Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-04
Updated:
2026-07-05
Words:
7,768
Chapters:
3/?
Comments:
41
Kudos:
195
Bookmarks:
10
Hits:
1,855

What's Wrong with Secretary Kwon?

Summary:

Niat Ohyul datang ke klub malam setelah pindah ke New York cuma satu: have fun sebelum hari pertama kerja esok pagi. Little did he know, keputusan satu malam itu justru menjungkirbalikkan hidupnya di kota baru, menjerumuskannya ke dalam realitas yang ratusan kali lebih gila dan liar daripada film-film yang pernah ia tonton.

Notes:

I'm back with another rulnyul story hehe. sebenernya ini isinya tipikal your boss had a secret relationship with his new secretary lol alias isinya jorok dan ngewe mulu :3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Lampu-lampu Kota New York menyerbu netra Ohyul seperti tumpahan permata murni di atas beludru hitam. Melalui kaca jendela taksi yang bergerak lambat membelah kemacetan, deretan gedung pencakar langit berdiri, memamerkan citylights yang berpendar neon dan berpijar dinamis. Pemandangan yang begitu asing, begitu mengintimidasi, namun di saat yang sama menyulut sesuatu yang liar di bawah kulitnya. 

Ini adalah kota yang akan menjadi panggung barunya esok hari. Kota yang tidak bertanya dari mana ia berasal, namun menjawab jalan kesuksesan yang membebaskan.

New York itu tidak pernah benar-benar tidur. Ohyul tahu itu bahkan sebelum dia menginjakkan kaki di sini — dari cerita teman-temannya, dari video yang tidak sengaja muncul di feeds-nya, dan juga dari bayangan yang selama berbulan-bulan menghuni sudut pikirannya setiap kali ia merasa sesak di kota lamanya.

“Gue sayang lo juga, Ohyul, tapi nggak lebih dari teman.” 

Tatapan itu masih menempel lekat di benak Ohyul. Tatapan yang muncul tepat tiga detik setelah Ohyul selesai bicara, setelah kata-kata yang sudah dia tahan selama bertahun-tahun akhirnya keluar juga di stall taco langganan mereka. Woonhak, sahabatnya sedari tahun pertama menjadi mahasiswa itu tidak marah dan sialnya itu yang paling menyakitkan. Ia hanya diam dengan wajah yang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa Ohyul namakan apa. Bukan jijik, bukan pula marah, tapi semacam kasihan yang dibungkus rapi dalam senyum tipis hangatnya.

Ohyul menatap bayangannya sendiri di kaca mobil. Ia gigit pelan dinding dalam mulutnya. Tangannya mengepal kecil. 

Ohyul, get a grip, this is your new start. 

Taksinya akhirnya berhenti di depan sebuah fasad bangunan berdesain brutalist dengan plang neon monokrom minimalis yang berpendar angkuh. 

Longitude terlihat jauh berbeda dengan klub yang biasa Ohyul datangi di kota asalnya.

Langkah kakinya terasa ringan saat melewati barisan bouncers. Begitu pintu kedap suara di lobi terbuka, dentum low-enddari musik elektronik bergenre melodic techno langsung menyambutnya seperti dekapan yang hangat. Udara di dalam Longitude terasa mahal, aroma vape, alkohol premium, dan sisa parfum dari tubuh-tubuh yang berdansa bercampur menjadi satu.

Ohyul melangkah menuju bar utama yang melingkar di tengah ruangan. Malam ini, tidak ada Ohyul yang biasa. Ia menatap pantulannya di permukaan meja bar marmer hitam sebelum memesan. Bedak tipis, blush merah muda dan sapuan highlighter di tulang pipinya menangkap bias lampu strobo dengan presisi yang pas, memberi ilusi bahwa dirinya adalah makhluk yang mustahil untuk disentuh. Kemeja silk sewarna gading yang sengaja ia biarkan terbuka hingga membentuk huruf V rendah di dadanya terasa dingin sekaligus intim menyentuh kulit. Kain itu jatuh dengan sensual, membingkai sepasang tulang selangkanya yang prominen. 

Ohyul ingin tersesat, atau setidaknya, membiarkan dirinya ditemukan oleh sesuatu yang menarik.

Ia duduk tenang di atas stool, menyesap cocktail-nya perlahan, membiarkan matanya merekam bagaimana pasang-surut manusia bergerak seperti ombak kecil di lantai dansa. Namun, detak ritme musik menuntut lebih. Ohyul butuh bergerak, ia ingin mengeksplorasi labirin Longitude yang lebih dalam untuk mengusir sisa gugup di kepala.

Baru satu langkah ia memutar tumit untuk turun dari stool,

Brak.

Ohyul menabrak sesuatu yang begitu tegap dan sekokoh dinding. Atau lebih tepatnya, seseorang. Aromanya maskulin, pekat oleh wangi tembakau mahal dan jejak alkohol bariton yang menguar kuat. Tubuh Ohyul limbung sebelum sepasang lengan menahan sikunya. Namun, bunyi denting kaca yang beradu dan cipratan cairan pekat di atas lantai seketika mencuri perhatiannya.

Minuman pria itu tumpah. Membasahi jemari kokohnya yang melingkar di gelas, menyisakan noda gelap di kaos hitam di dalam jaket kulit yang dikenakannya.

“Eh, my bad! I’m so so sorry, gue beneran gak sengaja,” Ohyul langsung merutuki kecerobohannya. Nada suaranya refleks meninggi karena panik.

Pria itu tinggi, proporsi tubuhnya luar biasa menakjubkan dan seratus persen tipe favorit Ohyul. Garis rahangnya tegas tanpa cela, Bahu lebarnya menumpahkan karisma yang tak tertahan. Rambutnya ditata slicked back namun beberapa helai rambutnya mencuat acak di beberapa bagian, menciptakan messy look yang begitu seksi di mata Ohyul.

Sepasang matanya yang tajam menatap Ohyul diam tanpa ekspresi, seolah sedang menakar sosok di hadapannya.

“It’s okay,” suaranya rendah, menggetarkan udara di antara mereka dengan artikulasi yang terlalu tenang.

“Nooo, nggak bisa gitu dong, baju lo jadi korban gitu,” Ohyul bersikeras, egonya menolak untuk terlihat menyedihkan. 

“Biar gue ganti.” Ia langsung mengangkat tangan, memberi isyarat pada bartender. “Mas, tolong yang sama persis kayak yang dipegang cowok ini tadi, ya. On me.”

Pria itu tidak mencegah. Ia justru bersandar pada tepi meja bar kayu dan membiarkan sepasang matanya menelusuri Ohyul tanpa sensor. Tatapan itu bergerak lambat; mulai dari tatanan rambut Ohyul, turun ke matanya, menetap agak lama di celah terbuka kemeja sutranya yang mengekspos kulit putihnya, hingga berakhir di jemari Ohyul. Di bawah tatapan itu, Ohyul merasa kemeja sutranya mendadak menguap.

Ketika segelas whiskey sour itu dihidangkan, Ohyul buru-buru menggesernya ke hadapan pria itu, memberikan senyuman paling manis yang ia punya. 

“Thank you. You really didn’t have to.” Pria itu tersenyum manis.

“Oh trust me, I wouldn’t be able to sleep if I don’t do it.” Ohyul tersenyum tulus. “Once again, I’m so sorry,” ia menepuk pelan meja bar, berniat pamit sebelum tenggelam lebih dalam tatapan pria itu. “Kalau gitu, it was nice — 

“Do you come here often?”

Kalimat Ohyul terpotong begitu saja. Suara pria itu terdengar santai, tidak terburu-buru, tapi ada nada intimidasi halus yang berwibawa di sana.

Ohyul mengerjap. Untuk satu detik, ada letupan kembang api kecil di dalam kepalanya. Heck yeah, this fine man is mine tonight! Rasa asing dan kepanikan minor yang sempat merongrongnya sejak menginjakkan kaki di kota ini luruh seketika, digantikan oleh gelombang adrenalin yang panas. Pria berjaket kulit ini baru saja melempar umpan. Dan Ohyul bukan tipe orang yang akan menolak permainan yang menjanjikan.

Ohyul mengubah posisinya, ikut bersandar pada meja bar, memperkecil jarak horizontal di antara mereka hingga ia bisa mencium aroma cologne cedarwood pria itu lebih jelas.

“My first time, actually.” 

Percakapan setelahnya mengalir ringan, berkilau, dan penuh letupan kembang api yang memenuhi perut. Sarkasme tentang arsitektur kota yang bising, selera musik bawah tanah, hingga kritik kinerja pemerintah memenuhi dialog keduanya. 

Pria itu tidak banyak bicara soal dirinya sendiri, tapi pertanyaan-pertanyaannya tajam dengan cara yang tidak terasa seperti interogasi. Ohyul menjawab dengan cukup jujur untuk terasa nyata, tetapi cukup samar untuk tidak membuka terlalu banyak. Tentang kota baru. Tentang pekerjaan baru yang mulai besok. Tentang kenapa seseorang memilih untuk merayakan sesuatu sendirian di bar asing.

“Karena sendirian di tempat asing itu bebas,” katanya. “When you know no one in a place, no one bats an eye on you, even if you do something different.”

Pria itu mengangguk pelan, seperti kalimat itu mendarat di tempat yang dikenalinya.

Namun, lama-kelamaan Ohyul merasa obrolan mereka terlalu konvensional untuk ukuran tempat sekeren Longitude. Pria di hadapannya ini terlalu tenang, terlalu cari aman. No fun, pikir Ohyul. Ia butuh sesuatu yang lebih cair.

Ia menoleh ke arah dance floor.

Tanpa menunggu persetujuan, Ohyul menarik pria itu membelah kerumunan menuju dance floor yang riuh oleh sorot strobo warna-warni. Begitu melebur dengan puluhan manusia lain, Ohyul langsung bergerak mengikuti ketukan technoyang menghentak. Ia melompat kecil, mengayunkan pinggulnya dengan lepas, menikmati euforia malam.

Ohyul menoleh, mendapati pria itu hanya berdiri canggung di tempatnya, mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mengikuti ritme dengan ekspresi tenang yang masih dipertahankan.

“Ayo dong, don’t be so stiff!” Ohyul setengah berteriak menembus dentum musik. Ia tertawa, lalu tanpa ragu meraih kedua tangan pria itu, menariknya paksa ke atas hingga lengan keduanya terangkat ke udara. Ohyul bergerak lebih dekat, membiarkan tubuh mereka hampir bersentuhan. “Come on, feel the rhythm!”

Melihat binar mata Ohyul yang begitu terang dan lepasnya tawanya, benteng wibawa pria itu akhirnya runtuh juga. Seringai tipisnya muncul. Ia menurunkan satu tangannya untuk melingkar di pundak Ohyul, sementara tangannya yang lain ikut terangkat. Mereka berdua akhirnya menyatu dengan musik bersama, tenggelam dalam kepungan distorsi musik dan permainan lampu. Gerakan keduanya berantakan, beberapa kali dada mereka berbenturan pelan seiring ritme, menciptakan gesekan-gesekan intim yang membuat suhu tubuh keduanya meroket.

Setelah beberapa lagu berlalu dan napas mereka mulai memburu karena lelah, pria itu merapatkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Ohyul untuk mengalahkan bising ruangan. 

“Capek?”

Ohyul yang didera rasa gerah dan haus hanya mengangguk pasrah. 

Pria itu lalu menuntunnya menembus kerumunan, membawa mereka menuju koridor VIP area yang sepi, temaram, dan hanya diterangi lampu dinding kemerahan.

Begitu pintu pembatas tertutup di belakang mereka, hawa dingin AC langsung menyambut kulit mereka. Pria itu bergerak tenang, menyentuh resleting jaketnya lalu meloloskan fabrik tebal itu dari bahunya dengan satu sentakan bahu yang teramat seksi di mata Ohyul.

“Can I help you?” Tentu saja, Ohyul tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang jelas ada di depan matanya. 

Ohyul melangkah mendekat, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka saling berbenturan. Tangan lentiknya merayap naik, menggerayangi bahu lebar itu dengan usapan lambat, setengah menggoda setengah membantu melorotkan jaket kulit itu sepenuhnya hingga jatuh begitu saja ke lantai koridor. 

Di balik jaket itu, pria ini hanya mengenakan tank top hitam ketat yang mencetak dengan presisi lekuk otot dada dan barisan abs padatnya, memamerkan kulit tan eksotis semanis madu yang langsung membuat kerongkongan Ohyul mendadak kering. Mulut Ohyul penuh dengan liur yang harus ditelan susah payah. Sambil menahan debar yang menggila, jemarinya merayap turun, berhenti dan menetap di bisep pria itu yang tebal, mengeras sempurna di bawah remasan jemarinya.

“No wonder you have no fun. You only spend your time in the gym, don’t you?” Ohyul terkekeh, nada suaranya dibuat semanis mungkin.

Yang dicela hanya mengangkat bahu sambil tersenyum ringan. Sama sekali tidak terlihat tersinggung. Seringainya justru semakin dalam dan seksi.

“Sure. But I know other ways to have fun.”

“Show me,” mata hitam bulat Ohyul yang berbinar di bawah remang lampu kemerahan mengerling penuh makna.

Pria itu menubruk tubuh Ohyul tanpa aba-aba. Menekannya dengan kukuh ke dinding koridor yang dingin menciptakan kontras masif dengan temperatur tubuh si pria yang mendadak terasa membakar.

Sebelum Ohyul sempat memproses, bilah bibir tipis pria itu sudah melumat kasar bibirnya.

“Udah nahan banget ya—mmphh,” Ohyul masih sempat-sempatnya berceloteh disela desahannya. Ciuman itu merayap dengan cepat, membungkam belah bibir Ohyul yang tebal, ranum, dan berwarna pink menyala malam itu. Pria itu menggeram rendah di dalam tenggorokan, tampak begitu menyukai bagaimana bibir Ohyul terasa begitu tebal dan kenyal di bawah lumatannya. Ia menghisap bibir bawah Ohyul berulang kali, menggigitnya gemas hingga Ohyul memekik tertahan.

“How can you tastes so sweet?” Bisiknya parau di sela pagutan mereka, napasnya memburu panas.

“Yours tastes bitter — ngah,” Ohyul melenguh panjang saat lidah pria itu menyapu tulang selangkanya. “Nghh — a fine man like you can’t die so soon.”

Ohyul kehilangan tumpuan tangannya. Jemarinya yang gemetar meremas bahu kaus tank top pria itu, mencari pegangan karena lututnya mendadak lemas kehilangan kewarasan. Bibir pria ini benar-benar memabukkan, menuntut Ohyul untuk membuka mulut lebih lebar, menerima pasang surut pagutan yang semakin liar dan dalam, mengecap sisa rasa alkohol maskulin yang tertinggal di sana.

Fuck. Fuck. Fuck. 

Ohyul menjerit di balik kabut gairah yang mulai menguasai otaknya kala tangan besar itu merayap masuk ke balik kemeja sutra gadingnya yang longgar. Kulit bertemu kulit. Telapak tangan yang panas itu mengabsen barisan abs Ohyul yang berkedut samar karena sensasi kejut yang teramat nikmat.

Bukannya berhenti atau melambat, pria itu justru menurunkan kepalanya lagi. Ia membiarkan Ohyul meraup oksigen sejenak hanya untuk kembali menyesap ceruk leher Ohyul, memberikan kecupan-kecupan basah, menggigit kecil kulit halusnya, dan mengendus area sensitif itu hingga Ohyul merinding hebat, tubuhnya melengkung ke depan untuk merapatkan diri.

Tangan besar pria itu turun lebih rendah dengan berani. Menyelinap ke balik celana jeans Ohyul yang agak longgar di bagian pinggangnya — karena lekuk tubuhnya memang selalu membuat jeans-nya longgar di pinggang namun ketat dan penuh di bagian pinggul. Jari-jari kokoh itu merayap di atas permukaan pantat sintalnya yang sensitif. Pria itu meremas, mencengkeram, dan memilin daging kenyal itu dengan ritme yang konstan, membuat akal sehat Ohyul benar-benar berada di ujung selatan.

Nghh — fuck.” Ohyul melenguh keenakan, kepalanya sampai dongak-dongak membentur dinding koridor, tangannya bergerak frustrasi menjambak pelan rambut pria itu yang kini sudah berantakan sepenuhnya akibat aktivitas mereka.

Tiba-tiba, pria itu menunduk di hadapannya. Ohyulterengah-engah, dadanya naik-turun, menatap ke bawah saat pria itu dengan tidak sabaran membuka satu per satu kancing kemejanya.

Dan ketika akhirnya tubuh ramping seputih susu milik Ohyul benar-benar tersingkap, bibir tipis itu mengecup hangat pinggang ramping Ohyul yang melekuk sensual, meninggalkan jejak kemerahan di sana. Dari pinggang, kecupan-kecupan basah itu mendaki naik, menyusuri barisan abs Ohyul, memberikan jilatan-jilatan kecil yang membuat Ohyul memekik kegelian bercampur sange luar biasa, hingga akhirnya bibir pria itu mengunci salah satu puting pink Ohyul yang sudah mengeras tegang.

Ah, ah, fuck, yes— nghah!” Ohyul membusungkan dadanya, tangannya mencengkeram erat rambut berantakan pria itu saat putingnya dihisap kuat-kuat, ditarik, dan dipermainkan oleh lidah lihai di bawah sana.

Pria itu mendongak, matanya yang menggelap menatap bagaimana tubuh Ohyul gemetar hebat dengan wajah yang memerah total dan bibir yang bengkak basah.

“You’re built like a doll,” bisik pria itu, suaranya luar biasa berat dan rendah, mengabsen keelokan tubuh Ohyul yang tampak begitu kontras di bawah kungkungannya.

Ohyul hanya bisa menggeleng salah tingkah, logikanya runtuh total ditelan gairah yang meledak-ledak.

Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, merapatkan selangkangannya ke Ohyul.

Dan saat itulah, di balik sekat celana mereka yang saling bergesekan erat, Ohyul bisa merasakan dengan sangat jelas ada sesuatu yang besar, tebal, dan sudah menegang sepenuhnya menabrak bagian depannya. He’s huge, oh my fucking God. Kejantanannya sendiri mendadak berdenyut ngilu dan menuntut untuk segera dituntaskan. Ia secara refleks menggesekkan tubuhnya semakin erat ke tubuh pria di depannya sambil menutup mata dan menyembunyikan wajahnya di leher yang lebih besar.

Nggh, ahh, ah —please, ah, fuck!”

Ohyul melenguh pasrah, pinggulnya bergerak aktif merapatkan gesekan itu, tangannya sudah bersiap untuk melorotkan celananya sendiri, membiarkan dirinya pasrah dipasasi oleh pria yang bahkan belum sempat ia tanyakan namanya di atas lantai klub yang ia baru ketahui hari ini.

Kalau saja, di sela-sela cengkeraman tangan pria itu pada pinggangnya, mata Ohyul tidak sengaja menangkap binar angka digital dari jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kokoh di sisi tubuhnya.

23.47

Angka itu seperti siraman air es yang mendadak meluruhkan sihir malam.

Shit. 

Ohyul tersadar dengan sentakan panik yang hebat di dadanya. Kurang dari dua belas jam lagi adalah hari pertamanya bekerja. Ini kota baru, karier baru, taruhan hidupnya yang paling besar setelah pindah ke sini. Kalau ia nekat melanjutkan ini sampai ke ranah yang lebih jauh, Ohyul tahu ia tidak akan bisa tidur, ia akan berantakan, dan ia tidak bisa mengacaukan hari besarnya besok pagi hanya demi pemuasan instan satu malam.

Dengan sisa-sisa kewarasan yang dikumpulkan paksa, Ohyul menahan dada bidang itu. Ia menjauhkan wajahnya yang memerah, napasnya memburu berantakan, sementara matanya sayu menatap pria di hadapannya yang juga memiliki tatapan menggelap oleh gairah yang belum tuntas.

Pria itu menghentikan gerakannya, ibu jarinya masih mengusap pinggang Ohyul di balik kain kemeja, napasnya yang hangat menerpa ceruk leher Ohyul. “Why? Are you okay?” tanyanya dengan suara parau yang rendah, terdengar menuntut namun tetap tenang terkendali. “Do I hurt you?”

Ohyul menelan ludah, mencoba menata detak jantungnya yang berantakan. Ia tersenyum, senyuman paling memikat yang bisa ia tancapkan di memori pria itu sebagai bentuk kompensasi atas penolakannya. Ia mengancing kembali kemejanya yang berantakan dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda. Dan Ohyul tahu, pria itu pun keberatan melepaskannya karena tangan besarnya langsung merogoh saku, mengeluarkan ponselnya di depan Ohyul.

“Can I at least have your number?”

Ohyul menjauh selangkah, menggeleng pelan dengan kilat jenaka di matanya. Rangsangan yang masih tersisa di tubuhnya bertransformasi menjadi sebuah tantangan yang terlalu bagus untuk dilegokan begitu saja. Dia mendekat lagi, berjinjit sedikit – walau sebetulnya tidak perlu – untuk membisikkan kalimat tepat di depan bilah bibir pria itu yang masih basah oleh salivanya.

“You want it, you come get it. Aku clock out jam 7 malem besok, come meet me here.”

Pria itu menatap Ohyul dengan seringai miring yang berbahaya, ego maskulin dan wibawanya tertantang habis-habisan oleh permainan ini. Ia menangkap pinggang Ohyul sekali lagi, merapatkan tubuh mereka, dan menghisap lama bibir tebal manisnya untuk terakhir kalinya malam itu sebelum melepasnya pergi.

“Screw your boss, Sweetheart. See you soon,” bisik pria itu seperti sebuah janji yang mutlak.

Ohyul hanya tertawa kecil, meloloskan diri dari kungkungan lengan kokoh itu, lalu melangkah pergi meninggalkan koridor remang Longitude tanpa menoleh lagi.

My first night in New York and I almost fucked with a complete stranger. 
God, Kwon Ohyul, you’re a mess.