Actions

Work Header

these are the days that follow you home (bonus chapter)

Summary:

The untold stories from the days in-between from Jaehyun & Sungho's PhD life.

Notes:

alias ini kompilasi short narration dari au yang di twitter ya because i know some of you kan tidak baca panels disana, which is TOTALLY FINEEEEEE sumpah gpp bgt, i tried to make the narrations bisa stand-alone, but still i hope these will fill-in some blanks. ilysm if you're still reading all of my word-vomit sjsjs karena bentar bentar lagi udah mau selesaiii!

Work Text:

i. it's an ordinary monday

♬ AFTER - OUTBOUND

"I meant everything I told you, Sungho. But I'm never going to do anything you don't want to do."

Lagi-lagi Sungho dibuat pusing oleh Jaehyun dan rentetan kata-katanya. Sungho menimbang-nimbang ponsel di tangannya, menunggu balasan yang sebenarnya sudah diutarakan Jaehyun yang ia dengar samar-samar, teredam oleh pintu kamarnya.

Aneh bagi Sungho untuk menyadari bagaimana ruangan yang tadinya hampir secara eksplisit dia deskripsikan sebagai kamar Jaehyun, berubah menjadi "kamarnya" juga.

Berapa banyak yang sudah Jaehyun korbankan untuknya? Kadang Sungho terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai kepentingan Jaehyun terlintas dari benaknya.

Sungho bahkan tidak memikirkan kalau dengan menikahinya, Jaehyun melepaskan segala kemungkinan untuk berkencan beneran (dengan orang lain, of course).

And not to mention, the "physical" aspects of it… yang Sungho sempat pikir tidak penting.

Alamak, betapa gak tahu dirinya kamu, Park Sungho!

Perlahan dia bangkit dari duduknya di kasur, membuka pintu kamar yang ternyata sedang disandari oleh Jaehyun—membuat yang empunya apartemen hampir jatuh tersungkur.

"Sshi—bilang-bilang kek!"

"Ya mana aku tahu kamu nyender gitu!" Sungho menyalak balik.

"Huft."

Jaehyun mengebas-ngebaskan tangan untuk membersihkan celananya—membuat Sungho sadar kalau sedari tadi Jaehyun duduk di lantai. "Kamu gapapa?" tanya Sungho pada akhirnya.

Jaehyun mengangguk, demeanor-nya berubah kembali menjadi santai. That's the thing about Jae yang telah Sungho sadari sejak awal—Jaehyun bukan tipe yang menyimpan dendam. Kalau situasinya dibalik dan Jaehyun bertingkah seperti Sungho barusan, mungkin Sungho sudah menenggelamkan Jaehyun di Danau Cayuga dekat kampus mereka by 5 am the next morning. Tapi Jaehyun bukan orang seperti itu—and Sungho thank any god listening that Jaehyun isn't.

"Aku udah self-reflect kok. Intinya jangan coba aneh-aneh sama kamu, kan?"

Sungho bergeming. Dia sendiri tidak tahu apa intinya membuat-buat masalah seperti barusan. Apa dia tersinggung karena dianggap aseksual oleh Sanghyuk? Sebenarnya tidak juga—tidak ada yang salah dari menjadi aseksual. Namun diskursus ini membuat Sungho berpikir tentang betapa jomblonya dia selama ini sampai-sampai temannya berprasangka seperti itu. Has he really been neglecting his love life that much? Kapan terakhir kali dia pergi kencan? Has he been on a date since he moved to New York?

Holy fuck—did the last time he had intercourse was when he was still living in Seoul?

Oke. Mungkin hipotesis Sanghyuk tidak seganjil itu.

"Dari kapan kamu suka sama aku?"

Pertanyaan itu datang dari Sungho tanpa peringatan—Jaehyun yang sudah terbiasa dengan tingkah laku tidak terduga Sungho pun tidak bisa menutupi ekspresi terkejut yang terpampang di wajahnya karena pernyataan "suami"nya barusan.

"Kamu masih mabuk ya?"

"Tinggal bilang gak mau jawab kalau memang sungkan. Jangan ganti topik kaya—"

"Hari kedua orientasi."

Sungho memiringkan kepala, bingung. Seaneh apa pun pertanyaannya, dia tidak menyangka jawaban yang keluar dari mulut Jaehyun bakal sama tak terduganya.

"I spilled that wine on you on the third day."

Jaehyun tersenyum simpul. Agak meledek bahkan, kalau Sungho perhatikan baik-baik.

"Memang."

 

 


 

 

ii. and oh, what else can i do?

♬ INHALER - IT WON'T ALWAYS BE LIKE THIS

Selagi memutar cup es kopinya di tangan, Sungho mencorat-coret kertas yang tadinya merupakan bagian dari binder catatan biologinya dengan sketsa kasar gambar taman botani Cornell dan Jaehyun yang sedang meneguk kopi dari gelas miliknya. Dia duduk menghadap ke samping di bangku taman, so Sungho got a good view of his side profile. Hidungnya yang bangir, dagunya yang tegas membentuk garis sempurna dengan rahangnya. Sungho jadi teringat pahatan David milik Michaelangelo yang pernah dia lihat secara langsung sekali ketika ia dan Minjeong, seniornya di Yonsei dahulu, berkunjung ke Galeri Accademia saat mereka ada konferensi biomaterial di Florence. Kalau Jaehyun hidup di masa yang sama dengan sang pujangga, bisa jadi Jaehyun sudah dijadikan objek inspirasinya—his muse.

Jaehyun has always been handsome, Sungho knows that. He wasn't blind.

But lately he's… breathtaking.

Dia tampak begitu tenang basking in the sun, seperti golden retriever yang sedang istirahat setelah lelah berlarian di taman. Ada kantung mata samar yang bisa Sungho lihat di bawah kelopak matanya, konsekuensi dari waktu tidurnya yang belakangan dialihkan untuk all-nighter mengerjakan disertasinya. Sebenarnya beban pekerjaan mereka kurang lebih sama, namun Sungho paham betul kalau komite disertasi Jaehyun itu 200% lebih… galak dan kritikal dibanding komite Sungho—dan mayoritas mahasiswa cohort mereka bahkan, kalau harus jujur.

"Udah lama ga kesini ya?" tanya Jaehyun retoris.

Tangan Sungho tidak berhenti bergerak, berusaha menangkap Jaehyun saat itu di kertasnya.

"Gak pernah sempet," jawab Sungho. "Terakhir kali lewat sini juga waktu aku lari dari perpus ke lab Leland waktu aku minta reagen sama temenku."

"Kenapa… lewat sini?"

"It's a shortcut. Technically."

Jaehyun terkekeh, "I see."

Menyelipkan kertas sketsanya kembali ke dalam binder asalnya, menyerah berusaha menangkap keindahan di hadapannya ke dalam kertas, lalu Sungho melipat kedua tangannya di meja piknik tersebut.

"So, what's so important that we have to come all the way here so you could talk about it?"

Jaehyun mengernyit, bibirnya sedikit mengerucut lucu. Sungho harus menghentikan dirinya dari memikirkan rasanya mencium bibir tebal itu. Will it taste like the hazelnut latte he just had?

"Gak enak aja kalo ngobrol di perpustakaan. Ini exam week for the undergrads tau."

Dahi Sungho mengerut, kalimat barusan merupakan informasi baru baginya. Pantas saja spot favoritnya sudah diambil orang tadi, dan betapa penuhnya perpustakaan itu. Bisa-bisanya dia tidak sadar.

"Also, aku gamau ngambil risiko didenger orang," tambah Jaehyun. "Imagine getting kicked out of Cornell for a sham marriage," Jaehyun sempat memutar bola matanya sedikit, namun kalau Sungho memang tidak sedang memandanginya lamat-lamat—Sungho mungkin tidak akan menyadari gestur kecil itu.

"Oh, baby, what's a sham about us?" balas Sungho dengan nada bercanda.

Namun tampaknya Jaehyun tidak menerima senda gurau dari Sungho tersebut sebaik yang Sungho pikir. "Just because now we fuck around kalau lagi pengen bukan berarti pernikahan kita jadi beneran."

Sungho tidak menyangka Jaehyun akan mendeskripsikan situasi mereka seblak-blakan itu, "You're right, sorry."

Sepertinya reaksi Sungho terhadap kalimatnya barusan membuat Jaehyun menyadari betapa terdengar kasar pernyataannya.

"Look, Sungho—" mulai Jaehyun. Dia menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku tau kamu mikir kalau cuma kamu yang diuntungin disini. Tapi aku… I took advantage of you too."

Sungho merasakan perih pada jari-jarinya. Ketika dia menunduk untuk melihat tangannya, ternyata tanpa sadar dia sudah mengeleteki kutikelnya hingga memerah, kalau ia tidak menghentikan dirinya sendiri barusan—mungkin ujung pangkal kukunya bakal berdarah.

"Aku nggak ngerasa—"

Jaehyun memotong kalimat Sungho. "Kamu mungkin ngerasa aku ngga dapet apa-apa, Sung. But you would have never kissed me had I not set this up. You wouldn't have lived with me. You wouldn't have slept with me. You would've never thought about doing any of that. These things… yang udah lama kubayangin di kepalaku sendiri.

"Do you know how it makes me feel? Rasanya kaya… kaya kamu cuma bayar utang ke aku karena 'bantuin' kamu. Not because you want to, not out of your own volition, but because you feel like you have to please me kalau engga aku bakal berhenti bantuin kamu, kan?"

Sungho ingin membantah tuduhan itu mentah-mentah, tapi tidak satu kata pun bisa berhasil melalui tenggorokannya—lidahnya kelu. Karena membantah pernyataan Jaehyun itu berarti berbohong.

And Sungho had lied to so many people, but he cannot lie to Jaehyun. Not his Jaehyun.

Sure, Sungho enjoyed having sex with him. Tapi apabila Sungho tidak tahu kalau berhubungan badan dengan Jaehyun bisa membantunya menyamakan kedudukan dengan pria yang terang-terangan sudah jatuh cinta padanya itu, Sungho mungkin tidak akan mau mencoba.

Ya Tuhan.

 

 

Park Sungho is an asshole. A selfish, unfeeling asshole.

 

 


 

 

 iii. it's physical, only logical

♬ TINA TURNER - WHAT'S LOVE GOT TO DO WITH IT?

Tangan Sungho yang mencengkeram rahang Jaehyun masih basah karena rintik hujan yang ia jemput melalui jendela yang setengah terbuka. Dia tidak bisa menahan diri, biasanya New York City bau. Sampah, bau busuk, pesing—you name it. Tapi Kota Tidak Pernah Tidur itu setelah hujan masih bisa menghasilkan aroma yang terasa menenangkan.

Mungkin sebagian karena hujan, mungkin karena Sungho ingin. Tetapi dia sedang bahagia sekali malam ini—rintik hujan, aroma petrichor, alunan musik 80an dari radio, dan aftershave Jaehyun yang malah makin kentara baunya setelah mereka berkeringat karena berlari-lari trying to outrun the rain and failing. Tapi saat ini Sungho ingin menciumnya.

So, he did.

Baru saja mereka melewati Hell's Kitchen, dan sekarang mereka sedang berhenti di sebuah perempatan dengan lampu lalu lintas yang berpijar merah tidak jauh dari tujuan mereka, Midtown Manhattan—dimana townhouse milik keluarga Jaehyun bersarang. Rumah Eomma, biasa mereka menyebutnya. Rintik gerimis masih mengguyur aspal di luar dengan ritme yang hampir seragam, like a baseline on the pop song playing on the radio right now.

Waktu Sungho menoleh ke arah kursi pengemudi, Jaehyun ternyata juga sedang memandang ke arahnya. Mata lebarnya seakan menusuk belati langsung ke netra Sungho, bukan lagi seperti golden retriever yang kelelahan karena diajak bermain, tetapi seperti anjing gembala jerman yang sedang berburu di Cagar Hutan Catskill.

Cengkraman Sungho di rahang Jaehyun baru mengencang ketika Jaehyun ikut meraih kerah jas tuxedonya—yang sebenarnya milik Jaehyun—turut menarik Sungho lebih dekat, memperdalam pagutan bibir mereka. Ibu jari Sungho yang tadinya digunakan untuk menekan rahang suaminya bersama dengan telunjuk berpindah, melemahkan cengkramannya agar jarinya tersebut bisa melesak masuk ke mulut Jaehyun.

Ketika Sungho menarik diri, dia menemukan Jaehyun masih dengan mata yang tertutup, menyesap ibu jarinya seakan ada madu yang bisa keluar dari celah kukunya. Sungho tidak bisa tidak berpikir betapa terlihat putus asanya Jaehyun saat itu, dan betapa Sungho menginginkannya.

Tetapi lampu lalu lintas itu berubah hijau, dan momen tersebut seakan ikut padam bersama lampu merah yang berkedip mati.

 

 

Eomma masih bangun ketika mereka sampai rumah, Sungho menggunakan kesempatan itu untuk menghindari harus membahas kejadian barusan dengan Jaehyun. Yang dihindari juga langsung melenggang masuk ke kamar, mungkin untuk bebersih dan berganti baju, membiarkan Sungho bercakap dengan sang Ibu.

Meskipun Eomma sempat memicingkan matanya karena tingkah laku Jaehyun barusan, beliau tidak mengungkitnya kepada Sungho—dan alih-alih bertanya tentang pertunjukkan Broadway yang baru mereka tonton. Sungho menjawab dengan senang hati, bahkan menyanyikan beberapa bait lagu-lagunya kepada Eomma.

 

 

It was 12:58 when Jaehyun finally resurfaced from inside the bedroom.

Eomma sudah lama kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur, dan sedari tadi Sungho menghibur diri dengan menyalakan televisi dengan volume paling rendah. Menonton tayangan langsung Saturday Night Live tanpa lampu karena sedari tadi sudah ia padamkan, like the “New Yorker” he is.

“Sungho,” panggil Jaehyun kala itu.

Sungho menoleh, menyingkirkan pandangannya dari penampilan musical guest acara tersebut. Jaehyun berdiri beberapa meter dari sofa tempatnya duduk, sebuah kaos band lama yang sudah pudar sablonnya membalut badan, bersama dengan celana pendek bergambar anak anjing.

Dapat Sungho perhatikan kalau ada pertanyaan yang menggantung di ujung lidah Jaehyun, tetapi dia masih berjuang merangkai kata-katanya.

Putting the man out of his misery, Sungho memilih untuk menjadi orang yang bertanya lebih dahulu.

"Can I kiss you like that sometimes?"

"Why?"

"Because a part of me really wants to."

Jaehyun terlihat seperti anak kecil di bawah cahaya remang televisi dan lampu dapur, satu-satunya lampu yang masih menyala di ruang terbuka rumah itu. Sebentar saja, Sungho seakan berhenti melihat Jaehyun si human icebreaker, Jaehyun yang selalu bisa diandalkan, Jaehyun yang selalu penuh pengertian itu.

He finally just saw Jaehyun, a man who has been begging Sungho to love him.

 

 

"And I think that part of me is falling in love with you."

 

 


 

 

iv. let july just be july

♬ LILY WILLIAMS - JULY (LATER ON)

Ketika Sungho menawarkan untuk membuatkan teh pada Jaehyun, dia tidak berpikir panjang. Tahu-tahu mereka sudah duduk berdua di dapur yang tidak terlalu besar itu, hampir bahu ke bahu, di bawah cahaya remang dari citylights yang melesak dari jendela. Apabila mereka menyalakan lampu nanti rasanya terlalu terang, tapi bila menyalakan lilin aromaterapi Sungho yang cuma berakhir jadi dekorasi di kamar mandi itu rasanya berlebihan.

So they settled for what they had.

"Masih ga mau ngomong sama aku?"

Sungho mengintip dari balik cangkirnya, untuk melihat Jaehyun dengan sebuah cengiran tipis—yang juga berusaha ia sembunyikan di balik cangkir teh.

"Aku marah beneran bingung kamu ntar," ancam Sungho, menyesap teh melatinya terlewat hati-hati. Tehnya sudah tidak terlalu panas, jadi perilakunya itu hanya untuk pertunjukkan.

"Look, what happened already happened, okay? Don't take it out on me."

"I'm not taking it out on you!"

"You can't even look at me!"

"Aaaakh!"

Sungho menutup kedua matanya dengan tangan, menyenderkan punggungnya ke kursi tinggi dapur tersebut yang sebenarnya tidak nyaman—but he doesn't have any other choice.

"Peduli apa sih mereka bilang apa? We're adults," Jaehyun menegaskan, menggunakan salah satu kakinya untuk menendang tungkai Sungho pelan. "Married ones too."

Sungho mengerang, mirip anak anjing yang sedang frustrasi karena ditinggal bermain saudara-saudaranya yang lain. "I built my image brick by brick, okay? Kamu ngga paham aku malunya kaya gimana…"

Jaehyun terlihat seperti hendak memperdebatkan pernyataan Sungho barusan, tetapi berakhir menahan diri. Karena Sungho benar. Dia tidak tahu kenapa hal ini sebegitu memalukannya bagi Sungho, sedangkan Jaehyun sudah bisa bodo amat dengan kejadian tersebut setelah lewat semalam.

"Iya, aku memang ga paham. Tapi kamu bisa bikin aku paham kan? Jelasin deh kenapa…"

"Aku bukan kamu, Jae. You're the legacy kid who sleeps around sometimes, and that makes you cool… I'm the foreigner try-hard who failed in getting 12—no, 13 grants last semester. Now they're thinking that I'm only with you because you're a rich kid I only fuck because—"

"Hey, hati-hati mulutnya, sweets."

Sungho mendengus, wajahnya masam. "Intinya gitu deh."

Jaehyun memiringkan kepala, cangkir tehnya sudah terlupakan. "Ada yang bilang gitu, kah?"

"They're saying you could've done better.

Dan kayanya aku setuju."

 

 

 

 

Jaehyun orang akademik. Dia sudah bersahabat dengan kata "bingung", hidupnya penuh ketidaktahuan yang mengemis untuk dijawab—entah dengan rangkaian percobaan atau dibalik kode-kode program. Intinya dia sudah biasa bingung. If anything, that's his default settings.

Tapi manusia lain selalu membuat Jaehyun bingung dengan bentuk yang berbeda.

Apa ini orang-orang yang sama? Yang berbisik-bisik di belakangnya tentang bagaimana dia seharusnya mendapatkan orang yang "lebih baik" daripada Sungho dengan orang-orang yang bertaruh uang kalau dia akan berakhir dengan Sungho pada akhirnya?

Orang-orang yang sudah jelas paham betapa kepalang mabuk cintanya dia pada Sungho sejak minggu pertama orientasi mahasiswa doktoral tiga tahun yang lalu.

"Park Sungho," panggil Jaehyun setelah dia memproses kalimat terakhir Sungho tadi sebaik mungkin. "Just remember that I loved you first."

 

 

 

 

Sungho tidak menyangka jawaban Jaehyun barusan. "Kamu paham the gravity of the situation gak sih?"

"I'm telling you it doesn't matter," Jaehyun menekankan. Ia menuangkan teh dari teko ke gelas Sungho yang sudah hampir kosong. "Kita ada hal lain yang lebih penting buat dipikirin, Sung. Lusa kita udah harus ke Manhattan."

"Kalau mereka bisa mikir kaya gitu, dikit lagi mereka bisa tau kalau ini cuma green card marriage—"

"Masih cuma kah, buatmu?"

Mulut Sungho menggantung terbuka. "Bukan itu maksudku."

"Kalau gitu izinin aku minta sama kamu buat gausah mikirin ini ya? Or does my opinion matter less?"

 

 


 

 

v. talk to me, like lovers do

♬ CELINE DION - TAKING CHANCES

“Before you say anything, aku ngga ngapa-ngapain ya.”

Sungho mengernyitkan dahinya, yang Jaehyun perhatikan melalui layar ponsel.

“I doubt you would,” sahut Sungho. “It’s always a ‘me’ thing.”

Giliran Jaehyun yang mengernyit karena ucapan Sungho. “Aku bukan mau mojokin kamu, Sung."

Menghempaskan seluruh badannya ke sandaran kursi, Sungho lagi-lagi mengerang. "I know," katanya—erangannya terkesan defeated di telinga Jaehyun. "Kamu tau ngga kalo aku tau kalo kamu sempet sering tidur sama Liv—?"

Cekikan yang bercampur dengan suara tercekat dari tenggorokan Jaehyun terdengar hampir persis dengan mencit penelitian Sungho, sampai-sampai sang lawan bicara menoleh ke sekitar kamar tidurnya, takut ternyata memang ada mencitnya yang terbawa pulang.

Jaehyun buru-buru merogoh gelas berisi air putih yang tadi sempat dia isi dan letakkan di atas meja di hadapannya. "Are you okay?" tanya Sungho penuh kekhawatiran.

"Gak papa, aku—" uhuk "nggak nyangka aja tiba-tiba ada bahasan tentang—" uhuk "Liv."

Mendeteksi canggung pada tingkah laku Jaehyun, Sungho menjadikan saat itu gilirannya untuk tertawa. "I don't really care about that, you know."

Menaruh perlahan gelas kaca itu setelah ia berhasil menenangkan tenggorokannya, Jaehyun memiringkan kepalanya. Eskpresi yang sulit Sungho baca menghiasi parasnya, ada hal lain yang bersembunyi di balik kacamata dan dua netranya yang seakan berkata 'lelah' itu.

"I would appreciate it more if you care though."

Kelopak mata Sungho berkedip-kedip cepat, hampir secepat kepakan sayap burung ajuk-ajuk yang sedang kabur dari pemangsa. Bahkan di bawah rasa kecewa Jaehyun karena kalimat 'tidak peduli' dari Sungho itu, Jaehyun sempat berpikir—ADUH LUCUNYA.

"Ah, bener juga. How careless of me ya—" ada kalimat yang Sungho biarkan tidak terucap. Imagine the things we'd do have I not cared so little.

Jaehyun menggeleng mendengar kalimat Sungho yang tidak selesai itu. "Ngga kaya gitu, sweets."

Sungho tersenyum tipis, menggelengkan kepala—tidak ditujukan pada Jaehyun, tapi untuk dirinya sendiri.

"Sering banget aku mikir kalau aku udah kenal diriku sendiri, so it does caught me off guard whenever something proved that wrong."

"Sesuatu yang kaya gimana? Did my having actual relationship prior to you bikin kaget?"

"Hahaha—bukan. Bukan itu," bantah Sungho santai. "I'm just surprised that it made me feel such an ugly emotion. Padahal kan, punya hubungan kaya orang-orang dewasa lain ya hal normal. I'm guilty of it too, though it's been a while."

"It's been a while for me too, sweetheart," Sungho menatapnya intens bahkan melalui layar ponsel. Jaehyun berdeham lalu memperbaiki posisi duduknya. "Ya, gak selama kamu sih," tambahnya, membenarkan kata-katanya sendiri.

Sungho mengulum senyum datar, bibirnya hampir tidak terlihat, tampangnya jadi seperti anak kecil. Dia cuma kekurangan pipi merah ceri.

"Tell me about your exes."

Wajah Jaehyun mengkerut. "Okay, didn't expect that."

Sungho mengedikkan bahunya. "Well, don't tell me about them. Tell me about how you are in those relationships, I guess."

"Nanti kamu ga suka sama aku," ujar Jaehyun. "I was kind of an asshole."

"Was I not? Ke kamu."

Pertanyaan Sungho itu terdengar begitu polos, seakan yang dia ucapkan bukan semacam pengakuan dosa. Which it was.

"Justru itu. Aku jadi mikir kalo I kinda deserve it. Like it's a karmic retribution."

"Emang separah itu?"

"Nggak juga. Tapi aku juga gatau masa lalu kamu gimana, apalagi sebelum kamu ke New York. Ga adil, ga sih?"

"I'll show you mine if you show me yours?"

"Aku udah liat semuanya tuh?"

"Bisa ga porno bentar ga? Aku udah nyimpen nomernya divorce lawyer."

 

 


 

 

vi. i pretend you're mine all the damn time

♬ TAYLOR SWIFT - DELICATE

"Disini Anda udah terdaftar sebagai pemegang visa F1 ya. Benar sudah tinggal di New York sekitar 30 bulan?"

"Benar."

"Di catatan ini kalian baru berhubungan sekitar 1 tahun?"

Sungho berdeham tidak nyaman. Matanya melirik Jaehyun yang posisi duduknya sudah hampir sepenuhnya menghadap dirinya dan bukan petugas imigrasi yang sedang membombardir mereka dengan pertanyaan. Namun dia tidak terlihat seperti hendak menjawab pertanyaan tersebut.

"Satu tahun terhitung bulan Agustus ini, benar."

"Kenapa memutuskan menikah?"

Menghela napasnya sambil tertawa canggung, Sungho lagi-lagi menjadi orang yang angkat bicara. Selain karena petugas tersebut seperti mengarahkan pertanyaan tersebut kepadanya, Jaehyun juga tidak tampak seperti akan membantu.

"Jaehyun makes me happy," Sungho pun terkejut dengan jawaban polosnya itu. Perlahan jawabannya mulai berubah menjadi tidak dibuat-buat, entah karena dorongan apa. Mungkin karena tatapan dari petugas tersebut yang seperti mengulitinya, mungkin sebagian juga karena Sungho bisa merasakan hangat dari lengan Jaehyun yang disandarkan ke punggung kursi di belakangnya. "Suami saya selalu tahu cara membuat saya tertawa, bahkan waktu saya merasa babak belur karena studi saya. You know, post-grad kicks your ass."

Sungho menawarkan sebuah tawa canggung, berharap paling tidak candaannya yang itu bisa membuat pria paruh baya yang sedang mewawancaranya ini tersenyum paling tidak sedikit saja.

"Jaehyun makes New York feels like home. And I simply don't want to be anywhere else."

Petugas imigrasi itu mengangkat alis. Ia memalingkan pandangannya ke arah Jaehyun, yang masih menatap Sungo lekat-lekat.

"Mr. Myung?"

"Saya hanya tidak ingin berpisah dengannya."

 

 


 

 

vii. i took the stars from your eyes and then i made a map

♬ FLORENCE + THE MACHINE - COSMIC LOVE

 

Florence, 4 September 2026

08.30 AM

Ternyata, mau sebagus apapun coffee machine milik Jaehyun di apartemen mereka di Ithaca, nothing can beat the real thing (kebetulan, hal ini juga sesuatu yang baru Sungho pelajari lebih dalam). Secangkir cappuccino yang sudah diminum setengah dan sebuah piring kecil dengan beberapa baked goods menghiasi meja, semuanya pesanan Sungho. Karena Jaehyun—that human magnet—sudah puas dengan espresso shot-nya yang dia minum di bar, sambil berbincang dengan pria paruh baya yang melayani mereka di kafe itu.

"Ah, from New York-uh!" seru pria itu dengan aksen kentalnya. "Banyak keluarga saya disana."

Tidak aneh, memang sekitar awal abad 20-an ada migrasi besar-besaran ke New York dari Italia—sejak bersatunya negara-negara Semenanjung Italia. Meskipun peristiwa itu sudah beratus-ratus tahun lalu, Sungho merasa bisa memahami para imigran itu. After all, dia juga pindah ke New York dengan alasan yang kurang-lebih sama—mengejar The American Dream.

"Your ehhh—marito?" tanya pria itu, sambil menunjuk Sungho yang saat itu masih sibuk memandangi etalase pastry.

Jaehyun mengernyitkan dahinya sedikit, Sungho menandai ekspresi itu sebagai wajah berpikir Jaehyun. "Marito?" ulang Jaehyun. "Married?" tebak suaminya itu, sumringah karena merasa dia berhasil menerjemahkan kalimat sang barista.

"Si! Si! Has—husband?"

Jaehyun bertepuk tangan sekali, in realization. "Ohh, yes! Ini suami saya."

"Haha, bellissimo, mi signore."

Sungho bisa merasakan tatapan Jaehyun padanya, bahkan ketika dia masih asyik memilih-milih roti apa yang inginkan. Oh, pistachio cornetto. Ternyata disini croissant disebut cornetto. Hm, aku jadi pengen es krim. Begitulah isi pikiran Sungho saat itu, ketika Jaehyun berbincang dengan senang hati bersama orang asing.

"Does that mean beautiful?" tanya Jaehyun kepada sang barista.

Pria itu mengangguk antusias, tangannya sibuk membuat gestur yang tidak Jaehyun pahami. "Bellissimo," ulang pria itu, seperti mengajak Jaehyun untuk mengulang ucapannya tersebut.

"Bellissimo," Jaehyun mencoba meniru cara barista itu menyebutkan kata tersebut. He's always been good with his tongue (in one way or another, had you asked a particular someone named Park Sungho), jadi reaksi terkesan sang barista tidak mengejutkan.

"You should tell him that many, many times," pria paruh baya tersebut menawarkan sebuah wejangan kepada Jaehyun—yang tersenyum lebar.

"I will."

 

10.00 AM

"Perasaanku aja atau gereja ini kaya… datar? Does that make sense?"

Pertanyaan Sungho agak aneh, tapi di saat yang sama, semakin lama Jaehyun memandangi Katedral Santa Maria del Fiore semakin masuk akal pengamatan suaminya itu.

"Kaya kertas."

"Nah, iya. Kaya gambar di atas kertas."

Mereka berdiri bahu-ke-bahu sambil memandangi hasil karya Arnolfo di Cambio dari abad ke-11 itu. Jaehyun wouldn't have known all that kalau Sungho tidak sibuk mendiktekan artikel Wikipedia kota Florence itu sepanjang waktu mereka berjalan kaki dari kafe tempat mereka sarapan ke alun-alun katedral itu.

Setelah memandangi gereja itu dalam diam selama hampir satu menit, Jaehyun menoleh ke arah Sungho. "Uh… gini doang?"

Sungho tertawa, memukul bahu Jaehyun bercanda—tidak terlalu keras, tapi cukup kuat hingga Jaehyun sempoyongan dalam berdirinya. "Kamu loh yang mau sightseeing."

"Hei, aku pendukung opsi B loh," singgung Jaehyun, menggunakan sikunya untuk menyenggol rusuk Sungho.

Bersedekap dengan kedua tangan di dada, Sungho berlagak seperti dia sedang mempertimbangkan kata-kata Jaehyun barusan. "Honestly, setelah liat kamar Four Seasons itu—"

"Don't threat me with a good time, jagiya—"

"Eish, aku gak authorize jagiya ya."

Jaehyun tau panggilan sayang itu keluar dari bibir Sungho sebagai candaan, tetapi jantungnya sempat berdebar begitu cepat sampai-sampai Jaehyun bisa mendengar desiran darahnya sendiri di telinga.

"Panggil aku gitu lagi dong," celetuknya—bahkan sebelum ia selesai berpikir implikasi dari permintaannya itu.

Awalnya Sungho berpikir untuk berlanjut menggoda suaminya itu, tetapi kilau di mata Jaehyun saat itu terasa begitu polos, unadulterated hingga Sungho membiarkan kata hatinya kabur dari tenggorokannya.

"I might if you're a good boy today—

Jagiya."

Tamat sudah Myung Jaehyun.

 

14.40 PM

"Manyun mulu, kenapa?"

Sungho mengernyit, memegang bibirnya. "Iya kah?"

"Mm-hmm. Don't be too self-conscious about it though. It's cute."

Jaehyun terlihat puas dengan kalimatnya barusan, kemudian ia merebut lembaran foto dari tangan Sungho—penyebab mengerucutnya bibir sang suami.

"Halah, kamu ngomong gitu tuh kalo pengen sesuatu aja," balas Sungho.

Menyeringai, Jaehyun menunjuk salah satu hasil foto mereka alih-alih memberi Sungho respon. "Disini aku juga lucu banget ga sih?"

Di foto tersebut, Sungho memeluk Jaehyun dari belakang, menyandarkan hampir seluruh badannya ke punggung suaminya.

"Harusnya kita sambil ciuman," goda Jaehyun. Though it doesn't really feel like teasing from the sincerity in his voice.

Sungho mengangkat salah satu alisnya. Arah pandangnya beralih ke booth photobox yang baru saja kembali kosong. Sepasang perempuan baru saja melangkah keluar sambil terbahak-bahak, mengambil hasil foto mereka dengan sumringah. Tanpa pikir panjang, jemarinya sudah melingkari pergelangan Jaehyun, menariknya kembali masuk ke dalam booth itu.

Jaehyun menemukan punggungnya yang menabrak dinding booth tersebut, yang syukurnya memang terbentuk dari beton dan bukan kayu tipis karena, jujur saja, dorongan Sungho cukup keras.

They don't even have another €2 coins to spend on the machine.

Tapi bukan itu tujuan Sungho menggeret mereka kembali masuk ke dalam booth.

Sedari tadi pun Jaehyun sudah ingin mencium ranum merah muda itu, namun dia menahan diri karena dia tidak begitu yakin apakah Sungho tidak apa-apa dengan public display of affection seperti itu. Mengingat rekor mereka dengan kegiatan tersebut.

Namun ada tirai di belakang, dan orang-orang di luar juga sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. So, it should be okay? Kan?

Hidung mereka sudah bertemu, Jaehyun pun hampir bisa merasakan bulu mata Sungho menyentuh miliknya. Pupil pria yang sedang berulang tahun itu mengarah ke bawah, fokusnya bukan netra Jaehyun, tetapi bibirnya.

Dengan nada yang diberat-beratkan, entah dalam upaya supaya ia tidak didengar orang lain atau karena dia ingin main-main dengan Jaehyun, Sungho berbisik dalam bahasa ibu mereka.

"나 무적건 먼저 하는거야? (Harus banget aku yang duluan?)" Ada jeda pendek, ia membiarkan Jaehyun memproses kata-katanya sekaligus mengambil napas—knowing he will need it—sebelum ia melanjutkan kalimatnya sambil membuang napasnya kasar. Menghembuskan hangat ke bibir Jaehyun. "Jagiya?"

Tentu saja Jaehyun tidak mau membuktikan perkataan Sungho barusan. Menarik kerah Sungho, Jaehyun mempertemukan bibir mereka secara serampangan. Ia mendengar dentingan di telinganya karena benturan gigi mereka, tetapi tidak satupun dari dua sejoli itu yang tampak terganggu dengan rasa ngilunya.

Manis. Jaehyun was sucking on Sungho's bottom lip and it's so sweet. Mungkin saja manis itu berasal dari es krim di affogato yang mereka makan barusan. Atau mungkin dari miele tiramisu setelahnya. Tapi rasa vanilla dan madu itu tidak semanis ini. Seseorang bisa saja menyuntikkan sakarin langsung ke darah Jaehyun dan rasanya tetap saja tidak mungkin menyaingi bibir Sungho.

Suara mengecap dari bibir mereka yang saling berukar liur terdengar erotis, panasnya hari itu juga membuat mereka berkeringat. Jaehyun rasa kalau tidak ada angin sepoi-sepoi bulan September yang menyusup dari balik tirai itu, mungkin hangat dari tubuh mereka sudah membuat embun di lensa kamera yang bahkan tidak mereka gunakan itu. Satu-satunya saksi perang lidah Jaehyun dan Sungho.

Sungho melenguh kecil ketika lidah Jaehyun melesak masuk ke mulutnya. Sungho has always been a vocal lover, and Jaehyun welcomes every proof of it each time.

"Baby," Sungho mendesah ketika Jaehyun menarik diri untuk mengambil napas. "Do you really have to go to work tomorrow?"

Shit. Fuck. Anjing. Bangsat. Crap. Fuck.

Jaehyun membiarkan kedua tangannya menjamah bokong Sungho, meremasnya dari luar celana jeansnya, sekaligus menariknya mendekat hingga pinggul mereka bertemu. Dengan begini Sungho bisa merasakan sudah betapa terangsangnya Jaehyun hanya karena beberapa kecupan saja. Thankfully, Jaehyun juga bisa merasakan kalau dia tidak sendiri.

"Kita masih punya banyak waktu kalau balik ke hotel sekarang," bisik Jaehyun kembali. Salah satu tangannya perlahan merambat ke atas, mencari keuntungan dengan menyelipkan tangan itu ke bawah pakaian Sungho. Telapak tangannya sekarang mengelus punggung bawah suaminya langsung. "And the four days after the conference."

"I hate you," gerutu Sungho.

Yet he still pulled Jaehyun for another kiss.

 

 


 

 

viii. squeeze my hand three times

♬ TAYLOR SWIFT - NEW YEAR'S DAY

Sungho mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke luar jendela, menyaksikan selagi lampu-lampu jalan mulai menyala bersama dengan terbenamnya matahari.

Ia berharap kalau getaran di tiap tarikan napas dalam usahanya menahan panas di mata yang sudah siap menjatuhkan tetesan air itu tidak disadari Jaehyun. Sungho sedang berusaha mengingat kapan terakhir kali ibunya sendiri memanggilnya seperti Eomma barusan.

And it kills Sungho a little when he realizes he couldn’t.

“Jaehyun,” panggil Sungho pelan, dia bersyukur suaranya tidak ikut bergetar.

Suaminya menggumamkan sebuah “iya”, meskipun perhatiannya masih sepenuhnya pada jalan.

“You have a lovely family,” aku Sungho, memalingkan kepalanya untuk melihat reaksi Jaehyun. Yang sedang berkendara meliriknya sebentar, namun tidak langsung merespon. Seakan ia tahu kalau Sungho belum selesai bicara. “Thank you for letting me be a part of it.”

Jaehyun mengambil tangan Sungho dengan tangan yang tadinya masih menggenggam kopling, meremasnya lemah tiga kali berturut-turut. I love you, it means.

Lalu Jaehyun membawa tangan itu mendekat ke bibirnya, menciumi punggung tangan Sungho lembut.

“Thank you for building one with me.”

 

 


 

 

ix. pull the trigger on the gun i gave you when we met

♬ GRACIE ABRAMS - CLOSE TO YOU

Sungho melirik ke ponsel Jaehyun yang baru saja bergetar dan bersinar menyala di atas meja makan di hadapannya, menunjukkan pesan masuk dari adiknya, Woonhak.

Matanya memicing ketika menyadari foto yang suaminya itu jadikan lockscreen. Dia tidak merasa janggal karena ia menemukan gambar dirinya sendiri disana, tetapi ia sedikit bingung dengan foto pilihan Jaehyun itu.

Jaehyun menaruh garpu yang ia gunakan untuk menyuapkan pasta tortellini buatan Sungho—mereka membeli terlalu banyak pasta di Florence. Tetapi tak apa, Jaehyun sepertinya masih belum bosan. Lagipula membeli beragam jenis pasta yang jarang mereka temukan di grocery store di Ithaca itu ide Jaehyun.

“Eomma nanya mau dikirimin banchan lagi gak?” tanyanya, membaca pesan Woonhak.

Sungho menggeleng, menyuapkan pasta lagi ke mulutnya. “Minimal abisin dulu tuh farfalle sama apa tuh namanya, yang kaya ravioli.”

Mengangguk-angguk, Jaehyun membalas pesan adiknya cepat, lalu kembali melesehkan ponsel itu ke meja.

“Mau nanya deh,” ujar Sungho sambil menelan makanan di mulutnya.

Jaehyun kembali meraih garpunya, mengaduk-aduk makanan di piring untuk mencampur pasta dengan sausnya lebih baik. “Shoot,” katanya, menyuapkan sebuah tortellini.

“Kenapa lockscreen-mu itu?”

“Fotomu?” tanya Jaehyun balik, alisnya mengangkat bingung. “It’s always been your picture. Before kita nikah bahkan.”

Sungho mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Bukan, maksudku, kenapa foto itu?” Sebelum Jaehyun membalas, Sungho melemparkan sebuah pertanyaan lagi. “Sebelum nikah maksudnya dari kapan?”

Maybe it’s why people thought we’re already dating, tapi kaya udah dari tahun lalu aku gonta ganti lockscreen juga pake fotomu. I have so many of your photos, you were always doing weird shit around me, it’s funny.”

Ugh, weirdo.”

You love this weirdo.”

Sungho merona, tapi ia berharap Jaehyun tidak menyadari. “Jadi kenapa foto itu?” ulangnya.

Jaehyun meraih ponselnya lagi, menunjukkan foto tersebut ke Sungho. “It’s from that night.”

Mengernyitkan dahi (bisa berkerut juga wajah Sungho lama-lama), Sungho menatap Jaehyun dengan tatapan bingung yang sama. Jawaban Jaehyun tidak memuaskan rasa penasarannya.

“The night at the bar. Where I asked you to marry me.”

 

 


 

 

x. do you believe it? we're gonna make it now

♬ TAYLOR SWIFT - MINE

“Oh, Sungho, my dear. Sorry for cancelling on you last minute the other day.”

Sungho berdiri dari duduknya dan menoleh ke sumber suara, Dr. Stokes yang baru saja masuk ke ruangan. Wanita berusia 60-an itu bergerak seperti kucing, tanpa suara dan suka mengejutkanmu tanpa pertanda apa-apa. Partly why Sungho adored her so much, mungkin.

“Bukan masalah, Prof.”

Ia berjalan masuk sambil membawa sebuah mug bertuliskan “ANTIBIOTICS WILL NEVER GO VIRAL” yang Sungho duga merupakan sebuah hadiah dari salah satu muridnya. Sebuah pun yang mungkin cuma bakal dipahami orang-orang biologi lainnya. Beliau memang agak antik seperti itu.

Ketika beliau duduk di kursi kosong di sebelah Sungho, baru mahasiswanya itu menyadari ada kerutan ekstra di antara alisnya. Benar kata Donghyun, beliau masih sedang kesal terhadap sesuatu sepertinya.

“Okay, so how’s it going with the ACS stuff?”

Sungho kalah dengan keingannya bertanya mengenai kondisi Dr. Stokes, sehingga itu yang berakhir dia lakukan alih-alih menjawab progres proposal grant-nya.

“How are you, Prof?”

Dr. Stokes kelihatan agak kaget dengan nada bicara Sungho yang terdengar serius. Beliau menaruh cangkirnya itu di meja, lalu meraih tangan Sungho dengan tangan yang tadinya masih membalut gelasnya. It was warm.

“Aku? Same old, sayang. Sedang sibuk dengan urusan rumah saja, we moved houses about a few weeks ago–dan aku masih belum terbiasa.”

Mata Sungho melebar. “Do you not like your new place?”

Dr. Stokes menggeleng, tenggelam lebih dalam ke kursinya, tangannya melepaskan pegangannya pada Sungho. “Oh, tidak sama sekali. My new house is wonderful, akhirnya aku punya cukup ruang untuk semua bukuku itu. As you know, bahkan menampungnya di kantorku sudah tidak cukup.

“Tapi aku menghabiskan 40 tahun lebih di rumah lamaku itu, my husband and I bought it in the 70s. Our first and up until recently only home. Anak-anakku besar disana. Jadi, it’s been… an adjustment.”

Sungho bergeming sebentar. Entah kenapa kata-kata profesornya itu menyentuh sesuatu dalam dirinya, he just haven’t really figured out what.

“Prof, maaf kalau ini lancang,” mulai Sungho dengan hati-hati. Dr. Stokes memiringkan kepalanya, pandangannya melembut melihat Sungho yang tiba-tiba kelihatan seperti otot bahunya baru ditarik paksa oleh salah satu malaikat tak kasat mata yang bertengger disana. “Did you live in 27 Highgate di Cayuga?”

Pandangannya ke arah Sungho makin limbung mendengar pertanyaan itu. “Did I ever tell you where I live?”

Sungho menggeleng.

“Tapi benar kok, that’s my kids' childhood home. Kamu tahu dari mana?”

“Ah–um, I’m moving there.”

Sekarang giliran Dr. Stokes yang memebelalak. “With your husband, then?”

Sungho cuma bisa menjawab dengan anggukan, entah kenapa merasa malu.

Tiba-tiba wanita paruh baya itu bertepuk tangan sekali tepat di wajah Sungho.

Well, how delightful! Asal kamu tahu, susah sekali bagiku melepas rumah itu. I think I accidentally took it out on some of you–” Sungho langsung berpikir tentang Donghyun yang sepertinya salah satu korban mood jelek Dr. Stokes “–but this makes me feel a bit better.”

Dr. Stokes bahkan menyempatkan tertawa kecil, mengeluarkan sebuah teriakan senang yang (lagi-lagi) mirip anak kucing girang.

“Saya mengambil alih rumah Anda makes you feel better?” tanya Sungho, tersenyum tipis. Tawa beliau memang menular.

“Oh, sayang. Aku punya banyak sekali kenangan indah disana. I have a hard time letting go of things, bisa jadi kamu pun sudah tahu,” matanya melirik ke mug yang ada di meja. Now that Sungho thinks about it, gelas itu terlihat sudah berumur juga.

“Untukku, you’re one of my children, and I hope you take this as a compliment–”

“Tentu saja, Prof. Saya yang merasa terhormat kalau Anda berpikir seperti itu.”

Dr. Stokes maju, punggungnya lepas dari sandarannya ke kursi. Duduknya agak condong ke arah Sungho sekarang. “Good,” ucapnya, menepuk-nepuk tangan Sungho.

“I hope that house will bring you more wonderful memories, sayang. The way it did for me and my family.

Sungho memikirkan Jaehyun.

Ia memikirkan pria yang bangun pagi sekali tiap harinya itu, hanya untuk berlari-larian mengelilingi jalan-jalan kota suburban yang tidak pernah berubah. Ia memikirkan jersey Boston Red Sox yang Jaehyun belikan untuknya, lengkap dengan set bola bisbol dan sarung tangannya bahkan–meskipun ia adalah seorang true-bred New Yorker yang terlahir untuk mendukung New York Yankees.

Lalu ia memikirkan seorang anak kecil yang tidak ia kenali di halaman rumah itu, mengenakan jersey Red Sox yang kebesaran berkali-kali lipat, dengan sarung tangan yang kali ini terlihat usang, menangkap bola yang dilemparkan Jaehyun.

Ketika Sungho berkedip, ia kembali di ruangan asing milik seorang profesor antropologi yang bahkan tidak mengajarnya, dengan Dr. Wilhemina Stokes diseberangnya–menatap Sungho dengan mata yang sayu.

Tangannya sudah kembali digenggam sang profesor yang tersenyum pada Sungho terlepas dari tatapan sendunya itu.

“I’m glad,” Dr. Stokes angkat bicara lagi, masih dengan senyuman keibuannya itu. “It seems you’re already making them.”

 

 


 

 

xi. i'm bright baby blue, fallin' into you

♬ CARLY RAE JEPSEN - FAVORITE COLOUR

Gemerincing kunci, diikuti derik engsel pintu yang terbuka membuat Jaehyun memalingkan pandangannya ke sumber suara.

Jam dinding yang dipajang di atas unit televisi menunjukkan pukul 1:58 dan Sungho baru pulang.

Sang pendatang menyapukan pandangannya ke ruang tengah apartment yang sudah hampir kosong itu, lalu berakhir di Jaehyun yang sedang selonjoran di sofa dengan TV menyala bervolume kecil.

“Kok gak minta jemput?” tanya Jaehyun, bangkit sambil mematikan TV tersebut dengan remotnya.

“Kok gak tidur?”

“Kamu belum pulang.”

“Bayi banget. Harus di-kelonin gitu?”

Jaehyun menatapnya balik dengan datar, satu alisnya terangkat, mengedikkan bahu seadanya. “Menurutmu?”

Alih-alih menjawab, Sungho berbalik badan untuk beranjak ke kamar tidur. Derap langkah di belakangnya memperingatkannya kalau Jaehyun sedang mengikuti.

Sekarang sudah pertengahan Oktober, mereka berniat untuk selesai pindahan akhir minggu ini. Barang-barang mereka selain pakaian sehari-hari sudah tersimpan rapi dalam kardus dan kotak-kotak kontainer yang sekarang sudah tergeletak di rumah baru mereka di Cayuga Heights.

Memperhatikan kamar tidur yang sudah hampir kosong itu, Sungho meletakkan book bag-nya di atas meja kerja. Ketika dia berbalik badan, ia hampir menabrak Jaehyun yang berdiri hampir tepat di belakangnya.

“Ya Tuhan!” seru Sungho kaget, mendorong bahu Jaehyun menjauh. “Ngapain kamu?”

“Mau nonton film gak?” tanya Jaehyun.

Sungho melepas mantelnya untuk digantung di hanger yang meyatu dengan badan pintu. Semakin dekat penghujung akhir tahun, New York semakin dingin.

“Kamu mau nonton film horror tapi gak berani, ya?”

Menoleh untuk mengecek ekspresi Jaehyun, Sungho menyeringai ketika menemukan suaminya itu melongo—matanya membulat hampir sempurna. Imut, bahkan, namun Sungho tidak mau mengakui hal itu secara terang-terangan, so he just chuckled lowly.

“Aku belum ngantuk sih,” aku Sungho, melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti, sedangkan Jaehyun sudah duduk manis bersila di atas kasur.

Jaehyun masih diam, pandangannya mengikuti gerak-gerik Sungho yang hendak melepas kemejanya, membuka kancing bajunya satu per satu. Sungho merasakan lirikan Jaehyun padanya itu, then stopped for a second.

“What are you looking at?” Sungho bergurau, kemejanya sudah setengah terbuka.

“Enjoying my view?” Jaehyun malah bertanya balik, tersenyum penuh arti.

Sungho menggeleng-geleng, lalu melanjutkan kegiatannya membuka baju, sebelum melempar kemeja itu ke wajah Jaehyun—yang tidak protes sama sekali. Suaminya itu malah tertawa.

Jaehyun menyingkirkan kemeja itu dari wajahnya, ada secercah ekspresi kecewa di wajahnya ketika Sungho sudah mengenakan sebuah kaos oblong kebesaran ketika ia bisa melihatnya lagi.

“I’m tired today, baby, sorry.”

Hey, kan aku cuma mau liat.”

“Jorok ah.”

“Gak mandi? Tadi bukannya lari-larian?”

“Nanti aja abis nonton, ayo buruan. Mau popcorn gak?”

Jaehyun melompat bangkit dari kasur, mengagetkan Sungho. Suaminya itu mengalungkan lengannya di leher Sungho, mendorongnya keluar dari kamar.

“Yuk, aku mau yang caramel.”

“Too sweet, it’s literally 2 am.”

“Nothing’s too sweet whenever you’re around.”