Work Text:
"Tay."
Pemilik nama itu menoleh perlahan.
Klik.
Lee memotretnya tanpa aba-aba, seperti biasa. Sudut cahaya dari jendela kafe membentuk siluet samar di wajah Tay. Wajah itu datar, kosong, tidak menunjukkan reaksi sedikitpun terhadap kamera atau orang di belakangnya. Tapi Lee tetap tersenyum saat melihat hasil jepretannya. Ia selalu menemukan sesuatu di dalam diam Tay—bahkan jika itu hanya bayangan luka yang belum sembuh.
Ia berjalan mendekat, melewati meja-meja kosong dan aroma kopi yang mengambang malas di udara. Tay sudah duduk di sana sejak lima belas menit lalu, sendirian, di meja pojok yang sama . Di antara mereka, ada secangkir kopi yang mulai dingin dan sepotong red velvet cake yang belum disentuh.
Lee tahu betul mengapa Tay memesannya.
Itu favorit
Hin
.
Ia menghela napas, pelan. Sakitnya masih sama. Bahkan tanpa Tay harus mengucapkan nama itu, Lee tahu, Hin masih duduk di meja ini bersama mereka— dalam bentuk kenangan yang enggan mati.
“Maaf lama,” ucap Lee pelan, menarik kursi dan duduk di hadapan Tay.
Tay tidak menjawab. Hanya menatap kue itu seperti benda asing yang terlalu akrab. Tatapannya tak terbaca. Tapi Lee tahu apa artinya. Ia sudah cukup lama belajar membaca keheningan Tay—dan terlalu sering kalah dalam pertarungan melawan nama yang tak lagi hadir tapi masih menetap di hati seseorang.
Ia menarik napas, tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Kepalanya riuh, pada pertanyaan yang selalu berhasil menenggelamkannya.
Kapan aku bisa menggantikan Hin di hatimu, Tay?”
Lee menunduk sejenak, memainkan kamera di tangannya. Ia sudah tahu sejak awal: mencintai Tay bukan tentang menyentuh, tapi menunggu. Bukan tentang menggantikan, tapi menerima bahwa ada ruang yang tak akan pernah jadi miliknya.
Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapan ke luar jendela. Hujan turun. Gerimis kecil yang jatuh seperti langkah-langkah memori. Di kaca jendela, bayangan wajah mereka muncul, buram dan berdampingan. Dua orang yang duduk berseberangan tapi berdiri di garis waktu yang berbeda.
Lee mengangguk kecil, seolah bisa menerima. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah: ia terbiasa . Terbiasa menjadi seseorang yang tidak cukup. Terbiasa mencintai diam-diam, bahkan setelah segala usaha jadi terang-terangan. Tapi ia tetap mencintai Tay seperti mencintai langit mendung: tahu tak bisa mengubahnya, tapi tetap menatapnya setiap hari.
“Kue-nya dingin,” gumam Lee ringan, mencoba membuka suasana.
Tay mengangguk singkat. “Biarin aja.”
Ia menunduk, mengaduk kopinya sendiri tanpa niat minum.
“Kadang gue mikir,” ucap Lee pelan, tanpa menatap Tay.
“Lo balik ke tempat ini buat nyari kenangan… atau sebenernya lo pengen ninggalin satu.”
Tay tak menjawab.
Red velvet itu tetap utuh.
Sendok di sampingnya pun belum bergeser.
Lee tidak menunggu jawaban. Ia tahu tidak semua luka bisa dijelaskan. Tidak semua perasaan bisa diberi nama.
Jadi ia hanya tersenyum, lalu berkata, “Kalau lo butuh temen buat nemenin… meski cuma buat duduk bareng tanpa ngomong apa-apa, gue masih di sini, Tay”
Tay akhirnya menoleh. Matanya tetap letih, tapi tak sepekat dulu. Ada jeda panjang sebelum ia membuka suara.
“Thanks, Lee.”
Hanya itu. Tapi cukup.
Mereka tak bicara lagi setelahnya. Hujan mulai deras. Orang-orang masuk ke dalam kafe, menepuk-nepuk jas hujan dan rambut basah. Dan di atas meja, red velvet cake itu tetap tak tersentuh.
