Work Text:
Rutinitas pulang kerja; mandi, rebahan, lalu tidur. Harusnya seperti itu. Pasti awalnya mandi dulu buat bersihin badan dari keringat-keringat mengejar kereta agar segera sampai rumah, dilanjut dengan pakai piyama berbahan sutra ratusan ribunya itu.
Itu rutinitas Noah, si pekerja ibukota yang sebenarnya konglomerat. Pura-pura bekerja keras padahal aslinya duit melimpah. Tipikal Noah, dia bisa stress kalau di rumah terus.
Stress? Kecil kemungkinan Noah untuk stress. Ada makhluk lain di rumahnya yang siap hibur dia kapan aja. Termasuk hari ini yang buruk maksimal.
Hujan badai dan banjir diterjang untuk sampai ke kediaman keduanya. “Aku pulang,” sembari masuk dengan keadaan celana digulung dan jaket yang berbekas rintikan hujan. “Yejun, aku pulang,” sautnya lagi. Pria bernama Yejun itu tak kunjung memberinya jawaban.
Noah masuk ke kamarnya, manusia yang dicari-cari ternyata ada di kamar mandi.
“Oalah kamu disini, kirain kemana.” Segera ia lepas pakaiannya untuk bersihkan diri. Yejun-nya itu ternyata menyiapkan bathtub yang diisi air hangat; Noah yang pesan.
“Mandi dulu, abis itu baru masuk. Aku nyiapin makan dulu.” Noah hanya anggukkan kepala sebagai jawaban.
Rasanya pengen langsung nyebur. Otot-otot miliknya rasanya perlu diregangkan. Maka dari itu, Noah buru-buru mandi dan menenggelamkan badannya ke air hangat.
Ototnya seketika rileks hingga buat matanya terpejam. Ini dia part yang ditunggunya. “Andai bisa begini tiap hari,” sebetulnya bisa setiap hari, cuma terlalu sayang air. Hemat adalah kunci kehidupan kalau kata Noah.
“Sayang, udah selesai mandinya?” Teriak Yejun dari luar. “Kalo udah selesai langsung ke meja makan yaaa.” Noah rasa-rasanya hanya ingin tidur disini.
Setelah beberapa menit kemudian, Noah memutuskan untuk keluar, takut betulan ketiduran.
“Aku masuk ya?” Belum dijawab pun Yejun tetap masuk. “Capek ya, Sayang?” Tangannya beralih mengambil hair dryer yang sebelumnya dipegang Noah.
“Aku bisa sendiri padahal,”
“Jarang-jarang bisa giniin kamu,” tangannya lihai menyisir tiap-tiap rambut kekasihnya. “Gimana? Udah rileks kan?” Yejun mencoba untuk cepat selesaikan pekerjaannya di bagian rambut Noah.
Noah hanya menjawab dengan gumaman, tak mampu lagi untuk sekedar keluarkan satu kata.
“Udah kering. Sekarang tunggu sini, jangan kemana-mana.”
Yejun ambil seluruh skincare Noah yang ada; tentunya skincare untuk malam hari, dan membawanya ke depan kaca kamar mandi tepat Noah berdiri.
“Ya ampun.. aku bisa sendiri, Yejun…” Tak pedulikan kalimat Noah, Yejun melakukan step by step skincare yang Noah lakukan tiap malam.
“Cantik.”
“Ngawur.”
“Mulus.”
“Iya lah produknya mahal.”
“Jangan marah gitu dong, Cantik.” Panggilan dari Yejun yang paling Noah suka. Agak malu-malu dibuatnya, sebab ketika Yejun sebut dirinya ‘cantik’, tatapannya begitu lembut. Seakan penuh cinta.
“Coba tuh liat ke kaca. Cantik, kan?” Yejun itu paling bisa buat Noah blushing di depannya. Entah, semua kalimat yang tadinya cheesy menurutnya berubah jadi gombalan yang selalu buat dirinya tersanjung.
“ Hmm… makasih?”
“Yeay, selesai. Sekarang pakein aku,” Noah berdecak malas. Pantesan Yejun tiba-tiba semangat bantuin dia, ternyata ada niat terselubungnya.
“Kamu belom cuci muka, ih . Cuci muka dulu.”
“Tolong cuciin,” Yejun dengan deretan gigi rapinya.
“Astaga…” Apa boleh buat, kalau gak dituruti, nanti malah panjang masalahnya. Biasalah, laki-laki dramatis.
Sembari menyabuni, Noah juga memberi massage ringan pada wajah Yejun. Kalau Noah lihat kenyataannya, kulit wajah Yejun itu lebih bagus darinya. Tapi, Yejun selalu bilang kalau wajahnya gak sebanding daripada wajah Noah yang cantik. Noah tertawa kecil sendiri mengingatnya.
Selesai dibersihkan, dilanjut Noah memakaikan skincare pada wajah Yejun. “Aku mau pake lip balm kamu yang ada rasa-rasanya itu dong,” ya, apapun untuk Yejun.
Cup .
“Mulai…” Kebiasan buruk— atau mungkin tidak buruk juga , yang selalu Yejun lakukan yaitu curi-curi kesempatan untuk cium dirinya.
Cup .
Noah hanya memutar matanya keatas, malas menanggapi Yejun yang cari perhatian. Sudah biasa bibirnya jadi objek kesempatan dalam kesempitan Yejun. “Stop, Yejun. Jangan main-main.”
Cup .
“ Ih , skincare aku belom nyerap tau!”
Si pelaku yang mencium pipinya itu hanya terkekeh. “Lagian kamu cantik banget. Gimana aku nahannya coba.” Mulai. Mulai lagi gombalan maut Nam Yejun.
“Tapi bibir kamu manis, aku boleh coba lagi gak?”
“Janji tanggung jawab gak tapi?”
“Tanggung jawab atau tanggung jawab ?”
“ Tanggung jawab. ” Maka, kali ini Noah yang memulai.
Persetan dengan moisturizer Yejun yang belum menyerap sempurna. Persetan dengan lip balm yang sebentar lagi akan terhapus. Persetan juga dengan makanan yang sudah dihangatkan oleh Yejun.
Kalau hormon sudah unjuk diri, semua hal di dunia ini terlupakan.
“Pelan-pelan. Aku gak kemana-mana, kok.” Ciuman yang sempat terhenti kembali dilanjut. Kali ini permainan Yejun lebih lembut, suara kecupan panas keduanya memenuhi kamar mandi mereka.
Tangan Yejun tidak tinggal diam, mencoba untuk terus dorong tengkuk Noah agar ciumannya semakin mendalam. Lenguhan tak tertahan Noah keluar semakin diperdalamnya ciuman mereka. Penuh kasih. Penuh rasa.
Nafas keduanya memburu, saling berlomba mengais oksigen sekitarnya. “Udah… Aku gak bisa nafas.” Tak banyak berfikir, Yejun perlahan turun ke bagian leher Noah. Ia hidu harum kekasihnya. “Yejun, geli…” Lemas. Sentuhan bibir Yejun hampir membuatnya melayang.
Menghirup, lalu menyesap leher putih bersih itu. Permainan lidah yang lihai membuat Noah tidak mampu menahan lenguhannya, “Yej— ahh… Pelan-pelan, Sayang.”
Noah pun tak tinggal diam, ia berusaha untuk buka kaos milik Yejun.
“Mau pindah ke kasur?” tawar Yejun.
“Mau.”
Yejun tarik tangan Noah dan lempar tubuh sang kekasih ke kasur mereka.
“Gila. Cantik banget.”
Noah selalu suka dibawah Yejun. Pun Yejun yang suka Noah ada dibawah kendalinya.
“ Eat me, Nam Yejun.”
Bagai perintah, Yejun kembali menyatukan bibir keduanya. Lidahnya menjulur agar Noah dapat mengecapnya. Sudut bibir Noah mengalirkan air liur yang tak tahu milik siapa, keduanya begitu semangat untuk mendominasi permainan. “ Mmhh ..” Noah terus memperdalam ciuman mereka. Yejun membuka piyama milik Noah, lalu beranjak untuk menyambar dada kekasihnya.
Seafood mungkin memang makanan favorit Yejun, tapi kalau dibandingkan dengan dada di depannya sekarang, Yejun lebih pilih yang ini. “Wow…” Alih-alih memberi Noah kesempatan untuk bernafas, Yejun jelas melakukan sebaliknya.
“ Ah! Sakit… Jangan digigit…” Merintih tapi juga memberikan lebih. Dadanya membusung berikan peluang lebih untuk pria di atasnya. “ Nngh ..” sesapan Yejun pada areola nya dibuat pola tak beraturan hingga buat libidonya naik.
“Enak, Sayang?”
Yejun terus bermain di atasnya. Tangan kiri yang sedari tadi tidak absen untuk memainkan putingnya. Noah menggigit bibirnya, rasanya gila sekali.
“Yejun… Yang lain juga…”
“Iya, Sayang. Sabar ya? Aku mau makan yang ini dulu.”
“ Ahh… Jangan yang kanan terus, yang kiri juga, please .”
“ Your wish is my command, Dollface.”
Yejun sialan. Keluar sudah panggilan paling keramat yang pernah ia punya. Kalau begini, Noah bisa keluar tanpa disentuh bagian bawahnya.
Detak jantungnya makin memburu kala Yejun semakin gencar bermain di atas dadanya. Hanya lenguhan demi lenguhan yang dapat keluar dari mulut kecilnya.
“Aku suka ini, gedenya pas.”
Noted . Noah bakal rajin olahraga untuk mempertahankan bentuk tubuhnya.
“Aku buka ya?” Lagi-lagi tanpa mau dengar jawaban Noah, Yejun melakukannya semaunya. Celana tak bersalah itu dibuang sembarang, ciptakan tatapan lapar pria yang sibuk di atasnya. “Sialan.” Bukan umpatan kekesalan, tapi umpatan tak percaya ia secara eksklusif melihat sisi Noah yang seperti ini.
Tanpa busana. Tanpa perlawanan.
Yejun mulai dari paha mulus kekasihnya. Sinting, seumur hidup ia bisa nikmati ini, buat yang di bawah sana semakin tegang berusaha melesak keluar.
“Yejun… Please… ”
“Sabar, Dollface.” Sedikit lagi, Yejun ingin nikmati paha milik Noah, meninggalkan jejak kepemilikannya di sana, membuat mahakarya di paha mulus itu.
“ Ahh — stop… Geli…” Noah begitu sensitif di bagian bawahnya. “ Mmhh , Yejun…” Kakinya menjepit kepala Yejun, tak kuasa menahan stimulasi yang diberikan.
Seringai Yejun tercetak. Noah yang begitu sensitif dan basah buat dirinya tak bisa berhenti. Jarinya lihai bermain di area lubang pria dibawahnya.
Yejun punya kontrol penuh atas tubuh Noah, “Nungging.” perintahnya.
Kalau Yejun bilang A, ya harus dituruti. Noah patuh akan perintah sang kekasih. Sepersekian detik Yejun melahap apa yang disuguhi Noah. Tak peduli apapun yang keluar dari mulut Noah saat ini, rintihan, bantahan, atau apapun, ia akan tetap melakukannya.
“Yejun! Fuck… Aku juga mau punya kam— nghh… Pelan-pelan aku bilang…”
Ide bagus kalau mereka melakukan dalam posisi itu. Yejun beranjak dari tempatnya lalu mengarahkan Noah untuk posisikan di atasnya. Ah , Yejun paling suka posisi ini.
“Cantik, kamu cantik.” Bertubi-tubi Yejun terus lontarkan pujian itu. Disambung jarinya yang juga bermain lihai pada sekitar lubang itu.
Noah pun juga sibuk dengan urusan di depannya. Membuka kain terakhir yang menutupi tujuan utamanya, lantas ia meraup batang keras yang telah mengacung tinggi. Lidahnya menggoda ujung batang keras itu, lalu kepalanya mulai turun, masukkan seluruhnya ke dalam mulut kecilnya. Naik turun sampai ujung belakang mulutnya. Noah suka jika Yejun menunjukkan reaksi seperti ini, yaitu meminta Noah untuk melahapnya lebih dalam.
“ Fuck , Noah… Masukin terus.” Yejun tak tinggal diam, jari panjangnya perlahan masuk ke dalam lubang pria-nya. Bermodal air liurnya sendiri, Yejun berhasil untuk melesak masuk. “Sialan, jariku rasanya kayak dipijit-pijit.” Mau sesering apapun melakukannya, lubang ini tetap candu.
Keduanya sibuk mencari puncaknya masing-masing. Yejun dengan ikut menaik turunkan pinggulnya dan Noah dengan stimulasi tiga jari panjang serta penis Yejun di dalam mulutnya.
“Yejun aku mau cum ,”
“Bareng, Sayang.”
Menit berikutnya gerakan Yejun semakin cepat, ia terus menekan prostat milik kekasihnya. “ Ahh mau— Nghh… Yejun…” Noah sampai pada puncak tertingginya, diikuti Yejun yang memenuhi mulut Noah dengan benihnya.
“ Fuck , anget banget.” Noah tak melepaskan mulutnya. Peduli setan dengan eksistensi kata ‘jorok’.
Keduanya terengah-engah, pun lubang Noah masih berkedut seakan tak mau jari panjang Yejun untuk keluar. Yejun enggan buang waktu, segera ia bangun untuk ke kegiatan inti mereka.
Noah sudah tak berdaya. Rasa lelah sehabis pulang menerjang jalanan ibukota ditambah permainan hebat kekasihnya buat dirinya seakan-akan bisa tumbang kapan saja.
“Belom selesai, Dollface.” Yejun ambil pelumas yang ada di nakas samping tempat tidurnya. “Mau pake atau enggak?” Arah pertanyaannya pada kondom yang saat ini dipegang di tangan kirinya.
“Gak usah,”
“Kamu susah bersihinnya nanti,”
“Bawel. Take it or leave it .” Finalnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Yejun melumuri seluruh batang penisnya serta lubang milik Noah, lalu mencoba untuk masuk.
Baru ujungnya saja sudah terasa sempitnya. Jemari kakinya menekuk, tak tahan akan stimulasi bawah sana. “Sempit banget,” Yejun terus mendorong pinggulnya melesakkan penisnya untuk masuk lebih dalam. Lubang senggama itu terus memijat batang penisnya. Seakan-akan menelan penuh penisnya. “Akunya jangan dijepit begini dong, Sayang. Rileks ya, Cantik.” Yejun berusaha untuk alihkan perhatian Noah. Ia mulai memberikan stimulus pada daerah puting Noah, dihisap, dipilin, dimainkan secara acak.
“Yejun… Penuh…” Keduanya sama-sama tahu.
Noah meremas rambut pria di atasnya, menandakan kalau dirinya betul-betul menikmati permainan Yejun di atas dadanya. Berikutnya Noah membawa Yejun untuk kembali menyatukan bibir keduanya. Lembutnya bibir Yejun buat Noah gemar untuk menyesapnya berulang kali.
“Aku gerak ya, Cantik.” Yejun mulai dengan perlahan, menuntun Noah untuk mengikuti permainannya. Perlahan tapi pasti. Yejun menyentuh titik kepuasannya.
“ Mmhh – Yejun.. Cepetin…” Baru memulai, kesabaran Yejun sudah diuji. Ingin sekali sebetulnya Yejun untuk menggempur Noah kuat, tapi yang dicari disini adalah kesenangan berdua. “Yejun…” Tak henti-hentinya Noah merengek meminta Yejun lebih cepat.
“Okay, Dollface. Gak ada kata-kata stop sebelum aku udahan ya,” apa yang Noah inginkan, Noah dapatkan. Yejun percepat gerakan maju mundurnya, bunyi pertemuan kulit dengan kulit memenuhi ruangan. Padahal pendingin ruangan sudah menunjukkan angka 22, tetapi pergumulan panas itu membuat keduanya bercucuran keringat.
Desahan panjang Noah mengalun indah pada indera pendengaran Yejun. Bagai alunan lagu paling indah yang Yejun pernah dengar. “ Fuck , Yejun…” Yejun juga sama enaknya seperti Noah. Dinding anal Noah yang terus memberikan jepitan selalu menaikkan gairah untuk mempercepat gerakannya. Menusuk hingga dalam sampai Noah memutar matanya ke atas, Yejun suka ekspresi itu.
Tangan kanannya lagi-lagi memilin puting Noah sedangkan yang kiri sibuk memasukkannya ke dalam mulut Noah. Baik lubang maupun mulut Noah, keduanya begitu hangat sampai Yejun turut meloloskan desahan. “ Good boy. My Dollface .”
Noah merasakan ada yang ingin melesak keluar dari dalam dirinya. Rasanya ia bisa klimaks kalau mendapat perlakuan seperti ini. Tempo permainan yang cepat dan stabil ditambah tangan Yejun yang selalu menggerayangi tubuhnya yang bisa dijangkau oleh tangan panjangnya itu. “Yejun, aku mau cum...” Noah tidak tahan lagi.
Yejun seakan tidak mendengar apapun, ia terus memaju mundurkan penisnya, mencari titik kesenangannya.
“Yeju– Ah ! Fuck . Aku mau cum ,” digubris pun tidak.
“Sebentar lagi ya, Sayang?” Yejun sesap leher Noah untuk menenangkannya. Tapi, Noah betul-betul tidak tahan lagi. Pria jahat; Yejun, itu menahan jalur keluar Noah. Ujung penis Noah ditahan menggunakan ibu jarinya. “ Not right now , Dollface.”
“Gila, Ahh… Gak kuat… Aku pengen cum… ” Rintihan Noah menjadi melodi dalam tiap gerakan Yejun.
Sang dominan mempercepat gerakannya, ia hampir sampai juga. Yejun terus memberi stimulus pada titik-titik sensitif Noah. “Barengan,” sedikit lagi ia sampai. “Aku cum di dalem ya, Cantik?” Yang diberi pertanyaan hanya mengangguk sebagai tanda persetujuannya.
“ Fuck , Han Noah…” Yejun menggertakkan giginya kala sampai klimaks datang sembari melepaskan ibu jarinya dari penis milik kekasihnya.
“Yejun… Damn… Nghh – penuh banget, Sayang…” Keduanya capai klimaks bersamaan. Yejun menjatuhkan tubuhnya di atas Noah. Lengket sekali rasanya, tapi keduanya tak peduli. “Lubangku rasanya penuh banget,” Noah mengulang kalimatnya.
Tidak perlu Noah ulang perkataannya, Yejun juga sudah paham. Masing-masing mengatur nafasnya hingga stabil kembali.
Noah memeluk Yejun-nya, “Lagi gak, Ganteng?”
