Actions

Work Header

capt's new necessity

Chapter 2

Notes:

cant stop myself to keep writing about my pretty omega hirunkit... IM SORRY
this chapter is dedicated to and fully supported by my bubub pearnapine

hope you'll like this one, syg syg💝

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Menjauh dari media sosial mungkin memanglah pilihan tepat. 

Nani yang tak sadar tenggelam dalam pikiran tak menyenangkan akibat terlalu lama bermain media sosial, kini berakhir duduk terdiam di atas ranjang.

Semua dimulai ketika setelah mengantar Sky sampai lift dan mendapat ciuman pada dahi serta bibir, dirinya bermaksud mengambil pakaian ganti untuk dibawanya menuju kamar mandi. Nani tengah bersenandung ketika tangannya justru salah membuka pintu kabinet pada closetnya dan menemukan jersey dengan nomor punggung yang pernah menjadi kulit keduanya, kini tergantung rapi. Baju dengan nomor 28 pada bagian belakang itu tampak aman tak tersentuh pun terasa sangat asing bagi Nani. Pakaian dengan corak hitam dan biru itu pernah menjadi pakaian hariannya ketika jadwal musim semakin padat. 

Masalah utama bukanlah pada jerseynya. Nani tak dapat menahan gelombang memori untuk menyerangnya saat itu juga. Gelombang memori datang bersamaan dengan rindu dan bersarang tak nyaman dalam dadanya. Perasaan itu menuntunnya untuk membuka kembali burner accountnya. Catch-up singkat mungkin bukan hal buruk?

Jarinya bergerak menggulir layar yang dipenuhi oleh kutipan artikel dari post-match interview, komentar dari para penggiat olahraga ini, serta random tweet para fans terus bermunculan. Dirinya tak terlalu menyimak semua itu—mengingat Sky selalu lebih dulu menceritakan topik hangat dalam setiap pekan—sebelum matanya menangkap satu quote tweet lengkap dengan tautan sebuah video Youtube.

“Top 10 Best Moment of Prime Nani Hirunkit” 

Senyum sempat muncul di wajahnya. Semua ingatan mengalir begitu saja dalam kepalanya sepanjang durasi video tersebut. Nani tak pernah mengira bahwa di samping ujaran kebencian yang sering diterimanya dulu, masih ada yang meluangkan waktu untuk membuat kompilasi klip seperti ini. Jarinya menutup laman Youtube dengan perasaan haru yang membuncah.

It's always nice to remember the time when the field used to be his favorite place.

Layar handphonenya kini menampilkan ratusan akun yang seakan berlomba memberikan balasan. It's only been around four months since his retirement, so obviously people are still gonna talk about him. Dan dari sini lah semua bermula.

 

@10timesbetter

wow, I almost forgot how persistent his performance was. Its a shame he chose to retire early.

💭 254  ⇅ 303  🤍 2.3K   

 

@lalunaschime

yall r so funny. you used to trash him, telling him to leave that shitty group and now your asses dare to wish him back again?? U DONT DSERVE HIM!!!

💭 54  ⇅ 209  🤍 2.3K   

@freemyday

AGREED!! Even that cocky captain doesn't deserve my man dagh. He’d better kneel 24/7 for him. #staymad

💭 3  ⇅ 24  🤍 98

 

@iletnaninme

FUUCCKKK I MISS HIM SO MUCH 😭😭😭 SKY WONGRAVEE YOU LUCKY MOTHERFUCKER!!!!! 

💭 33  ⇅ 5  🤍 156

@beginagain

like wdym #he can have my man ALL TO HIMSELF???? that GREDINESS

💭 2  ⇅ 4  🤍 149

 

@kchoo45

He’s mid. Dont glaze at him. Its good that he finally left my team.

💭 89  ⇅ 201  🤍 365

@lalunaschime

i know you just jealous of him so fuck urself unc, hope u’ve got nobody 

💭 24  ⇅ 90  🤍 187

 

@ twnteighthirun

since we talk about my catrunkit again, can yall imagine how beautiful he is rn, if THIS IS what he looked like before getting pregnant…

[picture of hirunkit with blue jersey]

💭 98  ⇅ 265  🤍 5.1K

@hiremehirunkit

WDYM HE IS PREGNANT???? MY OMEGA???? WITH WHO????

💭 5  ⇅ 9  🤍 5

@ twnteighthirun

girl im gonna hold ur hand when i tell you this… the reason why he retired early is bcs he’s gonna have a BABY with SKY FUCKIN WONGRAVEE

💭 6  ⇅ 12  🤍 46

@hiremehirunkit

sorry I'm not active on twt for a while and the first day I come back here, I find out that MY MAN alr has a MAN??? Im not okay 😭

💭 2  ⇅ 7  🤍 15

 

@runningrun

#noticing capt NEVER posts even a single picture of him anymore, WHY R U GATEKEEPING MY MAN???

💭 36  ⇅ 17  🤍 376

 

Oh, benar. Nani bahkan tak pernah menyadari atau peduli—sebelum membaca komentar tersebut—bahwa Sky hanya pernah memposting fotonya satu kali pasca konfirmasi pensiunnya beberapa waktu lalu. 

Layar itu kini berganti menampilkan laman Instagram milik Sky. Satu-satunya postingan yang disematkan oleh sang pemilik masih ada di sana.

Foto pertama—yang Nani ingat ditangkap oleh kamera Ibu—menunjukkan punggung keduanya menghadap laut dengan sinar matahari yang membasuh mereka. Foto itu diambil ketika mereka berlibur beberapa hari setelah kepindahannya ke hunian Sky. Ibu memaksa untuk ikut dengan alasan masih tak sepenuhnya mempercayakan Nani pada Sky—putra kandungnya—untuk menjaga Nani, terutama ketika mereka berada di luar rumah. 

Foto kedua adalah foto dirinya dengan cardigan putih bercorak dan rambut tertiup angin pantai. Pantai yang sama dengan foto pertama, hanya saja foto ini jelas diambil oleh Sky melihat bagaimana dirinya yang terlihat lebih menawan. Nani selalu merasa fotonya akan dua kali lipat nampak apik jika Sky yang mengabadikan.

Foto terakhir adalah foto mereka berdua menggunakan jersey kebanggan tim yang berdiri berdekatan—yang jika Nani tak salah ingat—untuk menunggu lagu kebangsaan diputar sebagai prosedur umum pembukaan sebelum bertanding. Nani tak tau darimana Sky bisa mendapatkan foto ini. Mungkin lelaki itu membelinya dari salah satu fans? 

Its so good to be the one who keeps you warm.

Caption yang diambil dari kutipan lagu pilihan Sky bersama foto-foto tersebut agaknya belum menghilangkan perasaan asing yang merambat dalam hatinya. Fokus Nani justru terarah pada hal lain. Tak ada lagi foto dirinya di akun Instagram Sky. Postingan terbarunya hanya menunjukkan photo dump beberapa pertandingan terakhir atau foto produk yang bekerja sama dengannya. Melihat bagaimana foto-foto itu tak menampilkan sepenuhnya tubuhnya saat ini, Nani tak dapat menahan pikiran buruk menyerangnya. Tubuhnya pada foto pertama dan kedua tampak normal karena angle foto yang menyelamatkannya. Sedangkan foto ketiga bukanlah foto terbaru mereka—mungkin sekitar satu atau dua tahun yang lalu?

Apakah alasan Sky tak lagi mengunggah fotonya adalah karena kondisinya saat ini?

Kakinya yang dulu dengan mudah menggiring bola dan lincah di atas rumput hijau, kini tampak sedikit bengkak. Badannya pernah berada di puncak prima sebelum kini dirinya merasa luar biasa lelah hanya setelah satu sesi yoga yang rutin dilakukannya. Pun wajahnya terlihat semakin membulat setiap hari. Dirinya telah berubah. 

Apakah Sky juga menyadari hal itu? 

Bibir bawahnya mencebik tanpa sadar. Isakannya lirih terdengar. Nani berusaha mengusap kasar air mata yang turun di pipinya.

“Adek, kalo Ayah ngga sayang sama Papa lagi... gimana ya, Dek? Papa jadi berat kan juga karena Papa bawa kamu. Kan Ayah juga yang bikin.” 

Tangannya berpindah mengusap lembut perutnya. Pikirannya tak kunjung jernih, justru semakin meliar tak beraturan. 

Bagaimana jika setelah bayi mereka lahir, Sky tak lagi melihat dirinya seperti bagaimana mata itu menatapnya selama ini?

Bagaimana jika rasa benci yang pernah dirasakan Sky kembali lagi begitu kehamilannya bertambah dan tubuhnya yang semakin berubah?

Bagaimana jika suatu saat Sky lelah menghadapi moodnya yang sungguh kacau, Nani yang rewel, Nani yang manja, dan Nani yang memaksa Sky terus di sampingnya? 

Bagaimana jika ternyata Sky hanya berpura-pura selama ini?

Satu hal yang disyukurinya adalah Sky memiliki jadwal berlatih sehingga tak perlu mendengar tangisan menyedihkannya saat ini. Para maid yang berjaga mungkin juga tak menangkap isakannya dari luar kamar. Jika memang rasa sayang Sky perlahan-lahan sedikit berkurang padanya, maka Nani—apa yang harus Nani lakukan?  

 


 

Sky merasa luar biasa frustasi.

Memasuki bulan kelima kehamilan, Nani seharusnya tak lagi sensitif terhadap bau yang dapat dengan mudah memicunya untuk mual, bukan? Sky telah mencoba lima varian sabun mandi yang berbeda. Dia bahkan mengirimkan foto lengkap dengan deskripsi bau parfum pada dr. Godji untuk memastikan itu aman bagi Nani—meski Sky yang menggunakannya. Dia telah meminta seluruh rekan satu timnya hingga Leo untuk mencium aromanya selepas mereka bertanding—dan berhasil mendapat tamparan serta raut jijik karena permintaan konyolnya.

Hei, Sky juga tak sudi memohon seperti ini jika Nani tak menunjukkan gelagat aneh beberapa hari terakhir!?

Biarlah orang memanggilnya congak atau apapun, tapi satu yang diyakini Sky adalah icy mint berpadu rooted vetiver alami miliknya bukanlah sesuatu yang buruk. Nani bahkan pernah dengan gamblang menyebutkan bagaimana dirinya merasa aman setiap terbalut oleh feromonnya. 

And then, what the fuck is wrong right now? 

Biarkan Sky menjelaskan gelagat aneh yang diterimanya akhir-akhir ini. 

Pertama, Nani mengatakan tak menyukai aroma tubuhnya—Sky tak tau aroma mana yang dimaksud. Lelakinya konsisten bergerak menjauh ketika Sky mencoba mendekat. Nani tak lagi duduk di sebelahnya ketika makan, tak lagi menyandar padanya ketika menonton Nat Geo kesukaannya, dan parahnya there is also a fucking pillow separating them in the middle of their bed—does that even make sense!? 

Kedua, Nani tak lagi menyukai pahanya—jangan ambil kesimpulan terlalu cepat. Paha ini menjadi kebanggaan bagi Sky karena Nani mengklaimnya sebagai tempat duduk paling nyaman—mengalahkan mukanya yang menempati nomor dua. Sky tak hanya giat menjalani leg day hanya untuk performa di lapangan, tetapi juga demi omeganya dapat mendaratkan tubuh dengan nyaman—entah untuk sekedar duduk atau hal lainnya. Maka, ketika Nani menolak untuk dipangku, Sky tak bisa menahan alisnya untuk tidak menukik tajam. 

Ketiga, Nani melepas ciuman mereka dengan cepat. Dari daftar ratusan hal yang membuatnya tersiksa selama hidup, ini adalah urutan nomor satunya. Lelaki cantiknya hanya mau menerima light peck yang mendarat dimana pun kecuali bibirnya. Sky bisa merasakan alarm bahaya berbunyi nyaring di dalam kepalanya. Just for common knowledge, durasi paling minimal ciuman mereka adalah tiga puluh detik. Dan Nani dengan gelagat anehnya akhir-akhir ini, justru menarik dirinya menjauh bahkan sebelum detik kesepuluh. Bayangkan, tersita 60% untuk durasi ciuman—yang sama sekali tak diinginkan Sky—siapa yang tak frustasi?

Apakah Sky perlu untuk meneliti bentuk bibirnya—mungkin Nani kini merasa tak nyaman dengan teksturnya?—atau mempelajari kembali langkah-langkah berciuman bagi pemula demi Nani kembali bersedia menciumnya lama? Jika untuk berciuman saja Nani tak lagi menunjukkan rasa ingin, maka bagaimana dengan—oke, satu yang bisa disimpulkan Sky adalah ini semua tidak masuk akal. 

Pesan yang telah dia kirimkan pada dr. Dodji beberapa waktu lalu belum mendapat balasan. Dirinya duduk gelisah di depan locker miliknya sembari menunggu Leo datang. Sky hanya membalas suara rekan-rekannya yang berpamitan dengan gumaman malas. Meski terdapat sesuatu yang membuat Nani menjaga jarak darinya, tak mengurangi sedikit pun keinginan Sky untuk segera berlari pulang pasca berlatih. Amarahnya ingin meledak saat itu juga ketika Leo masih tak kunjung datang setelah lima menit dirinya duduk. Sudah cukup frustasi yang disebabkan gelagat aneh Nani akhir-akhir ini, Sky tak ingin merusak moodnya lagi sehingga jarinya bergerak untuk membuka satu aplikasi yang terpasang pada handphonenya untuk sekedar membunuh waktu.

 

@runningrun

#noticing capt NEVER posts even a single picture of him anymore, WHY R U GATEKEEPING MY MAN???

💭 36  ⇅ 17  🤍 376

@hirunkitty28

wdym? its up to him whether he wanna post HIS man or not. why r u bothered?

💭 24  ⇅ 6  🤍 5

@runningrun

man, wtf r u secretly some of those toxic fans who dont even get a JOKE?

💭 9  ⇅ 13  🤍 27

 @hirunkitty28

WHAT joke r we talking abt?

💭 4  ⇅ 4  🤍 13

@runningrun

dagh, just leave. Im blocking you

💭 1  ⇅ 2  🤍 8

 

@melatoninfarms

[Picture of hirunkit: the second photo from Sky's post]

I mean…. look at him…. how can this guy look THIS goddamn pretty while pregnant when he was clearly one of the most handsome people in the field back in the day??????? SKYWONG ISNT EVEN THAT GOOD, MARRY ME INSTEAD HIRUNKIT!!

💭 217  ⇅ 261  🤍 5.2K

 @hirunkitty28

where did u get that photo of him?? And why did you zoom in like that??

💭 7  ⇅ 2  🤍 9

@melatoninfarms

oh, i got it from sky’s IG and YES zooming in on that pretty face is a NEED

💭 4  ⇅ 5  🤍 16

@hirunkitty28

i dont think so, its inappropriate. and skywong is good i guess

💭 2  ⇅ 21  🤍 44

@melatoninfarms

buddy, dont be a weirdo…

💭 3  ⇅ 5  🤍 8

 

@hirungummies

Oh its the elite league again and my man is not on the field anymore… im done watching football

💭 11  ⇅ 73  🤍 298

@hirunkitty28

Im not

💭 3  ⇅ 2  🤍 22

@hirungummies

???? Anyway, where did u get that pfp of yours? Its my first time seeing that photo of hirunkit!!! 

💭 1  ⇅ 2  🤍 4

 

Layar handphonenya tak pernah mati dan terkunci secepat itu.

 


 

Sky pasti adalah orang taat dan berbudi luhur di kehidupan sebelumnya. Setidaknya, itulah yang dia yakini setiap kali menyadari bahwa Nani adalah pasangannya. Meski dirinya sadar betul akan rupanya, Sky yang dahulu sebenarnya tak memiliki kepercayaan diri setinggi itu untuk berani mengungkapkan perasaannya pada Nani. Dan dengan memancing emosi lelaki manis tersebut di dalam maupun luar lapangan adalah cara paling efektif yang dapat dipikirkan Sky agar perhatian Nani tertuju padanya. 

Most of the time, it works. 

Dirinya harus menggigit kencang pipi bagian dalamnya atau bawah bibirnya agar senyum puas tak lolos begitu saja setiap percakapan di antara mereka semakin sengit. Tatapan tajam, kalimat penuh benci yang keluar dari bibir manis itu, dan deru napas Nani yang berubah setiap melempar pandangan pada Sky adalah pemantik semangatnya untuk bangun di pagi hari.

Nani tampak cantik dan lucu ketika menunjukkan amarah padanya. Sky is exactly where he wanna be. 

Sky tak rela membagi perhatian Nani meski pada rekan timnya sendiri. Mungkin benar jika di awal kontrak resmi Nani dengan timnya dimulai, Sky sedikit tak menyukainya. No. Sky hanya bermaksud untuk mengawasi dan menilai performa awal Nani. Namun, melihat bagaimana lelaki itu bertanding, bagaimana dia seakan mampu membawa rasa hangat yang baru bagi rekan-rekannya setiap sesi latihan, dan bagaimana Nani menyikapi ujaran kebencian—termasuk darinya—perlahan menumbuhkan perasaan baru padanya. Sky enggan begitu saja mengakuinya dan memilih untuk mempertahankan perhatian Nani padanya melalui cara yang selalu digunakannya selama ini.

Kedatangannya malam itu ke kamar hotel tempat Nani beristirahat adalah total impulsif semata. Dirinya hanya ingin memberi peringatan karena Nani hampir membuat keduannya celaka—menurut sudut pandangnya. Maka, ketika malam itu justru membawa mereka pada hubungan saat ini—yang menjadi impian terkuburnya—Sky hanya mampu mengucap syukur setiap waktu. 

Jika tak ada jadwal bertanding maupun latihan rutin tim, Sky akan mendedikasikan 24 jam waktunya untuk sang omega. Dirinya akan terbangun di pagi hari dengan menyaksikan mata cantik itu masih terpejam, mencium lembut dahinya—Nani menolak ciuman bibir sebelum sikat gigi—dan menyapa sang buah hati melalui kecupan di seluruh permukaan perut Nani. Kegiatan selanjutnya hingga sore hari, Sky serahkan sepenuhnya pada Nani. Dirinya hanya akan mengikuti lelakinya entah untuk kelas yoga atau olahraga lain, mencoba couple things to do baru yang selalu berhasil ditemukan Nani, atau sekedar bersantai sembari melihat koleksi menggemaskan ornamen kamar dan baju untuk bayi. 

Sky ingat bahwa hari ini tak ada jadwal khusus yang akan dilakukan Nani. Dirinya baru saja menyelesaikan meeting bersama Leo untuk membahas beberapa hal perihal timnya. Sky membawa tubuhnya ke kamar mandi untuk memeriksa lelakinya yang mengatakan ingin membasuh diri terlebih dahulu sembari menunggunya. Senyum muncul begitu saja pada wajahnya ketika melihat Nani berdiri menghadap cermin sembari mengusap lotion ke perutnya. Salah satu kebiasaan Nani selama hamil yang Sky hafal adalah lelaki cantik itu sangat gemar bercakap lembut dengan si kecil di setiap kesempatan. Seperti saat ini. Sky menangkap suara Nani yang bertanya sembari memandang ke arah perutnya mengenai apakah Adek—begitu mereka biasa memanggil—merasa kedingingan selepas mandi.

Lucunya.

“Sky, kenapa berdiri di situ?”

Berlari selama 90 menit dalam kondisi hujan dan lapangan yang berlumpur tak ada apa-apanya dibanding harus mempertahankan kewarasannya setiap memandang Nani. You're indeed a lucky motherfucker, Wong.

“Sayang dan Adek sudah selesai mandi?”

Nani mengangguk lucu. Sky berjalan mendekat dengan senyum yang tak kunjung pudar. Tangannya meraih botol lotion pada sink dan menuangkan beberapa pada telapak tangan.

“Sini, aku bantuin.” 

Tubuh Nani dibawa kembali menghadap kaca. Sky melingkarkan lengannya pada bagian bawah perut Nani dan mengusapkan lotion dengan pelan serta memastikannya telah merata dengan sempurna. Wangi sabun bercampur musky milky floral alami dari Nani yang masih tercium kuat membuat Sky mendekatkan hidungnya untuk menyusuri leher Nani. Bibirnya pun seakan tak mau kalah dan kini ikut berikan kecupan. 

“Sky..”

“Hm?” 

Tak butuh waktu lama bagi Sky melepas pelukannya dan meraup bibir Nani rakus ketika mata itu menatapnya sayu. Rasa mint masih membekas di dalam mulut Nani dan Sky ingin merebutnya. Nani menggenggam lemah tangan Sky pada rahangnya. Matanya menutup rapat sejak lidah Sky menguasainya. Nani harus selalu berusaha keras mempertahankan kesadarannya setiap Sky menciumnya seperti ini. 

Oh, tidak. Ingatan itu muncul kembali.

“Sky–mmh–Sky, lepas dulu.”

Rintihan yang keluar darinya bersamaan dengan tepukan pelan pada dada Sky berhasil memutus ciuman itu. Nani memperhatikan alis Sky yang berkerut dan mata yang menatapnya penuh kebingungan. Sky tak mengucapkan apapun dan memilih untuk menempelkan dahi keduanya. 

“Sayang… aku boleh tanya sesuatu?”

Dari jarak sedekat ini, Sky dapat menangkap bibir Nani yang basah dan membengkak. Nani tampak berpikir sejenak sebelum bergumam pelan.

“Sayang lagi ngga bisa deket aku kah?”

Nani membawa kepalanya menjauh. Matanya membulat seperti anak kecil yang tertangkap basah merencanakan sesuatu tanpa izin orang tuanya. 

“Maksud kamu..?”

“Sayang ngga mau lagi ciuman lama, ngga mau dipangku, ngga manja-manja lagi ke aku. Sayang ngerasa mual-mual kah kalo deket aku?”

Nani hanya terdiam. Kepalanya menunduk perlahan dan menggeleng.

“Aku… engga ada mual lagi kok, Sky.”

“Oh? Okei… terus, kenapa ngga mau deket sama aku? Sayang bahkan tidurnya ngga mau dipeluk lagi.”

Sky tak dapat melihat dengan jelas raut muka Nani saat ini. Dirinya masih menunggu Nani untuk menjawabnya sebelum bahu itu bergetar. 

“Sky… a–aku minta maaf–”

Sky tak menunggu Nani menyelesaikan kalimatnya dan menarik lembut lelaki itu dalam pelukannya. Pikirannya telah menyusun segala skenario perihal alasan Nani menangis dan meminta maaf padanya. Tangannya naik mengusap halus rambut Nani sembari berikan kecupan sayang pada pucuk kepalanya.

“Tuhkan... kita aja se–sekarang kalo pelukan kehalang perut aku!”

“Sayang… coba ngomongnya pelan-pelan. Jelasinnya satu-satu ke aku, yaa.”

“Sky... kalo kamu udah ngga suka aku lagi boleh jujur kok.”

Sky hampir saja mengumpat karena ucapan Nani. Apakah ada ilmuwan ternama yang dapat membantunya memperkirakan jalan pikiran lelakinya saat ini? Seberapapun dia ingin membela diri, Sky memilih untuk menahannya dan terus mendengarkan.

“Aku sekarang–aku jadi gendut… aku paham kok kenapa kamu engga mau upload foto aku lagi. Aku rewel, suka nangis, banyak mau, terus sekarang jadi berat. Aku ngga mau–ngga pengen bikin kamu kesusahan. Aku... mau belajar mandiri kok, Sky. Kamu bencinya jangan balik dulu ya. Aku udah terlanjur suka banget dan sayang sama kamu.”

Oh, Tuhan. Adakah yang lebih manis dari pengakuan cinta dari Nani barusan? I must have been a saint in my past life.

Sky kembali melepas pelukannya dan dengan cepat mengangkat Nani untuk duduk pada sink yang menghadiahkan pekikan dari lelaki itu.

“Salah deh, sayang.” Sky menyentil pelan hidung Nani.

“Aku yang lebih terlanjur sayang sama kamu, Cantik. Dan tadi kamu bilang apa? Kamu lupa kah aku atlet dan kapten tim nomor satu? Aku bahkan kuat gendong kamu sambil lari sepanjang trek stadion.”

“Bohong! Mana mungkin bisa...”

“Ih? Bener lah. Sayang mau coba besok?”

Nani terdiam sejenak seakan menimbang kalimat yang akan dia keluarkan selanjutnya.

“Sky… orang-orang notice kamu ngga pernah upload foto aku lagi, makanya aku mikir jelek. Aku emang udah ngga secakep dulu lagi ya?”

Bagaimana Sky menjelaskan bahwa algoritma akun miliknya lah yang membuatnya ogah mengupload kembali foto-foto cantik lelakinya.

“Sayang… kenapa ngga cerita aja ke aku kalo kepikiran jelek kayak gitu? Sayang kan tau aku udah jarang post apapun yang ngga berkaitan sama tim. Foto aku pun itu semua karena endorsement.

“Tapi.. aku kan mau, Sky…”

Sky menghela napas pelan. Dirinya merasa sungguh childish. Rasa cemburu konyol yang menghantuinya justru menyakiti Nani.

“Aku minta maaf ya, sayang. Setelah ini aku coba post foto kamu pelan-pelan. Dan satu lagi,” Sky mengecup singkat bibir Nani sebelum melanjutkan. “Sayang tetep dan akan selalu cakep, cantik, ganteng, drop dead gorgeous, semuanya. Sayang tambah beratnya kan karena bawa adek di dalem sini. Justru aku yang minta maaf karena kamu harus nahan berat setiap hari, tidurnya jadi ngga nyenyak, jalan jadi gampang capek, semuanya demi adek. Kalo aku bisa tuker, biar aku aja yang hamil supaya sayang ngga kesusahan.”

“Kamu aja... dulu suka ngatain aku! Sekarang sok mau hamil...”

Baby... kan aku udah jelasin. I... don't know how to talk into it during sex... apalagi sama kamu.” 

Mungkin ini termasuk hal yang memalukan baginya?

Nani pernah mengatakan alasannya mengusir Sky malam itu. Dirty talk sialan. Sky tak bisa memikirkan hal lain ketika dalam keadaan tinggi, terutama ketika di depannya adalah sosok seindah Nani Hirunkit. Sky tak menyadari ketika mulutnya justru mengucapkan insult yang menyakiti Nani. Dan sejak Nani mengatakan alasan itu, Sky bersumpah hanya akan mengisi sesi bercinta mereka dengan ucapan manis. Terlebih mengingat kondisi Nani saat ini. 

Pikirannya masih berkelana ketika Sky merasakan bibirnya digigit main-main. Tangan Nani merambat dan meremas surainya, menghapus semua sisa jarak yang ada. 

“Sayang, pindah dulu ke kamar, yuk?” 

Nani berpikir, mungkin ini saatnya meluluhkan pertahanannya selama satu pekan dan kembali pada jangkauan lelakinya. 

 


 

Jika Nani boleh berkata jujur, dirinya memang tak lagi merasa nyaman untuk berbaring lama sejak perutnya mulai membesar. Posisi paling nyaman yang bisa diciptakannya adalah berbaring menyamping dengan satu bantal yang menumpu perutnya. Namun, ketika dirinya dibaringkan dengan penuh hati-hati oleh Sky, dengan satu bantal empuk di belakang pinggang dan Sky yang berada di antara kakinya—Nani dapat mengubah pendapatnya saat ini juga. 

“Sky–ahh!”

Seluruh tubuhnya tak lagi terbalut apapun. Sky telah rampung membasahi seluruh bagian tubuh atasnya. Tangannya terus meremas bedsheet dengan kuat ketika lidah kurang ajar itu tak henti bermain di bagian bawahnya. Pahanya barangkali telah menjepit kepala Sky jika saja tak tertahan oleh dua tangan kokoh itu. Sky rela dalam posisi tak nyaman itu dan ingin membawa lidahnya masuk sedalam mungkin. Nani menggila.

“Sky, udah–mmh! Udah, please..

Nani mengambil napas dalam ketika Sky akhirnya menuruti permintaannya. Belum genap lima napas diambilnya, dirinya justru merasakan dua jari yang menyapanya. Dadanya membusung dan dengan sigap diterima oleh mulut Sky. Lelaki itu selalu lebih mengenalnya daripada dirinya sendiri. Jari Sky bergerak teratur di dalamnya, menggantikan lidah miliknya yang kini menyusuri pahanya. Perpaduan paling ampuh untuk meluluhkan Nani.

“Sayang, kenapa ya kamu jadi suka sekali pake celana pendek di rumah?” setiap kata yang dikeluarkan Sky diiringi oleh satu kecupan pada titik yang berbeda.

“Yang dipake sayang akhir-akhir cuma sampe sini nih.” tangan Sky bergerak dan meremas kuat paha atasnya dan hampir menyentuh milik Nani.

“Coba jawab dulu. Apa alasannya, sayang?” sapuan basah itu kini berpadu dengan gigitan yang sedikit dalam. Nani yakin, Sky memang sengaja meninggalkan bekas di seluruh bagian pahanya.

“Karena–mhh–gampang lepasnya kalo mau ke kamar mandi–ahh–biar ngga susah, Sky.”

“Gampang dilepas sama aku juga?”

Pandangannya mengabur. Nani sekuat tenaga arahkan matanya untuk menatap Sky—yang seakan mememuja paha miliknya.

“Aku yang gila rasanya liat kamu mondar-mandir. Pahanya kemana-mana tapi akunya ngga boleh deket-deket. Kamu sengaja nyiksa aku, ya?”

Nani menggeleng cepat. “Kan–ahh–kan sekarang udah bisa diciumin, Sky…”

Sudut bibir Sky naik. Benar juga. Paha ini sedang disantapnya dengan lahap. Sky rela menghabiskan waktu lama di sini jika saja posisi sekarang tak membuat Nani mudah pegal—pun miliknya yang juga ingin segera mendapat perhatian. 

“Sayang mau aku masuk atau engga?”

Nani hanya berkedip pelan seakan memikirkan jawaban apa yang paling tepat. Sky tak masalah apakah hari ini Nani mengizinkannya masuk sepenuhnya atau Sky harus memikirkan bagaimana memuaskan mereka berdua dengan cara lainnya. Oh, perhaps this beautiful thighs can be an option tho?

“Kalo aku dipangku... boleh?”

Tidakkah Nani menyadari jika dirinya memiliki hak penuh atas tubuh Sky? Sky lebih dari siap mencoba seratus dua puluh posisi apapun jika Nani memang menginginkannya. Selain itu, mendapat kesempatan menatap Nani yang bergerak di atasnya–hei, Sky tak butuh berpikir lama untuk menyetujuinya.

“Sayang… kapan aku larang kamu duduk di atas aku?”

“Tapi.. aku kan sekarang bera–”

Stop. Ayo, sini kita buktiin.”



“Enak? Pelan-pelan, sayang.”

Kepala Nani bergerak tak beraturan—mengangguk kemudian menggeleng cepat—seakan menggambarkan sisa kesadarannya. Tangan Sky hinggap nyaman pada pinggangnya, menopang dan membantunya bergerak lebih halus. Nani mengutuk dirinya karena lebih memilih terjebak dalam pikiran buruknya sendiri selama satu pekan daripada menjebak Sky di dalamnya seperti saat ini. 

Terima kasih kepada semua coach olahraga yang membantunya membentuk otot entah sebelum atau selama hamil. Berkat mereka, Nani memiliki lebih dari cukup kekuatan untuk terus bergerak teratur di atas Sky. Kedua tangannya menumpu kuat pada bahu lebar itu. Nani ingin terus menatap Sky, memandang wajahnya yang sesekali mengernyit jika Nani mengeratkan dirinya di bawah sana, menyusuri bibir Sky yang tergigit atau bergetar mengeluarkan geraman, dan menghitung berapa kali mata itu tertutup ketika Nani menurunkan tubuhnya hingga terduduk sempurna pada pahanya. Namun, setiap satu titik dalam tubuhnya kembali ditekan hebat oleh Sky, Nani tak dapat mencegah dirinya untuk melempar kepala ke belakang—sehingga mendapat hadiah ciuman basah dan gigitan lain pada lehernya. 

Gym ball kamu buang aja, sayang. Bilang coach udah diganti sama aku.”

“Mm–ahh–iya, mau.” Nani mengangguk cepat sembari terus merintih.

“Mau di atas kamu terus, Sky.”

“Cantiknya.” 

Nani ingin menangis. Sky dan mulut manisnya itu perlu dibungkam sekarang juga. 

Ritme tubuhnya berubah pelan. Nani dapat merasakan seberapa dalam Sky saat ini. Napasnya masih memburu dan dirinya memilih untuk memendekkannya dengan mencium Sky. Kali ini, Nani akan biarkan Sky yang mengendalikan ciuman mereka. Sky selalu menciumnya seakan tak ada kesempatan lain untuk merasakan bibir dan lidahnya selain detik itu juga. Sky selalu tamak jika itu tentang menginvasi seluruh bagian mulutnya. Sky selalu membuat Nani kepayahan mengejar lumatannya.

“Masih ada niatan ngga mau dipangku?”

Nani mengecup sekali lagi bibir itu sebelum menggeleng lemah. Setelah ini, Nani akan terus mengklaim paha ini sebagai tempat nomor satu baginya. Nani tak ingin lagi bertindak bodoh. 

“Inget ya, sayang ngga berat sama sekali buat aku.” Sky mengusap peluh pada dahinya, merapikan rambut yang menempel di sana. 

“Meski–aku hamil begini?”

Satu senyum penuh arti muncul bersamaan dengan binar yang menatapnya penuh puja. “Kan aku yang hamilin.”

Nani tak pernah mempelajari struktur sel yang membentuk otaknya. Dirinya tak paham cara bekerja syaraf-syaraf pada tubuhnya. Namun, satu yang pasti. Kalimat yang keluar dari mulut Sky seakan mampu menghentikan semua fungsi tubuhnya saat ini.

“Sayang mau aku hamilin terus?”

Nani kewalahan. Ini semua melebihi kapasitas yang mampu diterimanya. Sky kembali menunjukkan sisi bajingannya—yang sayangnya kini menjadi kesukaan Nani.

“Mau, mau–ahh please, sayang.”

“Sayang aku penuhin lagi ya.”

"Please, iyaHamil lagi–ahh–ngga papa, Sky–mhh–sama kamu." 

"Iya, sayang. Aku penuhin ya, aku hamilin lagi."

Bangsat.

“Mau, iya—Sky, tolong–ahh–thank you, sayang–ahh.”

Kepalanya jatuh pada bahu Sky. Semua hasil olahraganya selama ini seakan hilang begitu saja berkat Sky. Dirinya masih bergerak tetapi kini atas bantuan tangan yang menopangnya kokoh pada pinggang. Nani hampir tak mampu menahan orgasmenya sebelum Sky berbisik pelan.

“Kalo mau dihamilin lagi, keluarnya harus sama aku.” 

Keparat. 

Maka ketika mereka sampai, Nani total hilang. Sky sungguh tak main-main soal ucapannya. Kepalanya ringan bagai kapas. Nani hanya dapat merasakan betapa penuh dirinya saat ini.

“Sayang, you here?

Napasnya masih tak beraturan. Pikirannya masih tergantung entah di suatu tempat. Sky masih di dalamnya dan mengusap punggungnya lembut. Di bawah kesadarannya yang dipenuhi kabut, Nani berupaya membawa suaranya keluar.

“Sky… aku penuh banget. Terima kasih, sayang.”

Sky hanya tertawa ringan dan mengecup telinga Nani. Keduanya saling mendekap erat. Sky mengarahkan Nani untuk semakin masuk dan menyembunyikan kepala pada ceruk lehernya. Surai lembut milik Nani diusapnya sembari terus bisikkan ucapan sayang dan membiarkan Nani mengembalikan dirinya perlahan ke permukaan. 

That filth coming from you is crazy as hell, capt.

The internet can say he's mid or whatever, karena fokus Sky lebih tertuju untuk menambah daftar skill yang akan dibanggakannya seumur hidup, approved by his pretty omega. 

Not that good, huh?

Notes:

planned to write longer, but ig thats all i got😓
sepertinya work yg ini akan aku jadikan kumpulan oneshoot capt and his pretty omega kedepannya xixi (kalo niat lagi)
thank you for all the love that keeps pouring in for anak kesayangan gw ini😕💓
any req or ques bebas sampaikan aja ya syggg (JGN LUPA NONTON DAN PROMOSIIN WU!!!!)
💌alterspring

Series this work belongs to: