Actions

Work Header

The Silent Mists; Markhyuck

Summary:

Hari ini sangat aneh—setidaknya untuk Mark.

Ia kerap mencium sesuatu yang lama kelamaan membuat kepalanya memening, membuat dirinya melemah. Ia kerap mencium sesuatu yang terasa manis, terasa familiar, sesuatu yang seakan berbau seperti bunga matahari.

dan, oh, bukankah itu bau omeganya?

Notes:

is based on this moment

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

The Silent Mists; Markhyuck

Baelinsh

 

Hari ini sangat aneh—setidaknya untuk Mark. 

 

Bukan, bukan karena hujan petir atau ponselnya tiba-tiba hilang yang membuat Mark berpikir demikian. Hanya saja ... hari ini terasa sangat aneh. 

 

Di luar dari badannya yang terasa tidak enak—sedikit panas lebih tepatnya, tapi ini adalah hal yang wajar sebab akhir-akhir ini Mark sangat sibuk mempersiapkan solo project -nya—perasaan Mark juga luar biasa tak enaknya. Serasa ia kehilangan sesuatu, serasa ada yang kurang. 

 

Ditambah lagi sedari dorm, indra penciumannya kerap mencium sesuatu yang lama kelamaan membuat kepalanya memening. Ia pikir ia mabuk perjalanan atau kelelahan pasca kegiatan yang tiada henti, tapi entah kenapa, sekali lagi, semuanya terasa aneh. 

 

Sekarang ia sedang berada di ruang ganti. Semuanya telah selesai sempurna, kostum panggungnya sudah terpasang rapi di badannya, riasan ringan khas idol pria sudah tersolek tampan di wajahnya. Namun berbeda dengan dirinya yang sudah siap sedia, muka Mark kini malah mengerut—ia mencium lagi bau yang membuatnya pusing itu. Aroma itu begitu kuat, bahkan bau-bau make up , bau kostum yang baru dicuci, pun bau gel rambut kalah membaur di indra penciumannya. 

 

"Hey, kau tak apa?" 

 

Dan datanglah Taeyong menyadari perubahan muka Mark. Ia memegang bahu Mark, bertanya dengan wajah cemas. 

 

"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Mark. 

 

"Kalau kau sakit kau bisa minum obat dulu." Taeyong berucap lagi memastikan bahwa Mark benar-benar baik-baik saja. 

 

Lantas Mark hanya mengangguk mengiyakan. Ia berdiri, meninggalkan Taeyong di tempat duduk riasnya. Mark hendak keluar sebentar mencari udara segar. 

 

Namun bahkan langkahnya belum sampai ke pintu keluar, Mark rasanya akan pingsan. Bau itu muncul lagi, bahkan lebih kuat. 

 

Sekarang bukan hanya kepalanya yang terasa pusing, perutnya pun juga turut terasa berputar. Ia mual, matanya bahkan berair menahan mual. 

 

Dari mata berairnya itu, Mark mencoba memandang sekitar, menatap anggota lain yang berada di tengah ruangan, mungkin tak sadar dengan Mark yang sudah memerah, hampir berteriak putus asa ini. 

 

Mark tak ingin menjadi berlebihan, tapi jujur, lehernya serasa dicekik, perutnya serasa dipelintir. Mark ingin meminta tolong, hendak memanggil anggota lainnya, tapi tak ada suara yang bisa keluar darinya, malahan suara tercekat bak hampir sekarat melolong dari mulut Mark. Tapi tak ada satu pun yang sadar dengan bunyi cekatan menyedihkan itu, suara Mark sudah terlalu lemah.



"Mark?"

 

Dan cicitan kecil yang sangat pelan itu menyapa telinga Mark. Mark menoleh ke arah suara, ke arah pojok ruangan di mana hanger pakaian berjejer menumpuk, di sana ada seseorang yang meringkuk di bawah hanger-hanger baju itu, seorang lelaki yang memakai pakaian panggung yang sama sepertinya, yang tengah mengendus—yang Mark percayai— kaos yang Mark pakai menuju ke sini. Mata sayu itu menatapnya lurus, wajahnya memerah dan basah oleh keringat, sama seperti tampang Mark sekarang.   

 

Haechan?

 

Walaupun pikiran Mark sudah tak karuan, bukan berarti Mark sudah hilang kesadaran, kan? Kepala bulat dengan rambut yang kerap kali digaya selayaknya chocoball itu, jelas-jelas saja itu Haechan. Haechan si paling muda dari grupnya. Dengan mata tertutup pun Mark tau dengan pasti siapa lelaki bermata bulat itu. 



Mark mengerutkan dahinya bingung. Kenapa Haechan meringkuk di pojokan seperti itu? Kenapa dia tidak bergabung dengan yang lain? Apa dia baik-baik saja? 

 

Mark berusaha memastikan keadaan Haechan. Cukup aneh bagi social butterfly itu untuk menyendiri, terlebih lagi ketika para hyung mereka sedang bercanda, bercengkrama di tengah sana. Mark lantas berjalan pelan mendekati Haechan.



"Haechan—" 



Namun satu langkah terakhir Mark, sebelum ia akhirnya benar-benar dekat dengan lelaki itu, rupanya berakibat fatal. Bau itu menguat, menyerap ke dalam semua indranya, membuat benaknya gila hingga Mark yakin kini kakinya sudah bergetar lemas. Nafas Mark mulai terasa menyesak, adrenalinnya terasa bergejolak begitu cepat—saat itulah Mark tau, akhirnya ia sadari bahwa bau yang sedari tadi menyiksanya, yang sedari tadi seakan mengetuk dirinya, yang tak bisa ia identifikasikan tapi terasa tak asing itu, yang baunya seakan dipenuhi oleh bau bunga matahari, adalah bau Haechan. Adalah bau manis omega itu. 

 

Bau manis omega- nya. 



"Kau heat ...." 

 

Lirih Mark sebelum tubuhnya jatuh lemah. 


 

"Mark … Mark … apa kau tidak apa-apa?"

 

Pertanyaan itu bagaikan mimpi bagi Mark saat ia tersentak, terbangun, dan mendapati dirinya sudah dikelilingi oleh para staf dan anggota grup lainnya. 

 

Mark melotot bingung. Ia dapat merasakan badannya lemas penuh keringat. 

 

"Cepat … cepat, minum ini!"

 

Bak tak dikasih jeda untuk berpikir, Taeil, salah satu anggota yang paling tua, menyodorkan sebuah botol air mineral dan satu pil putih ke tangan Mark. 

 

Mark mengerjapkan matanya sedikit lalu meneguk pil itu cepat. 

 

"Aku … kenapa?" 

 

Tepat setelah ia meminum pil itu, akhirnya ia bertanya, kebingungan dengan apa yang barusan terjadi. 

 

"Itu supresan, Mark. Tadi kau pingsan." 

 

Muka Mark sudah gelagapan saat Taeyong menjelaskan demikian. Ia telah menegak sebuah supresan, bahkan di saat ia sedang tidak dalam masa rut. Apa yang terjadi sampai ia harus minum obat keras itu dan, oh, dia sampai pingsan! Apa yang telah terjadi?!

 

Tapi mungkin pertanyaan di pikiran Mark itu tak perlu ditanyakan lagi kepada tim dan stafnya saat pandang Mark mendapati sebuah mata sayu menatapnya dari ujung sana, yang terduduk lemas dengan muka memerah dikelilingi oleh beberapa anggota dan staff juga—Mark perlahan tau segalanya, ia tau apa yang telah ia lalui. 

 

"Apakah Haechan sudah meminum supresannya?" Tanya Mark, menanyakan kabar si biang kerok, menanyakan kabar omeganya. 

 


 

Mark dan Haechan bagaikan legenda, mereka tak bisa dipisahkan. Mereka sudah berlatih bersama dari mereka remaja, kemudian debut bersama, sampai akhirnya sampai di titik dimana ikatan takdir mereka terpaut menyatu satu sama lain. 

 

Tak ada yang lebih terkejut daripada Mark dan Haechan sendiri saat tau bahwa mereka adalah mate. Semua orang sudah yakin bahwa mereka akan berakhir menjadi mate sedari saat presenting ; Mark adalah alpha dan Haechan adalah omega, mereka tak terpisahkan, jadi bukan kejutan bahwa mereka adalah mate.  Lalu setelah hari dimana ikatan takdir sudah terbentuk, hubungan Mark dan Haechan perlahan merenggang—mereka menjadi canggung satu sama lain. Mereka tak ingin menyapa satu sama lain. Mereka yang biasanya tak terpisahkan kini malah memilih untuk naik mobil yang berbeda jika ingin pergi ke jadwal manapun. Mereka yang biasanya membantu satu sama lain saat bekerja, malah menjadi saling kesal dan marah bahkan saat hendak tampil di panggung–hubungan mereka perlahan mendingin. 

 

Tak ada yang bisa anggota tim mereka lakukan selain menasehati mereka (dan saat sudah dinasehati pun, baik Mark dan Haechan masih bersikeras dengan ego masing-masing). Ini sungguh menggelikan melihat betapa denial -nya kedua remaja ini untuk menerima takdir mereka, dan betapa emosi begitu merajai ego mereka pasca presenting dan pubertas. 

 

Namun mereka yang tak pernah berpisah itu rupanya harus diterpa kenyataan pahit saat akhir tahun, saat dimana Haechan mengalami cedera yang menyebabkan ia mau tak mau istirahat dari segala aktivitas. Di saat itulah Mark harus tampil di panggung dengan anggota lainnya tanpa orang yang selalu ia pantau gerak-geriknya. Di saat itulah ia harus berlatih sendiri sampai larut malam tanpa ada orang yang selalu memarahinya jikalau ia tak pulang latihan sebelum pukul 8 malam. Di saat itulah ia harus memesan makanan karena tidak ada orang yang memasaknya makanan jikalau ia lapar di dorm. Di saat itulah ia sadar bahwa ia tak bisa hidup tanpa Haechan, tanpa orang itu, tanpa omeganya. 

 

Ia pikir ikatannya dengan Haechan tak sekuat itu. Pasalnya, tak seperti mate lainnya, mereka jarang berhubungan fisik. Jangankan untuk berpelukan, Mark saja sangat menolak kalau Haechan hendak memegang tangannya—tapi selama ini mereka tidak apa-apa, ikatan mereka tak memberontak dengan minimnya sentuhan antara alpha dan omega itu— namun nyatanya Mark salah, ikatannya dan Haechan sungguh kuat, itu terasa nyata. Setelah berpisah dari omeganya selama hampir seminggu lamanya, rasanya Mark ingin menangis saja, rasanya ia ingin berlari menuju rumah orangtua sang omega, menghampirinya untuk hanya sekadar melihat saja pun sudah cukup. Ini sungguh menggelikan, tapi Mark sampai tak bisa tidur memikirkan Haechan.

 

Lalu di saat malam tahun baru, setelah menekan gengsinya—dan karena ia butuh—Mark akhirnya berkunjung ke rumah orangtua Haechan. Awalnya ia malu untuk bertemu dengan Haechan lagi pasca ia yang menangis keras saat mengantar Haechan ke rumah sakit di hari kecelakaan itu. Namun ego pun mau tak mau ia turunkan, dengan satu buah sneakers mahal dan sekotak ginseng merah, Mark pergi dengan kakak tertuanya menemui Haechan di rumahnya. 

 

"Kau merindukanku, bukan?" 

 

Begitu ledekan Haechan saat kedua keluarga telah bertemu. Mark hanya duduk tegak diam, mengabaikan Haechan yang terkekeh-kekeh di sebelahnya. Ini bukan seperti ia marah atau tak ingin berbicara kepada Haechan, hanya saja lelaki itu akan semakin menjadi-jadi kalau Mark layani. Ia akan semakin puas mengerjai Mark!

 

" Duh … lihat siapa yang kemarin menangis sampai ingusnya keluar waktu aku di ambulans. Apa kau masih butuh tisu?" 

 

Mark tak menghiraukan ledakan itu, ia tetap fokus mendengarkan celotehan Ayah Haechan.

 

"Oh, Haechan kadang mengigau memanggil namamu, Mark. Dia bahkan merengek-rengek hendak balik ke dorm menemui dirimu. Kami baru saja hendak membeli kursi roda sore ini agar besok pagi bisa pergi ke dorm, tapi untung saja hari ini kau datang ke sini, Mark."

 

Dan setelah kalimat dengan nada gurauan itu terucap dari mulut Ayah Haechan, seribu ledekan dan kekehan Haechan langsung terdiam. Mark yang selama ini tak menghiraukan Haechan pun sontak membalikkan badannya ke samping menatap Haechan, menatap bagaimana wajah itu tertekuk malu.

 

"Ayahku hanya bercanda kau tau," cicit Haechan dalam rasa malunya. 

 

"Oh." Sahut Mark, tak tau harus membalas bagaimana. Seminggu tak ada Haechan di sampingnya membuatnya serasa hampir gila, membuat ia tau apa makna mate sesungguhnya. Ia pikir hanya dia sendirilah yang merasakan perasaan rindu, mendamba, bak tak berpijak dunia itu, rupanya pasangannya, omeganya, juga merasakan hal yang sama. Itu membuatnya lega, itu membuatnya terkejut pula—itu membuatnya senang.

 

"Aku tak merindukanmu kalau kau ingin tau," 

 

Malu sebenarnya bukanlah sesuatu untuk Haechan, jadi wajah yang sempat tertekuk malu itu kini naik kembali, tersenyum untuk kembali semangat meledek Mark.

 

Sama seperti sekarang, Mark yang baru saja bangun dari pingsannya harus menggeleng-gelengkan kepala tak kira saat Haechan, yang tadi juga sempat lemas, kini sudah bisa bangkit lagi, bahkan ia berlari-lari semangat saat staff memberi aba-aba bersiap menuju panggung. Setidaknya ini melegakan karena Haechan rupanya cukup kuat untuk tampil. 

 

"Kau pingsan karena apa?"

 

Mark melototkan matanya mendengar pertanyaan polos itu terlontar dari Haechan, dari orang yang membuatnya pingsan. Apakah dia tidak tau? Apakah dia tidak merasa bersalah? 

 

"Oh karenaku, ya," 

 

Dengan nada kecewa Haechan berucap.

 

Dia yang bertanya, dia sendiri yang menjawab. Saat itulah Mark yang sedang berjalan menyusuri lorong menuju panggung, semakin mempercepatkan langkahnya. Ia memutar bola matanya malas saat menyadari Haechan juga turut mengejarnya. 

 

"Aku kira kau telat makan, Mark. Ingat saat dimana kau pingsan karena kelaparan saat aku tak memasak untukmu, oh, itu sungguh menggelikan."

 

Here we go again. 

 

Bahkan dengan nafas ngos-ngosan sebab heat dan harus mengejar Mark, ia tetap dengan stabil melemparkan ocehan mengejeknya. 

 

"Lagipula salahmu sendiri, aku sudah heat sedari dorm, tapi kau tidak peduli, kau bahkan tak ingin mengecek keadaanku. Lihatlah alphamu menjadi lemah kan–oh iya, maaf. Kau sibuk ya, hihi semangat mempersiapkan solo-nya Rapper Mark Lee!”  

 

"Haechan, sebentar lagi kita akan naik ke panggung," peringat Mark saat mereka sudah sampai di ujung lorong, hendak masuk ke studio. Mark akhirnya bernafas lega saat Haechan terdiam, menurut untuk mengunci lisannya.

 

Para staff pun mulai memasangkan earpiece mereka, merapikan make-up mereka, lalu memberikan aba-aba, "NCT 127 Silahkan bersiap ke atas panggung!" 

 

Lalu setelah seruan tanda bersiap itu dikumandangkan, Haechan berjalan mendekat ke arah Mark, berdiri di belakang alpha itu lalu berbisik,

 

"Aku merindukanmu, Alpha."

 


 

Acara itu diselenggarakan oleh salah satu e-commerce asal Asia Tenggara. Total 2 lagu yang mereka bawakan; satu lagu dari album terakhir yang mereka rilis dan satu lagu lagi dari title track full album yang mereka rilis 3 bulan sebelumnya. 

 

Penampilan mereka sungguh memukau, tak pernah mengecewakan, selalu memiliki pesona penuh kualitas. Namun di balik performa memukau itu, Mark tak bisa untuk tak melepaskan pandangnya dari Haechan, dari omeganya yang begitu bersemangat bak heat yang melandanya hanyalah sakit flu biasa. 

 

Oh iya benar, Mark cemas. Walaupun tadi sempat lega karena Haechan masih bisa tampil walaupun sedang heat, tapi setelah laki-laki itu benar-benar tampil di atas panggung, Mark rasanya ingin berhenti menari, menarik omeganya lalu memeluknya, membawanya duduk lalu memijat kakinya, atau mengelus mukanya—menggelikan, tapi perasaan cemas ini nyata sampai-sampai Mark harus menggertakkan rahangnya untuk menahan dirinya agar tak melakukan hal yang tidak-tidak. 

 

Dan terlebih lagi dengan apa yang omeganya bisikkan tadi, sebelum mereka naik ke atas panggung tadi. Entah itu hanya godaan atau fakta, tapi kalimat itu telah membangkitkan jiwa posesif alpha Mark. Ia ingin memeluk omeganya, menjaga omeganya, tak ingin membiarkan omeganya menari bergerak sebanyak itu—ia ingin memanjakan omeganya. 

 

Tapi Mark tidak bisa melakukan apapun, ia tak bisa mendekat ke arah Haechan, bahkan tak bisa memandang ke arah omega itu setiap saat. Walaupun bau manis omega itu telah mereda sebab supresan yang ia minum, tapi ikatan mereka tak bisa berbohong, Mark merasa tercekat lagi dengan keinginannya untuk melindungi omeganya. 

 

Sampai akhirnya penampilan mereka pun selesai. Tak seperti Mark, Haechan tampaknya tak peduli dengan alphanya. Ia tak menatap Mark, Mark pun juga tak merasakan perasaan cemas Haechan dari ikatan mereka. Mark serasa seperti ia ditolak …. Rasanya menyedihkan, rasanya menggelikan karena ia sedih. (Oh, Mark memang selalu menggelikan jika itu pasal Haechan).

 

Mereka diberi istirahat beberapa menit sebelum lanjut syuting untuk ment. Mark adalah orang pertama yang naik kembali ke atas panggung. Ia berdiri di tengah panggung lebih dulu daripada anggota lainnya. Penerjemah wanita yang sedari tadi duduk di tempatnya agak terkaget melihat Mark yang datang tiba-tiba, penerjemah itu lantas membungkuk sopan dan lanjut membaca skripnya, meninggalkan Mark untuk berdiri sendirian, terdiam di tengah panggung bak orang bodoh. 

 

Syuting memang akan dimulai sebentar lagi, tapi sejujurnya Mark masih punya waktu istirahat selama kurang lebih dua menit. Ini belum waktu yang tepat untuk berada di atas panggung sebenarnya, namun Mark lebih memilih untuk tetap berdiri di sana, tak ingin berlama-lama ke belakang panggung karena, astaga, Haechan sama sekali tak peduli padanya! Setelah mereka selesai perform, Mark pikir Haechan akan menatapnya atau berbicara dengannya sedikit di belakang (atau menempel kepadanya selayak omega yang sedang heat biasanya), namun yang Mark dapati bukanlah pandangan penuh rindu atau setidaknya lirikan malu-malu, yang ia dapatkan adalah pengabaian. Haechan seakan menganggapnya tidak ada.

 

Itu menyakiti Mark. Itu membuatnya menggertakkan gigi marah. Oh betapa hipokrtinya ia, tadi ia tak ingin diledek, tak ingin didekati Haechan, tapi sekarang saat Haechan benar-benar mengabaikannya, ia malah ngambek. Sungguh alpha yang aneh ….

 

"Halo Mel," 

 

Sapaan tiba-tiba itu mengejutkan Mark dari lamunan penuh amarah dan hormonnya. Ia tersentak, menghadap ke samping lalu mendapati Haechan, omeganya, omega yang sedari tadi mengabaikannya, orang yang sedari tadi menjadi bahan pikirannya, orang yang membangun amarahnya, dengan santai berdiri di sampingnya sambil tersenyum. 

 

Mark mengerjap. Jantungnya berdegup kencang. Haechan begitu dekat dengannya, sangat dekat sampai bahu mereka bersentuhan. Ini bahaya … Mark ingin memegang tangan Haechan, Mark ingin mendekap Haechan, Mark ingin bersentuhan dengan Haechan. Ia ingin omega- nya. 

 

"Ready, action!"

 

Namun peringatan bahwa acara telah dimulai menghentikan niat Mark, pun harga dirinya masih tak mau untuk menggenggam tangan Haechan, jadi ia hanya kembali berdiri dengan wajah serius, menggigit pipi dalamnya untuk menahan dirinya. 

 

"Halo sobat Nctzen semua kembali lagi dengan NCT 127 di sini!"

 

Acara pun dibuka dengan penerjemah (yang juga sekaligus host) memberikan beberapa patah kata sapaan kepada kamera. Anggota lainnya juga tampak tersenyum ke kamera, menyapa para penggemar di balik kaca sana.

 

"Jangan lupa untuk membuka aplikasinya sekarang juga karena ada hadiah TV 50 inch menanti!"

 

"Mel …."

 

Lalu di saat itulah sesuatu terasa menimpa bahu Mark. Mark menghadap ke samping, lantas bertemu pandang dengan kepala berambut bulat abu-abu coklat tengah bersandar di kepalanya.

 

"Haechan?" 

 

Mark berlirih, sedikit terkejut (tentu saja). Jika tadi Mark tak dapat menemukan perasaan rindu Haechan dari ikatan mereka, maka kini perasaan manis mengikat penuh dambaan itu terngiang kuat di ikatan mereka. Haechan merindukannya. Haechan menginginkan Mark, menanti Mark, sama seperti Mark menginginkan dia. 

 

Mark berdehem. Walaupun ia sangat menanti waktu ini, sangat senang dengan bagaimana Haechan begitu menyerahkan diri kepadanya, namun ia masih sadar tempat. Ada puluhan kamera yang menyorot mereka, ada ratusan staff yang menatap mereka, para member pun juga sedang berdiri sejajar begitu dekat dengan mereka, mereka masih dalam mode bekerja. Jadi Mark, seakan tak peduli, kembali menatap ke depan, memasang wajah serius bak rona di pipinya hanya sebatas make-up semata. 

 

Tetapi sesuatu terasa tak benar. Serasa kurang. 

 

Mark menginginkan Haechan. 

 

Sangat.

 

Seberapa kuat pun ia menolak, ia ingin Haechan. Ia ingin memegang omeganya, ia ingin melindungi omeganya.

 

Ikatan batin begitu terasa dekat, namun terasa kendur bersamaan dengan raga yang saling tak tersentuh. Alpha Mark begitu kuat mendamba omeganya, hendak menyentuh Haechan yang begitu dekat dengannya, yang dapat dengan mudah ia raih, ia pegang, ia sentuh—

 

"Oh?"

 

Lantas lirihan penuh terkejutan itu terdengar dari bibir Haechan saat Mark meraih tangannya, menautkan jari mereka diam-diam. Mark meraih omeganya perlahan. 

 

Ikatan akhirnya menguat. Mark bernapas lega. Sentuhan dengan omeganya membawa lenguhan puas di dadanya, alpha Mark seakan melolong senang. 

 

"Temui aku di belakang panggung." 

 

Ucap Mark, semakin memperkuat pautan jari mereka.


 

"Terima kasih atas kerja kerasnya!"

 

"Terima kasih semuanya!"

 

"Terima kasih …."

 

Deru-deru ucapan terima kasih itu terus berkumandang saat Mark dan Haechan berjalan meninggalkan panggung, mereka turut mengucapkan 'terima kasih' dan membungkuk sopan beberapa kali sebelum akhirnya sampai di lorong belakang. 

 

Dengan pautan tangan yang sudah mengendur, hanya tersisa jari kelingking mereka yang berpaut lembut, Mark menuntun Haechan untuk berbelok ke toilet, memisahkan diri dari member lain yang berjalan lurus menuju ruang ganti. 

 

Hanya ada Mark dan Haechan di kamar mandi pada saat itu. Nafas Haechan tercekat saat merasakan naluri alphanya seakan mengetuk ikatan mereka, feromon penuh damba Mark menyelimuti badannya, memenuhi kepalanya.

 

"Alpha …."

 

Mark menggeram mendengar suara omeganya memanggil dirinya. Lantas jari kembali terpaut erat, jarak mereka pun semakin mendekat.

 

Bibir saling bertemu, dengan lembut menyatu, melepaskan seribu kupu-kupu dan perasaan rindu. 

 

Mark melepaskan pautan jarinya, ia bawa tangannya untuk memegang rahang Haechan, memperdalam pautannya pada sang omega.

 

Bunyi kecipak pelan terdengar bergema di toilet sepi ini. 

 

Rasanya menegangkan. Rasanya melegakan. Rasanya menyenangkan. Rasanya sama seperti saat pertama kali bibir mereka bertemu di kamar Haechan, waktu Mark datang menjenguk omeganya kala malam tahun baru itu. 

 

Omeganya tak pernah berubah, ia tetap Haechan yang remaja Mark kenal, yang suka mengganggunya, yang suka membuatnya kesal, namun juga yang paling peduli dan mencari tiap afeksi dari dirinya. Haechan tetap sama—yang berubah itu ialah dirinya, ialah perasaannya. Mungkin dirinya yang dulu, yang baru berstatus alpha muda, akan tertawa jika melihat dirinya yang sekarang, melihat dirinya yang jatuh, begitu dalam namun tetap terdiam, kepada Haechan, kepada orang yang sempat ia sangkal kaitannya dengan dirinya. 

 

Ia tak bisa hidup tanpa Haechan. Ia masih tak ingin mengakuinya secara blak-blakan, tapi Haechan adalah cinta hidupnya. 

 

"Maaf." Itu ujar Mark saat ciuman lembut itu terlepas. Ia menatap mata Haechan, mengelus bibir memerah omeganya dengan lembut. "Aku sangat sibuk akhir-akhir ini sampai tak sadar kau heat. Maaf." Sesal Mark.

 

Haechan tersenyum. Oh, lihatlah betapa manisnya alphanya ini! Heat memang datangnya tidak menentu, bahkan Haechan pun tak sadar akan hal itu sampai-sampai ia tak meminum supresannya sebelum berangkat kerja. Dan tadi, ketika akhirnya heat- nya sudah benar-benar tak tertahankan, tak ada yang bisa Haechan lakukan selain menenangkan dirinya dengan mencium baju alphanya, tak ingin mengganggu Mark yang sudah kepalang kelelahan karena kegiatan solonya. Namun lambat laun heat itu pasti akan ketahuan juga, saat kedua mate itu akhirnya bertemu, mencoba untuk saling mendekat, bau feromon Haechan dan ikatan mereka yang merebak kuat rupanya membuat badan Mark luarbiasa lemahnya—Alpha itu pun pingsan, membuat Haechan berteriak panik, meraih alphanya dan menyebabkan keributan di ruang ganti. Taeyong yang tau apa yang sedang terjadi saat itu, cepat-cepat memisahkan Haechan dari Mark, tau bahwa Haechan bisa saja melakukan hal tidak senonoh untuk membangunkan alphanya. Jadi setelah memikirkannya lagi, ini semua bukan salah Mark, ini hanya … hanya … mereka berdua adalah pasangan yang sibuk!

 

Cup!

 

Tapi satu kecupan penuh rasa manis itu tampaknya sudah cukup menutupi semua rasa rindu dan mendamba kedua pasangan itu. 

 

"Ayo ganti baju." Ucap Haechan memerah malu. Ia menabrakkan badannya ke badan sang alpha. Memeluk erat Mark seakan perkataannya barusan adalah kebohongan belaka, seakan ia tak ingin kemana-mana sekarang, ia ingin hanya ada di pelukan Mark. 

 

Mark terkekeh. Ia taruh kepalanya ke atas kepala Haechan, mencium rambut omeganya lalu berujar, "Mungkin 5 menit lagi."

 

The end. 






Notes:

halo! terima kasih sudah baca. hopes u like it!^^ have a nice day~
You can send me message here
curiouscat

Or if u want to follow me at twitter, here is my account!
twitter