya tanpa beban.
“Emang lu mau? kan ga ada memeknya.” tanya Seongje dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
Baekjin bisa merasakan ketakutan dalam suara itu. Ia mengecup pelan ujung kepala Seongje.
“Kan masih ada lubang yang ini.” ucap Baekjin sambil jarinya berjalan nakal ke lubang belakang Seongje, mengelus lembut rimnya.
Seongje melenguh kencang dan langsung menepis tangan Baekjin, “Jangan ih! masih sensitip!!!” ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya di leher Baekjin.
Baejin kembali terkekeh. Ia menarik tanganya, dan kembali menepuk-nepuk pelan punggung Seongje.
“Emang gak jijik jin?” Seongje bertanya, masih dengan menyembunyikan wajahnya.
Baekjin mendekatkan bibirnya ke telinga Seongje, “I can eat your ass like i eat your pussy just fine, je” bisiknya.
Telinga Seongje memerah mendengarnya.
“Want me to do it now?”
Seongje langsung bangun dan menatap lekat Baekjin, “Ngak ya cape!!!!”
Keduanya bertatapan, Baekjin tersenyum jahil, dan detik itu juga Seongje langsung mengalihkan matanya dari Baekjin, memandang apapun itu selain kedua mata Baekjin.
Baekjin memajukan wajahnya dan mencium lembut bibir Seongje, melumatnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya menarik kepala Seongje supaya kembali rebah di bahunya.
“It’s okay, I can fuck you again tomorrow and I don’t care either it was a pussy or not. I’ll fuck you hard to the point you can’t even remember your name.”
Seongje memeluk erat tubuh Baekjin.
“Sleep, i’ll take care of you.” ucap Baekjin dan Seongje menuruti perkataanya. Tubuhnya sudah lelah, dan hanya dalam hitungan detik, ia terlelap dalam tidur.
***
Baekjin sedang sibuk memasak sarapan ketika ia mendengar suara teriakan Seongje.
“AAAAA AKHIRNYA SAT!!! BALIK JUGA LU ANJING!!!!”
Detik berikutnya pintu kamarnya terbuka dan Seongje keluar dari sana.
“JIN!!!! KONTOL GUA UDAH BALIK!!!” ucapnya senang sambil tertawa lepas dan mengibas-ngibaskan pingganya.
Baekjin hanya tertawa kecil. Ia pikir Seongje akan sekalian membuka celananya dan memperlihatkan benda kebanggaannya itu. Tenyata dia sudah memakai pakaian lengkap, kaos dan celana pendek yang tentunya milik Baekjin.
Seongje berjalan sambil melompat kecil ke arah dapur, lalu duduk di meja makan.
“Masak apa??? laperrr…..”
Baekjin mendekat ke arah meja, kemudian mencondongkan wjahnya ke arah Seongje, tanganya bersandar pada meja yang memisahkan mereka.
“Kok ga dipamerin kontolny?”
Wajah Seongje langsung merona merah, “Apasihhh!! udah sana masak!!! Laper nih!!! belom dikasih makan dari kemaren!!”
Baekjin tersenyum jahil, “As you wish, princess.” ucapnya sambil kemudian memundurkan tubuhnya kemudian berbalik kembali ke dapur.
Princess sialan itu lagi!
Seongje tidak mengatakan apa-apa, hanya berdeham kecil, kemudian mengeluarkan handphoneya dan memainkan hanphonenya, membuka aplikasi belanja online dan mencari makanan kucing.
“Makanan kucing yang bagus apa ya jin?”
“Tiba-tiba banget beli makanan kucing, emang lu punya kucing?”
“Ngak punya, tapi pengen siap-siap aja biar jangan sampe kaya kemaren lagi, repot entar.”
“Ngak tau gua, nanti coba aja tanya Dongha.”
Seongje hanya berdeham, sambil tetap menscrool handphonya.
Baekjin membuka penutup panci dan mencicipi sayut yang ia buat, rasanya sudah pas, asin sedikit manis dan segar. Ia menutup panci kemudian mematikan kompor.
“Sekalian cari lube, beli 2 botol sekaligus.”
“Hah? lube? buat apaan?”
“Buat negntot lah,” ucapnya sambil berbalik badan untuk memandang Seongje, “Kan mau jajalin lubang yang satunya.”
Jari Seongje berhenti bergerak, bulu kudunya merinding, matanya terpaku pada Baekjin, menyadari bahwa Baekjin serius dengan perkataanya.
Fuck, he is doomed. There is no turning back or a way to run away. Baekjin going to fuck him hard again, and again and again. And he will absolutely love that.
