Actions

Work Header

Periwinkle

Summary:

Hidup ini memang lucu sekali, bahkan sering diikuti ironi.

Narumi Gen merasa begitu senang, sebab berhasil lolos menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan jabatan yang sesuai profesinya sebagai dokter umum. Namun, kenapa dapat penempatan di kampung pelosok Kalimantan yang akses menuju desanya bikin si alpha gagal paham? Dalam upaya sampai ke tempat tujuan, ia pun bertemu Hoshina Soushirou, dan mengira omega itu adalah supir taksi yang dicarinya.

Well... whatever will be, will be.

[This story was written in Bahasa Indonesia. You can use translator for better understanding of the content, because it was made in formal tone.]

Notes:

Hello~ ini Local!AU pertama saya, semoga suka.
Dikarenakan setting-nya lokal, maka untuk deskripsi cerita saya tetap menggunakan penulisan baku, tapi bagian percakapan dibikin informal.

Catatan:
Nama desa, kecamatan, dan kabupaten merupakan fiksi semata.
Rated-M untuk bahasa implisit dan tema dewasa.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Hidup ini memang lucu sekali, bahkan sering diikuti ironi.

Narumi Gen merasa sangat beruntung sekaligus bersyukur atas pengumuman ini, yang menyatakan dia lolos pendaftaran Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan posisi jabatan yang sesuai profesinya sebagai dokter umum. Sekarang memang serba-sulit mencari pekerjaan, maka kesempatan itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Namun, surat keputusan yang didapatnya bikin menghela napas panjang, tapi enggan juga mengajukan pengunduran diri.

Kenapa dia harus ditempatkan di daerah pelosok Kalimantan, yang nama desanya saja belum pernah si alpha dengar? Narumi terdiam sendiri begitu mencoba riset area menggunakan mesin pencarian internet tentang Kampung Runanyar, Kecamatan Runa, ternyata merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam Kabupaten Ruin, dan jaraknya dari ibu kota provinsi nyaris 12 jam perjalanan.

Memikirkan segala baik-buruk, kerugian-keuntungan, hingga probabilitas lain yang bisa ditemukan, akhirnya alpha berusia 25 tahun ini setuju untuk pergi. Ia yatim-piatu, belum menikah, tanpa kekasih, jangan lagi ditambah dengan label pengangguran. Well, profesinya memang cukup mudah mencari peluang kerja, tapi sulit mendapatkan yang bisa memberi jaminan panjang begini, maka menjadi budak pemerintah merupakan pilihan yang paling benar.

Mulai memilih barang-barang yang harus dibawanya merantau, berpamitan pada paman yang selama ini bersedia membantu mengurus hidupnya, sekaligus menitipkan rumah peninggalan orang tua Narumi agar tetap terawat. Memang merasa sedih meninggalkan kota besar yang segalanya mudah dicari, tapi ia perlu menemukan tempat baru yang mungkin lebih tepat baginya. Memang agak ekstrem, takdirnya jatuh pada lokasi yang (sangat) terpencil, tapi... que sera, sera.

“Hati-hati di sana, yaa. Jaga tingkah laku dan ucapanmu,” demikian petuah bijak paman Isao Shinomiya.

Butuh waktu perjalanan sekitar dua jam menggunakan pesawat, dan setibanya di ibu kota provinsi tujuan, hal pertama yang alpha ini lakukan adalah memastikan dirinya sampai pada hotel yang telah di-booking. Sebentar berjalan-jalan menikmati suasana baru, mencoba makanan dan jajanan lokal, lalu mencari informasi agar bisa menuju ke desa yang dimaksud. Sialnya, sekali lagi fakta kehidupan membuat Narumi menghela napas panjang.

Tidak ada kendaraan umum, apalagi taksi daring untuk ke sana. “Bagaimana dengan biro perjalanan atau semacamnya?” dan jawaban resepsionis hotel semakin bikin patah semangat. Narumi sempat menggurutu, kenapa dirinya yang harus dapat penempatan di daerah antah-berantah seperti ini? Namun, satu sisi juga enggan berputus asa setelah membulatkan tekad. Ia mulai mencari informasi lewat berbagai media sosial, bahkan masuk ke grup jual-beli khusus area kecamatan desa tersebut.

Gotcha! Ternyata tak seburuk itu, masih ada cara yang bisa digunakan agar sampai ke Desa Runanyar.

Memang lumayan banyak taksi yang melakukan perjalanan menuju kampung tujuan Narumi, itu pun beroperasi setiap hari, tapi aksesnya memang tak semudah menemukan angkutan umum kota. Kendaraan yang mereka pakai pun bikin alpha ini takjub, sebab rasanya sama seperti menyewa online-taxi saja. Dia harus menghubungi supir yang besok ada jadwal ingin balik ke desa, membuat janji soal waktu penjemputan serta lokasinya, dan harus segera saling mengabari kalau terjadi pembatalan atau apa.

Narumi enggan terlalu pusing memikirkan titik penjemputan, jadi minta dijemput jam sepuluh pagi di taman kota dekat hotel tempatnya menginap. Oke, akhirnya semua aman terkendali. Well, memang sempat merasa menyesal, seharusnya ia setuju saat diajak pergi bersama rombongan pegawai baru minggu lalu. Sudahlah, yang perlu alpha ini lakukan sekarang hanyalah bersantai, bermain gim online hingga puas, dan tidur yang lelap guna mengumpulkan energi sebelum perjalanan jauh.

Krriiinnggg...!!! Bunyi alarm yang dipasangnya semalam berdering nyaring.

Untunglah dia berinisiatif menyetel alarm pada kedua ponselnya, sebab smartphone yang biasa Narumi pakai sebagai alat komunikasi primer telanjur nonaktif – lemah baterai. Secepat mungkin merapikan isi koper dan barang-barangnya, mandi, berpakaian yang nyaman, lalu bergegas ke taman kota. Ini sudah pukul sepuluh pagi, lewat beberapa menit, semoga Narumi belum terlambat dan ditinggalkan begitu saja. Serius, level kena’asan alpha itu bakal menyamai sensasi dicampakan sang kekasih pas lagi sayang-sayangnya.

Duduk di bangku taman yang paling dekat tepi jalan raya, sorot pandangan sibuk mengobservasi kendaraan yang datang dan pergi, terus menunggu sambil berharap supir taksi yang dia booking segera tiba. Detik berganti menit, tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sebelas siang. Rasa bosan serta khawatir semakin membabi-buta, ingin kembali ke hotel sebentar buat men-charge ponselnya pun ragu, akhirnya Narumi berinisiatif menanyakan ke beberapa orang yang tampaknya juga menanti sesuatu.

“Permisi, Mas. Maaf ngeganggu. Mau tanya, sampean ini supir taksi yang berangkat ke Desa Runanyar?”

Terhitung lebih dari lima orang yang Narumi tanya, tapi jawaban ‘bukan’ yang selalu didapatnya. Belum menyerah, indra visualnya menyusuri sekeliling taman, dan menangkap sosok yang duduk sendiri di bangku paling ujung belakang, terlihat sibuk mengamati ponsel, dan menghela napas panjang. Seolah lelaki berambut bowl-cut itu sedang kesal karena dibikin menunggu lama, membuat si alpha yakin untuk mendekat, lalu melisankan kalimat interogatif berupa...

“Permisi, Kak. Apa sampean yang mau berangkat ke Desa Runanyar sekarang?” mungkin wajah cantik serta aroma manis khas omega yang berasal dari pemuda beriris tanzanit ini terlalu menyita atensi, bikin Narumi jadi salah fokus begini, sehingga melisankan pertanyaan yang kurang detail. Sadar kalau dirinya sedang diperhatian secara saksama, dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepala, ia menyodorkan tangan kanan, dan syukurnya niat berjabatan itu disambut baik.

“Narumi Gen.”

Akhirnya, sang alpha bisa mendengar suara lembut lelaki itu. “Soushirou Hoshina. Iya, Mas, saya memang mau ke Desa Runanyar sebentar lagi.” Ooh, thank goodness! Narumi merasa sedemikian lega, sebab berhasil menemukan supir yang dicarinya. Entah bagaimana nasibnya kalau sampai batal berangkat hari ini, soalnya besok sudah harus mulai bekerja di puskesmas setempat – karena first impression memang sangat penting.

“Bolah taruh barang-barang saya ke bagasi mobil, Kak?” omega itu terus-menerus menatapnya ambigu, tapi akhirnya mengangguk juga. “Eehm, bisa buka pengunci pintu kursi penumpang? Saya mau lanjut istirahat lagi.” Oke, mari berpikir positif, mungkin ini pertama kalinya Soushirou bekerja sebagai supir, makanya masih agak kaku. Begitu memasuki kendaraan berjenis medium SUV tersebut, Narumi sukses dibikin merasa ‘wow’ dengan interiornya yang modern dan mewah.

“Apa gak sayang mobil sekeren ini dipake kerja jauh bolak-balik melulu, Kak?”

Soushirou menanggapi dengan senyuman kalem. Aduuh! Narumi merasa lancang telah melisankan kalimat interogatif tersebut. Itu urusan si omega mau menggunakan mobilnya buat apa, bisa jadi profesi ini merupakan nafkah utama keluarganya. Sialan! Dia sempat lupa pesan bijak sang paman – yang pasti sedang harap-harap cemas sekarang. Sebuah suara notifikasi ponsel mengalihkan perhatian mereka, “eehm, Mas Gen. Saya harus ngambil paket, nih.”

“Oke.”

Hal yang janggal adalah, kenapa omega itu belum beranjak pergi, dan malah seperti menantinya agar ikut keluar? Merasa khawatir salah mengambil sikap, jadi Gen putuskan berkata sopan, “saya di mobil aja, yaa.” Mampu dengan jelas ia rasakan keraguan Soushirou untuk meninggalkan si alpha sendirian dalam kendaraan pribadinya. “It’s ok, Kak. Janji aku gak bakal ke mana-mana, kok.” Takut banget penumpangnya kabur atau bagaimana, sih? Astaga.

Disebabkan kombinasi hawa sejuk pendingin ruangan, ditambah aroma segar pewangi mobil, rasa kantuk yang masih menuntut tidur pun pelan-pelan menguasai Narumi. Entah apa yang terjadi selanjutnya, sebab alpha ini terlelap damai, dan berharap begitu bangun sudah sampai ke desa tujuan. Namun, joke on him! Setahunya perjalanan menuju Kampung Runanyar bisa memakan waktu nyaris 12 jam, tapi semua tergantung lagi dengan kecepatan dan keahlian si supir taksi.


oOo

Siapa yang tahu tentang takdir (jodoh) seseorang? Begitu pula dengan Hoshina Soushirou yang benar-benar tak menyangka, bahwa hari ini dirinya akan dibikin jatuh cinta. Sebelumnya semua berjalan sebagaimana yang telah direncanakan, kecuali secara mendadak si omega diminta agar membelikan roti abon favorit ibunya dari penjual kue langganan. Mana punya nyali buat menolak perintah, akhirnya terpaksa dia menunda kepulangan menuju kampung halaman menjadi siang nanti.

Banyak yang pernah menyarankan, agar omega ini tetap tinggal di kota setelah menyelesaikan pendidikan kemagisteran, dosen pembimbing tesisnya pun bersedia memberikan rekomendasi supaya Hoshina dapat menjadi tenaga pengajar kampus. Namun, dia menolak dengan sopan, memilih tetap pulang ke kampung halaman untuk menjadi guru, sekaligus membuka toko material bangunan. Slow living is the best, apalagi dengan citra diri yang sangat positif.

Jangan bahas mengenai gaji atau peluang penghasilan lain, karena sedari kecil omega itu sudah terbiasa bergelimang harta. Ibunya orang terkaya se-kabupaten, nyaris semua masyarakat Kecamatan Runa mengenal keluarganya, jadi... ya, hidup Soushirou selalu dalam mode ‘easy’ soal keuangan. Akan tetapi, ini bagai pedang bermata dua, dikarenakan hal tersebut pula ia sulit menemukan pasangan yang cocok. Ada yang cuma ingin memanfaatkan kekayaan dan koneksi Hoshina family, tapi banyak juga yang minder.

Well, untuk apa Soushirou mengeluhkan sisi negatif itu? Toh, hidupnya sangat menyenangkan dan serba mampu. Contohnya sekarang, si omega nekad menggunakan libur lebaran yang hanya tiga hari untuk healing di kota, melarikan diri dari tugasnya sebagai panitia kurban keluarga. Sialnya, besok sudah Senin, jadi Soushirou harus pulang kampung sekarang – menolak dicap sebagai guru yang teledor.

Sedikit membahas lagi tentang status percintaan, Soushirou mengaku merasa bahagia menyandang status single selama tiga tahun terakhir. Sejauh ini ia pernah menjalin asmara dengan wanita omega atau beta, belum ada alpha yang membuatnya merasa tertarik. Lelaki itu sebenarnya bukan tipikal yang perfeksionis mengenai calon pasangan, selama ibunya menyetujui, persoalan mahar tentu dapat dikompromikan.

Uh-oh! Waktu menunjukkan jam sebelas siang, tapi kurir yang mengantar pesanan roti belum tiba juga. Seandainya tempat si penjual kue bukan di dalam gang sempit, Soushirou pasti lebih memilih mengambilnya sendiri dari tadi. Menghela napas panjang, mengecek ponsel berkali-kali pun percuma, notifikasi chat yang ditunggu tidak muncul juga. Namun, aroma feromon asing yang perlahan mendekat spontan menarik atensi, dan dapat dilihatnya seorang lelaki beriris mata magenta berjalan memupus jarak mereka.

“Permisi, Kak. Apa sampean yang mau berangkat ke Desa Runanyar sekarang?”

Deg! Sensasi aneh yang ambigu mendadak muncul, bikin detak jantungnya terasa janggal.

Omega ini sangat yakin, bahwa pemuda anonim yang bertanya tadi pasti bukan kurir pengantar pesanan. Coba perhatian barang bawaan serta koper besarnya itu, seperti orang yang baru diusir dari kost-nya saja. Ia belum memberi respons apa pun, khawatir bakal menjadi sasaran kejahatan di siang bolong begini, tapi anehnya alpha tersebut tahu nama desa Soushirou yang memang agak terpencil. 

Insting siaga, mengamati sosok tersebut dari ujung kaki ke ubun-ubun kepala, siap menggunakan jurus karate dan taekwondo yang telah dipelajarinya kalau dibutuhkan. Oke, memang jangan menilai orang lain dari penampilan semata, tapi ingatlah untuk terus bersikap waspada. Hal yang gagal diprediksinya, ketika alpha ini justru menyodorkan tangan kanan, mengajaknya buat bersalaman. Kendati agak ragu, Soushirou menyambut niat baik itu dengan ramah.

Laki-laki berambut ombre black-pink ini menyebutkan namanya, “Narumi Gen.”

Dia membalas dengan menyebutkan namanya juga, lalu memberi jawaban atas pertanyaan Narumi tadi, “iya, Mas, saya memang mau ke Desa Runanyar sebentar lagi.” Keambiguan yang terjadi kian parah, saat alpha itu menyatakan ingin menaruh semua barang-barangnya dalam bagasi mobil Soushirou. Oke, hipotesis lain yang muncul di otak sang omega adalah, kemungkinan besar pemuda beriris magenta ini merupakan warga sekampung yang belum dikenalnya.

Soushirou ikuti saja alur drama yang sedang terjadi, maka sekarang berada dalam mobilnya bersama orang asing tersebut. “Apa gak sayang mobil sekeren ini dipake kerja jauh bolak-balik melulu, Kak?” pertanyaan tadi terdengar polos, Soushirou memilih merespons dengan senyuman manis. Faktanya, dari semasa kuliah dulu dia sudah terbiasa pulang-pergi ke kota sendirian. Sementara kalau soal mobil, itu bukanlah sesuatu yang perlu dicemaskan – bisa beli yang baru sekarang juga, kok.

Atensinya terpaksa beralih dikarenakan bunyi notifikasi ponsel, ternyata kurir yang ditunggu telah sampai pada titik pengambilan barang. Aah, ini bisa jadi alasan yang bagus buat mengusir si tamu ‘uninvited’ ini dari dalam mobilnya. “Saya harus ngambil paket sekarang,” menuturkan kalimat tersebut dengan harapan Gen paham, bahwa dirinya diminta pergi sekarang juga. Akan tetapi, alpha itu malah menanggapi kasual dengan...

“Oke.”

What the fuck?!

Soushirou jadi merasa enggan pergi meninggalkan mobilnya dengan laki-laki itu, tapi juga menolak bersikap tegas. Khawatir nanti bakal menyebar gosip buruk tentang dirinya di kampung, yang menyatakan sang omega pelit atau bertindak kasar pada sesama warga desa. Duh, bukan cuma reputasinya yang terancam, tapi citra keluarganya juga dipertaruhkan. Alpha yang salah paham ini mendadak berkata, “it’s ok, Kak. Janji, aku gak bakal ke mana-mana, kok.” Entah apa yang bisa dipegangnya dari komitmen tersebut, ia pun keluar kendaraan pribadinya untuk mengambil pesanan.

Tatkala sang omega kembali, dilihatnya Narumi telah tertidur, sangat pulas hingga gagal mendengar suara pintu kendaraan yang sengaja ditutupnya cukup kuat. Soushirou putuskan berdamai dengan kenyataan, bahwa kali ini dirinya harus membawa penumpang asing saat pulang kampung. Masih sempat ia mampir ke minimarket dulu, membeli camilan dan minuman kaleng, yang tahu-tahu untuk porsi dua orang.

Well, ini tidak seburuk bertemu mantan pengagum (obsesif) yang menyebalkan di tempat umum.

Melanjutkan perjalanan menuju tempat destinasi, sesekali Soushirou melirik sosok yang terlelap nyaman di bangku penumpang sebelahnya, dan senyum tipis muncul menghiasi bibirnya. Kenapa dia merasa nyaman, senang, serta excited begini? Omega itu bahkan sengaja memutar musik yang temponya santai agar tak membangunkan Narumi, juga mengendarai mobil dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya. Tanpa terasa sudah nyaris tiga jam terlewati, tapi masih seperempat dari total jumlah jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke Desa Runanyar.

Berhenti sebentar di pom bensin buat mengisi bahan bakar, sekaligus menumpang toilet, dan saat dia kembali memasuki mobil, Narumi Gen telah terjaga. Pertanyaan lugu ini memang terdengar begitu polos, “masih jauh, yaa?” Soushirou belum melisankan jawaban verbal apa pun, justru menyodorkan sekaleng kopi instan dan camilan yang dibelinya tadi.

“Iya, Mas. Kayaknya sekitar tujuh atau delapan jam lagi baru nyampe.”

Narumi mengeluh dalam bahasa Jawa, “wes, modar awakku!”

oOo

Soushirou kembali melajukan kendaraan pribadinya menyusuri jalan raya yang jauh lebih sepi dibanding kepadatan lalu lintas kota, menyadari betapa canggung situasi mereka, hanya terdengar alunan lagu dari sepiker head-unit mobil. Lantas, alpha di sampingnya mengubah posisi duduk agar sedikit lebih tegak, berdehem kecil, dan melisankan kalimat interogatif random ini, “sudah lama tinggal di Kampung Runanyar, Kak?”

Sebelum menjawab sesuai konteks pertanyaan, terlebih dahulu sang omega membalasi dengan, “panggil aja Soushirou, Mas Gen.” Sayangnya, ia terpaksa harus fokus dulu pada jalan, karena mendadak ada kendaraan lain yang seenaknya menyelip dari sisi sebelah kiri tanpa aba-aba. Kemudian mengimbuhkan, “iya, aku warga asli sana. Sampean juga?”

“Bukan. Aku pendatang. Baru mau ke sana ini.” Oke, tanggapan tersebut bikin otaknya serasa butuh bekerja ekstra, sampai Gen meneruskan lagi, “makanya sempat bingung nyari taksi. Apalagi hapeku yang buat nge-chat mati, untungnya bisa tetap ketemu kamu.” Sekarang omega berusia 25 tahun itu benar-benar memahami miskonsepsi yang terjadi, beserta alasan logisnya. Namun, masih enggan menjelaskan kesalahpahaman mereka, Soushirou ingin mengulik lebih banyak informasi dulu.

“Ooh, ada keperluan apa ke desa kami, Mas?”

“Aku dokter yang ditugaskan ke Kampung Runanyar. Kalo gak, yaa... pastinya tetap stay di Jawa sana.” Mendengar respons itu, Soushirou putuskan untuk tetap meneruskan miskonsepsi (konyol) mereka. Setidaknya omega ini menolong orang yang tepat, mengingat desa mereka memang membutuhkan banyak tenaga medis, terutama dokter. Well, benar adanya, bahwa don’t jugde a book by its cover, soalnya kalau menilai dari penampilan luar, Narumi Gen malah lebih persis pemuda pengangguran yang hidupnya serampangan – meskipun wajahnya (sangat) tampan.

Pernyataan yang diikuti pertanyaan ini bikin Soushirou salah tingkah.

“Jujur, yaa, baru kali ini aku ketemu supir omega, buat perjalanan jauh pula. Aman ajakah, Soushirou?”

Omega yang menerima tanya pun tertawa kikuk sebelum menanggapi, “aah, iya, kebetulan udah terbiasa jalan jauh, Mas Gen.” Faktanya, mulai semasa kuliah sarjana hingga menamatkan kemagisteran, dan sampai sekarang pun dia memang sering pulang-pergi ke kampung menggunakan mobilnya sendiri. Tidak ada pertanyaan follow-up terkait hal tersebut, alpha itu justru meminta tolong agar diizinkan meng-charge ponselnya di kendaraan roda empat Soushirou.

Ia menepikan mobilnya sebentar, mengambil tas selempang yang berada di kursi belakang, lalu menyerahkan sebuah power-bank pada Gen. Mereka melanjutkan percakapan dengan berbagai topik wacana, seperti jurusan kuliah yang dulu diambil Soushirou, asal tempat sang alpha, dan bertukar cerita mengenai pengalaman lucu masing-masing. Sungguh, untuk pertama kali setelah sekian lama, omega ini merasa ‘oke’ membahas banyak hal tentang dirinya kepada orang asing.

Tanpa terasa setengah perjalanan berhasil ditempuh, sekarang keduanya telah tiba di ibu kota Kabupaten Ruin. Keramaian jalan umumnya yang memang lebih aktif dan tertata rapi, tapi ini hanya terbatas pada wilayah tertentu saja, dan cakupan areanya pun sedikit – masih banyak daerah yang lebih sepi. Omega bermata tanzanit ini pun mengajukan ide agar mereka berhenti sebentar buat makan malam, yang langsung disetujui Gen. Soushirou ingin membawa sang alpha ke kedai yang menyajikan menu terbaik, jadi terpaksa memutar arah melewati lampu lalu lintas.

Uh-oh! Dia mengenali mobil yang sempat menyelip seenaknya tadi juga berada di traffic-light ini, jadi iseng menyamakan level kendaraan mereka. Menurunkan windshield, menengok santai pada sosok perempuan yang duduk di kursi penumpang depan, dan... itu sebuah ‘kesalahan’ besar bagi orang yang menghindari drama (konyol) macam Soushirou. Bikin si omega spontan menginjak pedal gas begitu lampu lalu lintas berubah hijau, sampai Narumi dibikin agak kaget.

Kenapa dari semua manusia, ia harus bertemu dengan beta perempuan ini, Shinonome Rin, yang pernah ditolaknya? Bukan sekadar menolak begitu saja, tapi setelah hampir dua tahun digantung dengan alasan ingin fokus menyelesaikan studi pascasarjana-nya dulu. Sebenarnya bukan keinginan Soushirou bersikap demikian, tapi gadis itu yang terus-menerus memaksa, dan seenaknya pula mengaku-ngaku kalau ada hubungan spesial di antara mereka.

Perkenalan mereka singkat, saat itu Rin datang ke kampung Runanyar untuk mengunjungi kediaman sepupunya yang juga teman Soushirou semasa sekolah dulu. Ia mampu menebak informasi apa yang didapat wanita muda tersebut, sehingga membuatnya sebegitu terobsesi dengan si omega – kekayaan keluarganya yang takkan habis tujuh turunan. Momen terakhir kali keduanya bertemu adalah, ketika lelaki ini kembali menyatakan penolakan (sangat) tegas, dan memintanya agar berhenti menyebar gosip murahan.

Sesaat begitu sampai pada kedai tujuan, Soushirou merasa lega sebab merasa berhasil menjauhi sumber problema, memilih menu dengan (sok) kalem, memesan makanan yang dianggapnya paling enak. Gen yang sempat mengaku bakal mengikuti saja semua rekomendasi sang omega, kini sibuk di toilet umum. Selagi menunggu pesanan dibuat, sosok manusia yang dihindarinya tadi mendekati, serta-merta berkata agak sinis...

“Masih betah sendiri aja kamu, yaa?”

Kepala omega ini terpaksa agak mendongkak, demi bisa melihat dua manusia yang sekarang berdiri di samping mejanya. Ia cukup mengenali orang yang digandeng Rin itu, seingatnya laki-laki tersebut merupakan anak sulung Bupati daerah sini – yang juga pernah berusaha PDKT padanya lewat sosial media. Sadar sedang diabaikan, mereka pun memilih berpindah duduk ke bangku saji sebelah Soushirou. Gen yang tampaknya melihat kejadian ini dari kejauhan, secepatnya menghampiri, lalu berbisik pelan, “cari depot lain, yook.”

Soushirou enggan pergi hanya karena parasit kecil yang pernah jadi masalah masa lalunya, terutama hidangan pun telah disajikan pelayan. Namun, kekesalan omega ini meningkat signifikan, saat didengarnya Rin bertanya, “Mas, kamu siapa-nya Soushirou?” tapi syukurnya Gen diam saja, bahkan mulai menikmati makanan. Alpha itu sedikit menoleh, ketika gadis tersebut kembali berbicara, “pikir-pikir lagi, deh, kalo mau sama dia. Tukang PHP soalnya, suka ngasih harapan palsu doang.”

Sungguh, ia malu setengah mati, bahkan para pelayan yang turut menonton drama konyol itu pun asyik berbisik-bisik. Namun, yang bikin amarahnya memuncak adalah, saat dilihatnya Narumi seperti kehilangan nafsu makan – padahal sebelumnya mengaku kelaparan. Soushirou sadar kalimat ini terlalu bohong, “it’s ok kalo nge-ganggu aku, tapi jangan kau usik calon suamiku,” tapi entah mengapa, omega tersebut merasa sedemikian benar dalam kesalahan serius, dengan ekspresi wajah yang menyatakan dirinya sudah menang telak.

Sementara dalam hati, dia sibuk berdo’a khusyuk agar setidaknya Gen tetap diam saja, bahkan omega ini sampai nekad bernazar, bakal mengajukan diri menjadi ketua panitia hewan kurban keluarganya tahun depan. Syukurlah, si alpha juga enggan memberi koreksi apa pun, bahkan mulai kembali berselera untuk makan. Kalimat klaim (palsu) Soushirou tadi sukses membungkam gadis itu dan pacarnya, bikin mereka memilih pergi meninggalkan kedai.

Apakah drama yang se-absurd telenovela ini telah berakhir? Belum.

oOo

Sebagai balasan atas sikap kooperatif Narumi tadi, si omega bukan hanya mentraktir semua makanan, tapi juga berniat membelikan jajanan khas Kabupaten Ruin sebelum melanjutkan perjalanan menuju Desa Runanyar. Akan tetapi, tampaknya rencana tersebut dapat terealisasi, setelah Soushirou melewati kekonyolan yang satu ini. Tatkala gadis yang dikiranya sudah pergi, ternyata menunggu dengan sengaja bersandar di pintu mobilnya, lalu langsung mendekati alpha itu buat melisankan pertanyaan bertubi-tubi.

“Sejak kapan kalian jadian? Kenapa suka sama Soushirou? Kau orang baru di Desa Runanyar, kalo?”

Gen tetap membisu, tapi gagal memasuki mobil, sebab orang yang bertanya menutupi aksesnya. Soushirou mendekati mereka, membuka pintu kendaraan bagian tengah, dan memberi kode agar si alpha lewat situ saja. Lantas, balik menuturkan kalimat interogatif yang diikuti opini sarkas, “ngapain kau ikut campur soal hubungan kami? Tuh, urusin aja pacarmu sana! Udah bagus, loh, nge-dapatin anak bupati juga.” Sebentar omega tersebut bertemu pandang dengan lelaki beta yang berdiri agak jauh dari mereka.

Omega ini menolak menghabiskan waktu dengan obrolan nirfaedah tersebut, jadi memilih segera memasuki kendaraan pribadinya, dan siap menyalakan mesin mobil. Sayang, perempuan itu masih belum putus asa juga, sesukanya turut memposisikan diri di bangku penumpang sebelah Soushirou – kursi yang seharusnya diduduki Narumi. “Mana buktinya kalo kalian emang udah tunangan? Calon suami? Bo’ong bener.” Rin mengangkat tangan kirinya, bermaksud memamerkan cincin emas yang terpasang pada jari manisnya.

“Lagian kau itu gak pernah tertarik sama alpha, kan?!”

Soushirou otomatis menyindir balik, menyatakan seseorang yang sudah bertunangan seharusnya bisa move on. “Kalo kau sebenarnya gak bahagia sama calon suami-mu, sebaiknya cari yang lain aja, deh. Seumur idup itu –“ belum sempat dia menyelesaikan lisan yang ingin dituntaskan, Narumi menyela dengan tiba-tiba menariknya agar duduk di pangkuan sang alpha. Iris tanzanit bertemu netra magenta. Gen sedikit memiringkan kepala, seolah meminta izin atau semacamnya.

Hal yang selanjutnya terjadi benar-benar jauh dari prediksi Soushirou, ini bahkan di luar imajinasi liarnya. Tatkala kedua telapak tangan anonim menangkup pipinya, secara halus memaksa agar perhatian si omega cuma terfokus pada Gen saja, dan mendadak bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat serta lembut. Lambat-laun otaknya pun mampu memahami situasi, bahwa alpha itu sedang menciumnya mesra.

Perlahan-lahan omega itu sedikit bergerak untuk memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, sekaligus menarik tengkuk leher Gen biar kecupan bibir mereka semakin erat. Mampu ia rasakan, sebuah tangan asing memasuki baju kaosnya dari belakang, lalu diikuti belaian manja pada punggungnya. Terpaksa keduanya menghentikan kegiatan panas tersebut, disebabkan harus memasok ulang kebutuhan oksigen.

Ooh, goodness! Yes. Soushirou belum pernah mencium seseorang seganas, seliar, dan senafsu itu.

Narumi pun mengalihkan perhatian pada manusia yang terpaksa menjadi saksi bisu adegan ‘hot’ barusan, mendekap omega yang masih belum mampu berkata apa-apa. Kemudian, tanpa ironi menuturkan ini, “keluar sana, gih! Mau lihat kami bikin baby sekalian?” dan itu sukses membuat Rin beranjak meninggalkan mereka, sambil membanting cukup kuat pintu kendaraan. Soushirou yang akhirnya kembali pada realita, secepatnya pindah ke kursi kemudi, lalu menyalakan mesin mobil untuk melaju pergi sejauh mungkin.

Keduanya sama-sama bungkam mengenai kejadian (impulsif) tadi, Narumi pun tampak sibuk dengan isi benaknya sendiri. Soushirou kini memarkir mobilnya di salah satu toko yang menjual berbagai aneka camilan tradisional, “tunggu sebentar, yaa.” Lantas, bergegas keluar buat membeli banyak jajanan lokal, dan kembali dalam waktu kurang dari 15 menit. Alpha itu telah berpindah duduk ke kursi penumpang sebelah bangku kemudi, dan spontan terkejut dengan semua belanjaan yang diserahkan padanya.

Laki-laki bermata tanzanit itu memasuki kendaraan, siap menghidupkan mesin diesel, dan suara Gen pun mengalihkan antensinya. “Soushirou, ma–“ kalimat tersebut terhenti begitu saja, tatapan mata si alpha seolah ragu buat meneruskan ucapan yang telah dipikirnya matang-matang. Akan tetapi, justru pertanyaan ini yang terlisan, “masih jauhkah kita?”

“Lumayanlah. Seenggaknya ini udah di pertengahan jalan, kok. Mas Gen, tidur aja kalo ngerasa ngantuk.”


oOo

Silent is gold, maka lebih baik diam daripada... dibikin dilema.

Kurang dari 72 jam ini, Narumi Gen telah melanggar pesan bijak sang paman, untuk menjaga perkataan dan sikapnya ketika berada di tempat baru. Apalagi daerah Kalimantan memiliki hukum adat yang cukup ketat, bisa-bisa alpha yang baru berusia seperempat abad itu harus membayar uang denda atau dikenakan sanksi yang dapat menyakiti dirinya, seperti dipancung, digantung terbalik, atau apa saja yang mengerikan. Orang bodoh mana yang berani mencium omega yang baru dikenalnya, coba?!

Gen akui dirinya memang menyukai omega itu, bahkan tertarik mengenalnya lebih jauh nanti. Namun, rasa kesal, keki, sekaligus iba melihat Soushirou diperlakukan sinis begitu, membuat akal sehatnya berhenti, lalu membiarkan insting bekerja secara impulsif. Hanya saja, ini tetap bukanlah alasan yang tepat untuk berbuat nekad seperti tadi, harusnya si alpha mampu berpikir lebih tenang dan dewasa, serta mempertimbangkan segala konsekuensinya.

“Tunggu sebentar, yaa.”

Setelah mengucapkan permintaan singkat tersebut, Soushirou keluar dari mobil, lalu setengah berlari memasuki sebuah toko. Aah, sang alpha baru menyadari, bahwa kini mereka bukan lagi di area parkir kedai yang tadi. Pasti disebabkan terlalu sibuk dengan isi pikiran yang melanglang buana, bikin atensinya gagal fokus, dan membuatnya mengabaikan sekeliling. Ke mana perginya omega itu? Jangan bilang ingin membeli peralatan untuk menyiksa Gen, yaa. Alamak! Pokoknya, ia harus minta maaf, bila perlu bersumpah sekalian bahwa akan menjauhi Soushirou.

Dia berpindah ke bangku penumpang sebelah kursi kemudi, agar lebih mudah memulai percakapan nanti. Mendadak terpikir buat mendiskusikan permasalahan tersebut dengan Paman Isao, semoga pria paruh baya itu bisa memberi solusi terbaik. Narumi menyalakan ponselnya yang sudah full-charge, berbagai notifikasi yang masuk kontan membanjiri layar interface, bikin perhatian si alpha buyar sesaat. Akan tetapi, tepat ketika ingin meneruskan niat menelepon keluarganya, pintu mobil pun mendadak terbuka, diikuti dengan Soushirou yang menyerahkan sebuah tas besar berisi berbagai jajanan lokal.

Astaga! Bikin kaget saja. Jantungnya hampir copot, saudara-saudara.

Tatkala omega itu sudah memasuki kendaraan, Narumi perhatikan tidak ada tanda-tanda kesal atau marah, rona wajahnya pun terlihat senang, dan aroma feromon tubuhnya sedemikian tenang. Oke, ini momen yang bagus untuk meminta maaf. “Soushirou, ma–“ tapi kalimat tersebut berhenti begitu saja, ketika mendapati senyum manis Hoshina. Lantas, sang alpha melanjutkan perkataan dengan sebuah pertanyaan klise, “masih jauhkah kita?”

“Lumayanlah. Seenggaknya ini udah di pertengahan jalan, kok. Mas Gen, tidur aja kalo ngerasa ngantuk.”

Mana mungkin Narumi menurunkan kewaspadaan dengan sesuka hati tertidur nyenyak. Siapa tahu saat terbangun nanti, tiba-tiba tubuhnya sudah digantung terbalik dengan perapian membara tepat di bawahnya. Entah si alpha dapat referensi dari mana, tapi sepertinya ini efek kebanyakan menonton film horror-thriller. Namun, ternyata, belum cukup dibuat salah tingkah akibat tindakan impulsifnya tadi, kini Narumi harus menanggung beban mental yang lain.

Ketika ia ingat ada notifikasi beberapa miscall dari nama kontak supir yang dihubunginya kemarin, lalu membuka riwayat chat mereka. Narumi benar-benar gagal paham begitu membaca pelan isi pesan yang telah dikirim sekitar jam lima pagi ini, “maaf, Mas. Sampean pake taksi yang lain aja, yaa. Soalnya aku harus berangkat sekarang, karena istriku mau melahirkan.” Alpha yang mengecat poninya menjadi pink itu terdiam, sediam-diamnya-diam. Lantas, pandangan matanya sedemikian ambigu, atensi pun berpindah-pindah antara layar smartphone dengan omega di sampingnya.

Mampus.

Sementara lelaki bergaya rambut bowl-cut itu sama sekali belum mengetahui badai internal yang asyik memporak-porandakan pikiran sang alpha, malah memamerkan senyum manis, sambil sesekali berusaha membalas tatapan yang Soushirou terima. Dia seharusnya mulai curiga dan bertanya, sebab penumpang dalam mobil ini hanya dirinya sendiri. Rasanya aneh juga, seorang omega lulusan pascasarjana memilih jadi supir taksi dengan kendaraan mewah begini. Narumi menarik-embuskan napas, menyiapkan mental untuk melisankan pertanyaan retoris berupa...

“Soushirou, kamu ini bukan supir taksi, yaa?”

Sedemikian gampang omega itu menanggapi dengan, “bukan.”

Aduuh! Skakmat.

Sumpah, seumur hidup, belum pernah Narumi Gen merasa semalu ini. Rasanya ingin minta diturunkan di tepi jalan sekarang, tapi juga menyadari itu cuma menambah masalah hidupnya, maka ia pun memilih memalingkan muka pada arah lain. Soushirou yang akhirnya paham kalau si alpha telah mengetahui kesalahpahaman mereka pun hanya tertawa ringan, “gak papa, Mas Gen. Saya senang-senang aja ditumpangin sampean, kok.” Bukan semata-mata menjadi penumpang anonim, tapi seenaknya pula mencium omega tersebut.

“Makasih, yaa, Mas, udah ngebantu saya tadi. Cewek itu emang nyebelin banget dari dulu, sih.”

Ooh, oke, dari pernyataan tadi dapat diasumsikan, bahwa Soushirou tidak marah soal ciuman mereka. Namun, perasaan malu yang dirasakan Narumi masih setinggi Gunung Himalaya, karena semudah itu menyangka lelaki ini seorang supir taksi, jadi hanya memberi anggukkan kepala pelan sebagai tanggapan. “Mas ngerasa geli, yaa, udah nyium orang yang pernah pacaran dengan sesama omega dan perempuan beta?” si alpha spontan bergeleng selaju lari citah.

“... atau, Mas Gen ngerasa bersalah sama pacar, istri, atau suaminya di Jawa sana?”

Jari jempol Narumi yang sebelah kanan teracung mantap, “aku jomblo, udah tiga tahunan lebih. Aman.”

“Menurut sampean, aku ini orangnya gimana?”

Narumi pun kontan membeberkan isi pikiran serta pendapat objektifnya mengenai si omega, mulai dari penampilan dan wajahnya yang memang sangat menawan, senyumnya yang terlalu menggemaskan, serta kebaikan dan pengertian yang telah Soushirou berikan bakal terus diingat oleh alpha ini. “Jujur, yaa, kamu itu tipe aku banget, loh.” Bukan bermaksud merayu, tapi cuma berusaha terus terang, sebab dia memang punya rencana ingin mendekatinya nanti.

“Kalo aja Soushirou mau ngasih kesempatan ke alpha, aku pasti yang maju paling pertama.”

“Umur segini aku nyari yang serius, loh.”

“Lah, mana juga aku kepikiran main-main sama perasaan orang.”

Soushirou tersenyum lagi, kali ini berusaha keras agar tak terlihat salah tingkah terhadap ucapan sang alpha barusan. Narumi bisa kembali merasa tenang, karena seluruh pikiran negatif yang menakutkan sebelumnya hanyalah imajinasi liar semata. Mendadak omega itu melisankan sebuah request padanya, “boleh aku foto Mas Gen sekali aja, gak?”

Merasa telah banyak berutang budi dan enggan menolak permintaan sederhana tersebut, dia (ikhlas) mengizinkan agar dirinya difoto. Soushirou menepikan mobilnya lagi, mengarahkan kamera belakang ponselnya ke direksi Narumi yang memasang gaya (sok) imut, dan terdengar bunyi ‘jepret’ yang khas. Kemudian, laki-laki beriris tanzanit itu tampak sibuk mengirimkan hasil potret tadi via aplikasi chatting, lalu terlihat sedemikian senang begitu mendapat respons dari orang yang bertukar pesan dengan si omega.

Pasrah, Narumi Gen memilih bersikap masa bodoh jika nanti dirinya memang dijadikan tumbal atau apa.

Whatever will be, will be.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, Narumi pun menikmati pemandangan yang kanan-kirinya dipenuhi pohon sawit, sambil memakan roti abon pula. “Habisin aja, Mas. Mamaku bilang it’s ok kalo buat calon mantu,” alpha itu tertawa pelan, menganggap ucapan tersebut sekadar lelucon belaka. “Nah, sekarang kita udah masuk wilayah Kecamatan Runa, tapi sekitar dua jam lagi baru nyampe ke kampung Runanyar,” Soushirou menjelaskan dengan senyum manis terus menghiasi bibirnya.

Akhirnya, mereka tiba juga di desa tujuan, dan kini Narumi bingung memikirkan soal tempat peristirahatan. Ini sudah jam sepuluh malam, rasanya kurang sopan kalau mau mendatangi wisma pegawai sipil sekarang, jadi sang alpha berharap ada penginapan yang masih buka. “Minta tolong banget, yaa. Antarkan aku ke hotel yang paling dekat puskesmas,” walau merasa segan, dirinya harus berani memohon bantuan sekali lagi. Namun, respons Soushirou membuatnya kembali gagal paham.

“Ngapain tidur di hotel, Mas? Kan, ada rumahku.”

Narumi sukses dibikin speechless, apalagi ketika pemuda bermata tanzanit ini membawanya memasuki pekarangan rumah yang sangat megah. “Mamaku udah setuju Mas Gen jadi calon mantu sehabis liat fotomu tadi,” sedemikian gampangnya Soushirou berkata, seraya memamerkan isi obrolan online dengan sang ibu – ada emotikon jempol teracung sebesar monster di situ. Lantas, menunjuk ke arah sosok perempuan yang mirip si omega, “itu beliau, namanya Kirari Hoshina.”

Sesaat turun dari mobil yang mengantarnya ke Desa Runanyar ini, Narumi spontan disambut dengan beberapa asisten rumah, dan seorang wanita alpha berambut ombre ungu-putih pun mendekati mereka. Serta-merta menyilangkan kedua tangan di depan dada, mengobservasi tamu barunya yang didaulat sebagai calon menantu dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepala, lalu tersenyum tipis. Lantas, perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu melisankan kalimat interogatif, “pernah jadi panitia kurban, Mas?”

“Belum, Bu. Cuma saya orangnya cepat belajar, jadi pasti bisa nanti.”

“Bagus. Soalnya mulai tahun depan, Mas Gen yang bertugas sebagai ketua panitia kurban kita. Oke?”

Soushirou menimpali, “tahun berikutnya lagi, Mah. Aku telanjur nazar tadi bakal jadi ketua panitia nanti.”

Narumi menengok ke direksi mobil, melihati semua barang-barangnya telah diangkut pelayan memasuki rumah. Perhatian pun beralih lagi pada sepasang ibu-anak itu, mereka sibuk membahas sesuatu yang berkaitan tentang dirinya, tapi sang alpha tidak tahu soal apa. Akan tetapi, seluruh keambiguan lenyap, waktu Soushirou menggenggam jari-jemarinya, “ayo, kita masuk! Ini sudah malam.” Ia menerima ajakan tersebut tanpa banyak tanya.

Hidup itu memang lucu sekali, contohnya saja kehidupan Gen Narumi.

Ditemani sedikit ironi, lalu dibikin senang sampai ingin menari-nari.

Kadang jodoh pun bisa ketemu semudah ini, karena takdir yang membawanya sendiri.

Finish


 

Notes:

Jujur, NRHS bikin saya out-of-box banget sejauh ini. Mulai dari bikin omegaverse, sampai nge-AU lokal begini.

Ide fanfiksi ini sebenarnya berasal dari pengalaman (konyol) saya sendiri, waktu itu saya salah menaiki kendaraan ojek online. Namun, di sini saya bikin lebih lucu dan dramatis lagi. Saya juga pernah bikin thread di X soal AU ini.

Konsepnya memang agak mirip dengan fanfiksi saya untuk OTP lain yang berjudul Indigo. Hanya saja secara keseluruhan, dari awal sampai akhir maupun setting yang digunakan, benar-benar berbeda.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Bersediakah untuk memberi kesan dan pendapat mengenai fanfiksi ini di kolom komentar? Don't forget to give kudos if you like it. Saya tunggu.

Salam,

M0N.