Actions

Work Header

Kencan yang Batal

Summary:

Memang benar, Taek juga merindukan mereka. Dia tidak bisa hidup satu hari tanpa merasakan penis Samut menusuknya dalam-dalam, atau mencicipi bibir Samut dan menebak lip balm apa yang dipakai kekasihnya. Dia tidak bisa tidur sebelum Samut menidurinya, Taek tak dapat bermimpi jika Samut belum menghiasi wajahnya dengan ciuman. 

Dan Samut diam-diam menikmati cara Taek mencari pengalihan dari obsesinya hanya karena gengsi. Samut tau, dia selalu tau Taek membutuhkannya.

“Jadi kamu lebih milih main sama mainan ini daripada minta aku tidurin kamu?”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Apartemen Tinn yang sederhana itu biasanya cukup sepi di malam hari, mungkin hanya Gun dan Chinzilla yang terkadang datang setiap sebulan sekali. Namun kali ini, bukan teman-teman Gun yang berkunjung, melainkan sekelompok teman mereka yang lain.

Tinn sedang menyiapkan cemilan, mendengarkan suara berisik dari luar dapur. Sementara kekasihnya- Gun, menuangkan beberapa botol bir ke gelas agar bisa diminum oleh teman-temannya. Disamping Gun, ada North yang sudah lebih dulu minum. Pria dengan kalung rantai itu melingkari tangannya di pinggang sang kekasih, Night.

Ada juga Atom, sahabat terbaik Gun. Pria manis yang pintar masak itu menawarkan cemilan keripik kentang kepada Kongthap, kekasihnya. Lalu ada Barth yang anehnya datang sendiri hari ini, menyesap teh susu sambil mengirim pesan kepada seseorang, mungkin kekasihnya. Yang terakhir ada Samut dan Taek, duduk bersebrangan seolah menghindari interaksi satu sama lain. Samut sibuk membantu Gun menuangkan bir, sementara Taek menjahili Atom yang hampir menangis.

“Tolong jangan bermesraan di hadapan gue ya, para gay. Gue lagi ga bawa cowo.” Barth menyandarkan diri di sofa sambil menjatuhkan ponselnya ke samping.

“Aw? Tanrak ga jadi datang?” North mengerutkan alisnya bingung.

Barth menggeleng, “Masih bantuin latihan choir.”

“Liat tuh cowok lo, hatinya bersih banget kayak malaikat. Lah elu?” itu Gun, yang jelas-jelas sedang menyindir.

“Eh, lo jangan nuduh dulu. Gini-gini gue berhasil menaklukkan hati si angel.” Barth menunjuk Gun seolah memberi peringatan, lalu menyeringai sombong.

Seluruh meja itu tertawa, suara mereka bergema di apartemen Tinn yang menciptakan suasana ramai. Tak ada yang tak tau bahwa Barth dan Tanrak adalah dua insan yang saling bertolak belakang, tapi entah bagaimana keduanya berhasil menciptakan hubungan yang bahagia hingga sekarang.

Namun diantara semua orang, ada dua orang yang tak tertawa lepas sama sekali. Samut hanya menyeringai kecil setelah mendengar candaan Gun, lalu kembali meminum bir nya. Sementara Taek ikut tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya seolah telah mendengar lelucon yang paling lucu sepanjang hidupnya, tapi tak ada yang sadar dia sedang menyembunyikan sesuatu dalam hatinya.

“Ngakak aja terus, pokoknya jangan sampai ada sampah yang berserakan di karpet! Satu sampah, satu soal matematika.” Tinn tiba-tiba datang dari dapur, membawa nampan penuh cemilan dan beberapa bir kaleng yang baru dibeli beberapa hari yang lalu.

“Kan apa gue bilang, jangan kumpul di apartemen Tinn! Yang ada kita disandera sama dia!” Atom merengek ketika mendengar soal matematika, memegang lengan Kongthap dan berpura-pura ketakutan.

Sambil bergeser agar memberi tempat untuk Tinn duduk, Gun membalas dengan santai. “Kan lo pada punya cowok pintar, jadi gampang lah ngerjainnya.”

What about me, then?” Barth menunjuk dirinya sendiri.

Gun menyesap bir, lalu melirik Barth. Dia kemudian mengambil kacamata yang sedang dipakai oleh Tinn tanpa meminta, lalu memakainya dan mengerutkan kening sambil menatap Barth.

“Menurut penalaran gue, lo bakal dihajar habis-habisan sama Tinn karena ga ada yang bisa bantuin lo.” Gun akhirnya mengucapkan sesuatu, membuat seisi kelompok tertawa. Terutama North dan Taek, tawa mereka hampir membuat gendang telinga pecah.

Fuck you!” 

“Aduh! Sedih banget gue di maki-maki! Sayang, tolongin akuuu!” Gun memegang hatinya yang tak sakit sama sekali, lalu meminta pertolongan dengan memeluk kekasihnya.

“Makanya, Barth. Jangan main-main sama yang bawa gandengan.” Night menambahkan, pipinya yang merah menjadi pertanda efek alkohol sudah mulai merasuki dirinya.

How about you, Taek? Minta bantuan cowok lo, gak?” kali ini North bertanya kepada Taek yang duduk cukup jauh darinya.

Yang dipanggil menoleh, lalu mendengus sambil mengangkat bahu acuh tak acuh. “I may look like a fool, tapi soal matematika mah cuma sebesar biji semangka sama gue.”

“Ohooo, sombong. Pokoknya kalau sampah lo yang paling banyak, awas aja minta bantuan ke Samut!” Atom memukul lengan Taek dengan bantal, lalu cepat-cepat menarik lengan Kongthap, takut Taek akan membalas perbuatannya.

Beberapa detik, Taek tak menjawab. Dia hanya menatap kaleng bir yang sudah setengah ia minum, seolah memikirkan sesuatu yang tak diketahui semua orang. Lalu dia tersenyum, melirik Samut yang ternyata telah menatapnya dari tadi.

“Gue ga butuh bantuan buat masalah kecil begitu.” Ujarnya dingin, lalu menyesap bir nya hingga habis.

Beberapa orang bersorak, terutama North dan Gun yang mengapresiasi kesombongan Taek. Atom mencibir lucu, sementara Kongthap terkekeh kecil entah karena Taek atau karena kelucuan kekasihnya. Night hanya menyeringai, sudah terlalu larut dalam alkohol. Tinn melirik Samut setelah membuka kaleng bir dan memberikannya kepada Gun, memperhatikan rahang Samut yang menegang sebentar lalu kembali seperti semula.

Setelah obrolan ringan tadi, kelompok itu lanjut menghabiskan malam mereka. Tak hanya obrolan ringan dan tawa yang lepas, mereka juga sempat melakukan berbagai macam permainan kecil. 

Yang pertama adalah UNO, dengan peraturan yang kalah harus menghabiskan satu kaleng penuh tanpa jeda sekaligus. Permainan itu hanya bertahan selama dua ronde, dengan Kongthap dan Gun yang menjadi korban. Kedua, monopoli. Peraturannya masih sama, siapa yang masuk penjara lebih dari satu kali harus menerima hukumannya. Permainan itu singkat, hanya satu ronde. Tapi korbannya semakin bertambah, yaitu Barth, Night dan Samut. Namun Barth berusaha menghindari hukuman dengan alasan dia tidak boleh minum bir karena Tanrak melarangnya, tanpa usaha, dia lepas begitu saja. Tapi setelah merasa semua orang sudah terlalu banyak minum, akhirnya mereka berhenti dan memilih untuk bersantai mendengar lagu sambil mengobrol ringan.

Kongthap yang kini telah berpindah tempat duduk di samping Tinn, menyesap bir nya sambil memperhatikan Samut dan Taek yang sejak tadi sudah dicurigai. Selama permainan, Samut dan Taek terlihat selalu menghindari pembicaraan satu sama lain. Ketika Taek berbicara, Samut akan mengalihkan pandangannya. Ketika Samut yang berbicara, Taek pura-pura sibuk mengganggu Atom.

Bukan berarti Kongthap benci Atom dijahili habis-habisan oleh Taek, dia suka Atom menjadi manja dan merengek kepadanya. Bahagia rasanya melihat orang-orang senang berinteraksi dengan sang kekasih, mengingat dulu Atom cukup ragu berkumpul-kumpul seperti ini. Tapi, interaksi Atom dan Taek tadi adalah salah satu hal yang membuatnya curiga.

Taek memang jahil, tapi pria itu terlalu sering mengganggu Atom hari ini. Biasanya ketika mereka berkumpul, Taek akan lengket dengan Samut. Bahkan sesekali pria itu tak segan-segan duduk di pangkuan Samut hingga membuat semua orang bersiul, itu sudah menjadi kebiasaan yang normal diantara mereka. Hanya saja setelah hampir tiga bulan tidak berkumpul, semua orang mungkin mengira jarak aneh antara Samut dan Taek ini bukanlah masalah besar. 

Dan Kongthap cukup jenius untuk mengetahuinya.

“Menurut lo… ada yang aneh ga sih hari ini?” Kongthap akhirnya bertanya kepada Tinn, suaranya teredam oleh nyanyian Gun dan Atom yang sedang karaoke.

“Aneh? Why? Bir nya kurang enak? Cemilannya basi? Ntar kalau Gun keracunan gimana, yak? Apa gue beli yang baru aja?” Untung saja Tinn mendengar suara Kongthap, walau pria berkacamata itu salah paham atas pertanyaan Kongthap.

No, semuanya udah perfect.” Kongthap menenangkan Tinn, “Cuma… aneh aja liat Samut dan Taek ga terlalu lengket hari ini.”

Menyadari apa yang dimaksud oleh Kongthap, Tinn pun mengarahkan pandangannya pada Taek dan Samut yang duduk berjauhan. Taek sedang mengobrol dengan Barth, sesekali menyemangati Gun dan Atom yang sibuk bernyanyi. Sementara Samut duduk di samping Night, Tinn dapat mendengar mereka membahas tentang perkuliahan yang cukup biasa diantara mereka.

Namun saat Tinn menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas walau sudah memakai kacamata, Tinn akhirnya mengerti apa yang telah diperhatikan Kongthap sejak tadi. Walau Tinn lebih kenal dengan Samut karena mereka sering mengobrol tentang rumus-rumus yang sulit, Tinn tau cukup banyak tentang Taek dari Gun. Samut dan Taek sudah berpacaran cukup lama, dia masih ingat ketika North membawa Taek ke tongkrongan untuk pertama kalinya. Dia juga ingat saat Taek menceritakan hubungan barunya dengan Samut, dan betapa mesranya mereka di depan umum.

Tapi sekarang, jarak itu terlalu jauh untuk orang yang berpacaran. Seolah mereka belum pernah ciuman di hadapan semuanya, seolah Taek belum pernah membuat telinga Samut panas dan memerah karena rayuan penuh cinta.

There's definitely something wrong.” Tinn bergumam.

Right? Ga biasanya mereka jaga jarak gini. Apa mereka lagi marahan?” Kongthap mulai memberikan kecurigaannya.

“Bisa jadi, apalagi kita udah ga ketemu mereka selama tiga bulan lebih.” Tinn mengangguk setuju, dia berpikir sejenak sebelum kemudian matanya melebar seperti mendapatkan sebuah ide cemerlang.

Tinn berdiri dan berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu, sementara Kongthap hanya memperhatikan dengan penasaran. Sejenak pria berkacamata itu membongkar lemari penyimpanan dengan teliti, lalu mengambil sesuatu dan kembali ke kelompok dengan sebuah botol bir kosong yang ada di tangannya.

Seakan memiliki telepati, Kongthap mengetahui tujuan Tinn. Dia segera membersihkan cemilan dan kaleng-kaleng yang berserakan diatas meja, tindakannya itu mendapat perhatian dari beberapa orang, terutama North dan Samut.

“Loh, kenapa dibersihkan? Udahan nih kumpulnya?” North bertanya dengan wajah penuh heran, kuaci yang dia makan sejak tadi sudah menghilang dari atas meja.

Tinn kembali, berterima kasih kepada Kongthap karena telah membantunya dan menaruh botol itu di tengah-tengah meja. Gun dan Atom yang baru saja selesai karaoke kembali ke tempat duduk mereka, Atom baru saja ingin protes kenapa cemilannya disingkirkan, tapi mulutnya segera disumbat dengan susu strawberry oleh Kongthap.

We're gonna play a game.” Jelas Tinn kepada semua orang, mengakibatkan dia menjadi pusat perhatian. 

“Game? Pakai botol?” Night yang sudah setengah mabuk akhirnya berbicara.

Tinn mengangguk, “Seven minutes in heaven.”

Setelah judul permainan diucapkan, semua orang langsung mengerti. Seven minute in heaven adalah permainan dimana dua orang yang ditunjuk oleh botol ini akan dikurung di dalam lemari selama tujuh menit, hanya berdua di tempat yang minim pencahayaan dan sempit. 

North yang awalnya bosan kini menjadi semangat, dia mengambil alih tempat Tinn seolah dialah yang mencetuskan ide itu. “Nah gini kan asik! Ayo-ayo semuanya duduk di tempat masing-masing, the game is about to start!” 

Dengan semangat membara, North memerintahkan semua orang duduk mengelilingi meja. Night menduduki paha North, Kongthap dan Atom duduk bersama. Tinn duduk diatas sofa, mengangkangi Gun yang duduk dilantai bersandar padanya. Sementara Taek duduk disamping Gun, Samut berdampingan dengan Kongthap.

“Gausah pake lama, langsung gue putar botolnya. Yang kena tunjuk di masing-masing ujung harus dikurung di lemari selama tujuh menit. Ga Ada penolakan, okay?” setelah North menjelaskan secara singkat, semua orang mengangguk mengerti.

“Bentar, misal nih yang ditunjuk Kongthap sama Night, harus making out dalam lemari kah?” Barth mengangkat tangannya untuk bertanya.

Mendengar nama sang kekasih disebut, North langsung bersikap protektif. “Enak aja! Lo ga harus bercumbu, paling deep talk satu sama lain, atau diam-diaman juga boleh.”

Beberapa orang tertawa, Night juga memukul kepala North dari belakang. Atom juga menatap Barth dengan tajam, tak rela nama kekasihnya dibawa-bawa. 

Kemudian permainan dimulai, semua orang berunding untuk menentukan siapa yang akan memutar botol terlebih dahulu. Setelah diskusi cukup lama, diputuskan Gun lah yang akan memutar botol. Vokalis utama Chinzilla itu bersemangat bukan main, seolah dia telah memenangkan penghargaan di acara award. Dia mendekat ke meja, menyentuh botol itu dan akhirnya memutarnya.

Botol berputar kencang awalnya, perlahan-lahan bergerak semakin pelan. Pelan, pelan dan pelan, hingga akhirnya ujung botol berhenti dan menunjuk Samut. 

Tapi bukan hanya Samut yang ditunjuk, melainkan Taek yang berada di depan Samut juga menjadi korban pertama.

“Anjay, pas banget! Yaudah lo berdua cepetan masuk ke lemari!” North berdiri dari duduknya, menarik Samut yang masih tak percaya dengan hasil di ronde pertama.

Wait! Botolnya ga nunjuk ke arah gue!” Samut protes, menarik tangannya dari genggaman North.

“Ga nunjuk gimana? Jelas-jelas mulut botolnya berhenti di elu! Udah jangan menghindar, ayo gue bawa ke kamar.” Gun akhirnya berdiri, menarik kerah bagian belakang baju Taek dan menyeretnya ke kamar.

“Akh! Uhuk! Bentar Gun, GUE GA BISA NAFAS!” Taek mati-matian melepas cengkraman Gun sambil berupaya berjalan mundur, sedangkan Gun masih menarik kerahnya seolah tak mendengar rengekan Taek.

North tertawa mendengar teriakan Taek yang semakin jauh, lalu melirik Samut. Alisnya berkerut saat melihat betapa tegangnya Samut sekarang, seolah terkurung bersama kekasihnya di dalam lemari membuat rasa takut berhasil menguasainya. Tapi North berpikir positif, mungkin Samut terlalu gugup karena efek alkohol.

“C'mon, bro!” North kembali menarik tangan Samut yang kali ini tidak melawan sama sekali, menyusul Gun yang sudah berada di dalam kamar tamu. Tinn dan Kongthap saling melirik, menyeringai geli disaat rencana mereka langsung berhasil di percobaan pertama.

Sementara di dalam kamar tamu, lemari kayu yang khas wanginya itu terbuka lebar. Taek sudah dipaksa masuk kedalam oleh Gun, sementara Samut dan North baru saja sampai. Gun menarik Samut untuk duduk di hadapan Taek, butuh banyak usaha karena Samut terlihat begitu menolak ide ini. Tapi yang dihadapi adalah Gun dan North, tak ada yang bisa melawan mereka.

“Kalian disini aja ya, kalau mau making out juga boleh kok. Tapi hati-hati, jangan ngotorin baju!” Gun yang cerewet memberikan instruksi kepada kedua orang itu, lalu menutup pintu lemari dan menguncinya hingga menyisakan kegelapan diantara mereka.

Tak lama, pintu kamar tamu juga ditutup. Dan disitulah keduanya tau, tujuh menit penuh penyiksaan ini akhirnya dimulai.

Diluar kamar, North dan Gun kembali duduk di samping kasih mereka. Night memberikan kaleng bir yang tadi North minum, sementara Tinn langsung memeluk sang kekasih.

“Gimana? Mereka ga berantem kan?” Tinn bertanya, menaruh dagunya diatas bahu Gun dan melingkarkan tangan di pinggang Gun.

“Gue tau kalian pasti sadar sama kelakuan aneh mereka hari ini,” Gun dengan nyaman bersandar di dada Tinn. “Untung aja cowo gue pintar dan sadar sama situasi.”

“Memang mereka kenapa?” Atom bertanya, matanya yang berbinar itu menatap Kongthap dengan polos, meminta penjelasan.

Kongthap tersenyum gemas, “Aku juga gatau, intinya mereka jaga jarak banget hari ini. Makanya kita bantu mereka buat baikan.”

“Bentar-bentar, tujuan awal kalian main seven minute in heaven buat Taek sama Samut?” North yang baru saja duduk sudah dibuat kebingungan, pasalnya tiba-tiba semua orang membicarakan sesuatu yang begitu asing baginya.

Belum mendapat jawaban, kepala North lagi-lagi dipukul oleh Night. Sang kekasih yang menjadi pelaku itu hanya bisa mencibir penuh kecewa, walau sudah tau North bukan orang yang peka, tapi tetap saja merasa malu menjadi pacar dari orang yang bodoh.

We've reached the fucking moon and you're still on earth.” dengus Night, lalu kembali minum kaleng bir nya yang ke lima.

“Karena aku gatau?!”

“Makanya jadi orang jangan bodoh banget!” karena bosan memukul kepala North, Night memilih untuk menjewer telinga sang kekasih. Jeweran itu membuat North berteriak kencang, kesakitan, hingga semua orang terkekeh dibuatnya.

Walaupun tongkrongan mereka memiliki banyak orang-orang unik dan penuh dengan gay, tapi mereka saling membantu satu sama lain. Ketika sepasang kekasih tampak bertengkar, semuanya akan mencari cara apapun agar keduanya bisa berbalikan. Rasa kepedulian itu tak perlu ditunjukkan, tapi harus dibuktikan.

Samut dan Taek sudah lama menjadi sepasang kekasih, semua orang masih ingat pertemuan pertama mereka. Awalnya Kongthap membawa Samut ke tongkrongannya karena melihat pria itu memiliki sedikit teman, kemudian Samut dan Taek menjadi lebih dekat setelah hari itu. Hubungan mereka cukup harmonis, walaupun Taek lebih sering menebar kemesraan di depan umum mengingat pria itu tidak memiliki urat malu. Samut? Berpelukan saja sudah membuatnya merah bukan main. 

“Jadi… sekarang gimana?” Barth bertanya.

“Kita tunggu,” Gun menjawab sambil memeriksa ponselnya dengan santai. Penyanyi itu membalas beberapa pesan masuk yang belum terjawab, “Heart sama Liming mau kemari, mending kita main UNO sambil nungguin merekap.”

Again? I’m sick of UNO!” North mendesah kesal, menengadahkan kepalanya ke atas sofa karena sudah mulai merasa bosan.

Untuk yang kedua kalinya, kelompok itu bermain UNO di ruang tamu yang sudah berantakan itu. Kali ini permainan berjalan cukup adil, mengingat Taek yang sering curang sudah tidak ada bersama mereka. Bir bertambah, cemilan dimakan lebih banyak. Tanpa disadari, waktu perlahan berjalan.

Disisi lain, ada Taek dan Samut yang sedang terkurung di tempat panas dan sempit.

Lemari itu tidak terlalu gelap, rongga-rongga dari pintu membuat cahaya bisa masuk kedalam. Dari sini, keduanya bisa melihat wajah satu sama lain. Taek tidak segan-segan memandang wajah Samut, ego nya yang selalu tinggi membuatnya tampak menang antara perang dingin ini. Sementara Samut, pria itu berkeringat dingin sambil melihat kesana kemari, tak sekalipun membalas tatapan Taek.

Hubungan keduanya selalu baik-baik saja, mereka telah menebar kemesraan sejak awal pacaran. Taek suka mencium, memeluk, bahkan memamerkan Samut ke seluruh dunia. Samut adalah segalanya bagi Taek, pria yang lebih kecil itu hanya terlalu membanggakan kekasihnya. Sementara Samut diam-diam menikmati segala perhatian yang diberikan oleh Taek, karena baginya menghabiskan waktu berdua dengan Taek tanpa seorangpun di sekitar mereka adalah waktu terbaik.

Tapi sekarang, mereka sedang menghadapi masalah besar.

Seminggu yang lalu, mereka berencana akan kencan menonton film horor terbaru yang disukai oleh Taek. Awalnya Samut setuju, rencana itu sudah berputar-putar di kepala Taek hingga dia tak berhenti memikirkan kencan mereka yang ini. 

Namun di hari kencan, Samut tiba-tiba membatalkan kencan mereka dengan alasan ada kuis dadakan di kelasnya hari ini. Samut yang gila nilai seperti Tinn itu tak punya waktu mengingat kelasnya di siang hari dan dia hanya punya beberapa jam untuk belajar. Awalnya Taek memberikan usulan, mereka bisa berkencan di sore hingga malam hari. Tapi Samut menolak dengan alasan dia akan terlalu lelah untuk itu, dan disaat itulah Taek mengamuk besar. Mereka bertengkar, bentakan dan ucapan semakin tak terkontrol seiring berjalannya waktu. Taek menyalahkan Samut karena tak peduli dengan kencan ini, sementara Samut kesal mengetahui Taek orang yang lebih ribet daripada yang dia kenal.

Puncaknya adalah ketika Samut mengatakan kuliahnya lebih penting daripada Taek, disaat itu pertengkaran mereka selesai dengan Taek yang menyerah dan memastikan untuk pergi.

Yah, pertengkaran itu sangat menegangkan hingga tak ada satupun dari mereka yang memberitahu orang lain akan hal ini. Mereka menghindar satu sama lain, tak lagi berbicara, pergi kuliah bersama, tidur bersama, hari-hari dijalani dengan kesendirian. Tapi Taek terlihat baik-baik saja, dan itulah yang mengganggu Samut.

Karena dia jelas tak baik-baik saja tentang ini.

Why? Gugup ya liatin gue?” Taek akhirnya berbicara, suaranya terdengar jelas di tempat sempit ini. Samut sangat ingin menjawab, mungkin melawan, tapi dia terlalu takut. 

“Lo ga gugup bentak gue waktu itu, sekarang nyali lo ciut sebesar nyamuk.” Taek berkata lagi.

Shut up.” 

“Lo kan ga peduli sama gue.”

“Aku peduli, Taek. Tapi kuis itu juga penting buat aku.”

“Kita bisa nonton film nya di malam hari,” Taek mendorong betis Samut dengan kakinya yang sudah kebas. “But what? Lo beralasan kalau lo capek. Emang lo doang yang bisa capek? Gue juga bisa, gue capek liat tingkah laku lo yang ga enjoy sama relationship ini sedikitpun!”

Samut terdiam, ucapan Taek yang penuh fakta itu menusuk tepat di hatinya. Dia memang tak terbiasa menebar kemesraan di depan umum, Taek lah yang selalu melakukan itu. Tapi demi apapun, dia peduli kepada kekasihnya. Kesalahan seminggu yang lalu itu benar-benar bodoh, ini semua adalah salahnya karena terlalu egois dan mementingkan diri sendiri.

“Lo tau gak? Kalau kita ga berantem, mungkin kita udah make out dua kali selama seminggu ini.” Taek yang teringat ucapan Gun tadi akhirnya mengatakan sesuatu, membuat Samut membelalakkan matanya kaget.

“Hah?” Jelas-jelas Samut bingung.

Melihat alis sang kekasih yang berkerut, Taek mendecih pelan. “Auk ah! Lo bego soal ginian.”

Samut memperhatikan Taek yang bergumam marah, emosi terukir jelas melalui wajahnya. Samut sudah terbiasa melihat wajah Taek yang seperti ini, penuh emosi, kemarahan, kekesalan, entah itu karena hal kecil atau masalah yang besar. Tapi Samut tak pernah mendapati Taek menatapnya dengan ekspresi yang sama, tak sekalipun selama hubungan mereka.

Samut tau bahwa dirinya bersalah disini dan dia sudah berencana untuk meminta maaf sejak dulu, namun keraguan itu selalu muncul, overthinking tentang bagaimana jika Taek tidak menerima permintaan maafnya? Hingga akhirnya Samut sampai pada keputusan untuk terus mengundur permintaan maafnya demi menunggu hubungannya dan Taek cukup dingin.

Namun sampai sekarang, tampaknya es diantara mereka masih belum mencair.

Setelah bergumam dengan dirinya sendiri, Taek kembali memandang Samut. Mata coklat tuanya itu selalu punya cara untuk membuat Samut jatuh lebih dalam, dan cara Taek menatap dirinya berhasil membuat Samut bertekuk lutut dihadapan sang kekasih. Namun entah bagaimana, mata itu tak mengandung kemarahan sama sekali. Di dalam pupil itu, terdapat perasaan rindu yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Rindu Taek kepada Samut akan kehangatan yang dulu sering mereka bagi.

Dan Taek tak tau bagaimana cara mengucapkannya dengan benar.

Don't you miss me or something?” Taek akhirnya kembali bersuara, ucapannya kini terasa seperti godaan bagi Samut.

Samut membalas tatapan Taek, lalu menelan ludahnya diam-diam. “I do.”

Jawaban Samut cukup mengagetkan Taek, sudut bibirnya tertarik membentuk seringai kecil. Di tengah-tengah gelap, Taek perlahan mendorong kaki kirinya lebih dekat ke paha Samut. Tindakan itu diperhatikan dengan jelas oleh si dominan, tersentak ketika telapak kaki Taek menyentuh semakin dalam ke pahanya.

“Kamu ngapain?” Entah apa alasan Samut menanyakan pertanyaan itu, tapi demi apapun di dunia ini, dia mulai menikmatinya.

“Ngapain lagi? Gun yang nyuruh kita bercumbu disini,” Taek memiringkan kepalanya sedikit. “So… shall we?

Setelah mengucapkan itu, Taek dengan semangat mendorong ibu jarinya dan menggesekkannya ke milik Samut yang terhalang oleh celana jeans tebal. Tekanan itu membuat Samut merinding, tubuhnya seketika bereaksi hanya dari sedikit sentuhan dari kaki Taek. 

Reaksi Samut memberi isyarat kepada Taek untuk terus melanjutkannya, jadi dia mendorong lagi kakinya demi menggoda Samut yang hampir kehilangan akal. Melalui telapak kakinya, Taek sudah merasakan betapa kerasnya penis Samut sekarang. Taek tak segan-segan, jempol kakinya terus menggoda milik Samut hingga noda basah itu akhirnya kelihatan.

You miss me so much, huh?” Taek berbisik, “Begini doang udah keras, kecintaan ya lo sama gue?”

Samut tampaknya tak punya tenaga untuk membalas ucapan Taek, atau mungkin dia tidak bisa. Kaki Taek semakin aktif menekan penisnya, hingga yang bisa dikeluarkan Samut saat ini hanyalah erangan penuh nikmat. Dia sendiri tak percaya, bagaimana bisa kaki sang kekasih dapat memuaskannya seperti ini.

Suasana dingin di antara mereka tadi seketika menjadi panas, dan hanya seorang Taek lah yang dapat melakukannya. Dari sudut pandangnya, Taek dapat melihat betapa hancurnya Samut sekarang. Keringat jatuh dari keningnya, mulutnya terbuka akan kenikmatan, tangan memegang kakinya seolah meminta lebih dan lebih. Dan Taek tau, Samut begitu putus asa demi dirinya sekarang. 

“T-taek… ah!” Samut menyandarkan dahinya ke lutut Taek, tangannya mencengkram erat pergelangan kaki sang kekasih karena hanya itulah yang bisa dia pegang di saat seperti ini.

“Kenapa? Mau lagi?” Taek menggigit bibirnya, memperhatikan pipi dan telinga Samut yang sudah merah seperti tomat. Sang kekasih tak menjawab, Samut mengangguk-angguk menandakan betapa dia menginginkan ini semua.

Betapa dia merindukan ini semua.

Tekanan Taek pada celana Samut semakin kuat, semakin bersemangat demi mendapat reaksi yang diincar-incar. Di depan Taek, Samut semakin gelisah. Gerakan kaki Taek membuatnya ingin berteriak, kegelisahan menguasai tubuh Samut yang memanas itu. Kepalanya pusing karena efek alkohol, atau mungkin akibat stimulasi berlebihan yang diberikan oleh Taek.

Sesaat, Samut merasakan bagian bawah perutnya memanas. Erangannya semakin tak terkendali disaat Taek memainkan celananya yang basah, cengkramannya pada kaki Taek menjadi lebih erat sehingga mungkin dapat meninggalkan bekas. 

Emhh… I'm close.” Samut bergumam, kali ini tangannya menahan kaki Taek agar tak menjauhkan diri. Erangannya semakin serak, tidak tau malu memaksa Taek meneruskan tindakannya hingga dia puas.

Mengetahui sang kekasih hampir mencapai batasnya, Taek tak segan-segan menggali lebih dalam. Telapak kakinya yang diselimuti oleh kaos kaki itu bergerak semakin cepat, menjadi lebih semangat untuk merayu Samut yang semakin gila. Keringat Samut mengalir deras, matanya terpejam saat merasakan keinginannya untuk keluar berada di depan mata.

Dan ketika Samut hampir berteriak, Taek menarik kakinya.

No- Fuck!” Samut membuka mata lebar, kehilangan tekanan yang dari tadi memanjakannya membuat perasaan kecewa menguasai hatinya.

Di depannya, Taek menyeringai penuh kemenangan. Senyumnya yang menyebalkan itu membuat Samut kesal sehingga memajukan tubuhnya dan menyambar bibir Taek dalam waktu singkat. Bibir mereka tak hanya menempel, mereka memakan satu sama lain. Samut menggigit bibir Taek hingga si kecil mendesah kesakitan, diam-diam memberikan hukuman. Tangan Samut mencengkram kerah Taek dan menariknya lebih dalam, sementara Taek bersedia menaruh tangannya di pundak Samut.

Suara kecapan itu menggema di sekitar lemari, bibir mereka menari satu sama lain. Sesekali lidah Samut bertamu ke dalam mulut Taek, mencampur air liur mereka menjadi satu. Bibir Taek dipastikan akan memerah, mengingat Samut adalah seseorang yang sangat baik dalam berciuman.

Mungkin karena efek alkohol, mungkin karena panas di dalam lemari. Tapi Taek menikmati ini semua, dia merindukan Samut dan segala kejutannya. Bibir Samut yang memabukkan, cara giginya selalu menggigit lidah Taek hingga sariawan, memainkan kedua bibir mereka hingga bengkak. Itu menyakitkan, tapi Taek menyukainya.

Merasa sudah hampir kehabisan nafas, Samut menarik dirinya sendiri seolah sadar telah membuat sang kekasih sesak. Dia bernafas sambil menjilat bibirnya, masih merasakan Taek di lidahnya. Sementara Taek memperhatikan itu semua, merasa kagum dia telah berhasil mengubah Samut yang dulunya disiplin menjadi orang yang berantakan seperti ini, hanya karena dirinya.

Saat Samut membawa wajahnya ke leher Taek dan hendak menikmati kulit sang kekasih, tiba-tiba rambutnya dijambak oleh Taek dan memaksanya untuk tidak bergerak.

Why?” Samut bertanya, tak sudi dirinya dihentikan ketika ingin melanjutkan kegiatan mereka.

Namun Taek dengan santai memperhatikan jam tangannya, lalu menunjukkannya kepada Samut dengan bangga. “Udah tujuh menit, keluar yuk!”

Belum sempat Samut mengucapkan sesuatu, pintu lemari dibuka lebar-lebar oleh Taek. Cahaya lampu meja belajar yang hidup merupakan satu-satunya penerangan di ruangan itu, udara sempit tadi kini menghilang dan digantikan angin dingin dari AC.

“Taek, serius?” Samut meminta penjelasan saat melihat sang kekasih sudah keluar dari lemari lebih dulu, meregangkan otot-otot tubuhnya setelah tujuh menit lebih di dalam lemari.

“Loh, ngapain kita lama-lama di dalam lemari? Yang ada kita mati kepanasan.” jawaban Taek tentunya membuat Samut mengeram rendah, tidak menyangka sang kekasih berhasil membuatnya kehilangan kesabaran seperti ini. 

Tak punya pilihan lain, Samut ikut keluar dari lemari. Gerakannya itu membuat penisnya yang masih tegang bergesek dengan celananya, rasa sakit akan pelepasan yang belum tercapai membuat Samut menggigit bibir. Taek memperhatikan itu semua, menyeringai penuh bangga. Dia menarik tangan Samut untuk keluar dari kamar, berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa di lemari itu.

Keduanya kembali ke ruangan tempat mereka berkumpul tadi, mendapati kelompok itu sedang bernyanyi bersama-sama dengan gitar sebagai instrumen satu-satunya. 

“Wow, udah balik nih pasangan alay kita.” Yang pertama kali menyadari kehadiran mereka adalah North, menarik perhatian semua orang untuk melihat mereka.

Lovebird, kalian ga ngotorin baju di lemari kan?” Gun yang sedang memegang gitar menunjuk Taek dengan tatapan penuh ancaman.

Taek menggeleng, semakin erat menggenggam tangan Samut yang berusaha menyembunyikan diri di balik tubuh Taek. “Gak kok. Btw kita pulang dulu ya, udah tengah malam.”

“Loh? Kok tumben– woy! Gue belum selesai ngomong!” Gun yang awalnya ingin bertanya tapi harus terhenti karena Taek sudah menarik Samut ke pintu keluar, suara klik pintu bergema di ruang yang tiba-tiba menjadi sepi akibat sikap aneh Samut dan Taek.

Night adalah satu-satunya yang tidak kebingungan, “They’ll continue at home.”

Ucapan Night seakan-akan membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengerti, lalu beberapa orang mulai tertawa karena merasa rencana mereka untuk membuat Samut dan Taek baikan akhirnya berhasil. Keadaan yang sempat sepi tadi kini kembali ramai ketika Gun memainkan gitarnya lagi.

Sementara di lorong apartemen, Taek membawa Samut yang bersusah payah berjalan dengan normal menuju lift terdekat. Mereka menunggu pintu lift itu terbuka, sesekali Taek akan menyeringai saat melirik Samut dengan nafas yang tak beraturan, sudah tidak tahan.

Dan ketika pintu lift itu terbuka, mereka disambut Tanrak, Heart dan Liming yang baru saja datang.

“Aow, Taek?” Liming bertanya sambil berjalan keluar dari lift.

Yang ditanya mengangguk senang, berjalan masuk ke dalam lift dan memencet tombol di samping pintu. “Kami pulang dulu ya! Btw Tanrak, Barth ga minum kok, tenang aja.”

Dan pintu lift tertutup.

Ketiga orang itu memandang lift yang sudah bergerak ke lantai bawah, masih heran dengan sikap Taek dan Samut yang tampak mencurigakan. Liming awalnya tak ingin terlalu memikirkan hal itu, tapi melihat wajah Heart yang memerah dan terkejut, Liming ikut penasaran.

“Heart, kenapa?” Liming menepuk bahu heart, lalu bertanya pada sang kekasih menggunakan bahasa isyarat.

Namun Heart tak menjawab, dia hanya tersenyum seolah apa yang dilihatnya bukanlah apa-apa. Heart dengan gemas menarik-narik tangan Liming agar segera bergerak menuju unit apartemen Tinn, membuat sang kekasih tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Heart.

“Wajah Samut merah sekali, apartemen Tinn panas ya?” Kali ini Tanrak yang bertanya.

Perlahan-lahan Liming mulai mengumpulkan informasi di kepalanya, hingga akhirnya mencapai suatu kesimpulan yang membuatnya terkekeh geli. Dia melirik Heart, berpura-pura tak menyadari tatapan Liming disampingnya.

“Ohh, dasar pasangan mesum.” Liming memutar matanya sambil membatin.

 

♪♪♪

 

Brak!

Pintu kamar dibanting kuat-kuat. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan Samut.

Punggung Taek terasa sakit luar biasa setelah bertabrakan dengan dinding kamar yang dingin, tapi rasa sakit itu seakan hilang ketika Samut tiba-tiba melahap bibirnya. Kali ini Samut tidak lembut seperti biasa, bibir itu dengan kasar menarik dan melumat Taek. Tangannya dengan kasar membuka semua kancing kemeja yang dipakai oleh Taek, mengekspos tubuh bagian atasnya.

“Baru satu minggu dan lo udah kayak gini.” Ucap Taek di sela-sela ciuman mereka, tersentak disaat tangan Samut mencengkram pinggangnya kuat-kuat.

Samut tidak hanya melumat, dia memakan bibir Taek seolah itu satu-satunya permen di dunia ini. Samut menggigit kuat-kuat bibir Taek hingga berdarah, lalu memakai kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya kedalam dan mencekik Taek lebih kuat.

Tangan Samut tak tinggal diam. Yang kanan menarik pinggang Taek agar menempel dengannya, menggesek penis mereka yang masih terhalang celana hingga Taek mendesah nikmat. Sementara yang kiri menjelajahi tak segan-segan menjelajahi tubuh Taek yang telah terbuka, mengusap setiap inci kulit itu tanpa melewatkan satu titik pun. 

Setelah puas dengan bibir Taek, Samut beralih ke leher sang kekasih. Lidahnya dengan jeli menjilat tiap butir keringat di kulit putih itu, menggigit jakunnya hingga Taek reflek melengkungkan tubuhnya. Jemari Samut mulai menemukan puting Taek dan bermain dengan mereka, memutarnya, menarik dan menekan hingga Taek menggila.

Dibarengi dengan itu semua, Samut tak lupa menggesekkan kedua celana mereka lagi, mengirimkan getaran hebat ke sekujur tubuh Taek. Mulutnya terbuka tanpa perintah, mengeluarkan suara kasar di tiap gesekan. Leher Taek di gigit, dihisap hingga meninggalkan bekas kemerahan yang tak akan hilang dalam waktu dekat. 

Semua stimulasi itu membuat kaki Taek lemas, dirinya hampir terjatuh disaat Samut dengan sigap menahannya dan membawanya ke tempat tidur untuk membaringkan sang kekasih. Samut berlutut di atas Taek, menunduk untuk menjilati busung dada yang menggoda itu. Penis Taek berkedut saat Samut menjilat putingnya yang sudah tegang, menghisapnya kuat-kuat seperti bayi yang haus susu.

Meskipun mulutnya sibuk dengan puting Taek, tangan Samut tak tinggal diam. Perlahan Samut membawa tangannya untuk membuka resleting celana Taek, lalu menariknya ke bawah hingga menyisakan celana dalam yang juga ikut ditarik. Samut akhirnya mendongak, menjilat bibirnya sambil memperhatikan Taek yang sudah telanjang di bawahnya, menangis, meminta perhatian.

Awalnya Samut meraih laci disamping tempat tidur guna mencari pelumas dan kondom, tapi tindakan itu dihentikan oleh Taek.

Why?

Taek menelan ludah, “Ga perlu.”

Mendapati tatapan heran Samut, Taek akhirnya membuka kedua kakinya lebar-lebar dan memperlihatkan segalanya kepada Samut. Betapa terkejutnya sang kekasih mendapati lubang Taek yang disumbat oleh vibrator favoritnya yang sering dimainkan ketika jauh dari Samut. Cairan pra-ejakulasi mengalir ke pinggiran lubang Taek, getaran kecil mainan itu berdengung di dalam, sesuatu yang telah membuat Taek berkeringat sejak lama.

No way… kamu pake ini sejak kapan?” Samut menarik vibrator itu, lalu mendorongnya lagi dalam-dalam.

Since- ah! Since morning, I think?” Taek menggigit bibirnya sendiri, setetes air mata mengalir saat merasakan mainan itu hampir mencapai titik manisnya.

Reaksi itu membuat Samut menyeringai, dia baru saja mendapatkan fakta bahwa yang merindukan hubungan ini bukan hanya dirinya, melainkan Taek juga. Jadi dia kembali mencium bibir Taek, sambil memaju mundurkan mainan itu dengan tangannya. Hal itu membuat Taek berteriak dalam ciuman mereka, getaran dan dorongan dari mainan itu membuat penisnya mengeluarkan lebih banyak cairan.

Memang benar, Taek juga merindukan mereka. Dia tidak bisa hidup satu hari tanpa merasakan penis Samut menusuknya dalam-dalam, atau mencicipi bibir Samut dan menebak lip balm apa yang dipakai kekasihnya. Dia tidak bisa tidur sebelum Samut menidurinya, Taek tak dapat bermimpi jika Samut belum menghiasi wajahnya dengan ciuman. 

Dan Samut diam-diam menikmati cara Taek mencari pengalihan dari obsesinya hanya karena gengsi. Samut tau, dia selalu tau Taek membutuhkannya.

“Jadi kamu lebih milih main sama mainan ini daripada minta aku tidurin kamu?”

Samut mendorong lebih dalam.

Eng- uh! Nggak gitu!”

“Kamu setengah ereksi dari pagi, hmm?” 

Mainan itu masuk, lebih dalam.

“Bukan- engh! Oh God!”

Samut semakin mempercepat tangannya mendorong mainan itu, hingga Taek mendongak penuh nikmat.

Answer me, Taek.

Angh! Samut! Samut, please gue ga mau keluar dulu!” 

Taek dengan cepat menarik Samut ke dekapannya, memaksa Samut melepas pegangannya pada mainan itu dan membalas pelukan Taek. Wajah mereka begitu dekat, Samut dapat melihat ekspresi Taek yang benar-benar membutuhkannya sekarang, ingin dihancurkan.

I wanna feel yours, I want to cum with your dick inside me, please…” akhirnya Taek mengalah, kerinduannya akan Samut selama seminggu ini mencapai batasnya.

Dibawahnya, Taek benar-benar menderita. Nafasnya yang terengah-engah itu membuktikan betapa dia membutuhkan Samut, menginginkannya untuk menghancurkan tubuhnya disaat itu juga. Dia meminta kenikmatan, dan Samut… dengan rela memberikan itu kepada kekasihnya.

Samut menyeringai, “As you wish.

Dengan begitu, Samut mulai bergerak. Dia mengambil beberapa kondom dan pelumas dari laci, menghiraukan protes Taek yang tak ingin memakai itu semua, tapi Samut tak ingin sang kekasih menderita. Dia perlahan mengeluarkan vibrator yang masih bergetar pelan itu, memicu geraman rendah dari Taek. Perasaan kosong itu tiba-tiba menghantamnya, tapi gairah itu kembali bangkit saat memperhatikan Samut membuka celana, mengeluarkan penisnya yang sudah tegang itu dan memakai kondom serta menuangkan pelumas yang banyak.

Samut memposisikan miliknya di depan lubang Taek, lalu seolah sudah menjadi kebiasaan, dia mencium bibir Taek sembari pelan-pelan memasukkan miliknya. Taek menahan nafas saat merasakan penis Samut mengisinya, milik Samut masuk begitu mudah mengingat lubang itu telah longgar oleh vibrator yang sejak pagi menjalankan tugasnya. 

Melepas ciumannya, Samut tak segan-segan menarik dan mendorong miliknya tanpa memberikan Taek waktu untuk terbiasa. Dia mengangkat betis Taek untuk ditaruh di atas bahunya, kemudian kembali mendorong dalam-dalam. 

Perasaan rindu akan penis Samut itu akhirnya terbayarkan. Erangan Taek yang tak tau malu bergema tiap Samut menusuk lubangnya tanpa belas kasih, memantulkan tubuh Taek keatas dan kebawah menyesuaikan dorongan Samut. Lengannya dikalungkan di leher sang dominan, kukunya mencakar punggung Samut dan meninggalkan garis kemerahan panjang. 

“Sa- ngh! Samut, more please… I need more.” Erangan Taek tak terkendali, kepalanya mendongak ke atas saat Samut membawanya ke surga.

Selama berhubungan intim, Samut jarang berbicara. Tapi apapun perintah Taek, Samut akan selalu menurutinya. Dia berhenti sejenak untuk mengganti sudut, lalu kembali mendorong hingga kepala penisnya menyentuh titik manis yang sudah Samut kenal.

Ah! There!” tubuh Taek kejang saat Samut mencapai titik yang sejak pagi tak pernah dicapai oleh vibrator yang dipakainya.

Ritme dorongan Samut semakin tak terkendali, suara kulit bertemu kulit bergema di kamar itu. Taek mendesah penuh nikmat, dirinya telah merindukan perasaan ini sejak seminggu yang lalu, dan saat dia mendapatkannya, Taek menjadi gila. Pikirannya kabur dan tubuhnya menegang tiap kali Samut menyentuh titik manisnya, setiap dorongan penis Samut membakar pahanya yang sudah tidak bisa dirasakan lagi.

Samut membenamkan wajahnya ke leher Taek, menggigit keras kulit seputih susu itu sambil mencoba mempertahankan dorongannya yang berantakan. Namanya diucapkan Taek di tiap tusukan, menjadi sebuah obsesi baru bagi Samut. Erangan Taek berubah menjadi pilu, suaranya pecah saat tubuhnya menginginkan pelepasan yang sudah dinanti sejak lama.

Detik-detik berlalu, Taek mulai merasakan bagian bawah perutnya memanas. Cengkeramannya pada rambut Samut semakin kencang, air mata yang menggenang akhirnya jatuh melewati pipinya. Samut mengecup sudut mata Taek, membisikkan kata-kata semangat di dekat telinga yang mengirimkan gelombang panas kepada Taek. Satu tangannya bermain dengan puting susu milik Taek yang basah oleh keringat.

Perasaan yang berlebihan dari penis Samut yang mengoyak lubangnya, ditambah jemari Samut yang lihai memainkan putingnya. Itu berlebihan, sangat berlebihan hingga akhirnya Taek mencapai batasnya.

Orgasme meledak keluar dari dirinya, tubuhnya melengkung bak malaikat yang jatuh ke neraka. Untaian sperma tumpah berantakan diatas perutnya sendiri, dahsyat dan tak terkendali. Suara Taek yang serak berubah menjadi Isak tangis saat klimaks yang nikmat itu menguasai dirinya, tiap tarikan nafas terdengar kotor.

Tangan Taek lemas dan jatuh ke atas seprai, pandangannya kabur disaat merasakan Samut mencium pipinya dengan lembut. Tindakan itu menghangatkan hati Taek, setidaknya sebelum Samut dengan mudah membalikkan tubuhnya hingga ke posisi tengkurap.

Perasaan pasca orgasme tadi membuat Taek buta akan satu hal, Samut masih belum mencapai klimaks.

Can we do it again, please?” Samut berbisik dari belakang tepat disamping telinga Taek.

Dengan nafas yang masih tak beraturan, Taek terkekeh geli. “Lo ga butuh izin buat itu, btw.”

Tanpa memberikan Taek waktu untuk beristirahat, Samut kembali mendorong pinggulnya. Perlahan penis Taek yang baru mengeluarkan muatannya itu kembali tegang saat mendapat kenikmatan dari belakang. Taek membenamkan wajahnya ke bantal, menggenggam erat-erat seprai yang sudah kusut untuk menahan rangsangan yang berlebihan. 

Samut mengatur kecepatan yang stabil, menggesekkan tubuhnya kedalam Taek demi mencari kenikmatan sendiri. Dadanya menempel di punggung Taek, menekan tubuh sang kekasih yang erangannya terendam bantal.

Mfph… fuck, it's so good.” Taek yang sudah kehilangan akal bergumam tak berdaya, yang dia rasakan saat ini adalah betapa dalamnya penis Samut mendorong lubangnya. 

Taek tidak menyukai posisi ini, dia tidak bisa melihat wajah Samut yang menerima kenikmatan itu. Tapi perasaan ditiduri dari belakang, penisnya bergesekan dengan seprai yang basah akibat cairan pra-ejakulasi, sama halnya dengan putingnya yang sensitif dan merah beradu dengan seprai kasar. 

Di belakangnya, Taek mendengar rintihan nikmat Samut yang terdengar panas. Cara Taek menyelimuti dan menekan penisnya di dalam sana membuat Samut kehilangan akal, mendorong lebih keras dan keras hingga membuat Taek menegang seketika. Tiap erangan Taek membuat Samut lebih bersemangat menyiksa sang kekasih, hanya untuk mencari kenikmatan sendiri yang belum tercapai.

Dengan perasaan bersalah, Samut mencengkram kedua pergelangan tangan Taek dan menekannya ke seprai. 

“Maaf.”

“Huh- AHH! Samut, bentar- hngh!” 

Tanpa izin, ritme yang beraturan itu kini berubah menjadi dorongan brutal tanpa belas kasih. Tiap dorongan menekan tubuh Taek ke tempat tidur, tangannya yang dicengkeram erat tidak dapat membantu Taek menahan diri sendiri. Suara kulit beradu dan erangan Taek teredam di atas seprai, sementara rintihan Samut semakin terdengar tiap dorongannya.

Isak tangis Taek ikut terdengar, tubuhnya dibuat remuk oleh Samut yang tak terkendali. Penisnya mengeluarkan lebih banyak cairan diatas seprai, suara decitan ranjang memekakkan telinga Taek. 

Samut membenamkan wajahnya di bagian belakang leher Taek, menggigit-gigit kulit yang memerah itu demi melampiaskan kenikmatan yang dia rasakan. Tubuh bagian bawah Samut menegang seketika, dan dia tau dia akan keluar cepat atau lambat. Dengan itu, Samut meraih penis Taek dan mengocoknya terburu-buru. Sang kekasih dibawahnya menjerit sambil menopang tubuhnya, tak tau harus merasakan yang mana ketika dia diberikan kenikmatan disana sini.

Together?

Suara Samut yang rendah memecahkan sesuatu di dalam diri Taek, erangannya tertahan saat penisnya kembali menumpahkan sperma ke seprai hingga basah sempurna. Sementara Samut menggigit bahu Taek sambil mengeluarkan muatannya di dalam tubuh sang kekasih, menghabiskan semua hasrat yang telah dipendam sendiri selama ini.

Seketika, Samut menjatuhkan tubuhnya diatas punggung Taek. Keduanya bernafas tak beraturan, mencari udara segar yang tercampur dengan aroma khas setelah sex. Samut memberikan ciuman-ciuman kecil di leher bagian belakang Taek, mendapati sang kekasih diam-diam menikmati perlakuan hangat itu.

Setelah beberapa lama dalam keheningan, Samut menarik penisnya dan membuang kondom yang dia pakai. 

“Biar aku bersihkan, kamu mandi dulu ya?” pinta Samut dengan suara rendah penuh kepedulian, mengecup singkat leher Taek sebelum bangkit dari tempat tidur.

Taek, yang sudah tak sanggup berbuat apapun hanya bisa mengangguk setuju. Dia hanya berbaring di tempat tidur ketika mendengar Samut menyiapkan air hangat di kamar mandi, tak beberapa lama kembali hanya menggunakan celana pendek dan menggendong Taek ke kamar mandi. Perlahan tapi pasti Samut menurunkan Taek di bak mandi, mengecup pelipis sang kekasih sebelum membiarkan Taek membersihkan diri.

Berendam di air hangat, telinga Taek memerah setelah sadar bahwa dia akhirnya kembali ke rutinitas biasanya dengan Samut. Aftercare yang diberikan Samut selalu membuat Taek terkesan, dia hanya perlu beristirahat sambil berendam di air hangat sementara Samut akan membersihkan tempat tidur mereka tanpa diminta. Ini sebuah kebiasaan kecil yang sangat Taek suka.

Sesudah merasakan kulitnya meleleh di air, Samut datang dan mengangkat Taek lalu mendudukkannya di atas toilet. Dia mengeringkan rambut sang kekasih, lalu menuntunnya keluar kamar mandi dan memakaikan piyama bergambar Snoopy yang terlalu besar untuk Taek. Setelah siap dengan sang kekasih, giliran Samut yang membersihkan diri, sementara Taek berbaring di tempat tidur yang sudah bersih sambil menunggu.

Beberapa menit kemudian, Samut keluar dari kamar mandi. Bertelanjang dada, hanya menutupi pinggangnya dengan handuk basah. Tak butuh waktu lama bagi Samut untuk mengancingkan bajunya, tak menunda waktu untuk berbaring disamping Taek dan menarik selimut menutupi mereka berdua.

“Lo pake sabun gue?” Taek bertanya setelah mencium aroma sabunnya dari tubuh Samut.

“Wanginya enak.” Jawab Samut dengan santai.

“Tapi itu sabun gue!” Taek memukul bahu Samut.

“Kita bisa beli lagi nanti.”

Alasan itu membuat Taek mencubit lengan Samut kuat-kuat, membuat sang kekasih meringis kesakitan sebelum kemudian terkekeh geli. Tak sampai disitu, Samut membalas dengan menggelitik perut Taek hingga tertawa terbahak-bahak. Taek berusaha menjauhkan tangan Samut dengan tawa yang bergema, sementara Samut masih belum menyerah melihat wajah bahagia sang kekasih.

Keduanya berhenti setelah Taek berulang kali mengucapkan kata menyerah dan berbaring telentang sambil menarik nafas dalam-dalam, sementara Samut hanya memperhatikan dari samping, mengamati wajah cantik Taek yang begitu memukau. Yang dipandang menyadari tatapan Samut, menyeringai berusaha menyembunyikan telinganya yang merah.

Samut tersenyum, perlahan tapi pasti dia membawa Taek untuk mendekat, menjadikan dadanya sebagai sandaran. Dia mengelus punggung sang kekasih sebagai permintaan maaf diam-diam karena telah bersikap kasar tadi, Samut tidak perlu mengucapkannya karena Taek akan selalu mengerti apa yang dia pikirkan.

Should we go on a date tomorrow?” bisik Samut kepada Taek yang telah memejamkan matanya.

Taek menggeleng, “Gue ada kelas besok.”

Mendengar hal itu tanpa sadar membuat Samut murung, dia hanya ingin mencari cara untuk membalas kesalahannya. Tapi apa boleh buat jika sang kekasih tidak punya waktu? Samut bukan orang yang suka memaksa, walau di dalam hati dia diam-diam bersedih.

Disisi lain, Taek yang menyadari perubahan suasana hati Samut tersenyum licik. Dia berbaring semakin dekat dan menaruh kepalanya tepat di atas dada Samut, mendengar suara detak jantung sang kekasih.

“Bercanda,” Taek terkekeh kecil, “Jelek banget mukanya kayak anjing ga dikasih cemilan.” 

Seketika senyum Samut kembali, dia memeluk Taek lebih erat dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh sang kekasih. Tak sampai disitu, Taek juga menggesekkan hidungnya ke dada sang dominan yang tertawa karena tingkah imutnya. Keduanya memutuskan untuk tidur setelah Samut memberikan ciuman selamat malam di pucuk kepala Taek.

Ruangan yang panas tadi kini menjadi dingin karena perubahan suasana di dalamnya. Samut memeluk Taek erat-erat seolah takut Taek akan pergi dari pelukannya, sementara Taek menikmati tiap elusan Samut di punggungnya yang masih terasa sakit. 

Mereka bertengkar, namun masalah akan selalu selesai dengan cara mereka sendiri. Meskipun Samut dan Taek memiliki sifat yang berbeda, entah bagaimana mereka berhasil membangun hubungan yang bertahan hingga sekarang. Samut tak lagi hidup dalam kesendirian, sementara Taek akhirnya punya seseorang yang mampu mengatasi sikapnya.

 

Notes:

Akun aku hilang🧍🏻‍♀️