Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Wishful Thoughts Fest
Stats:
Published:
2025-09-27
Completed:
2025-10-11
Words:
18,781
Chapters:
3/3
Comments:
22
Kudos:
71
Bookmarks:
2
Hits:
632

Mikrokosmos

Summary:

Riku adalah cupid yang ditugaskan ke dunia manusia untuk membuat Sion jatuh cinta.

Notes:

Hai semuaaa!!!! Ini dia kontribusi aku buat fic fest kali ini ^^ semoga kalian suka yaaaa

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: One

Chapter Text

Riku membaca berkas yang dipegangnya dengan teliti.

Nama : Oh Sion

Matanya menyapu seluruh informasi yang tertera di sana. Meski sudah berulang kali mencermati semua informasi yang tersedia, Riku masih tak mengerti mengapa orang seperti Sion tak bisa jatuh cinta. Sudah dua cupid yang ditugaskan dan keduanya berujung gagal untuk membuat Sion bisa membuka hatinya. Riku tentu tak mau menjadi orang ketiga yang gagal dengan tugasnya. Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan agar pekerjaannya ini berhasil diselesaikannya dengan baik. Riku harus dengan cepat memikirkan solusinya.

Melihat kembali ke Sion, pria itu sama sekali bukan tipikal orang yang akan membuat siapapun berjalan melengos begitu saja melewatinya. Dia merupakan orang yang apabila ditemui di jalan, maka mata siapa saja akan melirik dua kali–Riku sudah menghitung jumlah minimal–ke arahnya. Sion merupakan sosok yang akan langsung menarik perhatian begitu berada di satu tempat dengannya. Dan fakta bahwa dia selama lima tahun belakangan ini belum juga bisa merasakan jatuh cinta, membuat Riku tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya.

“Mungkin dia hanya keras kepala.” Riku berusaha untuk tak membiarkan kekhawatiran itu mengganggunya dan memberikan sugesti pada dirinya sendiri. Meski ia belum lama menjadi cupid, Riku sangat serius dengan pekerjaannya. Seluruh tugas yang diberikan padanya selalu berhasil ia laksanakan dengan sangat baik, malah terkadang Riku ikut serta dalam membantu rekan cupid lain untuk menyelesaikan tugas mereka. Reputasinya sangat bagus sejauh ini dan ia berniat untuk terus mempertahankannya. Jadi, tak ada ruang untuknya gagal kali ini.

Masih memperhatikan ke arah targetnya, saat ini Sion nampak baru selesai membeli kopi untuk dibawanya pulang. Dari pengamatan yang telah dilakukan Riku selama beberapa waktu ini, Sion memang punya rutinitas yang selalu sama tiap harinya. Pria itu sangat monoton dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dia sangat jarang–bahkan hampir tidak pernah–untuk pergi keluar atau sekedar memiliki kegiatan tambahan dari rutinitas yang telah dilakukannya selama ini. Satu-satunya waktu yang Riku bisa melihat Sion berinteraksi dengan manusia lain adalah dengan rekan kantornya, tetangga yang tak sengaja ia temui di apartemennya, dan juga teman Sion yang sudah lama bersama dengannya. Selain itu, Sion bisa dikatakan tak pernah bergaul dengan manusia lainnya.

“Temannya itu,” Riku membalik berkas yang dipegangnya, “Namanya Wonbin, usia keduanya sama, dan sudah berteman sejak mereka masih kecil.” Membaca kembali semua itu seketika membuat ide cemerlang terlintas dipikiran Riku untuk tugasnya kali ini. “Kenapa tidak menjodohkan mereka saja?! Keduanya terlihat cocok untuk bersama!” Riku berseru pada dirinya sendiri. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, lantaran sudah menemukan solusi yang dinilainya paling tepat. Riku tak sabar untuk menyampaikan itu kepada atasannya sekarang.

Menyaksikan Sion kini sudah aman dan masuk ke dalam ruang apartemennya, Riku menutup berkas yang dibawanya. Ia harus segera bergegas kembali untuk melaporkan temuannya. Sekarang, Riku merasa sangat optimis dapat menyelesaikan tugasnya.

 

“Riku!”

Riku yang hendak menuju kantor menghentikan langkahnya saat sebuah suara menyapanya. Ia menoleh ke arah sekumpulan cupid baru yang sedang dilatih untuk menjadi cupid seutuhnya, mendapati seorang yang tak asing di matanya.

“Ryo!” Riku melambaikan tangan menyapa Ryo. “Sedang latihan?”

Riku suka Ryo. Cupid yang baru melalui masa latihan itu sangat menggemaskan di matanya. Ryo punya pesona yang membuat Riku ikut bahagia saat melihatnya. Tingkahnya juga menggemaskan dan seolah ada rasa hangat tiap kali Riku melihatnya. Riku tak tahu bagaimana menjelaskan hal itu, yang pasti adalah melihat Ryo membuat Riku merasa bahagia.

"Sudah istirahat," Ryo membalas saat ia sudah berada di dekat Riku. "Riku mau kemana?"

"Menyerahkan ini." Tunjuk Riku pada berkas yang dipegangnya.

Ryo membulatkan mulutnya seraya mengangguk. Riku dapat melihat bagaimana mata cupid itu nampak berbinar saat berseru, "Ryo tak sadar ingin segera melakukan kegiatan yang sebenarnya!"

Mendengar antusiasme Ryo membuat Riku gemas. Ia kemudian mengusap kepala Ryo sembari berkata, "Tenang saja, aku yakin sebentar lagi Ryo pasti bisa jadi cupid yang hebat!"

Ryo tersenyum bangga mendengar pujian itu. Lagi-lagi hal itu terlihat sangat menggemaskan bagi Riku, tapi ia tak bisa untuk berlama-lama berbincang dengan Ryo. Riku punya hal penting yang harus dilakukan, maka dari itu Riku segera berpamitan untuk pergi ke kantor atasan mereka. Ryo juga harus kembali untuk melanjutkan latihannya.

Berjalan menuju kantor atasannya itu, Riku merasa bahwa atasannya akan setuju dengan solusi yang diberikannya. Selama ini, para cupid yang sudah ditugaskan sebelumnya sibuk mencarikan Sion sosok baru untuk dicintainya, padahal mereka bisa memberikan Sion cinta dari seseorang yang sudah lama dikenalnya. Riku merasa bahwa hal itulah yang menjadi alasan besar kegagalan rekan-rekannya. Sion adalah seseorang yang punya rutinitas monoton setiap harinya, jadi secara tak langsung dia pasti tak suka dengan perubahan yang tiba-tiba di hidupnya. Jadi, pasti dia akan lebih nyaman dengan seseorang yang memang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama, dibandingkan seseorang yang baru dikenalnya.

Sesampainya di depan pintu kantor atasannya, Riku hendak mengetuk pintu kala pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ia pun segera masuk ke dalam dan pintu itu kembali tertutup dengan sendirinya.

"Riku!" Atasan Riku menyapanya ketika ia sudah masuk ke sana. "Aku sudah menunggu kehadiranmu di sini."

Riku tahu bahwa mereka selalu dipantau, sehingga perkataan atasannya itu tak membuatnya terkejut. "Saya ingin–"

"Aku tahu." balas atasannya itu sembari tersenyum penuh arti, "Dan kami sudah menemukan solusi yang tepat juga agar operasi itu lebih berhasil dengan baik!"

Riku mengernyit bingung, "Solusi yang tepat?"

Atasannya itu mengangguk, "Kau akan diberikan keistimewaan untuk melakukan tugas khusus itu!"

Riku merasa bingung. Tugas khusus bagaimana maksudnya? Bukannya tugas ini sama seperti tugas yang sudah dilakukannya? Tak mau terlalu memikirkan hal itu sendiri, Riku bertanya pada atasannya itu, "Maksud anda bagaimana, Pak?"

Sadar bahwa Riku tak mengerti apa maksudnya, Atasannya lantas menjelaskan, "'Tugas khusus' yang dimaksud adalah kau akan berinteraksi langsung dengan target sebagai manusia!"

Butuh beberapa lama untuk Riku mencerna apa yang dikatakan atasannya itu. Jadi, sekarang Riku diminta berinteraksi langsung? Ia sejujurnya masih bingung dengan semua ini.

"Kau akan dikirim ke dunia manusia sebagai 'manusia', Riku."

Setelah mendengar lebih jelas dari atasannya itu, Riku merasa dunia seolah berhenti sejenak. Riku diminta untuk berinteraksi dengan menjadi manusia? Hal itu bukan merupakan sesuatu yang Riku duga kala ia sudah selesai menyampaikan solusi pada masalah Sion ini. Atasannya beralasan bahwa kedua cupid sebelum Riku selalu gagal ketika mencoba membantu Sion agar bisa jatuh cinta, maka sepertinya perlu untuk mengambil jalan lain agar bisa menyelesaikan tugas kali ini. Dan hal itu yaitu dengan cara berinteraksi langsung dengan target operasi mereka.

Riku yang tak tahu harus bereaksi apa hanya bisa menerima saat atasannya itu berkata bahwa nanti semua hal akan dipersiapkan untuknya, mulai dari identitas beserta segala hal yang dibutuhkannya sebagai manusia.

"Bagaimana setelah tugas itu selesai? Maksudku, mereka pasti akan kebingungan karena aku tiba-tiba menghilang begitu saja."

"Setelah tugasmu dinilai selesai, kau akan kembali lagi, dan mereka akan melupakan pernah mengenalmu. Tenang saja, sudah banyak yang melakukan tugas itu. Kau tak perlu terlalu khawatir."

Riku berusaha untuk tidak khawatir, tapi ia tak bisa untuk membantu dirinya agar tak merasa begitu. Bagaimana jika nanti misi ini gagal? Bagaiman jika nanti ia malah mengacau? Bagaimana jika nanti identitasnya terbongkar? Bagaimana jika nanti Riku malah membuat Sion semakin tak bisa merasakan cinta?

Riku hanya bisa berharap bahwa semua hal buruk yang dipikirkannya tak berubah jadi kenyataan.

***

Riku terbangun dengan kepalanya terasa nyeri seperti habis membentur sesuatu. Mungkin ketika tertidur tadi, Riku tak sengaja membenturkan kepalanya sehingga sekarang rasa nyeri menghinggapinya.

Tunggu.

Riku tak tidur.

Cupid tak butuh tidur.

Menyadari hal itu, Riku segera bangkit dan melihat sekelilingnya. Ia seperti mengenal tempat ini, tapi di mana? Riku tak pernah berada di sini, namun tempatnya terbangun ini terasa sangat familiar baginya. Matanya menyapu seluruh ruangan tempatnya berada sembari ia berjalan pelan menelusuri tempat itu. Ruangan itu memiliki beberapa kursi dan langsung bergabung dengan dapur terbuka. Riku pernah melihat tempat ini dan otaknya berusaha keras mengingatnya.

"Kau siapa?"

Sebuah suara mengagetkan Riku dan kakinya terasa seolah tak bisa digerakkan. Siapa itu? Kenapa dia bisa melihatnya? Bukankah manusia tak bisa melihat cupid sepertinya? Lalu kenapa orang itu bisa melihatnya? Atau sebenarnya sosok tadi sedang berbicara dengan orang lain? Tapi, siapa? Tidak ada suara lain terdengar setelahnya. Mungkinkah dia memang benar sedang berbicara dengan Riku? Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Riku sama sekali tak berani berbalik untuk melihat ke arah sumber suara.

"Aku berbicara denganmu! Apa yang kau lakukan di rumahku?"

Riku kini yakin manusia itu bicara dengannya. Mendengar lebih jelas suara itu, Riku merasa seperti mengenal si pemilik suara. Hanya saja ia kurang bisa mengingat pernah mendengarnya di mana dan oleh siapa.

"Jawab aku atau akan aku hubungi polisi untuk menangkapmu!"

Riku menggigit bibirnya takut. Sadar bahwa ia tak punya pilihan, maka dengan perlahan ia segera berbalik ke arah sumber suara itu. Begitu bertatapan dengan sosok itu, matanya terbuka lebar. Pantas saja Riku merasa tak asing dengan tempat ini, lantaran sekarang orang yang berdiri di depannya itu tak lain merupakan Sion, target yang harus dibuat Riku agar bisa merasakan jatuh cinta. Bertatapan wajah seperti ini, Riku dapat melihat wajah Sion nampak sama terkejutnya begitu melihatnya.

"Kau–"

"Maafkan aku!" Riku segera membungkuk sembari meminta maaf pada Sion. Ia harus segera menyelesaikan ini dan pergi dari sini agar bisa bertanya pada atasannya apa yang sebenarnya terjadi, "Aku pikir ini rumah temanku!"

Sion terdiam sejenak. "Temanmu?" tanyanya kemudian.

Riku mengangguk, ia harus memikirkan alasan yang bagus agar Sion tak curiga padanya. "Aku… lupa kalau dia berada di sebelah. Semalam aku sangat lelah sehingga tak sadar bahwa rupanya salah masuk dan ternyata ini bukan rumahnya."

Sion menatap Riku dalam, seperti berusaha membacanya. Menyadari itu membuat Riku berdoa dalam hati agar Sion tak menangkap kebohongan dari kalimat yang telah diucapkannya.

"Bagaimana kau bisa masuk tanpa membuat alarm berbunyi?"

Riku tak menduga Sion akan bertanya begitu dan otaknya langsung berpikir keras untuk mencari jawaban masuk akal. Riku lupa bahwa Sion sangat jeli–hal yang membuatnya juga sangat pandai dalam pekerjaannya–tapi ia dengan cepat menemukan alasan yang akan bisa diterima Sion untuk menjawab itu. "Pintunya tak terkunci!"

Sion diam beberapa saat, masih nampak kurang puas dengan jawaban Riku. "Aku selalu mengunci pintuku." balasnya masih dengan nada penuh selidik.

"Tapi, semalam kau lupa!" Riku membalas lagi. "Lihat buktinya, aku bisa masuk 'kan?"

Sion kembali terdiam setelahnya. Matanya masih tajam melihat ke arah Riku, membuat Riku merasa sangat terintimidasi dan mengalihkan pandangan ke bawah. Riku memainkan jemarinya, sembari menggigit bibir untuk menghilangkan gugup yang dirasakannya. Setelah beberapa lama yang terasa tak akan berujung itu, Riku mendengarkan Sion menghembuskan nafasnya panjang sebelum berkata, "Jadi, kau benar di sini?"

Riku mengerjakan matanya, merasa bingung dengan pertanyaan Sion. "Kau bilang apa?"

Sion segera mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Sudahlah lupakan," kemudian melanjutkan, "Kau temannya Yushi?"

Riku tak ingat ia mengetahui sosok 'Yushi' ini dari berkas Sion, tapi untuk sekarang ia hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan pria itu.

"Baiklah," Sion balas mengangguk dan setelahnya melanjutkan, "Aku pikir aku sudah gila sesaat tadi."

Riku tak tahu harus membalas apa dan situasi saat ini terasa sangat canggung baginya. Hening menyelimuti keduanya. Riku menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa masih bingung harus berbuat apa, sembari memikirkan bagaimana cara agar keluar dari sini.

Baiklah, satu persatu dulu. Sekarang Riku harus keluar dari tempat ini agar tak semakin melakukan hal yang hanya akan membuat Sion semakin curiga. Ia lantas memutuskan untuk segera pamit. "Aku… sekali lagi minta maaf sudah mengganggumu." ucap Riku kembali memulai perbincangan antar keduanya. "Kalau begitu, aku akan segera pergi dari sini!"

Sion hanya diam tak menjawab apa-apa. Melihat itu membuat Riku ragu-ragu untuk membungkuk singkat sembari memberikan salam perpisahannya. Ia berjalan menjauh dari sana untuk mencari pintu keluar dari apartemen itu. Riku tak tahu langkahnya kemana, yang jelas ia harus keluar dari sini.

"Itu pintu toilet."

Suara Sion kembali mengagetkannya saat Riku hendak membuka pintu yang dipikirnya merupakan pintu keluar. Riku tertawa canggung begitu menyadari kebodohannya. "Pintu kamar mandi ya?" tanya Riku sembari tersenyum kaku.

Suara helaan nafas terdengar keluar lagi dari Sion dan setelahnya ia berkata, "Ikut aku. Aku juga mau bertemu Yushi."

Mendengar itu membuat Riku merasa nasibnya sangat sial kali ini. Jika nanti Sion sampai bertemu dengan 'Yushi' itu, maka dia akan tahu bahwa Riku berbohong dan mengarang semua ini. Riku bisa dalam masalah besar apabila hal itu sampai terjadi. Memikirkannya saja sudah membuat Riku tak bisa membayangkan nasibnya nanti. Hanya saja, ia tak mungkin untuk melarang Sion ikut pergi. Riku tak bisa melakukan apapun selain mengikuti Sion keluar dari apartemennya dan pergi menuju ke apartemen Yushi. Otaknya kembali bekerja keras untuk mencari cara agar bisa mengeluarkannya dari situasi ini. Riku semakin dibuat gugup lantaran kini ia berjalan bersebelahan dengan Sion yang mau bertemu Yushi.

"Kau harus berhenti melakukan itu."

Riku yang tengah sibuk dengan segala macam skenario di pikirannya, lantas dibuat terkejut dengan suara Sion. Ia melihat ke arah Sion dan pria itu rupanya sedang melihat ke arahnya. Sontak Riku segera mengalihkan pandangannya begitu kedua matanya bertatapan dengan Sion.

"Aku melakukan apa?" tanya Riku setelah berhasil untuk menenangkan perasaannya.

"Itu," Sion menjeda kalimatnya sebelum kembali berkata, "Menggigit bibirmu."

Riku memang punya kebiasaan menggigit bibir sendiri jika ia sedang gugup ataupun sedang berpikir keras. Ia tak menyangka Sion rupanya memperhatikannya saat tengah melakukan itu. Riku benar-benar merasa malu sekarang. Bagaimana jika Sion sampai sadar kalau ia begitu lantaran sedang gugup penyamarannya akan segera terbongkar?

"Kau bisa melukai bibirmu jika begitu terus." ucap Sion lagi.

Riku tak tahu harus berkata apa, jadi ia membalas dengan berkata, "Ah, iya, maaf."

"Jangan meminta maaf." balas Sion lagi.

"Baiklah, maaf."

"Sudah ku bilang–" Sion menghentikan langkahnya dan Riku ikut berhenti. Sion berbalik ke arahnya, "Kau ini…" Sion menatap Riku lekat, menyebabkan Riku kembali mengalihkan pandangan darinya. Ia tak bisa melihat mata Sion seperti itu.

"Oh Sion." Pintu unit yang ada di depan keduanya tiba-tiba terbuka dan seseorang muncul dari sana. "Sedang apa sepagi ini di sini?" tanya orang itu.

Pandangan Sion beralih ke arah orang itu. "Yushi," Ia memanggil orang itu, yang ternyata adalah sosok 'Yushi'. "Sepertinya kau kedatangan tamu, Yushi." ucapnya pada Yushi.

Riku tak berani untuk melihat ke arah Yushi. Ia melafalkan doa dalam hati, berharap bahwa ada keajaiban dan Yushi ini bisa mengerti bahwa ia sedang butuh bantuan. Riku tak bisa membayangkan apa yang terjadi apabila Sion sampai tahu bahwa semua yang diucapkannya tadi adalah kebohongan. Apa yang harus Riku jelaskan ke mereka? Tak mungkin dia membiarkan identitasnya sebagai cupid terbongkar begitu saja.

"Iya?" Suara Yushi membuat Riku semakin gugup. Riku dapat merasakan tatapan seseorang sedang ke arahnya dan semakin membuatnya takut dengan apa yang akan terjadi. "Kau sudah sampai rupanya."

Dia mengatakan apa? Riku yang mendengar itu kini berani untuk mengangkat wajahnya dan membalas pandangan Yushi padanya. Yushi tengah melihatnya dengan tatapan seperti sudah membaca ke dalam dirinya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

"Jangan mengatakan pada temanmu bahwa rumahku adalah rumahmu." Sion kembali berkata.

Yushi bersedekap sembari membalas, "Kau seharusnya senang aku memberikanmu kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain."

Sion tampaknya tak setuju dengan perkataan Yushi itu. "Jangan membuatku melaporkanmu ke polisi."

Suara tawa kecil lepas dari bibir Yushi begitu mendengar apa yang dikatakan Sion padanya. "Selalu saja serius, Sion." balas Yushi.

"Aku memang selalu serius dengan ucapanku, Yushi."

Yushi kemudian melepaskan kedua tangannya. Ia menghela nafas sebelum berkata, "Baiklah, aku minta maaf." Mata Yushi kini kembali melihat ke arah Riku. "Aku sampai lupa ada kau di sini. Kalian sudah berkenalan?"

Sion hanya memasang wajah datarnya dan Riku tersenyum canggung pada Yushi.

"Ayolah, Oh Sion, jangan begitu. Setidaknya kau harus mengetahui nama seseorang yang bermalam di rumahmu." ucap Yushi lagi.

Sion terlihat tak ingin melakukan itu, namun setelah jeda cukup lama–dan tatapan Yushi yang seolah menyerukan agar ia segera berkenalan dengan Riku–Sion pada akhirnya menyerah. Pandangannya beralih ke arah Riku, dengan tangan terulur, Sion memperkenalkan dirinya. "Salam kenal, namaku Oh Sion."

Riku terdiam. Lagi-lagi ia harus berpikir keras dengan apa yang sebaiknya ia katakan. Sejujurnya Riku belum memikirkan sampai ke situ, ia bahkan tak pernah berpikir nantinya akan berkenalan dengan Sion. Apa ia memberitahukan Sion nama aslinya? Tapi, setahunya juga nama 'Riku' bukan merupakan nama aslinya. Yang ia tahu setelah jadi cupid, Riku adalah nama yang diberikan padanya. Jadi, mungkin tidak ada salahnya untuk mengatakan itu saja.

"Salam kenal, Oh Sion. Aku Riku." ucapnya sembari menjabat tangan Sion. Jabatan tangan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya Sion melepaskan tangannya dari Riku.

"Baiklah, Riku." ucap Yushi sembari menepukkan kedua tangannya. "Kau sepertinya lelah, jadi masuklah duluan. Aku masih ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Sion terlebih dahulu."

Riku tak butuh untuk diperintah dua kali agar bisa pergi menghindari Sion, jadi ia segera pamit singkat pada keduanya, sebelum akhirnya masuk ke dalam apartemen Yushi. Meski belum tahu apa maksud dan tujuan Yushi membantunya, yang terpenting sekarang adalah Riku bisa pergi menjauh dari Sion terlebih dahulu. Memang ketika dipikirkan kembali, ia merasa ada yang aneh dari Yushi. Ada sesuatu dengan pria itu. Hanya saja, Riku belum bisa mengetahui pasti tentang apa itu. Dan saat ini, ketimbang memikirkan itu, ada hal yang lebih penting perlu ia ketahui terlebih dahulu.

"Benar, aku harus mencoba untuk menghubungi mereka di sana." Riku teringat bahwa yang paling utama harus dilakukannya adalah bertanya apa yang sebenarnya menimpanya. Ia harus berbicara dengan atasannya tentang yang sedang terjadi saat ini. Riku berusaha untuk menyambungkan komunikasinya, namun setelah beberapa lama tak ada jawaban yang didapatkannya. Riku mengulang terus selama beberapa waktu lamanya, sampai ia kemudian harus menerima fakta bahwa usahanya itu sia-sia.

"Jadi, apa yang dilakukan cupid sepertimu di sini?"

Suara Yushi mengagetkan Riku dari kegiatannya. Ia yang baru menerima fakta bahwa tak ada yang bisa dihubunginya, berbalik ke arah sumber suara. Riku melihat Yushi berjalan menghampirinya dan duduk santai di sofa yang ada di sana. Riku yang sedari tadi berdiri lantas ikut duduk di seberang Yushi begitu tuan rumah itu mempersilahkannya.

"Kau tahu aku cupid?" Sebenarnya Riku sudah sedikit menduga alasan kenapa Yushi mau membantunya adalah karena bisa jadi pria itu tahu mengenai identitasnya. Dan rupanya, tebakannya itu benar adanya.

"Tak semua orang yang kau lihat di sini adalah manusia, Riku." balas Yushi santai.

Ucapan yang sangat masuk akal. Jika Yushi pernah bertemu–atau dia merupakan salah watu dari bagian 'bukan manusia' itu–maka sudah sewajarnya dia bisa membaca jelas ke arah Riku. Hal itu pula membuat Riku menjadi penasaran dengan siapa sosok Yushi sebenarnya. Benarkah dia merupakan bagian dari 'bukan manusia' seperti Riku? "Dan kau adalah?" tanyanya.

Yushi tersenyum kecil. "Aku akan memberimu kesempatan untuk menebak terlebih dahulu." Tantangan dari Yushi membuat Riku ingin membuktikan dirinya di hadapan pria itu.

"Aku tak menemukan namamu di file milik Sion, tapi saat melihatnya, dia nampak nyaman denganmu." Riku kemudian berpikir sejenak. Dia seketika teringat akan sesuatu, mengenai sosok lain yang juga sering berdekatan dengan manusia. "Apa kau… malaikat pelindungnya?"

Yushi tersenyum puas mendengar tebakan Riku. "Tepat sekali. Tak ku sangka kau pintar begini."

Sekarang semuanya menjadi sangat jelas. Memang dari yang Riku tahu, malaikat pelindung sering kali berada langsung di sisi manusia untuk melindunginya. Meski kebanyakan memang lebih suka bekerja dari luar, seperti makhluk-makhluk lainnya. Dan setelah mengetahui soal Yushi, Riku jadi berpikir, bisa jadi ini juga alasan kenapa Sion susah untuk jatuh cinta. Mungkin yang selama ini ikut mengacaukan pekerjaan cupid yang mau membantu Sion adalah Yushi sendiri.

"Apa kau yang selama ini membuat Sion kesulitan untuk merasakan cinta?" tanya Riku akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Jika itu benar, maka Yushi bisa jadi penghalang terbesarnya.

Yushi tertawa mendengar pertanyaannya. "Untuk apa aku melakukan itu? Polos sekali kau berpikir aku peduli dengan pekerjaan makhluk lain selain diriku." Ia tertawa cukup lama, membuat Riku merasa Yushi sepertinya tak punya sopan santun dan tata krama. Riku hanya bertanya padanya, tapi Yushi malah bersikap seolah ia mengatakan lelucon yang sangat lucu padanya.

Yushi sendiri setelahnya mengendalikan tawanya, sebelum berkata. "Kalian para cupid, mengapa selalu berpikir bahwa jatuh cinta merupakan hal yang harus dilakukan manusia?" Yushi diam beberapa saat sebelum melanjutkan, "Manusia punya tujuan yang lebih dari sekedar jatuh cinta, Riku. Dan kami, para malaikat pelindung, hanya ingin agar apapun tujuannya itu, manusia menjadi bahagia."

"Jatuh cinta bisa membuat bahagia." balas Riku tak mau kalah.

Yushi tersenyum penuh arti. "Kau akan berhenti mengatakan itu, setelah merasakan perginya cinta itu."

Riku sama sekali tak mengerti apa yang sedang coba disampaikan Yushi padanya. "Maksudmu?"

Kini Yushi menopang dagunya, menatap tepat ke mata Riku, kemudian bertanya, "Kau tak tahu alasan mengapa Sion tak bisa jatuh cinta selama bertahun-tahun lamanya? Kenapa tak ada lagi cupid yang berhasil membuatnya merasakan cinta?"

Riku menggeleng. Dari berkas yang diterimanya memang tak ada alasan mengapa Sion selama lima tahun ini tak menjalin hubungan romansa dengan yang lain. Para cupid memang tak diberikan data mengenai masa lalu dari target mereka, yang diberikan hanya informasi yang sekiranya bisa membantu untuk melancarkan misi mereka. Jika memang masa lalu itu dinilai sebagai hal yang bisa membantu, maka data itu akan ada ditulis juga di berkasnya. Seperti misalnya mereka ingin menjodohkan seseorang agar bisa kembali dengan mantannya.

"Dia sudah pernah kehilangan orang yang dicintainya." Jawaban Yushi membuat Riku tersadar dari lamunannya.

"Kehilangan?"

"Meninggal dunia."

Riku terkesiap mendengar itu. Kini jawaban itu sudah sangat jelas. Alasan kenapa Sion tak bisa jatuh cinta lagi, dikarenakan ia pernah ditinggalkan oleh kekasihnya. Dan bukan hanya sekedar ditinggal biasa, melainkan kekasihnya itu telah meninggal dunia. Riku tak begitu paham konsep hidup dan mati, tapi ia pernah dengar bahwa meninggalnya seseorang membuatnya sudah tak berada lagi di dunia ini. Sekarang Riku bisa mengerti mengapa Sion sulit untuk kembali membuka hati.

"Itu tak ada di berkasnya." Hanya itu yang bisa Riku katakan untuk membalas Yushi.

Yushi menganggukkan kepalanya. "Tak heran." balasnya lagi.

Mencerna semua informasi dari Yushi membuat Riku tak yakin apakah ia bisa menyelesaikan tugasnya ini.

 

"Sudah bisa menghubungi rekanmu?"

Riku menggeleng. Ia sudah berusaha sedari tadi dan masih tak ada jawaban dari atasannya. Riku bahkan tak tahu sekarang ia harus berbuat apa, lantaran tak punya petunjuk apapun tentang yang harus dilakukannya. Bahkan sekarang Riku merasakan perutnya bergejolak, yang mana ia tahu dari Yushi bahwa yang dirasakannya itu adalah rasa lapar. Yushi tadi sudah menawarinya makan, tapi Riku malu untuk menerima apapun darinya.

"Kau butuh makan, Riku." Yushi berkata ketika melihat Riku yang masih keras kepala tak mau menerima bantuannya. "Tubuhmu untuk pertama kali setelah sekian lama, merasakan lagi hal yang dirasakannya saat masih menjadi manusia."

Riku menatap Yushi, merasa tertarik mendengar kalimat akhir Yushi. "Masih menjadi manusia?" ulangnya pada Yushi.

Yushi tertawa. "Kau ini sebenarnya tahu apa? Kenapa banyak sekali hal yang tak kau ketahui?"

Riku merasa tak adil dihakimi begitu. "Aku belum lama menjadi cupid, Yushi!"

Tawa Yushi kembali terdengar. Ia menggelengkan kepala sembari berusaha menghentikan tawanya. Setelah tawanya reda, Yushi berkata, "Baiklah. Akan aku jelaskan," Ia kemudian berjalan menuju open kitchen yang ada di rumahnya, seraya berkata, "Tapi, kau harus memberi makan tubuhmu terlebih dahulu, bagaimana? Aku yakin sedari tadi kau belum makan apa-apa."

Sebenarnya Yushi tak perlu berkata begitu, karena sedari tadi Riku sudah tak bisa menahan rasa laparnya, dan ia merasa sebentar lagi pasti akan meminta bantuan Yushi agar memberinya makan. Tapi, setidaknya ucapan Yushi tadi membuat Riku tak harus meminta langsung makan darinya. Rupanya malaikat pelindung itu masih punya hati nurani. "Iya, aku setuju." balas Riku setelahnya.

Yushi tersenyum ke arahnya. "Jadi, apa yang ingin kau ketahui terlebih dahulu?" tanyanya sembari mempersiapkan makanan untuk Riku.

Riku berjalan menghampiri Yushi. "Dimulai dari perkataanmu tadi soal menjadi manusia."

Melihat Riku yang berjalan mendekatinya membuat Yushi lantas menghentikannya. "Kau duduk saja di sana dulu." ucap Yushi menunjuk kursi dan meja makan yang berada tak jauh darinya.

Riku mengikuti perkataan Yushi dan segera duduk di sana. Ia sudah duduk dengan nyaman saat Yushi kembali melanjutkan kalimatnya.

"Jadi, apa kau tahu bahwa semua makhluk yang ada berawal dari manusia?"

Riku menggelengkan kepalanya.

"Kita semua berawal dari manusia, Riku. Kau, aku, dan makhluk lain yang ditugaskan membantu manusia, pada awalnya merupakan bagian dari mereka." jelas Yushi.

Riku diam sejenak. "Mengapa bisa begitu?"

Yushi mengangkat bahunya. "Entahlah, bukan aku yang membuat peraturan itu." Ia nampak tengah melakukan sesuatu, sebelum melanjutkan, "Hanya saja, yang ku tahu adalah setelah meninggal, maka kita akan diberi pilihan, salah satunya adalah terlahir kembali. Tapi, tentu saja tak semua manusia memilih untuk itu. Beberapa memilih untuk diam di surga dan beberapa lagi harus menerima hukuman dari perbuatan mereka di neraka."

Yushi yang sudah selesai masak nampak berjalan membawakan Riku sesuatu. Ia meletakkan benda itu di hadapan Riku, dan mengambil duduk di sampingnya. Yushi kemudian melanjutkan kalimatnya, "Dan sebagai apa kau terlahir sekarang, tergantung dari apa yang belum selesai kau lakukan di dunia ini."

Riku mengangguk paham mendengar penjelasan Yushi. "Jadi, aku dulunya manusia dan kau pun seorang manusia?"

"Tepat sekali!" seru Yushi. "Entah di rentang waktu dunia yang mana, kita tak tahu. Karena, waktu di sini bergerak berbeda dengan di atas sana. Di sini, kau akan merasa waktu bergerak lebih lama."

"Maksudmu?"

"Maksudku adalah kau mungkin lebih dahulu sebagai manusia dibanding aku, tapi mungkin aku yang lebih cepat di sini, lantaran kau menghabiskan waktumu berpikir untuk memilih lebih lama di atas sana." Penjelasan Yushi membuat Riku mengangguk paham tanda ia mengerti.

"Lalu," Yushi menyambung lagi, "Itu juga berarti kau akan lebih lama di sini sebelum mereka," tangannya menunjuk ke arah atas, "Sadar bahwa ada sesuatu yang salah terjadi padamu."

Mendengar itu membuat Riku tak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya. "Jadi, itu alasan aku sulit untuk menghubungi mereka? Karena bagi mereka, aku bahkan belum lama menghilang dari sana?"

"Kau sangat pintar, Riku. Tak heran mereka dengan cepat memerintahkan cupid yang tak tahu apa-apa sepertimu ke dunia ini." Riku memasang wajah cemberut mendengar perkataan Yushi yang meski terdengar seperti pujian di awal, tapi di akhir dengan jelas mengejeknya itu. "Kau dengan cepat menyadari apa yang sebenarnya terjadi." sambung Yushi.

"Terus aku harus bagaimana?!" Riku kini tak bisa untuk tak panik. Berapa lama tepatnya ia harus menunggu? Bagaimana jika sampai berminggu-minggu? Tak mungkin Riku bisa bertahan tanpa apa-apa selama itu! "Tak mungkin aku bisa bertahan di sini, tanpa persiapan yang seharusnya ku dapatkan dari atasanku!"

"Tenanglah, Riku." balas Yushi. "Aku akan membantumu."

Mendengar itu membuat Riku terdiam. Ia tak salah dengar? Yushi mau membantunya? Bukannya pria itu tadi terkesan tak suka dengan cupid dari caranya bicara? Lalu kenapa dia mau membantu Riku? Ia tak bisa untuk tak menatap Yushi penuh selidik, berusaha membaca ke dalam diri malaikat pelindung itu. "Kau bukannya benci cupid? Kenapa tiba-tiba mau membantu?"

Yushi lagi-lagi dibuat tertawa oleh perkataan Riku. "Aku mau membantumu bertahan di sini, Riku. Bukan membantumu menyelesaikan tugasmu." jelasnya. "Kita masih satu rekan di sini, jadi aku tak mungkin membiarkanmu sendiri."

Benar juga. Yushi hanya bilang mau membantunya, jadi itu bukan berarti ia mau ikut andil dalam bagian tugas Riku. Setidaknya sekarang Riku tak perlu terlalu pusing memikirkan bagaimana nasibnya sebelum para cupid di atas sana sadar akan situasinya.

"Makanlah dulu, kau membutuhkan itu untuk berpikir, sebelum bantuan datang padamu." ucap Yushi sembari menyodorkan benda yang tadi dibuatnya.

Piring itu berisi makanan yang Riku pernah lihat, namun ia tak tahu apa itu. Riku lantas bertanya pada Yushi setelah melihat piring berisi makanan itu. "Ini apa?"

"Hanya telur goreng dan nasi. Aku sedang tak punya apapun di sini, jadi hanya ini yang bisa aku buatkan untukmu." jelas Yushi.

Riku kembali memperhatikan piring berisi nasi dan telur goreng yang dikatakan Yushi. Ia pernah melihat manusia makan makanan mereka dengan menggunakan dua batang kayu, tapi Riku tak melihat Yushi memberikan benda itu untuknya. Lalu bagaimana ia harus mengambil makanan itu? Apa boleh langsung dengan kedua tangannya?

"Kau tak tahu cara makan?" Yushi sepertinya membaca pikiran Riku. Ia lantas menunjuk benda yang berada di samping piring itu dan menjelaskan kepada Riku, "Ini sendok, kau makan dengan cara memegang pangkalnya, kemudian ujungnya yang bulat ini untuk mengambil nasi dan telur yang ada, lalu masukkan ke dalam mulutmu. Jangan lupa untuk mengunyah sebelum kau menelannya."

Mendengar penjelasan itu, Riku akhirnya mengangguk paham. "Jadi, manusia juga makan dengan ini? Aku pikir mereka hanya menggunakan dua batang kayu kecil." balasnya.

"Itu sumpit, lebih sulit untuk menggunakannya. Jadi, aku memberikanmu sendok agar kau bisa lebih mudah makan." Yushi membalas lagi.

Riku tak membalas apa-apa dan segera mempraktikkan apa yang disampaikan Yushi padanya. Meski awalnya kebingungan, Riku berhasil menempatkan nasi dan telur pada sendoknya. "Aku berhasil!" Riku berseru senang lantaran usahanya membuahkan hasil.

Yushi nampak terkesan. "Hebat sekali, Riku," ucapnya. "Kau memang cepat belajar."

Mendapatkan afirmasi begitu membuat Riku merasa senang. Setidaknya ia jadi tahu bahwa dirinya tak akan kesulitan untuk bertahan hidup sampai atasannya nanti datang memberikan bantuan. Riku bisa sedikit merasa lega memikirkan nasibnya nanti.

 

Riku tak menyangka ia akan banyak berbincang dengan Yushi mengenai Sion. Rupanya tak seperti dugaannya di awal, Yushi ternyata mau berbagi informasi tentang Sion padanya. Riku sebenarnya tak menyalahkan Yushi juga apabila ia tak mau berbagi apa-apa, lantaran tugas malaikat pelindung memang untuk 'melindungi' manusianya. Yushi hanya berusaha melaksanakan tugasnya seperti yang dilakukan Riku saat ini.

Informasi yang didapatkan Riku dari Yushi juga berisi penjelasana tentang hubungan Wonbin dan Sion. Yushi bercerita tentang bagaimana kedua manusia itu memang dulunya sempat mencoba untuk menjalin hubungan percintaan. "Setahuku, Sion dan Wonbin mencoba untuk berpacaran ketika mereka masuk kuliah, tepatnya sebelum Sion bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Namun, seperti yang kau lihat sampai sekarang, mereka merasa bahwa lebih cocok menjalin hubungan sebatas pertemanan. Jadi, aku rasa kau tak akan berhasil jika ingin menjodohkan Sion dengan Wonbin."

Riku terkejut Yushi bisa mengetahui tujuannya.

"Jangan terkejut begitu." ucap Yushi, lagi-lagi seperti bisa membaca pikiran Riku. "Aku bisa tahu karena tak mungkin kau tiba-tiba tertarik ingin tahu soal Wonbin, jika kau tak punya rencana untuk menjodohkan keduanya."

Cara Yushi berpikir memang mirip dengan Riku. Mungkin juga disebabkan oleh pekerjaan mereka, jadi baik Yushi maupun Riku cepat tanggap dalam membaca maksud dan tujuan seseorang. Meski memang Yushi jauh lebih intuitif dari Riku. Hanya saja, meski Yushi bilang itu tak akan berhasil, Riku tak mau menyerah begitu saja. "Tapi, kita belum mencoba ketika mereka sudah dewasa. Mungkin saja, mereka nanti sadar bahwa mereka bisa lebih dari sekedar teman!"

Yushi mengangkat bahunya. "Lakukan yang perlu kau lakukan. Aku hanya mengatakan apa yang kemungkinan akan terjadi nanti. Dan juga, dengan kau yang sekarang menjadi 'manusia', bagaimana caramu untuk 'menjodohkan' mereka? Sedangkan kita tahu betul kau kehilangan semua kemampuanmu sebagai cupid sekarang, Riku."

Benar apa yang disampaikan Yushi. Tak seperti Yushi yang masih punya kemampuannya sebagai malaikat pelindung, kemampuan cupid Riku hilang sepenuhnya. Ia tak akan bisa menggunakan sihir atau apapun sekarang untuk melakukan tugasnya itu. Riku memang belum memikirkan sejauh itu, lantaran seharusnya ia tak tiba-tiba dilemparkan begitu saja ke dunia manusia begini. Atasannya itu seharusnya punya rencana untuknya, bukan malah membiarkannya kesulitan untuk memikirkan bagaimana cara untuk bertahan hidup di sini.

Tapi, apakah itu akan langsung membuat Riku menyerah? Tentu saja tidak!

"Aku bisa mendekati Wonbin," ucap Riku. "Aku akan mendekatinya langsung, kemudian Sion akan merasa cemburu dan menyadari tentang perasaannya selama ini!"

Yushi terdiam sejenak, kemudian tertawa cukup kencang begitu mendengarkan perkataan Riku. Riku yang tak mengerti kenapa pria itu malah menertawakan dirinya sontak bertanya, "Kenapa kau malah tertawa?"

Butuh beberapa lama sampai Yushi bisa mengendalikan dirinya. "Maaf," ucapnya kemudian. "Hanya saja aku tak menyangka kau akan memikirkan ide itu." Ia lantas bertanya lagi, "Dan bagaimana caramu akan mendekati Wonbin? Memang kau sudah tahu semua hal tentang dirinya?"

Lagi-lagi Riku belum memikirkan sampai ke sana. Ia tak mungkin bisa langsung mengetahui tentang Wonbin dan menyelidiki pria itu seperti saat menjadi cupid. Riku bahkan tak bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain seperti dulu, lantaran kini sudah kehilangan kemampuannya sebagai cupid. Menjadi manusia ternyata sangat merepotkan.

"Kau tak mau membantuku?" tanya Riku akhirnya pada Yushi. Tidak ada solusi lain sekarang selain meminta bantuan satu-satunya orang yang bisa membantunya, yaitu Yushi sendiri.

"Aku sudah memberikanmu tempat tinggal di sini, bersyukurlah." jawab Yushi. "Dan jika kau lupa, aku sama sekali tak setuju dengan kalian para cupid yang menganggap masalah Sion akan selesai apabila dia jatuh cinta."

Riku mendengus mendengarnya. Terus sekarang apa yang harus dilakukannya? Jika ia tak bisa mendekati Wonbin, maka dia tak bisa melancarkan rencananya. Apa sebaiknya ia menunggu bantuan dari atasannya? Tapi, sampai berapa lama? Riku bahkan tak yakin bisa bertahan sejauh itu tanpa membuat Sion curiga nantinya.

Benar. Berbicara tentang Sion, kenapa Riku tak mendekatinya saja? Lagipula, tujuannya menjadi manusia adalah untuk berinteraksi langsung dengan targetnya, yang tak lain adalah Sion. Jadi, bukankah langkah tepat yang harus dilakukannya sekarang adalah mendekati Sion? Setelahnya, dia bisa mendekati Wonbin dan kemudian melancarkan rencananya. Ide yang sangat bagus.

"Kau sepertinya sudah memikirkan solusi atas masalahmu."

Perkataan Yushi membuat Riku tersadar dari apa yang sedang dipikirkannya. Ia melihat ke arah malaikat pelindung itu, yang nampak penasaran dengan apa yang ada di pikirannya. Riku ragu untuk menceritakan kepada Yushi apa idenya itu, takut nanti malah Yushi kembali mengacaukan semuanya.

"Aku tak akan memberitahumu." balas Riku setelah memikirkan apa yang sebaiknya dilakukannya.

"Tak masalah, aku hanya akan menonton, bagaimana kau bisa melancarkan aksimu itu, Riku." balas Yushi.

Baiklah. Riku akan memulai semuanya besok pagi.

***