Actions

Work Header

What If [2] Tetangga masa Gitu

Summary:

Barangkali tontonan gratis menjadi mimpi basah yang menjadi kenyataan.

Notes:

Quick heads up! Ini adalah Alternate Universe (AU) tempat Ashton as a young lecturer dan Jemi as a engineering student. Not canon compliant dengan cerita utama Jemi & Ashton yang sebelumnya, ya.
Mind the tags and enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Bagi Ashton, aroma kopi saset dan tumpukan kertas kuarto berbau apek adalah pemandangan baru yang harus dia akrabkan dalam lima tahun ke depan. Di usianya yang belum genap tiga puluh tahun, plang nama di meja kerjanya sudah bertuliskan: Ashton T., M.Sc.—sebuah pencapaian yang bikin teman-teman seangkatannya iri, tapi sekaligus bikin Ashton sendiri sering kena imposter syndrome.

Statusnya di universitas ini masih sangat kasual. Sebagai dosen baru dengan jabatan fungsional yang masih di anak tangga paling bawah, tugas Ashton belum seberat dosen-dosen senior. Dia belum diberi beban menjadi dosen pembimbing skripsi yang harus menghadapi drama mahasiswa nangis-nangis, belum juga duduk di meja sidang sebagai penguji yang ditakuti.

"Fokus lo cuma satu sekarang, Ton. Nulis jurnal. Masukin nama lo di Scopus sebanyak-banyaknya," itu wejangan dari kepala departemen saat hari pertama Ashton masuk.

Alhasil, rutinitas Ashton sangat bisa ditebak. Datang pagi, menyalakan laptop, membaca tiga sampai empat jurnal internasional, lalu masuk kelas untuk mengajar dua SKS. Sisa waktunya? Kosong. Terlalu kosong sampai terkadang Ashton merasa kesepian di kubikel ruang kerjanya yang sempit.

Satu-satunya hiburan sekaligus ujian mental bagi Ashton adalah ketika dia diundang menjadi pembicara seminar. Berkat prestasinya saat kuliah dulu—pernah memenangkan kompetisi riset internasional—wajahnya sesekali dipajang di pamflet digital kampus dengan judul keren: “Seminar Nasional: Menembus Batas Riset Bersama Dosen Muda Berprestasi.”

Namun, realitanya di panggung tidak sekeren di pamflet. Ashton masih sering gugup kalau harus berhadapan dengan audiens yang usianya tidak beda jauh darinya, atau lebih parah, ketika ada dosen senior yang sengaja duduk di barisan depan hanya untuk "menguji" kapasitas otak si dosen baru ini.

Siang itu, setelah menyelesaikan kelas Pengantar Riset, Ashton kembali ke kubikelnya. Dia baru saja hendak membuka bekal makan siangnya ketika sebuah ketukan terdengar di sekat kubikelnya.

Seorang mahasiswa berdiri di sana, memegang selembar kertas dengan muka panik. "Permisi, Pak Ashton... Saya tahu Bapak bukan pembimbing saya, tapi kata dosen senior di sebelah, cuma Pak Ashton yang punya waktu luang buat bantuin saya benerin metodologi riset ini. Boleh saya minta waktunya sebentar, Pak?"

Ashton menatap separuh ayam gorengnya, lalu menatap mahasiswanya yang malang. Dia tersenyum canggung. Ah, jadi begini rasanya jadi dosen yang (katanya) paling pengangguran di koridor ini.


Jam dinding di ruang dosen sudah menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit ketika Ashton akhirnya memutuskan untuk mematikan laptopnya. Koridor lantai tiga gedung fakultas sudah mulai sepi, hanya menyisakan deru AC sentral yang pelan dan langkah kakinya yang bergema di sepanjang lorong.

Ashton berjalan menuju area parkir dengan langkah santai, menyampirkan tas kulitnya di bahu kanan. Di sepanjang jalan menuju lobi, beberapa mahasiswi yang masih nongkrong di selasar buru-buru merapikan duduk mereka, lalu menyapa dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin.

"Mari, Pak Ashton..."

Ashton cuma mengangguk formal sambil melempar senyum tipis—jenis senyum sopan yang aman dan tidak memberi harapan palsu. Dia tahu betul posisinya sekarang.

Harus diakui, dalam waktu singkat, nama Ashton sudah jadi buah bibir di kalangan mahasiswa, bahkan di grup-grup obrolan rahasia mereka. Universitas ini didominasi oleh dosen-dosen senior yang sudah berumur, berwajah ketat, dengan pembawaan yang kaku. Kehadiran Ashton seperti membawa angin segar. Di usianya yang belum genap kepala tiga, dia punya paket lengkap: otak encer, paras tampan yang proporsional, dan postur tubuh yang tinggi tegap. Meski setiap hari dia selalu membungkus tubuhnya dengan kemeja lengan panjang yang dikancing rapi sampai pergelangan tangan, potongan tubuhnya yang atletis dan gagah tetap tidak bisa disembunyikan.

Dan satu detail paling krusial yang sudah divalidasi oleh anak-anak, Pak Ashton masih single.

Bagi banyak orang, status lajang di usia matang dengan karier sekemilau Ashton itu aneh. Banyak yang mengira dia terlalu pemilih, atau punya standar yang kelewat tinggi. Namun, kebenarannya jauh lebih sederhana dari itu. Ashton cuma sangat menghargai pekerjaannya. Dia tahu dunia akademis itu sempit dan penuh gosip. Sekali saja dia melibatkan perasaan atau memulai hubungan percintaan di lingkungan kampus—baik dengan sesama staf atau, jangan sampai, dengan mahasiswa—maka profesionalisme yang dia bangun dengan susah payah dari masa kuliah bisa hancur dalam semalam.

Bagi Ashton, ruang kelas adalah tempat membagikan ilmu, dan laboratorium adalah tempat melahirkan jurnal. Titik. Tidak ada ruang untuk romansa.

Begitu sampai di mobilnya, Ashton melonggarkan sedikit dasinya dan membuka kancing paling atas kemejanya. Dia menghela napas panjang, melepaskan topeng dosen muda idaman yang dia pakai seharian penuh. Di dalam keheningan mobilnya yang mulai melaju membelah jalanan kota, Ashton merasa nyaman dengan kesendirian ini.

Namun, tepat saat dia berhenti di lampu merah, ponselnya di dasbor bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dia kenal, tapi format pesannya sangat familier,

"Selamat sore, Pak Ashton. Maaf mengganggu waktunya pulang. Saya mahasiswa bimbingan akademik Bapak yang baru dipindahkan dari Prof. Subroto. Saya mau berkonsultasi mengenai draf jurnal saya, kalau boleh... malam ini apakah Bapak ada waktu luang di luar kampus?"

Ashton menatap layar ponselnya datar. Jempolnya bergerak lincah di atas keyboard, mengetik balasan dengan otomatis,

"Selamat sore. Segala bentuk bimbingan dan konsultasi hanya dilayani di ruang kerja saya pada jam kerja. Silakan buat janji temu untuk besok pagi pukul 09.00 di kampus. Terima kasih."

Send.

Ashton melempar kembali HP-nya ke jok sebelah. Satu lagi batasan profesional berhasil dia tegakkan hari ini. Dia kembali fokus menyetir, siap menikmati malamnya yang sepi, tenang, dan jauh dari intrik romansa kampus yang melelahkan.

Mobil Ashton memasuki area parkir sebuah rumah kos eksklusif berlantai tiga. Kos ini baru ditempatinya sekitar delapan bulan lalu, tak lama setelah ia resmi menerima surat keputusan pengangkatannya sebagai dosen. Letaknya sengaja dipilih yang tidak terlalu dekat dengan area kampus utama demi menjaga privasi dan jarak dari mahasiswanya.

Ashton keluar dari mobil, mengunci pintunya, lalu berjalan mantap menuju tangga. Kamarnya berada di lantai paling atas—lantai tiga. Bagi sebagian orang, naik-turun tangga setiap hari mungkin terasa melelahkan, apalagi setelah seharian menguras energi di kelas. Namun, Ashton sama sekali tidak pernah mengeluh. Dengan jadwalnya yang padat dan jarang sempat ke gym, ia justru menganggap anak-anak tangga ini sebagai sarana olahraga gratis untuk menjaga postur tubuhnya agar tetap tegap.

Begitu masuk ke dalam kamar, Ashton langsung meletakkan tas kulitnya di meja belajar. Ia melepas kemeja kerja yang membungkus tubuh gagahnya, menyisakan kaus dalam putih, lalu segera membersihkan diri di kamar mandi.

Setelah tubuhnya kembali segar dan pakaiannya berganti dengan kaus santai, Ashton menyeduh secangkir teh hijau hangat. Ia berjalan mendekati jendela kamar untuk membiarkan angin malam masuk. Namun, saat tatapannya melempar ke arah luar, dahi Ashton seketika berkerut.

Ada seberkas cahaya asing yang berpendar terang dari arah belakang kosnya.

Selama hampir setahun tinggal di sini, Ashton sangat hafal bahwa tepat di belakang gedung kos ini berdiri sebuah rumah tua berlantai dua yang sepi dan gelap. Kamar Ashton yang berada di lantai paling atas membuatnya punya sudut pandang langsung ke arah lantai dua rumah tersebut. Seingatnya, rumah itu kosong dan tidak pernah berpenghuni. Tapi malam ini, salah satu jendela di lantai dua rumah tua itu tampak terbuka, dan lampu di dalamnya menyala terang, memantulkan bayangan samar seseorang di sana.

Ashton terdiam beberapa detik, mengamati siluet asing tersebut dari balik jendelanya yang remang. Siapa penghuni barunya?

Namun, rasa ingin tahu itu tidak bertahan lama. Menjadi pria yang logis dan sangat menghargai waktu, Ashton memilih untuk tidak berpikir panjang atau berspekulasi macam-macam. Mungkin rumah itu baru saja dikontrakkan, atau pemilik aslinya baru saja pulang. Itu bukan urusannya.

Ashton menutup sebagian tirai jendelanya, lalu berjalan kembali ke meja belajar. Ia menyalakan laptop, meletakkan cangkir tehnya, dan mulai membuka beberapa tab Google Scholar serta portal Scopus. Fokusnya langsung beralih total pada bait-bait kalimat akademis, berburu jurnal-jurnal internasional bereputasi yang bisa membantu metodologi penelitian barunya. Bagi Ashton, malam ini adalah waktu terbaik untuk menabung nama di dunia publikasi, jauh sebelum sisa hidupnya tersita oleh urusan kampus lainnya.


Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah gorden, memaksa Ashton untuk mengerjapkan matanya. Jam digital di nakas menunjukkan pukul enam pagi. Sesuai kebiasaannya, hal pertama yang ia lakukan setelah nyawanya terkumpul adalah berjalan menuju jendela, berniat membukanya lebar-lebar agar sirkulasi udara segar bisa masuk ke dalam kamar.

Ashton menguap pelan, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang tinggi tegap. Ia menggeser daun jendela kayu kamarnya. Di luar, suara kicauan burung kecil bersahut-sahutan, dan langit biru bersih tanpa awan menyambut pandangannya. Sungguh pemandangan pagi yang menyegarkan mata, setidaknya sampai mata Ashton yang masih setengah mengantuk itu bergulir ke arah bawah.

Kamar kos Ashton di lantai tiga ini posisinya memang agak menanjak, tepat berada di atas lantai dua rumah di belakangnya. Dari sudut pandang ini, jika jendela dibuka, Ashton bisa dengan mudah melihat isi kamar di seberang secara menyeluruh. Rumah yang dikiranya kosong itu ternyata tampak sangat mewah dari dekat. Di seberangnya, bukan sekadar jendela biasa yang terpasang, melainkan sebuah pintu kaca besar yang terhubung langsung dengan sebuah balkon kecil.

Dan pintu kaca itu... sedang terbuka lebar.

Kantuk di mata Ashton seketika hilang total. Pupil matanya melotot, tubuhnya mematung di ambang jendela dengan rahang yang hampir jatuh.

Pemandangan paginya hari ini sama sekali di luar nalar akademisnya. Di balik pintu kaca seberang, ada seorang perempuan—ah, bukan. Ashton menajamkan pandangannya. Struktur punggung yang kokoh namun ramping itu milik seorang laki-laki. Laki-laki itu sedang membelakanginya, mengenakan sebuah rok mini hitam yang tersingkap tinggi, memperlihatkan sepasang kaki jenjang dan... pantat yang benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun.

Laki-laki di seberang sana sedang bertumpu pada tepi ranjangnya, menaik-turunkan pinggul dan pantat sekal yang tampak mulus itu dengan ritme yang berantakan. Di antara celah paha dan pantatnya, sebuah dildo silikon bening yang berukuran lumayan besar tertancap penuh, bergerak keluar masuk seiring dengan gerakan tubuhnya.

Karena udara pagi yang sepi, suara dari seberang merambat naik dengan begitu jelas ke telinga Ashton. Suara desahan frustrasi yang kedengaran sangat intens, napas yang memburu pasrah, dan lenguhan tertahan yang menandakan kalau cowok di seberang sana sedang sangat menikmati pelecehan seksual mandiri yang dilakukannya sendiri.

Ashton membeku. Logikanya sebagai dosen muda yang rasional, terhormat, dan menjunjung tinggi moralitas berteriak agar dia segera menutup jendela dan berbalik arah. Tapi sialan, badannya menolak perintah otak.

Mata Ashton justru terpaku, memandangi setiap lekuk tubuh dan gerakan erotis di seberang sana. Ada sensasi panas yang tiba-tiba menjalar dari perutnya turun ke bawah. Ashton menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak kering kerontang. Tanpa sadar, jemari tangannya mencengkeram pinggiran kusen jendela kosnya dengan erat, sementara matanya... ikut menikmati tontonan gratis yang merusak seluruh prinsip profesionalitasnya dalam satu kedipan mata.

Detik-detik berikutnya berjalan seperti adegan slow motion yang merenggut sisa-sisa kewarasan Ashton.

Mungkin karena merasakan ada sepasang mata yang mengintip, atau mungkin karena insting alaminya terusik, laki-laki di seberang sana tiba-tiba menengokkan kepalanya ke belakang. Lewat celah pintu kaca balkon yang terbuka lebar, tatapan mereka berdua beradu dengan telak.

Ashton tersentak, dadanya berdesir hebat karena terkejut. Namun, laki-laki di seberang sana jauh lebih terkejut. Matanya yang sayu dan berair karena pelepasan mendadak melebar sempurna begitu mendapati sesosok pria tinggi tegap sedang menontonnya dari lantai tiga kosan sebelah.

Tapi, respons tubuh laki-laki itu benar-benar di luar dugaan. Alih-alih langsung bersembunyi atau menarik gorden, rasa kaget yang ekstrem itu justru memicu reaksi refleks yang jauh lebih erotis. Tubuhnya menegang, pinggulnya bergerak menyentak ke belakang, membuat posisi pantat sekalnya semakin menungging tinggi.

Plop.

Akibat sentakan kaget itu, lubang intimnya yang berkedut pasrah malah melesak maju, menelan habis dildo bening berukuran besar tersebut sampai ke pangkalnya tanpa sengaja. Masuknya mainan itu secara kasar dan mendalam rupanya langsung menghantam titik nikmat terdalam di dalam sana.

Sebuah lolongan desahan yang melengking tinggi, frustrasi, sekaligus luar biasa nikmat meluncur bebas dari bibir laki-laki itu, memecah keheningan pagi. Ashton yang menyaksikan hal itu dari seberang benar-benar dibuat tidak habis pikir. Otak akademisnya lumpuh total menghadapi tontonan se-vulgar dan senyata ini.

Dari sudut pandangnya yang agak tinggi, Ashton sekarang bisa melihat penampilan utuh tetangga barunya itu. Laki-laki itu sedang melakukan crossdressing. Selain rok mini hitam yang sudah tersingkap tak berguna di atas pinggangnya, dia juga mengenakan tank top putih tipis yang sangat menerawang. Kain yang basah oleh keringat itu menempel ketat di kulit, memperlihatkan dengan sangat jelas dua puting tegang yang mengintip menantang di balik bahan tipisnya.

Laki-laki itu sedang mencapai puncaknya. Punggungnya melengkung ekstrem seperti busur, menciptakan lekukan tubuh yang sangat sensual. Kedua paha mulusnya bergetar hebat, tidak lagi mampu menopang berat badannya sendiri sampai dia harus bertumpu pasrah pada tepi ranjang. Bersamaan dengan dildo bening yang terkunci rapat di dalam liangnya, air mani yang kental mencuat keluar, memancar deras beberapa kali membasahi lantai dan sprei di bawahnya.

Dia mengalami orgasme hebat hanya karena rasa kaget dan penetrasi yang tak disengaja, semuanya terjadi tepat di depan mata Ashton yang masih berdiri kaku memegang kusen jendela. Napas laki-laki di seberang sana terdengar putus-putus, dadanya naik turun dengan liar, sementara matanya yang sayu masih menatap lurus ke arah Ashton—seolah meminta pertanggungjawaban atas puncak nikmat yang baru saja dia rasakan.

Ashton menelan ludah yang terasa seberat batu. Celana pendek yang dipakainya mendadak terasa luar biasa sempit.


Rasa nikmat yang membakar habis akal sehatnya membuat laki-laki di seberang sana tidak lagi peduli pada sosok asing yang menontonnya dari jendela lantai tiga. Persetan dengan rasa malu. Di bawah dominasi orgasme yang intens, dia memilih untuk memejamkan mata, menyandarkan keningnya di tepi ranjang, dan membiarkan tubuhnya menikmati sisa-sisa kedutan nikmat yang tersisa di bagian bawah tubuhnya.

Laki-laki itu bernama Jemi.

Bagi orang yang mengenalnya di kampus, pemandangan pagi ini pasti akan dianggap sebagai distorsi realitas yang paling mustahil. Jemi adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik. Alasan dia berada di rumah mewah ini pun sangat pragmatis: dia memanfaatkan libur semester untuk pulang ke rumah orang tuanya yang jarang ditempati. Jemi butuh ketenangan mutlak agar bisa fokus menyelesaikan draf skripsinya tanpa gangguan.

Terlebih, dia baru saja lengser dari jabatan penting di organisasi kemahasiswaan fakultasnya. Jemi merasa masa-masa mengurus mainan politik kampus, demonstrasi, dan rapat berdarah-darah sudah selesai. Sekarang waktunya memikirkan masa depan.

Namun, di balik citra maskulin anak Teknik, Jemi menyimpan sebuah rahasia besar yang sangat rapat. Dia suka crossdressing.

Tentu saja itu adalah rahasia hidup dan mati. Di mana harga dirinya jika atribut M Solver—solidaritas anak Teknik yang dijunjung tinggi dari ujung rambut hingga ujung nadi, bersama dengan jaket himpunan dan antek-antek korsa seangkatannya—bercampur dengan koleksi pakaian feminin, rok mini, dan tank top yang tersimpan di lemari rahasianya? Anak-anak Teknik mengenalnya sebagai senior yang tegas dan cuek, bukan sebagai cowok manis yang mendesah frustrasi sambil menungging di depan pintu balkon dengan dildo bening yang melesak penuh di lubangnya.

Jemi mengatur napasnya yang masih memburu. Air liurnya menetes tipis di sudut bibir, sementara cairan murni miliknya masih mengotori lantai. Setelah beberapa saat detak jantungnya mulai normal, akal sehatnya perlahan kembali pulih.

Kesadaran itu menghantamnya.

Jemi perlahan membuka mata, lalu dengan gerakan patah-patah karena sisa lemas di pahanya, dia mendongak kembali ke arah jendela kos lantai tiga di seberang sana. Pria tinggi tegap itu masih ada di sana, membeku memandangnya.

Meskipun rasa malu sempat menyergap, jiwa binal dan centil Jemi justru perlahan mengambil alih. Wajahnya bersemu merah, bukan cuma karena tertangkap basah, tapi karena dia baru benar-benar menyadari wujud pria asing yang menontonnya sejak tadi. Pria di seberang sana sedang bertelanjang dada, menyajikan pemandangan bentuk tubuh yang begitu menggiurkan—dan sialnya, sangat sesuai dengan tipe pria idaman Jemi belakangan ini.

Dari balik pintu kacanya yang terbuka, mata Jemi yang masih berair menyapu visual asri di atas sana. Pria itu punya postur yang luar biasa apik. Sepasang lengan yang bertumpu di kusen jendela itu dipenuhi urat-urat alami yang menonjol maskulin, menyambung pada bongkahan bisep yang kekar dan kokoh. Dadanya bidang, disinari cahaya fajar yang membuat lekukan otot perutnya yang seksi dan berpola itu tampak semakin tegas.

Lebih turun lagi, pandangan Jemi tertuju pada celana pendek kain berwarna hitam yang membungkus pinggang pria itu. Di balik kain tipis tersebut, ada sesuatu yang menggembung besar dan menonjol tegang—Jemi tidak tahu apakah itu sekadar efek morning wood yang wajar atau karena pria itu ikut terangsang setelah menontonnya masturbasi habis-habisan. Ditambah dengan garis rahang yang tegas dan paras rupawan yang sangat mendukung, pria asing itu benar-benar terlihat seperti dominan yang sempurna.

Jemi menelan ludah yang terasa manis. Tangannya yang gemetar perlahan turun untuk mencabut dildo bening yang masih tertanam di tubuhnya dengan bunyi plop yang basah. Sambil merangkak mundur dengan posisi pantat yang masih menungging manja, mata Jemi tetap tidak lepas menatap dada bidang di seberang sana. Ada rasa sesal yang tiba-tiba menyergap hatinya saat jemarinya menarik gorden pintu kaca balkon dengan cepat. Seksi, batin Jemi sambil bersandar di balik kain gorden yang tertutup, kenapa gue malah milih sembunyi sih? Harusnya tadi gue ajak kenalan sekalian.

Di seberang sana, Ashton masih terpaku di tempatnya. Napasnya agak memburu, sementara tangannya yang berurat tanpa sadar meremas kusen jendela kayu, masih terbayang-bayang pesona kontras dari tetangga yang baru saja mengurung diri di balik gorden.


Kejadian pagi itu rupanya tidak berhenti sampai di situ bagi Ashton. Kejadian nyata tersebut justru menjadi pemicu dari sesuatu yang sudah berbulan-bulan tidak dialaminya, mimpi basah.

Dan benar saja, di dalam tidur nyenyaknya, bayangan tetangga seberang yang binal itu datang mampir, bertransformasi menjadi objek erotis yang mengacaukan alam bawah sadar si dosen muda. Dalam mimpi liar Ashton, suasananya terasa begitu nyata dan pekat. Laki-laki di seberang kosnya itu tidak lagi bermain sendiri dengan dildo transparan; melainkan menjepit kontol besar milik Ashton dengan lubang intimnya yang terasa jauh lebih ketat, hangat, dan basah. Ashton bermimpi bagaimana dia mendominasi tubuh ramping itu habis-habisan, sementara suara desahan erotis yang dia dengar pagi itu terus-menerus bersenandung nakal di telinganya, memohon untuk diisi lebih dalam.

Efeknya benar-benar di luar kendali. Beginilah sekarang situasi Ashton: selama tiga hari berturut-turut, dia selalu bangun di pagi hari dengan napas terengah-engah dan bagian depan celana dalam yang basah kuyup akibat air mani yang keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.

Berdiri di kamar mandi sambil mengucek celana dalamnya yang bernoda putih, Ashton menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan campur aduk. Kerutan di dahinya dalam. Dia, seorang dosen muda berprestasi, pemilik gelar master yang selalu diagungkan karena intelektualnya, kini merasa seperti bajingan mesum yang tidak tahu diri. Otaknya yang biasa dipakai untuk memikirkan metodologi penelitian dan struktur jurnal Scopus, sekarang malah dipenuhi oleh fantasi meniduri anak laki-laki yang suka memakai rok mini di seberang rumahnya.

Prinsip profesionalitas dan benteng pertahanan yang dia bangun dengan susah payah selama setahun ini, mendadak runtuh tak bersisa hanya karena satu tontonan gratis dan tiga malam penuh mimpi berdosa.


Di seberang sana, keadaan Jemi sebenarnya tidak jauh berbeda. Malah, mahasiswa Teknik itu merasa dirinya sudah semakin gila. Selama tiga hari penuh, draf skripsinya terbengkalai begitu saja di laptop. Otaknya macet total, bukan karena pusing memikirkan rumus atau metodologi, melainkan karena sibuk menyusun strategi bagaimana caranya bisa bertemu lagi dengan pria asing bertubuh menggiurkan yang menontonnya tempo hari.

Jemi sedang bertarung hebat dengan harga dirinya. Dia malu setengah mati, tapi di saat yang sama, dia sangat mau. Masalahnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus berpura-pura menjadi tetangga baru yang ramah dan mengetuk pintu kos pria itu? Tapi rasanya sangat tidak masuk akal mengingat perkenalan pertama mereka diawali dengan Jemi yang sedang menungging bebas sambil menelan dildo di pagi hari. Memikirkan itu saja sudah membuat pipi Jemi terasa panas.

Namun, semesta tampaknya sedang berpihak pada kegilaan Jemi. Sore itu, seperti sebuah permohonan yang dikabulkan, Jemi sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menyesap sebatang rokok. Dari sudut kejauhan, Jemi melihat mobil pria asing itu memasuki area parkir kosan. Pria itu baru saja pulang dari kegiatannya—yang sebenarnya adalah mengisi dua seminar berturut-turut hari itu, membuat penampilannya masih terlihat sangat rapi.

Mengetahui pria itu akan segera naik ke lantai atas, Jemi sengaja tidak beranjak. Sore ini, dia sengaja berpakaian dengan niat yang sangat terselubung. Jemi mengenakan sebuah croptop berwarna putih. Potongan baju yang menggantung itu mengekspos perut ratanya dengan abs samar yang justru terlihat sangat seksi dan menggoda, dipadukan dengan celana jeans biru muda berpotongan rendah (low-rise) yang semakin mempertegas garis pinggang rampingnya yang indah.

Rambut blonde-nya yang mulai agak memanjang dibiarkan berantakan secara estetik, ditambah sentuhan rias wajah yang sangat tipis namun pas—hanya sedikit tint pada bibir dan pelembap—menghasilkan paras cantik yang alami. Jemi sengaja bersandar di pagar balkon, membiarkan asap rokoknya mengepul tipis ke udara, dengan sengaja memamerkan lekuk tubuhnya yang indah ke arah jendela lantai tiga yang kini mulai terbuka.

Begitu jendela kayu kosan itu terdorong, mata Jemi langsung bergerak cepat, mengunci tatapannya pada sosok Ashton yang baru saja muncul di sana. Jemi menatap pria itu dari bawah dengan tatapan sayu yang sengaja dibuat memikat, menantang nyali si dosen muda yang selama tiga malam ini sudah tersiksa oleh mimpi-mimpi basah karenanya.


Keheningan sore itu terasa begitu pekat dan canggung di antara mereka berdua. Jendela lantai tiga yang terbuka lebar mempertemukan kembali dua pasang mata yang selama tiga hari ini sama-sama menyimpan isi kepala yang kotor.

Ashton membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang baru saja melepas kancing teratas kemeja kerjanya tertahan di udara. Matanya kembali dipaksa menangkap pemandangan indah yang sukses membuat denyut nadinya berpacu cepat. Lagi-lagi, egonya sebagai pria terhormat harus bertekuk lutut melihat bagaimana laki-laki muda di seberang sana sedang mengepulkan asap rokok dengan gestur yang begitu sensual, sengaja memamerkan pinggang ramping dan perut seksinya yang terekspos jelas di bawah potongan croptop.

Sadar kalau dia tidak bisa terus-menerus diam seperti orang bodoh, Ashton berdeham kecil, mencoba mengumpulkan kembali wibawa dosennya yang sudah agak tercecer.

"Hey!" sapa Ashton akhirnya. Suara berat dan baritonnya membelah jarak udara di antara balkon dan jendelanya, terdengar tegas namun ada sedikit nada gugup yang tertahan.

Mendengar suara itu, Jemi tidak bisa menyembunyikan binar senang di matanya. Strategi pancingannya berhasil. Jemi buru-buru mematikan puntung rokoknya di asbak kecil yang ada di pagar balkon, lalu mendongak menatap Ashton dengan senyum manis yang sengaja dibuat seramah mungkin.

"Hai," balas Jemi ramah. Nada suaranya terdengar ringan, sangat kontras dengan lolongan desahan frustrasi yang Ashton dengar tiga hari lalu, membuat pipi Jemi sendiri diam-diam merona tipis karena teringat kejadian itu.

Mereka berdua kembali terdiam setelah saling melempar sapaan dasar. Ashton masih menatap lurus ke arah lekuk tubuh Jemi dari atas, sementara Jemi dengan berani mengagumi garis rahang tegas dan tatapan intens pria matang di depannya. Jarak beberapa meter di antara bangunan itu mendadak terasa sangat tipis, dipenuhi oleh ketegangan seksual yang belum terselesaikan.

Pada dasarnya, memang tidak ada manusia yang benar-benar sempurna di dunia ini. Walaupun Ashton diberkahi dengan paras yang luar biasa tampan, postur tubuh gagah, dan otak mumpuni yang sanggup meloloskan jurnal-jurnal ilmiah ke tingkat internasional, ada satu kelemahan fatal yang dia miliki. Kemampuan komunikasi Ashton jika berada dalam konteks menggoda atau mendekati seseorang secara romantis layak diberikan nilai nol besar. Di depan mahasiswanya dia bisa sangat berwibawa, tapi di depan Jemi yang berpenampilan super seksi sore ini, Ashton hanya bisa berdiri kikuk, sibuk terpesona, dan tenggelam dalam rasa canggungnya sendiri.

Melihat pria tinggi tegap di atas sana malah nge-blank dan mendadak seperti patung, Jemi akhirnya memutuskan untuk mengambil inisiatif. Dia menumpukan kedua tangannya di pagar balkon, sedikit condong ke depan sehingga potongan croptop-nya semakin terangkat, memperlihatkan lekuk pinggangnya dengan lebih jelas.

“Baru pulang, Kak?” tanya Jemi, memulai obrolan dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit manja.

Ashton tersentak kecil, membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. “Oh, iya. Barusan saya pulang,” jawab Ashton refleks.

Kebiasaan buruk Ashton sebagai pengajar langsung keluar tanpa bisa dicegah; jawaban itu terdengar sangat kaku, terlampau formal, dan menggunakan kata 'saya' yang terlalu berjarak, seolah dia sedang menjawab pertanyaan dari dekan fakultasnya alih-alih merespons cowok cantik di seberang rumah.

Mendengar jawaban super formal itu, Jemi spontan terkekeh geli. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sementara matanya menyipit lucu menatap Ashton. Namun, di dalam hatinya, Jemi sebenarnya sedang menjerit histeris. 'Anjir, kaku banget tapi kok gemesin?! Mana suaranya ngebass banget lagi, ngiler..’batin Jemi heboh sendiri.

Ashton yang sadar kalau jawabannya barusan terdengar sangat tidak asyik hanya bisa meremas kusen jendelanya lebih erat. Wajah rupawannya agak memerah karena malu, merasa bodoh karena tidak tahu bagaimana cara mencairkan suasana dengan tetangga barunya ini.

Ashton menaikkan telunjuknya untuk membenarkan letak kacamata yang sebenarnya tidak merosot sama sekali. Dia terlalu canggung, sampai-sampai tidak tahu harus mengarahkan tangannya ke mana. Pria bertubuh gagah itu akhirnya menghela napas panjang, menyerah akan ketidakmampuannya dalam urusan pendekatan ini. Sungguh ironis; seorang dosen muda yang biasanya dikagumi karena ketegasannya di mimbar seminar, sekarang malah mendadak jadi pria pemalu yang wajahnya merona hingga ke daun telinga hanya karena ditatap seorang mahasiswa.

Namun, Jemi jelas bukan tipe yang akan membiarkan momentum ini menguap begitu saja. Dia sudah menyusun strategi selama tiga hari penuh, memikirkan setiap kemungkinan, dan dia tidak berniat menyia-nyiakannya sekarang. Melihat Ashton yang sudah benar-benar kehilangan pertahanan kaku-formal hukum akademisnya, Jemi memutuskan untuk langsung melompati basa-basi.

To the point.

“Kak, mau gak?” tanya Jemi dari bawah.

Dia mendongak, menatap lurus ke arah jendela lantai tiga dengan sepasang mata yang tiba-tiba menajam seperti elang, namun di saat bersamaan memancarkan sinyal godaan yang luar biasa pekat. Bersamaan dengan pertanyaan itu, Jemi memainkan lidahnya, menusuk dinding pipi kanannya sendiri dari dalam secara sensual. Tangan kirinya ikut bergerak, mengepal longgar di depan bibir tipisnya yang sudah dipoles lip tint, lalu menggerakkannya maju-mundur berulang kali memperagakan gerakan seperti orang yang sedang menyikat gigi.

Suasananya mendadak terasa begitu panas dan kedap udara. Ashton menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram pinggiran jendela kayunya sampai buku-buku jarinya memutih.

Sebagai pria dewasa yang memiliki otak sangat cerdas, Ashton tahu betul bahwa laki-laki cantik di seberangnya tidak sedang menawarkan diri untuk memberikan tutorial menyikat gigi yang baik dan benar. Isyarat erotis itu terlalu gamblang. Jemi sedang menawarkan mulut hangat dan servis mautnya untuk melahap habis kontol Ashton yang selama tiga hari ini sudah menyiksanya lewat mimpi-mimpi basah.

Tawaran itu menggantung di udara sore yang mulai menggelap, merubuhkan sisa-sisa akal sehat sang dosen muda dalam satu hentakan telak.


Akal sehat Ashton benar-benar menguap tanpa sisa. Detik berikutnya yang disadari Ashton, dia sudah tidak lagi berada di kamarnya yang sepi. Kakinya seolah bergerak sendiri, menuruni tangga kosan, menyeberang jalan tikus di belakang, dan tahu-tahu dia sudah berada di dalam kamar mewah bernuansa maskulin milik si cantik seberang rumah.

Jika ditamati dari jarak sedekat ini, postur tubuh Jemi sebenarnya masih menampakkan sisi jantannya sebagai anak Teknik—dia tidak sekurus perempuan, bahunya masih proporsional. Namun, sialnya, bagian pinggang yang sejak tadi terekspos di bawah croptop itu terasa begitu lembut, ringkih, dan luar biasa pas saat tenggelam dalam balutan lengan kokoh Ashton.

Ashton seperti kehilangan kendali atas tangannya sendiri. Dia langsung merengkuh tubuh ramping itu dari belakang, memeluknya erat, atau lebih tepatnya mulai meraba-raba permukaan perut rata Jemi yang terekspos. Kulitnya halus dan hangat, bergetar tipis setiap kali telapak tangan Ashton yang besar dan berurat mengusapnya dengan tidak sabaran.

Jemi yang mendapat serangan seintens itu hanya bisa mendesah pasrah. Dia menuntun Ashton dengan lembut untuk duduk di tepi ranjang besarnya. Namun, seperti tidak mengizinkan Jemi menjauh walau hanya satu senti, kedua tangan Ashton secara posesif tetap mengunci pinggang dan meraba perut Jemi, menarik tubuh molek itu agar tetap menempel pada dadanya yang bidang.

Ashton menghirup dalam-dalam aroma tubuh Jemi, tapi di sisi lain, Jemi juga melakukan hal yang sama. Ashton baru saja pulang kerja, dan kombinasi aroma parfum mahal yang sudah bercampur dengan keringat tipis khas pria produktif justru menguar maskulin. Wangi itu langsung menusuk indra penciuman Jemi, membuat lututnya mendadak lemas. Sepertinya, Jemi baru saja menemukan fetish barunya: wangi intim dari pria asing yang baru pulang bekerja.

"Kakak... namanya siapa?" tanya Jemi dengan suara yang dilembut-lembutkan.

Jemi menunduk memandangi wajah rupawan Ashton dari dekat sambil mengangkat satu tangannya yang gemetar untuk mengusap rahang tegas pria di depannya. Pemandangan ini terasa terlalu intim, terlalu domestik untuk dua orang adam yang bahkan belum saling mengetahui nama satu sama lain beberapa menit lalu.

Ashton tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Alih-alih bersuara, dia tiba-tiba memajukan kepalanya, membenamkan wajahnya di perut bebas Jemi yang terbuka, lalu mendaratkan sebuah ciuman basah dan gigitan kecil di sana.

"Ah—!" Jemi tersentak kaget, perutnya otomatis menyusut, memicu kedutan geli sekaligus gairah yang instan di bagian bawah tubuhnya karena sensasi bibir panas Ashton di kulitnya.

Ashton mendongak dari perut Jemi, menatap mata sayu di depannya dengan tatapan memburu yang sangat dominan.

"Ashton. Nama saya Ashton," bisik Ashton dengan suara baritonnya yang bergetar rendah. Tangannya meremas pinggang Jemi sedikit lebih kencang, menuntut balasan. "Kamu cantik... siapa namanya?"

Ashton tidak menjawab lagi. Pertanyaan tentang nama itu seolah terlupakan begitu saja begitu bibirnya kembali menyentuh kulit hangat perut datar Jemi. Dosen muda itu kembali melanjutkan aksinya dengan lebih intens. Mengabaikan sisa-sisa wibawa akademisnya, Ashton mulai mengecupi permukaan perut Jemi, sesekali mengisapnya kecil hingga meninggalkan semburat merah muda yang kontras di kulit putih itu. Tidak berhenti di sana, dengan berani Ashton menjulurkan lidahnya, menjilati lekukan otot perut samar Jemi dengan ritme yang lambat namun menuntut.

Jemi sendiri seumur-umur tidak pernah diperlakukan se-erotis dan se-intim ini oleh siapa pun. Sensasi basah dan panas dari lidah Ashton membuat Jemi kesulitan bernapas. Dia harus bertarung hebat antara menahan rasa geli yang menggelitik dari dalam perutnya dan gairah instan yang menyengat langsung ke selangkangannya.

"Akh.. Jemi! Namanya Jemi-hh, Kak Ashton ngghhh gelii," protes Jemi akhirnya. Suaranya pecah menjadi desahan tertahan, sementara tubuhnya menggeliat manja, mencoba menjauhkan perutnya tapi kedua tangan kekar Ashton justru mengunci pinggangnya semakin erat di atas ranjang.

Cup.

Sebuah kecupan terakhir yang cukup dalam mendarat tepat di dekat pusar Jemi sebelum Ashton akhirnya menarik wajahnya menjauh.

Napas Ashton agak memburu, matanya yang tajam menatap lekat-lekat wajah Jemi yang sudah memerah padam dengan sudut bibir yang sedikit basah. Ashton melonggarkan sedikit cengkeramannya di pinggang ramping itu, lalu berbisik dengan suara baritonnya yang sangat rendah.

"Cantik, Jemi. Maaf... kamu ngga nyaman ya?" tanya Ashton, terdengar sangat lembut namun tatapan matanya sama sekali tidak berniat melepaskan mangsanya sore ini.

Mendengar pertanyaan Ashton, Jemi yang tadinya sedang salah tingkah setengah mati langsung dilanda kepanikan kecil. Takut kalau pria tampan di depannya ini salah paham dan malah menyudahi permainan, Jemi dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Nyaman! Cuma geli... Jemi belum pernah diginiin, Kak...” cicit Jemi dengan nada yang tanpa sadar berubah sangat manja.

Detik itu juga, Jemi merasa dirinya mendadak jadi sangat lenjeh dan murahan. Di mana perginya citra garang anak Teknik ber-atribut M Solver yang biasanya disegani? Semuanya menguap entah ke mana. Namun, bagi Ashton, perubahan sikap itu justru membuatnya semakin gemas. Dosen muda yang biasanya kaku ini merasa egonya sebagai pria dominan melambung tinggi melihat bagaimana singa kampus di seberang rumah ini mendadak berubah menjadi kucing rumahan yang penurut.

“Berarti boleh lagi?” tanya Ashton lembut.

Ia meraih jemari tangan Jemi yang sejak tadi bertumpu pasrah di pundak kokohnya. Ashton membawa tangan lentik itu ke depan bibirnya, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang lama dan dalam di punggung tangan Jemi, sembari matanya tetap mengunci tatapan mata sayu di hadapannya.

Sentuhan selembut itu sukses membuat pertahanan Jemi runtuh berantakan. “Kakak…” bisik Jemi pelan, suaranya melemah. “Mmm boleh... Jemi mau dicium Kak Ashton lagi.”

Gagal total. Rencana binal, liar, dan dominan yang sudah disusun Jemi selama tiga hari ini benar-benar hangus tenggelam tak berbekas. Jemi sama sekali tidak menyangka kalau pria asing bertubuh kekar yang ia goda lewat jendela ini akan memperlakukannya selemah lembut dan se-terhormat ini. Sensasi dihargai sekaligus diinginkan sebagai seorang submissive dalam balutan pakaian feminimnya membuat Jemi langsung takluk sepenuhnya di bawah kuasa Ashton.

Ashton menarik wajahnya sedikit dari perut Jemi, menatap lekat-lekat wajah yang sudah memerah sempurna itu dengan senyum tipis yang tampak begitu menawan. Jiwa usilnya bangkit melihat bagaimana mahkluk binal di seberang jendela tempo hari kini berubah total menjadi sosok yang penurut.

“Mana lagi yang mau dicium, cantik?” goda Ashton dengan suara baritonnya yang rendah.

Untuk menambah sensasi, hidung mancung Ashton sengaja menggesek permukaan perut datar Jemi yang hangat, membuat si manis refleks menahan napas karena geli yang menggelitik hingga ke dada.

“Kakak…” Jemi bersenandung manja, kedua tangannya meremas bahu kekar Ashton dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya.

“Iya, cantik?”

“Mau diciumin sama Kakak... semuanya,” cicit Jemi pasrah, menyembunyikan wajahnya yang panas di ceruk leher Ashton.

Ashton cuma terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat seksi di telinga Jemi. Dengan satu gerakan mudah, lengan kokoh Ashton menyelip di bawah bokong Jemi, mengangkat tubuh ramping itu tanpa kesulitan dan mendudukkannya tepat di atas pangkuannya. Posisi mereka sekarang jauh lebih intim, dengan paha mereka yang saling bergesekan.

“Cium ini berarti boleh?”

Ashton tidak menunggu jawaban. Dosen muda itu langsung berani mengecup pipi kanan Jemi dengan lembut. Cup. Rona merah di pipi Jemi langsung menjalar semakin pekat sampai ke telinga.

“Satunya lagi?” Ashton beralih mencium pipi Jemi yang lain dengan gemas.

Setelah itu, dengan penuh pemujaan, Ashton mulai mendaratkan kecupan satu per satu di setiap sudut wajah Jemi. Mulai dari dahi, turun ke kelopak mata yang terpejam, lalu ke ujung hidung bangirnya. Ashton benar-benar mengagumi paras laki-laki cantik di hadapannya ini seolah Jemi adalah mahakarya seni paling indah, namun dia dengan sengaja melewatkan satu bagian.

Bibir ranum Jemi yang sudah dipoles lip tint itu dilewatinya begitu saja.

Sadar kalau bagian paling krusialnya diabaikan, Jemi langsung cemberut. Bibir bawahnya maju beberapa senti, kelihatan sangat tidak sabar dan gemas sendiri dengan kelakuan lambat pria matang ini. Dengan jemari lentiknya yang agak bergetar, Jemi menunjuk bibirnya sendiri.

“Kakak! Ini beluum cium,” protes Jemi dengan nada menuntut yang lucu.

Ashton menaikkan satu alisnya, pura-pura tidak paham. “Cium aja?”

Wajah Jemi rasanya mau meledak saat itu juga. Dia memukul pelan dada bidang Ashton karena terlanjur gemas digoda terus-menerus.

“Huh, Jemi malu!” seru Jemi tertahan, sebelum akhirnya dia menyembunyikan wajahnya lagi di dada Ashton sambil membisikkan keinginan liarnya dengan suara super pelan, “Mm... pake lidah. Mau cium-cium pake lidah Kakak...”

Permintaan jujur yang meluncur dari bibir ranum itu menjadi sumbu pendek yang membakar habis sisa-sisa kendali diri Ashton. Tanpa membuang waktu lagi, Ashton menangkup rahang tegas namun lembut milik Jemi dengan telapak tangannya yang besar, lalu memajukan wajahnya untuk meraup habis bibir kenyal yang sedari tadi menggoda imannya.

Cup.

Ashton memulai tautan itu dengan ciuman yang lambat. Dia melumat bibir bawah Jemi perlahan, mengisapnya dengan begitu lembut dan hati-hati, seolah-olah mahkluk di pangkuannya ini adalah barang pecah belah yang sangat berharga. Sentuhan bibir Ashton yang hangat dan sarat akan pemujaan membuat Jemi refleks melenguh rendah, meremas kerah kemeja kerja Ashton yang kusut demi mencari pegangan.

Tak lama, sesuai dengan keinginan si cantik, Ashton mulai menyelipkan lidahnya ke dalam belahan bibir Jemi yang sedikit terbuka. Lidah kekar Ashton bergerak masuk, menyapu dinding-dinding mulut Jemi dan mengajak lidah manis di dalamnya untuk saling membelit. Gerakan lidah Ashton terasa begitu lihai dan mendominasi, memimpin ritme ciuman panas itu dengan tempo yang pas, membuat air liur mereka sesekali tertelan bersama dalam desah napas yang memburu.

Jemi benar-benar dibuat melayang. Sentuhan lidah Ashton di dalam mulutnya terasa begitu nyata, menghapus semua memori mimpi basahnya dan menggantinya dengan sensasi panas yang langsung menyengat hingga ke ujung kaki. Kepala Jemi mendongak pasrah, membiarkan Ashton mengabsen setiap jengkal rongga mulutnya, sementara pinggang rampingnya tanpa sadar bergerak gelisah di atas pangkuan keras sang dosen muda.

Mulut Ashton masih sibuk menjelajahi rongga mulut Jemi dengan lumatan-lumatan yang basah dan dalam, namun kedua tangannya yang besar dan berurat kini mulai mengerjakan tugas lain yang jauh lebih kurang ajar.

Cengkeraman posesif di pinggang ramping itu perlahan bergeser. Telapak tangan hangat Ashton menelusup sembarangan ke arah dalam croptop rajut putih yang dipakai Jemi, langsung bersentuhan dengan kulit telanjang perutnya yang sensitif. Gerakan tangan itu merayap naik dengan intim, mengabsen setiap lekuk dada Jemi yang bidang namun ramping, hingga akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

Tanpa meminta persetujuan si pemilik tubuh, ibu jari dan telunjuk Ashton yang kasar langsung menekan telak puncak dada Jemi. Jemari kuat itu mulai memilin, mencubit, dan menggaruk pelan puting tegang Jemi di balik kain tipis yang kini tersingkap kasar ke atas.

"Mmmph—?!"

Jemi yang tadinya dibuai oleh ciuman selembut beludru langsung terbelalak. Kontras dari perlakuan lembut di bibir dan rangsangan kasar yang sembarangan di dadanya membuat tubuh mahasiswa Teknik itu seketika kelonjotan di atas pangkuan Ashton. Jemi melengkungkan punggungnya ekstrem, dadanya membusung pasrah mengikuti arah tarikan jemari Ashton yang terus menyiksa putingnya tanpa ampun.

Suara lenguhan frustrasi yang tertahan di dalam ciuman mereka terdengar semakin intens. Kedua paha mulus Jemi yang terbungkus jeans bergetar hebat, bergesekan liar dengan paha kekar Ashton. Jemi benar-benar dibuat tidak berdaya; kepalanya pening karena pasokan oksigen yang menipis akibat ciuman panas Ashton, sementara bagian bawah tubuhnya mendadak berdenyut nyeri, menuntut pelepasan yang jauh lebih berdosa dari sekadar pilinan di dada.

“Kakak-hh! Ahhh... hnggelii...” pekik Jemi, akhirnya memutuskan tautan ciuman mereka secara sepihak demi bisa meraup pasokan oksigen yang mendadak menipis. Kepala Jemi terkulai lemas di bahu kokoh Ashton, napasnya memburu dengan dada yang naik-turun dengan liar.

Namun, Ashton sama sekali tidak berniat memberikan celah bagi Jemi untuk beristirahat. Alih-alih meredam aksinya, dosen muda itu justru semakin gencar memainkan dada Jemi di balik kain croptop yang sudah berantakan. Jemari kekarnya menekan dan memilin puting sensitif Jemi dengan ritme yang lebih cepat dan menuntut, membuat si manis terus-menerus menggeleliat pasrah di atas pangkuannya.

Bersamaan dengan siksaan nikmat di dada, Ashton menurunkan wajahnya, membenamkan bibir panasnya ke ceruk leher Jemi yang jenjang dan harum. Ashton sibuk menciumi kulit sensitif di sana, menghisapnya kuat-kuat hingga meninggalkan jejak kemerahan yang kontras, sebelum beralih menjilati garis rahang Jemi yang bergetar.

"Ahhh! Kak Ash—nggh, jangan di situu-hh," racau Jemi tidak keruan. Kedua tangannya meremas rambut blonde-nya sendiri, benar-benar dibuat kewalahan oleh serangan ganda yang dilancarkan Ashton pada leher dan dadanya sekaligus.

Jemi tidak pernah menyangka kalau kombinasi sentuhan bibir yang basah di leher dan remasan kasar di dadanya bisa membuat akal sehatnya menguap secepat ini, meninggalkan tubuh jantannya yang kini sepenuhnya tunduk dan mendesah pasrah di bawah kuasa pria asing dihadapannya.

Tidak ingin semakin gila dan berakhir pelepasan cepat karena stimulasi gencar dari Ashton, Jemi akhirnya mengumpulkan sisa tenaga yang dia punya. Dengan kedua tangan yang gemetar, Jemi sedikit mendorong dada bidang Ashton, menjauhkan wajah pria itu dari lehernya.

“Kakak, udah... Jemi kan mau nyepong Kakak...”

Selaan frontal dan super berani itu lolos begitu saja dari bibir ranum Jemi dengan napas yang masih tersengal. Keberanian binalnya yang sempat hilang karena perlakuan lembut Ashton kini mendadak kembali ke permukaan.

Mendengar ucapan blak-blakan dari mahasiswa di pangkuannya, seringai tipis muncul di sudut bibir Ashton. Tatapan matanya menggelap penuh gairah.

“Oh iya? Kamu kerasa ya punya Kakak?” bisik Ashton dengan suara baritonnya yang semakin berat dan serak. Bukannya menjauh, Ashton malah sengaja memajukan pinggangnya, menggesekkan gundukan intim miliknya yang sudah menegang keras di balik celana kain tepat pada selangkangan Jemi.

Jemi tidak bisa menyembunyikan respons tubuhnya. Dia hanya bisa mengangguk semangat dengan wajah yang merona merah padam namun sepasang matanya memancarkan binar lapar.

Akhirnya, dengan gerakan yang anggun sekaligus sensual, Jemi turun dari pangkuan Ashton. Dia memosisikan dirinya berlutut di atas lantai, tepat di bawah kedua kaki kokoh Ashton yang duduk di tepi ranjang.

Ashton hanya diam saja. Dia menyandarkan kedua telapak tangannya di permukaan kasur, membiarkan dan mengawasi setiap pergerakan Jemi dari atas dengan tatapan dominan yang mengintimidasi.

Menghilangkan seluruh rasa malunya sebagai mantan ketua organisasi kampus, Jemi mulai mendongak menatap Ashton sekilas sebelum tangannya bergerak dengan sangat cekatan. Jemari lentiknya membuka pengait gesper kulit milik Ashton, dilanjutkan dengan menurunkan ritsleting celana kain kerja pria itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Aroma maskulin khas pria dewasa yang menguar dari balik celana tersebut langsung membuat Jemi menelan ludahnya kasar, tidak sabar untuk segera melahap apa yang ada di dalamnya.

Begitu berhasil menurunkan sedikit celana kain dan celana dalam pria asing yang tinggal di belakang rumahnya itu, Jemi seketika memekik heboh dalam hati.

Pemandangan yang tersaji di depan matanya sedikit melenceng dari perkiraan awal. Kontol Ashton memang dipenuhi urat-urat menonjol yang maskulin dan memiliki diameter yang tebal luar biasa seperti yang Jemi bayangkan selama tiga hari ini. Namun, panjangnya yang berada di atas rata-rata benar-benar membuat Jemi harus menelan ludah dengan susah payah.

Pusaka besar itu menjulang keras, menantang tepat di depan wajah Jemi dengan ujungnya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan bening, menandakan bahwa Ashton sudah ereksi maksimal entah sejak kapan—mungkin sejak dia pertama kali melangkah masuk ke kamar ini.

Melihat visual sewarna eksotis yang begitu intimidatif namun menggiurkan itu, Jemi merasa seperti baru saja mendapat jackpot besar. Mulutnya mendadak terasa kering, dan di balik rasa tidak sabarnya untuk segera mengulum bongkahan nikmat tersebut, ada satu doa yang mendadak terlintas di kepala binal si anak Teknik.

Jemi memandangi kontol besar Ashton dengan tatapan lapar sekaligus ngeri, sembari membatin dalam hati, 'Ya... semoga pantat gue bakal baik-baik aja abis ini.'

“Bisa, cantik?”

Pertanyaan itu terlontar spontan dari belahan bibir Ashton begitu melihat bagaimana Jemi masih terpaku, memandangi pusaka besarnya dengan mata bulat yang terperangah lebar.

“Aku sampe ngiler, ih!” sahut Jemi frontal, tidak lagi memedulikan urat malunya yang sudah putus sejak tadi.

Mendengar kejujuran polos dari cowok cantik di bawahnya, Ashton kembali terkekeh rendah. Tangan kekarnya terulur untuk mengacak rambut blonde Jemi dengan gemas, memberikan kebebasan penuh bagi mahkluk binal itu untuk memulai aksinya.

Jemi menarik napas dalam-dalam. Sambil mendongak mengunci tatapan mata Ashton, dia perlahan menjulurkan lidah merahnya yang basah, menyapu ujung kepala kontol Ashton yang sudah berkedut menuntut. Jemi mulai mengulumnya. Awalnya lambat dan hati-hati, namun berangsur-angsur menjadi gerakan yang sangat lihai.

Sensasi kontol Ashton yang begitu padat, tebal, dan dipenuhi urat-urat menonjol di dalam rongga mulutnya justru membuat Jemi semakin lapar. Berulang kali Jemi mencoba mendesak kepalanya maju, berniat memasukkan batang kokoh itu lebih dalam ke tenggorokannya. Tapi ukurannya yang di luar nalar membuat mulut mungil Jemi tidak cukup menampung semuanya sekaligus.

"Uhukk—khh!" Jemi tersedak sendiri, air mata spontan menggenang di sudut matanya karena pangkal tenggorokannya terantuk ujung kepala kontol Ashton yang keras.

“Gapapa... jangan dipaksa, cantik,” ucap Ashton lembut.

Suara dosen muda itu kini terdengar jauh lebih serak dan berat. Ibu jarinya terulur, dengan penuh kasih sayang mengusap air mata yang lolos di pipi Jemi, sementara pinggangnya sendiri mati-matian menahan diri agar tidak langsung menyodok maju menghancurkan mulut manis di bawahnya.

Namun, Jemi tampaknya keras kepala. Merasa tertantang, dia memundurkan sedikit kepalanya, lalu beralih mengemut bagian atasnya saja. Lidahnya bermain dengan lincah, memutar di sekitar lubang kecil di ujung dan guratan batangnya, membuat Ashton sukses memejamkan mata erat—ikut pening karena stimulasi yang luar biasa nikmat.

Setelah dirasa mulutnya cukup basah dan terbiasa, Jemi kembali mencoba. Kali ini dengan tekad penuh, dia membuka mulutnya lebar-lebar, menekan lidahnya ke bawah, dan menelan habis kontol Ashton sedalam yang dia bisa.

Slurph... mmmph!

Batang tebal itu meluncur masuk, mendesak melewati batas maksimal hingga pangkal tenggorokan Jemi benar-benar merasakan ukuran masif milik Ashton yang mengunci jalur napasnya. Jemi mendongak ekstrem dengan bibir yang melebar maksimal membungkus pangkal kontol Ashton, sementara tangannya meremas paha kokoh sebagai tumpuan demi menahan gelombang nikmat yang campur aduk.

“Pinter, Jemi... iya, begitu.”

“Cantik, Jemi... cantik sekali.”

Pujian demi pujian bernada rendah dan serak tidak ada habisnya mengalir dari bilah bibir Ashton. Dosen muda itu benar-benar memanjakan kesukaan Jemi yang haus akan apresiasi, membuat ego binal si anak Teknik melambung tinggi sampai ke ubun-ubun. Efek pujian itu luar biasa; Jemi merasa mendapat suntikan energi instan hingga nekat membuka rahangnya lebih lebar lagi.

Sampai di kuluman terakhir yang paling dalam, Jemi melakukan keajaiban. Mengabaikan rasa sesak yang menghimpit jalurnya untuk bernapas, dia mendorong kepalanya maju dengan satu sentakan pasrah, berhasil memasukkan kontol masif Ashton yang terasa semakin menebal, panas, dan sekeras batu itu ke dalam seluruh rongga mulutnya hingga kandas ke pangkal.

Mata Ashton seketika terbelalak. Otot-otot di lehernya menegang, dan cengkeraman tangannya di rambut blonde Jemi mengencang drastis saat merasakan sensasi vakum yang begitu ketat dan basah dari tenggorokan Jemi yang menjepit pusakanya tanpa celah.

“Ahh... enak, Jemi... mulut kamu enak banget,” lenguh Ashton frustrasi, kepalanya mendongak ke langit-langit kamar dengan napas yang sudah putus-putus. Pinggangnya berkedut hebat, menahan puncak kenikmatan yang sudah berada di ujung tanduk. “Sebentar... saya mau keluar.”

Jemi tidak menjauhkan wajahnya. Dia justru memejamkan mata erat, membiarkan tangannya mencengkeram lutut kokoh Ashton sebagai tumpuan.

Crott! Crott!!

Satu sentakan besar dari pinggang Ashton berbarengan dengan semburan cairan hangat berkapasitas penuh yang langsung meluncur deras. Tenggorokan Jemi seketika terasa seperti ditembak oleh cairan kental yang berlimpah dan panas. Jemi sendiri yang menahan posisinya mati-matian, tidak memuntahkannya sama sekali, melainkan refleks meneguknya dalam beberapa kali telan hingga menyisakan lelehan putih di sudut bibir ranumnya yang berantakan.

“Hey, kok ditelen, Jemi?”

Ada nada kepanikan yang kentara dalam pertanyaan Ashton. Dosen muda itu buru-buru menunduk, menatap Jemi dengan mata melebar tidak percaya. Dia tidak menyangka kalau mahasiswa di bawahnya ini akan senekat dan sebinal itu sampai menelan habis semua cairannya tanpa sisa.

“Enak. Kakak hidup sehat ya?” sahut Jemi santai, malah kelihatan doyan. Wajahnya mendongak polos dengan binar jenaka, sama sekali tidak merasa terbebani dengan apa yang baru saja dia lakukan.

Mendengar respons tak terduga itu, kepanikan Ashton langsung mereda, digantikan oleh rasa gemas yang luar biasa. Ashton terkekeh rendah seraya ibu jarinya bergerak sibuk, dengan lembut mengusap dan membersihkan sisa cairan putih yang meluber di sudut bibir ranum Jemi.

Good boy. Such a good boy, Jemi,” bisik Ashton dengan aksen Inggrisnya yang terdengar begitu seksi, fasih, dan berwibawa—khas seorang akademis yang sering bergelut dengan literatur internasional.

“Duh ngompol sih gue ini kayanya…” batin Jemi.

Ashton kemudian menundukkan kepalanya lebih dalam. Tangannya yang besar beralih merayap naik, mencengkeram lembut tengkuk Jemi untuk menarik wajah cantik itu mendekat. Tanpa memberikan jeda, Ashton kembali membawa Jemi ke dalam ciuman yang dalam dan intim, melumat bibir manis yang kini sudah bercampur dengan rasa kepunyaannya sendiri.

Ciuman panas mereka tidak berlangsung lama. Begitu tautan bibir itu terlepas dengan benang saliva yang terputus di udara, tangan Ashton bergerak dengan kecekatan luar biasa—terlalu efisien untuk ukuran pria yang awalnya terlihat kikuk. Tanpa banyak bicara, Ashton mencengkeram ujung croptop putih milik Jemi, menariknya ke atas melewati kepala, dan melempar kain rajut itu begitu saja ke sembarang lantai kamar.

Kini, dada datar Jemi sepenuhnya terekspos, naik-turun dengan liar memburu pasokan udara. Namun, bibir sialan yang beberapa menit lalu membuat Jemi kepayang itu kini bergerak turun, berganti meraup salah satu putingnya yang sudah menegang keras.

Ashton mengulumnya dengan rakus dan begitu lihai. Rahang tegasnya bergerak dinamis, menyedot gundukan kecil itu begitu kuat ke dalam rongga mulutnya yang hangat, sementara lidahnya meliuk-liuk kasar memutari puncaknya.

"Ahhh! Akh—Kak Ash! Nghhh, g-gigit... hnghh!"

Jemi benar-benar melayang. Pekikan demi pekikan erotis lolos dari bibirnya tanpa bisa ia saring lagi. Suara desahannya memenuhi kamar, terdengar begitu hebat, serak, dan putus-putus. Sensasi hisapan kuat itu membuat punggung Jemi tidak kuasa untuk tidak melengkung ekstrem ke atas kasur, membusungkan dadanya pasrah. Sedotan Ashton begitu intens hingga rasanya dada datar Jemi seakan-akan bisa mengeluarkan gemercik air susu, memicu rasa ngilu yang luar biasa nikmat menjalar langsung ke selangkangannya. Jemi yakin, setelah malam ini, kedua putingnya pasti akan bengkak merah dan kebas.

Belum lagi, tangan cekatan Ashton tidak pernah dibiarkan menganggur. Sementara mulutnya sibuk menyiksa puting kanan, telapak tangan kanan Ashton yang besar dan kasar meremas dada kiri Jemi—bergantian menyiksa nikmat sisi lain yang sedang menunggu giliran untuk dihisap. Jari-jari berurat Ashton memilin dan menarik puting kiri Jemi dengan ritme yang seirama dengan hisapan mulutnya.

"Ssshh-ahhh! Kakak... akh, pelan-pelanhh! Jemi... Jemi mau gila, ahh!" Jemi meracau hebat. Matanya bergulir ke atas, sayu dan berair, sementara jemari tangannya meremas seprei kasur sampai kusut masai demi menyalurkan rasa syok dari stimulasi ganda tersebut. Kakinya menendang-nendang udara, kelonjotan setiap kali Ashton mengisap dadanya semakin dalam hingga menghasilkan suara slurph basah yang amat kentara.

Di tengah-tengah badai desahannya yang memenuhi ruangan, Jemi memaki penuh kemenangan di dalam hatinya. Strategi tiga hari yang awalnya ia kira akan berjalan dominan kini hancur lebur, namun Jemi tidak peduli. Dia sadar betul bahwa pria kaku di belakang rumahnya ini adalah seorang pengentot handal dengan jam terbang tersembunyi yang cukup untuk membuatnya kelabakan dan memohon ampun malam ini.

Jemi semakin bergerak gelisah di atas pangkuan Ashton. Setiap kali dia menggeliat menahan sensasi di dadanya, permukaan perut datarnya terus-terusan bergesekan dengan kontol Ashton yang kembali mengeras dengan cepat setelah pelepasan pertamanya. Sentuhan makro yang panas itu membuat Jemi tidak sabar. Namun, belum sempat jemari lentik Jemi terulur untuk meraih kembali pusaka besar tersebut, Ashton sudah bergerak satu langkah lebih cepat.

Dengan gerakan dominan yang tak terbantahkan, Ashton melucuti celana jeans Jemi. Pria itu mengangkat tubuh Jemi seakan mahasiswa Teknik itu ringan seperti kapas, menelanjanginya secepat kilat hingga Jemi kini sepenuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Ashton kemudian memindahkan posisi mereka, menidurkan tubuh molek Jemi di atas ranjang dengan posisi telentang yang sangat terekspos.

Begitu seluruh pakaian bawahnya terlepas, barulah terlihat kalau Jemi ternyata sudah basah kuyup di dalam celana. Air maninya sendiri sudah keluar, membasahi seluruh permukaan kemaluannya yang memerah. Jemi terkejut sendiri melihat kondisinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bisa terstimulasi begitu hebat; dia bahkan tidak sadar kapan tepatnya dia telah mencapai puncak, saking terbuainya oleh badai kenikmatan dari hisapan dan pilinan kasar yang diberikan Ashton pada dadanya tadi.

Ashton menurunkan pandangannya, lalu jemari besarnya bergerak menggenggam pas kontol Jemi yang masih berkedut sensitif. Ashton menggoda batang kemerahan yang berukuran proporsional itu, mengusap ujungnya dengan ibu jari. Kontras visual itu terlihat begitu jelas; milik Jemi terlihat begitu mungil dan cantik di dalam cengkeraman tangan kokoh Ashton, sangat berbeda jauh dengan ukuran masif milik pria asing di hadapannya ini.

Jemi kembali menelan ludah kasar dengan tatapan ngeri sekaligus menggebu. Dia mendadak teringat pada dildo mainan bening yang dia simpan di laci—dildo yang selama ini dia pakai untuk latihan mandiri hanya seukuran dengan miliknya sendiri. Sedangkan kontol Ashton? Jauh lebih besar, tebal, dan panjang dari apa yang biasa diakomodasi oleh tubuhnya.

“Jemi,” panggil Ashton dengan suara yang teramat lemah lembut, berbanding terbalik dengan kerakusan intens yang dia tunjukkan beberapa menit lalu saat menyiksa dada Jemi. “Saya boleh?”

Pertanyaan itu jelas hanya formalitas belaka. Setelah menelanjangi Jemi hingga tak bersisa seperti ini, bagaimana bisa seorang pria dewasa seperti Ashton tidak menuntaskannya hingga habis?

“Boleh apa, Kak?” Jemi mengerjap-ngerjapkan matanya, mendadak berlagak sok polos dengan nada suara yang dibuat seimut mungkin.

Mendengar respons itu, ada jeda beberapa detik di mana Ashton sempat bergeming lama, menatap lurus ke dalam manik mata Jemi yang sarat akan godaan. Tatapan Ashton begitu dalam, seolah sedang menakar seberapa jauh pemuda di bawahnya ini bisa menerima kegilaannya.

“Saya mau meniduri kamu,” jawab Ashton akhirnya, menggunakan diksi yang terkesan baku namun terdengar sangat erotis karena diucapkan dengan suara bariton yang berat.

“Ohh, ngewe,” sahut Jemi blak-blakan dengan istilah yang jauh lebih vulgar, meruntuhkan atmosfer puitis yang sempat dibangun Ashton.

Bukannya terganggu dengan pilihan kata Jemi yang liar, Ashton hanya tersenyum ramah—senyuman yang begitu menawan, lengkap dengan ketampanan wajah rupawannya yang sialan. Visual sedekat itu benar-benar membuat Jemi frustrasi sendiri dengan kegilaan fantasinya. Sembari menahan debaran sarat gairah di dadanya, Jemi membatin, mengingatkan dirinya sendiri untuk menggigit hidung mancung Ashton yang luar biasa tampan itu nanti saat mereka sudah berada di puncak permainan.

Ashton tidak membiarkan Jemi terlalu lama tenggelam dalam kegilaan fantasinya. Senyuman ramah di wajah rupawannya langsung melebur begitu dia mencondongkan tubuh, mengurung tubuh polos Jemi di bawah kungkungan dada bidangnya. Detik berikutnya, Ashton memenuhi janji dan menuruti permintaan manja si cantik: menciumi Jemi habis-habisan di setiap jengkal kulitnya tanpa ada yang terlewat.

Bibir panas Ashton merayap turun dari dahi, mengecup kelopak mata Jemi yang bergetar pasrah, lalu menuruni hidung mancungnya. Ashton memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis rahang tegas Jemi yang kini mendongak pasrah, mengekspos leher jenjangnya yang langsung dilahap kembali oleh lumatan-lumatan lapar.

Malam ini, Ashton benar-benar dibuat sibuk. Bukan hanya bibir dan lidahnya yang bekerja ekstra keras menjelajahi tubuh indah di bawahnya, tetapi verbalnya pun tak henti memanjakan ego Jemi. Pujian demi pujian seksi mengalir deras dari bilah bibir Ashton dengan suara baritonnya yang serak dan memburu, berbisik tepat di samping telinga Jemi yang sudah memerah padam.

"You are so breathtaking, Jemi..." bisik Ashton rendah, menghirup dalam-dalam aroma maskulin bercampur manis dari ceruk leher Jemi. "Every single inch of you is customized to drive me crazy."

"Ahhh-nggh... Kak Ashh," Jemi melenguh hebat, meremas pundak berurat Ashton saat ciuman itu turun ke dadanya, kembali melumat puting bengkaknya yang sensitif.

"Look at you, stretching out for me so beautifully," puji Ashton lagi saat melihat bagaimana tubuh jantan namun ramping milik Jemi melengkung pasrah di atas ranjang, sepenuhnya takluk. "Such a gorgeous, good boy. You want this so bad, don't you?"

Mendengar bisikan-bisikan nakal dalam bahasa Inggris yang begitu fasih dan penuh penekanan dari bibir Ashton, Jemi merasa kepalanya benar-benar pening karena gairah yang memuncak. Jemi memejamkan matanya erat, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri di atas bantal, sementara kakinya bergerak gelisah—merasakan gesekan kontol besar Ashton yang semakin menuntut di antara celah pahanya.

Setiap pujian yang dilontarkan Ashton terasa seperti afrodisiak yang membuat lubrikasi alami Jemi semakin membanjir, siap untuk ditiduri habis-habisan oleh pria matang di atasnya ini.

“Kakak... mau... Jemi mauu...”

Suara Jemi terdengar begitu serak dan putus-putus. Liangnya di bawah sana sudah terasa sangat gatal dan berdenyut nyeri, menuntut sesuatu yang besar untuk segera mengisi kekosongan tersebut. Sosok dosen muda yang sedang menindihnya ini benar-benar berhasil membuatnya kelaparan gairah. Jemi memohon pasrah, sengaja memecah konsentrasi Ashton yang sedari tadi masih sibuk memuja dan menciumi setiap jengkal tubuhnya.

Ashton menghentikan kecupannya di perut Jemi, lalu mendongak. Seringai seksi kembali tercetak di wajah tampannya saat melihat bagaimana berantakannya mahasiswa di bawah kungkungannya ini.

“Mau apa, pretty one?” tanya Ashton balik menggoda, sengaja menahan diri untuk tidak langsung memberi apa yang Jemi inginkan demi bisa melihat reaksi binal lainnya.

“Mau ditidurin Kakak...” cicit Jemi, matanya sudah berkaca-kaca menahan hasrat.

“Hmm, siapa yang mau ditidurin emangnya?” pancing Ashton lagi dengan suara baritonnya yang rendah dan berat, seolah sedang mengabsen mahasiswanya di kelas.

Jemi merengek frustrasi di atas kasur, kedua kakinya bergerak menendang selimut karena sudah terlanjur gemas dan tidak tahan lagi dengan siksaan manis ini.

“Jemi! Jemi yang mau dikontolin Kak Ashton!” seru Jemi blak-blakan tanpa saringan lagi.

Mendengar seruan vulgar yang keluar begitu saja dari bibir ranum itu, Ashton langsung terkekeh puas. Jantungnya berdegup kencang karena kesenangan; dia benar-benar gemas melihat kelakuan binal namun jujur dari pemuda di bawahnya ini.

Sadar kalimatnya barusan terlalu vulgar, Jemi langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah padam dengan kedua telapak tangannya. “Jemi... Jemi yang mau ditidurin Kakak...” lanjut Jemi dengan suara yang mendadak pelan dan mencicit, merasa malu setengah mati karena Ashton justru kembali menunduk untuk menciumi pipi dan sudut bibirnya dengan gemas.

Ashton mendadak menegakkan tubuhnya, berlutut di antara kedua paha polos Jemi. Napasnya yang memburu berpadu dengan suhu kamar yang semakin memanas membuat dosen muda itu merasa gerah sendiri. Dengan gerakan yang penuh penekanan, Ashton meraih kancing kemeja kerjanya satu per satu, membukanya dengan cekatan lalu menyentak kain formal itu hingga terlepas dari tubuhnya dan terlempar ke lantai.

Di mata Jemi, adegan itu seakan berputar dengan efek slow motion. Jemi menelan ludahnya kasar, matanya melebar tanpa berkedip menyaksikan bagaimana kemeja itu lepas dan mengekspos dada bidang berotot, perut six-pack yang terpahat sempurna, serta guratan urat-urat maskulin di lengan kokoh Ashton. Jemi membatin, orang mana yang kira-kira beruntung mendapatkan pria mapan nan gagah seperti Ashton ini di masa depan? Kalau ada antreannya, Jemi bersumpah mau mendaftar di nomor urut pertama.

Namun, lamunan binal Jemi seketika terpecah berantakan kala Ashton menunduk dan menanyakan sesuatu yang terdengar sangat aneh sekaligus mengejutkan di telinganya.

“Cantik, rok kamu kemarin di mana?”

Jemi tersentak kaget, tubuhnya mendadak menegang di atas kasur. Jantungnya rasanya mau merosot sampai ke dengkul saat rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat di dalam kamar justru dipertanyakan secara frontal oleh Ashton.

“Di... di gantungan balik pintu, Kak...” cicit Jemi terbata-bata. Pikirannya langsung kalang kabut. Jemi sudah pasrah dan siap mental jika setelah ini Ashton akan memaki atau menganggapnya aneh karena punya hobi memakai pakaian perempuan.

Namun, respons Ashton justru di luar dugaan.

“Boleh kamu pakai lagi? You look so gorgeous in that,” puji Ashton dengan tatapan mata yang menggelap penuh damba, sama sekali tidak ada binar penghakiman di sana.

“Hah?” Jemi melongo bodoh, otaknya mendadak blank.

“Saya ambilkan ya.”

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Ashton bangkit berdiri. Pria dengan tubuh bagian atas telanjang itu melangkah lebar menuju pintu kamar, meraih rok mini berwiron yang sempat Jemi kenakan tiga hari lalu dari gantungannya, lalu kembali ke atas ranjang.

Dengan sisa-sisa kelembutan yang dia punya, Ashton membantu mengangkat sedikit pinggul Jemi, memasangkan kembali rok mini itu ke lingkar pinggang ramping milik mahasiswa Teknik dengan sangat telaten. Kain pendek itu kini menutupi paha bagian atas Jemi, namun justru menciptakan kontras yang jauh lebih berdosa karena Jemi tidak mengenakan celana dalam sama sekali di baliknya.

Ashton memandangi hasil karyanya dari atas, lalu mengulas senyum tipis yang penuh kepuasan dominan. Ibu jarinya mengusap lembut kulit paha Jemi yang terekspos di ujung rok.

“Luar biasa cantik,” bisik Ashton pelan, membuat Jemi yang tadinya ketakutan kini justru kembali meleleh dan merona hebat, menyadari bahwa fetish tersembunyinya justru dipuja habis-habisan oleh pria di atasnya ini.

Sebenarnya, rok mini yang kini terpasang di pinggangnya hanyalah sebuah hiasan kain yang sama sekali tidak menutupi apa-apa. Namun, keberadaan kain pendek itu justru sangat memenuhi ego terdalam Jemi. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa haru yang bercampur dengan gairah yang meluap-luap. Baru kali ini dalam hidupnya, ia diterima sepenuhnya—bahkan dipuja—karena kesukaannya memakai pakaian feminin. Keberanian binal Jemi kembali seutuhnya, kini dengan rasa percaya diri yang melambung tinggi.

Ashton tidak membiarkan Jemi melamun terlalu lama. Pandangan matanya yang menggelap fokus pada kontras kulit putih paha Jemi dan kain rok pendek tersebut. Telapak tangan besar Ashton kembali meraba paha dalam Jemi yang sensitif, meremasnya pelan hingga membuat Jemi melenguh pelan. Dengan satu sentakan dominan, Ashton menarik paha Jemi lebih mendekat ke arahnya, lalu kembali membuka lebar-lebar paha mulus itu hingga terekspos sempurna.

Liang gatal Jemi seketika berkedut rekah, seolah menyambut hawa panas yang menguar dari tubuh Ashton. Tanpa perintah, kedua kaki kurus Jemi langsung terangkat, melingkar dan melilit erat pinggang kokoh Ashton, mengunci posisi mereka agar tidak ada jarak lagi yang tersisa.

Visual Jemi yang mengenakan rok mini di bawah kungkungannya benar-benar menjadi bahan bakar instan bagi Ashton. Kontol masifnya yang dipenuhi urat-urat menonjol semakin mengeras dan menegang hebat di antara selangkangan mereka. Ashton memajukan pinggangnya, sengaja menggesekkan batang panasnya yang besar tepat di atas lubang Jemi yang sudah semakin gatal dan mendesah menuntut.

Gesekan yang intim dan penuh penekanan itu membuat Jemi mendongak ekstrem, meremas sprei dengan jemari yang memutih.

"Ngghhh... Kak Ashhh... p-please...hh," racau Jemi, memohon dengan sisa akal sehatnya.

Ashton menahan tubuhnya dengan satu tangan di samping kepala Jemi, sementara tangan lainnya mengarahkan ujung kepalanya yang besar dan basah tepat di bibir liang Jemi yang berkedut pasrah. Ashton menatap lurus ke dalam manik mata sayu Jemi yang berair karena gairah.

“Saya masukin ya, Jemi.”

Melihat bagaimana lubang Jemi berkedut rekah menuntut namun masih tampak begitu sempit, Ashton bergerak penuh perhitungan. Pria matang itu meludahi jemarinya sendiri lalu mengusapkannya ke lubang Jemi sebagai pelumas darurat, memastikan area sensitif itu cukup basah sebelum ia memasukkan pusaka besarnya secara perlahan, takut-takut jika mahasiswa di bawahnya ini akan kesakitan.

Jemi seketika menahan napasnya dalam-dalam. Tubuhnya menegang ekstrem di atas kasur dengan mata yang membelalak lebar. Baru ujung kepala kontol Ashton saja yang menembus masuk, rasanya sudah sangat menjepit dan sempit luar biasa. Liangnya yang gatal seakan langsung dipaksa melebar melewati batas normal demi mengakomodasi diameter masif pria asing yang pernah menontonnya masturbasi.

Menyadari hambatan itu, Ashton menundukkan tubuhnya lebih dalam, menumpu bobotnya agar bisa mempermudah jalurnya yang kini sedang dijepit erat tanpa celah oleh dinding liang Jemi. Sambil menahan diri agar tidak langsung menyodok brutal, Ashton terus membisikkan kata-kata penenang dengan suara bariton yang teramat lembut.

“Rileks cantik... sebentar ya...” bisik Ashton, mengecup pelipis Jemi yang mulai berkeringat dingin.

Pinggang Ashton kembali menekan maju secara perlahan, membuat batang tebal berurat itu meluncur masuk beberapa senti lagi, membelah isi perut Jemi hingga rasanya semakin penuh.

“Maaf ya... sedikit lagi, pretty boy...”

“Iya pinter, Jemi... pinter banget lubangnya nelen punya Kakak. Abis ini masuk semua, hmm?”

Mendengar rangkaian pujian lembut itu di tengah rasa sakit, Jemi justru merasa dirinya semakin gila. Sensasi penuh yang menyesakkan langsung menjalar dari ujung lubangnya hingga ke ulu hati. Sakitnya kali ini terasa berkali-kali lipat lebih parah daripada pertama kali ia mencoba latihan mandiri menggunakan dildo bening miliknya. Kulit sensitif di sekitar liangnya terasa sedikit robek karena dipaksa menampung ukuran yang tidak masuk akal.

Namun, perlakuan verbal Ashton yang begitu memuja, ditambah dengan kecupan-kecupan basah dari ranum Ashton di wajahnya, justru merangsang ego binal Jemi secara masif. Bukannya menyerah atau menyuruh Ashton berhenti, rasa sakit yang bercampur nikmat itu malah membuat Jemi semakin merengek frustrasi, memohon dengan sisa suaranya yang serak agar tubuhnya segera digauli habis-habisan malam ini.

Plakk! Plakk! Plakk!

Suara hantaman kulit yang intens dan basah menggema brutal di setiap sudut kamar, berpadu dengan derit ranjang yang ikut bergetar hebat. Rok mini yang dipakai Jemi kini tersingkap berantakan hingga ke batas dada, sama sekali tidak menghalangi bagaimana pinggang kokoh Ashton bergerak maju-mundur dengan presisi yang mematikan. Setiap sodokan yang dihantamkan terasa begitu bertenaga, seolah berniat menanamkan eksistensinya sedalam mungkin ke dalam tubuh Jemi.

"Ahhh! Kak Ash—ngghhh! Faster-hh, s-suck me right there, ahh! Kontol Kakak... d-dalem bangettthh, fuck!"

Desahan Jemi lolos begitu saja tanpa aturan, super frontal dan teramat erotis. Rasa sakit yang dirasakannya di awal kini telah menguap sempurna, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang membuat akal sehatnya hancur berantakan. Jemi meracau hebat, kedua tangannya mencengkeram sprei sampai urat-urat di punggung tangannya menonjol, sementara kepalanya bergerak menggeleng frustrasi ke kanan dan ke kiri di atas bantal.

Ashton tidak memberikan ampun sedikit pun. Mengandalkan ukuran masifnya yang tebal dan berurat, sodokan dalam dari perbuatan Ashton secara akurat langsung menghantam titik nikmat (prostate) Jemi berulang kali tanpa meleset.

Jleb! Ahh! Jleb!

"NGGHHHH—!"

Sentakan telak pada titik sensitif itu seketika membuat seluruh tubuh Jemi menegang ekstrem. Sensasi nikmat yang teramat dahsyat menyengat sarafnya seperti aliran listrik, hingga untuk beberapa detik, kedua mata Jemi berputar ke atas dengan pupil hitam yang menghilang, menyisakan bagian putihnya saja karena terlalu syok menerima orgasme kering yang dipicu oleh gempuran kasar Ashton. Air liurnya menetes dari sudut bibir ranumnya yang terbuka lebar, benar-benar dibuat lumpuh dan tidak berdaya oleh dominasi pria asing yang tinggal di belakang rumahnya.

"Jemi... look at me, princess," gerung Ashton dengan suara bariton yang teramat berat dan serak. Napasnya yang panas memburu di atas wajah Jemi, sementara pinggangnya justru bergerak semakin cepat dan menuntut, mengocok liang ketat Jemi yang kini terus menjepit dan berkedut hebat menjilid pusakanya.

"Ahhh-ahhh! Kakak... Jemi mau keluar lagi-hh! Jan-jangan berhenti, ahh! Enak bangettt, please... dikit lagihh!" Jemi kembali memekik dengan suara sengau yang bergetar egois, memohon agar gempuran tanpa ampun itu membawanya kembali ke puncak kegilaan.

Mendengar rengekan egois Jemi yang memohon ritme lebih cepat, Ashton justru sengaja melakukan hal sebaliknya. Seringai dominan terbit di wajah tampannya yang basah oleh keringat. Dosen muda itu tiba-tiba memperlambat temponya, namun mengubahnya menjadi sodokan yang teramat mantap dan presisi tepat di atas titik nikmat Jemi.

Sreeet... Jleb!

Ashton menarik batangnya mundur perlahan hingga hampir keluar seluruhnya dari liang yang menjepitnya, menyisakan ujung kepalanya saja di bibir lubang Jemi yang langsung mengerut panik kehilangan asupan. Namun, sedetik kemudian, dengan satu sentakan pinggang yang kuat dan bertenaga, Ashton langsung menyodok kuat kembali, menghantam telak titik nikmat Jemi hingga kandas ke pangkal.

"NGGHHHAAAHH! K-Kak Ashhh! Jangan digituin-hh... ahhh!"

Tubuh ramping Jemi sampai memantul ke atas kasur seirama dengan sodokan mantap kontol Ashton yang tengah menjajah lubangnya tanpa ampun. Setiap kali batang tebal berurat itu masuk secara penuh dengan ritme lambat namun menghancurkan tersebut, perut bawah Jemi terasa seperti diaduk, memicu sensasi geli dan nikmat yang membuat seluruh badannya gemetar hebat.

Tak puas sampai di situ, Ashton mencengkeram pangkal paha Jemi. Dia menarik lebih tinggi pantat sekal Jemi yang masih terbungkus rok mini berantakan itu hingga melayang dari atas kasur. Sekarang, kedua kaki kurus Jemi sudah bertengger pasrah di atas pundak kokoh Ashton, membuka akses yang jauh lebih lebar dan vertikal.

Dengan posisi yang semakin menukik ini, kontol Ashton terasa semakin tertelan habis di dalam liang sempit yang terus-terusan meremas dan menjepit batangnya tanpa ampun. Dinding dalam Jemi berkedut histeris, seolah-olah memiliki mulut sendiri yang kelaparan dan menolak melepaskan pusaka masif pria yang belum genap berkepala tiga.

Plak! Plak! Slurph!

Perpaduan antara suara tamparan kulit pantat dan cairan lubrikasi yang becek memenuhi kamar, menciptakan harmoni yang teramat mesum. Ashton menunduk, menyodok dengan sudut yang semakin ekstrem, menghujam titik sensitif itu bertubi-tubi.

"Ahhh-ahhh! Kak... Kakak! Jemi... Jemi udahh-hh—"

Crott!!

Stimulasi gila-gilaan yang didapatkan secara internal itu membuat Jemi lagi dan lagi mencapai puncaknya tanpa bisa ia tahan-tahan. Tanpa ada sentuhan sama sekali pada bagian depannya, cairan mani Jemi kembali menyembur deras untuk kesekian kalinya, membasahi perut datarnya sendiri.

Akibat orgasme yang terlalu intens, Jemi benar-benar seperti kehilangan kemampuan motoriknya sendiri. Kesadarannya seolah melayang ke awang-awang. Pandangan matanya sayu berair tanpa fokus, sementara bibir ranumnya yang terbuka lebar hanya bisa sibuk melolong erotis, mengeluarkan lenguhan-lenguhan panjang bernada tinggi yang mengabsen nama Ashton di setiap tarikan napasnya yang putus-putus.

Ashton sama sekali tidak terganggu oleh pelepasan Jemi yang berulang kali membasahi perut mereka. Alih-alih melambat, jepitan liang Jemi yang semakin mengetat hebat pasca-orgasme justru menjadi bahan bakar yang membakar gairah Ashton hingga ke puncaknya. Pinggang kokohnya terus bergerak konisten, menghujam dalam dengan ritme yang stabil dan bertenaga, memanfaatkan posisi menukik Jemi untuk menjangkau setiap jengkal dinding sensitif di dalam sana.

Sambil terus mendominasi, untaian pujian dalam bahasa Inggris yang seksi dan memabukkan kembali terus-terusan dilontarkan dari bibir Ashton. Suara baritonnya kini terdengar semakin berat, serak, dan penuh dengan kepuasan yang mendalam.

"You are tight, Jemi... so incredibly tight for me,” bisik Ashton rendah, menunduk untuk menjilat tetesan keringat di perpotongan leher Jemi. "Look at how your body takes all of me. Such a perfect, beautiful boy."

"Ahhh! Nghhh, Kak Ash... d-dalem—ahh! More, Kak... please," Jemi meracau di sela-sela lolongan erotisnya. Tubuhnya yang lemas pasca-pelepasan dipaksa untuk kembali menyambut badai kenikmatan yang belum juga usai.

"You like it when I hit it right there, don't you?" puji Ashton lagi saat merasakan liang Jemi kembali berkedut hebat menyedot batangnya setiap kali ia menghantam titik nikmat tersebut. "So honest, so greedy for me. That's it, Jemi... keep holding onto me just like that."

Setiap pujian yang mengalir dari bibir Ashton terasa seperti usapan lembut yang menenangkan sekaligus melelehkan sisa-sisa pertahanan ego Jemi.

Ashton semakin mengejar puncaknya. Entah karena kontolnya yang memang semakin membengkak panas di dalam sana, atau karena lubang Jemi yang begitu pintar memijat dan menjepit batangnya, yang jelas liang Jemi terasa semakin berkali-kali lipat lebih sempit dan mencengkeram.

Menyadari pelepasan besarnya sudah berada di ujung tanduk, Ashton tiba-tiba menarik dirinya mundur secara perlahan. Sensasi plop basah yang menggema saat kontol tebal, merah, dan berurat itu terlepas sepenuhnya membuat Jemi spontan melenguh kehilangan.

“Kakak…” cicit Jemi dengan mata sayu berkaca-kaca. Rongga selangkangannya mendadak terasa kosong dan dingin.

Namun, rasa kehilangan itu tidak bertahan lama. Tubuh lemas Jemi lagi dan lagi diangkat dengan dominan oleh tangan kekar Ashton. Dengan sedikit paksaan yang teramat seksi, Ashton mengubah posisi Jemi menjadi telungkup, lalu menarik pinggulnya ke atas hingga Jemi menungging pasrah di atas lututnya sendiri. Rok mini yang dipakainya kini tersingkap sepenuhnya ke atas punggung, mengekspos pantat bulatnya yang memerah dan liang cantiknya yang masih menganga serta berkedut pasrah akibat sodokan sebelumnya.

Tanpa memberikan jeda untuk bernapas, Ashton kembali menerjang masuk.

Jleb! Ahhh!

Tusukan demi tusukan yang masuk begitu dalam ke liang Jemi dengan posisi menungging ini benar-benar menyita seluruh sisa kewarasan Jemi. Sudut masuk yang jauh lebih ekstrem dan dalam membuat lambung Jemi seolah ikut terhantam. Air liurnya sudah banjir ke mana-mana, menetes membasahi bantal, sementara bagian depannya yang bergesekan dengan sprei terus-menerus mengucurkan air mani cair begitu saja karena stimulasi prostat yang terlalu brutal.

“Kakak… udah.. nghh Kakak enakk nggh kontolnya enakk..” racau Jemi sembarangan, kepalanya terkulai di atas kasur dengan pinggul yang terus dihantam maju-mundur. “Jemi mau hamil anak Kakak, ahhh ahh! Kakak, shhh... hamilin Jemi!”

Meskipun secara biologis itu mustahil, racauan kotor dan pasrah yang keluar dari bibir Jemi justru menjadi pemantik gairah paling berdosa bagi Ashton. Racauan itu hanya dibalas dengan pujian yang semakin gila dari bilah bibirnya. Sembari tangannya meremas dan menampar pelan pantat Jemi hingga memerah, Ashton terus memuja betapa indah, binal, dan enaknya tubuh Jemi malam ini.

Mendengar jeritan histeris Jemi yang berada di ambang batas kemampuannya, Ashton tidak melambat sedikit pun. Sebaliknya, racauan kotor dan kepasrahan total Jemi yang memohon untuk dihamili justru meruntuhkan seluruh sisa kendali diri Ashton. Tatapan matanya menggelap sempurna, dipenuhi damba dan dominasi yang mutlak.

Sambil terus menghujamkan pinggangnya secara brutal ke dalam liang Jemi yang menjepitnya gila-gilaan, Ashton menundukkan tubuh bidangnya. Ia menempelkan dadanya yang basah oleh keringat ke punggung telanjang Jemi, mengurung tubuh molek itu sepenuhnya di bawah kuasanya.

“Good princess...fill yourself up with me, Jemi,” bisik Ashton dengan suara bariton yang teramat serak, berat, dan putus-putus di dekat telinga Jemi. Ia sengaja menggunakan panggilan feminim itu untuk membalas fantasi rok mini dan racauan Jemi, menghancurkan ego mahasiswa Teknik itu sampai berkeping-keping.

Jleb! Jleb! Plak!

Semakin gila Ashton mengejar puncaknya, semakin gila dan bertenaga pula kontol besarnya merodok masuk menjajah liang Jemi. Sodokan-sodokan cepat berkecepatan tinggi itu menekan kandung kemih Jemi dengan sangat keras, memicu sebuah sensasi asing yang sangat dahsyat dan tak tertahankan di perut bawahnya.

“Kakak, Jemi ngompol!! Anghhh... Jemi mau pipisss!!!” jerit Jemi histeris, tubuhnya kelonjotan hebat saat sensasi squirting yang luar biasa pekat siap meledak dari tubuhnya.

"Pee for me, pretty boy. Break down for me..." tuntut Ashton lagi, semakin gila merodok titik terdalam Jemi demi memancing pelepasan yang lebih hebat. Tangannya bergerak mencengkeram rahang Jemi, memaksa kepala si manis menoleh ke samping agar Ashton bisa melumat bibirnya yang basah oleh air liur.

"Kak—anghh! Kak Ash—shhh, Jemi... Jemi keluar—ahh!" Jemi meracau hebat di sela-sela lumatan panas mereka, tubuhnya bergetar hebat di atas lututnya sendiri.

"You are so beautiful when you're a mess like this, Jemi. Badan kamu enak banget, so tight...” puji Ashton bertubi-tubi, membalas setiap erangan Jemi dengan untaian kalimat pemujaan yang memabukkan. "Saya mau isi kamu sampai penuh, Jemi. I'm going to ruin you."

Gempuran tanpa ampun yang disertai dengan pujian verbal yang begitu kotor sekaligus memuja itu menjadi pukulan terakhir bagi kewarasan Jemi. Sensasi penuh, panas, dan desakan di kandung kemihnya melebur menjadi satu badai orgasme paling dahsyat yang pernah ia rasakan, siap untuk meledak bersama dengan pelepasan akhir dari pria asing yang menggauli tubuhnya.

Syuuuurrr!!

Crottt!! Croott!!

Badan Jemi mengejang ekstrem, melengkung kaku dalam posisi menungging dengan seluruh otot yang menegang hebat. Dia tidak bisa lagi menahan desakan kuat di perut bawahnya, membiarkan dirinya mengompol habis-habisan di atas kasur. Air seni yang bercampur dengan sisa-sisa cairan mani cair menyembur keluar berserobotan, membasahi sprei dan paha bagian dalamnya dalam sebuah pelepasan yang begitu kotor namun teramat nikmat.

Bersamaan dengan runtuhnya pertahanan Jemi, Ashton pun menyusul mencapai puncaknya. Dosen muda itu menggeram rendah, pinggangnya menyentak maju dengan satu dorongan terdalam yang mengunci batangnya di dalam sana. Cairan sperma yang begitu panas, kental, dan melimpah menyembur deras, memenuhi setiap sudut liang Jemi hingga terasa membludak.

Jemi tidak bersuara sama sekali. Bibirnya terbuka lebar, namun suaranya tertahan di tenggorokan saking nikmatnya stimulasi ganda yang menghantam saraf-sarafnya. Dunianya serasa berputar, putih, dan kosong. Di tengah kepasrahan total itu, masih sempat-sempatnya jemari besar Ashton bergerak ke bawah, memijit lembut kontol Jemi yang masih sibuk mengucurkan sisa-sisa cairannya ke atas kasur. Sentuhan itu membuat paha kurus Jemi bergetar bukan main karena rasa sensitif yang berlebih.

Merasa pelepasan mereka berdua sudah benar-benar selesai, Ashton perlahan-lahan menarik mundur kontol masifnya. Begitu pusaka besar itu terlepas sepenuhnya dengan suara plop basah, cairan pekat yang tak tertampung lagi di dalam liang Jemi langsung mengalir keluar, meleleh turun melewati celah pantatnya.

Namun secara tak terduga, Ashton menunduk dan menutup aliran cairan tersebut dengan lidahnya. Iya, pria matang itu masih melanjutkan kegiatannya dengan menjilati liang nikmat yang beberapa saat lalu menjepit kuat kontolnya. Lidah hangat Ashton menyapu bersih lelehan spermanya sendiri dari kulit sensitif Jemi, memberikan sensasi geli yang menggelitik sisa-sisa syaraf sang mahasiswa.

Tenaga Jemi sudah benar-benar tidak bersisa, bahkan hanya untuk sekadar menggeser kelingkingnya saja ia tak mampu. Matanya setengah terpejam, menatap kosong ke arah dinding kamar dengan napas yang masih tersengal-sengal. Satu hal yang pasti di dalam benaknya saat ini: seluruh jiwa dan tubuhnya telah sepenuhnya takluk dan sangat menikmati perbuatan bejat pria asing yang tinggal di belakang rumahnya tersebut.

Ashton benar-benar menenggelamkan wajahnya di antara belahan pantat Jemi yang masih menungging lemas. Napas Ashton yang panas berembus konstan di permukaan kulit paha dalam Jemi yang sensitif, mengirimkan gelombang kejut berupa kedutan halus di tubuh yang sudah kepayahan itu. Dengan penuh ketelitian, Ashton mulai menggerakkan lidahnya yang lebar dan hangat, menjilati setiap jengkal cairan pekat yang mengalir keluar dari liang Jemi.

Slurph... Sreeet...

Suara sesapan basah yang intim itu terdengar begitu jelas di keheningan kamar. Lidah Ashton menyapu dengan gerakan memutar, mengumpulkan lelehan sperma kentalnya sendiri yang bercampur dengan sisa-sisa lubrikasi alami di sekitar bibir liang Jemi yang masih tampak memerah basah dan menganga pasrah. Ashton bahkan dengan sengaja sedikit menekankan ujung lidahnya untuk mendesak masuk ke dalam celah yang berkedut lambat tersebut, mengabsen dinding terluar liang Jemi yang masih terasa berdenyut-denyut sisa orgasme gila tadi.

"Ngghhh... Kak Ash... j-jangan dih... ahhh," cicit Jemi lirih. Suaranya sudah hampir habis, hanya menyisakan bisikan sengau yang samar. Sensasi basah dan hisapan lembut dari mulut pria asing yang Jemi puja di area sekritis itu membuat perut bawah Jemi kembali melilit geli.

Ashton tidak peduli dengan protes lemah itu. Tangan besarnya beralih meremas lembut kedua belah pantat Jemi, sedikit merenggangkannya agar ia bisa menjangkau sudut-sudut tersempit yang masih basah. Air liur Ashton sendiri ikut mendominasi, melumuri permukaan kulit sensitif itu hingga berkilau di bawah temaram lampu kamar.

Setiap kali lidah tebal itu menyapu naik-turun dari ujung perineum hingga ke batas lubangnya, tubuh Jemi kembali tersentak kecil, memantul pasrah di atas kasur yang kini sudah berantakan dan basah oleh campuran air mani serta air seni. Ashton melakukan segalanya dengan begitu detail, membersihkan hasil karya bejatnya sendiri dengan cara yang justru terasa begitu erotis dan menghancurkan sisa-sisa harga diri Jemi sebagai seorang pria. Pemuda di bawah kungkungannya itu benar-benar dibikin tak berdaya, terbuai total dalam pasungan kepuasan yang diberikan.

"Kak... Kak Ash, please... udahh, Kak. Jemi udah nggak kuat... hhh," rintih Jemi dengan sisa tenaga terakhirnya.

Suaranya pecah, bergetar di antara deru napasnya yang putus-putus. Sensasi basah dari lidah Ashton yang masih sibuk memanjakan lubangnya benar-benar membuat seluruh saraf di tubuh Jemi terasa seperti disengat listrik statis. Alih-alih mereda, kenikmatan gila yang terus disuapkan oleh Ashton justru terasa menyiksa karena tubuh Jemi sudah terlanjur mati rasa akibat orgasme beruntun. Air matanya menetes perlahan, membasahi bantal yang sudah setengah basah. Jemi benar-benar memohon untuk selesai; dia sudah berada di titik paling pasrah, tidak sanggup lagi menampung stimulasi sehebat apa pun.

Mendengar suara parau Jemi yang terdengar begitu rapuh dan kewalahan, Ashton akhirnya menghentikan kegiatannya. Pria itu mendesah rendah, perlahan menjauhkan wajahnya dari selangkangan Jemi yang memerah padam.

Ashton tidak lantas meninggalkan Jemi begitu saja dalam kondisi berantakan. Dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kebejadannya beberapa menit lalu, Ashton mencengkeram lembut pinggang Jemi, membantu menurunkan pinggul pemuda itu dengan sangat hati-hati agar bisa kembali berbaring telentang di atas kasur.

Kedua kaki Jemi yang lemas dan bergetar bukan main diturunkan dari pundaknya. Ashton menarik selimut tebal yang kering dari ujung ranjang, lalu menggunakannya untuk membungkus tubuh polos Jemi yang menggigil kecil pasca-pelepasan, menyembunyikan rok mini yang kini sudah kusut berantakan di pinggangnya.

Ashton kemudian ikut berbaring di samping Jemi, menarik tubuh ringkih mahasiswa Teknik itu ke dalam dekapan hangat dada bidangnya yang masih setengah bertelanjang.

"Shh, it's okay...You did so well, Jemi," bisik Ashton dengan suara baritonnya yang kini terdengar teramat lembut dan menenangkan.

Jemari besarnya yang penuh urat bergerak menyisir rambut Jemi yang basah oleh keringat, menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi sang mahasiswa. Ashton menunduk, memberikan kecupan-kecupan ringan dan penuh sayang di pelipis, pipi, hingga ke sudut bibir Jemi yang masih sedikit terbuka. Tangannya yang lain mengusap punggung Jemi di balik selimut secara konstan, berusaha meredakan getaran di paha dalam Jemi yang masih tersisa.

Di dalam pelukan posesif nan hangat milik pria asing yang tinggal di belakang rumahnya ini, Jemi perlahan-lahan mulai bisa mengontrol napasnya kembali. Rasa aman dan dipuja yang mengalir dari setiap usapan tangan Ashton membuat Jemi memejamkan matanya rapat-rapat, menyembunyikan wajahnya yang memerah di ceruk leher hangat Ashton, sepenuhnya tenggelam dalam kenyamanan yang menutup malam gila mereka.

Jemi hanya bisa merespons dengan anggukan lemah di ceruk leher Ashton. Matanya sudah terlalu berat untuk terbuka, dan seluruh persendiannya terasa seperti lolos dari tempatnya.

Melihat respon pasrah dari laki-laki cantiknya, Ashton mengulas senyum tipis yang teramat lembut. Ia mengecup sekali lagi pucuk kepala Jemi sebelum kemudian bergerak menyelipkan satu lengannya di bawah tengkuk Jemi dan lengan lainnya di bawah lipatan lutut sang pemuda. Dengan satu gerakan mantap, Ashton mengangkat tubuh ringkih Jemi ke dalam gendongan bridal style.

"Cantik, mandi sebentar ya?" bisik Ashton rendah tepat di samping telinga Jemi saat melangkah lebar menuju kamar mandi. "Saya mandikan."

Jemi menyembunyikan wajahnya yang kembali merona di dada bidang Ashton, membiarkan dirinya sepenuhnya diurus oleh pria asing yang Jemi hanya kenal namanya. Malam panjang yang melelahkan namun teramat memabukkan itu akhirnya ditutup dengan gemercik air hangat dan sisa-sisa pemujaan lembut Ashton di bawah guyuran shower, mengukir awal dari ikatan rahasia yang tak akan pernah bisa Jemi lupakan.


 

Notes:

Kapan-kapan aku rapihin yaahh ehe :3

Criticism, suggestions, and pairing requests. DM me at enakcekali on X, okay?