Work Text:
Kalau orang bilang hal yang paling indah setelah hujan adalah munculnya pelangi, bagi junghwan hal paling indah setelah hujan adalah Dohoon. Tepatnya Dohoon yang mendatanginya, dengan senyuman paling Manis yang pernah Junghwan lihat, di bawah payung merahnya. Senyum yang mampu menghentikan waktu di sekitar Junghwan karena ia terpana pada pria yang tingginya tak jauh beda darinya tersebut.
“Hei kok bengong aja? Hujannya makin deras loh. Gedung juga udah mau tutup. Kamu yakin masih mau diem di sini aja? Sini ikut aku, payungnya muat kok berdua.”
Matahari berpindahkah dari langit mendung dengan gumpalan awan gelap ke wajah cerah pemuda ini? Sepertinya tumpukan skripsi alumni di perpustakaan sudah merenggut isi otaknya sehingga pikiran Junghwan mengada-ada. Junghwan lantas mengangguk dan menerima uluran tangan mungil pria di hadapannya ini.
“Kim Dohoon. Panggil aja Dohoon. Salam kenal. Kamu maba juga ya?” Pria di samping Junghwan memperkenalkan dirinya dengan sedikit berteriak bertarung dengan suara hujan yang deras. Saat mendengar pertanyaan Dohoon, Junghwan tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya. ‘Lucu sekali.’
“Hai, aku Shin Junghwan. Kebetulan aku maba 2 tahun lalu.”
Looking back on the things I’ve done
“KAK JUNGHWAAAAAAN TOLOOOONG!!!”
Dohoon berlari ke arah pintu kamar kos Junghwan yang bersebrangan dengan kamar kos Dohoon. Ia membukanya dengan tergesa tanpa memikirkan apakah pemilik kamar tersebut memberi izin atau tidak. Pasalnya ini sudah jam 1 dini hari.
“Buset, apa sih bocah? Aku bawa kamu tinggal di kos ini bukan berarti jam berapapun kamu bisa ganggu ya. Pagi aku harus bimbingan niiiih,” Junghwan yang sedang duduk di kursi meja belajarnya dan kacamatanya memantulkan cahaya laptop di hadapannya tersebut mengacak kasar wajahnya, frustasi melihat Dohoon sudah seenaknya naik ke atas kasurnya.
“Kak please KAK DI KAMAR AKU ADA ULERRRRRR,” Dohoon memejamkan matanya ketakutan dan membenamkan wajahnya ke bantal Junghwan.
Setelah alis Junghwan naik. Seumur-umur Junghwan ngekos dari ia maba hingga jadi mahasiswa semester 5, belum pernah ada huru-hara ular masuk ke dalam kamar kosnya. Apalagi kamar mereka berada di lantai 2. Rasanya tidak masuk akal. Junghwan berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar Dohoon. Ya, setelah Dohoon menyelamatkannya dari hujan deras kala itu, mereka kini berteman dekat. Dohoon anak tingkat satu yang pertama menjadi temannya. Karena Dohoon tidak berani menerobos hujan badai berpetir dengan motor ke rumahnya, Junghwan menawarkan untuk berteduh dahulu di kamar kosnya. Kini di sinilah mereka. Menjadi teman sejurusan dan sekosan.
Junghwan membuka pintu kamar Dohoon dan semerbak wangi citrus memenuhi penghidunya. ‘Wangi Dohoon..,’ batin Junghwan sambil sekilas memejamkan matanya sekilas dan menghirup lebih banyak wangi khas Dohoon di kamarnya.
‘Shin Junghwan. Fokus pada permasalahannya.’
Junghwan memeriksa atas kasur, kolong kasur, hingga ke tumpukan buku di meja belajar juga kamar mandi namun tidak ia temukan ular seperti yang Dohoon bilang. Tangannya sedikit gemetar sambil memegang sapu yang ia bawa dari kamarnya, jaga-jaga memang benar ada ular di sana. Tak ada yang aneh. Apa Dohoon hanya bermimpi? Junghwan kembali ke kamarnya setelah mengunci kamar Dohoon kembali.
“Apa sih, orang gak ada apa-apa. Udah aku semprot baygon. Siapa tau emang ada hewan atau serangga. Mau nginep di sini dulu?” Junghwan menaruh kembali botol baygon dan sapu ke dekat pintu kamar mandi di dalam kamarnya. Dohoon mengangguk kencang.
“Boleh ya kak aku nginep di sini dulu? Jagain dong adeknya biar gak ditelen sama ulerrrrr hikssss…,” Dohoon mengambil posisi ternyaman di dalam selimut hangat Junghwan sambil memegang erat guling kesayangannya. Entah sudah berapa kali Junghwan menggelengkan kepalanya. Ia dekati Dohoon di atas kasurnya dan menoyor pelan keningnya.
“Kamu sama uler juga gedean kamu, ngaco,” Junghwan menarik kasur lipat dari bawah kasurnya dan berniat menarik bantal dari atas kasurnya namun tarikan Dohoon di pergelangan tangannya membuatnya tersentak dan tak dapat menjaga keseimbangannya.
Sedetik kemudian Junghwan bertumpu siku di samping kepala Dohoon hampir saja menindih tubuh yang lebih muda. Hilang sudah kantuk dan sakit di kepalanya. Persetan dengan draft judul tugas metode penelitian dan ringkasan rencana penelitiannya.
Kepala Junghwan kini dipenuhi bola mata indah Dohoon yang berkilau indah seperti ingin menangis. Tatapan mata Junghwan turun dari mata indah Dohoon ke bibir tipis dan merah Dohoon. Indah. Semua hal tentang Dohoon selalu indah.
Wangi citrus yang menyadarkannya untuk menghirup udara karena napasnya tercekat menatap pujaan hatinya berada begitu dekat dan intim darinya. Kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya merosot, namun yang ia pikiran justru, ‘kalau aku cium, Dohoon marah tidak ya?’
“Kak, badan kakak panas ya? Kok wajahnya merah?”
I was trying to be someone
“Kak Junghwan…”
“Hmm?” Junghwan mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka. Memperlihatkan Dohoon yang basah kuyup dan menatapnya dengan tatapan kosong. Junghwan panik berdiri dari duduknya dan bergegas mengambil handuknya untuk mengeringkan tubuh dan rambut Dohoon yang basah.
“Goblok, ngapain ujan-ujanan sih? Udah tau gampang pilek? Kalau besok sakit gimana? Besok kamu ada kelas pag-“
“Kak… mama sama papa mau pisah…”
Gerakan tangan Junghwan yang tadi buru-buru karena panik dan khawatir, kini berhenti di kepala Dohoon yang menunduk. Diam. Dohoon tak bersuara lagi. Jujur saja Junghwan bingung apa yang harus dia lakukan? Kalau Junghwan memintanya sabar, apa hanya itu cukup? Atau Junghwan tanyakan apa alasannya? Ah, rasanya tak sopan.
Di tengah kecamuk isi pikiran Junghwan, jemari Dohoon menggenggam erat kaos putih kesayangan Junghwan.
“Kak…”
Tidak bisa. Junghwan tak bisa hanya diam saja membiarkan pria terkasihnya sendu.
Junghwan menarik Dohoon ke dalam pelukannya. Ia tak peduli bajunya akan ikut basah jika memeluk Dohoon yang masih kuyup dan kedinginan. Hatinya mengatakan Dohoon membutuhkan peluknya sekarang. Ia tak boleh membiarkan Dohoon sendirian.
“Selama ini aku ngekos biar bisa kabur dari rumah, kak. Biar gak denger teriakan mereka yang tiap hari berantem gak tau karena apa. Makian mereka ke aku yang terus dianggap gak cukup dan gak pantas. Iya ya kak? Harusnya aku gak usah hidup aja ya? Biar semuanya seneng? Gitu ya kak?”
“Sssshh, jangan ngomong aneh kamu. Kamu berhak hidup. Kakak butuh kamu. Masih ada kakak yang nunggu kamu pulang. Satu alasan itu jadiin alasan kamu bertahan, boleh? Demi kakak?”
“Tapi aku nyusahin kak Junghwan terus.”
“Gapapa. Susahin kakak terus.”
“Apa sih. Kak Junghwan aneh.”
“Masih nangis?”
“Aku gak nangis.”
“Masa?”
“Gak tau. Otak sama hati aku kosong. Abis dari rumah, yang di pikiran aku pergi naik motor dan ngebut ke tempat kakak.”
“Nah itu apal.”
“Apal apa?”
“Jalan pulang kamu.”
“Dih, dangdut.”
“Laper gak? Kakak bikinin indomi kuah mau?”
“MAU!”
I kept you in the dark
“Kak Junghwan, bagusan jaket yang hitam atau putih? Atau pake kaos aja ya?” Dohoon mengangkat jaket hitam di tangan kiri dan hoodie putih di tangan kanannya. Junghwan yang masih setengah sadar dibangunkan paksa oleh Dohoon yang seperti biasa menerobos pintu kamar kosnya, memicingkan mata minusnya yang tak memakai kacamata.
“Putih. Pake jaket, ntar masuk angin kalau naik motor gak pake jaket.”
“Ih apa sih kak ini weekend, aku diajak pergi sama Seeun. Kakak tau kan? Seeun anak angkatan aku yang suka main ke kosan.”
“Hubungannya sama jaket?”
“Dia pake mobil, gak pake motor.”
“Gak.”
“Gak usah pake jaket?”
“Gak usah pergi sama dia.”
“Lah?” Dohoon berjalan mendekati Junghwan yang malah balik rebahan lagi dan menarik selimut. Ia banting jaketnya ke atas kasur Junghwan.
“Ini aku udah mau pergi bentar lagi!”
“Jangan pergi sama dia.”
“Kenapa sih? Jalan-jalan ke mall doang kak. Aku cuma nemenin dia beli sepatu.”
Junghwan memejamkan matanya. Tak rela membayangkan Dohoon jalan hanya berdua dengan lelaki lain.
“Apa sih? Sekarang malah diem aja. Tau ah bodo amat. Aku bete sama kakak! Terserah aku mau pergi ke mana sama siapa aja. Kakak gak berhak ngatur-ngatur.”
Dohoon menghentakkan kakinya kesal dan berbalik badan kembali ke kamarnya. Ia biarkan pintu kamar Junghwan tak tertutup dan jaket miliknya masih di atas kasur Junghwan.
Jujur, Junghwan merasa sedikit bersalah melarang Dohoon pergi. Benar juga. Memangnya dia siapa? Ia terlentang dan menarik jaket dan hoodie Dohoon lalu memeluknya erat.
‘Maaf Dohoon… Jangan pergi, kakak mohon. Kakak gak mau berbagi kamu sama yang lain. Boleh Dohoon buat kakak seorang?’
Bodohnya, Shin Junghwan bahkan tak berani beranjak untuk mengatakan isi hatinya langsung pada Kim Dohoon. Katakan Shin Junghwan pengecut karena tak ingin menghancurkan ikatan persahabatan mereka hanya karena keegoisannya yang hanya ingin Dohoon menjadi miliknya saja.
Sudah kesekian kali rasa cemburu itu hadir di hatinya dan malah keluar sebagai luapan emosi agar Dohoon tetap di sisinya saja.
Let me show you the shape of my heart
Ddok ddok ddok
Dohoon mengetuk pelan pintu kamar Junghwan lagi-lagi pada dini hari. Junghwan yang langsung terbangun akibat suara ketukan pintu tersebut, dengan mata masih setengah tertutup, berjalan sempoyongan ke arah pintu dan membuka kuncinya. Membuka lebar pintu memperlihatkan Dohoon yang sudah memeluk guling di hadapannya dengan tatapan memelas.
“Kak Junghwan… Mau numpang tidur… Aku mimpi serem ada yang nongol dari lemari baju aku hiksss…,” mata Dohoon berkaca-kaca, bibirnya mencebik, sedetik lagi mungkin air mata akan jatuh ke pipinya yang menggemaskan.
Junghwan tak membalas permintaan Dohoon, langsung ia tarik pergelangan tangan Dohoon dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Junghwan naik ke atas kasur lebih dahulu, menyingkap selimut dan menepuk pelan kasurnya mempersilahkan Dohoon untuk rebahan.
Junghwan segera memejamkan mata lagi setelah menarik selimut menutupi tubuhnya dan Dohoon yang sudah rebahan di posisinya. Junghwan sama sekali tak mempermasalahkan ia harus berbagi kasur dengan Dohoon walau menjadi semakin sempit area tidurnya. Dohoon lebih ia prioritaskan.
“Nnghh.. kak…,” Dohoon merangsek mendekat ke tubuh Junghwan. Mengalungkan lengannya ke perut Junghwan dan merebahkan kepalanya menjadi berbantalkan bahu lebar Junghwan. Junghwan otomatis meluruskan lengannya agar Dohoon semakin nyaman bersandar padanya.
“Hmmm? Ngantuk Do…”
“Kak? Kok kakak tahan sih temenan sama aku?”
“Kamu temen yang baik.”
“Template banget sih jawabannya! Alesan yang laiiiin.”
“Gak perlu alasan kenapa aku bisa nyaman temenan sama kamu. Sekarang justru kalau gak ada kamu, rasanya aneh. Apa ya? Kamu kayak lampu di kehidupan aku.”
“Matahari kali.”
“Suka-suka aku,” Dohoon memukul pelan dada Junghwan. Junghwan terkekeh walau matanya masih terpejam. Junghwan mengelus rambut lembut Dohoon dengan tangannya yang menjadi bantal kepala Dohoon.
“Kak.”
“Hmmm?”
“Jantung kakak cepet banget loh deg-degnya.”
“Kalau gak berdetak, artinya sekarang kamu lagi melukin setan.”
“NGACO!”
“Ya lagian aneh. Udah sih merem aja Do. Ngantuk kakak,” Junghwan menghentikan pembicaraan mengenai detak jantungnya yang tak normal akibat dari hangat tubuh dan aroma citrus khas pemuda Kim itu. Jujur, Junghwan sedikit nervous dan berusaha menelan keinginannya untuk menelan Dohoon saat itu juga.
Hening sejenak, Junghwan terus mengelus helai demi helai rambut Dohoon hingga ia pikir Dohoon sudah tertidur lantas ia kecup puncak kepala adik tingkatnya itu.
“Kak…”
Junghwan tersentak. Ia pikir Dohoon sudah tidur. ‘Mati…’
“Emang temen ada yang cium-cium kepala kak?”
“Gak ada.”
“Terus?”
“Kim Dohoon. Tidur.”
“Jawab dulu,” Dohoon mendongakkan kepalanya dan menatap Junghwan yang ternyata kini sudah membuka matanya dan menatap balik ke manik hitam kesukaannya itu. Perlahan Junghwan elus pipi Dohoon dengan salah satu tangannya yang bebas.
“Kakak sayang sama kamu.”
1 detik
2 detik
3 detik
Wajah Dohoon memerah. Ia tutup mulutnya dengan kedua tangannya, salah tingkah, apa yang harus ia katakan? Tapi kan mereka sahabat?
“Kakak tau kamu gak pernah pacaran. Berkali-kali kamu tanya gimana sih rasanya jatuh cinta. Beberapa kali ditembak orang yang gak kamu kenal dekat jadi gak bisa balas perasaannya. Kakak paham. Gak usah terburu-buru,” Junghwan elus lembut pipi Dohoon dengan ibu jarinya. Berusaha menenangkan yang lebih muda.
“Tapi perasaan kakak gimana….”
“Kamu nyaman gak dengan fakta kakak suka kamu? Kalau nyaman, yaudah kayak biasa aja. Jadi mataharinya kakak. Ganggu kakak tiap hari. Tapi kalau kamu gak nyaman, gapapa kita gak usah ketemu dulu biar kamu nata pikiran.”
“GAK MAU! Kok pisah sih?”
“Makanya kakak tanya, bocaaah,” Junghwan menjepit hidung Dohoon gemas.
“Mau gini aja…”
“Good boy. Kakak juga gak sanggup kalau harus pisah sama kamu. Jujur kakak takut.”
“Kenapa?”
“Takut kamu gak nyaman. Terus ninggalin kakak. Boleh kakak di sini terus? Tunjukin berbagai macam bentuk rasa suka kakak ke kamu?” Junghwan gamit ujung dagu Dohoon dan mengangkatnya agar dapat menatap matanya langsung.
“Maaf kalau selama ini kakak sembunyi-sembunyi. Kakak sih pede ya kamu bakal suka kakak. Tapi pelan-pelan, kakak bakal ajarin buat kamu. Kamu orang yang berharga buat kakak,” mata Dohoon berkaca-kaca melihat ketulusan dari tatapan Junghwan. Kantuk sudah benar-benar hilang dari kepala mereka. Dohoon memejamkan matanya lalu memajukan wajahnya dan mempertemukan bibirnya dengan bilah bibir Junghwan.
“Mmmhhh…,” Dohoon pejamkan matanya erat. Sedangkan Junghwan terpaku pada posisinya. Mata masih terbelalak tak percaya Dohoon menciumnya duluan. ‘Apa dia beneran suka aku balik?’
“Maaf… Maaf aku belum bisa balas perasaan kakak sekarang… Tapi boleh kakak jadiin ciuman pertama aku jadi jaminan? Ajarin aku buat buka hati?”
Junghwan menggigit bibirnya, menahan senyum yang berusaha muncul. Setidaknya ini lebih baik daripada ditolak.
“I’ll teach you properly.”
Junghwan menangkup kedua pipi Dohoon dan mencium lembut bibirnya. Ia miringkan kepalanya mencari posisi terbaik menikmati surgawi di hadapannya. Dohoon tanpa sadar mengalungkan lengannya ke leher Junghwan hingga ia kini sudah di bawah kungkungan tubuh yang lebih tua. Gerakan bibirnya masih amatir dan kaku, bingung harus bagaimana. Tapi Junghwan membimbingnya dengan telaten, hingga Dohoon berada pada posisi nyamannya dan balik menghisap bibir atas Junghwan.
“Euungghh… mmmhh…,” semakin dalam Dohoon tenggelam dalam rasa cinta yang Junghwan berikan padanya. Mereka tak peduli kelas esok pagi, hanya bibir satu sama lain dan pelukan hangat pria di hadapannya yang menghipnotis mereka untuk membekukan waktu.
“Thank you for trying to be by my side, Kim Dohoon. I love you. Always.”
